Rabu, 14 Oktober 2020

PARA DIKTATOR DUNIA DAN AKHIR HIDUPNYA

Oleh : Iwan Mahmud Al Fattah 

1.       Ramses II (Firaun) : Banyak melakukan penindasan dan pembunuhan besar-besaran terhadap bayi yang baru lahir, adanya perbudakan yang tidak manusiawi, rakyat diperjakan membangun istana-istana yang megah, dan makam-makam yang megah berupa peramid tanpa diberikan upah, menggunakan tukang sihir untuk melanggengkan kekuasaanya, mengaku diri sebagai Tuhan. Dia mati ditenggelamkan Allah di laut saat mengejar Nabi Musa AS.

2.       Kaisar Qin Shi Huang (China) : Berkuasa dari tahun 221 SM s/d 210 SM. Dikenal sebagai orang yang paranoid sehingga membawanya menjadi pribadi yang sadis dan brutal terhadap rakyatnya. Qin Shi Huang meninggal setelah menelan pil merkuri yang dibuat oleh alkemis dan dokter pengadilan. Ironisnya, pil itu memang dibuat untuk membuat Qin Shi Huang agar bisa hidup abadi

3.       Kaisar Nero Romawi : Berkuasa dari tahun 54 s/d 68 Masehi. Dia yang bertanggungjawab atas kematian ribuan jiwa termasuk saudara dan kerabatnya yang dibunuhnya secara sistematis. Diketahui dirinya senang membakar kota hingga rata dengan tanah. Tak hanya itu, Nero juga suka sekali membunuh dengan cara tak biasa seperti menikam, meracun, memenggal, penyaliban hingga mandi air mendidih. Kaisar Romawi ini juga dikenal telah memperkosa banyak sekali wanita sekaligus merusak tubuh mereka. Dia mati bunuh diri karena mendapatkan perlawanan dari pemberontak.

4.       Caligula, Kaisar ke 3 di Romawi : Caligula dikenal sadis, liar, dan angkuh. Hanya dalam 3 bulan pertama kekuasaannya, ia telah membantai 160 ribu hewan. Ia kemudian menderita demam otak dan diketahui mengidap penyakit mental sehingga percaya bahwa dirinya adalah dewa. Menurutnya, para tahanan harus mengenal kematian yang menyakitkan dan ia mulai membunuhi para lawannya melalui penderitaan selama beberapa jam atau beberapa hari. Anak-anak dicekik atau dipancung sementara keluarganya diminta menonton. Banyak tahanan yang diumpankan ke dalam kandang macan, singa, atau beruang liar. Pada tanggal 24 Januari 41 M, Caligula diserang oleh sekelompok penjaga, setelah acara olahraga. Selama pembunuhan, Caligula ditikam 30 kali hingga mati. Tubuhnya dibuang ke kuburan dangkal beserta istri dan putrinya yang juga dibunuh.

5.       Attila Orang Hun (Kekaisaran Hun) : Dikenal sebagai barbar yang dingin, keji, dan haus darah. Ia juga pernah membunuh ribuan orang dan membasmi seluruh penduduk suatu kota. Ia bahkan menikmati tontonan ketika seseorang dicopoti tangan dan kakinya. Atila mati setelah banyak batuk darah.

6.       Gengis Khan (Mongol) : Berkuasa sejak tahun 1206 – 1227 M. Genghis khan dikenal sebagai seseorang yang pendendam dan haus akan darah. Hal itu lantaran Genghis dan pasukannya banyak sekali membantai orang dari berbagai kota. Pembantaiannya juga dilakukan dengan berbagai cara seperti mencurahkan cairan perak panas ke telinga atau mata korban. Selain itu, Genghis Khan juga memperkosa banyak wanita dan melakukan di depan keluarganya. Genghis Khan dilaporkan tewas dalam perjalanan karena terjatuh dari kuda. Kabar kematian itu dirahasiakan oleh panglima-panglima setianya sampai musuh berhasil ditaklukkan. Lokasi kuburannya disembunyikan agar tidak dirusak oleh orang.

7.       Herodes (Raja Yudea) : Berkuasa sejak tahun 37 - 4 SM. Herodes paling dikenal akan perintah membunuh setiap anak laki-laki berusia di bawah 2 tahun di seluruh kawasan Bethlehem. Tak hanya itu, Herodes juga diketahui mengidap penyakit paranoid yang membuatnya melakukan banyak kekejian. Dia sendiri mati dalam keadaan paranoid.

8.       Raja Leopold II (Belgia) : Dia menjadi Raja Belgia tahun 1865 M. sosoknya digambarkan lebih kejam dari Hitler. Raja yang sakit jiwa dan psikopat ini memerintah sejak tahun 1865 s/d 1885 terutama di wilayah Kongo Afrika. Dia bertanggung jawab terhadap terbunuhnya 10 juta orang terutama wilayah Kongo. Salah satu kebiasaan biadabnya adalah seringnya dia memutilasi orang-orang Kongo yang dianggapnya tidak mau bekerja demi memenuhi kekayaan raja yang sakit jiwa ini. Sayangnya Raja yang licik ini lolos dari jeratan hukum, namun sebagai akibatnya dia menjadi raja terakhir setelah kekuasaannya diberikan kepada Parlemen. Patungnya belum lama ini diturunkan oleh para aktifis dan hilang tanpa diketahui dimana keberadaanya.

9.       Vladimir Lenin (Russia-Soviet) : Dikenal sebagai bapak pendiri komunis soviet. Pemerintahannya terkenal dengan terror masal, adanya kamp konsentrasi. Lenin juga memprakarsai Teror Merah (Red Terror) yang merupakan sebuah program penyiksaan dan pembunuhan yang digunakan untuk menangkap siapa pun yang dicurigai melakukan kegiatan kontra-revolusioner. Di akhir-akhir hidupnya berbagai penyakit pernah dialaminya seperti hiperakusis, insomnia, hingga nyeri di kepala yang muncul secara berkala sehingga sangat menyiksanya. Lenin bahkan pernah ingin bunuh diri minum sianida karena putus asa terhadap penyaklitnya. Dia juga pernah mengalami stroke 3 kali sampai tidak dapat berbicara, sempat sembuh namun kemudian koma selama berminggu-minggu hingga kematian menjemputnya tahun 1924. Setelah itu mayatnya diawetkan.

10.   Joseph Stalin (Uni Soviet) : Dalam hidupnya diperkirakan 23 juta orang terbunuh karena tangan besinya. Sosoknya harus berakhir pada tahun 1953 dengan diliputi berbagai misteri. Sekalipun informasi umum mengatakan dia mati karena stroke namun menurut sebuah informasi dia mati karena diracun oleh Lavrentiy Beria yang merupakan salah satu anggota Politbiro Partai Komunis Soviet yang muak melihat kegilaan Stalin.

11.   Adolf Hitler (Jerman) : Pengobar perang dunia ke II, diperkirakan korban yang telah dia bunuh berjumlah 17 juta. Hitler sendiri mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di bunker karena putus asa terhadap kekalahan Jerman dalam perang dunia ke II.

12.   Benito Musolini (PM Italia) : Berkuasa sejak tahun 1922 M. Dikenal kejam demi memenuhi ambisinya. Hidupnya berakhir tragiw setelah tertangkap oleh pasukan Komunis untuk selanjutnya dieksekusi oleh regu tembak dan kemudian mayatnya digantung terbalik di Milan.

13.    Mustafa Kemal Attaturk (Penguasa Turki) : dia menjadi diktator pertama dalam dunia Islam setelah jatuhnya Turki Usmani pada tanggal 3 Maret 1924. Dia merubah habis hukum-hukum Islam yang selama ratusan tahun telah digunakan oleh Kesultanan Turki Usmani. Kematiannya diwarnai dengan cerita yang tak sedap. Berbagai penyakit mengerikan menimpa dirinya dan sampai kematiannya datang ternyata bumipun menolak jasadnya.

14.   Mao Ze Dong (Mao Tse Tung) : Dia adalah pemimpin pertama Komunis China. Setidaknya dalam pemerintahannya puluhan juta jiwa berjatuhan (ada yang menyebut angka 45 juta). Akibat kegemarannya bermain dengan wanita dia terkena penyakit trikomoniasis, penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Mao juga dikenal banyak memiliki selir. Mao juga gemar mengkoleksi karya pornografi terbaik dunia. Setelah kematiannya mayat Mao kemudian diawetkan.

15.   Fulgencio Batista (Kuba) : berkuasa sejak 1933 s/d 1959. Pemerintahannya dikenal sangat brutal, otoriter dan korup. Tahun 1959 dia digulingkan oleh Fidel Castro dan kemudian melarikan diri ke Spanyol sampai kematiannya.

16.   Antonio Salazar (Pemimpin Portugal), berkuasa sejak 1932 s/d 1968, dikenal akan penindasan di Negara-negara Afrika. Dalam kondisi yang mengalami pendarahan otakl, pada tahun 1968 berhasil dilengserkan.

