Menulis Sejarah Islam Berdasarkan Fakta & Data, Cp 08179803186, FB : Iwan Mahmoed Al Fattah II & III
Rabu, 26 Agustus 2026
"๐ ๐๐ก๐๐ฅ๐๐ ๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐ก๐๐๐๐ฅ๐๐๐๐ก ๐๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐๐ก๐ง๐จ๐ ๐ฃ๐๐ก๐๐๐๐๐๐ก๐๐ง๐๐ก ๐๐๐ก๐๐ฆ๐ ?" (๐๐ฎ๐๐๐ ๐๐ฎ๐ฏ๐ถ๐ฏ ๐จ๐๐บ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ฏ๐ถ๐ฏ ๐๐น๐ถ ๐๐๐ถ๐๐ฎ๐ป๐ด)
Senin, 24 Agustus 2026
BENARKAH HABIB ABDULLAH AL-HADDAD BERKUASA DI ALAM KUBUR ?
Gelombang fitnah nampaknya akan terus menerpa anak cucu keturunan
Rasulullah SAW, dan ini adalah merupakan sejarah yang berulang, karena di masa
lalu ahlul bait Nabi juga pernah merasakan bagaimana mereka terus-menerus
dihujani berbagai fitnah, sehingga menyebabkan sebagian banyak yang berpindah atau hijrah ke berbagai negara untuk
menghindari berbagai intimidasi dan eksekusi dari para pembenci keturunan Nabi
Muhammad SAW terutama dari kalangan pemerintahan, tidak sedikit yang menemui
kematian demi mempertahankan kebenaran, dan tidak sedikit pula nasabnya yang
ditolak oleh para penguasa-penguasa yang zolim. Namun demikian dari mereka
banyak juga yang mendapatkan tempat terhormat di mata masyarakat karena keluhuran
akhlaknya.
Pada masa sekarang fitnah juga telah merambah ke negeri kita, salah
satunya adalah fitnah kepada Bani Alawi. Salah satu fitnah yang terus menerus
yang dilakukan secara sistematis adalah pemutusan nasab kabilah tersebut dengan
kata lain nasab Bani Alawi tertolak dan itu sudah hampir berlangsung sekitar 4
tahunan. Fitnah-fitnah tersebut bahkan sudah tersebar luas, utamanya ditujukan kepada tokoh-tokoh yang berpengaruh
pada kabilah Bani Alawi. Setelah fihak pembenci keturunan Nabi Muhammad SAW
(Kaum Nawashib) menghantam habis profil Imam Ubaidhillah, Imam Al-Faqih Al-Muqaddam, Imam
Syekh Abubakar Asy-Syakron, maka sasaran kaum nawashib tersebut selanjutnya
adalah seorang Imam besar dan ahli tassawuf yang sangat berpengaruh di kalangan
dunia Islam terutama Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang bernama Imam Abdulllah
Al-Haddad. Nampaknya memang para pemuka Bani Alawi akan terus mereka hancurkan
kredibilitasnya demi memperkuat klaim mereka yang menyatakan Bani Alawi nasabnya
terputus, dengan menghajar habis-habisan para tokoh Bani Alawi, mereka
berkeyakinan nasab keturunan dari Imam Ahmad Al-Muhajir, akan rungkad
serungkatnya.
Hantaman pertama mereka terhadap sosok Imam Abdullah Al-Haddad, adalah
tentang plagiatnya bacaan Ratibul Haddad yang selama ini banyak dibaca di
berbagai majelis dan pesantren di Indonesia seperti Pondok
Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur yang didirikan K.H.
R. As'ad Syamsul Arifin. Bahkan Ratib Al-Haddad juga menjadi menu utama wirid
harian di ratusan pesantren salaf lain seperti di Cirebon, Indramayu (contohnya
Ponpes Miftahul Ulum), Tuban (Ponpes Nurul Qur'an), serta berbagai majelis
taklim di bawah bimbingan para Habaib (keturunan Imam Al-Haddad) di Jakarta,
Bogor, Pekalongan, Solo, hingga NTB.
Tuduhan terhadap kredibilitas Ratibul Haddad mulai sedikit mereda
apalagi setelah ada seorang kyai menantang untuk membuktikan klaim bahwa Ratib Haddad
tersebut palsu kepada mereka yang menuduh tersebut. Namun apakah dengan itu
tuduhan kepada Imam Abdullah Al-Haddad berhenti sampai disitu saja ? Ternyata
tidak ! karena ada tuduhan baru yang tidak kalah kejinya, tuduhan tersebut
adalah dikatakan bahwa Habib Abdullah Al-Haddad mampu dan berkuasa di alam
kubur sehingga sampai keluar pernyataan,
“kalau ditanya malaikat alam kubur, maka jawab saja, “Habib Abdullah Al-Haddad
?”
