Senin, 26 Oktober 2026

"𝐒𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐊𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐆𝐞𝐥𝐚𝐫 ‘𝐇𝐚𝐛𝐢𝐛’ 𝐀𝐝𝐚?"

 Salah satu isu nasab yang sampai hari ini masih terus hangat dibahas adalah tentang penyematan gelar “HABIB” yang digunakan oleh Bani Alawi sebagai sebuah identitas penegas bahwa mereka adalah keturunan Nabi Muhammad SAW.

Bagi para penentang nasab Bani Alawi, gelar Habib justru menandakan jika Qabilah yang satu ini bukanlah Keturunan Nabi Muhammad SAW baik itu dari Al-Hasani maupun Al-Husaini, karena bagi golongan mereka gelar yang sah dan otentik adalah “SYARIF” dan “SAYYID”, selain itu bukan. Sehingga tidak mengherankan jika para pembatal nasab Baalawi, khususnya mereka yang beberapa fihak mengklaim dirinya keturunan Walisongo dengan percaya dirinya menggunakan gelar Syarif untuk Al-Hasani dan Sayyid untuk Al-Husaini, jadi kalau suatu waktu ada orang yang menyematkan gelar Syarif di depan namanya berarti itu dia keturunan Sayyidina Hasan, apalagi pakai nama gelar dibelakangnya “Al-Qadiri Al-Jilani” maka dia itu keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, sebaliknya jika di depan nama ada gelar Sayyid berarti itu keturunan Sayyidina Husain, apalagi ditambah fam Al-Kadzimi, berarti dia keturunan Imam Musa Al-Kadzim. Sedangkan Bani Alawi, jelas bukan karena mereka bukan Syarif dan Sayyid, "itu kata para pembatal nasab Bani Alawi".
Bagi mereka yang masih percaya jika Bani Alawi adalah keturunan Nabi Muhammad SAW oleh mereka para pembatal nasab, sebutan yang paling pantas disematkan adalah “KABIB”, “BIBIB”, “TABIB”, dan bib bib lainnya, lebih brutal lagi, yang berhubungan dengan habib sering disebut “DOBOLOWI”. Sebuah stigma yang menandakan jika mereka itu tidak faham sejarah akan asal-usul munculnya gelar habib.
Sejatinya gelar Syarif dan Sayyid sebenarnya di beberapa negara tidak baku hanya digunakan seperti penjelasan diatas karena beberapa negara punya latar belakang sejarah yang berbeda. Ada yang menggunakan gelar Syarif tapi ternyata keturunan Al-Husaini, ada yang menggunakan gelar Sayyid ternyata Al-Hasani. Bila melihat sejarah Syarif Makkah dan Syarif Madinah, memang mereka dominan menggunakan gelar Syarif karena mereka keturunan Al-Hasani tapi kalau kita mau pelajari diaspora keluarga Syarif Mekkah dan Madinah banyak juga yang menggunakan gelar Sayyid. Di Indonesia bahkan, Kesultanan Pontianak dan Siak Indrapura yang jelas-jelas berasal dari Bani Alawi, sultannya menggunakan gelar Syarif. Contoh paling mudah dilihat, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, itu jelas-jelas keturunan Sayyidina Hasan, tapi penulisan namanya lebih banyak menggunakan nama SAYYID, demikian keturunan Nabi yang ada di Mesir dan Palestina itu banyak juga yang menggunakan gelar Sayyid padahal mereka adalah keturunan Sayyidina Hasan. Jadi penggunaan gelar Sayyid dan Syarif tergantung konteks masing-masing negara yang banyak terdapat Dzurriyah Nabi Muhammad SAW.
