Rabu, 19 Agustus 2026

"RANTAI EMAS" HABIB TURUN KE BUMI ?


Dalam tradisi keilmuan Islam, Silsilatuz-Zahab atau "Rantai Emas" adalah istilah yang merujuk pada sanad (jalur transmisi) ilmu atau spiritual yang paling otoritatif dan tepercaya.
• Transmisi Ilmu: Istilah ini digunakan untuk menggambarkan jalur periwayatan ilmu atau sanad tarekat yang bersambung secara mutlak dan terjaga keautentikannya mulai dari Allah SWT, melalui Malaikat Jibril, Rasulullah SAW, para sahabat, hingga ulama-ulama besar.
• Signifikansi: Jalur ini dianggap sebagai jalur yang paling "murni" karena integritas para perawinya diakui oleh otoritas keilmuan Islam.
Istilah Rantai Emas bukanlah bener benar sebuah emas berbentuk emas yang terbang dan berasal dari langit untuk turun ke bumi seperti yang digaung-gaungkan dari para pembatal nasab Bani Alawi. Rantai Emas bukanlah seperti motonya Kebuli Jordan yang ada di Jalan Raya Condet “MAKANAN SURGA TURUN KE BUMI” bukan sama sekali.
Munculnya istilah Rantai Emas adalah sebuah frasa murni yang merupakan majas atau perumpamaan (metafora) dalam bahasa agama dan kebudayaan, yang sering digunakan oleh para ulama atau penceramah untuk menggambarkan sesuatu yang sangat berharga, mulia, dan tidak terputus. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia kita pasti akan menemukan istilah-istilah seperti ini..tanya saja kepada anak-anak SMP atau SMA.
Ketika seorang penceramah baik itu Habib, Kyai, Gus, dll (misalnya menggunakan analogi seperti “Jangan ganti rantai emas dengan tali rafia” atau istilah serupa), yang dimaksudkan adalah sanad keilmuan, akhlak, dan bimbingan ruhani yang bersambung dari generasi ke generasi hingga sampai kepada Rasulullah SAW.
• Makna "Emas": Melambangkan sesuatu yang tinggi nilainya, murni, mulia, dan autentik (dalam hal ini adalah ilmu agama, adab, dan pemahaman Islam yang lurus).
• Makna "Rantai": Melambangkan keterhubungan atau estafet yang kuat dan tidak terputus (ittishal).
• Jadi, maksudnya dari semua itu yang dikaitkan dengan rantai emas adalah untuk menasihati umat agar tetap mengikuti bimbingan ulama warisan para nabi yang sanad ilmunya jelas, alih-alih mengambil ajaran dari sumber yang sembarangan atau instan ("tali rafia").
Dalam perdebatan sengit di media sosial antara pihak yang pro dan kontra terhadap nasab Ba'alawi, metafora-metafora retoris seperti ini sering kali diambil di luar konteksnya (dipelintir secara harfiah) oleh pihak-pihak yang tidak suka. Yang tidak suka sudah pasti akan menjadikan bahan ini sebagai amunisi maut menghajar para Habib.
Pihak pengejek yang memang anti terhadap Bani Alawi akan sengaja mengartikannya secara sarkastik seolah-olah kaum habaib mengklaim leluhur mereka bisa menurunkan benda fisik berupa rantai emas dari langit atau memiliki kesaktian berlebihan untuk mendiskreditkan atau menertawakan klaim silsilah mereka. Fihak Habaib akan terus dihajar habis dengan isu satu ini, apalagi yang mengejek tidak faham makna dibalik istilah tersebut, terlebih lagi bila ada penceramah membawa frasa ini tapi ceramahnya dipotong sehingga konteks dari frasa tersebut hilang maknanya...
Lagipula sangatlah aneh, kalau istilah Rantai Emas digambarkan secara fisik seolah ajaran Alawiyin itu mengedepankan keduniawian belaka, padahal banyak ajaran Alawiyyin itu bersifak sufistik....
Aneh, kalau masih ada yang memahami rantai emas sebagai fisik...berarti selama hidupnya dia tidak pernah belajar bahasa Indonesia secara baik dan benar....
Tamat....

"H. MUTAHAR SEORANG HABIB"

 Setelah perayaan 17 Agustus selesai, rupanya ada satu hal yang masih rame, yaitu mengenai siapakah sesungguhnya H. MUTAHAR SANG PENYUSUN lagu HARI MERDEKA ?

Untuk kalangan yang anti nasab Bani Alawi seperti biasa akan langsung mengatakan : HOAX, NGIBUL, NGEDABRUS, dsb jika H. MUTAHAR dianggqap seorang Habib. Bahkan ada yang dengan PDnya dan sangat ngotot tingkat dewa dengan mengkaitkan langsung bahwa H. MUTAHAR adalah keturunan Demak lengkap dengan daftar pustakanya, sehingga semakin membuat bahagia seperti bahagianya pengantin baru dan PD tim-tim hore pembatal nasab Baalawi. Saya sendiri sempat kaget, haaa ? KESULTANAN DEMAK ? Wah baru dengar saya nih...
Pada akhirnya, lagi lagi muncullah ungkapan, semua serba "dibaalawikan", semua akan menjadi Baalawi. Dan bla...bla...bla...pokoknya Baalawi rungkad dan minggat...(begitu katanya...)
Bagi yang meyakini H. MUTAHAR seorang Sayyid atau HABIB karena berdasarkan informasi dari kalangan Habaib sendiri..
Saya sendiri akhirnya ngubek ubek lagi semua majalah koleksi alkisah saya dari edisi pertama tahun 2003 sampai edisi terakhir 2013 untuk mencari tentang Profil H. MUTAHAR..untung semua majalah alkisah saya belum saya hibahin. Alkisah adalah majalah khusus membahas Habib dan Kyai Kyai NU, DLL. Kebetulan saya masih ingat ada tulisan tentang H. MUTAHAR.
Menariknya H. MUTAHAR ini memang tipikal nasionalis sejati, yang jangankan keliatan asal usulnya secara terbuka, lha kehidupannya saja lebih banyak diwarnai dengan politik perjuangan ketimbang nasabnya. Hubungannya dengan Bung Karno cukup dekat, walaupun H. MUTAHAR sering dibuat mangkel oleh Bung Karno karena sering "dikerjain", tapi Bung Karno sangat cinta terhadap H. MUTAHAR, H. MUTAHAR sendiri tidak pernah mengambil hati dengan sikap eksentriknya Bung Karno, karena H. MUTAHAR tahu Bung Karno tipikal yang terbuka terhadapnya.
Pertanyaan sekarang apakah memang beliau seorang Habib atau Sayyid ??? (istilah ini pasti deh bakal juga digugat oleh pakar pakar nasab medsos dari sebelah sana...).
Karena beliau jarang terbuka masalah ini, maka ada peneliti lain yang akhirnya menulis tentang beliau termasuk asal usul nasabnya, tidak tanggung tanggung penulisnya adalah seorang Wartawan Senior dan SEJARAWAN Tangguh Tentang Jakarta yaitu Abah Alwi Shihab. Sejarawan Jakarta dan Wartawan² kawakan nasional yang udah senior pasti tahu siapa beliau. Profil H. MUTAHAR juga ditulis tidak lama setelah beliau wafat artinya masih sezaman. Dan yang paling penting H. MUTAHAR dan Abah Alwi Shihab gak jauh beda umurnya dan sama sama pernah dekat dan sama sama dari Bani Alawi. Artinya mereka hidup sezaman, Abah Alwi jelas saksi hidup yang tahu betul siapa H. MUTAHAR sesungguhnya.
Hasilnya ? Ya H. MUTAHAR berdasarkan tulisan Abah Alwi yang hidupnya SEZAMAN dan pernah bersahabat, memang seorang Sayyid, dan keluarganya ternyata berasal dari Banda Naira Maluku, dimana memang disana terdapat diaspora keturunan Bani Alawi disamping Arab Hadramaut lain. Budaya Banda Naira yang berada di Maluku memang egaliter, mereka lebih cenderung lebih membumi ketimbang mengandalkan nasabnya. Dan ini pernah berapa kali saya tanyakan kepada Habib habib yang berasal dari Maluku, memang benar menurut mereka jika Habib Habib di Maluku itu kadang lebih kental Malukunya ketimbang Habibnya....mereka lebih nyaman menjadi pribumi maluku tanpa kehilangan asal usul.
Jadi H. MUTAHAR selain seorang nasionalis sejati, beliau juga seorang Habib dari rumpun atau Klan Al-Muthohar cabang dari Bani Alawi. Kenapa lebih sering ditulis H. MUTAHAR ? Ya mudah jawabnya, namanya seniman plus juga politikus handal, tulisan H. MUTAHAR lebih mudah diingat, simpel dan gak terkesan kearab araban, lagian kan memang memakai ejaan bahasa Indonesia...
Jadi kalau masalah nasab beliau selesai ya.. perkara situ gak mau ngakuin lagu Hari Merdeka, 17 Agustus dan Lagu Syukur atau Paskibraka beliau yang buat karena beliau habaib, ya itu sih terserah ente, gak dipaksa, tapi kalau soal siapa beliau, ya fair dong...