Benarkah pernyataan ini ???
Berdasarkan biografi beliau, pernyataan tersebut justru bertentangan
dengan akidah dan prinsip utama yang dianut oleh Habib Abdullah Al-Haddad.
Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad adalah seorang ulama besar pembaharu
(mujaddid) dan seorang ulama salaf yang sangat ketat menjaga kemurnian
akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Beliau dikenal luas
dengan julukan Syaikhul Islam, Quthbud Da'wah wal Irsyad (Poros
Dakwah dan Petunjuk), serta diakui sebagai Mujaddid (Pembaharu) Abad ke-11
Hijriah dalam bidang ilmu, iman, dan ihsan. Beliau seorang Mujaddid yang
tentunya lisannya terjaga dan jauh dari karya-karya yang tendensius apalagi perilaku
aneh seperti tuduhan diatas. Sekalipun kondisi fisik beliau terbatas, yaitu
tuna netra, namun tidak menghambat beliau untuk berkreatifitas dalam berdakwah
dan dari track record beliau belum pernah terdengar keluar pernyataan yang
menyimpang dari akidah yang beliau ajarkan.
Dalam sejarahnya, beliau
belajar kepada tidak kurang dari 140 ulama besar di masanya. Ini menandakan
kedalaman dan keluasan ilmunya. Beliau sosok yang haus akan ilmu namun juga
ikhlas dalam menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Rumah dan majelis beliau di Tarim
menjadi pusat rujukan umat Islam dari berbagai penjuru dunia untuk belajar
tasawuf, akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Asy'ariyah), fikih, DAN PEMBERSIHAN
JIWA (TAZKIYATUN NAFS). Beliau meninggalkan banyak karya tulis yang
menjadi rujukan utama di berbagai pesantren dan lembaga Islam di seluruh dunia,
Dalam seluruh karya tulis beliau seperti kitab An-Nashaih
ad-Diniyyah, Risalatul Muawanah, dan Ad-Da'wah
at-Tammah beliau selalu menegaskan bahwa KESELAMATAN SEORANG HAMBA
DI DUNIA DAN AKHIRAT, TERMASUK DI ALAM KUBUR, BERGANTUNG SEPENUHNYA PADA
KEIMANAN YANG LURUS KEPADA ALLAH SWT DAN MENGIKUTI PETUNJUK RASULULLAH SAW.
Tidak ada satu pun kalimat di dalam kitab-kitab beliau, atau dalam
ijazah wirid dan ratib beliau, yang mengajarkan kesesatan semacam itu. Beliau
justru adalah ulama yang paling gigih meluruskan penyimpangan akidah dan bid'ah
yang batil.
Tidak ada ruang
bagi seorang manusia sehebat apa pun kedudukannya di sisi Allah, apakah itu
seorang wali, syekh, atau habib untuk menggantikan posisi Allah sebagai Rabb
atau Nabi Muhammad sebagai Rasul dalam jawaban kubur. Mengarahkan jawaban kubur
kepada selain Allah dan Rasul-Nya adalah bentuk kesyirikan yang sangat nyata,
dan mustahil seorang wali Allah seperti Habib Abdullah Al-Haddad mengajarkan
kesyirikan kepada umatnya.
Bila demikian bagaimana akar munculnya ftnah seperti ini ?
Biasanya tuduhan semacam ini biasanya muncul akibat beberapa faktor:
- Cerita yang
berlebihan dari oknum pengikut yang jahil (Ghuluw): Terkadang, ada sebagian kecil orang awam
yang memiliki rasa takzim (kecintaan) berlebihan kepada seorang guru atau
wali, lalu membuat-buat cerita karomah atau kisah fiktif yang melampaui
batas syariat sehingga menyebabkan interpretasi yang liar dari masyarakat
yang pada ujungnya bisa menyebabkan pandangan miring kepada para wali
tersebut seperti halnnya Imam Abdullah Al-Haddad. Cerita-cerita karangan seperti
itu kemudian digeneralisir seolah-olah itu adalah ajaran resmi sang ulama,
padahal para ulama itu sendiri seperti Imam Abdullah Al-Haddad berlepas
diri darinya. Siapapun dia jika sudah berlebih-lebihan seperti hal diatas
maka tidak patut omongannya atau tulisannya dijadikan hujjah.
