Minggu, 28 November 2021

3 BULAN "PENGGOJLOKAN" MENUJU GONTOR...

Oleh : Iwan Mahmud Al-Fattah

Salah satu impian terbesar anak saya dalam hidupnya adalah masuk ke Pesantren Gontor...Saya mungkin tidak perlu banyak cerita tentang Pesantren yang satu ini karena sejarahnya sudah terpampang jelas. Bagi saya semua pesantren sama baiknya dan sama tujuannya.....yang penting bagaimana niat si anak dan juga orangtuanya....
Saya fikir dulu ketika anak saya ingin ke Gontor, saya anggap itu hanya sebuah keinginan sesaat saja mengingat gaya dan cara belajarnya belum menunjukkan kalau dia serius, apalagi ditambah pembelajaran online yang dalam satu tahun ini bisa jadi telah membuatnya jenuh. Ketertarikan akan Gontor sendiri adalah ketika anak saya kaget dan terpukau mendengar ceramah KH HASAN ABDULLAH SAHAL yang sangat tegas, lugas dan berani di Youtube...Seolah anak saya menemukan sosok idola baru. Saat mendengar ceramah KH HASAN ABDULLAH SAHAL ini...anak saya kemudian bertanya, siapakah sosok beliau...? Kemudian saya jelaskanlah siapa beliau termasuk bagaimana nasab keluarga beliau dan keluarga besar Gontor sambil saya mengatakan, "Insya Allah kalau mau tahu siapa leluhur Keluarga Gontor lihat aja buku yang Abi tulis"
Namun demikian dasar memang anak-anak, keinginan untuk masuk Gontor kemudian sempat hilang...dunia hp yang didalamnya banyak terdapat aplikasi aplikasi yang disukai anak muda terutama game, memang telah banyak membuat ortu resah karena dalam banyak hal ternyata sering berperan besar dalam mengubah karakter seorang anak, makanya saya suka jengkel kalau anak saya sudah nempel berjam-berjam dengan hp, tidak jarang saya dan anak harus ngotot-ngototan dalam soal benda yang satu ini....Kadang argumen dia ada benarnya kadang juga ada aja alasannya buat ngeles...ada saja omongannya, misalnya dia suka ngomong, "anak kan ikutin orangtuanya..., lha Abi sendiri suka mantengin hp berjam-jam..", kalau sudah begini kena deh saya...
😊
Tanpa terasa waktu terus berjalan hingga tiba di bulan Januari 2021...Saat itu di banyak pesantren di beberapa kota di Jawa sudah membuka pendaftaran...Dan yang cukup mencengangkan banyak pesantren yang sudah menutup pendaftarannya karena quotanya sudah penuh, ditambah lagi di beberapa pesantren biaya mondoknya rasa-rasanya sangatlah lumayan buat kantong kami...Uniknya banyak pula pesantren yang sekalipun biayanya tidak mahal namun mampu menciptakan SDM yang tangguh.
Memasuki pertengahan bulan Januari 2021 saya mendengar ada info pendaftaran dari salah satu pesantren di Jawa Barat. Karena anaknya juga minat dan antusias maka sayapun mendaftarkan dengan rasa optimis yang tinggi akan diterima. Dengan persiapan yang ala kadarnya, anak saya pun ikut test....keyakinan akan lulus sangat tinggi dari saya dan juga anak saya mengingat syarat test yang diajukan menurut saya tidak berat berat amat....namun takdir ternyata berkata lain, Bulan Februari saya dapat kabar langsung melalui WA bahwa anak saya dinyatakan tidak lulus karena nilainya rendah....sontak saya lemas dan istigfar...kok bisa gak lulus ? saya sempat protes dan tidak terima dengan beberapa alasan. Bahkan saking jengkelnya saya pun "mengkritik" sistem informasinya yang saya anggap lamban. Namun setelah saya renungkan secara jernih akhirnya saya pun sadar dan beristigfar, mungkin ini karena kurangnya persiapan anak saya menghadapi test masuk. Wajar jika pondok pesantren mencari bibit bibit yang terbaik demi untuk kebaikan bersama...Saya pun ikhlas, justru melalui gagalnya anak saya di test awal ini merupakan hikmah terbesar...
Sempat marah besar hingga membuat anak saya menangis ketakutan...namun akhirnya saya ajak dia untuk membuat komitmen serius jika memang berniat masuk pesantren....ketika saya tanyakan, "apakah kamu masih punya keinginan masuk ke Gontor ?" Ternyata jawabannya masih dan raut wajahnya berubah gembira.. Wajah yang tadinya ketakutan karena diliputi rasa bersalahnya dan juga karena saya marahi berubah menjadi semangat dan optimis.
