Senin, 23 Februari 2015

TRILOGI PERTEMPURAN KESULTANAN DEMAK (KEKHILAFAHAN ISLAM PERTAMA DI JAWA) & DENGAN PORTUGIS - "PERANG SABIL DI ASIA TENGGARA"

1. Pertempuran pertama ditahun 1513 M di Malaka dibawah pimpinan Pati Unus II dan Fattahillah yang berakhir dengan kekalahan Kesultanan Demak, dikarenakan lemahnya peralatan tempur yang tidak seimbang, namun perlawanan tetap berlangsung dengan sengit, heroik dan didasari semangat jihad fisabilllah, ini dikarenakan Portugis datang ke Malaka disertai pembunuhan kepada para ulama dan hafiz qur'an, Masjid-masjid dibakar, perpustakaan dibakar (mirip dengan sapu bersih Andalusia dan tragedi runtuhnya dinasti abbasiah di Irak oleh Mongol), Portugis benar-benar melakukan pembersihan dan pembunuhan massal kepada penduduk Malaka, sehingga Malaka benar-benar menjadi ladang pembantaian dan mengerikan bagi pendatang luar, dan inilah yang membuat alasan Kesultanan Demak menggempur mereka. Jadi sangat tidak benar jika ada yang mengatakan karena faktor ekonomi semata.  Pada masa itu Malaka, Pasai dan Demak adalah tiga kekuatan Islam yang sangat berpengaruh dan diwaspadai oleh kalangan penjajah kafir. Malaka adalah jalur penting bagi perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara. Disamping itu wilayah ini merupakan basis kekuatan Islam yang cukup besar pada masa itu. Malaka juga merupakan pusat peradaban Islam bersama dengan Kesultanan Pasai dan Demak. Dan yang perlu diketahui bahwa Malaka, Pasai dan Demak  banyak dihuni keluarga besar Azmatkhan Al Husaini, salah satu Klan dari Dzurriyah Rasulullah SAW yang hijrah dari Hadramaut, India hingga sampai ke Asia Tenggara, dan mereka  inilah yang nantinya sangat dibenci oleh penjajah, karena dari merekalah banyak perlawanan digelorakan. Dengan menghancurkan dan memusnahkan Dzurriyah Keturunan Rasulullah SAW yang ada dinegeri Malaka, Pasai, Demak dan negeri lain, maka akan memudahkan Portugis menjajah dan menyebarkan misi mereka yang utama, penyebaran akidah yang mereka anut. Semua hubungan sejarah, hubungan dengan ulama, hubungan dengan Dzurriyah Rasulullah SAW diputus dan dilenyapkan dari catatan bangsa Nusantara. Penjajah Portugis tidak akan pernah rela jika Sejarah Nusantara yang pernah jaya akan khilafah Islamiahnya muncul dan diketahui oleh masyarakat bangsa ini. Kelak tugas pelenyapan sejarah mujahidin nusantara ini dilanjutkan oleh Inggris, Belanda, Perancis yang melibatkan penghianat-penghianat yang tidak sudi Islam berjaya di Asia Tenggara.