Jika dilacak akar sejarahnya, khususnya di Jakarta, sebenarnya gelar Habib ini baru populer di masa tahun 50 dan 60an. Sedangkan jika dilihat pada arsip-arsip kolonial awal abad ke 20 dan 21 penyebutan untuk gelar tokoh-tokoh Bani Alawi justru tertulis adalah “Toean Sajid”, “Toean Said”, Catatan Christian Snouck Hurgronje bahkan sering menulis nama Habib Usman dengan tulisan Sayid Usman bin Yahya. Para pemuka ulama terdahulu yang berasal dari Nusantara, bahkan menulis nama-nama guru mereka yang berasal dari Bani Alawi dengan gelar Sayyid. Untuk mempelajari mereka bahkan seorang Van Der Berg sampai melakukan riset mengenai siapa itu Bani Alawi, dan di dalam bukunya Berg, jelas-jelas Bani Alawi disebut Sajid/Sayyid.
Kenapa saya mengambil Jakarta dan disekitarnya sebagai sampel ? karena Jakarta atau Batavia pada masa lalu pusat kekuasaan Penjajah Kolonial Belanda dan disini banyak terdapat pemuka kaum dari Bani Alawi yang pengaruhnya cukup besar di kalangan Bani Alawi dan masyarakat Indonesia, sebut saja nama Habib Usman bin Yahya, Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur, Habib Salim Jindan, Habib Muhammad bin Muhsin Al-Attas Condet, dan masih banyak lagi yang lainnya, termasuk Habib Husein Luar Batang, yang kesemuanya dulu selalu ditulis dengan gelar “TOEAN SAJID”. Selain banyak pemuka Bani Alawiyin di Jakarta atau Batavia jumlah populasi sangat besar hal ini wajar mengingat pelabuhan Tanjung Priuk titik terpenting awal kedatangan mereka.
Bila demikian kapan sebenarnya panggilan HABIB Ini mulai tenar dan kemudian menyebar cepat pada kalangan Alawiyin maupun masyarakat umum ?
Secara fakta gelar habib ini sebenarnya sudah lama ada, terutama dalam sejarah Bani Alawi yang ada di Hadramaut, namun seperti yang saya tuliskan diatas, nampaknya nama ini di Jakarta mulai tenar di masa-masa tahun 50 dan 60an. Hal ini merupakan sebuah hal yang wajar, karena puncak kedatangan Bani Alawi di Nusantara terjadi pada masa abad 19 dan 20 setelah dibukanya Terusan Suez, sebelumnya kedatangan Bani Alawiyin tidaklah sebanyak seperti abad 19 dan 20 ini. Bani Alawiyin yang terbanyak datang itu pada abad 18 dan 19 seperti yang terdapat di Palembang dan Pontianak, di Palembang bahkan disebut Hadramaut Tsani karena begitu banyaknya Bani Alawi, hal ini dikarenakan pada masa lalu Para Sultan Palembang Darussalam menerima kedatangan Bani Alawi dengan tangan terbuka bahkan mereka diberikan tempat khusus dan ada juga beberapa mereka dijadikan mantu Sultan. Selain itu kedatangan Bani Alawi berlangsung cepat itu kisaran tahun 1850 s/d 1890, setelah itu tahun 1910- 1920 kedatangan Bani Alawi jauh lebih banyak, tidak hanya di Indonesia, juga di Malaysia, Singapura. Jadi kalau saat itu gelar Habib belum setenar di tahun 1950an dan seterusnya, itu hal yang wajar.
Pada konteks ini saya belum membahas kedatangan Wali Songo dan Keluarga Basyaiban yang jauh lebih awal yaitu abad 15 dan 16 Masehi. Khusus untuk Wali Songo yang nasabnya kini menjadi polemik, gelar mereka yang banyak dikenal adalah Maulana, Syekh, Sunan. Dan nampaknya jika memotong alur sejarah dari abad ke 15 lompat ke 19 itu seperti ada benang merah yang hilang, sehingga sampai saat sekarang masih banyak juga yang meyakini jika Walisongo dan Bani Alawiyin saling terkait kronologis sejarahnya.
Salah satu kakek saya juga yang pernah menjadi pengajar dan Imam Masjid di Jami Matraman Dalam Jakarta Pusat di tahun 50an yaitu KH Ibrahim Husni Al-Fattah, berdasarkan informasi dari ibu saya sering menyebut nama Qabilah Bani Alawi di era tahun-tahun tersebut dengan panggilan Habib. Pada era itu sampai tahun 60an dan 70an gelar Habib akhirnya menjadi sebuah identitas kuat dari Bani Alawi, walaupun tidak sedikit yang masih menggunakan gelar Sayyid, seperti Sayyid Dhiya Shihab penulis sejarah Islam Indonesia dan tokoh-tokoh Alawiyyin lainnya.