17.   Rafael Trujilo (Dominika) : Di awal pemerintahannya, ia dan kelompok nya “kelompok 42” melakukan berbagai pembunuhan terencana untuk memuluskan berbagai kepentingan politiknya, contohnya dalam kasus pembunuhan Mirabal bersaudara yang menjadi perhatian publik internasional. Pembunuhan itu terjadi pada sekitar tahun 1950, yang dikenal sebagai insiden Betancourt. Mirabal bersaudara yang terdiri dari Patria, Maria Teresa, dan Minerva adalah termasuk pihak yang menentang kediktatoran pemerintahan Trujillo. Hal tersebut menjadi perusak hubungan antara Trujillo dan Amerika Serikat yang selama ini mendukungnya. Kisah hidup Trujillo berakhir dalam sebuah penembakan ketika ia sedang berada di luar pusat kota Dominika. Dalam sebuah mobil, ia dikepung oleh sekawanan orang yang anti pemerintahannya dan sempat terlibat baku tembak hingga akhirnya Trujillo meninggal terkena tembakan si pelaku. Hari itu menutup kisah kontroversial sang presiden, Selasa, 30 Mei 1961.

18.   Jenderal Alfredo Stroessner (Paraguay) : berkuasa sejak 1954 s/d 1989. Rezim Stroessner diwarnai oleh aksi penyiksaan, penculikan dan kebrutalan. Dia berhasil digulingkan dan kemudian diasingkan di Brazil sampai mati pada tahun 2006 akibat komplikasi berbagai penyakit.

19.   Ferdinand Marcos (Presiden Filipina) : Berkuasa sejak tahun 1964 dan tumbang tahun 1986. Pemerintahannya diwarnai dengan intimidasi dan kekerasan, dia juga dikenal gemar mengumpulkan uang negara ke rekening pribadinya. Pada tahun 1986 dia juga melakukan kecurangan pemilu. Revolusi di Filipina berhasil menurunkan jabatannya yang menyebabkan dia melarikan diri ke Hawai sampai kematiannya.

20.   Kim Jong Ill (Korut): Di tangan "sang pemimpin besar", satu generasi Korea Utara mengalami gangguan pertumbuhan karena malnutrisi juga karena adanya militerisasi ekonomi dan korupsi yang merajalela, tak kurang dari 2,5 juta penduduk Korea Utara mati. Kim dikenal sebagai orang yang gemar makan-makanan dan minum minuman yang mewah. Dia mati karena serangan jantung dan kemudian mayatnya diawetkan. Berdasarkan laporan kepribadian dari psiakter Frederick L Coolidge dan Daniel L Segal, Kim mempunyai gangguan keperibadian yang terbagi ke dalam enam bagian yaitu sadis, paranoid, antisosial, narsistik, skizoid dan schizotypal. Kim memiliki kepribadian yang sama dengan Adolf Hitler, Joseph Stalin dan Saddam Hussein.

21.   Syah Reza Pahlevi (Iran) : Berkuasa sejak tahun 1941 s/d 1979. Pemerintahannya diwarnai dengan Korupsi dan intimidasi terhadap lawan-lawan politiknya. Revolusi Islam menyebabkan Syah Reza tersingkir dan mendapat hukuman hati hingga akhirnya mengasingkan diri ke Mesir.

22.   Jean Claude Duvalier/Francois Duvalier (Presiden Haiti); Berkuasa sejak tahun 1971 s/d 1986. Pemerintahannya telah menyebabkan resesi dan kelaparan di Hait. Dalam pemerintahannya a juga mempekerjakan tukang pukul, yang dikenal dengan ‘Tonton Macotes’, atau “Para Hantu”, untuk melakukan teror di tengah masyarakat. Pasukan pribadi Duvalier itu akan melenyapkan siapa saja yang dianggap sebagai pemberontak, atau penentang rezimnya. Duvalier juga diketahui memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap ilmu sihir Afrika, ‘Voodoo’. Dia sendiri akhirnya melarikan diri ke Perancis.

23.   Augusto Jose Ramon Pinochet Ugarte (Chile) : Berkuasa dari tahun 1974 s/d 1990. Selama pemerintahannya dia terlibat pada 35.000 kasus penyiksan, dia juga menyungkil mata korbannya. Akhir tahun 1998 Pinochet ditangkap oleh kepolisian London setelah dilaporkan melakukan tindakan penyiksaan warga Spanyol di Chile selama ia berkuasa. Pada tanggal 10 Desember 2006, dan pada pukul 14.15 waktu setempat ia dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Militer Santiago. Sang diktator wafat di usia 91 tahun.

24.   Slobodan Milosevic (Serbia) : Pembantai perang Bosnia tahun 1992 – 1995. Diadili sebagai penjahat perang dan mati di dalam sel.

25.   Nicolae Ceausescu (Rumania) : Memerintah sejak tahun 1967 s/d 1989, pemerintahannya menyebabkan Rumania kekurangan gizi dan kelaparan. Divonis bersalah karena kejahatan genosida dan dihukum mati dengan cara ditembak bersama istrinya dan ironisnya kejadian tersebut banyak disiarkan oleh negara-negara lain.

26.   Jenderal Muboto Sese Seko (Presiden Kongo) : berkuasa dari tahun 1965 s/d 1967. Banyak melakukan pelanggaran dan korupsi. Melarikan diri ke Maroko dan tewas karena kanker prostat.

27.   Dr. Milton Obote (PM Uganda) :  Dai berkuasa sejak tahun 1962 – 1966. Masa baktinya yang kedua diwarnai penindasan dan pembunuhan terhadap warga sipil semasa perang saudara. Ia kemudian digulingkan dalam sebuah kudeta militer oleh Idi Amin.

28.   Idi Amin Dada Oumee (Uganda) : Berkuasa sejak tahun 1971 s/d 1979, banyak mengusir ribuan warga india dan Uganda, melakukan pembunuhan pada lawan politik dan menyebabkan perekonomian Uganda kacau. Diperkirakan ada 300 ribu orang pernah dibantai Idi Amin. Menurut riset Sue Lautze dari Harvard, tentara Lango dan Acholi dibantai di dua tangsi militer, Jinja dan Mbarara, pada Juli 1971. Pada awal 1972, lima ribu tentara Acholi dan Lango dibunuh. Dalam pembantaian tersebut rakyat sipil ikut dihabisi dengan jumlah korban dua kali lipat lebih banyak dari korban militer. Genosida juga menyasar pemuka agama lokal, jurnalis, seniman, birokrat senior, hakim, pengacara, mahasiswa, kaum intelektual, terduga kriminal, dan orang asing yang kebetulan sedang berada di Uganda. Banyak juga dari mereka yang berstatus sebagai korban salah sasaran. Selama delapan tahun berkuasa (sampai 11 April 1979), mayat orang-orang yang tak disukai Amin tergenang di Sungai Nil dan danau-danau di Uganda. Jumlah pastinya tak diketahui. International Commision of Jurist menyebut angka 80.000-300.000 korban. Sedangkan Amnesty International mencatat 500.000 korban tewas. Dia kemudian melarikan diri ke Libya dan Arab Saudi sampai mati di tahun 2003.

29.   Polpot (Kamboja) : memerintah sejak tahun 1975 s/d 1979. Dia membantai rakyatnya sendiri berjumlah 1,7 juta. Melarikan diri kehutan dan kemudian tertangkap. Tahun 1998 dia mati saat menjalani tahanan rumah.

30.   Jenderal Jorge Rafael Videla (Argentina) : Dikenal kejam dan banyak melakukan pelanggaran HAM . Untuk semua pelanggaran, ia dihukum karena tanggung jawab langsung dalam 66 pembunuhan, 306 penculikan, 93 kasus penyiksaan dan 4 pencurian. Dia juga disebut terlibat penculikan bayi-bayi. Pada tanggal 22 Desember 2010, Videla dijatuhi hukuman seumur hidup di penjara sipil atas kematian 31 tahanan setelah kudeta, dan kemudian, setelah proses selama 16 tahun, tahun lalu ia dijatuhi hukuman 50 tahun untuk penculikan bayi. Dia meninggal dalam tidurnya secara alami di penjara Marcos Paz di provinsi Buenos Aires, pada 17 Mei 2013

31.   Samuel Kanyoen Doe (Presiden Liberia) : Berkuasa sejak 1980 s/d 1990. Melakukan kecurangan pemilu, melakukan pembunuhan terhadap lawan politik. Hidupnya berakhir tragis setelah ditangkap pemberontak. Pembunuhan terhadap dirinya bahkan difilmkan dan dianggap sangat brutal.

32.   Zine El Abedine Ben Ali (PM Tunisia) : berkuasa sejak 1987 s/d 2011. Dihukum seumur hidup secara absensia karena memicu kekerasan dan pembunuhan. Dia juga dihukum karena melakukan pencucian uang dan korupsi. Dia Melarikan diri ke Arab Saudi setelah selama sebulan mendapatkan aksi demonstrasoi dari rakyatnya.dia meninggal karena stroke.