- Upaya Adu
Domba & Propaganda Hitam: Ada pihak-pihak tertentu yang memang sengaja menyebarkan
disinformasi untuk mendiskreditkan para habaib, ulama tarekat, atau
tradisi keagamaan tertentu (seperti pembacaan ratib dan maulid) dengan
cara memelintir ajaran mereka agar tampak menyimpang dari akidah Islam.
Seperti yang kita ketahui Imam Abdullah Al-Haddad salah satu tokoh tarekat
dan sufi besar dalam dunia Islam, dan sampai saat ini tidak bisa
dipungkiri bahwa gerakan tarekatnya melalui ajaran-ajaran kesufiannya
banyak dianut oleh sebagian masyarakat
Islam terutama di Indonesia, namun demikian tidak bisa dipungkiri pula
bahwa para tokoh-tokoh sufi termasuk Imam Abdullah Al-Haddad masih terus
mendapat kritik dari orang-orang yang memandang tarekat atau dunia
tassawuf sebagai ajaran-ajaran yang menyimpang dari Islam.
Kesimpulan dari tuduhan bahwa umat Islam diajarkan menjawab "Habib
Abdullah Al-Haddad" saat ditanya malaikat di alam kubur adalah FITNAH
MURNI TANPA SANAD, TANPA DALIL, DAN BERTOLAK BELAKANG DENGAN SELURUH AJARAN
HIDUP HABIB ABDULLAH AL-HADDAD. Sebagai umat Islam yang berpikir objektif,
kita wajib menyaring setiap informasi dan mengembalikannya kepada timbangan
Al-Qur'an, Sunnah, serta merujuk langsung pada kitab-kitab asli karya ulama
yang bersangkutan.
Tidak ada seorang ulama muktabar pun, termasuk
Habib Abdullah Al-Haddad, yang mengajarkan umatnya untuk menyimpang dari akidah
tauhid yang benar. Ajaran para wali dan ulama salaf selalu mengarahkan
murid-muridnya untuk menjawab dengan jawaban tauhid yang murni: "Rabbi
Allah, wa Al-Islamu dini, wa Muhammadun nabiyyi."
Wallahu A’lam bisshowab…
Kamis, 20 Agustus 2026
AL-FAQIH MUQQODDAM MI’RAJ 70 X, APA MAKSUDNYA ?
Salah satu tokoh penting yang menjadi pondasi dan rujukan dalam kehidupan para Habaib, tersebutlah nama Al-Imam Muhammad bin Ali Ba’alawi Al-Husaini yang berlaqobkan Al-Faqih Muqaddam. Secara nasab Al-Imam Muhammad bin Ali ini sepupuan dengan Al-Imam Abdul Malik Al-Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih karena Imam Alwi Ammul Faqih dan Imam Ali Baalawii mempunyai ayah yang bernama Imam Muhammad Shohib Mirbath salah satu bagian nasab kunci Bani Alawi. Al-Imam Abdul Malik Al-Azmatkhan dipercaya sebagai leluhurnya Wali Songo. Walaupun saat ini ada beberapa fihak yang “alergi’ untuk menasabkan Wali Songo ke Imam Abdul Malik Al-Azmatkhan karena berkerabat dengan Bani Alawi yang menurut fihak-fihak tersebut nasabnya terputus, namun tidak sedikit yang meyakini bahwa Imam Abdul Malik Al-Azmatkhan adalah leluhur Wali Songo (silahkan pelajari tulisannya Prof. KH Abdullah bin Nuh, HMH Al-Hamid Al-Husaini, Prof Tareck Chihab, Prof. Hamka serta masih banyak lagi yang lainnya). Saya sendiri lebih cenderung kepada pendapat Prof. KH Abdullah bin Nuh dan HMH Al-Hamid Al-Husaini yang memang ahli dalam bidang sejarah Islam.
Mengenai Imam
Muhammad bin Ali Ba’alawi saat ini ramai namanya diperbincangkan oleh mereka yang
anti terhadap nasab Bani Alawi ? Karena pada dasarnya Imam Muhammad bin Ali ini
adalah salah satu yang merupakan nasab kunci Bani Alawi, dari beliau nanti akan
banyak lahir klan-klan besar yang menyebar ke berbagai belahan dunia. Sedangkan
Imam Alwi Ammul Faqih hanya memunculkan klan sekitar 12 klan termasuk Bani
Abdul Malik Al-Azmatkhan. Populasi klan Imam Muhammad bin Ali Baalawi ini
banyak memegang peranan kunci dalam kehidupan masyarakat Islam di berbagai belahan
dunia. Dengan hijrah mereka banyak yang sukses dalam penyebaran Islam.