Gelar Habib juga bukan gelar yang mudah diobral, gelar ini mempunyai konskwensi moral yang cukup berat, karena sebutan habib pada masa identik dengan seorang yang sepuh, alim dan teladan umat, sehingga tidak semua keturunan Bani Alawi bisa dipanggil dengan sebutan ini. Panggilan Habib hanya diperuntukkan orang-orang seperti Habib Ali Kwitang, Habib Soleh Tanggul, Habib Abubakar Gresik, Habib Salim Jindan Otista, Habib Ali Bungur Jakarta, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas Bogor, Habib Alwi bin Al Al-Habsyi Solo, Habib Muhammad Al-Habsyi Kwitang, Habib Umar Al-Attas Cipayung, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri, Habib Abdul Qadir Bilfaqih Malang, Habib Idrus Al-Jufri Guru Tua Palu, dll. Sedangkan mereka yang masih muda atau belum berilmu di Jakarta dan berapa daerah lain sering dipanggil dengan sebutan WAN, YIK/YEK, AYIP, dll.
Istilah Habib sendiri, dalam bahasa Arabnya menurut Ibnul Manzur dalam "Lisaanul Arab" merupakan kata “hababa” dan “hubb” memang memiliki konotasi “perlawanan/penolakan atas kekerasan atau kebencian” (naqiidl al-bughdl). Maka, ketika seseorang disebut “Habib” semestinya sosok yang paling dikasihi atau selalu bersikap kasih sayang sebagaimana makna “hubb” yang melekat di dalamnya. Sebutan lain untuk orang yang dicintai adalah “muhib” dan orang yang senantiasa menyayangi disebut “mahbub”.
Kata “habib”, atau “habaib” dalam bentuk jamaknya berarti kekasih atau yang dikasihi. Kata ini bagi masyarakat Hadhramaut dan para keturunan Hadhramaut yang tersebar di berbagai belahan dunia menjadi sebuah panggilan untuk para Sayid Ba Alawi . Yang pertama kali menyandang sebutan ini adalah Habib Umar bin Abdurahman Alatas, Sohibur Ratib Alatas (992-1072 H/1572-1652 M). Sebelum beliau, keturunan Sayid Alwi bin Ubaidillah tidak dipanggil habib tetapi dipanggil dengan kata sayid, atau imam atau syekh, misalnya Imam Sayid Ahmad bin Isa al-Muhajir (273-345 H/873-956 M), Imam Sayid Muhammad bin Ali Al-Faqih Al-Muqaddam (574-653 H/1178- 1232 M), Syekh Abdurahman Assegaf bin Muhammad Mawladawilah (739-819), dan lainnya yang hidup sebelum Habib Umar bin Abdurahman Alatas.
Berdasarkan pemaparan diatas mengenai gelar Habib dapat dijelaskan bahwa keturunan Arab Hadrami merupakan keturunan Rasulullah SAW, yang berasal dari daerah Hadramaut di Yaman, yang tersebar luas diantara daerah yang terdapat banyak keturunan Arab Hadrami seperti Jakarta, Palembang, Banjarmasin, Surabaya, Lombok, Jambi dan masih banyak ditemukan di berbagai provinsi di Indonesia.
Berdasarkan juga pembahasan pada sebuah penelitian dapat dilihat adanya persepsi masyarakat terhadap makna bahwa gelar habib sebagai ulama. Pada mulanya, menurut keterangan Habib Zain bin Smith, panggilan dan gelar habib ini diberikan kepada para Sayid Ba Alawi yang alim dan memiliki dedikasi sosial yang tinggi. Sementara mereka yang tidak demikian biasa dipanggil dengan sayid, atau di daerah dipanggil iyek, ayip atau wan. Boleh jadi, panggilan ini untuk Habib Umar bin Abdurahman Alatas sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada beliau karena integritas diri beliau dalam keilmuan dan amalnya. Kemudian panggilan ini juga diberikan kepada para Sayid Ba Alawi yang mempunyai kapasitas yang sama dengan beliau oleh orang-orang di sekitarnya, seperti Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad dan lainnya, sehingga tidak setiap sayid Ba Alawi dipanggil habib.
