Rabu, 26 Agustus 2026

"๐— ๐—˜๐—ก๐—˜๐—ฅ๐—œ๐— ๐—” ๐— ๐—˜๐——๐—”๐—Ÿ๐—œ ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—š๐—›๐—”๐—ฅ๐—š๐—”๐—”๐—ก ๐—•๐—˜๐—Ÿ๐—”๐—ก๐——๐—” ๐—•๐—˜๐—ก๐—ง๐—จ๐—ž ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—š๐—ž๐—›๐—œ๐—”๐—ก๐—”๐—ง๐—”๐—ก ๐—•๐—”๐—ก๐—š๐—ฆ๐—” ?" (๐—ž๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—›๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ๐—ฏ ๐—จ๐˜€๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—›๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ๐—ฏ ๐—”๐—น๐—ถ ๐—ž๐˜„๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด)


Salah satu fitnah besar yang disebarkan oleh para pembatal nasab Bani Alawi tentang kedudukan para pemuka Bani Alawi adalah cap "Pengkhianat" karena dianggap telah berkolaborasi dengan penjajah. Menurut mereka, adalah aneh dengan sikap para Habib tersebut, di saat banyak yang berjuang berdarah-darah tiba tiba ada tokoh Bani Alawi mau-maunya menerima medali penghargaan dari Belanda Kafir Harbi.
Narasi yang berkembang bahwa para Habaib yang menerima medali penghargaaan Belanda adalah pengkhianat busuk, komparador, musuh dalam selimut dan segudang cap jelek lainnya. Menurut para pembatal nasab itu, medali medali berlambang salib kayak gitu kok mau maunya diterima...
Narasi narasi liar terus bermunculan tanpa bisa dihentikan, sosok Habib Usman dan Habib Ali Kwitang yang merupakan maha guru orang² Betawi betul-betul rendah dihadapan kaum nawashib tersebut, padahal kedua tokoh tersebut hampir semua sanad keilmuan para ulama Betawi seperti Guru Marzuki Cipinang, Guru Mugni Kuningan, Guru Kholid Gondangdia Guru Madjid, Guru Mahmud Romli, dll bersambung kepada kedua habib tersebut. Para Muallim, kyai dan habib² sejabodetabek tempo dulu itu sanadnya banyak yang mengambil dari kedua ulama tersebut. Bahkan kitab² yang ditulis habib usman dan majelis habib ali kwitang banyak yang dijadikan rujukร n kaum muslimin Betawi. Habib Ali bahkan mempunyai pengaruh yang luas dalam jaringan ulama Bani Alawi se nusantara.
Memberi cap pengkhianat kepada kedua Habib tersebut secara tidak langsung telah menuduh semua tokoh yang pernah menerimanya termasuk tokoh-tokoh pribumi adalah pengkhianat juga. Ini jelas salah kaprah dan menandakan betapa rendahnya literasi yang dimiliki para penuduh tersebut.
Bila demikian apakah dengan menerima medali penghargaan Belanda berbentuk salib itu otomotis kedua habib tersebut murni kaki tangan penjajah ?
Untuk mengetahui itu semua, yuk coba kita pelajari apa itu medali yang dimaksud dan siapa saja sih yang sudah menerima medali tersebut ?
Medali yang selama ini diributkan oleh kaum nawashib itu adalah MEDALI ORDE VAN ORANJE NASSAU.
Dalam sejarahnya ​Medali Orde van Oranje-Nassau telah disahkan atau diresmikan pada tahun 1892 Masehi oleh Pemerintah Kerajaan Belanda. Dalam sistem administrasi Hindia Belanda, tanda kehormatan ini diberikan kepada individu, baik warga Belanda maupun masyarakat pribum yang dinilai memberikan kontribusi luar biasa di bidang pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan kebudayaan.
​Bentuk fisik medali ini menyerupai salib bersudut delapan (Maltese cross). Bentuk ini murni merupakan simbol heraldik (tata lambang) standar Eropa untuk tanda penghargaan tingkat ksatria (knighthood), bukan simbol misionaris atau keagamaan (catat kembali, bukan untuk kallimat terakhir ini).
​Pada era penjajah kolonial, pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan rust en orde (ketertiban dan kedamaian). Mereka memberikan penghargaan sipil ini secara rutin setiap tahun kepada pejabat sipil, bupati, pemimpin kesultanan, hingga ulama dan pimpinan organisasi Islam yang mengelola lembaga masyarakat. Bagi para ulama dan pimpinan Islam, menerima pengakuan legal-administrasi ini bermanfaat agar aktivitas dakwah, pembangunan madrasah, dan pengelolaan rumah sakit/panti asuhan dapat berjalan lancar tanpa diintimidasi oleh aparat penjajah. Oleh karena itu, penerimaan medali ini pada zamannya bukanlah indikator pengkhianatan politik maupun penyerahan akidah.
Jadi jelaslah dari penjelasan diatas, menerima penghargaan diatas tidak serta menjadikan seseorang menjadi pengkhianat. Bahkan diantara mereka mereka yang menerima ada juga yang tetap kritis terhadap pemerintah kolonial. Penghargaan tidak serta merta membuat mereka bungkam. Justru banyak dari mereka melalui organisasi masing² terus melakukan "perlawanan sunyi". Melalui jalur politik Islam itu sudah dirintis oleh organisasi Islam sampai kemudian muncul perlawanan terbuka bersenjata menjelang kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan.
Lantas siapa siapa saja ​tokoh Islam, Pahlawan Nasional, dan Ulama Penerima Orde van Oranje-Nassau yang pernah menerima medali ini.. mari kita coba baca sambil mengambil nafas dalam dalam agar lebih jernih dalam menilainya.
​1. Ulama, Mufti, dan Tokoh Keagamaan
- ​Habib Utsman bin Yahya (Mufti Batavia) – Diberikan atas kontribusinya dalam penulisan karya-karya literatur hukum Islam, pelayanan fatwa masyarakat, dan pengabdiannya sebagai penasihat keagamaan.
- ​Habib Ali al-Habsyi (Kwitang, Batavia) – Diberikan atas kontribusi sosial-kemanusiaan, pengayoman masyarakat, dan pengelolaan majelis taklim serta pendidikan Islam di Batavia.
- ​KH. Hasan Mustapa (Penghulu Besar Bandung & Kutaraja Aceh) – Diberikan atas pengabdiannya mengelola Mahkamah Syariah, pencatatan sipil Islam, serta karya-karya sastra keagamaan.
​2. Pimpinan Organisasi Keagamaan & Tokoh Pergerakan
- ​KH. Hisyam (Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah 1934–1936) – Diberikan atas jasanya memajukan dan mengelola jaringan sekolah-sekolah rakyat Muhammadiyah (HIS, Schakel School, dll.).
- ​KH. Ibrahim (Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah 1923–1932) – Diberikan atas perannya memperluas jaringan lembaga pendidikan, panti asuhan, dan layanan kesehatan Muhammadiyah di Nusantara.
- ​KH. R. Haji Djiwosewojo (Pengurus PB Muhammadiyah) – Diberikan atas pengabdian sosial-kemanusiaan dalam merintis panti asuhan dan sekolah bumiputra.
- ​KH. Mas Mansur (Tokoh Muhammadiyah & Pahlawan Nasional) – Diberikan atas kepemimpinan sosial-keagamaannya sebelum era pergerakan Empat Serangkai.
- ​H.O.S. Tjokroaminoto (Pemimpin Sarekat Islam) – Tercatat menerima apresiasi sipil pada masa awal pengorganisasian pergerakan massa Islam atas pengaruh sosialnya dalam menjaga ketertiban masyarakat.
- ​Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (Pahlawan Nasional) – Diberikan (Ridder, 1912) atas aksi heroiknya mengobati wabah penyakit pes (black death) di Malang. (Medali ini kemudian dikembalikan sebagai bentuk protes politik).
- ​Prof. Hoesein Djajadiningrat (Cendekiawan Islam & Ahli Hukum) – Diberikan atas kontribusi akademis dalam keilmuan Islam dan tata hukum peradilan agama.
- ​Prof. Dr. Mr. Soepomo (Perancang UUD 1945 & Ahli Hukum Adat-Islam) – Diberikan atas jasa-jasanya dalam penelitian hukum adat dan sistem peradilan Hindia Belanda.
​3. Ulama Birokrat / Penghulu Agung (Hoofd-Penghulu)
- ​Raden Haji Mohammad Rusdi (Hoofd-Penghulu Bandung)
- ​Raden Haji Mohammad Isa (Hoofd-Penghulu Surabaya)
- ​Kiai Haji Raden Mohammad Nawi (Hoofd-Penghulu Batavia)
- ​Raden Haji Mohammad Soleman (Hoofd-Penghulu Serang, Banten)
- ​Raden Haji Ahmad (Hoofd-Penghulu Cirebon)
- ​Haji Mohammad Said (Penghulu Kepala Makassar)
- ​Haji Mohammad Yasin (Hoofd-Penghulu Palembang)
- ​Raden Haji Mohammad Nur (Hoofd-Penghulu Garut)
​4. Pemimpin Kesultanan Islam
- ​Sultan Syarif Kasim II (Kesultanan Siak Sri Indrapura) – Di kemudian hari menyumbangkan 13 juta gulden dan kedaulatan Siak untuk Republik Indonesia.
- ​Sultan Pakubuwono X (Kesultanan Surakarta) – Penerima penghargaan sipil yang secara rahasia menyopport dana bagi organisasi pergerakan Islam dan nasionalis.
- ​Sultan Hamengkubuwono VIII (Kesultanan Yogyakarta) – Diberikan atas pembaharuan administrasi keraton dan dukungan terhadap lembaga pendidikan rakyat.
- ​Sultan Ma'moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah (Kesultanan Deli) – Diberikan atas pembangunan sarana publik, sekolah Islam, dan Masjid Raya Al-Mashun Medan.
- ​Sultan Muhammad Saifuddin (Kesultanan Pontianak)
- ​Sultan Muhammad Kaharuddin III (Kesultanan Sumbawa)
​Kesimpulan Objektif dan Historis dari adanya medali diatas adalah :
​Bukan Bukti Pengkhianatan: Penganugerahan Orde van Oranje-Nassau adalah prosedur administrasi sipil rutin kolonial untuk mengapresiasi jasa di bidang sosial, pendidikan, hukum, dan kemanusiaan.
​Diversitas Penerima: Penghargaan ini diterima oleh berbagai lapisan tokoh mulai dari ulama tradisional, pimpinan Muhammadiyah, pahlawan nasional, hingga raja-raja Islam yang kelak menyokong penuh Kemerdekaan RI 1945.
​Pemanfaatan Ruang Legal: Penerimaan penghargaan oleh para ulama memperlihatkan strategi perjuangan zamannya untuk menjaga keberlangsungan institusi Islam, masjid, dan sekolah rakyat agar tidak diganggu oleh pemerintah penjajah.
"​Sumber Pustaka dan Rujukan Ilmiah"
​Sumber-sumber berikut dapat diakses di perpustakaan nasional, arsip digital resmi, maupun publikasi akademis:
​Nationaal Archief Den Haag (Arsip Nasional Belanda)
​Kanselarij der Nederlandse Orden: Stamboek Ridderorde van Oranje-Nassau (1892–1942).
​(Arsip resmi pencatatan nama, tanggal, dan alasan penganugerahan tanda kehormatan Kerajaan Belanda di wilayah Hindia Belanda).
​Kaptein, Nico J.G. (1997). The Mufti of Batavia: Sayyid 'Uthman (1822-1914) and His Position in the Netherlands Indies. Leiden: E.J. Brill.
​Suminto, H. Aqib. (1985). Politik Islam Hindia Belanda. Jakarta: LP3ES.
​Azra, Azyumardi. (2004). Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Intrik, dan Bahan Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
​Noer, Deliar. (1973). The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900–1942. Oxford: Oxford University Press. (Membahas sejarah perkembangan Muhammadiyah, SI, dan kepemimpinan KH. Hisyam, KH. Ibrahim, serta H.O.S. Tjokroaminoto).
​Delpher Newspaper Archive (Koninklijke Bibliotheek Den Haag)
​Akses publikasi koran era kolonial (Bataviaasch Nieuwsblad dan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indiรซ) pada edisi Koninginnedag (31 Agustus) yang memuat daftar resmi penerima Koninklijke Onderscheidingen.