2. Pertempuran kedua juga terjadi di Malaka tahun 1521 M dibawah pimpinan Pati Unus II (Raden Abdul Qodir bin Raden Muhammad Yunus Al Mukhrawi Azmatkhan) dan Fattahillah/Wong Agung Pasai/Ahmad Fahutllah bin Maulana Mahdar Ibrahim Azmatkhan (Mufti Kesultanan Pasai), mereka berangkat dengan kekuatan 100.000 Pasukan gabungan Mujahidin Nusantara disertai dengan 379 kapal besar. 7 bulan pertempuran besar-besaran terjadi, Malaka benar-benar dikepung dari berbagai arah dan nyaris saja Kesultanan Demak dan Mujahidin Nusantara menang, namun pada akhirnya mereka akhirnya kalah karena adanya penghianatan dari dari oknum pasukan sendiri dengan membocorkan rute rahasia pasukan mujahidin baik yang didarat maupun dilaut, posisi Pati Unus II segera diketahui Portugis, dia jadi target utama, Portugis sangat mengetahui, jika ingin merunttuhkan moril pasukan Islam, maka habisi dulu pemimpin utamanya, karena pemimpin utama biasanya selalu didengar dan ditaati perintahnya. Setelah diketahui posisinya, Portugis kemudian membombardir keberadaan kapal Pati Unus II. Pati Unus II tertembak! kemudian kapalnyapun rusak parah dan akhirnya tenggelam, beliau dengan konsidi luka yang sangat parah, kemudian dibawa segera kepulau besar Malaka hingga akhirnya syahid (Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun), dua anaknya yang masih remaja juga ikut syahid, namun beberapa istrinya berhasil meloloskan diri secara mencekam dan dramatis ke Pulau Besar Malaka. Sedangkan Fattahillah juga berhasil meloloskan diri dari kepungan kapal-kapal Portugis, dan beliau segera menyelamatkan anggota keluarga Kesultanan Demak yang lain, dengan susah payah Fattahillah berhasil membawa sanak saudara Pati Unus II sampai ke Banten dengan jalur-jalur perairan yang belum diketahui Portugis. Dari Banten keluarga besar Kesultanan Demak betul-betul dijaga dan dihormati. Setelah beberapa lama mereka akhirnya kembali ke Kesultanan Demak. Kesultanan Demak tentu sangat berduka dengan kekalahan ini, Sunan Gunung Jati  dan keluarga besar Majelis Dakwah Walisongo juga sangat merasakan duka yang mendalam atas kekalahan ini apalagi mereka kehilangan putra terbaik bangsanya, mereka tidak menyangka jika Kesultanan Demak dan pasukan Mujahidin Nusantara bisa kalah perang hanya karena adanya penghianatan dari bangsa sendiri, padahal kekuatan yang dibawa mereka cukup menggetarkan Portugis. Tapi itulah kenyataannya, Pasukan Islam Kesultanan Demak dan Mujahidin Nusantara kalah tragis karena kelicikan Kaum Munafik di tubuh pasukannya sendiri. Pati Unus II akhirnya dimakamkan di Pulau Besar Malaka disebuah tempat yang dirahasiakan. Ini dilakukan agar keberadaan makam beliau tidak dihancurkan Portugis yang ingin selalu memutus mata rantai hubungan tokoh Islam dengan masyarakatnya. Dan makam adalah salah satu penghubung itu semua. Portugis tahu bahwa keberadaan makam mempunyai arti yang penting bagi bangsa ini, terutama dalam inspirasi perjuangan.

3. Pertempuran ketiga terjadi di Sunda Kelapa, ditahun 1526 - 1527. Berangkat dengan kekuatan penuh pada tanggal 12 Rabiul Awal 933 Hijriah, sebelumnya untuk meningkatkan moril pasukan mujahidin, maka Kesultanan Demak mengadakan MAULID NABI MUHAMMAD SAW SECARA BESAR-BESARAN dan malam tanggal 12  rabiul awal ini kemudian berangkat hingga sampai di Sunda Kelapa akhir Rabiul Awal atau tepatnya tanggal 29 Rabiul Awal 933 H, kekuatan kemudian dibagi beberapa sektor, ada yang di Marunda, Pulau Seribu dan di pelabuhan Pasar Ikan yang sekarang. Sekalipun kekuatan Kesultanan Demak tidak besar, namun karena semua ini didasari semangat jihad yang membara, maka semua berangkat sudah dalam kondisi siap sedia, pasukan juga dipilih dari orang-orang terbaik dan terlatih, dapat dikatakan Fattahillah kali ini membawa pasukan khusus. Kali ini pemimpin pasukan dilapangan adalah Fattahillah, dibantu juga dengan beberapa Mujahidin dari Nusantara, Operasi Komando tertinggi dipegang oleh Sultan Trenggono dari Kesultanan Demak, Dewan Penasehat dipegang oleh Majelis Dakwah Walisongo yang dipimpin Sunan Gunung Jati. Pertempuran di Sunda Kelapa terjadi sangat dashyat, kapal Portugis dipancing untuk mendekati perairan dangkal, dan begitu mendekat, Pasukan Mujahidin Nusantara langsung membombadir dengan berbagai serangan, baik darat maupun laut. Pertempuran kali ini Fattahillah tidak memberikan celah sekecil apapun  kepada Portugis, sehingga Portugis mengalami kekalahan telak di Sunda Kelapa. Pemimpin pasukan Portugis yaitu Fransisco De Sa sangat syok melihat pasukannya kalah telak apalagi salah satu kapalnya tenggelam. Pengalaman dua kali kalah tentu membuat Fattahillah tidak mau kecolongan, semua jalur rahasia disimpan rapat-rapat, jika ada penghianat maka akan langsung dihukum berat. Intinya Pulau Jawa baik yang barat dan timur tidak boleh jatuh ketangan bangsa penjajah ini, karena kalau sampai jatuh, maka sudah tentu tragedi Andalusia bisa terjadi kembali.