33.   Mengistu Haile Mariam (Ethopia) : Berkuasa sejak tahun 1977 s/d 1991. Dikenal dengan pemerintahan yang penuh terror dan genosida dengan korban setengah juta jiwa. Dinyatakan bersalah dan dihukum mati secara absensia. Dia kemudian melarikan diri ke Zimbabwe.

34.   Robert Mugabe (Zimbabwe) : memerintah selama 4 dekade dan pernah melakukan pembantaian terhadap ribuan orang.

35.   Kaisar Jean Bedel Bokassa (Republik Afrika Tengah. Dia berkuasa sejak tahun 1966 s/d 1979. Dituding melakukan banyak kejahatan dan dianggap terlibat pada kegiatan kanibalisme. Mendapat hukuman mati dan kemudian menjadi 20 tahun penjara. Dia mati pada tahun 1996.

Masih banyak lagi mereka sebenarnya yang dianggap diktator dan mengalami nasib yang tragis seperti Saddam Husein Irak (tewas digantung), Muammar Khadafy Libya (tewas di tangan rakyatnya sendiri), Husni Mubarok (wafat karena sakit), Ali Abdullah Saleh Yaman, dll.... nama nama terakhir ini sendiri sekalipun dianggap diktator namun ternyata keberadaan mereka sangat dibenci fihak barat, sebagian rakyat mereka juga ternyata masih mendukung...

Sumber :

1. Nur Lailatul masruroh, Runtuhnya Sang Penguasa Dari Kudeta Hingga Terbunuh, Jakarta : Penerbit Raih Asa Sukses, 2012.

2. Rangkuman dari berbagai media online

 


