Sabtu, 11 Februari 2023

PERJALANAN SOLO RELIGI KE BUMI PARA WALI

 Melelahkan tapi membahagiakan...

Sebuah perjalanan religi sarat penuh makna dimana didalamnya terkandung nilai-nilai sejarah dan nilai-nilai peradaban Islam...
Secara teori mungkin perjalanan ini meragukan bahkan tidak mungkin terjadi apalagi dengan kondisi fisik yang sudah 4 bulan ini sulit untuk berdiri lama serta berjalan pun harus tertatih tatih, jangankan 50 meter, kadang 20 meter saja saya harus berhenti lama untuk menghilangkan sakit di kaki, namun dengan kehendak dan izin Allah semua bisa dilakukan...
Banyak fihak yang meragukan kalau saya bisa berjalan seorang diri bahkan keluarga pun melarang keras agar saya tidak berangkat ketika melihat kondisi saya karena rasa cinta dan sayang mereka kepada saya. Namun saya meyakinkan kepada mereka jika perjalanan ini adalah perjalanan religi dan sudah lama saya niatkan demi sejarah Islam, tekad saya sudah betul-betul bulat untuk berangkat. Insya Allah pasti akan Allah beri jalan yang terbaik...perjalanan ini juga napak tilas khususnya terhadap sosok Raden Fattah Pendiri Pertama Kesultanan Islam di Pulau Jawa.
Sejak dulu, saya memang senang melakukan perjalanan seorang diri, entah kenapa...mungkin dengan cara seperti itu saya bisa lebih bebas untuk bergerak kesana sini, dan pakaian khas yang saya gunakan semua serba hitam, kecuali peci.
Perjalanan solo yang saya lakukan dimulai tanggal 22 Desember dan berakhir tanggal 26 desember. Sebuah perjalan singkat. Perjalanan ini walaupun singkat namun saya lakukan secara maraton, sehingga waktu istirahat pun terbilang singkat. Tidak heran saya pun mengalami kelelahan luar biasa apalagi saya juga harus menggendong tas ransel yang didalamnya terdapat bekal dan pakaian salin. Sebagian makam makam yang saya datangi, ada yang saya lakukan dengan jalan kaki belum lagi naik motor ojek yang durasinya cukup lama serta guncangan² karena beberapa jalan yang rusak. Namun itu tadi dengan izin Allah semua bisa saya lewati. Bila ingat saat saya masih kuat²nya mendaki gunung, rasa²nya semua rute ingin saya lakukan dengan jalan kaki, namun karena kondisi saya lebih memilih naik mobil angkot atapun ojek.
Perjalanan ini dimulai dari Gresik, Surabaya, Madura, Lamongan, Tuban, Kudus, Muria, dan akhirnya berakhir malam ini di Masjid Agung Demak. Kebetulan tadi menjelang Magrib tadi Demak diguyur hujan deras.
Di masjid demak dan makam Sultan Abdul Fattah Sayyidin Panatogomo atau Raden Fattah inilah saya banyak melakukan perenungan..sempat saya mendadak menangis haru, karena melihat jamaah yang begitu membludaknya mendoakan beliau dan juga anak kerabatnya...saya juga merasa nyaman di masjid bersejarah ini apalagi sekitar masjid diberi pengharum melati...
Di Masjid Demak jam 2 dini tadi saya juga melakukan renungan sejarah akan jasa Kesultanan Demak dan Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara..
Pada akhirnya perjalanan singkat ini Insya Allah nanti akan saya tuliskan secara berkala...mohon maaf kepada beberapa sahabat saya yang berada di kota² dekat makam² para wali karena saya tidak memberitahu....Insya Allah silaturahim kita tetap berjalan...

(Perjalanan mulai tanggal 22 s/d 26 Desember 2022)

HASIL KAJIAN DARI PERJALANAN MAKAM WALI SONGO

Berdasarkan pengamatan saya di lapangan saat berziarah ke makam-makam walisongo, beberapa hal yang menjadi catatan penting..