Senin, 24 Agustus 2026

BENARKAH HABIB ABDULLAH AL-HADDAD BERKUASA DI ALAM KUBUR ?

Gelombang fitnah nampaknya akan terus menerpa anak cucu keturunan Rasulullah SAW, dan ini adalah merupakan sejarah yang berulang, karena di masa lalu ahlul bait Nabi juga pernah merasakan bagaimana mereka terus-menerus dihujani berbagai fitnah, sehingga menyebabkan sebagian banyak yang berpindah  atau hijrah ke berbagai negara untuk menghindari berbagai intimidasi dan eksekusi dari para pembenci keturunan Nabi Muhammad SAW terutama dari kalangan pemerintahan, tidak sedikit yang menemui kematian demi mempertahankan kebenaran, dan tidak sedikit pula nasabnya yang ditolak oleh para penguasa-penguasa yang zolim. Namun demikian dari mereka banyak juga yang mendapatkan tempat terhormat di mata masyarakat karena keluhuran akhlaknya.

Pada masa sekarang fitnah juga telah merambah ke negeri kita, salah satunya adalah fitnah kepada Bani Alawi. Salah satu fitnah yang terus menerus yang dilakukan secara sistematis adalah pemutusan nasab kabilah tersebut dengan kata lain nasab Bani Alawi tertolak dan itu sudah hampir berlangsung sekitar 4 tahunan. Fitnah-fitnah tersebut bahkan sudah tersebar luas, utamanya  ditujukan kepada tokoh-tokoh yang berpengaruh pada kabilah Bani Alawi. Setelah fihak pembenci keturunan Nabi Muhammad SAW (Kaum Nawashib) menghantam habis profil  Imam Ubaidhillah, Imam Al-Faqih Al-Muqaddam, Imam Syekh Abubakar Asy-Syakron, maka sasaran kaum nawashib tersebut selanjutnya adalah seorang Imam besar dan ahli tassawuf yang sangat berpengaruh di kalangan dunia Islam terutama Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang bernama Imam Abdulllah Al-Haddad. Nampaknya memang para pemuka Bani Alawi akan terus mereka hancurkan kredibilitasnya demi memperkuat klaim mereka yang menyatakan Bani Alawi nasabnya terputus, dengan menghajar habis-habisan para tokoh Bani Alawi, mereka berkeyakinan nasab keturunan dari Imam Ahmad Al-Muhajir, akan rungkad serungkatnya.