Rabu, 09 September 2020

NASIB ORANG-ORANG YANG TERLIBAT PADA PEMBUNUHAN AL HUSAIN BIN ALI BIN ABI THALIB RA

Oleh : Iwan Mahmoed Al Fattah
Sejarah telah mencatat bahwa ada salah satu peristiwa kelam dalam peradaban Islam yang dimana peristiwa itu sampai sekarang tidak akan pernah bisa dilupakan yaitu dengan terbunuhnya salah satu cucu kesayangan Nabi Muhammad SAW yang bernama Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib Ra pada suatu tempat yang bernama Karbala (Irak). Begitu kelamnya peristiwa tersebut sampai nyaris memusnahkan semua anggota Keluarga Nabi. Hanya karena kuasa Allah 2 orang penerus keturunan Nabi Muhammad SAW berhasil terselamatkan, yaitu Hasan bin Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Ra (Hasan Mutsanna) dan Ali Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib Ra (Ali As-Sajjad). Hasan Mutsanna lebih dahulu diselamatkan oleh salah satu wanita Quraish dan segera dibawa ke Madinah untuk diobati sedangkan Ali Zaenal Abidin saat itu tetap berada di Karbala dalam kondisi demam. Ali Zaenal Abidin berkat perjuangan heroik dari Sayyidah Zaenab binti Ali bin Abi Thalib RA berhasil lolos dari pembunuhan.
Peristiwa kematian Al Husain Ra yang dilakukan oleh orang Islam sendiri adalah sebuah fakta sejarah yang cukup menyakitkan namun juga bisa menjadikan kita sebuah pembelajaran. Betapa demi mempertahankan sebuah kekuasaan mereka yang katanya pengikut ajaran Nabi Muhammad SAW bisa tega membantai cucunya. Demi kekuasaan, manusia bisa berubah menjadi Iblis, apapun bisa dilanggar selama itu bisa memuaskan hatinya termasuk menghabisi orang-orang yang pernah dekat dengan Nabi bahkan yang merupakan darah daging Rasul. Yang tidak masuk akal mereka melakukan itu semua tanpa ada belas kasih sedikitpun. Seolah yang mereka bunuh binatang, padahal binatang saja tidak boleh diperlakukan dengan buruk. Dengan jumlah pasukan 4000 orang lengkap dengan pasukan berkudanya, mereka bertindak kejam dan brutal terhadap rombongan Sayyidina Husein Ra yang hanya berjumlah 80 orang, itupun sebagian terdiri dari wanita.
Sesungguhnya rombongan Sayyidina Ali datang ke Kufah bukanlah untuk menuntut kekuasaan, namun Al Husain Ra datang dalam rangka meminta dan mengingatkan Yazid agar segera menegakkan Syariat Islam dengan baik. Al Husain Ra bukanlah tipe orang yang haus akan kekuasaan. Beliau tentu sudah belajar bagaimana resiko ayah dan kakaknya ketika menjadi pemimpin ummat ditengah suasana yang sering terjadi konflik. Betapa beratnya kondisi tersebut. Al Husain ra datang semata-mata untuk beramar ma’ruf nahi mungkar termasuk kepada penguasa seperti Yazid. Yazid sendiri memang sangat berbeda dengan ayahnya, Muawiyah yang mempunyai kepedulian terhadap Islam, Yazid lebih mementingkan kehidupan duniawinya sehingga banyak syariat Islam yang sering dilanggarnya, inilah yang menjadi alasan Al Husain Ra kenapa mau datang ke Kufah, disamping itu juga datang ke Kufah guna memenuhi undangan masyarakatnya yang merasa tidak nyaman dengan tingkah dan pola kepemimpinan Yazid. Sebagai sosok yang sangat tegas dan disiplin dalam menjalankan syariat Islam jelas Al-Husain ra tidak bisa tinggal diam melihat perilaku Yazid ini. Dari mulai awal diangkatnya saja, Al Husain Ra sudah merasa keberatan mengingat jejak rekam Yazid yang kurang baik. Oleh karena itu Al Husain merasa wajar dan berhak mengingatkan Yazid untuk tidak terus menerus berprilaku yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Yazid cenderung hedonisme, dia sering mabuk-mabukan sehingga sering dijuluki Yazid Si Khumur. Ia mengawini budak-budak, anak-anaknya, dan saudara perempuannya serta pemabuk dan meninggalkan sholat. Kegemaran bermain dengan wanita disertai musik dan arak seolah sudah menjadi bagian hidupnya. Inilah yang menjadi alasan Al Husain Ra datang ke Kufah walaupun nantinya terhenti di Karbala.
Sebenarnya keinginan Al Husain Ra ke Kufah sudah dihalangi banyak sahabat mengingat karakter penduduknya yang tidak bisa dipercaya, ini terbukti pernah terjadi pada masa Khalifah Ali dan Al Hasan yang mereka khianati sehingga mengakibatkan Khalifah Ali ra & Al Hasan Ra terbunuh. Banyak sahabat yang menangis ketika melihat beliau bergerak meninggalkan Madinah. Bahkan Abdullah bin Umar sampai mencium badan depannya demi mengingat bagaimana Rasulullah SAW dulu pernah mencium badan tersebut. Al Husain Ra memang sosok yang keras hati dan penuh prinsip. Beliau tidak akan pernah mundur jika dirasa itu benar, jiwanya seperti batu karang yang kukuh, apalagi bila dihadapannya terdapat kezoliman.
Suasana kota Kufah dan Madinah saat itu memang sangat berbeda, Kufah kota yang penuh dengan intrik dan masalah, sedangkan Madinah adalah kota yang penuh kedamaian. Namun apa mau dikata sekalipun para sahabat sudah mati-matian mencegah Al Husain Ra, perjalanan menuju Kufah tetap dilaksanakan dengan membawa misi menegakkan kebenaran dan menuntut keadilan, sampai kemudian singkat cerita, Al Husain Ra, anak-anak dan pengikutnya syahid di Karbala dengan kondisi yang mengenaskan dan memilukan.
Saat terbunuh, pada tubuh Sayyidina Husein Ra terdapat 33 tikaman dan 34 tebasan pedang. Selain itu dengan tanpa merasa bersalah, para pembunuh keji dari pasukan Ubaidullah bin Ziyad mencincang tubuh mulia tersebut, mereka juga memenggal kepalanya untuk kemudian dibawa dan dihadapkan kepada penguasa yang memerintahkan penyerangan tersebut bahkan juga dipertontonkan kepada masyarakat agar menjadi takut kepada penguasa yang ada saat itu. Hampir semua anak-anak beliau tewas dibunuh kecuali Ali Zaenal Abidin (Assjjad).
Selesai melakukan pembantaian dan pencincangan terhadap tubuh Al Husein Ra, pasukan Kufah yang dipimpin oleh Ubaidilah bin Ziyad yang sudah gelap mata, beramai-ramai menggerayangi jenazah para pahlawan syahid dan mengambil apa aja yang dapat mereka bawa. Jenazah para pengikut Al-Husain ra semuanya sudah tidak berkepala lagi, bahkan diantaranya ada yang tidak bertangan dan tidak berkaki. Kuda dan unta yang sudah tidak bertuan lagi mereka kejar dan perebutkan. Para pembunuh Al Husain Ra benar-benar keji dan kejam. Setelah Al Husain Ra tewas bersimbah darah, seluruh barangnya ikut dirampas, termasuk barang-barang milik keluarganya. Tanpa malu-malu bahkan mereka menyerbu perkemahan wanita dan anak-anak dari rombongan Al-Husain Ra yang telah ditinggalkan sama sekali oleh pria yang mengawal keselamatannya. Kalau saja tidak ada perlawanan dari Sayyidah Zaenab binti ALi, wanita-wanita yang ada saat itu bisa mereka perlakukan secara tidak senonoh. Saat itu mata mereka sangat liar dan buas ketika melihat wanita-wanita yang ada di tenda.
Pasca penyerangan terhadap Al Husain Ra dan pengikutnya, banyak dari pembunuh tersebut bergembira ria. Ubaidillah bin Ziyad sang manusia kejam kaki tangan Yazid bin Muawiyah sudah membayangkan bagaimana kira-kira hadiah yang akan di terimanya dari Maharaja Yazid bin Muawiyah. Yang tidak kalah mengerikan dari mereka, untuk menyenangkan hati Yazid bin Muawaiyah mereka telah memperebutkan kepala jenazah pengikut Al Husain Ra sebanyak mungkin. Kepala-kepala tersebut akan dijadikan bukti kalau mereka berjasa dalam menumpas rombongan Al Husain Ra, makin banyak kepala yang berhasil dikumpulkan akan makin banyak hadiah yang akan diterimanya. Suku Kindah yang dipimpin Qais bin Asy’ats berhasil mengumpukan 13 kepala, Suku Hawazin yang dipimpin oleh Syammar Dzil Jausyan berhasil mengimpulkan 20 kepala. Bani Tamin dan Bani Asad masing masing berhasil mengumpulkan 17 Kepala.
Adapun kepala Sayyidina Husein Ra menurut sebagian sejarawan Islam dimakamkan di Cairo Mesir. Sebelum dimakamkan di Mesir, kepala beliau sempat berapa kali pindah tangan ke beberapa wilayah yang dilewati sehingga lama kelamaan kondisinya pun menjadi tidak layak, saat menuju kediaman Yazid kepala beliau diperlakukan dengan cara yang tidak layak bahkan sempat dipermainkan. Namun pada akhirnya kepala beliau akhirnya diperlakukan dengan cara khidmat dan hormat oleh orang Mesir hingga kemudian dimakamkan dengan layak.
Pasca tragedy Karbala tersebut, bagaimana nasib orang-orang yang terlibat pembunuhan terhadap Al-Husain Ra dan pengikutnya ?
Sejarah mencatat semua orang yang dahulu pernah terlibat dalam membunuh Sayyidina Husein Ra mengalami nasib sial. Seorang penulis sejarah Islam kenamaan bernama Ibnu Hajar, dalam tulisannya mengungkapkan bahwa sepeninggal Al Husein Ra ternyata tak ada seorang pun yang terlibat dalam pembunuhan itu yang terhindar dari siksa dunia setimpal dengan perbuatannya. Ada yang mati terbunuh, ada yang buta dan ada pula yang tiba—tiba mukanya berubah menjadi hitam lebam, sampai kehilangan kekuasaan dalam waktu singkat.
Mereka yang pernah terlibat pada tragedy karbala sepanjang hidupnya terus diburu oleh orang-orang yang tidak terima akan perlakuan keji tersebut.
Perlu diketahui setelah pembantaian Karbala berlalu muncullah beberapa penyesalan yang dialami oleh sebagian penduduk Kufah. Penduduk Kufah inilah yang dahulu mengundang Al Husain Ra untuk datang membaiatnya. Namun apa lacur ? ternyata setelah AL Husain Ra hingga tiba di Padang Karbala, mereka mendadak bungkam bahkan kemudian ikut terlibat mendukung rezim Yazid. Sekalipun demikian diantara sekian banyak penduduk Kufah ada beberapa sahabat Nabi yang kemudian menyesali diamnya mereka, oleh karena itu untuk menebus itu mereka pun melakukan sebuah gerakan dengan nama TAWWABUN (orang-orang yang bertaubat) dibawah kepemimpinan Sulaiman bin Sarad Al Khuzai’y. sosok sahabat Nabi ini berumur panjang, pada waktu peristiwa Karbala dia berusia 93 tahun. Dia sosok yang sangat dekat dengan Khalifah Ali Ra di Kufah, dimana ada Imam Ali ra disitu ada Sulaiman, apalagi saat-saat genting di Kufah. Dai merasakan betul bagaimana terguncangnya batin dirinya saat melihat perlakuan Ubaidillah bin Ziyad terhadap Ahlul bait Nabi dan juga kepala Al Husain Ra, namun karena posisinya yang hanya seorang rakyat biasa, dia hanya bisa diam saat itu. Namun akhirnya setelah melakukan renungan mendalam, ia pun akhirnya bertaubat untuk kemudian kembali jihad menegakkan kebenaran. Berkat ajakan taubatnya, pemerintahan Bani Ummayah mulai cemas. Sulaiman bin Sarad sendiri akhirnya gugur dalam sebuah peperangan melawan pasukan Ubaidillah bin Ziyad. Setelah menyelesaikan tugas memenuhi kewajiban menebus dosa dengan mengorbankan jiwa untuk membela kebenaran, Sulaiman bin Sarad gugur dengan hati lega. Kedudukannya kemudian digantikan oleh Al Mukhtar bin Ubaidillah Ats-tsaqafi yang merupakan tenaga muda yang masih segar dan lincah. Kefanatikan Kaum Tawwabun dibawah kepemimpinan Al Mukhtar berhasil mendesak Ubaidillah bi Ziyad yang selama ditakuti banyak orang. Pada akhirnya gerakan Tawwabun ini mampu memberikan pelajaran setimpal kepada mereka yang pernah zalim kepada Al Husain, sekalipun perbuatan mereka ada yang mungkin dianggap keji dan kontroversial terutama pada sosok Al Mukhtar, namun faktanya orang-orang yang pernah terlibat membunuh Al Husain Ra semua merasakan akibat perbuatannya.
Adapun mereka-mereka yang mengalami nasib tragis setelah pembunuhan Karbala adalah :
1. Seorang penduduk Kufah pernah menghina Al Husain Ra di depan beberapa orang dengan mengatakan Al Husain Ra fasik, seketika itu juga Allah melemparkan noktah putih dari langit ke matanya sehingga ia buta saat itu juga dan ini disaksikan oleh Abu Raja Al Aththradi.
2. Seorang laki-laki yang pernah terlibat pembunuhan Karbala, berkata dia di depan penduduk Kufah : “Wahai penduduk Kufah kalian memang pendusta! Kalian bilang bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan Al-Husain Ra telah dimatikan Allah dalam kondisi Su’ul Khatimah, atau terbunuh secara keji. Buktinya, aku masih hidup pada aku berada di tempat kematiannya ketika itu, bahkan kini aku mempunyai harta yang banyak. Tidak lama dari perkataan itu, pria tersebut berencana mematikan lentera di sebuah ruangan. Pria itu berusaha mengeluarkan sumbu lampu dengan jari tangannya, namun tiba-tiba api menyambar jari tangannya. Ia berusaha memadamkan api dengan meniupnya, tetapi ketika jari itu didekatkan dengan mulutnya api justru menyambar jenggotnya, ia pun berlari ke kolam lalu menceburkan diri ke dalamnya, namun justru api itu tetap menyala di dalam air dan membakar tubuhnya sampai hangus seperti arang.
3. Al A’masy pernah bercerita : “Aku mendengar perihal seorang laki-laki yang sengaja buang air besar di atas makam Al-Husain Ra bin Ali. Maka Allah menimpakan penyakit gila, lepra, sopak dan berbagai penyakit serta musibah terhadap keluarganya.”
4. Para pembunuh Al husain Ra juga menjadi buronan dari Al Mukhtar bin Abu Ubaid At Tsaqofi yang ingin menuntut balas. Satu persatu banyak yang tertangkap, mereka kemudian dibunuh dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kekejiannya.
5. Syamr bin Dzul Jausyan berhasil disergap pasukan Al Muhktar dan berhasil dibunuh, jasadnya lalu dilemparkan untuk makanan anjing.
6. Khauli bin Yazid Al Ashbahi juga tertangkap pasukan Al Mukhtar kemudian dibunuh dan jasadnya dibakar. Pasukan Al Muhktar menghukumnya demikian karena dialah yang membawa kepala Al Husain Ra.
7. Umar bin Sa’ad bin Abu Waqash juga mati terbunuh, ia adalah komandan pasukan yang membunuh Al Husain Ra Anaknya bernama Hafsh juga ikut dibunuh. Sangat disayangkan Umar ini bisa terlibat pada peristiwa Karbala mengingat ayahnya adalah seorang sahabat Nabi yang dikenal mulia.
8. Sinan bin Anas, laki-laki yang dituduh sebagai pembunuh Al Husain Ra lari dan menjadi buronan, namun rumahnya dirobohkan.
9. Hakim bin Thufail Ath-Thai, orang yang memanah Al Husain Ra, ia juga dibunuh pasukan Al-Mukhtar.
10.Umar bin Shabah Ash-Shad yang memanah Al Husain Ra juga dibunuh.
11. Ubaidilah bin Asad Al Juhani, Malik bin Nasir Al Kindi, Haml bin Malik Al Muharibi dari Qadisiah diringkus dan dibunuh pasukan Al Mukhtar.
12. Ziyad bin Mali Adh Dhubai, Imran bin Khalid Al Atsari, Abdurrahman bin Abu Hasykah Al Bajali, Abdullah bin Qais AL Khaulani juga dibunuh karena orang-orang inilah yang dahulu merampas bahan pewarna pakaian yang dibawa Al Husain Ra.
13. Abdullah (Abdurrahman bin Thalhah), Abdullah bin Wuhaib Al Hamdani, ditangkap dan dibunuh.
14. Usman bin Khalid Al Juhani, Asma Bisyr bin Samith Al Qabisi dibunuh, keduanya terlibat dalam pembunuhan Abdurrahman bin Aqil dan merampas barang-barang miliknya, setelah ditangkap keduanya dibunuh dan dibakar.
15. UBAIDULLAH BIN ZIYAD. Dialah yang menjadi pemimpin pasukan Karbala. Ubaidilah dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Al Mukhtar berhasil dikalahkan. Dia dibunuh langsung oleh Al Mukhtar setelah itu kepalanya kemudian dipenggal seperti dulu dia memperlakukan kepada Al Husain Ra. Allah menakdirkan Ubaidullah bin Ziyad terbunuh pada hari Asyura 10 Muharam tahun 67 H, persis seperti hari kematian Al Husain Ra di Karbala. Al Mukhtar kemudian mengirim kepada Ubaidullah ke Abdullah bin Zubair, lalu kepala itu dikirimkan kepada Ali bin Al Husain (Ali Zaenal Abidin). Sekalipun demikian Imam Ali Zaenal Abidin Ra tidak pernah mau ikut melibatkan diri dengan gerakan ini karena dia sudah belajar banyak bagaimana dulunya kakeknya, pamannya, ayahnya dikhianati berkali-kali di Kufah.
16.Husain bin Namir, terbunuh dalam perang melawan Al Mukhtar.
17. Sinan bin Anas, mengaku dirinya mengaku membunuh Al Husain Ra di hadapan massa dalam sebuah pertemuan yang digagas oleh Hajjaj bin Yusuf, tidak lama setelah pulang dari pertemuan itu, lidahnya kaku dan akalnya hilang sehingga ia harus makan dan buang air di tempat tidur. Ia juga pernah terlihat buang hajat di Masjid dalam keadaan tua bangka renta dan hilang akal (gila).
18. Abdullah bin Abul Hushain Al Azdi, tiga hari sebelum kematian Al Husain Ra pada perang Thaf, dialah yang menduduki dan menutup saluran air di Karbala, ia sengaja mendudukinya agar cucu Nabi itu tidak bisa mendapatkan air minum. Selang berapa lama setelah terjadi tragedy Karbala Abdullah bin Abul Hushain jatuh sakit, ia minum air kolam lalu muntah, ia mencoba minum lagi hingga kenyang, tetapi kemudian ia muntah. Setelah itu dia minum lagi tapi dahaganya tidak pernah hilang. Derita ita terus menyertainya hingga ia mati.
19. Yazid bin Muawiyah. Pada masa pemerintahannya, Yazid hampir dibenci semua orang. Pemberontakan terhadap kepemimpinannya berulang kali terjadi termasuk di Madinah, bahkan hampir seluruh penduduk kota ini ikut memberontak. Untuk mengatasi hal tersebut, Yazid mengirim pasukan untuk menumpas mereka hingga meletuslah Perang Hurrah yang sangat terkenal itu. Namun Allah tidak membiarkan Yazid bertahta lama, kekuasaannya hanya bertahan tidak lebih dari 4 tahun.
Adapun Keluarga dan Pengikut Al Husain Ra yang gugur dan tercatat adalah :
1. AL Husain Ra/Sayyidina Husain Asshibti/Abu Syuhada bin Ali bin Abi Thalib
2. Al Abbas bin Ali bin Abi Thalib, 34 tahun
3. Ja’far bin Ali bin Abi Thalib, 19 tahun
4. Abdullah bin Ali bin Abi Thalib, 25 tahun
5. Muhammad bin Ali bin Abi Thalib (antara 20 – 25 tahun)
6. Abubakar bin Ali bin Abi Thalib (antara 20 – 25 tahun)
7. Ustman bin Ali bin Abi Thabli (antara 20 – 25 tahun)
8. Abdullah bin Al Husain ra, 25 tahun
9. Ali Akbar bin Al Husain ra, 19 tahun
10. Abu Bakar bin Al Hasan ra
11.Abdullah bin Al Hasan Ra
12.Al Qasim bin Al Hasan ra
13. Aun bin Abdullah bin Jakfar bin Abi Thalib (Abdullah bin Jakfar adalah Suami Sayyidah Zaenab RA)
14. Muhammad bin Abdullah bin Jakfar bin Abi Thalib
15. Jakfar bin Aqil bin Abi Thalib (misan AL Husain Ra)
16. Abdurrahman bin Aqil bi Abi Thalib (misan Al Husain Ra)
17. Abdullah bin Muslim bin Aqil bin Abi Thalib (misan Al Husain Ra)
18. Muhammad bin Abu Sa’id bin Aqil bin Abi Thalib
19. Sulaiman (pembantu setia Al Husain Ra)
20. Manjah (pembantu setia Al Husain Ra)
21.Abdullah bin Baqtar (pembantu setia Al Husain ra)