Imam Muhammad bin
Ali Baalawi kelak dalam kehidupannya mendapat laqob AL-FAQIH AL-MUQADDAM.
Adapun arti laqob tersebut adalah :
FAQIH : Faqih
karena keluasan ilmunya dalam bidang hukum Islam. Beliau tidak hanya menjadi
rujukan dalam urusan fatwa dan hukum harian masyarakat di zamannya, tetapi juga
berhasil menghidupkan dan mengokohkan pengajaran fikih Mazhab Syafii secara
sistematis di bumi Hadhramaut.
MUQADDAM : Julukan
Al-Muqaddam diberikan karena beliau diposisikan oleh para ulama dan
masyarakat sezamannya sebagai pemimpin utama (muqaddam) di antara para
ulama dan tokoh masyarakat lainnya di Hadramaut , baik dalam kedudukan
keilmuan, kepemimpinan spiritual, maupun ketokohan sosial.
Oleh karena itu,
gelar Al-Faqih Al-Muqaddam mencerminkan sosok ulama besar yang memadukan
antara kedalaman ilmu syariat (fikih) dengan kepemimpinan spiritual yang
mengutamakan kedamaian dan kemaslahatan umat. Artinya gelar yang diberikan
kepada beliau tidak terlalu berlebihan dan itu merupakan pemberian masyarakat
Hadramaut yang menghargai dan mencintai beliau sebagai tokoh panutan.
Nama Al-Faqih
Al-Muqaddam saat ini menjadi sasaran tembak yang paling kejam setelah nama Imam
Ubaidhillah. Beliau mendapatkan tuduhan yang keji terutama dengan Istilah "Mi'raj 70 kali sehari" yang
dinisbatkan kepadanya. Narasi ini adalah salah satu yang paling populer yang
sering memicu perdebatan sengit sekaligus bahan ejekan (olok-olok) di media
sosial oleh pihak-pihak yang kritis atau tidak menyukai kelompok habib.
Jika demikian, dari mana sebenarnya asal usul cerita “Mi’raj 70 x kali ini ?
Kisah ini bersumber dari kitab-kitab ู
ูุงูุจ (manaqib atau biografi
kewalian) klasik kalangan Ba'alawi yang mencatat perjalanan spiritual
tokoh-tokoh sufi besar.
Dalam tradisi
tasawuf ekstrem atau sufisme tingkat tinggi, ungkapan-ungkapan para wali
seringkali menggunakan bahasa pengalaman batin (dzauq), kasyaf (bukanya tabir
gaib), ATAU METAFORA SPIRITUAL YANG SANGAT TINGGI, yang jika dibaca
dengan logika teks mentah oleh orang awam atau luar tradisi tasawuf, akan
terdengar sangat janggal dan berlebihan.
Bagi kalangan
yang mempercayai atau melestarikan riwayat tersebut, maksud dari ungkapan
"Mi'raj berkali-kali" bukanlah berarti yang bersangkutan naik roket
atau fisik menembus langit ketujuh secara fisik biologis seperti Nabi Muhammad
SAW.
Makna Mi'raj
secara Bahasa: Kata mi'raj secara harfiah berarti "alat untuk naik"
atau "proses naik". Dalam dunia tasawuf, mi'raj ruhiyah (naiknya
ruh/kesadaran spiritual seorang hamba kepada Allah SWT) diartikan sebagai
kedalaman maqam makrifat, kedekatan batin, dan terbukanya hijab spiritual
kepada Allah.
Karya Sastra
dan Ungkapan Spiritual (Majaz / Kiasan):
Dalam tradisi literatur tasawuf klasik, para sufi memang sering menggunakan BAHASA-BAHASA
SIMBOLIK, METAFORA, DAN SASTRA ROHANI yang tinggi untuk menggambarkan
kebersihan hati, kedalaman makrifat, serta intensitas ibadah yang luar biasa (mi'raj
al-qalb atau kenaikan maqam ruhani di hadapan Allah dalam bentuk
kekhusyukan). Kalau kita tidak hati-hati dalam memahaminya bisa bingung, oleh
karena itu perlu adanya seorang “pembimbing” atau mursyid untuk menerangkan hal-hal
seperti ini. Para ulama sejak dulu menegaskan bahwa ungkapan METAFORIS PARA
SUFI tidak boleh ditelan mentah-mentah secara harfiah oleh orang awam tanpa
memahami kaidah ilmu tasawuf. Kesalahan dalam memahami bahasa sastra rohani
inilah yang sering melahirkan kesalahpahaman fatal di tengah masyarakat.