Hantaman pertama mereka terhadap sosok Imam Abdullah Al-Haddad, adalah tentang plagiatnya bacaan Ratibul Haddad yang selama ini banyak dibaca di berbagai majelis dan pesantren di Indonesia seperti Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur yang didirikan K.H. R. As'ad Syamsul Arifin. Bahkan Ratib Al-Haddad juga menjadi menu utama wirid harian di ratusan pesantren salaf lain seperti di Cirebon, Indramayu (contohnya Ponpes Miftahul Ulum), Tuban (Ponpes Nurul Qur'an), serta berbagai majelis taklim di bawah bimbingan para Habaib (keturunan Imam Al-Haddad) di Jakarta, Bogor, Pekalongan, Solo, hingga NTB.

Tuduhan terhadap kredibilitas Ratibul Haddad mulai sedikit mereda apalagi setelah ada seorang kyai menantang untuk membuktikan klaim bahwa Ratib Haddad tersebut palsu kepada mereka yang menuduh tersebut. Namun apakah dengan itu tuduhan kepada Imam Abdullah Al-Haddad berhenti sampai disitu saja ? Ternyata tidak ! karena ada tuduhan baru yang tidak kalah kejinya, tuduhan tersebut adalah dikatakan bahwa Habib Abdullah Al-Haddad mampu dan berkuasa di alam kubur  sehingga sampai keluar pernyataan, “kalau ditanya malaikat alam kubur, maka jawab saja, “Habib Abdullah Al-Haddad ?”

Benarkah pernyataan ini ???

Berdasarkan biografi beliau, pernyataan tersebut justru bertentangan dengan akidah dan prinsip utama yang dianut oleh Habib Abdullah Al-Haddad.

Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad adalah seorang ulama besar pembaharu (mujaddid) dan seorang ulama salaf yang sangat ketat menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Beliau dikenal luas dengan julukan Syaikhul Islam, Quthbud Da'wah wal Irsyad (Poros Dakwah dan Petunjuk), serta diakui sebagai Mujaddid (Pembaharu) Abad ke-11 Hijriah dalam bidang ilmu, iman, dan ihsan. Beliau seorang Mujaddid yang tentunya lisannya terjaga dan jauh dari karya-karya yang tendensius apalagi perilaku aneh seperti tuduhan diatas. Sekalipun kondisi fisik beliau terbatas, yaitu tuna netra, namun tidak menghambat beliau untuk berkreatifitas dalam berdakwah dan dari track record beliau belum pernah terdengar keluar pernyataan yang menyimpang dari akidah yang beliau ajarkan.

 Dalam sejarahnya, beliau belajar kepada tidak kurang dari 140 ulama besar di masanya. Ini menandakan kedalaman dan keluasan ilmunya. Beliau sosok yang haus akan ilmu namun juga ikhlas dalam menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Rumah dan majelis beliau di Tarim menjadi pusat rujukan umat Islam dari berbagai penjuru dunia untuk belajar tasawuf, akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Asy'ariyah), fikih, DAN PEMBERSIHAN JIWA (TAZKIYATUN NAFS). Beliau meninggalkan banyak karya tulis yang menjadi rujukan utama di berbagai pesantren dan lembaga Islam di seluruh dunia,

Dalam seluruh karya tulis beliau seperti kitab An-Nashaih ad-Diniyyah, Risalatul Muawanah, dan Ad-Da'wah at-Tammah beliau selalu menegaskan bahwa KESELAMATAN SEORANG HAMBA DI DUNIA DAN AKHIRAT, TERMASUK DI ALAM KUBUR, BERGANTUNG SEPENUHNYA PADA KEIMANAN YANG LURUS KEPADA ALLAH SWT DAN MENGIKUTI PETUNJUK RASULULLAH SAW.

Tidak ada satu pun kalimat di dalam kitab-kitab beliau, atau dalam ijazah wirid dan ratib beliau, yang mengajarkan kesesatan semacam itu. Beliau justru adalah ulama yang paling gigih meluruskan penyimpangan akidah dan bid'ah yang batil.

Tidak ada ruang bagi seorang manusia sehebat apa pun kedudukannya di sisi Allah, apakah itu seorang wali, syekh, atau habib untuk menggantikan posisi Allah sebagai Rabb atau Nabi Muhammad sebagai Rasul dalam jawaban kubur. Mengarahkan jawaban kubur kepada selain Allah dan Rasul-Nya adalah bentuk kesyirikan yang sangat nyata, dan mustahil seorang wali Allah seperti Habib Abdullah Al-Haddad mengajarkan kesyirikan kepada umatnya.

Bila demikian bagaimana akar munculnya ftnah seperti ini ?

Biasanya tuduhan semacam ini biasanya muncul akibat beberapa faktor:

  • Cerita yang berlebihan dari oknum pengikut yang jahil (Ghuluw): Terkadang, ada sebagian kecil orang awam yang memiliki rasa takzim (kecintaan) berlebihan kepada seorang guru atau wali, lalu membuat-buat cerita karomah atau kisah fiktif yang melampaui batas syariat sehingga menyebabkan interpretasi yang liar dari masyarakat yang pada ujungnya bisa menyebabkan pandangan miring kepada para wali tersebut seperti halnnya Imam Abdullah Al-Haddad. Cerita-cerita karangan seperti itu kemudian digeneralisir seolah-olah itu adalah ajaran resmi sang ulama, padahal para ulama itu sendiri seperti Imam Abdullah Al-Haddad berlepas diri darinya. Siapapun dia jika sudah berlebih-lebihan seperti hal diatas maka tidak patut omongannya atau tulisannya dijadikan hujjah.
  • Upaya Adu Domba & Propaganda Hitam: Ada pihak-pihak tertentu yang memang sengaja menyebarkan disinformasi untuk mendiskreditkan para habaib, ulama tarekat, atau tradisi keagamaan tertentu (seperti pembacaan ratib dan maulid) dengan cara memelintir ajaran mereka agar tampak menyimpang dari akidah Islam. Seperti yang kita ketahui Imam Abdullah Al-Haddad salah satu tokoh tarekat dan sufi besar dalam dunia Islam, dan sampai saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa gerakan tarekatnya melalui ajaran-ajaran kesufiannya banyak dianut oleh sebagian  masyarakat Islam terutama di Indonesia, namun demikian tidak bisa dipungkiri pula bahwa para tokoh-tokoh sufi termasuk Imam Abdullah Al-Haddad masih terus mendapat kritik dari orang-orang yang memandang tarekat atau dunia tassawuf sebagai ajaran-ajaran yang menyimpang dari Islam.

Kesimpulan dari tuduhan bahwa umat Islam diajarkan menjawab "Habib Abdullah Al-Haddad" saat ditanya malaikat di alam kubur adalah FITNAH MURNI TANPA SANAD, TANPA DALIL, DAN BERTOLAK BELAKANG DENGAN SELURUH AJARAN HIDUP HABIB ABDULLAH AL-HADDAD. Sebagai umat Islam yang berpikir objektif, kita wajib menyaring setiap informasi dan mengembalikannya kepada timbangan Al-Qur'an, Sunnah, serta merujuk langsung pada kitab-kitab asli karya ulama yang bersangkutan.