Wallahu A’lam Bisshowwab…

Daftar Pustaka :

HMH Al Hamid Al Husaini. AL Husain bin Ali Ra-Pahlawan Besar Dan Kehidupan Islam Pada Zamannya, Semarang : Toha Putra, 1978.
Syekh Hasan Al Husaini. Hasan & Husain The Untold Story, Jakarta : Pustaka Imam Syafii, 2013
Al Imam Jalaludin Suyuti, Tarikh Khulafa, Jakarta : Darul Kutub Al Islamiah, 2011.

Selasa, 08 September 2020

MENGENAL PEMBUNUH KHALIFAH ALI RA, ABDURRAHMAN BIN MULJAM AL MURADI AL HIMYARI, “SI MANUSIA PALING CELAKA”

(Seri Sejarah Keluarga Nabi Muhammad SAW)

Oleh : Iwan Mahmoed Al Fattah

Sosok yang akan kita bicarakan disini sebenarnya sudah banyak yang menulisnya, namun demikian tak ada salahnya jika sejarahnya kembali kita ulas dengan tujuan untuk menjadikannya sebagai pelajaran sejarah yang berharga, mengingat ditangannya telah syahid salah seorang Khalifah ke 4 yang juga menantu dari Nabi Muhammad SAW yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. Beliau adalah sosok yang dikenal sangat dekat dengan Rasulullah SAW dan banyak dicintai dan dihormati para sahabat termasuk mereka-mereka yang tidak sependapat dengannya.

Pada saat terbunuhnya Khalifah Ali bin Thalib Ra, beliau tinggal di kota Kufah. Kufah sendiri adalah kora utama yang ada di Irak saat itu. Kota ini menjadi  istimewa karena menjadi tempat tinggal para sahabat Nabi, para tabi’in dan ulama soleh. Kufah ini menurut catatan Ibnu Batutah dalam rihlahnya banyak berkaitan dengan Nabi-nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim AS,  Nabi Nuh AS, Nabi Idris AS.  Kelak setelah kematian Khalifah Ali Ra. Anak dan cucunya akan dimakamkan di kota ini seperti Muslim bin Aqil bin bin Abi Thalib  serta cucunya yang bernama Atikah dan Sakinah. Di kota inilah menjadi saksi bisu sejarah telah terjadi sebuah tragedy pembunuhan yang dilakukan seorang manusia paling celaka terhadap manusia mulia kecintaan Rasulullah SAW…dan pembunuh keji itu bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi Al Himyari.

Abdurrahman bin Muljam Al Murodi Al Himyari sendiri dahulunya dikenal sebagai sosok yang baik, beliau dalam kehidupan awal keislamannya bahkan pernah dipercaya oleh Khalifah Umar bin Khattab Ra untuk mengajarkan Al Qur’an di masjid. Dia juga pernah belajar kepada sahabat Nabi yang bernama Muadz bin Jabal Ra. Dia sendiri pada awalnya pernah merasakan hidup jahiliiah. Ibnu Muljam baru mampu berhijrah di masa Khalifah Umar bin Khattab Ra. Dalam riwayat kehidupannya Abdurrahman bin Muljam ini bahkan pernah dikirim ke Mesir untuk membantu Gubernur Amr bin Al ‘Ash Ra dalam mengajarkan Al-Qur’an. Ibnu Muljam bahkan pernah diberi gelar Al Muqri karena keahliannya membaca Al-Qur’an. Di masa itu sosoknya selain dikenal baik, dia juga dikenal gemar beribadah, rajin berpuasa, rutin melakukan sholat malam. Khalifah Umar bin Khattab Ra bahkan dalam suratnya yang ditujukan kepada Amr  bin Al Ash Ra mengatakan bahwa sosok Abdurrahman bin Muljam adalah pribadi yang soleh dan  meminta agar Amru bin Ash Ra memuliakannya.

