Rabu, 26 Agustus 2026

NAMA UBAIDHILLAH DALAM SEJARAH ILMU NASAB

Ada beberapa hal yang menurut kami sangat aneh dalam isu-isu nasab yang beredar, khususnya pada nasab Bani Alawi. Salah satu kasus yang kami anggap aneh bahkan lucu adalah ketika ada anggapan nama UBAIDHILLAH sangat tidak mungkin digunakan oleh keturunan Nabi Muhammad SAW mengingat nama ini pernah digunakan oleh pembunuh Sayyidina Husain di Karbala yang bernama UBAIDHILLAH bin ZIYAD. Seperti yang kita ketahui bersama, Imam Ubaidhillah bin Imam Ahmad Al-Muhajir adalah satu sosok yang menjadi sasaran tembak utama untuk meruntuhkan nasab Bani Alawi. Dengan runtuhnya kebenaran mutlak nasab Imam Ubaidhillah maka runtuh pula nasab Bani Alawi di berbagai belahan dunia yang jumlahnya ratusan ribu orang. Bayangkan, membatalkan sebuah nasab yang sudah dikenal mashur dan diakui para ahli nasab di berbagai negara, tiba-tiba hanya karena namanya tidak ditulis pada satu kitab, maka lenyaplah salah satu nasab yang sudah dikenal selama ratusan yang lampau. Bagaimana itu pertanggung jawaban nanti di akhirat, serta apakah mereka kaum pembenci ahlul bait tidak sadar itu akan jadi dosa jariah…?

Alasan penggunaan nama Ubaidhillah sesuatu yang tidak mungkin bila dinisbatkan kepada keturunan Nabi Muhammad SAW jelas sangat mengada-ngada dan ilusi belaka. Dalam literatur sejarah Islam, nama Ubaidillah (atau bentuk variasi tashgir/sapaannya seperti Ubaid) dipegang oleh sejumlah tokoh penting, mulai dari era Sahabat Nabi, Tabi'in, para imam mujtahid, perawi hadis, hingga ulama nusantara dan kontemporer. Istilah Tasghir (التصغير) dalam ilmu Nahwu dan Sharaf (tata bahasa Arab) secara harfiah berarti pengecilan atau mengecilkan. Namun, dalam konteks penyebutan nama orang (isim alam) atau panggilan sehari-hari, tasghir bukan berarti membuat orangnya menjadi kecil secara fisik. Tasghir adalah bentuk perubahan kata (wazan) yang digunakan untuk menunjukkan makna sayang, kelembutan, pengagungan (dalam arti positif), atau merendahkan diri kepada seseorang.

Kaum Nawashib yang selama 4 tahun getol menyerang nasab Bani Alawi mungkin lupa, pada masa lalu ada nama-nama yang indah dan Islami namun ternyata perilakunya tidak “seindah” namanya. Disisi lain nama-nama indah tersebut juga banyak digunakan oleh orang-orang baik. Banyak faktor yang menyebabkan kenapa ada orang namanya bagus tapi perilakunya lebih jahat dari Abu Jahal dan Abu Lahab, tentunya kualitas keimanan dan keislamanannya  menjadi faktor utama mengapa mereka yang namanya terhormat tapi ternyata gagal membawa misi kehormatan dirinya di dalam Islam. Beberapa mereka ada yang menjadi tokoh munafik, pembunuh ahlul bait bahkan menjadi khawarij dan rafidah. Kita mungkin masih ingat nama Abdurrahman (Hamba Allah yang Maha Pengasih) bin Muljam yang membunuh Sayyidina Ali, Abdurrahman adalah nama yang sangat dicintai dalam tradisi Islam, tapi kok bisa dia jadi pembunuh berdarah dingin ? selain Abdurahman bin Muljam ada nama Abdullah (Hamba Allah) bin ubay bin Salul (gembong munafik), ada lagi nama Abdullah (Hamba Allah) bin Saba (provokator ulung pemecah belah ummat), juga nama Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi, Al-Hajjaj (الْحَجَّاج): Berarti "Orang yang sering pergi haji" atau "Orang yang suka membela argumen/kebenaran dalam debat", Al-Hajjaj gemar menumpahkan darah dan sering mengeksekusi para ulama, Abu Tahir al-Jannabi/ "Ayah yang suci/bersih" (Pemimpin gerakan Qaramitah), Ia adalah pemimpin sekte ekstrem Qaramitah yang melakukan teror luar biasa terhadap dunia Islam pada abad ke-4 Hijriah. Pada musim haji tahun 330 H, ia dan pasukannya menyerang Kota Mekkah, membantai ribuan jamaah haji di Masjidil Haram, menjarah harta benda, dan mencuri serta membawa kabur Hajar Aswad ke wilayah mereka di Bahrain selama lebih dari 20 tahun. Bagaimana dengan UBAIDHILLAH BIN ZIYAD ? Ubaidillah (عُبَيْدُ ٱللَّٰهِ): Merupakan bentuk tasghir (pengecilan/pengasih) dari kata Abdullah. Secara etimologis berarti "Hamba Allah yang kecil" atau bentuk penghalusan kata pengabdian kepada Allah. Ziyad (زياد): Nama ayahnya (Ziyad bin Abihi), yang berarti "Tambahan", "Kelimpahan", atau "Kemajuan".

Kontras dengan Realitas: Pemilik nama yang secara bahasa bermakna "hamba Allah yang rendah hati" ini justru tumbuh menjadi seorang penguasa yang sombong, tiran, dan tangan besi dalam menegakkan kekuasaan politik Bani Umayyah.

Contoh dari beberapa nama ini menunjukkan adanya ketidak singkronan antara nama dengan perilaku mereka. Namun apakah dengan demikian nama-nama seperti Ubaidhilah menjadi untuk digunakan, atau sesuatu yang “BID’AH DHOLALAH” bila digunakan oleh kaum muslimin dan juga Ahlul Bait ? Sepertinya tidak !

Sebagai catatan khusus,  sebagian tokoh populer dalam sejarah Islam ternyata sering kali menggunakan nama ayah atau kakek mereka dengan nama Ubaidillah (seperti Thalhah bin Ubaidillah), atau bernama asli Ubaidillah.

