Sabtu, 11 Februari 2023

HASIL KAJIAN DARI PERJALANAN MAKAM WALI SONGO

Berdasarkan pengamatan saya di lapangan saat berziarah ke makam-makam walisongo, beberapa hal yang menjadi catatan penting..

1. Pemasangan ubin atau keramik baru yang rata seperti halnya keramik di rumah atau mesjid dengan hanya menyisakan nisan nisan lama, mengakibatkan makam² yang ada di sekitar para wali menjadi terinjak injak karena banyaknya peziarah yang membludak. Sebagian jamaah mungkin tidak faham kalau ubin yang dia injak atau dia langkahi adalah bagian dari makam. Seharusnya bentuk makam lama yang agak tinggi dipertahankan agar para peziarah tidak melangkah sana sini.
2. Adanya nisan-nisan baru menggantikan nisan-nisan lama itu sama saja telah menghilangkan bukti arkeologis.
3. Nisan-nisan kuno banyak yang dicat berbagai warna, apakah ini memang atas rekomendasi arkeolog atau inisiatif pengurus makam ? seharusnya jika yang berkaitan dengan benda benda bersejarah harus hati hati dalam merestorasinya.
4. Seharusnya di setiap makam² walisongo, dibuatkan sejarah singkat berupa buku yang disediakan pengurus makam, agar mereka yang mau belajar sejarah mengenai walisongo menjadi faham, seperti di museum sunan derajat yang menjual buku sejarah Sunan Derajat. Sudah saatnya pusat² ziarah walisongo juga menjadi pusat ilmu pengetahuan sejarah. Perpustakaan dan Museum sudah saatnya harus diadakan.
5. Beberapa masjid sangat akomodatif dengan memberikan keluasaan untuk para peziarah menginap tidur terutama pada teras² masjid. Ini membuktikan bahwa pengurus masjid dan makam sangat memahami kondisi peziarah yang kelelahan dan juga tidak sanggup untuk membayar penginapan. Jangan sampai nantinya masjid menjadi seperti museum di malam hari dengan dikunci karena dilarangnya orang untuk berisitirahat (paling tidak teras masjid). Soal peziarah yang tidak disiplin itu bisa diingatkan nantinya oleh pengurus secara berkala.
6. Beberapa masjid dekat makam, sebaiknya saat saat sholat malam sekitar jam 02.30 s/d subuh dibuka agar para peziarah bisa iktikaf. Lebih baik masjid diramaikan ketimbang sepi.
7. Kesadaran sebagian peziarah soal sampah masih kurang, terbukti dengan banyaknya sampah bertebaran di sekitar makam dan masjid. Padahal pengurus makam dan pengurus masjid sudah sering menghimbau.
8. Penulisan silsilah walisongo yang ditulis di sekitar makam, paling tidak telah membantu pengetahuan peziarah akan sosok yang dimakamkan.
9. Boleh juga pengurus makam atau pengurus masjid makam menyediakan alat alat kesehatan seperti kursi roda agar jamaah yang tidak sanggup berjalan bisa terbantukan. Ruang khusus untuk kesehatan sepertinya memang harus ada mengingat para peziarah jumlahnya ribuan dan kadang ada saja yang sakit atau pingsan karena kelelahan. Sudah saatnya memang hal hal seperti ini dipikirkan oleh para pengurus makam.
10. Fasilitas untuk MCK sangat memadai dan memuaskan, ini menandakan jika para pengurus makam mengerti akan kondisi para peziarah...