Minggu, 28 November 2021

"BENARKAH BUNG KARNO MEMBUAT WASIAT AGAR MINTA DISHOLATKAN JENAZAHNYA OLEH HAMKA ?"

 Oleh : Iwan Mahmud Al-Fattah

Saya beberapa kali ditanya tentang hal ini. Namun berkali-kali belum bisa memberi jawaban secara tegas, sekalipun di internet sudah banyak tersebar dengan bahasa dan tulisan yang sama , tetap saja saya tidak berani memberikan jawaban pasti selama belum ada referensi tertulis dan saksi mata apalagi ini peristiwa penting tentang sejarah 2 tokoh besar yang dahulunya pernah bersahabat akrab. Idealnya agar situs-situs besar tersebut tidak dicap mengarang atau hoax, ditulislah referensi buku yang kompeten atau nara sumber yang memang konsen dibidang sejarah, karena boleh jadi awalnya isinya benar tapi karena sumber penulisan tidak ada, nilai tulisannya pun menjadi awang awang. Sedangkan dari fihak keluarga Bung Karno melalui buku juga belum saya dapati, mungkin juga ada, tapi sepertinya buku yang saya maksud agak ngeri ngeri sedap harganya...
Setelah berkutat dan diskusi dengan beberapa teman mengenai hal satu ini, tiba-tiba ada yang mengingatkan, "Kenapa antum gak tanya langsung ke anaknya Hamka ?" Lha...iya ya kata saya, kenapa gak kepikiran kesana ? Tapi saya kan gak punya koneksi kesana... Tiba-tiba saya ingat, lho bukannya buku saya tentang Hamka ada sekitar 5 ? Kok bisa lupa...?
Akhirnya setelah saya pulang dari kegiatan pekerjaan, saya segera mencari di lemari buku, Alhamdulilah...ketemulah buku sejarah HAMKA. Besoknya saat saya sholat disalah satu ruangan teman saya juga secara tidak sengaja lihat buku novel biografi sejarah Hamka, ah pucuk dicinta ulampun tiba..
3 dari buku tentang Hamka saya cocokkan isinya, dan ternyata sama, HAMKA memang telah menjadi imam sholat jenazah Bung Karno. Salah satu penulis buku tersebut adalah putra Hamka yang menyaksikan pertemuan dengan utusan dari istana dan menag saat itu terutama tentang kaitannya dengan wasiat Bung Karno.
Kronologis singkatnya adalah:
Tanggal 21 Juni 1970, setelah sholat Isya di Masjid Al Azhar dimana saat sesudah sholat semua diam karena melihat beliau diam tenang, padahal sebelumnya jamaah masjid ramai membicarakan Bung Karno dan jamaah juga yakin bahwa Hamka pasti sudah mendengar bahwa Bung Karno hari itu sudah wafat...namun semua mendadak senyap...ketika beliau masuk masjid sampai kemudian kembali pulang secara buru buru karena telah mendapat pesan dari istrinya Siti Raham kalau dirumahnya sudah ada tamu penting.
2 tamu penting yang datang itu adalah Mayor Jendral Soeryo Asisten Pribadi Presiden Soeharto dan Drs. Kafrawi Ridwan dari utusan Menag KH Muhammad Dahlan.
Kedatangan dua orang itu menyampaikan pesan Presiden Soeharto dan Menag agar Hamka bersedia memimpin Sholat Jenazah Bung Karno...Hamka tidak langsung menjawab, namun merenung sejenak, mungkin karena perasaannya berkecamuk...semua orang tahu bahwa dulu dia pernah dizolimi Bung Karno...Namun karena HAMKA bukanlah tipe pendendam akhirnya dia bersedia menjadi imam sholat jenazah bung karno...
Mereka bertiga kemudian ke wisma Yaso (kini menjadi museum satria mandala). Saat itu wisma Yaso dijaga sangat super ketat oleh Polisi dan Tentara. Sedangkan diluaran masyarakat sudah membludak.