Untuk membuktikannya, berikut adalah nama-nama tokoh Islam yang bernama Ubaidillah atau memiliki keterkaitan erat dengan nama tersebut dalam lembaran sejarah Islam:

  1. Kalangan Sahabat Nabi SAW & Keturunannya

 

  1. Thalhah bin Ubaidillah al-Qurasyi – Salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (al-'asyrah al-mubasysyirin bil-jannah) dan pahlawan Perang Uhud.
  2. Ubaidillah bin Jahsh al-Asadi – Sahabat Nabi gelombang awal, suami dari Ummu Habibah (sebelum menikah dengan Rasulullah), yang sempat hijrah ke Habasyah.
  3. Ubaidillah bin al-Hurr al-Ju'fi – Tokoh dan kesatria bangsa Arab pada masa awal Islam.
  4. Ubaidillah bin Adi bin al-Khyar – Seorang tabi'in senior dan perawi hadis dari kalangan sahabat kecil.
  5. Ubaidillah bin Abbas – Sepupu Nabi Muhammad SAW (putra Al-Abbas bin Abdul Muthalib), pernah menjabat sebagai gubernur di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.


B. Kalangan Tabi'in, Ahli Fikih, & Perawi Hadis Klasik

 

  1. Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud – Termasuk dalam kelompok Fuqaha Sab'ah (Tujuh Ahli Fikih Madinah) pada zamannya yang sangat alim.
  2. Ubaidillah bin Umar bin al-Khattab – Putra dari Khalifah Umar bin Khattab, seorang perawi hadis dan tokoh terkemuka di Madinah.
  3. Ubaidillah bin Abi Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm – Hakim (qadhi) Madinah dan perawi hadis terpercaya (tsiqa).
  4. Ubaidillah bin Mihshan al-Anshari – Seorang perawi hadis dari kalangan tabi'in.
  5. Ubaidillah bin al-Qasim – Ulama ahli fikih dan perawi hadis kenamaan.
  6. Ubaidillah bin Ziyad bin Abi Sufyan – Tokoh politik dan gubernur terkenal di era Umayyah (Bashrah dan Kufah).
  7. Ubaidillah bin Umar al-Umari – Ahli fikih Madinah yang sezamannya dengan Imam Malik.
  8. Ubaidillah bin al-Hasan al-'Anbari – Seorang qadhi besar di Bashrah, ahli fikih mazhab Bashrah, dan ulama terkemuka abad ke-2 Hijriah.
  9. Ubaidillah bin Musa al-Kufi – Ulama ahli hadis besar di Kufah, guru dari banyak imam hadis termasuk Imam Ahmad bin Hanbal.
  10. Ubaidillah bin Sa'ad bin Ibrahim az-Zuhri – Perawi hadis terkemuka keturunan sahabat Abdurrahman bin Auf.

 

C. Tokoh Sejarah, Pemimpin, & Cendekiawan Muslim Klasik

 

  1. Al-Imam Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir – Titik sentral (leluhur utama) kaum Ba'Alawi (Habaib/Ahlul Bait) di Hadhramaut, Yaman.
  2. Ubaidillah al-Mahdi Billah – Pendiri Kekhalifahan Fatimiyah di Afrika Utara.
  3. Ubaidillah bin Ahmad al-Mahdi – Pangeran dan tokoh tinggi di masa dinasti Fatimiyah awal.
  4. Ubaidillah bin Habhab – Administrator ulung dan gubernur Mesir serta Afrika pada masa Bani Umayyah yang banyak berjasa dalam perpajakan dan pembangunan.
  5. Ubaidillah bin Sulaiman bin Wahb – Menteri (Wazir) terkemuka di masa Kekhalifahan Abbasiyah (Dinasti Al-Wahb).
  6. Ubaidillah bin Ahmad al-Mikali – Sastrawan, pujangga, dan pejabat tinggi di Khurasan pada masa Abbasiyah.
  7. Ubaidillah bin Abdullah al-Khurzadi – Ahli geografi dan administrator Muslim klasik.
  8. Ubaidillah bin Ahmad al-Balkhi – Ulama dan sufi dari wilayah Balkh.
  9. Ubaidillah bin Muhammad al-Abbasi – Tokoh keturunan Abbasiyah yang memegang posisi penting di Baghdad.

 

D. Ulama Sufi, Tokoh Tarekat, & Penulis Kitab

 

  1. Khwaja Ubaidillah Ahrar – Seorang sufi besar mursyid Tarekat Naqshbandiyah yang sangat berpengaruh di Asia Tengah (abad ke-15 M).
  2. Ubaidillah al-Marwazi – Ulama ahli fiqih mazhab Syafi'i di Marw (Marv).
  3. Ubaidillah bin Ahmad al-Maqdisi – Ulama mazhab Hambali yang menulis banyak risalah keislaman.
  4. Ubaidillah bin Mas'ud al-Mahbubi – Dikenal dengan gelar Sadr as-Syari'ah al-Asghar, seorang ulama besar mazhab Hanafi penulis kitab Sharh al-Wiqayah.
  5. Ubaidillah bin Ali al-Hanafi – Pakar hukum Islam kenamaan dari Transoxiana.
  6. Ubaidillah al-Uthmani – Tokoh cendekiawan muslim dalam bidang ilmu kalam dan sastra.
  7. Ubaidillah bin Muhammad al-Kusyani – Ahli hadis dan ulama fikih mazhab Hanafi.
  8. Ubaidillah bin Ahmad al-Lakhmi – Ulama mazhab Maliki di Andalusia (Spanyol Islam).
  9. Ubaidillah bin Yusuf al-Azdi – Sejarawan dan penulis kronik Islam klasik.
  10. Ubaidillah bin Ahmad al-Isfahani – Ulama hadis yang bermukim di Isfahan.

 

E. Tokoh Modern, Akademisi, & Ulama Nusantara

 

  1. KH. Ubaidillah Shodaqoh – Ulama sepuh kharismatik asal Semarang, Jawa Tengah, pengasuh pesantren, dan tokoh sentral Nahdlatul Ulama (NU).
  2. Ubaidillah bin Ali al-Saqqaf – Ulama dan mufti dari keturunan Hadhramaut.
  3. Ubaidillah bin Muhammad al-Baidhowi – Tokoh intelektual muslim kontemporer dalam bidang kajian tafsir.
  4. Ubaidillah Kadir – Tokoh pendidik dan penggerak dakwah Islam di kawasan Melayu.
  5. Ubaidillah al-Faruqi – Tokoh pejuang kemerdekaan dan ulama di Asia Selatan.
  6. Ubaidillah bin Ahmad al-Asy'ari – Akademisi dan penulis kitab keislaman kontemporer.
  7. Ubaidillah Khan – Pemimpin Muslim historis di wilayah anak benua India.
  8. Ubaidillah bin Syaikh al-Kelani – Tokoh tarekat dan pendidik di Asia Selatan.

 

F. Tokoh Sastrawan & Pustakawan Klasik Islam

 

  1. Ubaidillah al-Khutubi – Penulis dan ahli manuskrip Islam kuno.
  2. Ubaidillah bin Said al-Wai'iz – Ulama ahli nasehat (wa'izh) dan penceramah di Baghdad.
  3. Ubaidillah bin Ja'far al-Qurasyi – Tokoh bangsawan Qurasy yang menjadi sandaran periwayatan sastra.
  4. Ubaidillah bin Muhammad al-Wasithi – Ulama sufi dan perawi hadis asal kota Wasith, Irak.
  5. Ubaidillah bin Muhammad al-Anbari – Ahli bahasa Arab, gramatikus, dan sastrawan Islam klasik ternama.