Dengan adanya gambaran dari Khalifah Umar bin Khattab Ra, kita bisa menilai bahwa sosok yang nantinya menjadi pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra ini paling tidak latar belakangnya adalah orang baik. Ini tentu merupakan hal sangat mengejutkan, betapa orang yang dahulunya soleh dan hidup pada masa Sahabat Nabi tiba-tiba bisa berubah 180 derajat menjadi sosok yang mengerikan. Kemana bacaan Al-Qur’annya yang selama ini dia ajarkan ke orang banyak ? Apakah ibadah yang selama ini dilakukan tidak membekas sedikitpun sehingga dia bisa berubah total seperti itu ?

Dari beberapa sumber yang saya pelajari, nampaknya perubahan karakter seorang Abdurrahman bin Muljam terjadi ketika dia mulai bergaul dengan orang-orang khawarij di wilayah Mesir saat itu. Saat itu faham Khawarij muncul setelah timbulnya peristiwa Tahkim (Arbitrase)  antara fihak Khalifah Ali Ra dan fihak Muawiyah Ra. Tadinya Abdurrahman bin Muljam berada di fihak Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra, namun sejak dia mulai terjangkiti pemahaman yang sempit dari orang-orang khawarij, maka sejak itu berubahlah karakternya yang tadinya sholeh menjadi jahat. Sepertinya sosok Abdurrahman bin Muljam ini tidak seperti para sahabat – sahabat yang pernah mendapat didikan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Dalam sejarahnya sendiri sepertinya Abdurrahman bin Muljam tidak mendapat didikan langsung dari Nabi Muhammad SAW mengingat dia baru berhijrah di masa Umar bin Khattab, sehingga sudah dapat dipastikan kualitas keislaman dan keislamannya tidak sebanding dengan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang lainnya. Kesholehan dia sepertinya tidak ditopang dengan pengetahuan agamanya, ia mungkin seorang sekedar pandai membaca Al-Qur’an namun untuk mampu menyelami lebih dalam seperti para sahabat Nabi Muhammad SAW, sehingga bacaan Al-Qur’an yang dia miliki hanya sebatas kerongkongan saja. Boleh jadi pula dia ini belum mencapai tahap penghafal  Al-Qur’an yang sesungguhnya seperti halnya para sahabat Nabi. Untuk menjadi seorang penghafal Al Qur’an di masa Nabi dan Sahabat itu terdiri dari orang-orang yang terbaik seperti Abu Musa Al Asyari Ra, Abu Darda Ra, Zait bin Tsabit Ra,  Abdullah bin Mas’ud Ra, Usman bin Affan Ra, Ali bin Abi Thalib Ra, Ubai bin Kaab, dll. Sedangkan untuk Abdurrahman bin Muljam  terus terang kami pribadi sangsi kalau dia merupakan penghafal Al-Qur’an seperti halnya para sahabat yang telah kami sebutkan tersebut. Tidak menutup kemungkinan dia baru sebagian kecil menguasai dan menghafal isi Al-Qur’an, namun karena kesolehannya saat itu sangat menonjol maka bukan hal yang aneh kalau dia kemudian dipercaya Khalifah Umar bin Khattab Ra untuk mengajarkan Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan dengan pemahaman yang dia miliki…

Hubungannya dengan khawarij memang cukup mengagetkan, namun kenyataannya itu memang terjadi. Sejak pertama kali kemunculannya, faham Khawarij memang cukup mengkhawatirkan persatuan ummat. Langkah Sayyidina Ali Ra untuk menyelesaikan sengketa dengan Muawiyah bin Abi Sofyan Ra justru dipandang salah oleh kaum ini, oleh karena itu mereka yang tidak setuju dengan adanya Tahkim kemudian memisahkan diri dari kelompok Khalifah Ali Ra. Slogan yang sering diucapkan kaum Khawarij adalah “LÄ€ HUKM ILLÄ€ LI ALLÄ€H”, tidak ada keputusan kecuali keputusan Allah. Slogan inilah yang nantinya diucapkan oleh Abdurrahman bin Muljam saat membunuh Khalifah Ali Ra. Kaum khawarij berkesimpulan Khalifah Ali Ra dan Muawiyah Ra adalah fihak-fihak yang berdosa (sebuah penilaian yang sangat tidak pantas apalagi ditujukan kepada sahabat Nabi Muhammad SAW). Khawarij juga berpandangan bahwa hanya golongan merekalah yang benar, sementara yang lain adalah salah dan wajib diperangi. Kebencian yang begitu mendalam nampaknya lebih ditujukan kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra, dan anehnya setiap kejahatan politik  yang dilakukan fihak Syam  oleh khawarij dipikulkan pertanggungjawabnya ke pundak Khalifah Ali Ra. Orang-orang khawarij  terus berkampanye dan berpropaganda bahwa Khalifah Ali Ra telah murtad dan menjadi kafir. Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra harus dilawan demi tegaknya hukum Allah, menurut mereka. Di mana-mana mereka tidak bosan meneriakan slogan “TIADA HUKUM SELAIN HUKUM ALLAH”.

Ath-Thabari salah seorang penulis sejarah Islam mencatat bahwa sebab munculnya khawarij dan alasan berpisahnya mereka dari pasukan Ali adalah karena dangkalnya pengetahuan mereka tentang hakikat permasalahan, juga tentang makna ayat Al-Qur’an, serta minimnya ilmu fikih dan pengetahuan mereka terhadap ajaran pokok syariat dan agama. Dari penjelasan Ath-Thabari ini akhirnya kita berkesimpulan bahwa betapa berbahayanya faham yang satu ini pada waktu itu.

Berbagai cara dan cara sebenarnya sudah dilakukan Khalifah Ali Ra untuk menyadarkan kaum ini.  Namun jerih payah Khalifah Ali Ra nampaknya tidak membawa hasil apapun juga hingga akhirnya beliau pun bersikap tegas kepada kaum yang menyimpang ini. Kaum khawarij sendiri bertahan sikapnya dengan tetap keras kepala dan menumpahkan semua kesalahan kepada Khalifah Ali Ra. Dalam suatu dialog yang terjadi antara Khalifah Ali Ra dan kaum khawarij, mereka tanpa tedeng aling menyatakan  terus terang pendiriannya sebagai berikut: “…kami bukanlah dari golongan kalian dan bukan pula dari orang-orang yang menghendaki keduniaan seperti yang kalian inginkan. Hai Ali, jika engkau mau mengakui dengan sadar bahwa engkau sekarang telah menjadi kafir, kemudian engkau bersedia bertaubat sebagaimana kami telah bertaubat, barulah kami sudi untuk bersatu lagi denganmu untuk menghadapi musuhmu. Kalau tidak, tidak ada jalan lain kecuali pedang.

Kaum khawarij  memang pada akhirnya tidak pernah mau berdiam diri dan tidak pernah mau bertukar pikiran untuk mencari kebenaran, bahkan terus menerus menantang dan mengancam hendak melancarkan serangan bersenjata. Setiap orang yang tidak sefaham dengan mereka dan diketahui bersimpati kepada Khalifah Ali  Ra mereka bunuh dan mereka aniaya. Mereka menetapkan hukum sendiri, bahwa setiap  orang yang tidak sependapat dengan mereka, halal ditumpahkan darahnya dan dirampas segala miliknya.

Cara berpikir khawarij yang serba sempit ini dapat dilihat dalam surat yang ditulis Ali ibn Abi Thalib; “jelaskan kepada kami, alasan apa yang menyebabkan kalian menghalalkan untuk memerangi kami dan membelot dari jamaah. Mempersenjatai bekas hamba sahaya kalian dan menyerang orang-orang dengan memenggal kepada mereka ? Sesungguhnya perbuatan ini adalah kerugian yang sangat nyata. Demi Allah, seandainya kalian membunuh seekor ayam atas dasar semua ini, pastilah dosanya sangat besar di sisi Allah, maka bagaimana dengan membunuh nyawa manusia yang diharamkan oleh Allah.”

Perlu diketahui, kaum khawarij ini kebanyakan dari orang-orang Arab Badui yang hidup di padang pasir dan keadaan yang serba keras, membuat mereka bersifat sederhana dalam alam pikiran, keras dalam pendirian, berani dalam bertindak, dan mandiri. Mereka berpandangan sempit, fanatik, kurang toleran terhadap perbedaan, tidak terbuka karena kurang berilmu pengetahuan. Akibatnya rawan akan terjadinya pengelompokan baru. Mereka mudah menuduh kafir atau musrik terhadap siapa saja yang tidak mengikuti mereka. Kafir atau musyrik dengan sendirinya halal darahnya untuk dialirkan. Ajaran-ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadist, mereka artikan menurut lafadnya dan harus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman dan paham mereka merupakan iman dan paham mereka yang sederhana dalam pemikiran. Sikap fanatik ini membuat mereka tidak mentolerir penyimpangan terhadap ajaran Islam menurut paham mereka, walaupun hanya penyimpangan dalam bentuk kecil.

