Rabu, 19 Agustus 2026

KITAB SEZAMAN SYARAT MUTLAK NASAB ?

Di tahun 2006 s/d 2012 hal ini pernah sempat ramai dibahas oleh para penggiat nasab, saya masih ingat betul bagaimana sahabat² dan juga beberapa orang yang nasabnya berasal dari Wali Songo dan Kesultanan Nusantara meradang karena nasabnya tidak diakui oleh beberapa fihak hanya karena datanya tidak tercatat pada zamannya.

Benar memang untuk mengetahui sebuah nasab bisa melalui kitab, manuskrip atau lembaran silsilah. Tapi apakah semua itu sudah harga mati dalam verifikasi sebuah nasab ? Apakah bahan dari kertas itu menjadi sumber utama bisa menentukan status sebuah nasab ? Apakah menentukan validitas nasab itu cuma hanya 1 atau 2 metode saja ? Kalau hanya berdasarkan "kertas" betapa sempitnya kualitas ilmu nasab...
Saya sendiri saat itu tidak mau terlalu larut dalam perdebatan panas antara mereka yang mengakui dan menolak suatu nasab, saya lebih memilih terjun langsung untuk melacak jejak para leluhur untuk kemudian didokumentasikan. Saya lebih memilih menulis sambil melakukan diskusi dengan beberapa sahabat yang datang ke rumah.
Anda perlu tahu, saat konflik dan gejolak nasab itu pecah di tahun 2000an, banyak bermunculan foto foto yang bertebaran dibumbuhi tulisan "Si Kyai anu habib palsu" "si Gus itu Kyai palsu", "Habib kok pesek", " keturunan India Banglades ngaku habib" dan cap cap jelek lainnya..
Adanya permintaan kitab atau tulisan atau manuskrip sezaman untuk membuktikan satu nasab keturunan, itu tidak semudah yang dibayangkan, apalagi di Indonesia. Membuka nasab secara terbuka maka siap-siap diburu penjajah, karena kebanyakan zuriah para wali songo dan kesultanan banyak yang keras dan militan kepada penjajah. Selain itu konflik politik dengan penguasa negeri sendiri juga membuat mereka sangat berhati hati dalam membuka nasab, mereka banyak yang memilih berbaur dengan masyarakat dan mendirikan pondok pesantren.
Pemeliharaan nasab di Indonesia tidak seperti di negara timur tengah, karena banyak keturunan Wali Songo dan kesultanan yang menyebar ke pulau pulau terpencil pedalaman dan menjadi kemudian orang biasa. Otomatis pendataan nasab banyak yang terputus dari pusat kota kekuasaan yang dokumentasi pendataan nasab atau silsilahnya lebih terjaga.
Namun demikian jangan salah, untuk memelihara nasab, biasanya ada 1 orang dari keluarga besar yang dipercaya untuk menjaganya melalui hafalan hafalan yang diturunkan secara turun temurun. Orang tersebut harus terjaga integritasnya, kejujurannya merupakan harga mati. Dia juga diajarkan bagaimana memahami m karakter atau kebiasaan sebuah klan, bahkan ciri ciri atau tanda tanda fisik, dll, hal ini untuk menjaga nasab tersebut dari pemalsuan nasab dari orang luar. Kalau dulu dimasa Nabi Muhammad SAW orang yang punya kemampuan seperti itu disebut Qaif (Qiyafah).
Anda bisa bayangkan, betapa banyaknya nasab bakal runtuh kalau kaidah "KITAB SEZAMAN ATAU TULISAN SEZAMAN SYARAT MUTLAK DIAKUINYA SEBUAH NASAB". Padahal nasab tersebut sudah mashur dan shahih serta banyak kesaksian serta dikenal masyarakat sebagai sebuah nasab kabilah tertentu.
Contoh kasus yang mudah:
Di daerah pedalaman Sumatra Selatan itu banyak keturunan Wali Songo yang bersatu dengan Baalawi. Mereka banyak yang berbesanan sejak masa berdirinya Kesultanan Palembang. Hal ini pernah terjadi ketika istri kakak saya yang saya beri tahu kalau leluhurnya yang bernama Tuan Idrus Tanjung Salam keturunan Al Idrus, kakak ipar saya kaget karena saya tahu. Tidak lama kemudian ada keturunan Tuan Idrus Tanjung Salam menghubungi saya dan memberikan info penting kalau leluhurnya aslinya keturunan keluarga Basyaiban sebelum hijrah ke Jawa, Al Idrus adalah laqob toriqohnya.