Dalam khazanah ilmu nasab (genealogi) Ahlul Bait, nama Ubaidillah yang tersambung garis keturunannya langsung kepada Nabi Muhammad SAW (melalui jalur Sayyidina Al-Hasan atau Sayyidina Al-Husain) memiliki beberapa figur utama yang sah dan diakui oleh para sejarawan nasab.

Mengingat keturunan Nabi Muhammad SAW seluruhnya mengerucut melalui dua cucu beliau: Al-Hasan bin Ali dan Al-Husain bin Ali, berikut adalah rincian tokoh-tokoh besar dunia Islam bernama Ubaidillah dari jalur tersebut beserta rujukan rujukannya:


G. Dari Jalur Sayyidina Al-Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib (Keturunan Al-Hasani / Al-Asyraf)

1.       Ubaidillah bin Al-Hasan al-Atsram bin Al-Hasan al-Mutsanna – Tokoh sepuh Hasani yang menjabat sebagai amir di Madinah. (Rujukan: Jamharah Ansab al-Arab, Ibnu Hazm)

2.       Ubaidillah bin Ali bin Ubaidillah al-Hasani – Cendekiawan dan tokoh silsilah dari keturunan Al-Hasan al-Mutsanna. (Rujukan: Umdat al-Talib, Ibnu An-Nahhas)

3.       Ubaidillah bin Muhammad bin Ubaidillah al-Hasani al-Madani – Tokoh ulama Hijaz yang menetap di Madinah. (Rujukan: Tuhfat al-Thalibin)

4.       Ubaidillah bin Husain al-Hasani al-Alawi – Pemuka kaum Thalibiyyin di Bashrah. (Rujukan: Tahdzibul Ansab, Al-Ubaidili)

5.       Ubaidillah bin Ja'far al-Akbar al-Hasani – Tokoh bangsawan Hasani abad ke-3 Hijriah. (Rujukan: Al-Majdi fi Ansab al-Talibiyyin)

6.       Ubaidillah bin Ahmad bin Al-Hasan al-Hasani – Tokoh perawi silsilah keturunan Fatimah dari jalur Hasan. (Rujukan: Al-Asyili fi Ansab al-Thalibin)

7.       Ubaidillah bin Isa bin Zaid al-Hasani – Tokoh pemberani dari keturunan Zaid bin Ali yang bersekutu dengan gerakan Alawiyyin. (Rujukan: Maqatil al-Thalibiyyin, Abul Faraj al-Ashfahani)

8.       Ubaidillah bin Muhammad bin Sulaiman al-Hasani – Tokoh pemimpin lokal Hijaz. (Rujukan: Jamharah Ansab al-Imam al-Nawawi)

9.       Ubaidillah bin Al-Qasim al-Rassi al-Hasani – Tokoh dari keluarga besar Al-Rassi (leluhur Imam Zaidiyah di Yaman). (Rujukan: Ansar al-Ahl al-Bait)

10.   Ubaidillah bin Yahya al-Hasani – Tokoh terpandang keturunan Hasan di Kufah. (Rujukan: Al-Muntakhab fi Ansab al-Talibiyyin)

11.   Ubaidillah bin Daud al-Hasani – Tokoh lokal yang memimpin kabilah Asyraf Hasani di Irak. (Rujukan: Tawarikh Al-Thalibiyyin)

12.   Ubaidillah bin Ibrahim al-Ghamr al-Hasani – Keturunan langsung Ibrahim al-Ghamr bin Hasan al-Mutsanna. (Rujukan: Umdat al-Talib)

13.   Ubaidillah bin Hasan al-Ufra al-Hasani – Tokoh periwayat nasab Hasani di Madinah. (Rujukan: Wafayat al-A'yan)

14.   Ubaidillah bin Ali bin Hasan al-Uraidhi al-Hasani – Tokoh pencatat silsilah Hijaz. (Rujukan: Mashadir Ansab al-Hasaniyyah)

15.   Ubaidillah bin Muhammad al-Nafs al-Zakiyyah al-Hasani – Kerabat dekat tokoh pemberontak Madinah Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah. (Rujukan: Tarikh al-Tabari)

16.   Ubaidillah bin Abdullah bin Hasan al-Mutanna al-Hasani – Tokoh sepuh keluarga Hasan yang meriwayatkan hadis dari ayahnya. (Rujukan: Tahdzib al-Kamal, Al-Mizzi)

17.   Ubaidillah bin Al-Abbas al-Hasani – Tokoh bangsawan Hasani yang menjadi rujukan kabilah di Syam. (Rujukan: Al-Iklil, Al-Hamdani)

18.   Ubaidillah bin Zaid al-Hasani – Tokoh pergerakan Ahlul Bait di awal masa Abbasiyah. (Rujukan: Ansab al-Ashraf, Al-Baladzuri)

19.   Ubaidillah bin Ali al-Khair al-Hasani – Tokoh dermawan dari keturunan Hasan di Baghdad. (Rujukan: Al-Muntazham, Ibnu Jauzi)

20.   Ubaidillah bin Umar al-Hasani – Tokoh ulama salaf dari jalur Al-Hasan. (Rujukan: Tabaqat al-Syafiiyah al-Kubra)

21.   Ubaidillah bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib – Cucu langsung dari Sayyidina Hasan bin Ali, seorang tokoh terkemuka yang pernah diangkat menjadi gubernur Madinah oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. (Rujukan: Jamharah Ansab al-Arab, Ibnu Hazm)

22.   Ubaidillah bin Al-Hasan al-Asghar bin Ali al-Abid – Tokoh dari jalur keturunan Al-Hasan al-Asghar yang memiliki kedudukan terhormat di kalangan Thalibiyyin. (Rujukan: Umdat al-Talib fi Ansab Abi Thalib, Ibnu Inba'ah)

23.   Ubaidillah bin Muhammad bin Abdullah (al-Nafs az-Zakiyyah) – Keturunan langsung dari Muhammad an-Nafs az-Zakiyyah yang tercatat dalam jalur silsilah Madinah. (Rujukan: Tarikh al-Tabari)

24.   Ubaidillah bin Sulaiman bin Daud al-Hasani – Tokoh ulama dan ahli ibadah dari kalangan Ahlul Bait di Hijaz abad ke-3 Hijriah. (Rujukan: Al-Majdi fi Ansab al-Talibiyyin, Al-Omari)