KITAB SEZAMAN SYARAT MUTLAK NASAB ?

Di tahun 2006 s/d 2012 hal ini pernah sempat ramai dibahas oleh para penggiat nasab, saya masih ingat betul bagaimana sahabat² dan juga beberapa orang yang nasabnya berasal dari Wali Songo dan Kesultanan Nusantara meradang karena nasabnya tidak diakui oleh beberapa fihak hanya karena datanya tidak tercatat pada zamannya.

Benar memang untuk mengetahui sebuah nasab bisa melalui kitab, manuskrip atau lembaran silsilah. Tapi apakah semua itu sudah harga mati dalam verifikasi sebuah nasab ? Apakah bahan dari kertas itu menjadi sumber utama bisa menentukan status sebuah nasab ? Apakah menentukan validitas nasab itu cuma hanya 1 atau 2 metode saja ? Kalau hanya berdasarkan "kertas" betapa sempitnya kualitas ilmu nasab...
Saya sendiri saat itu tidak mau terlalu larut dalam perdebatan panas antara mereka yang mengakui dan menolak suatu nasab, saya lebih memilih terjun langsung untuk melacak jejak para leluhur untuk kemudian didokumentasikan. Saya lebih memilih menulis sambil melakukan diskusi dengan beberapa sahabat yang datang ke rumah.
Anda perlu tahu, saat konflik dan gejolak nasab itu pecah di tahun 2000an, banyak bermunculan foto foto yang bertebaran dibumbuhi tulisan "Si Kyai anu habib palsu" "si Gus itu Kyai palsu", "Habib kok pesek", " keturunan India Banglades ngaku habib" dan cap cap jelek lainnya..
Adanya permintaan kitab atau tulisan atau manuskrip sezaman untuk membuktikan satu nasab keturunan, itu tidak semudah yang dibayangkan, apalagi di Indonesia. Membuka nasab secara terbuka maka siap-siap diburu penjajah, karena kebanyakan zuriah para wali songo dan kesultanan banyak yang keras dan militan kepada penjajah. Selain itu konflik politik dengan penguasa negeri sendiri juga membuat mereka sangat berhati hati dalam membuka nasab, mereka banyak yang memilih berbaur dengan masyarakat dan mendirikan pondok pesantren.
Pemeliharaan nasab di Indonesia tidak seperti di negara timur tengah, karena banyak keturunan Wali Songo dan kesultanan yang menyebar ke pulau pulau terpencil pedalaman dan menjadi kemudian orang biasa. Otomatis pendataan nasab banyak yang terputus dari pusat kota kekuasaan yang dokumentasi pendataan nasab atau silsilahnya lebih terjaga.
Namun demikian jangan salah, untuk memelihara nasab, biasanya ada 1 orang dari keluarga besar yang dipercaya untuk menjaganya melalui hafalan hafalan yang diturunkan secara turun temurun. Orang tersebut harus terjaga integritasnya, kejujurannya merupakan harga mati. Dia juga diajarkan bagaimana memahami m karakter atau kebiasaan sebuah klan, bahkan ciri ciri atau tanda tanda fisik, dll, hal ini untuk menjaga nasab tersebut dari pemalsuan nasab dari orang luar. Kalau dulu dimasa Nabi Muhammad SAW orang yang punya kemampuan seperti itu disebut Qaif (Qiyafah).
Anda bisa bayangkan, betapa banyaknya nasab bakal runtuh kalau kaidah "KITAB SEZAMAN ATAU TULISAN SEZAMAN SYARAT MUTLAK DIAKUINYA SEBUAH NASAB". Padahal nasab tersebut sudah mashur dan shahih serta banyak kesaksian serta dikenal masyarakat sebagai sebuah nasab kabilah tertentu.
Contoh kasus yang mudah:
Di daerah pedalaman Sumatra Selatan itu banyak keturunan Wali Songo yang bersatu dengan Baalawi. Mereka banyak yang berbesanan sejak masa berdirinya Kesultanan Palembang. Hal ini pernah terjadi ketika istri kakak saya yang saya beri tahu kalau leluhurnya yang bernama Tuan Idrus Tanjung Salam keturunan Al Idrus, kakak ipar saya kaget karena saya tahu. Tidak lama kemudian ada keturunan Tuan Idrus Tanjung Salam menghubungi saya dan memberikan info penting kalau leluhurnya aslinya keturunan keluarga Basyaiban sebelum hijrah ke Jawa, Al Idrus adalah laqob toriqohnya.
Selain kasus diatas, ternyata keturunan Kesultanan Palembang dan Banten bahkan banyak yang berbesanan dengan Baalawi. Dan itu banyak datanya dan tersimpan dengan baik. Ini belum lagi yang ada di Jawa yang mungkin lebih banyak. Dulu juga pernah saya ketemu seorang habib yang saat itu cuma hafal lima nama karena mereka tinggalnya di sebuah pulau di Maluku. Tapi begitu ketemu senangnya bukan main, cuma dia mengatakan bahwa selama ini memang leluhurnya sudah berbaur dengan masyarakat pribumi.
Adanya syarat mutlak kitab sezaman, jelas akan membuat orang patah hati atau patah semangat terutama para pejuang nasab yang mati obor pada nasabnya. Mati obor pada nasab itu jumlahnya tidak sedikit, hal ini terjadi karena pada masa lalu leluhur mereka lebih banyak menutup diri karena banyaknya pertimbangan. Belum lama ini satu sahabat saya buka kartu kalau sebenarnya bapaknya keturunan Tubagus, tapi oleh bapaknya gelar Tubagus sengaja gak digunakan karena beralasan lebih penting mendahulukan akhlak.
Dulu itu, saat konflik nasab memanas antara para kyai pejuang nasab dengan beberapa habaib, para sesepuh banyak yang berusaha menengahi, tapi sepertinya belum berhasil, karena masing masing fihak bersikeras.
Saya pernah berkata (Insya Allah saksi saksinya masih ada) di kisaran tahun tahun 2012 sd 2017, "Kalau syarat kitab sezaman atau tulisan sezaman ini menjadi syarat mutlak, untuk menentukan syarat validnya sebuah nasab atau kalau ada fihak fihak yang masih membatalkan nasab keturunan Wali Songo saya khawatir dan bukan tidak mungkin FITNAH BESAR akan melanda kepada mereka yang membatalkan nasab para wali.. "
Dan benar saja, akhirnya meledak dan efeknya sangat jahat. Mereka dulu yang katanya pernah dizolimi nasabnya justru membalas lebih kejam, tanpa pilih pilih tanpa pandang bulu siapapun kabilah yang pernah membatalkan wali songo harus dihancurkan sampai ke akar akarnya tidak perduli dia ulama atau Waliyullah pokoknya nasabnya mardud alias tertolak. Padahal sebenarnya yang mengakui nasab Wali Songo juga ada seperti HMH Al-Hamid Al Husaini. Sedangkan yang menolak nasab Wali Songo orangnya yang itu itu juga walaupun pendukung serta loyalisnya juga hampir sama polanya ketika fihak fihak tersebut membatalkan nasab Wali Songo.
Pembalasan kejam dari mereka yang katanya dari Zuriah Wali Songo dengan memakai pola yang sama yaitu adanya syarat kitab sezaman, pada sudah menyentuh wilayah SARA. Sebuah ironi besar mengingat Wali Songo ajarannya banyak yang bernuansa Sufistik yang jelas jelas bertolak belakang dengan hal tersebut.
Perancis untuk memberi pelajaran dan meledek kepada USA yang sombong dengan ungkapan "No Document No History". Perancis tahu USA sejarahnya terputus dengan masa lalu karena mereka baru berdiri abad 18. Akhirnya Amerika kesal, dan mulailah mereka mengumpulkan dan menghimpun sejarah negara demi untuk mengcounter ungkapan perancis tersebut. Dan kita tahu betapa lengkapnya USA dalam mengumpulkan sejarah, tidak tanggung tanggung, mereka bahkan punya data data silsilah yang lengkap. Cek aja bagaimana perjalanan silsilah para Presidentnya. Lihat aja betapa seriusnya mereka mengumpulkan hasil DNA dari berbagai bangsa....
Jadi kitab sezaman sebagai syarat mutlak sahnya sebuah nasab adalah blunder fatal, karena nasab orang orang pada masa sebelum dan sesudah Nabi Muhammad SAW l, itu dengan cara dihafal secara turun temurun bukan dari kitab sezaman...apa jadinya kalau standar ini digunakan, bisa hancur dan rusak nasab bangsa Quraisy, padahal Abu Bakar Asshidiq dan Umar bin Khattab dikenal sebagai orang orang yang ahli dalam nasab dan itu semua melalui hafalan....

