Minggu, 28 November 2021

TARIKAN NAFAS TERAKHIR SANG PUTRA FAJAR DIIRINGI DENGAN TAHLIL, TAKBIR DAN SYAHADAT

 Oleh : Iwan Mahmud Al-Fattah 

Kalau membaca bagaimana kronologis wafatnya Bung Karno, rasa-rasanya saya kok jadi bertanya-tanya ya dengan kondisi beberapa anaknya sekarang ini yang perilakunya sering menimbulkan kontroversial...namun demikian semoga mereka itu Allah berikan hidayah dan Rahmat....
Terutama Megawati, saya sama sekali gak menyangka karena ternyata justru dialah yang telah menuntun ayahnya mengucapkan tahlil bahkan juga membisikkan kalimat syahadat secara perlahan menjelang detik-detik wafatnya Bung Karno..
Delapan orang saat itu, Guntur, Guruh, Mega, Sukma, suami rahmawati, suami sukma, Henny, Rahmawati itu menyaksikan semua itu...mereka bahkan bertakbir mengiringi sendatan nafas Bung Karno..dan kata-kata Alllahhh... pun terucap mengikuti sendatan nafas terakhir Sang Putra Fajar itu...
Tarikan nafas terakhir seperti ini mengingatkan kepada kondisi ayah saya yang keadaannya mirip Bung Karno, dan saya tidak sempat melepas kepergian beliau, namun satu pertanyaan saya kepada yang mendampingi bapak saya, apakah beliau mengucapkan kalimat La Ilaha illallah atau hanya Allahu...Allahu...? setelah saya dengar beliau mengucapkan Allahuu...Allahu...maka berbahagialah saya...
Kronologis wafatnya Bung Karno sengaja saya lacak terus, untuk memperkuat apa yang selama ini saya tulis, saya juga sangat berkeyakinan...sebesar apapun dosa seseorang apabila dia mau bertaubat maka Allah akan mengampuni dengan RAHMAT-NYA...Bung Karno memang kontroversial, dia dipuja bagaikan dewa namun juga dicaci bagaikan Bandit...itu adalah konsekuensinya sebagai pemimpin dan konsekuensi terhadap apa yang pernah dia lalukan semasa hidupnya...kenikmatan dan kesengsaraan semua pernah dia rasakan sebagai seorang pemimpin..dari kehidupan agamis, sekuler bahkan cenderung kuat ke arah pemikiran kiri juga dia pernah lakoni...dan itulah warna dalam kehidupannya..
Namun Bung Karno termasuk beruntung karena menjelang akhir akhir hidupnya beberapa anaknya terus menuntun agar beliau mengucapkan kalimat agung La Ilaha Illallah...
Rahmawati sebagai saksi sejarah mencatat semua itu, bahkan Rahmawati juga terharu akan kedatangan Buya Hamka. Pada malam tanggal 21 sebelum jenazah diberangkatkan ke Blitar di Wisma Yaso diselenggarakan TAHLILAN. Baru besok harinya jenazah dimakamkan di Blitar..
Sumber : Rahmawati Soekarno, Bapakku - Ibuku Dunia Manusia Yang Kucinta Dan Kukagumi (Jakarta: Garuda Metropolitan, 1984) halaman 254 - 256
Mungkin gambar hitam putih teks yang menyatakan 'Jasad Bapakku, tenang, damai dalam petinya. Kini semua duka telah tiada. Bapakku meninggalkan berjuta-juta kenangan untuk bangsanya 261'

Suka
Komentari
Bagikan