Selain kasus diatas, ternyata keturunan Kesultanan Palembang dan Banten bahkan banyak yang berbesanan dengan Baalawi. Dan itu banyak datanya dan tersimpan dengan baik. Ini belum lagi yang ada di Jawa yang mungkin lebih banyak. Dulu juga pernah saya ketemu seorang habib yang saat itu cuma hafal lima nama karena mereka tinggalnya di sebuah pulau di Maluku. Tapi begitu ketemu senangnya bukan main, cuma dia mengatakan bahwa selama ini memang leluhurnya sudah berbaur dengan masyarakat pribumi.
Adanya syarat mutlak kitab sezaman, jelas akan membuat orang patah hati atau patah semangat terutama para pejuang nasab yang mati obor pada nasabnya. Mati obor pada nasab itu jumlahnya tidak sedikit, hal ini terjadi karena pada masa lalu leluhur mereka lebih banyak menutup diri karena banyaknya pertimbangan. Belum lama ini satu sahabat saya buka kartu kalau sebenarnya bapaknya keturunan Tubagus, tapi oleh bapaknya gelar Tubagus sengaja gak digunakan karena beralasan lebih penting mendahulukan akhlak.
Dulu itu, saat konflik nasab memanas antara para kyai pejuang nasab dengan beberapa habaib, para sesepuh banyak yang berusaha menengahi, tapi sepertinya belum berhasil, karena masing masing fihak bersikeras.
Saya pernah berkata (Insya Allah saksi saksinya masih ada) di kisaran tahun tahun 2012 sd 2017, "Kalau syarat kitab sezaman atau tulisan sezaman ini menjadi syarat mutlak, untuk menentukan syarat validnya sebuah nasab atau kalau ada fihak fihak yang masih membatalkan nasab keturunan Wali Songo saya khawatir dan bukan tidak mungkin FITNAH BESAR akan melanda kepada mereka yang membatalkan nasab para wali.. "
Dan benar saja, akhirnya meledak dan efeknya sangat jahat. Mereka dulu yang katanya pernah dizolimi nasabnya justru membalas lebih kejam, tanpa pilih pilih tanpa pandang bulu siapapun kabilah yang pernah membatalkan wali songo harus dihancurkan sampai ke akar akarnya tidak perduli dia ulama atau Waliyullah pokoknya nasabnya mardud alias tertolak. Padahal sebenarnya yang mengakui nasab Wali Songo juga ada seperti HMH Al-Hamid Al Husaini. Sedangkan yang menolak nasab Wali Songo orangnya yang itu itu juga walaupun pendukung serta loyalisnya juga hampir sama polanya ketika fihak fihak tersebut membatalkan nasab Wali Songo.
Pembalasan kejam dari mereka yang katanya dari Zuriah Wali Songo dengan memakai pola yang sama yaitu adanya syarat kitab sezaman, pada sudah menyentuh wilayah SARA. Sebuah ironi besar mengingat Wali Songo ajarannya banyak yang bernuansa Sufistik yang jelas jelas bertolak belakang dengan hal tersebut.
Perancis untuk memberi pelajaran dan meledek kepada USA yang sombong dengan ungkapan "No Document No History". Perancis tahu USA sejarahnya terputus dengan masa lalu karena mereka baru berdiri abad 18. Akhirnya Amerika kesal, dan mulailah mereka mengumpulkan dan menghimpun sejarah negara demi untuk mengcounter ungkapan perancis tersebut. Dan kita tahu betapa lengkapnya USA dalam mengumpulkan sejarah, tidak tanggung tanggung, mereka bahkan punya data data silsilah yang lengkap. Cek aja bagaimana perjalanan silsilah para Presidentnya. Lihat aja betapa seriusnya mereka mengumpulkan hasil DNA dari berbagai bangsa....
Jadi kitab sezaman sebagai syarat mutlak sahnya sebuah nasab adalah blunder fatal, karena nasab orang orang pada masa sebelum dan sesudah Nabi Muhammad SAW l, itu dengan cara dihafal secara turun temurun bukan dari kitab sezaman...apa jadinya kalau standar ini digunakan, bisa hancur dan rusak nasab bangsa Quraisy, padahal Abu Bakar Asshidiq dan Umar bin Khattab dikenal sebagai orang orang yang ahli dalam nasab dan itu semua melalui hafalan....