Dewasa ini di Tanah Air, khususnya Jakarta dan sekitarnya, panggilan habib diberikan kepada semua Sayid Ba Alawi, bahkan kepada mereka yang bukan ulama. Kata habib juga di sebagian keluarga Ba Alawi, digunakan untuk menyebut kakek, sedangkan untuk nenek disebut hubabah atau hababah.
Pada perkembangannya sekarang ini, yang sering kami temui di lapangan gelar habib juga sering digunakan atau disematkan pada keturunan Sayyid atau Syarif yang bukan dari Hadramaut. Pada masa lalu yang kami ketahui bahwa ketika seorang sudah dipanggil dengan gelar Habib (jamaknya Habaib) biasanya sosok yang berilmu dan sepuh serta merupakan panutan ummat seperti tokoh-tokoh sepuh Alawyyin Hadrami diatas.
Pada era kekinian (2026), panggilan Habib menjadi lebih populer di masyarakat baik itu di dunia nyata maupun dunia maya, hal ini karena adanya berbagai peristiwa dan kejadian sosial yang menyangkut diri mereka. Persepsi yang muncul habib dianggap bukan hanya kalangan Hadrami tapi siapapun yang punya garis nasab kepada Rasulullah SAW mereka itu disebut habib. Di sisi lain gelar habib juga mendapat penolakan khususnya pada golongan pembatal nasab Bani Alawi. Sehingga tidak usah heran bila di akun-akun mereka sering terdapat tulisan “HABIB BUKAN KETURUNAN NABI, YANG KETURUNAN NABI ADALAH SAYYID DAN SYARIF.
Sejatinya Keturunan Nabi Muhammad SAW tidak hanya melalui penyebutan gelar saja, tapi itu dibuktikan dengan adanya keterangan lengkap dari catatan atau dokumen yang ada serta diperkuat kesaksian oleh para naqib, munsib maupun sesepuh keluarga yang selama ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan nasab dari satu generasi sampai ke generasi sekarang dan tentunya yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW.
Kesimpulannya gelar Keturunan Nabi Muhammad SAW itu banyak tidak hanya didominasi oleh gelar Sayyid, Syarif, Habib, tergantung pada konteks sejarah dan dimana mereka berdiaspora...
Sumber :
Buku yang berjudul “Duzrriyyah Nabi Muhammad SAW Di 63 Negara” (Descendents Of The Prophet Muhammad SAW In 63 Countries), Oleh Iwan Mahmud Al-Fattah, Jogyakarta: Penerbit Lintas Nalar, Tahun 2026.

"𝗩𝗜𝗥𝗔𝗟𝗡𝗬𝗔 𝗩𝗜𝗗𝗘𝗢 𝗛𝗔𝗕𝗜𝗕 𝗔𝗟𝗪𝗜 𝗕𝗜𝗡 𝗔𝗕𝗗𝗨𝗥𝗥𝗔𝗛𝗠𝗔𝗡 𝗔𝗦𝗦𝗘𝗚𝗔𝗙"

 Dunia medsos kini sedang heboh besar saat video ceramah seorang habib yang bernama Habib Alwi Assegaf menyebar cepat tak terkendali, dimana isinya dianggap sangat tidak layak dan tidak etis untuk ukuran seorang dai atau penceramah.

Saya sendiri sudah mendengar dan melihat isinya walaupun itu belum seutuhnya, misalnya full 1 jam lebih, apakah setelahnya ada keterangan lebih lanjut, saya masih terus berusaha mencari info yang obyektif agar penilaiannya lebih hati-hati dan jernih.