Sejarah membuktikan bahwa kaum khawarij ini termasuk orang-orang yang membenci Imam Ali Ra secara berlebih-lebihan, mereka tidak hanya memusuhi dan memerangi saja, tetapi  bahkan mengkafir-kafirkannya kemudian berkomplot  membunuhnya. Kebencian mereka yang sangat berlebih-lebihan  itu membawa  mereka kepada jalan yang tidak benar, sebagaimana yang dicanangkan oleh sabda Rasulullah SAW, setiap muslim yang tidak sefaham dengan mereka dipandang sebagai kafir dan mereka halalkan darah dan harta bendanya.

Pemikiran-pemikiran dari Khawarij ini nantinya sangat berpengaruh kuat terhadap Abdurrahman bin Muljam untuk membunuh Sayyidina Ali Ra sebagai khalifah saat itu. Keinginan Abdurrahman bin Muljam untuk cepat membunuh Sayyidina Ali Ra bahkan semakin menguat manakala dia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang bernama Qitham binti Asy-Syajnah di Kufah (Irak) yang ternyata juga seorang khawarij sejati. Qitham binti Asy-Syajnah memberikan beberapa syarat kepada Ibnu Muljam untuk bisa menikahinya, salah satunya adalah dengan membunuh Khalifah Ali Ra. Syarat yang diajukan ini justru seperti pucuk dicinta ulam pun tiba. Qitham binti asy-Syajnah memberi syarat tersebut karena dia dendam kepada Khalifah Ali Ra dan pengikutnya yang telah banyak membunuh kerabatnya dalam perang Nahrawan. Perang Nahrawan sendiri adalah perang  yang bertujuan untuk menumpas habis kaum khawarij yang telah memberontak dan selalu melakukan adu domba dan provokasi setelah adanya Tahkim. Dengan lantang mereka selalu berkata: “Tidak boleh ada hukum kecuali hukum Allah.”adanya pemahaman yang sempit ini kemudian dijawab oleh Sayyidina Ali Ra dengan perkataan: Perkataan yang benar, tetapi ditujukan untuk kebathilan.”

 

Pertemuannya dengan wanita cantik yang berhati kejam semakin menambah semangat Ibnu Muljam untuk segera menghabisi Khalifah Ali Ra. Semua kesolehannya telah berubah menjadi sifat iblis, pergaulannya yang salah, ambisinya yang begitu besar, pemahamannya yang sempit terhadap Islam, serta adanya godaan wanita semakin membuat Abdurrahman bin Muljam betul-betul menjadi gelap mata, dia lupa kalau dulu Khalifah Umar bin Khattab pernah memujinya, dia lupa sahabat Amr bin Ash Ra dulu pernah menjadikanya seorang mulia karena kedekatannya dengan Al-Qur’an. Hilang semua itu akibat kebodohannya karena bergaul dan berdekat-dekatan dengan kaum khawarij. Intelektual dan pemikirannya tidak berhasil untuk menolak faham ini..kesholehannya seolah tidak berdaya menghadapi pemikiran-pemikiran yang disodorkan oleh kaum khawarij ini.

 

Sosok yang dulu rumahnya pernah dekat dengan  salah satu otak pembunuhan Khalifah Ustman bin Affan yang  bernama Abdurrahman bin Udais Al-Balawi ini akhirnya melaksanakan misi jahatnya setelah didesak oleh perempuan impiannya.

 

Rencana pembunuhan terhadap Sayyidina Ali Ra pada dasarnya merupakan misi besar dari kaum khawarij. Misi pembunuhan itu tidak saja ditujukan kepada Imam Ali Ra namun juga kepada Muawiyah bin Abi Sufyan Ra, Gubernur Amr bin Ash Ra yang dipandang sebagai biang keladi perpecahan ummat.  Untuk rencana pembunuhan terhadap Imam Ali Ra mereka pandang sebagai tindakan pembalasan atas terbunuhnya  kawan-kawan mereka di masa lalu. 

 

Untuk melaksanakan pembunuhan terhadap tiga tokoh tersebut maka  terpilihlah nama Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi Al-Himyari yang ditugaskan membunuh Imam Ali Ra. Untuk membunuh Muawiyah Ra mereka menugaskan seorang Bani Tamim bernama  Al-Hajjaj bin Abdullah Ash-Sharimy. Sedangkan untuk membunuh Amr bin Ash Ra mereka menugaskan ‘Amr bin Bakr orang dari Bani Tamim juga.  Mereka menentukan waktu  pelaksanaan  rencana tersebut secara serentak, yaitu menjelang tanggal 17 Ramadhan tahun 40 Hijriah. Selama menunggu waktu yang telah ditentukan mereka tinggal di Makkah. Selesai berumroh, pada bulan Rajab mereka berpisah, masing-masing menuju tempat tujuan. Pada waktu yang telah ditentukan ternyata Al-Hajjaj Ash Sharimy tidak berhasil membunuh Muawiyah Ra karena kebetulan beliau sedang memakai baju besi sebagaimana kebiasaannya ketika keluar meninggalkan rumah. Ia hanya luka-luka tapi tidak membahayakan jiwanya. Al Hajjaj kemudian tertangkap kemudian dibunuh. Untuk Amr bin Bakr, ternyata ia juga gagal membunuh Amr bin Ash Ra karena ketika itu Amr tidak keluar rumah karena sedang sakit. Untuk mengimami sholat jamaah Amr bin Ash Ra kemudian menugaskan pengawalnya  yang bernama Kharijah bin Huzaifah Al Adwy. Kharijah inilah yang akhirnya terbunuh. Amr bin Bakr kemudian ditangkap lalu dibunuh oleh Amr bin Ash Ra.

 

Bagaimana dengan Abdurrahman bin Muljam ?

 

Pada malam tanggal 17 Ramadan 40 Hijriah, dibulan yang mulia, rencana Ibnu Muljan beserta dua orang kawannya  untuk membunuh Khalifah Ali Ra akhirnya dijalankan.  Menjelang subuh seperti kebiasaan Khalifah Ali Ra, beliau selalu membangunkan orang-orang untuk sholat berjamaah. Di jalan yang biasa Khalifah Ali Ra lalui ini sudah lama mengintai  Ibnu Muljam dan dua 2 orang kawannya.  Setelah bertemu, Abdurrahman bin Muljam kemudian  menebas tengkuk Khalifah Ali Ra yang sudah terjatuh setelah sebelumnya  ditebas oleh komplotan Ibnu Muljam.  Darah pun membanjiri tengkuk dari khalifah yang mulia ini. Sambil menebas tengkuk Khalifah Ali Ra dengan pedang yang sudah diberi racun mematikan, Abdurrahman bin Muljam berteriak ”TIDAK ADA HUKUM KECUALI MILIK ALLAH, BUKAN MILIKMU ATAU SAHABAT-SAHABATMU !!!”  setelah mengeluarkan perkataan ini Ibnu Muljam  membaca Al-Qur’an “DAN DIANTARA MANUSIA  ADA YANG MENJUAL JIWANYA MENCARI KERIDHOAAN ALLAH  DAN ALLAH  MAHA LEMBUT KEPADA HAMBA-HAMBANYA…” Khalifah Ali Ra pun sempat menjawab dan berseru, “KALIAN AKAN MENDAPAT HUKUM ALLAH…”

 

Perbuatan yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Maljan dkk, jelas sangat menggemparkan para sahabat yang akan melakukan sholat. Anak-anak Khalifah Ali Ra seperti Sayyidina Hasan ra,  Ummu Kalsum RA sangat marah terhadap sosok yang kini sudah berubah menjadi monster pembunuh. Betapapun demikian Khalifah Ali walaupun dalam keadaan kritis tetap melarang anak-anaknya untuk memperlakukan Abdurrahman bin Muljam di luar  batas kemanusiaan, Khalifah Ali Ra melarang anak-anaknya menyiksa sosok pembunuh berdarah dingin itu, bahkan beliau memberi pesan agar Ibnu Muljam diberi makan dan minum dan ditawan dengan baik. Menurut beliau Jangankan manusia, kepada anjing liar saja hal tersebut tidak boleh dilakukan. Perkataan dan nasehat Khalifah Ali Ra ini yang nantinya menyebabkan Abdurrahman bin Muljam dihukum mati dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam. Ini penting diungkap karena beberapa sumber tulisan menulis Abdurrahman bin Muljam digambarkan dibunuh dengan dengan cara yang kejam dan tidak manusiawi, jelas ini sangat bertentangan dengan pesan dan wasiat dari Khalifah Ali Ra. Tidak mumgkin kekejaman dihadapi dengan kekejaman karena itu bertentangan dengan hukum Islam juga bertentangan dengan sifat para sahabat. Beberapa tulisan bahkan menyebut adanya pencungkilan mata, ada pemotongan lidah, ada pemutilasian bahkan ada pembakaran jasad dirinya. Jelas ini tulisan yang patut dipertanyakan kebenarannya.