Senin, 10 Agustus 2026

“SEJARAH IMAM AHMAD AL-MUHAJIR DAN ANAKNYA IMAM UBAIDHILLAH BESERTA KESAKSIAN AKAN NASAB MEREKA”

Ketika Al-Muhajir keluar (bermigrasi) dari Bashrah, bersamanya ada Abdullah, anak bungsunya. Abdullah telah dikaruniai seorang putra bernama Ismail yang belajar di Irak dan wilayah lainnya pada tahun 305 H. Dengan demikian, usia Abdullah saat itu diperkirakan kurang dari dua puluh tahun. Maka, usia minimal Abdullah ketika bermigrasi bersama ayahnya pada tahun 319 H adalah sekitar 23 tahun. Kelahirannya diperkirakan terjadi pada tahun 295 H, wafatnya pada tahun 383 H, dan usianya mencapai 93 tahun.

Jika kelahiran Abdullah terjadi pada tahun 295 H, dan jika dia adalah anak bungsu dari saudara-saudaranya—yaitu Muhammad, Ali, dan Al-Husain—serta jika kita asumsikan jarak usia antara satu anak dengan anak berikutnya adalah dua tahun, maka usia Muhammad ketika ayahnya bermigrasi adalah 38 tahun.

Tampaknya kelahiran Al-Sayyid Al-Muhajir terjadi pada tahun 273 H. Beliau bermigrasi saat berusia 45 tahun. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa beliau lahir pada tahun 241 H, yaitu pada masa hidup kakeknya, Muhammad Al-Naqib, dikatakan bahwa beliau adalah anak kedua dari ayahnya yang paling panjang umurnya, dan usianya mencapai lebih dari seratus tahun. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam pengantar Musnad Al-Muhajir (Manuskrip di perpustakaan almarhum Al-Sayyid Salim bin Ahmad bin Jindan di Perpustakaan Al-Fakhriyah, Jakarta – Indonesia).

Silsilahnya (Nasabnya)

Beliau adalah Ahmad (Al-Muhajir) bin Isa bin Muhammad Al-Naqib (yang dijuluki Al-Rumi) bin Ali (Al-Uraidhi) bin Al-Imam Ja'far Al-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (Al-Sajjad) bin Al-Husain Al-Syahid bin Ali bin Abi Thalib.

Andai saja kaum Khawarij ingin mengingkari silsilah nasabnya ketika beliau tiba di Hadramaut, niscaya mereka akan melakukannya. Namun, mereka tidak memiliki celah untuk mengingkarinya. Bahkan, ketika Al-Muhajir telah wafat dan meninggalkan keturunannya di sana, mereka (keturunannya) ingin memperkuat pembuktian nasab tersebut. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dari munculnya pengingkaran atau penolakan dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Maka dari itu, Al-Sayyid Ali bin Muhammad pergi kembali ke Irak, lalu membuktikan kesahihan nasabnya dan meminta kesaksian dari seratus orang saksi yang adil dari kalangan jamaah haji. Kemudian, beliau membuktikannya sekali lagi di Makkah Al-Mukarramah dan meminta kesaksian atas pembuktian tersebut dari sekumpulan jamaah haji asal Hadramaut. Para saksi ini kemudian dihadirkan pada hari yang telah ditentukan, lalu mereka bersaksi secara terbuka di hadapan publik atas kebenaran nasab tersebut (Al-Masyra', hlm. 29).