Entah dalam konteks seperti apa Habib Alwi bisa berceramah seperti itu, yang jelas akibat isi ceramahnya, fihak MUI akhirnya bereaksi, apakah saat itu Habib Alwi sedang satire atau memang kebablasan, hanya beliau yang tahu.
Gaya ceramah Habib Alwi Assegaf memang selama ini dikenal ceplas-ceplos, kadang lucu, kadang keras, kadang memang ada yang mengarah ke kontroversi. Habib Alwi setahu saya memang "agak lain" karakternya dari kakak kakak dan adeknya. Kok saya bisa tahu ? Nanti saya jelaskan dibawah...semua saudaranya metode dakwahnya cenderung soft dan saya pernah merasakan ilmu beliau beliau khususnya Habib Ali Assegaf, kepada beliau saya pernah ngaji beberapa tahun di mushola haji muhi jalan talang jakarta pusat. Kepada habib umar saya juga sering ngaji bahkan pernah ikut kerjabakti saat beliau sedang membangun pondok, kepada Ustadz Abubakar bahkan lebih intensif karena beliau mengajar di madrasah.
Sudah tentu dengan viralnya video Habib Alwi semakin menambah daftar panjang habib² yang dianggap "nyeleneh" ajarannya oleh beberapa fihak terutama yang selama ini getol menghantam nasab Bani Alawi. Viralnya video Habib Alwi seperti menambah amunisi untuk menghancurkan kredibilitas nasab keluarga besar Habib. Tuduhan khurafat, halu, dongeng, dawir, mesum, sesat, dll, boleh jadi akan semakin sporadis dilakukan oleh Gerakan Anti Habib (GAH).
Berceramah di era gen z, alpha dan beta seperti sekarang ini memang kita harus hati-hati, boleh jadi kalimat yang diucapkan biasa ditempat sendiri tapi belum tentu biasa di tempat lain. Kalau dulu ceramah ceplas ceplos dan canda tawa menjadi menu utama sampai berada "ditepi jurang" dengan gaya dialek kampung sehari hari seperti dalam kehidupan masyarakat Betawi atau daerah lain bukan merupakan masalah, tapi sekarang ini "peta perasaan" berubah total. Ustadz Tile contohnya, beliau sampai sering nyindir...."ya..ya viral lagi deh gue..." Dunia medsos adalah "jaksa" sekaligus "hakim" yang paling terdepan, salah sedikit kelar dah reputasi ente. Dulu ger geran dalam ceramah itu lumrah, hal ini dilakukan agar jamaah tidak menjadi jenuh dan ngantuk, tapi sekarang.....? Harus waspada dan hati-hati.
Habib pada dasarnya adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, sehingga bila mereka salah atau menyimpang maka wajib hukumnya bagi kita untuk mengingatkannya siapapun dia. Namun tentu untuk mengingatkan mereka mereka yang dianggap tomas (tokoh masyarakat) yang melakukan kesalahan atau blunder dalam berpidato atau berceramah, layaknya dilakukan oleh mereka² yang juga mempunyai kapabilitas keilmuwan yang kuat. Memang siapapun bebas untuk mengkritik ataupun membetulkan bila ada yang dianggap menyimpang termasuk Habib Alwi. Bila kesalahannya melalui ceramah bisa diingatkan lewat ceramah juga. Bila lewat tulisan maka diingatkan lewat tulisan. Intinya yang salah tetaplah salah, yang benar tetaplah benar dan ini berlaku bagi siapa saja.
Status keturunan Nabi Muhammad SAW yang dilekatkan pada habib justru harus membuat kita lebih "waras" dalam menyikapi mereka tanpa kehilangan etika dan adab. Jika ada yang menyimpang dari mereka, luruskan, jika ada yang baik ikuti...sesimpel itu...
Selanjutnya, siapa sih sebenarnya Habib Alwi Assegaf ini ?
