Senin, 23 Februari 2015

SYEKH ABDUL GHONI MERTAKUSUMA (WAN GANI) WALIYULLAH DARI BETAWI (1801-1933), MUFTI BETAWI SEBELUM SAYYID USMAN BIN YAHYA

Syekh Abdul Ghoni, sebuah nama yang mungkin kurang dikenal pada saat sekarang ini, khususnya bagi warga Betawi dan Jakarta, namun bagi beberapa warga Kayu Putih Utara Jakarta Timur, nama Syekh Abdul Ghoni (kadang dipanggil dengan WAN GANI) begitu melegenda dan menjadi buah bibir sampai sekarang, khususnya bagi mereka yang berusia diatas 60 atau 70 tahun. Syekh Abdul Ghoni buat beberapa orangtua di Kayu Putih adalah sosok yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di Betawi. Kisah karomah dari Syekh Abdul Ghoni sendiri begitu mahsyur dikalangan mereka.


Dalam beberapa buku tentang sejarah Betawi, khususnya yang membahas tentang ulama-ulama kenamaan Betawi, memang nama Syekh Abdul Ghoni  jarang sekali dibahas (bahkan belum saya temukan), beberapa penulis sejarah Betawi atau Jakarta kebanyakan bila berbicara tentang seluk beluk ulama, lebih banyak mereka itu memunculkan nama-nama seperti Syekh Junaid Al Batawi, Habib Usman bin Yahya, Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur, Habib Salim Jindan, Guru Marzuki, Guru Mahmud, Guru Mansur, Guru Mughni, Guru Amin, Guru Mujtaba, Guru Riun dan beberapa ulama Betawi lainnya. Saya sendiri mendapati nama Syekh Ghoni ini setelah bertemu dengan salah satu keturunan Raden Fattah yang ada di Bandung yang kemudian menerangkan kepada saya bahwa di Betawi khususnya wilayah Kayu Putih Utara ada makam seorang Ulama yang juga Waliyullah dan merupakan keturunan dari Raden Fattah dari jalur Aria Jipang/Aria Penangsang. Berbekal dari informasi serta catatan catatan yang saya peroleh dari saudara saya ini (saya memanggilnya Bang Yu), saya kemudian berusaha ketempat yang dimaksud.

Didalam catatan lama keluarga besar Bang Yu (beliau anak dari ALMARHUM BABE D.GUNAWAN MERTAKUSUMA, Budayawan Betawi dari Trah Aria Jipang Jayakarta) dikatakan bahwa SYEKH ABDUL GHONI dimakamkan di Tanah Tinggi Kayu Putih. Menurut Bang Yu, patokannya tidak jauh dari PULO MAS (Bekas pacuan kuda). Sayapun kemudian mendatangi lokasi Pulo Mas ini, namun setelah saya cari kemana-mana ternyata daerah Tanah Tinggi itu tidak ada di Pulo Mas. Justru banyak yang merasa aneh ketika saya tanya daerah Tanah Tinggi di Pulo Mas, setahu mereka Tanah Tinggi itu dekat Pasar Senen (kalau ini saya juga sudah tahu).

Kedatangan saya pertama gagal, tapi dalam hati saya, “masak kagak ketemu, percuma ane lahir dan gede gede di Betawi……lihat besok….”.
Besoknya pas hari minggu pagi, kembali saya melakukan pencarian, kali ini petunjuknya lebih kuat karena saya dibekali dengan sebuah nama Mesjid yang diberikan oleh Bang Yu, yaitu Mesjid Al Ghoni di Kayu Putih Utara. Dan memang tidak lama kemudian akhirnya lokasi makam Syekh Abdul Ghoni saya temukan.

Sayangnya sesepuh dari keluarga Syekh Ghoni tidak bisa ditemui karena menurut beberapa ibu-ibu disana, biasanya sesepuh tersebut sedang berzikir dipagi hari sampai menjelang zuhur. Otomatis Kedatangan saya yang kedua ini gagal lagi. Tapi saya masih penasaran, masak sih saya gak bisa ketemu sesepuh dari keluarga SyekH Ghoni. Dan akhirnya di Kedatangan ketiga  saya bersama dengan Irfan “Pitung” Azmatkhan dan Mas “Angon” Azmatkhan, kembali saya dan kedua rekan ini mendatangi makam Syekh Abdul Ghoni untuk berziarah, silaturahim dan meneliti keberadaan makam Waliyullah yang satu ini.