Syaikh Muhammad Al-Thayyib Abu Makhramah menyebutkan dalam kitabnya, Qiladat Al-Nahr fi Wafayat A'yan Al-Dahr: "Sesungguhnya ketika Ahmad bin Isa tiba (di Hadramaut), penduduk Hadramaut mengakui keutamaan beliau dan tidak mengingkarinya. Kemudian setelah itu, mereka (keturunan Ahmad bin Isa) ingin menegakkan bukti yang kuat demi memperkokoh apa yang mereka nyatakan. Pada saat itu, di kota Tarim terdapat 300 ahli fatwa (mufti). Maka pergilah Al-Imam Al-Muhaddits Ali bin Muhammad kembali (untuk membuktikannya)..." dan seterusnya.

Kitab atau naskah manuskrip ini berada di kota Tarim, ditulis pada tahun 987 H oleh Umar bin Ibrahim Al-Habani bin Ridwan bin Abdul Ghaffar bin Ismail bin Muhammad bin Umar, dan satu salinannya terdapat di Dar al-Kutub al-Misriyah (Perpustakaan Nasional Mesir) yang ditulis pada tahun 1001 H oleh Yahya bin Ahmad bin Ali al-Sha'idi al-Syafi'i. Kedua salinan tersebut disalin langsung dari tulisan tangan penulisnya. Selain itu, di Dar al-Kutub al-Misriyah juga terdapat ringkasan silsilah nasab Al-Muhajir yang ditulis pada tahun 1143 H oleh Ismail bin al-Hasan al-Himyari di kota Sana'a, yang juga disalin dari tulisan tangan penulisnya.

Kedudukan Al-Muhajir, keberadaan keluarga dan kerabatnya di Bashrah, serta keberadaan putranya, Muhammad, yang mengurusi harta kekayaannya; begitu pula kedatangan putra-putranya, Ali dan Al-Husain; serta perginya cucu beliau, Al-Sayyid Jadid bin Abdullah, untuk memeriksa harta kekayaan tersebut dan mengunjungi kerabat; kemudian perginya Al-Sayyid Ali bin Muhammad bin Jadid; serta kesegeraan para saksi yang adil dari kalangan penduduk Irak untuk bersaksi atas kesahihan nasab tersebut; ditambah pemanfaatan hasil pendapatan harta mereka di Irak oleh anak cucu mereka di Hadramaut selama bertahun-tahun; serta keberadaan saudara-saudara dan sepupu-sepupu Al-Sayyid Al-Muhajir di Irak dan hubungan yang terus terjalin di antara mereka; serta keberadaan para sayyid dari keluarga Al-Ahadilah dan Bani Qadim di Yaman sejak masa lampau; semua hal tersebut menjadi bukti nyata atas ketetapan nasab dan kemasyhurannya.

Sebab, tidaklah mudah bagi Al-Sayyid Ali bin Muhammad bin Jadid untuk membuktikan nasab ini setelah enam puluh tahun wafatnya para leluhur beliau yang jauh dari Irak, andai saja nasab tersebut tidak terbukti kuat dan dikenal di Bashrah. Tokoh bernama Ali dilahirkan di Hadramaut, demikian pula ayahnya, Muhammad, dan kakeknya, Jadid. Akan tetapi, mereka tetap menjaga hubungan dengan tanah air leluhur mereka ketika pergi dan berkunjung ke sana untuk menuntut ilmu. Ini juga menjadi bukti atas semangat mereka untuk mengambil manfaat dari para ulama Irak. Mereka terus terhubung dengan Bashrah dan saudara-saudara mereka di sana. Kabar tentang mereka selalu sampai, dan orang-orang yang datang dari sana selalu memperbarui pengetahuan tentang tanda-tanda agama mereka serta menyebutkan biografi dan sejarah mereka. Namun, ketika jalur pelayaran kapal-kapal berubah setelah munculnya kapal-kapal dagang, hubungan antara mereka dengan tanah air dan saudara-saudara mereka menjadi terputus, kecuali dalam kesempatan yang jarang terjadi (Majalah Al-Rabitah, Juz 3, hlm. 2, hal. 95).

Kitab Al-Jawhar al-Syafaf menyebutkan bahwa perjalanan Al-Sayyid Jadid ke Bashrah terjadi ketika beliau menunaikan ibadah haji bersama saudaranya, Alawi, untuk mengambil hasil panen dan mengunjungi kerabat. Beliau kembali melalui pesisir Teluk Persia, memasuki wilayah Al-Ahsa, Al-Qatif, dan Oman, lalu berbelok menuju Dhofar.

Dan di antara keturunan Muhammad bin Ahmad Al-Muhajir adalah: Abu Muhammad Al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Al-Muhajir, yang dikenal dengan julukan Al-Qalal. Di antara anak-anaknya adalah Abu Al-Qasim Al-Gathath.

Dan Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir menimba ilmunya di Irak, Hijaz, dan Yaman.

Sedangkan Ismail (yang berjuluk Al-Basri) dikenal karena luasnya ilmu, periwayatan, serta kemahirannya dalam bahasa Arab, hadis, dan fikih, hingga beliau diangkat untuk memberikan fatwa dan mengajar.

Adapun Jadid dilahirkan di Hadramaut, dididik langsung oleh ayah dan saudara-saudaranya, serta menimba ilmu dari para ulama Yaman, Hijaz, dan Irak.

Dan Alawi, yang kepadanya dinisbatkan kaum Alawiyyin di Hadramaut, Hijaz, India, Afrika, serta wilayah Asia Tenggara dan tempat lainnya.

Keabsahan nasab Alawi ini telah diverifikasi oleh banyak sejarawan dan ahli silsilah (nasab), di antaranya adalah:

Abu Abdullah Muhammad bin Al-Husain Al-Samarqandi Al-Madani dalam kitabnya, Tuhfat al-Thalib bi Ma'rifat man Yansab ila 'Abdullah wa Abi Thalib. Beliau lahir di Madinah Al-Munawwarah dan tumbuh besar di sana. Satu salinan kitabnya berada di Makkah, dan salinan lainnya berada di kedalaman Al-Sayyid Al-Syarif Abdul Qadir bin Ali bin Abdul Qadir Al-Aydarus. Biografi beliau telah ditulis oleh penulis kitab Al-Nur al-Safir yang wafat pada tahun 996 H (Jany al-Syamarikh, hlm. 2).

