Namanya kita dapatkan dalam kitab "Tarikh Baghdad" karangan Al-Khatib Al-Baghdadi, yaitu dalam bagian Jarir At-Tabari, itu ahli sejarah yang terkenal. Di situ dikutip beberapa kalimat dari kata-katanya, demikian : "Aku (Muhammad bin Jarir At-Tobari) telah terima sepucuk surat dari Al-muhajir Al-imam Ahmad bin 'Isa Al'alawi dari Basrah".
Jadi ia itu hidup di zamannya At-Tobari, penyusun kitab "Tarikh at-Tobari" yang terkenal itu, terdiri dari 13 juz.
Dalam kitab "Musnad al-Imam Ahmad bin Tsa terdapd riwayat hidup singkat baginya, demikian Ia (Almuhajir Ahmad bin 'Isa) dilahirkan di Basrah ('Irak) pada malam Jum'at tanggal 13 Jumadil awal, tahun 241 Hijrah, pada masa masih hidup kakeknya (Muhammad An-Naqib). Ia adalah anak kedua bagi ayahnya ('Isa bin Muhammad), satu tahun enam bulan lebih muda daripada kakaknya (Muhammad bin 'Isa), Ia, di antara saudara-saudaranya, adalah yang paling panjang usianya, ia hidup lebih dari seratus tahun. Berhubung dengan kelahirannya itu, maka kakeknya mengadakan walimah pada hari ketujuhnya, dihadiri oleh seorang Imam Ahli Hadits, yaitu Abu Tohir Ahmad bin Harun bin Musa Al-Kadzim bin Ja'far As-Sadiq, guru besar Irak pada masa itu. Hadir pula disitu Al-Imam Ishak bin 'Abbas bin Ishak bin Musa Al-Kadzim, terkenal dengan julukan Al-Mahlus al-Akbar, naqib dari segala naqib-naqib di Wasit, ketika itu ia sedang ada di Basrah, yaitu pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil dari Bani'Abbas.
Ia (Almuhajir) adalah penghafal Al-Qur'an, belajar qiraat 'Asim pada Imam Qasim bin Ahmad al-Khayyat, dan padanya pula ira belajar; huruf rasm, tajwid dan 'ilmu-ilmu Al-Qur'an, Nahwu, 'arabiyah dan sastera telah ia pelajari pula pada Imam, Abu 'Ali Hasan bin Dawud bih Hasan bin 'Awn bin Munzir bin Sobih al-Qurasyi, yaitu yang terkenal dengan nama julukan An-Naqqar An-Nahwi Al-Kufi, seorang imam dalam ilmu logat (lughah) pada masa itu. Dalam ilmu Fiqh, ia (Ahmad Almuhajir) mula-mula bermazhab Ja'fari, tegasnya berittiba' kepada ijtihadnya Imam Ja'far As-Sadiq, lalu kemudian ber-ijtihad sendiri, dengan pengertian mendalam tentang riwayat Hadits dan ilmui-lmu yang berhubungan dengan itu. Akhimya cenderunglah ia kepada mazhab Imam Syafi'i dalam istidlal dan mu'amalatnya, dan selanjutnyapun tetaplah ia berpendirian demikian. (Karena itulah maka keturunannya dan murid-muridnya semua bermazhab Syafi'i).
Untuk menuntut ilmu, selain di Basrah, ia pergi ke Baghdad, Wasit, Persi, Asfahan, Kufah, Di sana ia belajar dengan langsung pada gum-guru besar dalam ilmu Hadist. Ia pernah belajar pada Bisyr bin Haris Al-Hafi (seorang tokoh yang sering disebut namanya oleh Imam Ghazali datam karangan-kanngannya). Pernah pula ia mengalap ilmu sastera pada Ahmad bin Faraj Ar-Riasyi. Akhimya kembalilah ia ke Basrah, di mana ia memegang jabatan Naqib, menggantikan saudaranya yang meninggal. Jabatan Naqib itu ialah jabatan khas untuk pemeliharaan silsilah, kelahiran dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keturunan dsb. Kemudian ia pegang pula direksi unrsan wakaf bagi golongan para syarif dengan pengesahan dari Khalifah Bani 'Abbas. Kemudian bersuluklah ia dan berhubungan dengan para ahli tasawwuf, suka berkhalwat, akhirnya ditinggalkannyalah segala jabatan itu, terutama setelah menyaksikan peristiwa-peristiwa pemberontakan bangsa Zinji (Negro) di sana, yang menyerbu masuk ke Basrah, di mana terbunuh Ahmad bin Faraj Riasyi. Diwaktu itu ia (Almuhajir) bersembunyi dalam Sebuah sumur dengan keluarganya. Kemudian keadaan bertambah kacau dengan datangnya kaum Karamitah di Basrah. Akhlrnya berhijrahlah ia mula-mula ke Hijaz di bulan Bajab 316 Hijrah, beserta isterinya, Sayyidah Zarnab binti 'Abdullah bin Hasan bin 'Ali 'Uraidi bin Ja'far Sadiq. ๐๐ค๐ฎ๐ญ ๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐ ๐ฉ๐ฎ๐ญ๐๐ซ๐๐ง๐ฒ๐ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐ง๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐ฎ๐ฅ๐ฅ๐๐ก (๐ค๐๐ฆ๐ฎ๐๐ข๐๐ง ๐๐ข๐ฌ๐๐๐ฎ๐ญ ๐จ๐ซ๐๐ง๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐) ๐๐๐ซ๐ฎ๐ฌ๐ข๐ 20 ๐ญ๐๐ก๐ฎ๐ง. Demikian pula ikut dalam perjalanan ini beberapa orang lainnya, diantaranya beberapa putera dari Husain bin 'Ali Hadi bin Muhammad Jawad bin 'Ali Rido bin Musa Kazim.
Almuhajir dan rombongannya keluar dari Basrah menuju Bagdad, lalu melanjutkan perjalanan ke Damsik, kemudian menuju Madinah. Mereka sampai di Madinah pada tanggal 18 Syawal 316 H.
Ada beberapa orang tetap tinggal di Basrah yaitu : puteranya bernama Muhammad bin Ahmad, mewakili ayahnya sebagai naqib para Syarif, dan beberapa orang lagi dari putera-putera saudaranya, (Muhammad bin 'Isa).
Dalam perjalanannya ke Hijaz, mereka singgah di Mosul, Palestina, Syam. Akan tetapi setelah sampai di Madinah, maka dalam tahun itu pula kaum Karamitah masuk ke Madinah dan. Makkah di mana mereka mengacau dan melakukan pembunuhan terhadap jema'ah haji. Maka dilanjutkannyalah hijratrnya itu ke Yaman pada tahun 317 H. Kemudian berpindahlah ia dari negeri ke negeri orang supaya ia pergi ke Hadramaut untuk rnenyebarkan itmu dan hidayat di sana. Maka berhijrahlah ia di negeri Hadramaut.
Sumber :
KH Prof. Mama Ajengan Abdullah bin Nuh, Ringkasan Sejarah Walisongo (Surabaya : Penerbit Teladan, Tanpa Tahun), 16-20. Materi ini bisa diakses bebas dalam bentuk PDF.