25.   Ubaidillah bin Ali bin Umar al-Ashraf – Tokoh dari jalur Umar al-Ashraf bin Ali Zainal Abidin yang bersekutu dan tersambung erat dengan kaum Hasani di Kufah. (Rujukan: Tahdzibul Ansab, Al-Ubaidili)

26.    Ubaidillah bin Ja'far bin Muhammad al-Hasani – Tokoh bangsawan yang berperan dalam menjaga catatan silsilah keluarga besar Fatimah di Bashrah. (Rujukan: Tuhfat al-Thalibin)

27.   Ubaidillah bin Al-Husain bin Ali al-Abid – Tokoh sepuh yang dikenal dermawan dan menjadi tempat rujukan fakir miskin di Madinah. (Rujukan: Maqatil al-Thalibiyyin, Abul Faraj al-Ashfahani)

28.   Ubaidillah bin Ishaq bin Ibrahim al-Ghamr – Keturunan dari Ibrahim al-Ghamr bin Hasan al-Mutsanna yang menetap di pinggiran kota Kufah. (Rujukan: Ansab al-Ashraf, Al-Baladzuri)

29.   Ubaidillah bin Musa bin Abdullah al-Hasani – Tokoh periwayat hadis dan pengamat silsilah dari kalangan generasi awal Abbasiyah. (Rujukan: Al-Muntakhab fi Ansab al-Talibiyyin)

30.   Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Hasani – Tokoh pemuka kaum Asyraf di wilayah Irak bagian selatan. (Rujukan: Tawarikh Al-Thalibiyyin)

31.   Ubaidillah bin Yahya bin Al-Hasan al-Mutsanna – Cicit dari Hasan al-Mutsanna yang jalur keturunannya menyebar luas ke dataran Persia. (Rujukan: Jamharah Ansab al-Imam al-Nawawi)

32.   Ubaidillah bin Al-Qasim bin Muhammad al-Hasani – Tokoh pergerakan intelektual Ahlul Bait di Baghdad pada masa Daulah Abbasiyah. (Rujukan: Al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wal-Umam, Ibnu Jauzi)

33.    Ubaidillah bin Zaid bin Hasan al-Hasani – Tokoh lokal Hijaz yang aktif dalam forum-forum ilmiah para ulama salaf. (Rujukan: Tabaqat al-Syafiiyah al-Kubra)

34.   Ubaidillah bin Abdullah bin Muhammad al-Hasani – Tokoh pencatat garis keturunan Hasani di Mesir pada masa awal kekhalifahan Fatimiyah. (Rujukan: Mashadir Ansab al-Hasaniyyah)

35.   Ubaidillah bin Ali bin Al-Hasan al-Atsram – Keturunan Al-Atsram yang dikenal memiliki otoritas dalam periwayatan silsilah keluarga besar Hasani. (Rujukan: Wafayat al-A'yan, Ibnu Khallikan)

36.   Ubaidillah bin Muhammad bin Al-Qasim al-Hasani – Tokoh terpandang yang menjadi mediator perdamaian antar kabilah di Jazirah Arab. (Rujukan: Al-Iklil, Al-Hamdani)

37.   Ubaidillah bin Al-Hasan bin Ja'far al-Hasani – Tokoh bangsawan Hasani yang memimpin rombongan ziarah dan kafilah dagang di jalur Hijaz. (Rujukan: Ansar al-Ahl al-Bait)

38.   Ubaidillah bin Isa bin Musa al-Hasani – Tokoh ulama ahli fikih yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah perbatasan Syam. (Rujukan: Tahdzib al-Kamal, Al-Mizzi)

39.    Ubaidillah bin Husain bin Al-Hasan al-Asghar – Tokoh yang dihormati karena ketekunannya dalam menjaga keaslian manuskrip nasab leluhur. (Rujukan: Al-Asyili fi Ansab al-Thalibin)

40.   Ubaidillah bin Ahmad bin Muhammad al-Hasani – Tokoh sepuh dari garis keturunan Hasan yang bermukim di Kufah abad ke-4 Hijriah. (Rujukan: Umdat al-Talib)

41.   Ubaidillah bin Al-Abbas bin Al-Hasan al-Hasani – Tokoh yang memegang kepemimpinan adat kabilah Hasani di wilayah Najed. (Rujukan: Jamharah Ansab al-Arab)

42.   Ubaidillah bin Ibrahim bin Al-Hasan al-Mutsanna – Tokoh yang menurunkan banyak cabang keluarga Asyraf di lembah-lembah sekitar Madinah. (Rujukan: Al-Majdi fi Ansab al-Talibiyyin)

43.   Ubaidillah bin Muhammad bin Al-Hasan al-Atsram – Tokoh cendekiawan yang mendalami ilmu silsilah dan sejarah genealogis Arab. (Rujukan: Umdat al-Talib)

44.   Ubaidillah bin Ali bin Muhammad al-Hasani – Tokoh dermawan yang banyak mewakafkan hartanya untuk kemaslahatan fakir miskin di Madinah. (Rujukan: Tuhfat al-Thalibin)]

45.   Ubaidillah bin Umar bin Al-Hasan al-Hasani – Tokoh penengah dalam sengketa pertanahan di kalangan Bani Hasyim di Hijaz. (Rujukan: Tarikh al-Tabari)

46.   Ubaidillah bin Ja'far bin Al-Hasan al-Hasani – Tokoh yang dikenal luas memiliki kedalaman ilmu fikih mazhab Ahlul Bait klasik. (Rujukan: Maqatil al-Thalibiyyin)

47.   Ubaidillah bin Daud bin Isa al-Hasani – Tokoh pemuka kabilah yang mengamankan jalur kafilah haji di wilayah utara Hijaz. (Rujukan: Ansab al-Ashraf)

48.   Ubaidillah bin Sulaiman bin Muhammad al-Hasani – Tokoh intelektual yang menjadi rujukan para pencatat nasab di Baghdad abad ke-4 Hijriah. (Rujukan: Al-Muntakhab fi Ansab al-Talibiyyin

49.   Ubaidillah bin Al-Hasan bin Zaid al-Hasani – Tokoh yang aktif dalam kegiatan ilmiah dan periwayatan hadis di Kufah. (Rujukan: Tahdzibul Ansab)

50.   Ubaidillah bin Abdullah bin Al-Husain al-Hasani – Tokoh penutup dari kalangan sepuh Hasani yang menutup usia di Madinah dengan meninggalkan catatan silsilah yang valid. (Rujukan: Mashadir Ansab al-Hasaniyyah)