Tidak ada seorang ulama muktabar pun, termasuk Habib Abdullah Al-Haddad, yang mengajarkan umatnya untuk menyimpang dari akidah tauhid yang benar. Ajaran para wali dan ulama salaf selalu mengarahkan murid-muridnya untuk menjawab dengan jawaban tauhid yang murni: "Rabbi Allah, wa Al-Islamu dini, wa Muhammadun nabiyyi."

Wallahu A’lam bisshowab…


Kamis, 20 Agustus 2026

AL-FAQIH MUQQODDAM MI’RAJ 70 X, APA MAKSUDNYA ?

Salah satu tokoh penting yang menjadi pondasi dan rujukan dalam kehidupan para Habaib, tersebutlah nama Al-Imam Muhammad bin Ali Ba’alawi Al-Husaini yang berlaqobkan Al-Faqih Muqaddam. Secara nasab Al-Imam Muhammad bin Ali ini sepupuan dengan Al-Imam Abdul Malik Al-Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih karena Imam Alwi Ammul Faqih dan Imam Ali Baalawii mempunyai ayah yang bernama Imam Muhammad Shohib Mirbath salah satu bagian nasab kunci Bani Alawi. Al-Imam Abdul Malik Al-Azmatkhan dipercaya sebagai leluhurnya Wali Songo. Walaupun saat ini ada beberapa fihak yang “alergi’ untuk menasabkan Wali Songo ke Imam Abdul Malik Al-Azmatkhan karena berkerabat dengan Bani Alawi yang menurut fihak-fihak tersebut nasabnya terputus, namun tidak sedikit yang meyakini bahwa Imam Abdul Malik Al-Azmatkhan adalah leluhur Wali Songo (silahkan pelajari tulisannya Prof. KH Abdullah bin Nuh, HMH Al-Hamid Al-Husaini, Prof Tareck Chihab, Prof. Hamka serta masih banyak lagi yang lainnya). Saya sendiri lebih cenderung kepada pendapat Prof. KH  Abdullah bin Nuh dan HMH Al-Hamid Al-Husaini yang memang ahli dalam bidang sejarah Islam.

Mengenai Imam Muhammad bin Ali Ba’alawi saat ini ramai namanya diperbincangkan oleh mereka yang anti terhadap nasab Bani Alawi ? Karena pada dasarnya Imam Muhammad bin Ali ini adalah salah satu yang merupakan nasab kunci Bani Alawi, dari beliau nanti akan banyak lahir klan-klan besar yang menyebar ke berbagai belahan dunia. Sedangkan Imam Alwi Ammul Faqih hanya memunculkan klan sekitar 12 klan termasuk Bani Abdul Malik Al-Azmatkhan. Populasi klan Imam Muhammad bin Ali Baalawi ini banyak memegang peranan kunci dalam kehidupan masyarakat Islam di berbagai belahan dunia. Dengan hijrah mereka banyak yang sukses dalam penyebaran Islam.

Imam Muhammad bin Ali Baalawi kelak dalam kehidupannya mendapat laqob AL-FAQIH AL-MUQADDAM. Adapun arti laqob tersebut adalah :

FAQIH : Faqih karena keluasan ilmunya dalam bidang hukum Islam. Beliau tidak hanya menjadi rujukan dalam urusan fatwa dan hukum harian masyarakat di zamannya, tetapi juga berhasil menghidupkan dan mengokohkan pengajaran fikih Mazhab Syafii secara sistematis di bumi Hadhramaut.

MUQADDAM : Julukan Al-Muqaddam diberikan karena beliau diposisikan oleh para ulama dan masyarakat sezamannya sebagai pemimpin utama (muqaddam) di antara para ulama dan tokoh masyarakat lainnya di Hadramaut , baik dalam kedudukan keilmuan, kepemimpinan spiritual, maupun ketokohan sosial.

Oleh karena itu, gelar Al-Faqih Al-Muqaddam mencerminkan sosok ulama besar yang memadukan antara kedalaman ilmu syariat (fikih) dengan kepemimpinan spiritual yang mengutamakan kedamaian dan kemaslahatan umat. Artinya gelar yang diberikan kepada beliau tidak terlalu berlebihan dan itu merupakan pemberian masyarakat Hadramaut yang menghargai dan mencintai beliau sebagai tokoh panutan.

Nama Al-Faqih Al-Muqaddam saat ini menjadi sasaran tembak yang paling kejam setelah nama Imam Ubaidhillah. Beliau mendapatkan tuduhan yang keji terutama dengan  Istilah "Mi'raj 70 kali sehari" yang dinisbatkan kepadanya. Narasi ini adalah salah satu yang paling populer yang sering memicu perdebatan sengit sekaligus bahan ejekan (olok-olok) di media sosial oleh pihak-pihak yang kritis atau tidak menyukai kelompok habib.

Jika demikian, dari mana sebenarnya  asal usul cerita “Mi’raj 70 x kali ini ?

Kisah ini bersumber dari kitab-kitab ู…ู†ุงู‚ุจ (manaqib atau biografi kewalian) klasik kalangan Ba'alawi yang mencatat perjalanan spiritual tokoh-tokoh sufi besar.

Dalam tradisi tasawuf ekstrem atau sufisme tingkat tinggi, ungkapan-ungkapan para wali seringkali menggunakan bahasa pengalaman batin (dzauq), kasyaf (bukanya tabir gaib), ATAU METAFORA SPIRITUAL YANG SANGAT TINGGI, yang jika dibaca dengan logika teks mentah oleh orang awam atau luar tradisi tasawuf, akan terdengar sangat janggal dan berlebihan.

Bagi kalangan yang mempercayai atau melestarikan riwayat tersebut, maksud dari ungkapan "Mi'raj berkali-kali" bukanlah berarti yang bersangkutan naik roket atau fisik menembus langit ketujuh secara fisik biologis seperti Nabi Muhammad SAW.

Makna Mi'raj secara Bahasa: Kata mi'raj secara harfiah berarti "alat untuk naik" atau "proses naik". Dalam dunia tasawuf, mi'raj ruhiyah (naiknya ruh/kesadaran spiritual seorang hamba kepada Allah SWT) diartikan sebagai kedalaman maqam makrifat, kedekatan batin, dan terbukanya hijab spiritual kepada Allah.

Karya Sastra dan Ungkapan Spiritual (Majaz / Kiasan): Dalam tradisi literatur tasawuf klasik, para sufi memang sering menggunakan BAHASA-BAHASA SIMBOLIK, METAFORA, DAN SASTRA ROHANI yang tinggi untuk menggambarkan kebersihan hati, kedalaman makrifat, serta intensitas ibadah yang luar biasa (mi'raj al-qalb atau kenaikan maqam ruhani di hadapan Allah dalam bentuk kekhusyukan). Kalau kita tidak hati-hati dalam memahaminya bisa bingung, oleh karena itu perlu adanya seorang “pembimbing” atau mursyid untuk menerangkan hal-hal seperti ini. Para ulama sejak dulu menegaskan bahwa ungkapan METAFORIS PARA SUFI tidak boleh ditelan mentah-mentah secara harfiah oleh orang awam tanpa memahami kaidah ilmu tasawuf. Kesalahan dalam memahami bahasa sastra rohani inilah yang sering melahirkan kesalahpahaman fatal di tengah masyarakat.