Maka dengan sisa waktu yang tersisa cuma 3 bulan efektif mendekati masa-masa Injury time" , saya pun bersama istri melibatkan bimbel khusus untuk masuk Gontor. Saya pilih bimbel Primago School yang memang sudah berpengalaman dalam meluluskan santri santrinya ke Gontor...Alhamdulillah selama bimbel, Ustadz yang mengajar anak kami sangat sabar dan terus meyakinkan kalau anak saya Insya Allah bisa masuk Gontor. Para Ustadz di Primago juga terus menerus memotivasi anak kami untuk semangat mengejar ketertinggalan materi-materi pokok ujian masuk Gontor. Kesabaran Ustadz pembimbing anak kami dan juga Ustadz Ustadz Primago sangat saya puji...mereka benar benar sangat perhatian dan terus memantau perkembangan anak anak asuhnya juga anak kami. Mereka perlakukan anak anak asuhnya seperti anak sendiri...
Walaupun demikian karena pertemuan bimbel itu terbatas waktunya dan kami pun merasa harus ada target, apalagi buat kami pilihan ke tempat lain belum ada alternatif. Selain itu banyak yang sudah menutup pendaftaran dan justru Gontorlah salah satu diantara pondok yang baru akhir akhir tahun pembelajaran membuka pendaftaran, maka dengan melihat kenyataan ini saya dan istri akhirnya turun langsung untuk mendidik anak kami ala pendidikan saat kami di kegiatan pecinta alam. Biar bagaimana pun kami berprinsip pendidikan awal terbaik harus berasal dari rumah. Saya pun dalam mendidik mengambil ala Wanadri yang dalam pendidikannya penuh dengan disiplin ketat....Kebetulan saya bergabung dengan organisasi ini yang memang dikenal sangat kuat karakter mentalnya. Dengan batas waktu yang hanya 3 bulan dan kemampuan akademis yang mungkin tidak sama dengan mereka yang sudah menyiapkan anaknya satu tahun sebelumnya membuat saya harus kerja keras membentuk anak saya...tidak jarang saya harus gebrak meja pas dia ngantuk, tidak jarang pula dia saya peringatkan dengan keras agar tidak lemah dan cengeng...intinya mungkin kalau dulu di kegiatan Mapala saya ini mungkin dianggap "pelatih kejam". Belajar pun sampai larut malam dengan materi materi yang serba ketat...seperti Imla, Bahasa Arab Dasar hafalan-hafalan doa dan hafalan Juzamma, Praktek Ibadah, Matematika, Bahasa Indonesia, belum lagi materi materi lain dan yang terpenting bagaimana menciptakan anak saya menjadi berkarakter dan tangguh dalam menghadapi medan yang sesungguhnya. Untuk Al Quran saya paksa dia khatam dibawah pengawasan saya langsung serta istri, terkadang sering timbul kasihan...Soal Khatam Al Quran, saya sebelumnya sangat syok ketika mendengar dia belum khatam, bagi saya ini musibah besar ! Jelas ini kesalahan saya karena dalam usia 11 tahun sekalipun bacaannya tidak jelek jelek amat tapi karena belum khatam ini musibah buat saya apalagi saya justru dikenal sebagai guru tapi kok bisa anaknya sendiri belum khatam ? Padahal di sekolahnya sendiri yang namanya membaca Al Quran itu rutin mengingat sekolah anak saya adalah SDIT. Tentu aneh..anak orang lain bisa kita didik kenapa anak sendiri tidak...sebuah tantangan bagi saya dan istri. Dan Alhamdulillah 1 bulan lebih sedikit berkat pengawasan ketat, khatamlah anak saya...selama dia belajar tajwid, dalam prakteknya benar benar saya gempur habis lidahnya untuk mengucapkan huruf dan juga seluk beluk lainnya, sampai kadang saya dibilang lebay oleh kakaknya yang merupakan hafizoh. Selain itu saya sering membuat "kesel campur ketawa" anak dengan intonasi suara mengajar. Maklum saya mengajar memakai cara enjidnya yang bersuara lantang dan keras...dan di Betawi memang begitulah orang tua dulu kalau ngajar ngaji anaknya...dan hasilnya sampai sekarang sangatlah terasa...