Serta ahli nasab terkemuka Abu Al-Hasan Najmuddin Ali bin Abi Al-Ghanaim Muhammad bin Ali Al-Alawi Al-Basri (wafat tahun 443 H). Beliau menulis kitab Al-Majdi, Al-Mabsuth, dan Al-Musajjar (berbentuk manuskrip). Beliau menyusun kitab Al-Majdi atas nama Al-Sayyid Majduddin Al-Uraidhi. Beliau juga disebutkan dalam kitab Raudhat al-Albab bi Ma'rifat al-Ansab.

Serta Muhammad bin Ja'far Al-Ubaidili, beliau memiliki kitab Tahdzib al-Ansab (berbentuk manuskrip) dan wafat pada tahun 435 H.

Serta Ibnu Ma'iyyah Tajuddin Muhammad bin Abi Ja'far Al-Hasani, beliau memiliki kitab Nihayat al-Thalib fi Ansab Ali Abi Thalib.

Dan Mu'ayyaduddin Ubaidillah bin Umar bin Muhammad, beliau memiliki kitab Al-Thabt Al-Mushan.

Serta Jamaluddin Muhammad Al-Astarabadi dalam kitab Ghayat Al-Ikhtishar.

Serta cucu perempuannya, Jamaluddin Ahmad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Muhanna Al-Dawudi Al-Husaini (748 – 828 H) dalam kitab Umdat Al-Thalib Al-Kubra. Beliau menulis kitabnya sekitar tahun 814 H atas arahan dari Jalaluddin Al-Hasan, seorang kepala suku (Naqib) putra Amiduddin Ali Al-Hasani.

Serta Ubaidillah Al-Jurjani dalam bagan silsilahnya (Musyajar).

Syaikh Ibnu Abil Futuh Abu Fadhil Muhammad Al-Kazhimi dalam kitab Al-Nafhah Al-Anbariyah fi Ansab Khair Al-Bariyah, beliau masih hidup pada tahun 859 H.

Serta Dhamin bin Syaqam dalam kitab Zahr Al-Riyadh wa Zulal Al-Hiyadh.

Serta cucunya memiliki kitab Tuhfat Al-Azhar fi Nasab Al-Aimmah Al-Athhar.

Serta Abu Al-Nashr Sahl bin Abdullah Al-Bukhari dalam kitab Sirr Al-Silsilah Al-Alawiyah, beliau masih hidup pada tahun 351 H.

Serta Al-A'raji dalam kitab Al-Durr Al-Munazham fi Ansab Al-Arab wa Al-Ajam.

Serta Abul Abbas Al-Syarji dalam kitab Thabaqat Al-Khawash Ahl Al-Shidq wa Al-Ikhlas. Di dalamnya disebutkan kisah migrasi kakek keluarga Al-Asdal dan dua putra pamannya. Salah satunya tinggal di Lembah Saham, putra pamannya yang lain tinggal di Lembah Surdad dan dia merupakan kakek buyut dari keluarga Bani Al-Qadimi, sedangkan yang ketiga bermigrasi ke Hadramaut dan dia merupakan kakek buyut dari keluarga Al Abi Alawi (hlm. 80).

Serta Abdul Hafizh Al-Fasi dalam kitab Riyadh Al-Jannah.

Serta Muhammad Sirajuddin Al-Makhzumi Al-Musawi di Irak (793 – 885 H) dalam kitabnya Sihah Al-Akhbar fi Nasab Al-Sadah Al-Fathimiyah Al-Akhyar.

Serta Al-Azurqani, seorang syarif terkemuka Abu Thalib Ismail bin Al-Husain, beliau memiliki kitab Ghiyat Al-Thalib fi Ansab Bani Abi Thalib atas arahan dari Al-Imam Fakhruddin Al-Razi sebagaimana yang beliau isyaratkan dalam khotbahnya. Kitabnya terdiri dari dua jilid, dan di dalamnya beliau menyebutkan silsilah keturunan Al-Sayyid Muhammad Murtadha Al-Zabidi dalam kitab Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi saat menyebutkan junjungan kita, Ali bin Alawi bin Al-Faqih Al-Muqaddam beserta keturunannya. Al-Sayyid Ali bin Alawi ini hidup sezaman dengan Al-Syarif Al-Azurqani, penulis kitab (Bahr Al-Ansab) yang dikenal sebagai kitab Al-Fakhri (Jany Al-Syamarikh, hlm. 21). Beliau juga memiliki kitab tentang silsilah dan sanad yang dinamai Abwab Al-Sa'adah wa Salasil Al-Siyadah.

Sejarawan sekaligus ahli nasab, Muhammad bin Al-Thayyib bin Abdussalam Al-Qadiri Al-Hasani, menyebutkan dalam kitabnya, Lamhat Al-Bahjah Al-Aliyah fi A'qab Alawiyyin, yang membahas keturunan Alawiyyin di wilayah Al-Uraidhi. Satu salinan manuskripnya terdapat di Dar al-Kutub al-Misriyah (Perpustakaan Nasional Mesir) bagian sejarah, tersimpan dalam jilid dengan nomor kode 2028. Di dalamnya dikutip pujian atas mereka serta silsilah nasab mereka. Disebutkan pula kisah perjalanan Al-Imam Al-Hujjah Al-Sanad, seorang tokoh terkenal sekaligus pilar wilayah Maroko, Abu Salim Abdullah bin Abi Bakar Al-Ayyasy. Beliau menyebutkan dalam catatan perjalanannya bahwa beliau mengambil ilmu dari Al-Imam Muhammad bin Alawi bin Muhammad Al-Saqqaf, guru dari Al-Habib Al-Quthb Abdullah Al-Haddad (Jany Al-Syamarikh, hlm. 21).

Serta Abu Syukail, seorang qadhi sekaligus ahli fikih, Muhammad bin Saad.

Serta Al-Ahdal dalam kitab Tuhfat Al-Zaman.

Serta Abul Wazir Abdullah bin Abdurrahman dalam kitab Al-Tuhfah Al-Nuraniyah.

Serta Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Khatib dalam kitab Al-Jawhar Al-Syafaf.

Serta Muhammad Al-Madhaj dalam kitab Jawahir Al-Tijan.

Dan masih banyak tokoh lainnya seperti Al-Khazraji, Al-Yafi'i, Al-Awaji, Ibnu Abil Hubb, Al-Sakhawi, Abu Al-Fadhl, Abu Abbas, Ibnu Rosyid, Ibnu Isa Al-Tirmidzi, Al-Junaid, Ibnu Abi Hasan, Ibnu Hajar Al-Haitami, Ibnu Samrah, Ibnu Kin, Abdullah Abu Makhramah, Muhammad Al-Thayyib Abu Makhramah, Ibnu Fahd, Ibnu Aqil, dan Al-Mirwafi Al-Tarimi.

Dan yang terakhir adalah hasil penelitian dari seorang peneliti, Al-Sayyid Abdullah bin Hasan Balfaqih, dalam kitabnya Tafnid Al-Maza'im.