Kedatangan kami tidak sia-sia. Kami akhirnya bertemu dengan salah satu anak dari sesepuh tersebut. Kedatangan kami disambut Ustadz Abdurrozak yang merupakan anak dari Sesepuh yang bernama KH MURTADHO. Setelah bertemu kami mengutarakan maksud kedatangan kami kemakam Syekh Abdul Ghoni. Setelah bicara sepatah dua patah kata, kamipun berziarah, setelah berziarah kami mulai mengadakan wawancara dengan Ustadz Abdurrozak ini, tidak lama kemudian Asar tiba. Setelah sholat berjamaah, kami akhirnya dipertemukan oleh KH Murtadho. KH Murtadho ternyata usianya sangat sepuh. Beliau berusia 89 tahun. Namun yang membuat saya salut, beliau ini masih sehat dan segar bugar, hanya mata dan kupingnya saja yang mulai kurang tajam. Namun demikian secara lancar KH Murtadho mampu menceritakan tentang sosok Syekh Abdul Ghoni kepada kami. KH Murtadho ini ternyata anak bungsu dari SYEKH ABDUL GHONI yang lahir ditahun 1925. KH Murtadho ini ternyata muridnya Mualim Abdul Hadi dari Cipinang Cibembem Jakarta Timur, KH Murtadho ini murid paling lama Mualim Abdul Hadi, karena dia belajar sejak tahun 1938, sampai mualim Abdul Hadi wafat. kH Murtadho juga belajar kepada Habib Ali Bungur dan beberapa kyai di Betawi. Dari cerita KH Murtadho, inilah hasilnya..

Syekh Abdul Ghoni menurut KH Murtadho lahir tahun 1801 dan wafat pada tahun 1933. Usia beliau cukup panjang. Pada tahun 1818 Syekh Abdul Ghoni membangun mesjid. Sebelumnya nama daerah ini adalah TANAH TINGGI (nama sebelum Pulo Mas) dan lokasi ini adalah tempat kediaman DATUK KIDAM yang juga merupakan ulama besar Betawi dan Mujahidin Jayakarta pada Masa itu. Datuk Kidam sendiri adalah kakek dari Syekh Abdul Ghoni. Datuk Kidam dalam catatan sejarah keluarga besar Aria Jipang di Jayakarta telah membuat Pondok Pesantren di Tanah Tinggi itu. Bisa dikatakan Datuk Kidam ini adalah pelopor pendirian Pesantren di Jayakarta atau Jakarta ini. Usaha Datuk Kidam inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Syekh Abdul Ghoni dengan mendirikan Masjid dan melanjutkan Kegiatan Pesantren dan Dakwah di tanah tinggi. Pada masa Syekh Abdul Ghoni Masjid dibuat dengan gaya lama (dibuat dengan kayu dan berbentuk Panggung), Syekh Abdul Ghoni sendiri disamping sebagai seorang pengajar, pendakwah beliau juga seorang Waliyullah. Beliau ini dahulunya adalah Mufti Betawi sebelum digantikan Sayyid Usman Bin Yahya pada tahun 1862 Masehi. Beliau terkenal sebagai sosok yang tawadhu dan selalu menjaga Wudhu serta kuat berpuasa, beliau juga jarang berbicara kalau tidak terlalu penting, apalagi jika itu bukan urusan agama, makanan beliau sangat sedikit sekali, paling kalau makan tiga atau lima sendok sudah cukup. Perkataan beliau juga selalu dijaga, makanan beliau juga tidak sembarangan.