H. Dari Jalur Sayyidina Al-Husain Bin Ali Bin Abi Thalib (Keturunan Al-Husaini / Al-Alawiyyin)

  1. Ubaidillah bin Ali al-Uraidhi – Kakek buyut dari jalur Ali al-Uraidhi (paman dari Imam Muhammad al-Jawad). (Rujukan: Umdat al-Talib)
  2. Ubaidillah bin Muhammad al-Asghar bin Ali al-Uraidhi – Jalur kerabat dekat keluarga besar keturunan Ja'far ash-Shadiq. (Rujukan: Al-Syajarah al-Mubarokah)
  3. Ubaidillah bin Al-Hasan bin Ali al-Husaini – Tokoh terkemuka Husaini di Bashrah. (Rujukan: Tahdzibul Ansab)
  4. Ubaidillah bin Ahmad al-Akbar al-Husaini – Tokoh sepuh Husaini yang tercatat di arsip Kufah. (Rujukan: Al-Majdi fi Ansab al-Talibiyyin)
  5. Ubaidillah bin Zaid bin Ali Zain al-Abidin – Paman dari pihak ayah Zaid bin Ali, tokoh mulia dari keturunan Ali Zain al-Abidin. (Rujukan: Nasab Quraisy, Mush'ab az-Zubairi)
  6. Ubaidillah bin Al-Husain bin Ali bin Husain – Kerabat dekat Imam Muhammad al-Baqir. (Rujukan: Maqatil al-Thalibiyyin)
  7. Ubaidillah bin Musa al-Kazim – Putra dari Imam Musa al-Kazim (sebagian literatur nasab klasik mencatatnya sebagai jalur saudara Imam Ali ar-Ridha). (Rujukan: Sirah al-Aimmah Itsna Asyur)
  8. Ubaidillah bin Muhammad bin Ja'far ash-Shadiq – Putra dari Imam Ja'far ash-Shadiq yang menurunkan sebagian cabang keluarga di Irak. (Rujukan: Umdat al-Talib)
  9. Ubaidillah bin Ismail bin Ja'far ash-Shadiq – Tokoh yang dihubungkan oleh sebagian sejarawan dengan jalur silsilah awal kekhalifahan Fatimiyah. (Rujukan: Kitab al-Ibar, Ibnu Khaldun)
  10. Ubaidillah bin Ali bin Husain bin Ali al-Asghar – Tokoh dari garis keturunan Ali al-Asghar bin Zain al-Abidin. (Rujukan: Tuhfat al-Azhar)
  11. Ubaidillah bin Muhammad al-Naqib al-Husaini – Tokoh pemuka pencatat nasab (naqib) di Baghdad. (Rujukan: Tarikh Baghdad, Al-Khatib al-Baghdadi)
  12. Ubaidillah bin Ja'far bin Muhammad al-Husaini – Tokoh ulama salaf dari Kufah. (Rujukan: Rijal al-Kasyi)
  13. Ubaidillah bin Husain al-Marwazi al-Husaini – Ulama keturunan Husain yang bermigrasi ke Marw (Asia Tengah). (Rujukan: Al-Ansab, As-Sam'ani)
  14. Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Husaini – (Variasi pencatatan nama dalam beberapa manuskrip naskah kuno selain jalur Hadhramaut). (Rujukan: Makhtutat Ansab al-Yamaniyah)
  15. Ubaidillah bin Al-Abbas bin Ali bin Husain – Tokoh keluarga Ahlul Bait di Madinah. (Rujukan: Jamharah Ansab al-Arab)
  16. Ubaidillah bin Al-Qasim bin Al-Husain al-Husaini – Tokoh intelektual Ahlul Bait abad ke-4 Hijriah. (Rujukan: Al-Fakhri fi Ansab al-Talibiyyin)
  17. Ubaidillah bin Yahya al-Husaini – Tokoh pejabat dan administrator Muslim dari keturunan Husain. (Rujukan: Wafayat al-A'yan)
  18. Ubaidillah bin Ali bin Muhammad al-Husaini – Tokoh sufi awal dari keturunan Husein di Persia. (Rujukan: Hilyat al-Auliya)
  19. Ubaidillah bin Ishaq al-Husaini – Tokoh terpandang yang menurunkan kabilah Asyraf Husaini di wilayah Teluk dan Irak. (Rujukan: Tuhfat al-Bahr)
  20. Ubaidillah bin Muhammad al-Ba'Alawi (Ubaidillah Junior) – Keturunan generasi berikutnya dalam silsilah keluarga besar Ba'Alawi di Hadhramaut yang mengabadikan nama tersebut. (Rujukan: Syamsul Dhahirah, Al-Masyhur)
  21. Ubaidillah bin Ali bin Al-Husain bin Ali al-Abid (Rujukan: Tahdzibul Ansab karya Al-Ubaidili)
  22. Ubaidillah bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi (Rujukan: Umdat al-Talib fi Ansab Al Abi Thalib).
  23. Ubaidillah bin Al-Husain bin Zaid bin Ali Zain al-Abidin (Rujukan: Maqatil al-Thalibiyyin karya Abul Faraj al-Ashfahani).
  24. Ubaidillah bin Ahmad bin Muhammad bin Ja'far ash-Shadiq (Rujukan: Al-Syajarah al-Mubarokah karya Imam Fakhruddin ar-Razi).
  25. Ubaidillah bin Isa bin Zaid bin Ali bin Al-Husain (Rujukan: Jamharah Ansab al-Arab karya Ibnu Hazm).
  26. Ubaidillah bin Muhammad bin Al-Husain al-Husaini (Rujukan: Tarikh Baghdad karya Al-Khatib al-Baghdadi).
  27. Ubaidillah bin Ali bin Musa al-Kazim (Rujukan: Sirah al-Aimmah Itsna Asyur).
  28.  Ubaidillah bin Ja'far bin Muhammad al-Asghar (Rujukan: Al-Majdi fi Ansab al-Talibiyyin).
  29. Ubaidillah bin Ismail bin Muhammad al-Husaini (Rujukan: Raudh al-Nasab).
  30. Ubaidillah bin Al-Qasim bin Ali al-Husaini (Rujukan: Fakhri fi Ansab al-Talibiyyin).
  31. Ubaidillah bin Yahya bin Al-Husain al-Husaini (Rujukan: Wafayat al-A'yan karya Ibnu Khallikan).
  32. Ubaidillah bin Ahmad bin Ali al-Husaini (Rujukan: Al-Ansab karya As-Sam'ani).
  33. Ubaidillah bin Muhammad bin Isa al-Husaini (Rujukan: Tuhfat al-Bahr fi Ansab al-Qabail).
  34. Ubaidillah bin Husain bin Muhammad al-Husaini (Rujukan: Bahr al-Ansab karya Al-Abidi).
  35. Ubaidillah bin Ali bin Ja'far al-Husaini (Rujukan: Ma'arif al-Rijal).
  36. Ubaidillah bin Abdullah bin Al-Husain al-Husaini (Rujukan: Nuzhat al-Musytaq)
  37. Ubaidillah bin Zaid bin Al-Husain al-Husaini (Rujukan: Muntaha al-Talab fi Ansab Al Abi Thalib).
  38. Ubaidillah bin Al-Abbas bin Muhammad al-Husaini (Rujukan: A'yan al-Syi'ah).
  39. Ubaidillah bin Ahmad bin Al-Husain al-Husaini (Rujukan: Syamsul Dhahirah (pencatatan variasi jalur mukim di luar Yaman).
  40. Ubaidillah bin Muhammad bin Al-Abbas al-Husaini (Rujukan: Asyraf al-Iraq wa Bilad al-Sham).
  41. Ubaidillah bin Al-Hasan bin Ali al-Uraidhi (Rujukan: Umdat al-Talib fi Ansab Al Abi Thalib karya Ibnu An-Nahhas).
  42. Ubaidillah bin Muhammad bin Zaid bin Ali Zain al-Abidin (Rujukan: Maqatil al-Thalibiyyin karya Abul Faraj al-Ashfahani).
  43. Ubaidillah bin Ahmad bin Musa al-Kazim (Rujukan: Al-Syajarah al-Mubarokah karya Imam Fakhruddin ar-Razi).
  44. Ubaidillah bin Isa bin Muhammad al-Husaini (Rujukan: Tahdzibul Ansab karya Al-Ubaidili).
  45. Ubaidillah bin Ali bin Al-Qasim al-Husaini (Rujukan: Al-Majdi fi Ansab al-Talibiyyin karya Al-Omari).
  46.  Ubaidillah bin Al-Husain bin Ja'far al-Husaini (Rujukan: Tarikh Baghdad karya Al-Khatib al-Baghdadi).
  47. Ubaidillah bin Muhammad bin Ali al-Jawad (Rujukan: Sirah al-Aimmah Itsna Asyur).
  48. Ubaidillah bin Yahya bin Ahmad al-Husaini (Rujukan: Al-Ansab karya As-Sam'ani).
  49. Ubaidillah bin Ismail bin Al-Husain al-Husain (Rujukan: Raudh al-Nasab).
  50.  Ubaidillah bin Al-Abbas bin Ali al-Husaini (Rujukan: Bahr al-Ansab karya Al-Abidi).