1. Pemasangan ubin atau keramik baru yang rata seperti halnya keramik di rumah atau mesjid dengan hanya menyisakan nisan nisan lama, mengakibatkan makam² yang ada di sekitar para wali menjadi terinjak injak karena banyaknya peziarah yang membludak. Sebagian jamaah mungkin tidak faham kalau ubin yang dia injak atau dia langkahi adalah bagian dari makam. Seharusnya bentuk makam lama yang agak tinggi dipertahankan agar para peziarah tidak melangkah sana sini.
2. Adanya nisan-nisan baru menggantikan nisan-nisan lama itu sama saja telah menghilangkan bukti arkeologis.
3. Nisan-nisan kuno banyak yang dicat berbagai warna, apakah ini memang atas rekomendasi arkeolog atau inisiatif pengurus makam ? seharusnya jika yang berkaitan dengan benda benda bersejarah harus hati hati dalam merestorasinya.
4. Seharusnya di setiap makam² walisongo, dibuatkan sejarah singkat berupa buku yang disediakan pengurus makam, agar mereka yang mau belajar sejarah mengenai walisongo menjadi faham, seperti di museum sunan derajat yang menjual buku sejarah Sunan Derajat. Sudah saatnya pusat² ziarah walisongo juga menjadi pusat ilmu pengetahuan sejarah. Perpustakaan dan Museum sudah saatnya harus diadakan.
5. Beberapa masjid sangat akomodatif dengan memberikan keluasaan untuk para peziarah menginap tidur terutama pada teras² masjid. Ini membuktikan bahwa pengurus masjid dan makam sangat memahami kondisi peziarah yang kelelahan dan juga tidak sanggup untuk membayar penginapan. Jangan sampai nantinya masjid menjadi seperti museum di malam hari dengan dikunci karena dilarangnya orang untuk berisitirahat (paling tidak teras masjid). Soal peziarah yang tidak disiplin itu bisa diingatkan nantinya oleh pengurus secara berkala.
6. Beberapa masjid dekat makam, sebaiknya saat saat sholat malam sekitar jam 02.30 s/d subuh dibuka agar para peziarah bisa iktikaf. Lebih baik masjid diramaikan ketimbang sepi.
7. Kesadaran sebagian peziarah soal sampah masih kurang, terbukti dengan banyaknya sampah bertebaran di sekitar makam dan masjid. Padahal pengurus makam dan pengurus masjid sudah sering menghimbau.
8. Penulisan silsilah walisongo yang ditulis di sekitar makam, paling tidak telah membantu pengetahuan peziarah akan sosok yang dimakamkan.
9. Boleh juga pengurus makam atau pengurus masjid makam menyediakan alat alat kesehatan seperti kursi roda agar jamaah yang tidak sanggup berjalan bisa terbantukan. Ruang khusus untuk kesehatan sepertinya memang harus ada mengingat para peziarah jumlahnya ribuan dan kadang ada saja yang sakit atau pingsan karena kelelahan. Sudah saatnya memang hal hal seperti ini dipikirkan oleh para pengurus makam.
10. Fasilitas untuk MCK sangat memadai dan memuaskan, ini menandakan jika para pengurus makam mengerti akan kondisi para peziarah...

SITI FATIMAH BINTI MAIMUN MUSLIMAH "TERTUA" DI INDONESIA DI TENGAH KESUNYIAN

Memasuki wilayah bersejarah ini seolah saya memasuki lorong waktu...suasana kekunoannya terasa sekali. Suana lain yang sangat terasa adalah sunyi...

Sejak masih SD-SMP dan SMA dulu, sosok ini sudah saya kenal melalui pelajaran sejarah dan agama Islam. Selalu yang saya ingat bahwa bukti awal adanya Islam di pulau Jawa bahkan Indonesia adalah adanya makam Siti Fatimah binti Maimun di Desa Leran Gresik Jawa Timur.

Saya sendiri memang udah lama berniat untuk mendatangi makam bersejarah ini. Saya membayangkan jika komplek pemakaman seperti komplek makam walisongo yang selalu ramai. Namun di makam beliau ini kebetulan saya suasana yang sepi dan sunyi.

Berdasarkan bukti arkeologis berupan nisan yang ditemukan di makam beliau tertera angka yang bila dikonversi ke tahun masehi menjadi tahun 1082 M.

Makam yang berada di desa Leran ini merupakan salah satu obyek wisata religi di Gresik Jawa Timur. Ketimbang nama beliau (SITI FATIMAH BINTI MAIMUN) obyek wisata religi lebih dikenal dengan nama makam panjang, karena beberapa makam di sekitar beliau bentuknya panjang (sekitar 10 meteran).

Sejarah tentang Siti Fatimah binti Maimun bin Hibatullah sudah banyak yang membahasnya. Para ahli sejarah bersepakat bahwa berdasarkan hasil penelitian tulisan di makam beliau yang dilakukan pakar sejarah dan juga ahli peneliti tulisan nisan, beliau ini adalah muslimah tertua di Indonesia.

Banyak pula yang meyakini sosok ini adalah Dzuriah Rasulullah SAW tertua di pulau Jawa sebelum datangnya walisongo.

Saat saya tiba, tidak banyak informasi yang saya peroleh. Suasana makam juga tidak seperti makam makam walisongo yang banyak peziarahnya. Ini mungkin karena infrastrukturnya belum memadai. Jika ingin berziarah rombongan, maka lahan parkir bus sebenarnya ada. Hanya saja mungkin dibandingkan makam² walisongo yang ada di gresik sangat jauh berbeda. Juru kunci makam juga seorang nenek tua yang kemudian mempersilahkan saya memasuki komplek makam..

Saat saya masuk ke komplek mulai terlihat nuansa nuansa kekunoan, terutama bangunan khas makam Siti fatimah binti maimun. Selain itu nampak beberapa makam panjang yang sudah berlumut yang nisannya diberi kain putih...