Menurut KH Murtadho beberapa karomah dan kelebihan kelebihan dari Syekh Abdul Ghoni atau Wan Ghani diantara lain :

1. Pernah beliau diundang kedaerah Klender Jakarta Timur oleh seorang Ustadz untuk menghadiri sebuah acara Maulid. Sampai disana ketika mau diadakan pembacaan maulid Azab, tiba-tiba suara yang perawi maulid tidak keluar sama sekali, suasana jadi hening, sedangkan Syekh Abdul Ghoni atau Wan Ghani terus saja menunduk tawadhu, karena si perawi tidak keluar suaranya, otomatis maulid akhirnya tidak lama acaranya, tidak lama kemudian Wan Ghani pulang kerumah. Kepulangan Wan Ghani rupanya kemudian disusul oleh fihak Klender, fihak klender rupanya menyadari kalau niat mereka (terutama Ustadz dan sang perawi maulid tersebut) dalam rangka membaca maulid itu untuk pamer suara kepada fihak Wan Ghani. Namun Wan Ghani rupanya mengetahui didalam hatinya. fihak Klender itu akhirnya minta maaf kepada Wan Ghani, sedangkan Wan Ghani sendiri sudah memaafkan lebih awal. Wan Ghani akhirnya memberikan air putih digelas untuk diminum si perawi maulid tersebut, tidak lama minum air tersebut suara sang perawi kembali normal.

2. Pada suatu saat ada seorang perampok memasuki rumah Wan Ghani, ternyata sampai didalam rumah Wan Ghani, Perampok itu melihat lautan luas, sehingga membuat Perampok itu ketakutan dan kemudian akhirnya minta maaf kepada Wan Ghani.

3. Wan Ghani adalah orang yang tidak suka rumahnya dicat dengan warna apapun, alasan beliau jika rumahnya dicat maka malaikat tidak akan masuk.
Beliau adalah penganut Thariqoh, kebiasaan beliau sejak habis Isya sampai subuh, beliau tidak pernah tidur.

4. Tulisan tangan beliau terutama ketika menulis bahasa Arab dan menulis Al Qur’an sangat bagus dan indah, dan biasanya beliau menggunakan tulisan itu dengan bulu angsa.

5. Beliau mempunyai jubah yang merupakan warisan Datuk Kidam (kakeknya) untuk ibadah.

6.Pernah suatu saat ketika habis pulang dari Cirebon, rumahnya ada alat tanjidor, kemudian beliau mengatakan kalau alat permainan ini haram, dan tidak lama kemudian alat Tanjidor ini beliau pendam didalam tanah.

7. Wan Ghani sering dititipi uang oleh tetangganya, dan anehnya uang itu ditaruh beliau disembarang tempat, kadang di lantai (masih tanah) kadang dihalaman rumah, intinya dimana saja, anehnya uang tersebut tetap utuh, tidak ada yang berani mengambil uang titipan tersebut.

8. Pernah ada seseorang yang berani mencuri uang Wan Ghani setalen, tidak lama kemudian orang tersebut perutnya membesar (gendut). Orang tersebut akhirnya mengaku kepada Wan Ghani, kemudian Wan Ghani mengobati orang tersebut dengan cara membaca syahadat. Dengan kuasa Allah akhirnya perut orang tersebut kembali normal.

9. Suatu saat Wan Ghani membeli durian yang ditawarkan oleh seorang pedagang buah. Sang Pedagang meyakinkan Wan Ghani bahwa semua durian yang dijual itu matang, Sang Pedagang menunjukkan dua buah durian yang sangat matang dan harum. Setelah melihat dua buah durian yang sangat matang dan harum itu, akhirnya Wan Ghani memborong semua durian yang jumlahnya sekitar 30 buah itu. Semua durian itu diberikan kepada anak dan cucunya. Tidak lama diberikan ternyata beberapa anak dan cucunya protes, karena ternyata durian durian tersebut tidak matang, kecuali hanya dua buah. Wan Ghani mendapatkan laporan dari anak dan cucunya, hanya menunduk tawadhu. Tidak lama dari kejadian ini, Sang Pedagang durian ini justru selama satu minggu dagangannya tidak laku-laku. Akhirnya Sang Pedagang tersebut menyadari kesalahannya. Pedagang tersebut kemudian mendatangi Wan Ghani untuk minta maaf karena telah menipu Wan Ghani, Si Pedagang bahkan membawa 30 buah durian yang matang untuk diserahkan secara Cuma-Cuma kepada Wan Ghani. Setelah bertemu, apa yang terjadi? Wan Ghani justru ramah bahkan menasehati sang pedagang tersebut dengan kalimat yang lembut. Namun ketika beliau mau dikasih durian secara Cuma-Cuma, wan Ghani menolak, kata Wan ghoni, “udah tuh durian ente dagangin aja….” Sang Pedagang merasa terharu dan kemudian akhirnya pamit kepada Wan Ghani.