Sampai saat ini nama Fattahillah sangat dibenci para sejarawan Portugis karena perlawanan Fattahillah yang telah berhasil menjatuhkan dan merontokan sebuah kekuatan maritim dan militer yang terkuat di dunia pada masa itu. Disamping Fattahillah nama Pati Unus II juga sosok yang sama dibencinya oleh penjajah ini, sejarahnya dikubur habis dengan kalahnya beliau hingga dimakamkan di Malaka. Dikatakan bahwa beliau tidak punya keturunan padahal keturunan beliau ribuan yang berasal dari satu-satunya anak yang bernama Sayyid Abdullah Malaka, posisi beliau sebagai menantu Raden Fattah juga dibuat bias dengan anak Raden Fattah yang bernama Sayyid Muhammad Yunus. KIta perlu tahu bahwa nama asli beliau adalah Raden Abdul Qodir bin Raden Muhammad Yunus Al Idrus Al Mukhrawi Azmatkhan. Al Idrus disini adalah leluhur beliau dan bukan fam, Nama Ibnu Muhammad Yunus begitu melekat pada diri beliau, sehingga beliau kemudian dikenal dengan nama Pati Unus. Sedangkan anak Raden Fattah yang bernama Sayyid Muhammad Yunus juga dikenal dengan nama Pati Unus dan dimakamkan di Demak, kelak beliau ini lebih banyak berkecimpung didunia keagamaan ketimbang dunia kenegaraan dan beliau banyak mempunyai banyak keturunan. Kisah  Pati Unus II mengingatkan kita akan kisah Sayyidina Husein yang dikhianati mereka yang katanya akan membaiat dirinya di Kufah, hingga akhirnya kemudian terjadi perang Karbala. Perang yang tidak seimbang. Dalam peristiwa tersebut akhirnya telah menyelamatkan satu-satunya keturunan Sayyidina Husein yaitu Sayyidina Ali Zaenal Abidin. Kelak dari Sayyidina Ali Zaenal Abidin inilah jutaan keturunan Nabi Muhammad SAW menyebar keseluruh dunia...

Trilogi Pertempuran ini memberikan pelajaran kepada kita, bagaimanapun hebatnya sebuah kekuatan, namun kalau didalamnya banyak terjadi penghianatan-penghianatan, maka akan sangat mudah terpatahkan, namun sekalipun kekuatan itu sedikit jika didasari dengan keyakinan jihad kepada Allah maka apapun perlawanan itu, Insya Allah akan menangkan.....dan terbukti, Pertempuran hidup mati Sunda Kelapa dimenangkan oleh pasukan Mujahidin.......