Saat saya memasuki bangunan makam, saya harus menunduk karena pintu masuk hanya satu meter...di dalam makam saya kemudian berdoa dan melakukan renungan sejarah kepada wanita pendakwah awal di pulau Jawa ini..suasana makam kedap suara, benar benar sunyi senyap apalagi saya hanya sendiri saja...

Setelah selesai saya kemudian keluar dan kemudian mengambil banyak gambar. Saat itu tiba tiba cuaca mulai gelap. Saya merasa was was karena khawatir tidak bisa mendapatkan foto secara maksimal...dalam hati saya berdoa, Ya Allah mohon lancarkan ini semua...dan Alhamdulillah setelah selesai pengambilan gambar hujan turun dengan derasnya...

Selesai hujan, saya berangkat kembali dengan ojek, ditengah perjalanan saya melihat tulisan SITUS MASJID MAULANA MALIK IBRAHIM...ah saya baru ingat akan situs ini...sayangnya saya tidak bisa ke tempat ini, mengingat tempat tempat lain sudah saya plot terlebih dahulu untuk didatangi untuk pendataan. Waktu juga terus berjalan...

Siti fatimah binti maimun jelas bukti sejarah yang otentik, sayang bagi anda yang sudah menziarahi walisongo tapi tidak menziarahi beliau yang notabenenya adalah makam yang lebih tua. Jika ada waktu dan biaya, datanglah kesana untuk mengenang sosok generasi awal Islam di Nusantara ini. Ibaratnya, yang muda saja disambangi yang tua pun harus lebih disambangi..



Semua tanggapan:
Mashel Yuri, Idham Betawi Ora Al-Gopaniah dan 60 lainnya

SUNAN KUDUS, SALAH SATU BENANG MERAH HUBUNGAN SEJARAH PALEMBANG DAN JAWA

 Safari ziarah satu minggu yang lalu salah satunya adalah dengan berzarah Ke Sunan Kudus (Sayyid Jakfar Shodiq) bin Raden Usman Haji (Sunan Ngudung) bin Sayyid Fadhol Ali Murtadho (Raden Santri Gresik) bin Maulana Ibrahim Zaenuddin Asmoroqondi bin Maulana Husein Jamaluddin Al Akbar/Syekh Jumadil Kubro Wajo bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Amirkhan bin Al Imam Abdul Malik Al Azmatkhan bin Al Imam Alwi Ammul Faqih bin Al Imam Muhammad Shohib Mirbat..dan seterusnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Sunan Kudus adalah satu diantara dari banyak wali yang dianggap sangat berpengaruh di pulau Jawa. Dari beliau nanti akan banyak menurunkan ulama ulama besar. Dakwahnya yang kultural dan sufistik banyak membawa pengaruh besar pada masyarakat Jawa, terutama mereka yang berada di Kudus.
Sunan Kudus salah satu ulama yang dekat hubungannya dengan Raden Fattah. Begitu dekatnya, keturunan beliau ada yang berbesanan dengan Pendiri Kesultanan Islam Pertama di Pulau Jawa itu. Kedekatan antara keluarga Kesultanan Demak dan Kudus terus berlanjut, bahkan pada tahun 1546 M, 24 Keluarga Bangsawan Kesultanan demak melakukan hijrah menuju Palembang, dan beberapa anak Sunan Kudus juga hijrah ke Palembang untulk berdakwah bersama dengan Keluarga Sultan Trenggono, Keluarga Arya Penangsang, Keluarga Fattahillah dan juga keluarga lainnya.
Di wilayah Sumatra Selatan salah satu anak beliau yaitu Amir Qodhi atau Kemas Syahid atau Pangeran Ogan Komering bersama Tuan Umar Baginda Sari/Saleh bin Fattahillah, Arya Penangsang bin Pangeran Sekar bin Raden Fattah melakukan dakwah Islamiah di pesisir Sungai Ogan, Komering dan sekitarnya, tidak lupa mereka juga masuk ke wilayah pedalaman sehingga tidaklah mengherankan jika wilayah Sumsel, khususnya Palembang, Ogan, Komering, Lahat, dll, Islamnya sangat kuat. Di beberapa wilayah pesisir dan pedalaman wajah keislamannya sampai saat ini masih terus terjaga.
Sampai saat ini tongkat estafet dakwah masih terus dilanjutkan oleh para keturunannya baik itu yang berada di Madura, Jawa maupun Palembang dan beberapa daerah lainnya. Bahkan sampai hari ini para keturunan Sunan Kudus, Fattahillah dan Raden Fattah masih terus menjalin tali silaturahim guna melestarikan sejarah.
Bagi saya sosok beliau adalah panutan, sosoknya komplit secara keilmuan, juga berkarisma di mata rakyat maupun penguasa pada saat itu. Tidak heran jika sampai saat ini makamnya masih terus diziarahi..


Semua tanggapan:
Mashel Yuri, Rifky Darul Farah dan 49 lainnya