10. Pernah suatu saat dimalam hari ada pencuri yang ingin mengambil buah pisang hasil tanaman Wan Ghani yang siap panen, buah yang matang dan besar itu sangat mengundang hasrat si pencuri tersebut. Si Pencuri sudah siap untuk memotong pisang tersebut dengan goloknya. Apa yang terjadi? Si pencuri itu ternyata ketika mau memotong buah pisang itu, tiba-tiba dengan kuasa Allah seluruh tubuhnya kaku sambil mengangkat golok yang siap membabat buah pisang itu Posisi kaku seperti patung itu berlangsung dari malam sampai pagi hari, ketika akhirnya dipergoki Wan Ghani barulah Sang Pencuri itu bisa normal kembali, dan kemudian pencuri itu minta maaf kepada Wan Ghani (tentu dengan badan yang luar biasa capeknya).

11. Saat Wan Ghani pergi haji, uang milik beliau diletakan dilantai begitu saja, dan sampai beliau pulang uang itu tidak yang berani satupun mengambilnya.

12. Pernah suatu saat pasukan militer Belanda latihan tembak menembak, nah ketika lewat rumah Wan Ghani semua senjata tidak berfungsi, baik pistol ataupun meriam mereka selalu saja tidak bisa meledak, anehnya ketika lewat radius 1 km pistol dan meriam dan juga senjata-senjata lainnya baru bisa berfungsi, sampai-sampai pasukan belanda tersebut jengkel dan penasaran dengan rumah Wan Ghoni sehingga suatu saat rumah Wan Ghoni mereka geledah, hasilnya? Ya tidak ada apa-apa. Pasukan Militer Belanda benar-benar dibuat kesal, karena setiap lewat rumah Wan Ghani senjata senjata mereka selalu tidak berbunyi atau tidak berfungsi.

13. Beliau mempunyai sepasang pakaian, pakaian tersebut merupakan pakaian yang biasa dipergunakan pada waktu kegiatan penyiaran keagamaan. Model Pakaian tersebut berbentuk pakaian kodariah dengan warna kotak kotak. Usia pakaian tersebut diperkirakan sudah lebih dari 170 tahun. Kini pakaian tersebut masih tersimpan rapi oleh para ahli warisnya. Menurut Ahli warisnya Pakaian tersebut tidak boleh dipakai sembarangan karena ada hal-hal yang tidak bisa diterangkan disini.

14. Saat menjelang wafat, beliau duduk ditempat tidurnya sambil membaca kalimat tauhid, dan tidak lama kemudian beliau wafat dengan kondisi tenang. Saat menjelang wafat itu beliau berkeringat dikeningnya, dan anehnya keringat beliau ini sangat harum luar biasa. Sampai-sampai ketika jenazah Wan Ghani diperiksa dokter, Sang Dokter berkata, “Apakah wan Ghani dibaluri minyak wangi” sontak keluarga dengan tegas mengatakan, “tidak”. Sang Dokter sangat terkejut, karena baru kali ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada jenazah keringatnya harum semerbak. Sampai-sampai sang dokter menciumi wajah dan kaki wan Ghani yang harum semerbak. Keringat beliau harum, bahkan tempat beliau buang air kecilnyapun harum, hingga tempat buang air kecilnya itu ada yang mengambilnya tanpa sepengetahuan keluarganya.

15. Saat Jenazah beliau mau dimandikan banyak fihak yang berebutan untuk memandikan jenazah beliau. Dan orang yang paling beruntung dan berhasil memandikan beliau adalah HABIB ALI KWITANG yang merupakan seorang Ulama besar Betawi dan juga Nusantara. Habib Ali Kwitanglah yang memandikan Wan Ghani ini, yang lain karena menghormati Habib Ali hanya menyaksikan saja. Setelah beliau dimandikan dan dikafani jenazah beliau disholatkan, kemudian jenazah beliau ini diperebutkan oleh ribuan orang untuk diantarkan kemakam, dan anehnya jenazah beliau tidak lagi memakai keranda, ribuan jamaah ingin sekali memegang jenazah beliau ini. Beliau akhirnya dimakamkan di Tanah Tinggi (pulo mas Jakarta Timur).