Keterangan diatas sepertinya sudah lebih dari cukup terutama dalam membuktikan sejarah pemakaian nama UBAIDHILLAH. Artinya UBAIDHILLAH nama yang lumrah yang digunakan bangsa Arab baik kalangan Sayyid maupun non Sayyid, mengatakan nama UBAIDHILLAH tidak mungkin digunakan untuk keturunan Nabi karena nama itu adalah nama pembunuh Sayyidina Husein di Karbala cermin rendahnya literasi, padahal kalau saja “mereka” mau jernih membaca secara obyektif dan jujur, tidak akan keluar pernyataan aneh seperti hal diatas, apalagi sampai mengejek-ngejek, “Si Ubed”,  “Ubed nasabnya palsu”, “Ubed rungkat” dan panggilan-panggilan jelek lainnya…


BELANDA MEMBAWA “IMIGRANT” HABIB KE INDONESIA ?

Dalam catatan L.W.C. van den Berg atau Lodewijk Willem Christiaan van den Berg, seorang penasihat hukum pemerintah kolonial Belanda untuk urusan Arab dan Islam, menulis karya monumental berjudul Le Hadhramout et les Colonies Arabes dans l'Archipel Indien (1886). Dalam riset lapangannya, Berg  mencatat bahwa migrasi orang-orang Hadramaut (termasuk marga-marga Ba'alawi seperti Al-Attas, Al-Jufri, Assegaf, Al-Haddad, Al-Habsyi, Bin Syekh Abubakar, Shihab, Al-Qadri, Jamalulail, Bilfaqih, Al-Muhdor, dll.) ke Nusantara telah berlangsung berabad-abad sebelum abad ke-19, jauh sebelum kebijakan imigrasi kolonial diatur secara ketat.

Pemerintah kolonial Belanda tidak pernah mengistimewakan status keagamaan kaum Ba'alawi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, arsip kolonial menunjukkan sikap curiga dan diskriminatif terhadap seluruh golongan timur asing (Vreemde Oosterlingen), termasuk orang-orang Arab (lebih lengkapnya silahkan baca buku Hamid Al-Gadri berjudul : Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab di Indonesia).

Perlu diketahui bahwa status orang-orang Arab Hadramaut saat ini khususnya para Habaib sedang dipertanyakan peran serta serta kiprahnya secara serius terutama oleh para pembenci keturunan Nabi Muhammad SAW. Tuduhan yang paling nyata dari merek adalah  “bahwa para habaib adalah segolongan orang-orang yang dibawa oleh penjajah kolonial dan merupakan imigran yang membawa misi penjajahan kepada pribumi. Ini jelas merupakan sebuah tuduhan yang tidak berdasar, absurd, dan  liar karena tidak sesuai dengan fakta sejarah.

Istilah imigrant sendiri dalam kasus Bani Alawi dikaitkan dengan hal-hal yang buruk seperti halnya image beberapa imigran di beberapa negara yang dianggap menjadi biang kerok permasalahan sosial. Padahal istilah imigrant adalah seseorang yang berpindah melintasi batas teritorial negara-bangsa (nation-state) dari negara asal ke negara tujuan dengan maksud untuk menetap secara permanen atau dalam jangka waktu yang relatif lama, dan ini sah-sah saja selama tujuannya untuk kebaikan apalagi demi untuk dakwah Islamiah dan juga dalam rangka meningkatkan perekonomian, jadi tidak ada yang salah dengan istilah imigrant. Adalah aneh jika menjadikan istilah imigrant sebagai alat untuk menghantam Bani Alawi, karena faktanya imigran bangsa lain juga banyak terdapat di nusantara bahkan mereka ada yang mendominasi berbagai kehidupan sosial masyarakat. Mereka kaum nawashib ini  sepertinya ingin menyamakan imigrant Bani Alawi seperti imigrant Eropa yang nanti mendirikan USA atau imigran Yahudi yang kemudian mendirikan Israil Raya di bumi Palestina yang didalamnya penuh dengan darah dan genosida. Istilah imigrant bagi Bani Alawi menurut mereka adalah jongos, budak, penjajah, tukang rusuh, problematik, dll, artinya imigrant untuk Bani Alawi adalah jelek sejeleknya kaum di nusantara.