Setelah sampai diruang dimana jenazah Bung Karno Hamka pun tercenung dan tercekat... Hamka kemudian menangis haru melihat jenazah Bung Karno sehingga membuat yang lain merasa keheranan...suasana saat itu sangat syahdu diringi tangisan histeris beberapa orang wanita...keheranan akan sikap Hamka karena mereka tahu bagaimana perlakuan Bung Karno terhadap dirinya sampai dipenjara tanpa diadili. Ada yang membisiki kenapa Hamka mau menyolati orang yang munafik...Namun Hamka hanya menyikapinya dengan senyum santun dan mengatakan bahwa dia yakin dan berbaik sangka Allah akan mengampuni Bung Karno atas kesalahan dan dosanya, kita tidak boleh mencap atau memvonis seseorang sebagai munafik karena kita tidak tahu ketentuan Allah...ujar Hamka...
Suasana masih penuh duka dan setelah bertahlil dan berdoa yang dipimpin oleh KH Muhammad Dahlan, sholat jenazah pun kemudian dipimpin Hamka dengan rasa haru...
Pertanyaan terbesar yang selalu menghantui HAMKA adalah, kenapa dirinya yang dikehendaki Jenderal Soeharto dan KH Muhammad Dahlan menjadi imam sholat jenazah Bung Karno ? Kenapa bukan ulama-ulama lain yang menurutnya lebih layak.
Jawaban tersebut diperolehnya saat 3 bulan setelah wafatnya Bung Karno, saat itu Hamka bertemu kembali dengan Mayor Jendral Soeryo. Menurut Mayjen Soeryo, dipilihnya Hamka menjadi imam sholat jenazah karena memang ada wasiat yang diberikan keluarga Bung Karno saat beliau mengalami masa-masa kritis, agar jika kelak wafat, jenazahnya disholatkan HAMKA. Wasiat itu memang singkat, namun bermakna dalam bagi Hamka...
Bagi saya dengan apa yang terlontar dari wasiat Bung Karno sepertinya Insya Allah dia sudah melakukan pertaubatan di akhir-akhir kehidupannya, sehingga beliau masih sempat memberi wasiat kepada sahabat di masa mudanya dulu itu, bahkan saat itu banyak yang menyaksikan jenazah Bung Karno seperti sedang tidur saja...wasiat terakhir Bung Karno seperti memperkuat kesaksian dokter pribadinya yaitu dr. Soeharto bahwa Soekarno setelah tidak menjadi Presiden telah berjanji kepada salah satu guru spritualnya, yaitu Syekh Abdurrahim (Sang Sufi Mastur dari Banten dan pernah menetap di daerah Petojo Selatan Jakarta Pusat) akan bertaubat sambil menangis..
Bung Karno meminta kepada salah satu keluarganya agar menyampaikan pesan wasiat terakhir itu kepada Presiden Suharto di istana. Dari wasiat tersebut itulah akhirnya Jenderal Soeharto memenuhi keinginan terakhir Bung Karno, mungkin pula "luluhnya" hati Jenderal Soeharto untuk memenuhi wasiat singkat dan terakhir itu setelah mendapat masukan dari KH Muhammad Dahlan agar Presiden RI ke 2 itu memenuhi wasiat terakhir Bung Karno...
Wallahu A'lam bisshowwab...
Koreksi: di internet yang tersebar, pertemuan HAMKA, Mayjen Soeryo dan Drs. Kafrawi Ridwan tertanggal 16 Juni 1970, padahal harusnya tanggal 21 Juni 1970..
Daftar Pustaka
Irfan Hamka, Ayah, Kisah Buya Hamka, Masa Muda, Dewas, Menjadi Ulama, Sastrawan, Politisi, Kepala Rumah Tangga, Sampai Ajal Menjemputnya (Jakarta: Republika, 2014)
Yanuardi Syukur & Arlen Ara Guci (Solo: Tinta Medina, 2017)
Haidar Musyafa, Hamka Novel Biografi (Bandung: Mizan, 2018)
Mungkin gambar satu orang atau lebih dan orang berdiri