Penggojlokan sempat diprotes kakaknya karena dianggap seperti tentara, namun kalau tidak dibuat keras saya khawatir anak saya ini terlena apalagi HP ditangannya tidak pernah lepas...ingin rasanya saya banting itu hp namun lagi lagi saya hanya bisa beristigfar...sekalipun saya keras tapi saya tidak pernah sampai memukul apalagi mencaci maki, tapi saya pakai cara cara para pelatih saya dulu di Wanadri dimana ketika siswa bersalah maka siswa menghukum diri sendiri dengan kesadarannya....Dan alhamdulillah......Setelah 3 bulan "penggonjlokan" saya melihat hasilnya cukup baik, padahal selama 3 bulan itu juga dia harus sekolah online belum lagi anak saya juga harus banyak mengerjakan tugas. Anak saya yang tadinya kurang percaya diri mulai tumbuh jati dirinya, tanggung jawabnya mulai tampak walupun kadang sikap manjanya belum hilang. Yang saya sangat senang sikap kritisnya sering muncul disertai pertanyaan pertanyaan yang berkelas..Kadang saya mikir, ini bocah kritis nular dari siapa ya ? Karena saya sendiri tidak pernah mengajarkan apalagi masalah masalah politik, hukum, budaya, agama dll.
Pada perkembangan mendekati waktu test ujian masuk Gontor, sebagai orangtua tetaplah rasa khawatir itu ada mengingat persaingan untuk masuk Gontor sangatlah ketat dan diikuti oleh banyak calon santri dengan jumlah hampir 10 ribu orang terdiri dari putra dan putri dengan kemampuan yang luar biasa......Hal ini sudah saya pelajari sebelumnya...persaingan untuk mendapatkan posisi santri di Gontor itu benar-benar sangat ketat, kompetitif dan diikuti dari seluruh wilayah Indonesia bahkan juga dari luar negeri...
Tiba waktunya akhirnya anak saya pun berangkat menuju Kampus Gontor 2 Ponorogo pada tanggal 23 mei 2021 dan tentu dengan persiapan prokes yang sangat ketat. Sebelum berangkat anak saya wajib di Swab..masuk Gontor pun juga dengan prosedur prokes yang super ketat. Jangan ditanya soal perasaan saya dan istri, apalagi kalau seandainya nanti ternyata hasil swab dinyatakan positif...bahkan 2 hari sebelum berangkat, saya berinisiati fmembawa anak saya test swab mandiri dekat rumah, karena melihat kondisinya yang sedang flu...Alhamdullillah hasilnya negatf, ketika pagi sebelum berangkat dari Primago menuju Ponorogo pun seluruh calon santri di swab dan Alhamdulillah hasilnya negatif dan semua dalam keadaan sehat, kalau seandainya ada yang positif sudah pasti akan langsung dipulangkan dahulu untuk isolasi mandiri... Untuk menuju ke Kampus 2 Gontor Ponorogo semua calon santri pun hanya boleh didampingi Ustadz Ustadz Alumni Gontor sedangkan orangtua tidak diperbolehkan mendampingi demi mencegah penyebaran Covid 19. Berdasarkan info yang saya peroleh, Gontor memang sangat ketat dalam menjalankan Prokes Covid 19 untuk semua calon santri dan juga pendampingnya. Adanya PROKES COVID 19 yang diterapkan Gontor secara ketat dan didukung oleh seluruh para Ustadz Pembimbing masing masing calon santri tentu sangat melegakan hati orangtua untuk melepas anak anaknya menuju Kampus 2 Gontor Ponorogo.
Dari tanggal 24 sd 29 Mei adalah masa ujian lisan dan ujian tulisan disertai latihan latihan dibawah binaan para pembimbing masing-masing...Selama itu pula saya tidak segan segan meminta doa kepada para kerabat, handai taulan dan sahabat sahabat baik yang berada di dalam kehidupan nyata juga yang ada di fb, IG, WA juga KHUSUSNYA dari EMAK SAYA yang setiap tahajud terus mendoakan cucu tersayangnya....Selain itu saya mendapat masukan dari beberapa Kyai dan juga Ustadz ustadz alumni Gontor agar memperbanyak amaliah sunnah seperti puasa, tahajud, sedekah, zikir, Sholawat bahkan kami pun berinisiatif untuk berziarah kepada makam para ulama dan habaib dengan tujuan sebagai wasilah untuk memperkuat Ruhani anak kami...
Alhamdulillah...dengan tangisan air mata saya dan istri..pada hari ini Allah takdirkan anak kami menjadi bagian dari Pesantren Gontor....
Semoga langkah anak kami dalam menimba ilmu di Gontor selalu istiqomah...Aamiin..

2 Juni 2021
Mungkin gambar satu orang atau lebih dan teks yang menyatakan '.esSchoo Gontor PR1M GO School Alhamdulillah... Jazaakumullah khairan. Berkat doa dan Support handai tolan GON semua, ananda kami tercinta MODE Muhammad Umar Rasyad MA dinyatakan lulus dan resmi menjadi santri GONTOR. Semoga Ananda kami diberi Allah Swt kekuatan dan kemampuan bertahan belajar GONTOR hingga jadi alumni yang bermanfaat bagi umat... PRIMAGOSchool Aamiin Allahumma Aamiin PRIMAGOschool.com PRIMAGO Channel'