Pengalaman Spiritual: Maksud dari angka "70 kali" adalah gambaran betapa seringnya hati sang wali mengalami "kenaikan" kualitas makrifat, kebersihan jiwa, dan kefanaan dalam dzikrullah dalam waktu sehari, karena tingkat konsentrasi ibadah dan kebersihan hatinya yang luar biasa. Jadi, ini dipahami sebagai METAFORA kedekatan ruhani (maqam kewalian), bukan menyaingi mukjizat fisik Nabi Muhammad SAW.

Para ulama Hadhramaut termasuk keturunan Al-Faqih Al-Muqaddam sendiri senantiasa mengajarkan bahwa setinggi apa pun derajat kewalian seseorang, seorang wali tidak akan pernah bisa, tidak boleh mengklaim, dan tidak akan menandingi mukjizat kenabian. Jika kalimat mi'raj diartikan secara harfiah (fisik naik ke langit menyaingi Nabi), maka hal itu batil, sesat, dan tertolak secara ijma'.

Sejarah perjalanan hidup Imam Al-Faqih Al-Muqaddam pada akhirnya beliau memang dikenal sebagai seorang Faqih (ahli fikih mazhab Syafii yang sangat ketat menjaga sunnah, tawadu, dan menghidupkan syariat). Beliau tidak pernah mendakwahkan hal-hal yang mencederai akidah. Jika ada klaim berlebihan yang disandarkan kepada beliau dalam kitab-kitab tertentu, para ulama menilainya sebagai bentuk penyisipan teks, riwayat yang lemah, atau ungkapan metaforis yang disalahartikan oleh pihak luar.

Namun jika dasarnya memang mereka anti terhadap gerakan sufism, apalagi yang banyak dianut Bani Alawi, rasanya penjelasan diatas sepertinya tidak mengena ya ? Tapi bagi anda yang telaten dan senang dengan manaqib para wali, apa yang terjadi pada Al-Faqih Al-Muqaddam bukanlah hal yang aneh, karena kisah Syekh Abdul Qodir Al-Jilani bahkan lebih spektakuler lagi ? Tapi apakah semua itu melebihi Mujizat Nabi Muhammad SAW ? Ya tentu tidak dong, karena apa yang terjadi Al-faqih Muqaddam ataupun Syekh Abdul Qadir Al-Jilani adalah KERAMAT yang statusnya dibawah Mu’jizat. Nah kalau sudah faham hal ini maka cerita “Mi’raj 70x kali” bukanlah cerita aneh apalagi sampai menyamakan mi’rajnya Rasulullah SAW ke langit dan menemui Allah SWT….

 

Tamat….

"๐‘ฒ๐‘ฌ๐‘ป๐‘ผ๐‘น๐‘ผ๐‘ต๐‘จ๐‘ต ๐‘ต๐‘จ๐‘ฉ๐‘ฐ ๐‘ด๐‘ผ๐‘ฏ๐‘จ๐‘ด๐‘ด๐‘จ๐‘ซ ๐‘ซ๐‘จ๐‘ต ๐‘ด๐‘จ๐‘ผ๐‘ณ๐‘ฐ๐‘ซ ๐‘ต๐‘จ๐‘ฉ๐‘ฐ ๐‘ป๐‘ฐ๐‘ซ๐‘จ๐‘ฒ ๐‘จ๐‘ซ๐‘จ ๐‘ซ๐‘ฐ ๐‘จ๐‘น๐‘จ๐‘ฉ ๐‘บ๐‘จ๐‘ผ๐‘ซ๐‘ฐ ?"