 

Pada tanggal 21 Ramadan 40 Hijriah Khalifah Ali bin Abi Thalib ra setelah 3 hari bertahan dengan luka-lukanya terutama di selaput otaknya, akhirnya sosok yang mulia wafat syahid, maka sejak wafatnya beliau dan juga setelah penyerahan jabatan khalifah dari Sayyidina Hasan Ra kepada Muawiyah bin Abi Sufyan Ra berakhirlah sejarah emas sistem pemerintahan Kekhalifahan Nubuwwah (Khilafah Rasyidah). Sayyidina Ali Ra sendiri setelah wafat dikuburkan di Najaf, Iraq. Di tempat itulah sampai sekarang bisa kita saksikan sebuah masjid besar dalam bentuk bangunan yang indah terhias beberapa kubah berlapiskan emas. Berpuluh-puluh ribu, bahkan mungkin beratus-ratus ribu kaum muslimin, terutama penganut Syiah setiap tahun datang dan berziarah ke tempat tersebut. Selain Najaf ada sebagian ada juga yang berpendapat bahwa makam Sayyidina Ali Ra sudah dipindahkan oleh Al-Husein Ra dan dikebumikan kembali  berdampingan dengan istrinya di Baqi’ Madinah.

 

Bagaimana hukuman mati yang diterima Ibnu Muljam setelah berhasil membunuh Khalifah Ali Ra yang agung itu ? Benarkah hukuman yang diterima ibnu Muljam dilakukan dengan cara yang kejam ? Benarkah saat mau dihukum dia masih percaya diri dan tidak merasa ketakutan ? benarkah dia meminta agar badannya dimutilasi ? untuk menjawab semua itu dibawah ini akan dijelaskan bagaimana sebenarnya yang terjadi.

 

Beberapa waktu setelah kematian Khalifah Ali Ra, Al-Hasan Ra sebagai putra tertua bersiap-siap melaksanakan hukuman Qishas terhadap pembunuh ayahnya.  Akhirnya Ibnu Muljam  si pembunuh durjana itu dibawa  ke hadapan massa untuk diqishas, Ibnu Muljam tampak begitu ketakutan, hingga mengiba-iba kepada Al-Hasan Ra.

 

Ibnu Muljam berkata : “Maukah kamu menerima tawaranku ? Demi Allah, setiap kali aku bersumpah kepada Allah, aku selalu menepatinya. Dahulu aku bersumpah kepada  kepada-Nya di sisi Ka’bah, untuk membunuh Ali dan Muawiyah, atau aku yang terbunuh karena itu. Sekarang, lepaskanlah aku agar aku dapat membunuh Muawiyah. Aku bersumpah kepadamu, Demi Allah, jika aku tidak berhasil membunuh Muawiyah, atau aku berhasil membunuhnya dan aku tetap hidup, aku akan kembali menyerahkan diri kepadamu.”

 

Mendengar tawaran demikian, Al-Hasan  Ra berkata: “Demi Allah, itu tidak akan pernah terjadi sebelum kamu melihat neraka.” Ibnu Muljam kemudian dibawa ke depan, lalu Al Hasan Ra pun mengqishasnya.

 

Dari paparan diatas ini kita menjadi tahu bahwa Ibnu Muljam menjelang kematiannya, dia sangat ketakutan sekali, dari sini pula kita bisa tahu betapa bodohnya dia akan pemahaman keagamaan. Betapa sangat salah kaprahnya dia ketika berani bersumpah “Demi Allah” untuk sebuah kebatilan, dia fikir hukum bisa dibolak balik dan dipermainkan. Ibnu Muljam masih beruntung hanya diqishas, mungkin bila dia jatuh ke tangan Persia dan Roma bisa jadi dia akan diperlakukan dengan sangat sadis. Namun begitulah akhlak Keluarga Nabi. Sesuai pesan Khalifah Ali Ra, Al Hasan Ra melakukan qishas sesuai dengan syariat Islam. Artinya sebelum qishas jatuh tidak ada penyiksaan, semua dilakukan dengan cepat hingga akhirnya Ibnu Muljam mati dalam hina dihadapan Ummat Islam.

 

Setelah dihukum mati dengan cara qishos dengan cara dipenggal kepala, tidak diketahui dimana manusia paling celaka ini dimakamkan. Namun berdasarkan catatan Ibnu Batutah dalam rihlahnya, makam Ibnu Muljam ternyata tidak jauh dari pemakaman keluarga Khalifah Ali Ra. Menurut beliau makam Ibnu Muljam berada di sebelah barat pemakaman Kufah. Makam Ibnu Muljam berbentuk sebuah bangunan hitam legam diatas tanah putih. Makam “Si Manusia Celaka” ini setiap tahun didatangi penduduk Kufah. Mereka membawa kayu dan membakarnya  di atas makam itu selama 7 hari. Di dekat makam Ibnu Muljam terdapat pula makam Al-Mukhtar bin Abu Ubaid Bin Mas’ud Ats- Tsaqafi.

 

Dari pelajaran diatas kita dapat simpulkan kenapa seorang Ibnu Muljam yang hidup di masa para sahabat bisa berubah menjadi orang yang jahat dikarenakan beberapa factor, yaitu :

 

1.  Ibnu Muljam bukan produk didikan Rasulullah SAW karena dia hadir pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sehingga kualitas keimanannya pun tidak bisa disamakan dengan para sahabat, sekalipun para sahabat ada yang bertentangan dalam beberapa persoalan, namun semua itu bisa diselesaikan dengan cara yang baik, sedangkan ibnu muljam dengan cara kekerasan.

2.    Ibnu Muljam adalah gambaran seorang yang berwawasan sempit padahal dia berada di lingkungan orang-orang yang terbaik.

3.    Ibnu Muljam hanya mampu menjadi manusia yang sholeh buat dirinya sendiri namun tidak mampu untuk membuat sholeh orang lain.

4.     Ibnu Muljam telah memasuki pergaulan yang salah ketika dia berdekat-dekatan dengan kaum khawarij.

5.    Ibnu Muljam adalah sosok yang lebih mengedepankan dunia ketimbang akhirat, ini terbukti ketika dia mau melakukan pembunuhan terhadap Khalifah Ali berkat rayuan seorang wanita.

6.      Ibnu Muljam adalah tipikal manusia yang berfikir leterleks (kaku) bukan kontekstual.

7.      Ibnu Muljam tipikal manusia egois yang sulit menerima pendapat dari orang lain.

8.    bnu Muljam seorang  merasa “berilmu” tapi mati terbunuh oleh kebodohannya sendiri, ilmunya tidak bermanfaat bagi dirinya (karena tidak diamalkan).

9.    Ibnu Muljam sekalipun memiliki nama yang indah (Abdurrahman) namun ternyata nama itu tidak mampu menjadikannya manusia yang berguna.

10.   Ibnu Muljam bukanlah penghafal Al-Qur’an seperti halnya para sahabat Nabi, yang selain hafal mereka juga bisa mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, Ibnu Muljam mungkin bisa mengajar Al-Qur’an namun untuk memahami maknanya secara lebih luas nampaknya dia tidak mampu. Sekalipun kalau memang benar dia katanya hafal Al-quran, hafalan yang dia miliki hanya bisa sampai kepada kerongkongan saja, dan tidak sampai kepada akal dan hatinya untuk diamalkan dalam kehidupan nyata. Kami  pribadi sendiri masih ragu apakah Ibnu Muljam ini seorang penghafal Qur’an mengingat pada masa itu hanya terjadi pada dirinya saja, bila dibandingkan dengan para penghafal Alquran lainnya.. Bagaimana mungkin, bukankah Al-Qur’an merupakan bagian “Cahaya Allah” ? tidak mungkin “cahaya” itu menyebabkan seorang menjadi pembunuh. Seorang penghafal Al-Quran sejati akan selalu Allah jaga baik perkataan atau perbuatannya.

 

 

Wallahu A’lam Bisshowwab…

Daftar Pustaka :                 

Abu Ja‟far Muhammad. Tarikh Ath-Thabari Jilid 3. Terj. Abu Ziad Muhammad Dhiaul-Haq dan Abdul Syukur Abdul Razak. Jakarta : Pustaka Azam, 2011.

Hairul Puadi, Radikalisme Islam: Studi Doktrin Khawarij, Jurnal Pusaka LP3M IAI Al-Qolam, 2016.

HMH Al Hamid Al Husaini. Imamul Muhtadin Sayyidina Ali bin ABi Thalib Ra, Jakarta : Pustaka Hidayah, 1989.

Mustafa Murad. Kisah Hidup Ali bin Abu Thalib, Jakarta : Zaman, cet VII tahun 2016.

Sukring. Ideologi, Keyakinan, Doktrin Dan Bid’ah Khawarij: Kajian Teologi Khawarij Zaman Modern, Jurnal Theologia — Volume 27, Nomor 2, Desember 2016.

Syekh Hasan Al-Husaini (Ulama Ahlul Bait. Hasan-Husein The Untold Stories, Jakarta : Pustaka Imam Asy-Syafii, 2013.