Gelombang fitnah nampaknya akan terus menerpa anak cucu keturunan
Rasulullah SAW, dan ini adalah merupakan sejarah yang berulang, karena di masa
lalu ahlul bait Nabi juga pernah merasakan bagaimana mereka terus-menerus
dihujani berbagai fitnah, sehingga menyebabkan sebagian banyak yang berpindah atau hijrah ke berbagai negara untuk
menghindari berbagai intimidasi dan eksekusi dari para pembenci keturunan Nabi
Muhammad SAW terutama dari kalangan pemerintahan, tidak sedikit yang menemui
kematian demi mempertahankan kebenaran, dan tidak sedikit pula nasabnya yang
ditolak oleh para penguasa-penguasa yang zolim. Namun demikian dari mereka
banyak juga yang mendapatkan tempat terhormat di mata masyarakat karena keluhuran
akhlaknya.
Pada masa sekarang fitnah juga telah merambah ke negeri kita, salah
satunya adalah fitnah kepada Bani Alawi. Salah satu fitnah yang terus menerus
yang dilakukan secara sistematis adalah pemutusan nasab kabilah tersebut dengan
kata lain nasab Bani Alawi tertolak dan itu sudah hampir berlangsung sekitar 4
tahunan. Fitnah-fitnah tersebut bahkan sudah tersebar luas, utamanya ditujukan kepada tokoh-tokoh yang berpengaruh
pada kabilah Bani Alawi. Setelah fihak pembenci keturunan Nabi Muhammad SAW
(Kaum Nawashib) menghantam habis profil Imam Ubaidhillah, Imam Al-Faqih Al-Muqaddam, Imam
Syekh Abubakar Asy-Syakron, maka sasaran kaum nawashib tersebut selanjutnya
adalah seorang Imam besar dan ahli tassawuf yang sangat berpengaruh di kalangan
dunia Islam terutama Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang bernama Imam Abdulllah
Al-Haddad. Nampaknya memang para pemuka Bani Alawi akan terus mereka hancurkan
kredibilitasnya demi memperkuat klaim mereka yang menyatakan Bani Alawi nasabnya
terputus, dengan menghajar habis-habisan para tokoh Bani Alawi, mereka
berkeyakinan nasab keturunan dari Imam Ahmad Al-Muhajir, akan rungkad
serungkatnya.
Hantaman pertama mereka terhadap sosok Imam Abdullah Al-Haddad, adalah
tentang plagiatnya bacaan Ratibul Haddad yang selama ini banyak dibaca di
berbagai majelis dan pesantren di Indonesia seperti Pondok
Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur yang didirikan K.H.
R. As'ad Syamsul Arifin. Bahkan Ratib Al-Haddad juga menjadi menu utama wirid
harian di ratusan pesantren salaf lain seperti di Cirebon, Indramayu (contohnya
Ponpes Miftahul Ulum), Tuban (Ponpes Nurul Qur'an), serta berbagai majelis
taklim di bawah bimbingan para Habaib (keturunan Imam Al-Haddad) di Jakarta,
Bogor, Pekalongan, Solo, hingga NTB.
Tuduhan terhadap kredibilitas Ratibul Haddad mulai sedikit mereda
apalagi setelah ada seorang kyai menantang untuk membuktikan klaim bahwa Ratib Haddad
tersebut palsu kepada mereka yang menuduh tersebut. Namun apakah dengan itu
tuduhan kepada Imam Abdullah Al-Haddad berhenti sampai disitu saja ? Ternyata
tidak ! karena ada tuduhan baru yang tidak kalah kejinya, tuduhan tersebut
adalah dikatakan bahwa Habib Abdullah Al-Haddad mampu dan berkuasa di alam
kubur sehingga sampai keluar pernyataan,
“kalau ditanya malaikat alam kubur, maka jawab saja, “Habib Abdullah Al-Haddad
?”
Benarkah pernyataan ini ???
Berdasarkan biografi beliau, pernyataan tersebut justru bertentangan
dengan akidah dan prinsip utama yang dianut oleh Habib Abdullah Al-Haddad.
Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad adalah seorang ulama besar pembaharu
(mujaddid) dan seorang ulama salaf yang sangat ketat menjaga kemurnian
akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Beliau dikenal luas
dengan julukan Syaikhul Islam, Quthbud Da'wah wal Irsyad (Poros
Dakwah dan Petunjuk), serta diakui sebagai Mujaddid (Pembaharu) Abad ke-11
Hijriah dalam bidang ilmu, iman, dan ihsan. Beliau seorang Mujaddid yang
tentunya lisannya terjaga dan jauh dari karya-karya yang tendensius apalagi perilaku
aneh seperti tuduhan diatas. Sekalipun kondisi fisik beliau terbatas, yaitu
tuna netra, namun tidak menghambat beliau untuk berkreatifitas dalam berdakwah
dan dari track record beliau belum pernah terdengar keluar pernyataan yang
menyimpang dari akidah yang beliau ajarkan.
