Senin, 24 Agustus 2026

BENARKAH HABIB ABDULLAH AL-HADDAD BERKUASA DI ALAM KUBUR ?

Gelombang fitnah nampaknya akan terus menerpa anak cucu keturunan Rasulullah SAW, dan ini adalah merupakan sejarah yang berulang, karena di masa lalu ahlul bait Nabi juga pernah merasakan bagaimana mereka terus-menerus dihujani berbagai fitnah, sehingga menyebabkan sebagian banyak yang berpindah  atau hijrah ke berbagai negara untuk menghindari berbagai intimidasi dan eksekusi dari para pembenci keturunan Nabi Muhammad SAW terutama dari kalangan pemerintahan, tidak sedikit yang menemui kematian demi mempertahankan kebenaran, dan tidak sedikit pula nasabnya yang ditolak oleh para penguasa-penguasa yang zolim. Namun demikian dari mereka banyak juga yang mendapatkan tempat terhormat di mata masyarakat karena keluhuran akhlaknya.

Pada masa sekarang fitnah juga telah merambah ke negeri kita, salah satunya adalah fitnah kepada Bani Alawi. Salah satu fitnah yang terus menerus yang dilakukan secara sistematis adalah pemutusan nasab kabilah tersebut dengan kata lain nasab Bani Alawi tertolak dan itu sudah hampir berlangsung sekitar 4 tahunan. Fitnah-fitnah tersebut bahkan sudah tersebar luas, utamanya  ditujukan kepada tokoh-tokoh yang berpengaruh pada kabilah Bani Alawi. Setelah fihak pembenci keturunan Nabi Muhammad SAW (Kaum Nawashib) menghantam habis profil  Imam Ubaidhillah, Imam Al-Faqih Al-Muqaddam, Imam Syekh Abubakar Asy-Syakron, maka sasaran kaum nawashib tersebut selanjutnya adalah seorang Imam besar dan ahli tassawuf yang sangat berpengaruh di kalangan dunia Islam terutama Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang bernama Imam Abdulllah Al-Haddad. Nampaknya memang para pemuka Bani Alawi akan terus mereka hancurkan kredibilitasnya demi memperkuat klaim mereka yang menyatakan Bani Alawi nasabnya terputus, dengan menghajar habis-habisan para tokoh Bani Alawi, mereka berkeyakinan nasab keturunan dari Imam Ahmad Al-Muhajir, akan rungkad serungkatnya.

Hantaman pertama mereka terhadap sosok Imam Abdullah Al-Haddad, adalah tentang plagiatnya bacaan Ratibul Haddad yang selama ini banyak dibaca di berbagai majelis dan pesantren di Indonesia seperti Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur yang didirikan K.H. R. As'ad Syamsul Arifin. Bahkan Ratib Al-Haddad juga menjadi menu utama wirid harian di ratusan pesantren salaf lain seperti di Cirebon, Indramayu (contohnya Ponpes Miftahul Ulum), Tuban (Ponpes Nurul Qur'an), serta berbagai majelis taklim di bawah bimbingan para Habaib (keturunan Imam Al-Haddad) di Jakarta, Bogor, Pekalongan, Solo, hingga NTB.

Tuduhan terhadap kredibilitas Ratibul Haddad mulai sedikit mereda apalagi setelah ada seorang kyai menantang untuk membuktikan klaim bahwa Ratib Haddad tersebut palsu kepada mereka yang menuduh tersebut. Namun apakah dengan itu tuduhan kepada Imam Abdullah Al-Haddad berhenti sampai disitu saja ? Ternyata tidak ! karena ada tuduhan baru yang tidak kalah kejinya, tuduhan tersebut adalah dikatakan bahwa Habib Abdullah Al-Haddad mampu dan berkuasa di alam kubur  sehingga sampai keluar pernyataan, “kalau ditanya malaikat alam kubur, maka jawab saja, “Habib Abdullah Al-Haddad ?”

Benarkah pernyataan ini ???

Berdasarkan biografi beliau, pernyataan tersebut justru bertentangan dengan akidah dan prinsip utama yang dianut oleh Habib Abdullah Al-Haddad.

Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad adalah seorang ulama besar pembaharu (mujaddid) dan seorang ulama salaf yang sangat ketat menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Beliau dikenal luas dengan julukan Syaikhul Islam, Quthbud Da'wah wal Irsyad (Poros Dakwah dan Petunjuk), serta diakui sebagai Mujaddid (Pembaharu) Abad ke-11 Hijriah dalam bidang ilmu, iman, dan ihsan. Beliau seorang Mujaddid yang tentunya lisannya terjaga dan jauh dari karya-karya yang tendensius apalagi perilaku aneh seperti tuduhan diatas. Sekalipun kondisi fisik beliau terbatas, yaitu tuna netra, namun tidak menghambat beliau untuk berkreatifitas dalam berdakwah dan dari track record beliau belum pernah terdengar keluar pernyataan yang menyimpang dari akidah yang beliau ajarkan.