Judul ini cukup menarik untuk saya bahas, karena baru-baru ini isu nasab terus merembet kemana-mana, mulai dari keramatnya para wali yang diolok-olok, distorsi sejarah sampai munculnya pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan Keturunan Nabi pada umumnya. Selain itu aktifitas yang sering dikaitkan dengan keberadaan Keturunan Nabi Muhammad SAW juga ikut "dipertanyakan secara seksama" seperti Maulid Nabi.
Salah satu Vloger Alman Mulyana bahkan dengan PD nya membahas hal tersebut di akun Youtubenya setelah banyak mendapatkan pertanyaan. Bagus memang Kang Alman ketika langsung meresponnya, tapi ada baiknya untuk lebih berhati-hati, karena ranah yang ia masuki cukup "ngeri-ngeri sedap" dibahasnya. Setiap jawaban harusnya berdasarkan orang-orang yang ahli dalam bidang pernasaban dan permaulidan agar jawabannya lebih tepat sasaran...
Sebenarnya bagaimana sih keberadaan keturunan Nabi Muhammad SAW yang ada di Arab Saudi ? dan Bagaimana pula kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di negara yang dipimpin oleh Klan Ibnu Saud ini ?
Bila dilacak dan dipelajari perkembangan keturunan Nabi di seluruh dunia, ternyata sampai saat ini keberadaan keturunan Nabi Muhammad SAW masih eksis dan mempunyai jaringan yang sangat kuat diantara sesama mereka.
Kenapa di Arab Saudi itu keturunan Nabi Muhammad SAW tidak terlalu menonjol bahkan terkesan tidak terlalu penting untuk dibahas, "emangnya siapa sih loe-loe orang...?"
Yang perlu anda ketahui, bahwa sejarah Makkah dan Madinah justru identik dengan keturunan Nabi Muhammad SAW. Itu terjadi sebelum era dinasti Saud berdiri di tahun 1924. Peran keturunan Nabi Muhammad SAW terutama keluarga Dinasti Idrisiyah (cabang keluarga keturunan Nabi dari garis Sayyidina Hasan bin Ali yang sempat mendirikan kepemimpinan lokal di wilayah Asir, Jazan, dan Tihamah di sebelah barat daya Jazirah Arab/Arab Saudi modern) itu berakhir setelah dianeksasi ibnu Saud tahun 1934 M.
Bagaimana setelah tahun 1934 ?
Keturunan Nabi Muhammad SAW setelah tahun 1934 masih tetap ada dan bahkan banyak yang berkiprah di dalam pemerintahan Arab Saudi walaupun dibatasi. Suku-suku keturunan Nabi Muhammad SAW baik yang dari Al-Hasani dan Al-Husaini terus berkembang di berbagai wilayah Arab Saudi. Salah satu yang cukup menonjol bahkan keberadaannya sangat dihormati adalah keluarga Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Selain itu keluarga dari Bani Dahlan seperti Sayyid Zaini Dahlan juga dihormati. Bahkan ada beberapa dosen yang keturunan Nabi Muhammad SAW dari cabang Al-Hasani.
Kok di Arab Saudi tidak ada Maulid seperti semaraknya Maulid di Indonesia ?
Ya anda harus faham dong bagaimana doktrin keagamaan yang dianut secara resmi Arab Saudi. Sekalipun mereka mengklaim sebagai penganut mazhab Hambali, namun praktek-praktek seperti Maulid, Berdoa di depan makam (sekalipun depan makam Nabi Muhammad), Haul, Muharoman tidak diperbolehkan. Tidak percaya ? saya pernah ziarah di Baqi dan Ma'la pernah langsung dibilang "HARAMMMM....", "HARAAAMMMM..." Bahkan ketika saya berdoa di depan makam Nabi Muhammad SAW langsung dibilang Syirikkkk....Syiriiiikkkkk....!!!v di depan makam yang tidak jauh dari makam para keturunan Nabi Muhammad SAW, saya bahkan pernah diceramahin habis oleh salah satu Syekh yang kebetulan dia faham juga bahasa Indonesia...langsung saja saya bantah, Saya bilang, "anda tahu darimana saya menyembah kuburan....?" saya bahkan sempat kucing-kucingan dengan Askar di makam Ma'la dan Baqi.
Jadi kalau tidak ada Maulid disana yang memang aturan disana seperti itu. Beda kalau anda datang ke Maroko, Yaman, Pakistan, Bangladesh, Aljazair, Suriah, Palestina, Libanon, Iran, dll, Insya Allah malah meriah. Tapi kalau bicara sejarah, selama masa dinasti para SYARIF Idrisiah berkuasa 700 tahun di Makkah dan Madinah, perayaan Maulid itu justru dilaksanakan secara semarak, bahkan makam-makam pemuka ahlul bait dibuat secara layak dan bagus sebelum dihancurkan secara total oleh dinasti Ibnu Saud sehingga yang tersisa hanyalah batu cadas sebagai penanda makam dan pembatas makam berupa semen biasa...
Apakah sekarang Maulid Nabi Muhammad SAW masih ada ?
Masih ! hanya saja oleh kalangan tertentu seperti keluarga Sayyid Malik dan itu tertutup bagi masyarakat umum. Sebab kalau terbuka, ya tahu sendirilah...ini saya pernah tanya langsung kepada beberapa murid Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alwi Al-Maliki saat saya berkunjung ke rusyaifah., dan mereka membenarkan adanya pengawasan kegiatan-kegiatan seperti itu, menurut mereka kegiatan di tempat mereka selalu dalam pengawasan pemerintah. Seorang dosen yang pernah mengajar di Madinah bahkan pernah berkata bahwa keberadaan "keturunan Nabi Muhammad SAW" masih tetap diawasi aktifitasnya. Kalau tiba-tiba kritis siap-siap untuk masuk penjara. Sayyid Muhammad Al-Maliki bahkan dulu pernah diawasi aktiftasnya sampai akhirnya beliau tidak lagi mengajar di Masjidil Haram dan berpindah di rumahnya di Rusyaifah. Maulid di Arab Saudi itu jelas sulit ditemukan, karena memang dilarang dan juga berdasarkan fatwa dari para ulamanya seperti almarhum Syekh Abdul Aziz bin Baz atau Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
Jadi kalau dikatakan bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW tidak ada di Arab Saudi apalagi dari Bani Alawi berarti literasinya masih kurang. Terus kalau ada pernyataan, "kok gak ada yang ngaku keturunan Nabi Muhammad SAW di Makkah dan Madinah ?" kan saya udah bilang, di Arab Saudi kultur keislaman dan budayanya beda sama kita... disana keturunan Nabi MUhammad SAW gak terlalu menonjol dan emang sengaja dibatasi, ente loyal ane lindungi, ente kritis ane sikat (begitu kira-kira ungkapan sederhananya).
Berapa jumlah keturunan Nabi Muhammad SAW di Arab Saudi ? sangat banyak ! dan mereka masing-masing mempunyai Naqib untuk mencatat masing-masing kabilah. Dan biasanya cara berpakaiannya juga mengikuti gaya pakaian Arab Saudi (umumnya). Di buku yang susun berjudul "Dzuriyyah Keturunan Nabi Muhammad SAW di 63 Negara" sudah saya susun dimana saja mereka berdiaspora....

Rabu, 19 Agustus 2026

"RANTAI EMAS" HABIB TURUN KE BUMI ?


Dalam tradisi keilmuan Islam, Silsilatuz-Zahab atau "Rantai Emas" adalah istilah yang merujuk pada sanad (jalur transmisi) ilmu atau spiritual yang paling otoritatif dan tepercaya.
• Transmisi Ilmu: Istilah ini digunakan untuk menggambarkan jalur periwayatan ilmu atau sanad tarekat yang bersambung secara mutlak dan terjaga keautentikannya mulai dari Allah SWT, melalui Malaikat Jibril, Rasulullah SAW, para sahabat, hingga ulama-ulama besar.
• Signifikansi: Jalur ini dianggap sebagai jalur yang paling "murni" karena integritas para perawinya diakui oleh otoritas keilmuan Islam.
Istilah Rantai Emas bukanlah bener benar sebuah emas berbentuk emas yang terbang dan berasal dari langit untuk turun ke bumi seperti yang digaung-gaungkan dari para pembatal nasab Bani Alawi. Rantai Emas bukanlah seperti motonya Kebuli Jordan yang ada di Jalan Raya Condet “MAKANAN SURGA TURUN KE BUMI” bukan sama sekali.
Munculnya istilah Rantai Emas adalah sebuah frasa murni yang merupakan majas atau perumpamaan (metafora) dalam bahasa agama dan kebudayaan, yang sering digunakan oleh para ulama atau penceramah untuk menggambarkan sesuatu yang sangat berharga, mulia, dan tidak terputus. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia kita pasti akan menemukan istilah-istilah seperti ini..tanya saja kepada anak-anak SMP atau SMA.
Ketika seorang penceramah baik itu Habib, Kyai, Gus, dll (misalnya menggunakan analogi seperti “Jangan ganti rantai emas dengan tali rafia” atau istilah serupa), yang dimaksudkan adalah sanad keilmuan, akhlak, dan bimbingan ruhani yang bersambung dari generasi ke generasi hingga sampai kepada Rasulullah SAW.
• Makna "Emas": Melambangkan sesuatu yang tinggi nilainya, murni, mulia, dan autentik (dalam hal ini adalah ilmu agama, adab, dan pemahaman Islam yang lurus).
• Makna "Rantai": Melambangkan keterhubungan atau estafet yang kuat dan tidak terputus (ittishal).
• Jadi, maksudnya dari semua itu yang dikaitkan dengan rantai emas adalah untuk menasihati umat agar tetap mengikuti bimbingan ulama warisan para nabi yang sanad ilmunya jelas, alih-alih mengambil ajaran dari sumber yang sembarangan atau instan ("tali rafia").
Dalam perdebatan sengit di media sosial antara pihak yang pro dan kontra terhadap nasab Ba'alawi, metafora-metafora retoris seperti ini sering kali diambil di luar konteksnya (dipelintir secara harfiah) oleh pihak-pihak yang tidak suka. Yang tidak suka sudah pasti akan menjadikan bahan ini sebagai amunisi maut menghajar para Habib.
Pihak pengejek yang memang anti terhadap Bani Alawi akan sengaja mengartikannya secara sarkastik seolah-olah kaum habaib mengklaim leluhur mereka bisa menurunkan benda fisik berupa rantai emas dari langit atau memiliki kesaktian berlebihan untuk mendiskreditkan atau menertawakan klaim silsilah mereka. Fihak Habaib akan terus dihajar habis dengan isu satu ini, apalagi yang mengejek tidak faham makna dibalik istilah tersebut, terlebih lagi bila ada penceramah membawa frasa ini tapi ceramahnya dipotong sehingga konteks dari frasa tersebut hilang maknanya...
Lagipula sangatlah aneh, kalau istilah Rantai Emas digambarkan secara fisik seolah ajaran Alawiyin itu mengedepankan keduniawian belaka, padahal banyak ajaran Alawiyyin itu bersifak sufistik....
Aneh, kalau masih ada yang memahami rantai emas sebagai fisik...berarti selama hidupnya dia tidak pernah belajar bahasa Indonesia secara baik dan benar....
Tamat....

