Sabtu, 11 Februari 2023

SYEKH SITI JENAR DITENGAH "KESUNYIAN"

Setelah sekian lama memendam keinginan untuk berziarah ke makam ulama yang sezaman dengan Wali Sanga (Walisongo) ini, akhirnya dengan izin Allah pada hari Sabtu tanggal 21 Januari 2023 pukul 15.45 saya bisa tiba di makam Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang.

Sempat khawatir tidak sampai karena menuju ke lokasi makam beliau hujan deras sekali...namun setelah sampai di area makam beliau, cuaca menjadi cerah dan adem....Saya bahkan merasakan "sensasi" yang berbeda ketika berada di dalam rumah makam beliau...seolah sepi senyap tanpa ada suara padahal posisi makam dekat jalan raya besar yang banyak dilewati bus bus besar antar provinsi...Salah satu pengurus makam dengan senyum mengatakan, bahwa apa yang saya rasakan juga pernah dirasakan oleh beberapa peziarah.....entah apa maksudnya..?

Dalam sejarah Islam mungkin nama Syekh Siti Jenar sarat dengan kontroversi karena beberapa ajaran tassawufnya dianggap tidak sejalan dengan Walisongo. Namun, benarkah demikian adanya ? Fakta lain yang juga tidak kalah menariknya, makam-makam atas nama dirinya tidak hanya satu..boleh jadi nama Syekh Siti Jenar lain berbeda jalur silsilah atau bisa jadi juga itu adalah petilasan beliau.

Pada masa era Walisongo metode dakwah yang dikembangkan memang banyak dipengaruhi oleh gerakan thoriqoh. Dalam beberapa literatur semua anggota Walisongo mengikuti beberapa thoriqoh. Seorang anggota Walisongo bahkan memiliki beberapa sanad thoriqoh.

Thoriqoh yang saat itu banyak dikembangkan adalah thoriqoh Syattariah yang muncul dari India, walaupun demikian akar sejarahnya tidak lepas dari salah satu tokoh besar Sufi yaitu Abu Yazid Al Busthomi. Syekh Sit Jenar sendiri selain menganut thoriqoh ini beliau juga mempunyai sanad thoriqoh lain.

Dalam strategi penyiaran Islam di Nusantara sebenarnya antara anggota Walisongo dengan Syekh Siti Jenar tidak ada friksi-friksi yang menegangkan. Justru antara beliau dengan Walisongo terjadi kolaborasi yang harmonis. Apalagi secara nasab Syekh Siti Jenar masih satu rumpun dengan Walisongo. Secara usia Syekh Siti Jenar memang lebih senior setelah eranya Sunan Ampel karena beliau diperkirakan lahir tahun 1420 M sehingga wajar jika beliau dihormati oleh Walisongo.

Adanya kontroversi tentang ajaran beliau yang dianggap sesat harus dikaji ulang, karena pada prinsipnya ajaran thoriqoh beliau dan Walisongo itu sama. Salah seorang pakar sufi Kyai Lukman dalam majalah cahaya sufi mengatakan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar sering disalahfahami, bahkan juga sering diselewengkan oleh mereka yang tidak senang dengan beliau.

Cerita cerita lain yang juga arus disikapi secara kritis, misalnya adanya pengakuan kalau beliau adalah TUHAN, cerita berubahnya beliau menjadi cacing untuk mencuri ilmu makrifatnya Sunan Giri, jasad beliau yang berubah menjadi anjing agar seolah olah tidak dikultuskan atau terjadinya hukuman pancung seolah-olah beliau seorang kriminal berat, pada puncaknya katanyq Syekh Siti Jenar tidak mewajibkan muridnya sholat.

Ini jelas pembunuhan karakter seorang Syekh Sit Jenar ! Sebagai seorang putra Ulama besar Kesultanan Malaka dan juga cucu tokoh Islam besar Malaka, sejak kecil hingga dewasanya ajaran yang diterimanya selaras dengan walisongo. Thoriqohnya juga bersanad. Jam terbangnya dalam menuntut ilmu juga luas, di kalangan tokoh² sufi thoriqoh Syattariyah yang ada di Mekkah sosok Syekh Siti Jenar bahkan dihormati karena maqom kewaliannya, walaupun beliau sendiri tidak mau diperlakukan seperti itu.

Ciri khas lain beliau yang juga bisa menepis cerita-cerita aneh tentang dirinya, beliau adalah sosok yang tidak senang akan "keramaian", beliau lebih senang berkhalwat, jauh dari hiruk pikuk keduniawian. Beliau lebih soft dalam berdakwah melalui gerakan thoriqoh atau tarekat yang mengedepankan sentuhan hati dan rasa kepada masyarakat langsung tanpa repot-repot harus "kulonuwon" kepada penguasa namun bukan berarti beliau anti apalagi selama penguasa itu memihak ke rakyat. Sedangkan Walisongo berkolaborasi dengan penguasa juga dengan niat untuk mempercepat proses Islamisasi dimana selama itu dianggap stagnan. Tidak heran dari mulai Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Maulana Ishak, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Muria berhasil masuk ke ring penguasa dan akhirnya telah membuat Islam lebih cepat menyebar ke mana mana...

Syekh Siti Jenar adalah sosok ulama yang tawadhu, jauh dari kesan arogan apalagi sampai nantang-nantang Walisongo seperti yang digambarkan dalam film dan beberapa cerita. Tidak mungkin seorang Wali seperti tingkatan beliau yang mungkin sudah mencapai taraf "selesai" melakukan hal yang merusak kewaliannya....aneh...

Saya sendiri heran darimana sebenarnya asal muasal cerita cerita aneh tentang beliau ini ?

Syekh Siti Jenar adalah Wali ditengah lingkaran wali namun dia lebih menikmati kesendiriannya untuk "bercinta" dengan Allah, sehingga sampai akhir hidup dia sudah terikat dengan lingkaran "kesunyian" sampai akhir hayatnya...jasadnya, jiwanya dan fikiran-fikirannya akan selalu "harum seperti bunga melati"

Alfatehah untuk Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang) bin Syekh Datuk Soleh Malaka bin Syekh Maulana Isa Tuwu Malaka bin Sayyid Abdul Qodir Kaelani bin Sayyid Abdullah Amirkhan bin Al Imam Abdul Malik Al Azmatkhan...



Semua tanggapan:
Mashel Yuri, Agus Ladoet dan 63 lainnya