"Selain itu, hal ini didasarkan pada kitab-kitab biografi (thabaqat), silsilah periwayatan, serta sanad-sanad hadis, fikih, dan bidang lainnya. Mereka telah dikenal sepanjang sejarah oleh para raja Arab, Persia, Turki, serta Asia Tenggara dan wilayah lainnya.

Sultan Maroko, Yang Mulia Syarif Muhammad bin Abdullah, secara khusus telah menetapkan tunjangan tahunan sebesar seribu mitsqal emas untuk mereka, serta untuk para syarif di Hijaz dan Yaman.

Demikian pula dengan Khalifah Ottoman, berdasarkan 'Ferman' (surat keputusan resmi) yang dikeluarkannya, yang dokumennya masih tersimpan dengan baik. Beliau juga menyediakan ribath (tempat singgah/pemukiman) dan wakaf untuk mereka.

Sebagaimana yang disaksikan pula oleh Naqib (ketua persatuan) para syarif di Fez pada awal abad ke-13 Hijriah, dalam sebuah surat keputusan resmi (zhahir) dari Sultan Maroko, Mawlay Sulayman. Surat tersebut memuat kesaksian-kesaksian dari para ulama terkemuka yang dikenal luas.

Sebelum itu, kesaksian ini juga telah dikemukakan oleh Al-Imam Al-Ansar, syekh ahli nasab pada abad ke-10 Hijriah di Maroko. Silakan rujuk kembali jawaban Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam tanggapannya mengenai nasab ini, yang ditulis dengan tulisan tangan Al-Sakhawi.

Saya juga telah menerima sepucuk surat dari Yang Mulia Al-Allamah Al-Sayyid Hibatuddin Al-Shahrastani di Baghdad. Di dalamnya, beliau menyebutkan kutipan dari penulis kitab Al-Umdah dan kitab lainnya sebagai berikut: '... Adapun Ahmad bin Isa, yang dikenal dengan julukan Al-Muhajir, keturunannya merupakan para syarif yang mulia di kalangan non-Arab maupun Arab. Mereka membangun rumah-rumah dengan kubah yang tinggi di berbagai negeri. Mereka menerangi bangsa-bangsa dengan ilmu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan petunjuk Sunnah Nabi, hingga mereka menetap di wilayah Malaka (Melayu) serta pesisir India sebagai para pembimbing...'

Di antaranya juga disebutkan dalam kitab Al-Nafhah Al-Anbariya dan Silsilat Al-Dzahab sebagai berikut:

'... Dan di antara keturunan Isa adalah Al-Sayyid Ahmad yang berpindah ke Hadramaut. Lalu di antara keturunannya adalah Al-Sayyid Ali Al-Khali' yang datang ke Aden pada masa pemerintahan Mas'ud bin Tughtakin bin Ayyub bin Syadi pada tahun 611 H. Ia keluar dari Aden karena suatu urusan yang mengharuskannya pergi ke tanah India. Kemudian ia kembali ke Hadramaut setelah wafatnya Mas'ud. Dan di antara keturunannya adalah Bani Alwi...'"

"Dan disebutkan nasab Bani Alwi putra dari Abi Al-Jadid bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Jadid bin Ali bin Muhammad bin Jadid bin Abdullah bin Ahmad bin Isa.

Di antara mereka yang menisbatkan diri kepada Al-Imam Al-Muhajir adalah keluarga Al-Qab'i, termasuk di antaranya seorang ahli nasab bernama Al-Sayyid Adnan bin Isa bin Mahmud Al-Shadiqi Al-Qab'i.

Di antara ulama yang juga menyebutkan nasab ini adalah:

Amiduddin Al-Najafi dalam kitab Al-Mushajjari Al-Kasysyaf

Ibnu Al-Thaqthaqi dalam kitab Al-Ashili

Ja'far Al-A'raji Al-Kazhimi dalam kitab Al-Balad Al-Amin

Shihabuddin Al-Mar'asyi, yang menetap di Qom, dalam kitab Al-Masyjarat Al-Kabirah

Al-Sayyid Mihri bin Abdul Lathif Al-Husaini dari keluarga Abi Al-Ward dalam kitab Ansab Al-Murtadhawiyyin

Al-Sayyid Abdussatar Al-Hasani dalam kitab Al-Qawl Al-Hassim fi Ansab Bani Hasyim

Syekh Husain bin Muhammad Al-Rifa'i Al-Azhari dalam kitab Dzail Al-Mushajjar Al-Kasysyaf

Syekh Muhammad Badruddin Sibt Al-Syarbinan Al-Syafi'i, seorang pengajar di Al-Azhar, dalam kitab Al-Minah Al-Aliyyah fi Al-Sadah Al-Alawiyyah.

Al-Allamah Ahmad Al-Bujairami dalam risalah Al-Thal'ah Al-Saniyyah fi Madhi Al-Bidh'ah Al-Aydarusiyyah

Al-Allamah Yusuf bin Ismail Al-Nabhani dalam kitab Riyadh Al-Jannah fi Adzkar Al-Kitab wa Al-Sunnah."

SUMBER PENULISAN

Kitab “Al-Imam al-Muhajir: Ahmad bin 'Isa bin Muhammad bin 'Ali al-'Uraidhi bin Ja'far as-Sadiqy”, yang disusun oleh Maha Guru, Ulama Kelas Dunia Profesor Raden KH Mama Abdullah bin Nuh & Sejarawan Senior Penulis Kitab-Kitab Sejarah Berbahasa Arab dan Indonesia, As-Sayyid Muhammad Dhiya’ Shahab, (Jeddah: Percetakan: Dar al-Syuruq, 1980 M/1400 H), halaman 63-71. Kitab ini juga ada dalam bentuk digital (PDF), bagi yang berminat 

๐ˆ๐ฆ๐š๐ฆ ๐€๐ก๐ฆ๐š๐ ๐›๐ข๐ง ๐ˆ๐ฌ๐š (๐ฌ๐จ๐ฌ๐จ๐ค ๐ฉ๐ž๐ง๐ญ๐ข๐ง๐  ๐ง๐š๐ฌ๐š๐› ๐๐š๐ง๐ข ๐€๐ฅ๐š๐ฐ๐ข)

 Namanya kita dapatkan dalam kitab "Tarikh Baghdad" karangan Al-Khatib Al-Baghdadi, yaitu dalam bagian Jarir At-Tabari, itu ahli sejarah yang terkenal. Di situ dikutip beberapa kalimat dari kata-katanya, demikian : "Aku (Muhammad bin Jarir At-Tobari) telah terima sepucuk surat dari Al-muhajir Al-imam Ahmad bin 'Isa Al'alawi dari Basrah".