"H. MUTAHAR SEORANG HABIB"

 Setelah perayaan 17 Agustus selesai, rupanya ada satu hal yang masih rame, yaitu mengenai siapakah sesungguhnya H. MUTAHAR SANG PENYUSUN lagu HARI MERDEKA ?

Untuk kalangan yang anti nasab Bani Alawi seperti biasa akan langsung mengatakan : HOAX, NGIBUL, NGEDABRUS, dsb jika H. MUTAHAR dianggqap seorang Habib. Bahkan ada yang dengan PDnya dan sangat ngotot tingkat dewa dengan mengkaitkan langsung bahwa H. MUTAHAR adalah keturunan Demak lengkap dengan daftar pustakanya, sehingga semakin membuat bahagia seperti bahagianya pengantin baru dan PD tim-tim hore pembatal nasab Baalawi. Saya sendiri sempat kaget, haaa ? KESULTANAN DEMAK ? Wah baru dengar saya nih...
Pada akhirnya, lagi lagi muncullah ungkapan, semua serba "dibaalawikan", semua akan menjadi Baalawi. Dan bla...bla...bla...pokoknya Baalawi rungkad dan minggat...(begitu katanya...)
Bagi yang meyakini H. MUTAHAR seorang Sayyid atau HABIB karena berdasarkan informasi dari kalangan Habaib sendiri..
Saya sendiri akhirnya ngubek ubek lagi semua majalah koleksi alkisah saya dari edisi pertama tahun 2003 sampai edisi terakhir 2013 untuk mencari tentang Profil H. MUTAHAR..untung semua majalah alkisah saya belum saya hibahin. Alkisah adalah majalah khusus membahas Habib dan Kyai Kyai NU, DLL. Kebetulan saya masih ingat ada tulisan tentang H. MUTAHAR.
Menariknya H. MUTAHAR ini memang tipikal nasionalis sejati, yang jangankan keliatan asal usulnya secara terbuka, lha kehidupannya saja lebih banyak diwarnai dengan politik perjuangan ketimbang nasabnya. Hubungannya dengan Bung Karno cukup dekat, walaupun H. MUTAHAR sering dibuat mangkel oleh Bung Karno karena sering "dikerjain", tapi Bung Karno sangat cinta terhadap H. MUTAHAR, H. MUTAHAR sendiri tidak pernah mengambil hati dengan sikap eksentriknya Bung Karno, karena H. MUTAHAR tahu Bung Karno tipikal yang terbuka terhadapnya.
Pertanyaan sekarang apakah memang beliau seorang Habib atau Sayyid ??? (istilah ini pasti deh bakal juga digugat oleh pakar pakar nasab medsos dari sebelah sana...).
Karena beliau jarang terbuka masalah ini, maka ada peneliti lain yang akhirnya menulis tentang beliau termasuk asal usul nasabnya, tidak tanggung tanggung penulisnya adalah seorang Wartawan Senior dan SEJARAWAN Tangguh Tentang Jakarta yaitu Abah Alwi Shihab. Sejarawan Jakarta dan Wartawan² kawakan nasional yang udah senior pasti tahu siapa beliau. Profil H. MUTAHAR juga ditulis tidak lama setelah beliau wafat artinya masih sezaman. Dan yang paling penting H. MUTAHAR dan Abah Alwi Shihab gak jauh beda umurnya dan sama sama pernah dekat dan sama sama dari Bani Alawi. Artinya mereka hidup sezaman, Abah Alwi jelas saksi hidup yang tahu betul siapa H. MUTAHAR sesungguhnya.
Hasilnya ? Ya H. MUTAHAR berdasarkan tulisan Abah Alwi yang hidupnya SEZAMAN dan pernah bersahabat, memang seorang Sayyid, dan keluarganya ternyata berasal dari Banda Naira Maluku, dimana memang disana terdapat diaspora keturunan Bani Alawi disamping Arab Hadramaut lain. Budaya Banda Naira yang berada di Maluku memang egaliter, mereka lebih cenderung lebih membumi ketimbang mengandalkan nasabnya. Dan ini pernah berapa kali saya tanyakan kepada Habib habib yang berasal dari Maluku, memang benar menurut mereka jika Habib Habib di Maluku itu kadang lebih kental Malukunya ketimbang Habibnya....mereka lebih nyaman menjadi pribumi maluku tanpa kehilangan asal usul.
Jadi H. MUTAHAR selain seorang nasionalis sejati, beliau juga seorang Habib dari rumpun atau Klan Al-Muthohar cabang dari Bani Alawi. Kenapa lebih sering ditulis H. MUTAHAR ? Ya mudah jawabnya, namanya seniman plus juga politikus handal, tulisan H. MUTAHAR lebih mudah diingat, simpel dan gak terkesan kearab araban, lagian kan memang memakai ejaan bahasa Indonesia...
Jadi kalau masalah nasab beliau selesai ya.. perkara situ gak mau ngakuin lagu Hari Merdeka, 17 Agustus dan Lagu Syukur atau Paskibraka beliau yang buat karena beliau habaib, ya itu sih terserah ente, gak dipaksa, tapi kalau soal siapa beliau, ya fair dong...

KITAB SEZAMAN SYARAT MUTLAK NASAB ?

Di tahun 2006 s/d 2012 hal ini pernah sempat ramai dibahas oleh para penggiat nasab, saya masih ingat betul bagaimana sahabat² dan juga beberapa orang yang nasabnya berasal dari Wali Songo dan Kesultanan Nusantara meradang karena nasabnya tidak diakui oleh beberapa fihak hanya karena datanya tidak tercatat pada zamannya.