Nasab Pati Unus II Raden Abdul Qodir (menantu Raden Fattah yang menikah dengan Ratu Mas Nyawa/Ratu Ayu Kencono Wati/Syarifah Jamilah)

1. Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW
2. Sayidah Fatimah Azzahra/Al Batul
3. Al Imam Husein As-Shibti/Abu Syuhada
4. Al Imam Ali Zaenal Abidin/As-Sajjad
5. Al Imam Muhammad Al Baqir
6. Al Imam Jakfar Shoddiq
7. Al Imam Ali Uraidhi
8. Al Imam Muhammad An-naqib
9. Al Imam Isa Ar-Rumi
10. Al Imam Ahmad Al Muhajir
11. Al Imam Ubaidhillah Shohibul Aradh
12. Al Imam Alwi Al Mubtakir/Al Awwal
13. Al Imam Muhammad Maula Asshouma'ah
14. Al Imam Alwi Shohib Baitu Jubair/Atsani
15. Al Imam Ali Kholi' Qosam
16. Al Imam Muhammad Shohib Mirbath
17. Al Imam Alwi Ammul Faqih
19. Al Imam Abdul Malik Azmatkhan
20. As-Sayyid Alwi Faqih Khan/Alwi Azmatkhan
21. As-Sayyid Muhammad Azmatkhan
22. As-Sayyid Yusuf Al Mukhrawi Azmatkhan 
23. As-Sayyid Syekh Abdul Wahab Al Mukhrawi 
24. As-Sayyid Syekh Muhammad Al Akbar Al Anshory Al Mukhrawi
25. As-Sayyid Syekh Abdul Muhyi Al Khairi Al Mukhrawi
26. As-Sayyid Syekh Muhammad Al Alsiy Al Mukhrawi
27. As-Sayid Syekh Abdul Kholiq Al Idrus/Syekh Kholiqul Idrus AL Mukhrawi
28. As-Sayyid Raden Muhammad Yunus Al Idrus Al Mukhrawi
29. As-Sayyid Raden Abdul Qodir Al Idrus Al Mukhrawi

Nasab Fattahillah/Sayyid Ahmad Fathullah Azmatkhan/Wong Agung Pasai :

1.Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW
2. Sayidah Fatimah Azzahra/Al Batul
3. Al Imam Husein As-Shibti/Abu Syuhada
4. Al Imam Ali Zaenal Abidin/As-Sajjad
5. Al Imam Muhammad Al Baqir
6. Al Imam Jakfar Shoddiq
7. Al Imam Ali Uraidhi
8. Al Imam Muhammad An-naqib
9. Al Imam Isa Ar-Rumi
10. Al Imam Ahmad Al Muhajir
11. Al Imam Ubaidhillah Shohibul Aradh
12. Al Imam Alwi Al Mubtakir/Al Awwal
13. Al Imam Muhammad Maula Asshouma'ah
14. Al Imam Alwi Shohib Baitu Jubair/Atsani
15. Al Imam Ali Kholi' Qosam
16. Al Imam Muhammad Shohib Mirbath
17. Al Imam Alwi Ammul Faqih
19. Al Imam Abdul Malik Azmatkhan
20. As-Sayyid Al Amir Abdullah Azmatkhan
21. As-Sayyid Sultan Ahmad Syah Jalaluddin
22. As-Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro Wajo
23. As-Sayyid Sultan Barokat Zaenal Alam
23. As-Sayyid Maulana Abdul Ghofur
24. As-Sayyid Maulana Mahdar Ibrahim Patakan 
25. As-Sayyid Ahmad Fathullah/Fattahillah

Sumber :

1. Kitab Al Fatawi, KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma, Palembang : Penerbit Al Fatawi, 1910.
2. Manaqib Raden Fattah Sang Pendobrak, Iwan Mahmud Al Fattah, Jakarta:Penerbit Ikrafa Madawis, 2015.
3. Al Mausuuah Li Ansaabi AL Imam Al Husaini, Sayyid Bahruddin Azmatkhan & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Penerbit Madawis: Vol II Edisi ke 24, 2014.