Jadi ia itu hidup di zamannya At-Tobari, penyusun kitab "Tarikh at-Tobari" yang terkenal itu, terdiri dari 13 juz.
Dalam kitab "Musnad al-Imam Ahmad bin Tsa terdapd riwayat hidup singkat baginya, demikian Ia (Almuhajir Ahmad bin 'Isa) dilahirkan di Basrah ('Irak) pada malam Jum'at tanggal 13 Jumadil awal, tahun 241 Hijrah, pada masa masih hidup kakeknya (Muhammad An-Naqib). Ia adalah anak kedua bagi ayahnya ('Isa bin Muhammad), satu tahun enam bulan lebih muda daripada kakaknya (Muhammad bin 'Isa), Ia, di antara saudara-saudaranya, adalah yang paling panjang usianya, ia hidup lebih dari seratus tahun. Berhubung dengan kelahirannya itu, maka kakeknya mengadakan walimah pada hari ketujuhnya, dihadiri oleh seorang Imam Ahli Hadits, yaitu Abu Tohir Ahmad bin Harun bin Musa Al-Kadzim bin Ja'far As-Sadiq, guru besar Irak pada masa itu. Hadir pula disitu Al-Imam Ishak bin 'Abbas bin Ishak bin Musa Al-Kadzim, terkenal dengan julukan Al-Mahlus al-Akbar, naqib dari segala naqib-naqib di Wasit, ketika itu ia sedang ada di Basrah, yaitu pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil dari Bani'Abbas.
Ia (Almuhajir) adalah penghafal Al-Qur'an, belajar qiraat 'Asim pada Imam Qasim bin Ahmad al-Khayyat, dan padanya pula ira belajar; huruf rasm, tajwid dan 'ilmu-ilmu Al-Qur'an, Nahwu, 'arabiyah dan sastera telah ia pelajari pula pada Imam, Abu 'Ali Hasan bin Dawud bih Hasan bin 'Awn bin Munzir bin Sobih al-Qurasyi, yaitu yang terkenal dengan nama julukan An-Naqqar An-Nahwi Al-Kufi, seorang imam dalam ilmu logat (lughah) pada masa itu. Dalam ilmu Fiqh, ia (Ahmad Almuhajir) mula-mula bermazhab Ja'fari, tegasnya berittiba' kepada ijtihadnya Imam Ja'far As-Sadiq, lalu kemudian ber-ijtihad sendiri, dengan pengertian mendalam tentang riwayat Hadits dan ilmui-lmu yang berhubungan dengan itu. Akhimya cenderunglah ia kepada mazhab Imam Syafi'i dalam istidlal dan mu'amalatnya, dan selanjutnyapun tetaplah ia berpendirian demikian. (Karena itulah maka keturunannya dan murid-muridnya semua bermazhab Syafi'i).
Untuk menuntut ilmu, selain di Basrah, ia pergi ke Baghdad, Wasit, Persi, Asfahan, Kufah, Di sana ia belajar dengan langsung pada gum-guru besar dalam ilmu Hadist. Ia pernah belajar pada Bisyr bin Haris Al-Hafi (seorang tokoh yang sering disebut namanya oleh Imam Ghazali datam karangan-kanngannya). Pernah pula ia mengalap ilmu sastera pada Ahmad bin Faraj Ar-Riasyi. Akhimya kembalilah ia ke Basrah, di mana ia memegang jabatan Naqib, menggantikan saudaranya yang meninggal. Jabatan Naqib itu ialah jabatan khas untuk pemeliharaan silsilah, kelahiran dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keturunan dsb. Kemudian ia pegang pula direksi unrsan wakaf bagi golongan para syarif dengan pengesahan dari Khalifah Bani 'Abbas. Kemudian bersuluklah ia dan berhubungan dengan para ahli tasawwuf, suka berkhalwat, akhirnya ditinggalkannyalah segala jabatan itu, terutama setelah menyaksikan peristiwa-peristiwa pemberontakan bangsa Zinji (Negro) di sana, yang menyerbu masuk ke Basrah, di mana terbunuh Ahmad bin Faraj Riasyi. Diwaktu itu ia (Almuhajir) bersembunyi dalam Sebuah sumur dengan keluarganya. Kemudian keadaan bertambah kacau dengan datangnya kaum Karamitah di Basrah. Akhlrnya berhijrahlah ia mula-mula ke Hijaz di bulan Bajab 316 Hijrah, beserta isterinya, Sayyidah Zarnab binti 'Abdullah bin Hasan bin 'Ali 'Uraidi bin Ja'far Sadiq. ๐ˆ๐ค๐ฎ๐ญ ๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐š ๐ฉ๐ฎ๐ญ๐ž๐ซ๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ซ๐ง๐š๐ฆ๐š ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ๐ฅ๐š๐ก (๐ค๐ž๐ฆ๐ฎ๐๐ข๐š๐ง ๐๐ข๐ฌ๐ž๐›๐ฎ๐ญ ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐”๐๐€๐ˆ๐ƒ๐ˆ๐‹๐‹๐€๐‡) ๐›๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐ข๐š 20 ๐ญ๐š๐ก๐ฎ๐ง. Demikian pula ikut dalam perjalanan ini beberapa orang lainnya, diantaranya beberapa putera dari Husain bin 'Ali Hadi bin Muhammad Jawad bin 'Ali Rido bin Musa Kazim.
Almuhajir dan rombongannya keluar dari Basrah menuju Bagdad, lalu melanjutkan perjalanan ke Damsik, kemudian menuju Madinah. Mereka sampai di Madinah pada tanggal 18 Syawal 316 H.
Ada beberapa orang tetap tinggal di Basrah yaitu : puteranya bernama Muhammad bin Ahmad, mewakili ayahnya sebagai naqib para Syarif, dan beberapa orang lagi dari putera-putera saudaranya, (Muhammad bin 'Isa).
Dalam perjalanannya ke Hijaz, mereka singgah di Mosul, Palestina, Syam. Akan tetapi setelah sampai di Madinah, maka dalam tahun itu pula kaum Karamitah masuk ke Madinah dan. Makkah di mana mereka mengacau dan melakukan pembunuhan terhadap jema'ah haji. Maka dilanjutkannyalah hijratrnya itu ke Yaman pada tahun 317 H. Kemudian berpindahlah ia dari negeri ke negeri orang supaya ia pergi ke Hadramaut untuk rnenyebarkan itmu dan hidayat di sana. Maka berhijrahlah ia di negeri Hadramaut.
Sumber :
KH Prof. Mama Ajengan Abdullah bin Nuh, Ringkasan Sejarah Walisongo (Surabaya : Penerbit Teladan, Tanpa Tahun), 16-20. Materi ini bisa diakses bebas dalam bentuk PDF.

"HINAAN-HINAAN KEPADA BANI ALAWI OLEH KAUM NAWASHIB"

Selama 3 tahun terakhir ini semenjak munculnya isu nasab, muncul sikap rasis dari orang-orang yang mengaku mencintai Ahlul Bait, tapi justru kelakuannya bertolak belakang dengan klaim akan kecintaan ahlul bait. Dengan dalih bahwa Bani Alawi bernasab palsu mereka secara habis-habisan menghina dan mencaci maki para habaib. Padahal penolakan akan nasab Bani Alawi hanyalah minoritas dari sekian banyak ulama yang mengakui.