Benar memang untuk mengetahui sebuah nasab bisa melalui kitab, manuskrip atau lembaran silsilah. Tapi apakah semua itu sudah harga mati dalam verifikasi sebuah nasab ? Apakah bahan dari kertas itu menjadi sumber utama bisa menentukan status sebuah nasab ? Apakah menentukan validitas nasab itu cuma hanya 1 atau 2 metode saja ? Kalau hanya berdasarkan "kertas" betapa sempitnya kualitas ilmu nasab...
Saya sendiri saat itu tidak mau terlalu larut dalam perdebatan panas antara mereka yang mengakui dan menolak suatu nasab, saya lebih memilih terjun langsung untuk melacak jejak para leluhur untuk kemudian didokumentasikan. Saya lebih memilih menulis sambil melakukan diskusi dengan beberapa sahabat yang datang ke rumah.
Anda perlu tahu, saat konflik dan gejolak nasab itu pecah di tahun 2000an, banyak bermunculan foto foto yang bertebaran dibumbuhi tulisan "Si Kyai anu habib palsu" "si Gus itu Kyai palsu", "Habib kok pesek", " keturunan India Banglades ngaku habib" dan cap cap jelek lainnya..
Adanya permintaan kitab atau tulisan atau manuskrip sezaman untuk membuktikan satu nasab keturunan, itu tidak semudah yang dibayangkan, apalagi di Indonesia. Membuka nasab secara terbuka maka siap-siap diburu penjajah, karena kebanyakan zuriah para wali songo dan kesultanan banyak yang keras dan militan kepada penjajah. Selain itu konflik politik dengan penguasa negeri sendiri juga membuat mereka sangat berhati hati dalam membuka nasab, mereka banyak yang memilih berbaur dengan masyarakat dan mendirikan pondok pesantren.
Pemeliharaan nasab di Indonesia tidak seperti di negara timur tengah, karena banyak keturunan Wali Songo dan kesultanan yang menyebar ke pulau pulau terpencil pedalaman dan menjadi kemudian orang biasa. Otomatis pendataan nasab banyak yang terputus dari pusat kota kekuasaan yang dokumentasi pendataan nasab atau silsilahnya lebih terjaga.
Namun demikian jangan salah, untuk memelihara nasab, biasanya ada 1 orang dari keluarga besar yang dipercaya untuk menjaganya melalui hafalan hafalan yang diturunkan secara turun temurun. Orang tersebut harus terjaga integritasnya, kejujurannya merupakan harga mati. Dia juga diajarkan bagaimana memahami m karakter atau kebiasaan sebuah klan, bahkan ciri ciri atau tanda tanda fisik, dll, hal ini untuk menjaga nasab tersebut dari pemalsuan nasab dari orang luar. Kalau dulu dimasa Nabi Muhammad SAW orang yang punya kemampuan seperti itu disebut Qaif (Qiyafah).
Anda bisa bayangkan, betapa banyaknya nasab bakal runtuh kalau kaidah "KITAB SEZAMAN ATAU TULISAN SEZAMAN SYARAT MUTLAK DIAKUINYA SEBUAH NASAB". Padahal nasab tersebut sudah mashur dan shahih serta banyak kesaksian serta dikenal masyarakat sebagai sebuah nasab kabilah tertentu.
Contoh kasus yang mudah:
Di daerah pedalaman Sumatra Selatan itu banyak keturunan Wali Songo yang bersatu dengan Baalawi. Mereka banyak yang berbesanan sejak masa berdirinya Kesultanan Palembang. Hal ini pernah terjadi ketika istri kakak saya yang saya beri tahu kalau leluhurnya yang bernama Tuan Idrus Tanjung Salam keturunan Al Idrus, kakak ipar saya kaget karena saya tahu. Tidak lama kemudian ada keturunan Tuan Idrus Tanjung Salam menghubungi saya dan memberikan info penting kalau leluhurnya aslinya keturunan keluarga Basyaiban sebelum hijrah ke Jawa, Al Idrus adalah laqob toriqohnya.
Selain kasus diatas, ternyata keturunan Kesultanan Palembang dan Banten bahkan banyak yang berbesanan dengan Baalawi. Dan itu banyak datanya dan tersimpan dengan baik. Ini belum lagi yang ada di Jawa yang mungkin lebih banyak. Dulu juga pernah saya ketemu seorang habib yang saat itu cuma hafal lima nama karena mereka tinggalnya di sebuah pulau di Maluku. Tapi begitu ketemu senangnya bukan main, cuma dia mengatakan bahwa selama ini memang leluhurnya sudah berbaur dengan masyarakat pribumi.
Adanya syarat mutlak kitab sezaman, jelas akan membuat orang patah hati atau patah semangat terutama para pejuang nasab yang mati obor pada nasabnya. Mati obor pada nasab itu jumlahnya tidak sedikit, hal ini terjadi karena pada masa lalu leluhur mereka lebih banyak menutup diri karena banyaknya pertimbangan. Belum lama ini satu sahabat saya buka kartu kalau sebenarnya bapaknya keturunan Tubagus, tapi oleh bapaknya gelar Tubagus sengaja gak digunakan karena beralasan lebih penting mendahulukan akhlak.
Dulu itu, saat konflik nasab memanas antara para kyai pejuang nasab dengan beberapa habaib, para sesepuh banyak yang berusaha menengahi, tapi sepertinya belum berhasil, karena masing masing fihak bersikeras.
Saya pernah berkata (Insya Allah saksi saksinya masih ada) di kisaran tahun tahun 2012 sd 2017, "Kalau syarat kitab sezaman atau tulisan sezaman ini menjadi syarat mutlak, untuk menentukan syarat validnya sebuah nasab atau kalau ada fihak fihak yang masih membatalkan nasab keturunan Wali Songo saya khawatir dan bukan tidak mungkin FITNAH BESAR akan melanda kepada mereka yang membatalkan nasab para wali.. "
Dan benar saja, akhirnya meledak dan efeknya sangat jahat. Mereka dulu yang katanya pernah dizolimi nasabnya justru membalas lebih kejam, tanpa pilih pilih tanpa pandang bulu siapapun kabilah yang pernah membatalkan wali songo harus dihancurkan sampai ke akar akarnya tidak perduli dia ulama atau Waliyullah pokoknya nasabnya mardud alias tertolak. Padahal sebenarnya yang mengakui nasab Wali Songo juga ada seperti HMH Al-Hamid Al Husaini. Sedangkan yang menolak nasab Wali Songo orangnya yang itu itu juga walaupun pendukung serta loyalisnya juga hampir sama polanya ketika fihak fihak tersebut membatalkan nasab Wali Songo.
Pembalasan kejam dari mereka yang katanya dari Zuriah Wali Songo dengan memakai pola yang sama yaitu adanya syarat kitab sezaman, pada sudah menyentuh wilayah SARA. Sebuah ironi besar mengingat Wali Songo ajarannya banyak yang bernuansa Sufistik yang jelas jelas bertolak belakang dengan hal tersebut.
Perancis untuk memberi pelajaran dan meledek kepada USA yang sombong dengan ungkapan "No Document No History". Perancis tahu USA sejarahnya terputus dengan masa lalu karena mereka baru berdiri abad 18. Akhirnya Amerika kesal, dan mulailah mereka mengumpulkan dan menghimpun sejarah negara demi untuk mengcounter ungkapan perancis tersebut. Dan kita tahu betapa lengkapnya USA dalam mengumpulkan sejarah, tidak tanggung tanggung, mereka bahkan punya data data silsilah yang lengkap. Cek aja bagaimana perjalanan silsilah para Presidentnya. Lihat aja betapa seriusnya mereka mengumpulkan hasil DNA dari berbagai bangsa....
Jadi kitab sezaman sebagai syarat mutlak sahnya sebuah nasab adalah blunder fatal, karena nasab orang orang pada masa sebelum dan sesudah Nabi Muhammad SAW l, itu dengan cara dihafal secara turun temurun bukan dari kitab sezaman...apa jadinya kalau standar ini digunakan, bisa hancur dan rusak nasab bangsa Quraisy, padahal Abu Bakar Asshidiq dan Umar bin Khattab dikenal sebagai orang orang yang ahli dalam nasab dan itu semua melalui hafalan....