Dalam sejarahnya, beliau
belajar kepada tidak kurang dari 140 ulama besar di masanya. Ini menandakan
kedalaman dan keluasan ilmunya. Beliau sosok yang haus akan ilmu namun juga
ikhlas dalam menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Rumah dan majelis beliau di Tarim
menjadi pusat rujukan umat Islam dari berbagai penjuru dunia untuk belajar
tasawuf, akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Asy'ariyah), fikih, DAN PEMBERSIHAN
JIWA (TAZKIYATUN NAFS). Beliau meninggalkan banyak karya tulis yang
menjadi rujukan utama di berbagai pesantren dan lembaga Islam di seluruh dunia,
Dalam seluruh karya tulis beliau seperti kitab An-Nashaih
ad-Diniyyah, Risalatul Muawanah, dan Ad-Da'wah
at-Tammah beliau selalu menegaskan bahwa KESELAMATAN SEORANG HAMBA
DI DUNIA DAN AKHIRAT, TERMASUK DI ALAM KUBUR, BERGANTUNG SEPENUHNYA PADA
KEIMANAN YANG LURUS KEPADA ALLAH SWT DAN MENGIKUTI PETUNJUK RASULULLAH SAW.
Tidak ada satu pun kalimat di dalam kitab-kitab beliau, atau dalam
ijazah wirid dan ratib beliau, yang mengajarkan kesesatan semacam itu. Beliau
justru adalah ulama yang paling gigih meluruskan penyimpangan akidah dan bid'ah
yang batil.
Tidak ada ruang
bagi seorang manusia sehebat apa pun kedudukannya di sisi Allah, apakah itu
seorang wali, syekh, atau habib untuk menggantikan posisi Allah sebagai Rabb
atau Nabi Muhammad sebagai Rasul dalam jawaban kubur. Mengarahkan jawaban kubur
kepada selain Allah dan Rasul-Nya adalah bentuk kesyirikan yang sangat nyata,
dan mustahil seorang wali Allah seperti Habib Abdullah Al-Haddad mengajarkan
kesyirikan kepada umatnya.
Bila demikian bagaimana akar munculnya ftnah seperti ini ?
Biasanya tuduhan semacam ini biasanya muncul akibat beberapa faktor:
- Cerita yang
berlebihan dari oknum pengikut yang jahil (Ghuluw): Terkadang, ada sebagian kecil orang awam
yang memiliki rasa takzim (kecintaan) berlebihan kepada seorang guru atau
wali, lalu membuat-buat cerita karomah atau kisah fiktif yang melampaui
batas syariat sehingga menyebabkan interpretasi yang liar dari masyarakat
yang pada ujungnya bisa menyebabkan pandangan miring kepada para wali
tersebut seperti halnnya Imam Abdullah Al-Haddad. Cerita-cerita karangan seperti
itu kemudian digeneralisir seolah-olah itu adalah ajaran resmi sang ulama,
padahal para ulama itu sendiri seperti Imam Abdullah Al-Haddad berlepas
diri darinya. Siapapun dia jika sudah berlebih-lebihan seperti hal diatas
maka tidak patut omongannya atau tulisannya dijadikan hujjah.
- Upaya Adu
Domba & Propaganda Hitam: Ada pihak-pihak tertentu yang memang sengaja menyebarkan
disinformasi untuk mendiskreditkan para habaib, ulama tarekat, atau
tradisi keagamaan tertentu (seperti pembacaan ratib dan maulid) dengan
cara memelintir ajaran mereka agar tampak menyimpang dari akidah Islam.
Seperti yang kita ketahui Imam Abdullah Al-Haddad salah satu tokoh tarekat
dan sufi besar dalam dunia Islam, dan sampai saat ini tidak bisa
dipungkiri bahwa gerakan tarekatnya melalui ajaran-ajaran kesufiannya
banyak dianut oleh sebagian masyarakat
Islam terutama di Indonesia, namun demikian tidak bisa dipungkiri pula
bahwa para tokoh-tokoh sufi termasuk Imam Abdullah Al-Haddad masih terus
mendapat kritik dari orang-orang yang memandang tarekat atau dunia
tassawuf sebagai ajaran-ajaran yang menyimpang dari Islam.
Kesimpulan dari tuduhan bahwa umat Islam diajarkan menjawab "Habib
Abdullah Al-Haddad" saat ditanya malaikat di alam kubur adalah FITNAH
MURNI TANPA SANAD, TANPA DALIL, DAN BERTOLAK BELAKANG DENGAN SELURUH AJARAN
HIDUP HABIB ABDULLAH AL-HADDAD. Sebagai umat Islam yang berpikir objektif,
kita wajib menyaring setiap informasi dan mengembalikannya kepada timbangan
Al-Qur'an, Sunnah, serta merujuk langsung pada kitab-kitab asli karya ulama
yang bersangkutan.
Tidak ada seorang ulama muktabar pun, termasuk
Habib Abdullah Al-Haddad, yang mengajarkan umatnya untuk menyimpang dari akidah
tauhid yang benar. Ajaran para wali dan ulama salaf selalu mengarahkan
murid-muridnya untuk menjawab dengan jawaban tauhid yang murni: "Rabbi
Allah, wa Al-Islamu dini, wa Muhammadun nabiyyi."
Wallahu A’lam bisshowab…