Pengalaman
Spiritual: Maksud dari angka "70 kali" adalah gambaran betapa
seringnya hati sang wali mengalami "kenaikan" kualitas makrifat,
kebersihan jiwa, dan kefanaan dalam dzikrullah dalam waktu sehari, karena
tingkat konsentrasi ibadah dan kebersihan hatinya yang luar biasa. Jadi, ini
dipahami sebagai METAFORA kedekatan ruhani (maqam kewalian), bukan
menyaingi mukjizat fisik Nabi Muhammad SAW.
Para ulama
Hadhramaut termasuk keturunan Al-Faqih Al-Muqaddam sendiri senantiasa
mengajarkan bahwa setinggi apa pun derajat kewalian seseorang, seorang wali
tidak akan pernah bisa, tidak boleh mengklaim, dan tidak akan menandingi
mukjizat kenabian. Jika kalimat mi'raj diartikan secara harfiah (fisik
naik ke langit menyaingi Nabi), maka hal itu batil, sesat, dan tertolak
secara ijma'.
Sejarah perjalanan
hidup Imam Al-Faqih Al-Muqaddam pada akhirnya beliau memang dikenal sebagai
seorang Faqih (ahli fikih mazhab Syafii yang sangat ketat menjaga
sunnah, tawadu, dan menghidupkan syariat). Beliau tidak pernah mendakwahkan
hal-hal yang mencederai akidah. Jika ada klaim berlebihan yang disandarkan
kepada beliau dalam kitab-kitab tertentu, para ulama menilainya sebagai bentuk
penyisipan teks, riwayat yang lemah, atau ungkapan metaforis yang
disalahartikan oleh pihak luar.
Namun jika
dasarnya memang mereka anti terhadap gerakan sufism, apalagi yang banyak dianut
Bani Alawi, rasanya penjelasan diatas sepertinya tidak mengena ya ? Tapi bagi
anda yang telaten dan senang dengan manaqib para wali, apa yang terjadi pada
Al-Faqih Al-Muqaddam bukanlah hal yang aneh, karena kisah Syekh Abdul Qodir
Al-Jilani bahkan lebih spektakuler lagi ? Tapi apakah semua itu melebihi Mujizat
Nabi Muhammad SAW ? Ya tentu tidak dong, karena apa yang terjadi Al-faqih
Muqaddam ataupun Syekh Abdul Qadir Al-Jilani adalah KERAMAT yang statusnya
dibawah Mu’jizat. Nah kalau sudah faham hal ini maka cerita “Mi’raj 70x kali”
bukanlah cerita aneh apalagi sampai menyamakan mi’rajnya Rasulullah SAW ke
langit dan menemui Allah SWT….
Tamat….
"๐ฒ๐ฌ๐ป๐ผ๐น๐ผ๐ต๐จ๐ต ๐ต๐จ๐ฉ๐ฐ ๐ด๐ผ๐ฏ๐จ๐ด๐ด๐จ๐ซ ๐ซ๐จ๐ต ๐ด๐จ๐ผ๐ณ๐ฐ๐ซ ๐ต๐จ๐ฉ๐ฐ ๐ป๐ฐ๐ซ๐จ๐ฒ ๐จ๐ซ๐จ ๐ซ๐ฐ ๐จ๐น๐จ๐ฉ ๐บ๐จ๐ผ๐ซ๐ฐ ?"
Rabu, 19 Agustus 2026
"RANTAI EMAS" HABIB TURUN KE BUMI ?
"H. MUTAHAR SEORANG HABIB"
Setelah perayaan 17 Agustus selesai, rupanya ada satu hal yang masih rame, yaitu mengenai siapakah sesungguhnya H. MUTAHAR SANG PENYUSUN lagu HARI MERDEKA ?
KITAB SEZAMAN SYARAT MUTLAK NASAB ?
Di tahun 2006 s/d 2012 hal ini pernah sempat ramai dibahas oleh para penggiat nasab, saya masih ingat betul bagaimana sahabat² dan juga beberapa orang yang nasabnya berasal dari Wali Songo dan Kesultanan Nusantara meradang karena nasabnya tidak diakui oleh beberapa fihak hanya karena datanya tidak tercatat pada zamannya.