 Dalam sejarahnya, beliau belajar kepada tidak kurang dari 140 ulama besar di masanya. Ini menandakan kedalaman dan keluasan ilmunya. Beliau sosok yang haus akan ilmu namun juga ikhlas dalam menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Rumah dan majelis beliau di Tarim menjadi pusat rujukan umat Islam dari berbagai penjuru dunia untuk belajar tasawuf, akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Asy'ariyah), fikih, DAN PEMBERSIHAN JIWA (TAZKIYATUN NAFS). Beliau meninggalkan banyak karya tulis yang menjadi rujukan utama di berbagai pesantren dan lembaga Islam di seluruh dunia,

Dalam seluruh karya tulis beliau seperti kitab An-Nashaih ad-Diniyyah, Risalatul Muawanah, dan Ad-Da'wah at-Tammah beliau selalu menegaskan bahwa KESELAMATAN SEORANG HAMBA DI DUNIA DAN AKHIRAT, TERMASUK DI ALAM KUBUR, BERGANTUNG SEPENUHNYA PADA KEIMANAN YANG LURUS KEPADA ALLAH SWT DAN MENGIKUTI PETUNJUK RASULULLAH SAW.

Tidak ada satu pun kalimat di dalam kitab-kitab beliau, atau dalam ijazah wirid dan ratib beliau, yang mengajarkan kesesatan semacam itu. Beliau justru adalah ulama yang paling gigih meluruskan penyimpangan akidah dan bid'ah yang batil.

Tidak ada ruang bagi seorang manusia sehebat apa pun kedudukannya di sisi Allah, apakah itu seorang wali, syekh, atau habib untuk menggantikan posisi Allah sebagai Rabb atau Nabi Muhammad sebagai Rasul dalam jawaban kubur. Mengarahkan jawaban kubur kepada selain Allah dan Rasul-Nya adalah bentuk kesyirikan yang sangat nyata, dan mustahil seorang wali Allah seperti Habib Abdullah Al-Haddad mengajarkan kesyirikan kepada umatnya.

Bila demikian bagaimana akar munculnya ftnah seperti ini ?

Biasanya tuduhan semacam ini biasanya muncul akibat beberapa faktor:

  • Cerita yang berlebihan dari oknum pengikut yang jahil (Ghuluw): Terkadang, ada sebagian kecil orang awam yang memiliki rasa takzim (kecintaan) berlebihan kepada seorang guru atau wali, lalu membuat-buat cerita karomah atau kisah fiktif yang melampaui batas syariat sehingga menyebabkan interpretasi yang liar dari masyarakat yang pada ujungnya bisa menyebabkan pandangan miring kepada para wali tersebut seperti halnnya Imam Abdullah Al-Haddad. Cerita-cerita karangan seperti itu kemudian digeneralisir seolah-olah itu adalah ajaran resmi sang ulama, padahal para ulama itu sendiri seperti Imam Abdullah Al-Haddad berlepas diri darinya. Siapapun dia jika sudah berlebih-lebihan seperti hal diatas maka tidak patut omongannya atau tulisannya dijadikan hujjah.
  • Upaya Adu Domba & Propaganda Hitam: Ada pihak-pihak tertentu yang memang sengaja menyebarkan disinformasi untuk mendiskreditkan para habaib, ulama tarekat, atau tradisi keagamaan tertentu (seperti pembacaan ratib dan maulid) dengan cara memelintir ajaran mereka agar tampak menyimpang dari akidah Islam. Seperti yang kita ketahui Imam Abdullah Al-Haddad salah satu tokoh tarekat dan sufi besar dalam dunia Islam, dan sampai saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa gerakan tarekatnya melalui ajaran-ajaran kesufiannya banyak dianut oleh sebagian  masyarakat Islam terutama di Indonesia, namun demikian tidak bisa dipungkiri pula bahwa para tokoh-tokoh sufi termasuk Imam Abdullah Al-Haddad masih terus mendapat kritik dari orang-orang yang memandang tarekat atau dunia tassawuf sebagai ajaran-ajaran yang menyimpang dari Islam.

Kesimpulan dari tuduhan bahwa umat Islam diajarkan menjawab "Habib Abdullah Al-Haddad" saat ditanya malaikat di alam kubur adalah FITNAH MURNI TANPA SANAD, TANPA DALIL, DAN BERTOLAK BELAKANG DENGAN SELURUH AJARAN HIDUP HABIB ABDULLAH AL-HADDAD. Sebagai umat Islam yang berpikir objektif, kita wajib menyaring setiap informasi dan mengembalikannya kepada timbangan Al-Qur'an, Sunnah, serta merujuk langsung pada kitab-kitab asli karya ulama yang bersangkutan.

Tidak ada seorang ulama muktabar pun, termasuk Habib Abdullah Al-Haddad, yang mengajarkan umatnya untuk menyimpang dari akidah tauhid yang benar. Ajaran para wali dan ulama salaf selalu mengarahkan murid-muridnya untuk menjawab dengan jawaban tauhid yang murni: "Rabbi Allah, wa Al-Islamu dini, wa Muhammadun nabiyyi."

Wallahu A’lam bisshowab…