Dalam beberapa hari ini saya banyak dijapri oleh beberapa kerabat dan juga sahabat untuk menanggapi viralnya makam salah satu tokoh Islam kontroversial di Tanah Jawa yaitu Aria Penangsang.
Kenapa pula saya dijapri ? Mungkin karena ada yang beranggapan saya bisa menjawab itu...mungkin ya...
Persoalan banyaknya makam seorang tokoh memang menjadi dilema sejarah pada bangsa ini karena untuk menyatakan keaslian suatu makam diperlukan "pengetahuan khusus" yang tentunya dilandasi dengan nilai nilai ilmiah, namun bagi mereka yang terbiasa dalam menekuni budaya bangsa ini, rasanya hal tersebut juga bukan hal yang menghebohkan..
Banyaknya jejak makam seorang tokoh menandakan bahwa tokoh tersebut "besar namanya" sekalipun dia sosok kontroversial seperti halnya Arya Penangsang. Selain Arya Penangsang nama Syekh Siti Jenar, Sunan Bonang, Maulana Magribi, Syekh Jumadil Kubro juga banyak makamnya. Namun untuk kasus Arya Penangsang, saking kontroversialnya, keturunannya pun dianggap musnah, kisahnya dijadikan olok olok Ketoprak dan bahkan dijadikan bagian adat pernikahan dengan bunga melati yang disampirkan pada keris pengantin pria. Padahal dalam sebuah tulisan De Graff, tahun 1549 diketahui ada 24 bangsawan Demak yang hijrah ke Palembang yang mayoritas adalah keluarga Jipang Panolan, tidak kalah mengejutkan di Lampung ditemukan Lempengan besi yang dinamakan PIAGAM ING JIPANG. Ini menandakan Sejarah Klan Demak tidak berakhir pasca peristiwa pertempuran di Jipang Panolan.
Pertanyaan terpentingnya, apakah benar makam di Kudus makam Arya Penangsang ?
Kota Kudus dalam sejarahnya merupakan kota terpenting dalam hidup Arya Penangsang, disana Arya Penangsang mondok puluhan tahun dibawah bimbingan Sunan Kudus, bahkan kelak Arya Penangsang dinikahkan dengan salah satu cucu Sunan Kudus. Tapi untuk mengatakan itu makamnya jelas masih butuh pembuktian sejarah. Namun bila dikatakan itu maqom atau petilasan bisa masuk logika sejarah karena memang Kudus bukan daerah yang asing buat tokoh yang pernah menjadi Mangkubumi Jayakarta tahun 1540 -1546 Masehi.
Bagaimana makamnya yang ada di samping Masjid Demak dan komplek makam Kadilangu Sunan Kalijaga ? Bagaimana pula dengan yang ada di Jipang Blora ? Terus bagaimana pula tentang keberadaan makamnya yang ada di Ogan Ilir Sumatra Selatan yang posisinya hanya 1 jam dari Palembang ?
Kedua makam yang ada di Demak diyakini asli, namun pertanyaan terbesarnya apakah disana ada jasad utuh ? Atau bagian tubuhnya ? Apakah bukan hal yang aneh kalau dinyatakan beliau tewas di Jipang (Blora) terus mayatnya dibawa ke Demak padahal sudah pasti membusuk mengingat jarak Blora dan Demak sangat jauh.
Rasanya agak janggal, karena bagaimana mungkin Kesultanan Demak yang menjunjung tinggi syariat Islam dan dibawah bimbingan para wali mengajarkan para bangsawan Demak menjadi manusia² kanibal dan brutal dengan memotong motong jasad Arya Penangsang yang katanya sudah terbunuh dengan cara memalukan ? Dengan alasan apa Arya Penangsang dianggap punya ilmu Rawa Rontek hingga harus dipotong potong tubuhnya ? Rawa Rontek adalah ilmu yang dianggap hitam oleh sebagian orang padahal Arya Penangsang adalah penganut Islam Putihan dan beliau juga seorang penganut tarekat yang kuat.
Hal yang mengejutkan, nama Arya Penangsang juga pernah digunakan pada era selanjutnya dan ini lagi lagi saya temukan pada tulisan De Graff.
Jadi kesimpulan sementara diantara sekian makam pasti ada yang asli dan pasti ada yang bukan, bagaimana mengatakan itu asli atau bukan ? Ya perlu penelitian dan pengetahuan yang lebih mendalam...saya saja melacak sejarah dan makam beliau sejak tahun 1992, dan sampai sekarang masih terus berjalan, jadi untuk sementara saya anggap makam yang ada di Kudus masih menjadi bagian penelitian dalam melacak.sejarah tokoh kontroversial ini.
Kita juga perlu arif namun hati hati dalam menyikapi informasi tersebut....kalau muncul informasi atau data data baru padahal ratusan tahun dinyatakan tidak ada, jangan buru buru memvonis kalau hal hal seperti itu palsu, kecuali memang itu terjadi karena ada unsur unsur materi atau kepentingan terselubung seperti membuat makam palsu untuk meraih untung, membuat makam palsu untuk merusak sejarah, membuat makam palsu karena menguasai lahan, membuat makam palsu demi untuk daerahnya terkenal, membuat makam palsu karena keluguan masyarakat, dll...