Hinaan-hinaan telah ditujukan kepada beberapa habaib berpengaruh seperti Hb Lutfi, hb Umar bin Hafiz, Hb Ali Bungur, Hb Ali Kwitang, Hb Soleh Tanggul, Hb Abdurrahman Assegaf Bukit Duri, Hb Umar Cipayung, Hb Salim Jindan, Hb Abdullah Bilfaqih, dll. Oleh mereka para habaib tersebut telah dihina secara habis-habisan oleh manusia² PEMBENCI KETURUNAN NABI. Padahal mereka yang dihina ini bukanlah ulama sembarangan, mereka banyak panutan ummat dan waliyullah.
Hinaan mereka sudah luar biasa jahatnya, saya saja juga sempat dihina habis habisan oleh pendukung garis Imad cs, hanya karena membela nasab Bani Alawi, saya dibilang DAJJAL, BLO'ON, TUKANG TIPU SEJARAH, dan hinaan-hinaan lain, untungnya saya gak terpancing untuk menghina mereka sampai begitu parahnya walaupun hati agak panas juga, tapi alhamdulillah masih bisa ditahan berkat masukan dari istri, paling paling cuma saya cakin ala Betawi. Tapi lihat Hb Hanif dan Hb Riziq dibikinin meme yang sangat kotor dan vulgar, hb Taufik bahkan ada yang bilang asu dan meme yang sadis, Rais Am PBNU saja mereka hina sehinanya, Gus Wafi malah dibilang celengan semar, Gus Rumail dibilang Pinokio dan tukang ngibul, Gus Gus lain bahkan dikata katain hanya karena mereka menjelaskan siapa Bani Alawi yang sesungguhnya....intinya, anda membela Bani Alawi maka bersiaplah mendapat hinaan-hinaan, bersiaplah dipersekusi dan bersiaplah dicap sebagai penipu, manusia bodoh dan tolol, otak dangkal, dungu, dll..
Para pecinta habaib dibilang MUKIBIN (Kibin), DOBOLOWI, dan hinaan hinaan rasis lainnya. Terakhir Gus Baha dan Mbah Riyan yang kita tahu kapasitas keilmuannya juga ikut dikata-katain...paling² mereka memuji Prof Quraish Shihab dan Najwa Shihab yang kata mereka tahu diri karena gak ngaku ngaku keturunan Nabi, padahal sikap Prof Quraish adalah ketawaduannya sebagai ahlul bait, mereka lupa kalau Prof. Quraish Baalawi tulen dan guru gurunya banyak yang Baalawi dan dia jebolan Darul Hadist Malang dan murid dari Habib Abdul Qadti Bilfaqih...Sedangkan Najwa, alm suaminya adalah Baalawi.
Anda yang memang mencintai Ahlul Bait, jangan ikut ikutan melabeli orang² tersebut, silahkan debat mereka baik keras ataupun lembut, tapi gak perlu ngatain mereka dengan label binatang, kotoran manusia, omongan kotor dan jorok..silahkan kalau mau nyindir secara satire atau sekalian sarkas yang penting jangan pernah keluar seperti tulisan dan kata kata mereka yang jauh dari akhlak..
Entah apa mereka sadar kalau apa yang mereka perbuat kelak akan jadi dosa jariah kalau tidak cepat bertobat, apalagi hinaan hinaan masih terus diputar dan dilihat di medsos..Apa mereka juga tidak sadar bahwa yang mereka kata-katai banyak diakui sebagai Waliyullah...Betapa mengerikannya kelak mereka yang menyakiti para Wali Allah karena Allah langsung yang akan memberi pelajaran, cepat atau lambat, kalau tidak pada dirinya bisa jadi pada keluarga sebagai cara Allah menegur mereka...
Apakah dulu pernah terjadi ?
Ya pernah terjadi, banyak keturunan Nabi yang didustai, bahkan dikejar kejar dan dibunuh, tidak sedikit mereka yang nasabnya dianggap batil hanya karena mereka berani melawan penguasa dan melawan kesewenang wenangan...tidaklah usah heran jika keturunan Nabi banyak yang hijrah termasuk Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi dan anaknya Abdullah (Ubaidillah) yang berusia 20 tahun yang berhijrah ke Hadramaut....
Sejarah kini berulang, kita harus berhadapan dengan kaum Nawashib yang mengingatkan akan sosok Abdurahman bin Muljam yang selalu merasa dirinya benar, merasa paling faham agama, merasa paling dekat dengan Allah, merasa memuliakan Alquran dan Sunnah tapi ternyata dia membenci Sayyidina Ali bahkan akhirnya membunuhnya..namanya memang Islami tapi dia gagal membuktikan arti dari nama Abdurrahman....

NAMA WALI SONGO DIRUSAK !

 WALI SONGO berdakwah dengan pendekatan akhlak melalui nilai-nilai kesufian, sehingga akhirnya banyak orang² yang tadinya kafir masuk Islam secara rela, tapi yang ini memakai nama WALI SONGO justru banyak menciptakan fitnah dan adu domba, menggunakan nama WALI SONGO justru untuk mencaci maki dan memperkusi.

Ajaran WALI SONGO yang mengedepankan akhlak yang luhur seperti yang pernah diwariskan Al Imam Ahmad Al-Muhajir hancur ditangan orang-orang yang mengaku masih sholat tapi lidahnya beracun dan akhlaknya seperti Abdurrahman bin Muljam....
Mereka lupa arti kata WALI, perbuatan mereka lebih menyerupai SYAITON. Para Wali yang dakwahnya tembus ke sanubari rakyat berlaku seperti layaknya antara orangtua dan anak, tapi mereka ini mengaku berdakwah tapi senang dengan kekerasan verbal maupun non verbal.
Terlalu picik rasanya menggunakan nama WALI SONGO tapi perilakunya mirip Abu Jahal.
Sejak dulu ajaran utama WALI SONGO salah satunya menghormati para ulama, dan menata hati dengan jalan mengikuti Thoriqoh...
Ajaran WALI SONGO menciptakan persatuan bukan perpecahan, ajaran WALI SONGO merangkul bukan memukul, ajaran WALI SONGO mengayomi bukan menindas, ajaran WALI SONGO menyempurnakan akhlak bukan justru merusak akhlak...
WALI SONGO tidak gila nasab atau menjual nasab dalam berdakwah, garis keturunan bukan untuk dipamerkan atau diadu dengan nasab lain.
WARISAN WALI SONGO yang paling utama dalam kehidupan penerusnya bukanlah pamer nasab atau pamer status sosial, tapi ajaran utama WALI SONGO adalah MENERUSKAN AKHLAK YANG LUHUR yang telah diajarkan oleh para keturunan Nabi Muhammad SAW dari generasi ke generasi....