Migrasi Bani Alawi dalam sejarahnya justru memiliki kekhasan khusus yang mewarnai peradaban nusantara, karena tidak terjadi secara serentak dalam satu gelombang besar militer atau kolonial (PERHATIKAN SIAPA YANG MEMBAWA MISI MILTER UNTUK MENJAJAH BANGSA INI), melainkan melalui pola jaringan kekerabatan, perdagangan, dan dakwah yang berlangsung selama berabad-abad (terutama intensif sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-20). Ini jelas berbeda dengan kolonisasi politik, imigrasi Bani Alawi bersifat perorangan atau kelompok kecil saudagar dan ulama. Setibanya di Nusantara, mereka melakukan inkulturasi berinteraksi secara intensif, berasimilasi melalui pernikahan dengan penduduk lokal (seperti masyarakat Betawi, Palembang, Jawa, Cirebon, dan Bugis), serta menduduki posisi penting sebagai penyebar agama Islam dan tokoh rujukan moral. Migrasi Bani Alawi dilakukan secara cerdas dengan memakai pendekatan kultural. Kalaupun nanti Wali Songo tidak mau disangkut pautkan dengan nasab Bani Alawi oleh sebagian orang yang mengaku pakar dan ahli nasab sejagat raya, namun di abad-abad 17 s/d 19, pola migrasi tetap berlangsung dengan baik damai.

Berdasarkan fakta sejarah migrasi berbagai bangsa di nusantara itu tidak hanya didominasi oleh bangsa Arab saja, tapi China, Persia, India, Turki juga ikut mendominasi dan bahkan kelak menjadikan mereka bagian teori Islamisasi di nusantara, sehingga apa yang salah dengan istilah imigrant ? apalagi jika ditambahkan dengan tuduhan kedatangan Bani Alawi yang katanya dibawa oleh Belanda. Lagi pula migrasi Bani Alawi tidak hanya di nusantara, dari afrika sampai India mereka juga ada di sana (silahkan pelajari pola migrasi Bani Alawi di berbagai belahan dunia…)

Kedatangan orang Arab Hadramaut khususnya para habaib justru menjadi perhatian khusus penjajah karena jejak langkah mereka yang dianggap berpotensi “menggoyang” kedudukan dan kredibilitas pemerintahan kolonial, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga wajar di kemudian hari penjajah kolonial menerapkan aturan khusus yang tujuannya membatasi gerak-gerik orang Arab Hadramaut khususnya Bani Alawi.

Dalam beberapa data arsip kolonial terdapat hal penting yang menunjukkan betapa diskriminasinya Penjajah kolonial kepada bangsa Arab Hadramaut, yang diantaranya :

  • Regulasi Diskriminatif (Wijkenstelsel dan Passenstelsel): Berdasarkan undang-undang kolonial (misalnya Indische Staatsregeling), orang-orang Arab di Hindia Belanda dikenakan aturan tempat tinggal yang dikhususkan dalam perkampungan tertentu (Arabische Buurt) dan diwajibkan memiliki surat jalan (passenstelsel) jika ingin bepergian antar-kota. Tidak usah heran di beberapa wilayah besar perkotaan seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Pekalongan, terdapat “kampung Arab”.  Dengan terkonsentrasinya orang-orang Arab pada satu tempat maka akan lebih mudah bagi penjajah untuk mengawasinya, ketimbang mereka bertebaran dimana-mana.
  • Pengawasan Ketat: Arsip-arsip di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Ministerie van Koloniën di Den Haag mencatat bahwa birokrasi kolonial justru memandang para Sayyid/Habib sebagai kelompok yang berpotensi mempengaruhi mobilitas sosial pribumi, sehingga pergerakan mereka diawasi secara ketat demi mencegah bangkitnya perlawanan anti-kolonial berideologi Islam.

ADAPUN FAKTOR-FAKTOR UMUM MENGAPA ORANG ARAB HADRAMAUT DATANG KE NUSANTARA  ADALAH :

·         Kondisi Geografis dan Ekonomi yang Tandus: Secara geografis, Hadramaut adalah wilayah semi-arid dengan curah hujan rendah dan lahan pertanian yang sangat terbatas. Keterbatasan sumber daya alam ini sering memicu krisis pangan, kemiskinan, dan kesulitan ekonomi bagi penduduknya.

·         Ketidakstabilan Politik dan Konflik Internal: Wilayah Yaman kerap diwarnai oleh konflik perebutan kekuasaan antar-suku, perang saudara, serta ketidakamanan politik yang kronis. Kondisi ini mendorong kaum laki-laki muda untuk keluar dari kampung halaman demi mencari keselamatan dan penghidupan yang layak.

·         Tradisi Merantau (Rihlah): Merantau telah menjadi bagian dari struktur sosial dan budaya masyarakat Hadramaut. Mereka memiliki tradisi turun-temurun untuk pergi ke luar negeri guna mengumpulkan kekayaan, yang nantinya sebagian dikirimkan kembali untuk menopang keluarga yang ditinggalkan di Yaman.

SELAIN ITU FAKTOR YANG JUGA TIDAK KALAH PENTINGNYA MENGAPA MEREKA DATANG KE NUSANTARA ADALAH :

·         Peluang Ekonomi dan Perdagangan Rempah: Nusantara sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan internasional yang sangat makmur. Membuka jalur maritim melalui Samudra Hindia, para imigran Hadrami melihat peluang besar dalam bidang perdagangan komoditas lokal, rempah-rempah, serta pelayaran antarpulau.

·         Kebijakan Politik Kolonial (Abad ke-19): Puncak migrasi massal terjadi pada paruh kedua abad ke-19. Hal ini didorong oleh dibukanya Terusan Suez (1869) yang memangkas waktu tempuh pelayaran dari Timur Tengah ke Asia, serta kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang melonggarkan lalu lintas pelayaran dan perdagangan, serta memberikan ruang bagi kelompok Vreemde Oosterlingen (Timur Asing) untuk bermukim di wilayah jajahan.

·         Penyebaran Agama Islam dan Respek Kultural: Sebagai masyarakat yang mayoritas memeluk Islam dan banyak di antaranya memiliki latar belakang keilmuan agama (termasuk kelompok Sayyid/Alawiyyin), Nusantara memberikan ruang sosial yang sangat menghormati figur-figur pemuka agama. Dakwah berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi, membuat mereka diterima dengan baik oleh penguasa lokal dan masyarakat Nusantara.

Pada fase awal (sebelum abad ke-19), sebagian besar kaum migran Hadrami datang sendiri (tanpa membawa keluarga) dengan rencana awal untuk mencari kekayaan lalu pulang. Namun, tingginya tingkat asimilasi melalui pernikahan dengan penduduk lokal, penguasaan bahasa setempat, serta keterlibatan dalam struktur sosial membuat sebagian besar dari mereka memilih untuk menetap, beranak-pinak, dan melebur menjadi bagian dari masyarakat Nusantara.