Sayangnya makam Syekh Abdul Ghoni dan juga makam-makam para leluhurnya, akhirnya digusur oleh kepentingan penguasa (saat itu zamannya Ali Sadikin). Pada tahun 1972 Makam Syekh Abdul Ghoni, Datuk Kidam dan juga masjid Al Ghoni digusur oleh rezim saat itu. Semua penduduk asli tanah tinggi “dipaksa” untuk pindah kedaerah Kayu Putih Utara yang saat itu masih merupakan rawa-rawa. Penduduk Asli Tanah Tinggi yang banyak keturunan Aria Jipang harus pindah kelokasi yang baru, bahkan dari mereka akhirnya banyak yang pindah ke bekasi daerah pejuang. Tanah Tinggi yang dulunya merupakan NEGERI DONGENG KARENA KEINDAHAN ALAMNYA DAN KEHIDUPAN YANG MAKMUR, SEJARAHNYA SECARA TRAGIS KINI TINGGAL KENANGAN. Dengan terpaksa karena daerah Tanah Tinggi sudah digusur dan kemudian daerah ini dijadikan arena pacuan kuda pulo mas, nama Tanah Tinggi lenyap, dan kemudian berganti menjadi PULO MAS. Makam-makam para pahlawan Islam juga digusur, namun ada kejadian yang aneh, setiap alat berat mau menggusur makam-makam tersebut selalu saja tidak berhasil. Akhirnya atas kesepakatan keluarga besar, makam Syekh Abdul Ghoni dan makam-makam Pahlawan Islam lainnya dipindah kekayu putih utara. Dengan diawali dengan doa-doa makam semua makam digali kembali untuk kemudian dipindahkan kelokasi yang baru. Dilokasi yang baru ini akhirnya semua jenazah para pahlawan dan waliyullah SyekH abdul ghoni dimakamkan kembali. Ditempat ini pula dibangun masjid dengan nama MASJID AL GHONI. Sampai sekarang lokasi Asli dari makam dan tempat Syekh Abdul Ghoni dan keluarganya tidak pernah berhasil dibangun apapun dan itu sudah saya lihat sendiri, tanah itu sampai sekarang masih terlantar dan tidak diurus, berapa kali tanah itu mau dibangun sesuatu selalu tidak berhasil. Tanah tersebut kini hanya ditanami pohon pisang. Beberapa ibu-ibu di Kayu Putih Utara mengatakan kepada saya mengenai keberadaan tanah itu dengan ketus, "bangun-bangun aje kalo berani, kite lihat aje tuh orang nasibnye...." sepertinya kesan kesal diwajah mereka cukup jelas, apalagi kalau mereka ingat betapa menyakitkannya pas digusur kedaerah lain, padahal daerah tersebut sudah lama mereka tempati.

Kini makam Syekh Abdul Ghoni dan makam Pahlawan Islam lainnya dengan damai bersemayam di Kayu Putih Utara, tepatnya di Masjid Al Ghoni. Kepengurusan makam keluarga besar Syekh Abdul Ghoni dan pahlawan Islam lainnya kini dipegang oleh KH Murtadho dan anaknya. Keluarga Besar Syekh Abdul ghoni sendiri akhirnya banyak menyebar ke wilayah Jabotabek. Semoga para arwah dan ulama tersebut mendapatkan rahmat dan magfiroh yang datangnya dari Allah SWT…Amin..

Sumber :

Al Mausu'uah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, Al Allamah As-Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh, Penerbit Majelis Dakwah Walisongo, Edisi ke 24 Vol II, 2014.
Wangsa Aria Jipang di Jayakarta, Ratu Bagus D.Gunawan Mertakusuma, Penerbit Agapress Jakarta, 1986.
Sejarah Kampug Ambon, Dirman Suratma, dkk, Penerbit Dinas Museum dan Sejarah Pemda DKI, 1994.
Wawancara dengan Ustadz Abdurrozak dan KH Murtadho di Masjid Al Ghoni Kayu Putih Utara Jakara Timur, Bakda Asar Tanggal 15 Juni 2014
"Wajah Syekh Abdul Ghoni (Wan Gani) dalam lukisan"