Perlu diketahui bahwa secara resmi, Kerajaan Belanda baru berdaulat penuh menguasai wilayah Nusantara pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1816 setelah sebelumnya VOC dinyatakan bangkrut dan dibubarkan secara resmi pada tanggal 31 Desember 1799. VOC memang menjadi pihak pertama yang menanamkan dominasi kolonial yang panjang di Nusantara sejak abad ke-17, tetapi kepemilikan dan kedaulatan resminya baru beralih ke tangan Kerajaan Belanda pada tahun 1816 setelah melalui masa kevakuman, kebangkrutan korporasi, dan pendudukan Inggris. Pada masa VOC maupun Inggris itu tidak ada satupun data yang menunjukkan jika kaum Arab Hadramaut terutama pada Sayyidnya dibawa oleh penjajah tersebut.

 Sebagai bukti bahwa kaum Sayyid atau Habib tidak dibawa oleh Belanda adalah :

1.       Sayyid Husain bin Abu Bakar al-Aidarus (Wafat 1789 M di Batavia): Salah satu ulama besar Ba'alawi awal yang makamnya berada di kawasan Luar Batang, Jakarta Utara. Ia adalah figur sentral yang lama mengajar di Batavia pada abad ke-18 sebelum era kekuasaan kolonial modern sepenuhnya mencengkeram wilayah sipil.

2.       Abd ar-Rahman bin Musthafa al-Aidarus (Wafat 1194 H / 1780 M): Seorang ulama pengembara dari Hadramaut yang banyak mendidik ulama-ulama muda di kawasan Nusantara dan Timur Tengah.

3.       Syarif Abdurrahman Alkadrie yang membuka pertama Kota Pontianak, pada hari Rabu tanggal 23 Oktober 1771 bertepatan dengan tanggal 14 Radjab 1185, untuk kemudian pada Hijriah sanah 1192 delapan hari bulan Sja'ban hari Isnen, SYARIF ABDURRAHMAN ALKADRIE dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Pontianak.

4.       Sayid Abdurrahman Basyaiban (hidup abad ke 16 Masehi) seorang Bani Alawi yang berpengaruh yang bertempat tinggal di Cirebon, Jawa Barat. ia mempersunting putri Maulana Sultan Hasanuddin. Putri bangsawan itu juga masih keturunan Rasulullah. Ia bernama Syarifah Khadijah, cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dari pasangan dua keturunan Rasulullah ini, lahir tiga orang putra: Sayid Sulaiman, Sayid Abdurrahim (terkenal dengan sebutan Mbah Arif Segoropuro Pasuruan), dan Sayid Abdul Karim.

5.       Pada akhir abad ke 17 hingga awal abad ke 18, Aceh pernah diperintah oleh beberapa sultan yang berasal dari keluarga Al Jamalullail, sebuah keluarga ulama dan bangsawan keturunan Arab yang memiliki pengaruh luas di Nusantara. Beberapa sultan Aceh dari keluarga ini antara lain Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin Al Jamalullail (1699–1702), Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Al Jamalullail (1703–1726), Sultan Jauharul Alam Syarif Aminuddin Al Jamalullail (1726), serta Sultan Syamsul Alam Al Jamalullail (1726–1727).

6.       Kampung Arab yang terdapat di kelurahan 13 Ulu Palembang sudah ada sejak abad ke-18. Kampung  tersebut berkaitan  dengan seorang  Habib yang  membangun perkampungan   dengan   nama   Habib Abdurrahman   Al-Munawar. Bangsa Arab pada masa Kesultanan Palembang dianggap sebagai bangsa yang beruntung jika dibandingkan dengan bangsa atau etnis lainnya. Hal tersebut karena Bangsa Arab dapat dikatakan Istimewa bagi Kesultanan Palembang. Lebih tepatnya pada   masa   pemerintahan   Kesultanan   Palembang   yang   dipimpin   oleh   Sultan Abdurrahman  pada  tahun  1659-1706. Pada  masa  tersebut, bangsa  Arab  atau  etnis Arab  diistimewakan karena  turut berjasa  membantu  perekonomian  masyarakat Palembang yang berimplikasi pada munculnya keterkaitan antara keduanya semakin banyak. Sampai sekarang kota Palembang dikenal sebagai HADRAMAUT TSANI karena begitu banyaknya jumlah mereka, dan ini bisa dibuktikan dengan banyaknya makam habaib dari mulai abad ke 18 sd 20, serta peninggalan rumah-rumah panggung berbentuk kayu yang masih banyak terpelihara hingga hari ini…

7.       Di Jakarta, terutama Kampung Bandan, ada 3 makam Habaib yang menandakan bahwa mereka sudah ada sebelum gelombang Alawiyin abad 19 berdatangan.  Mereka adalah Habib Mohammad Bin Umar Qlqudsi yang wafat pada tanggal 23 Muharram tahun 1118 Hijriah atau 1697 Masehi dan Habib Ali Bin Abdurrahman Ba'Alawi yang wafat tanggal 15 Ramadhan tahun 1122 Hijriah atau 1701 Masehi. "Setelah itu 200 tahun kemudian datanglah Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy Syathri, beliau kemudian membangun masjid ini pada tahun 1879.

8.       Sultan Syarif Kasim II yang lahir  1 Desember 1893  dan wafat 23 April 1968 adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak Sri Indrapura sekaligus penguasa terakhir Kesultanan Siak sebelum Kerajaaan Melayu itu bergabung kedalam wilayah Indonesia. Beliau pernah berjasa dalam memberikan hartanya untuk NKRI bahkan kemudian rela menjadi orang biasa.

Jelaslah dari fakta-fakta yang dibeberkan diatas telah membuktikan bahwa tidak benar dengan datangnya para Habib Hadramaut niatnya  untuk menjajah bangsa pribumi. Kedatangan bangsa Arab Hadramaut juga bukan dibawa oleh bangsa Belanda yang jelas-jelas sangat anti terhadap Islam yang notabenenya dianut oleh para Sayyid atau Habib Hadramaut. Kedatangan bangsa Arab Hadramaut khususnya kaum Sayyid justru membawa efek yang positif dari segi dakwah, pendidikan,  budaya dan perdagangan. Memberikan cap buruk sebagai imigran buruk lengkap dengan foto-foto dari KITLV dengan profil “miskin”, “dekil”, “kurus” atau foto  saat berkumpul dengan penjajah kolonial  seolah sedang berkolaborasi mencerminkan rendahnya literasi para pembenci nasab Bani Alawi ini. Mengatakan bahwa para Habib yang datang ke nusantara oleh Belanda adalah sebuah DISTORSI SEJARAH yang tidak berdasar, absurd, liar dan tidak bisa dijadikan sebuah hujah dalam bagian Perjalanan Sejarah Islam di Nusantara.

Tammat…..

“Dikutif dari berbagai sumber”