Habib Alwi adalah anak Habib Karismatik Jakarta yang bernama Sayyidil Walid Alhabib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf. Pendiri Madrasah Tsaqofah Islamiah Bukit Duri Puteran Jakarta Selatan yang banyak menghasilkan Ustad Ustadz Kondang di Betawi. Di Jakarta Nama Al Walid sangatlah mentereng dan dihormati ulama Betawi seperti Muallim KH Syafii Hadzami. AL WALID Abdurahman Assegaf saat wafat dan akan dimakamkan ke empang bogor, itu jalan tol dibuka demi membuka akses rombongan jamaah yang jumlahnya puluhan ribu massa.
Ayah Habib Alwi yaitu Habib Abdurrahman Assegaf dikenal sangat alim dan penulis kitab dan juga seorang ahli sholawat. Semua habib di Jakarta dan Indonesia pada tahun 90an pasti mengenal beliau karena beliau memang dituakan di Jakarta selain ada nama Habib Umar Cipayung, Hb Abdullah Syami, Hb Muhammad Kwitang. Salah satu ciri khas beliau adalah kopiah yang tidak pernah lepas dan kacamata yang tebal karena kuatnya beliau dalam membaca. Kalau ada muridnya yang lepas kopiah saat ngaji pasti akan ditegur...makanya tidak usah heran alumni tsaqofah Islamiah rata-rata pasti pakai peci putih..
Habib Alwi mempunyai kakak yang semuanya alim besar seperti Habib Muhammad Ceger Pondok Gede, Habib Ali Tebet majelis al afaf, Habib Umar Lapangan Ros Majelis Al Kifahi Atsaqofi, serta adik yang bernama Habib Abubakar. Semua mempunyai jamaah yang jumlahnya puluhan ribu massa. Jadi kebayang kalau ayah mereka yaitu Walid Abdutrahman mengadakan maulid baik itu dulu di Parung Banteng Bogor, maupun yang sekarang di Al-Busyro, yang namanya petasan pasti dibunyikan....meriah dan banyak didatangi ulama ulama besar.
Habib Alwi setahu saya punya majelis bernama Zadul Muslim (ZM) dengan moto "Be Here or Be Blind Forever". Habib Alwi juga dikenal pengamal zikir "Bismilahirrahmanirrahim" dan beliau juga penganut ajaran Imam Syaroni.
Kok saya bisa tahu ?
Ya Insya Allah tahu karena saya pernah menimba ilmu di Madrasah Tsaqofah Islamiah dari tahun 1990 s/d 1994. Bahkan saya berkali-kali tiap pagi bertemu Sayyidul Walid Alhabib Abdurahman Assegaf karena seringnya saya nyapu kelas karena kebetulan saya tipikal santri yang senang bersih. Alhamdulillah berkali kali didoakan dan diusap usap kepala dan selalu dianjurkan bersholawat.
Selama interaksi saya dengan para keluarga Sayyidil Walid Alhabib Abdurrahman Assegaf di era 90an, memang Habib Alwi atau kami menyebutnya Ustadz Alwi rada "unik", tapi biarpun begitu Ustadz Alwi ini dikenal sangat takzim terhadap ayahnya dan juga kakak-kakaknya. 2 kakak beliau saat ini sudah sepuh, sedangkan Habib Ali Assegaf dari majelis Al Afaf sudah wafat.
Sekalipun dikenal dengan ceramahnya yang ceplas-ceplos bahkan langsung kepada fihak yang dituju yang kadang diselingi penuh canda dan tawa dengan gaya Betawi kampung yang kadang bikin kuping "ngeri ngeri sedap" , sosok ini ternyata juga seorang penulis kitab, beberapa bukunya bahkan dulu kami gunakan untuk pelajaran Nahwu dan Sharaf dan sampai saat ini ada 3 buku karya beliau yang saya miliki seperti pada gambar dibawah. Beliau juga murid KH Raden Abdullah bin Nuh dan fasih berbahasa Arab dan Inggris. Beliau banyak mempunyai guru yang dari berbagai kalangan dan dikenal sangat takzim apakah gurunya dari kalangan biasa atau habaib. Beberapa ceramahnya malah saya pernah dengar ada yang bernuansa sufistik seperti halnya ayahnya. Coba saja cari dan dengarkan. Beliau juga di tahun 90an pernah memberikan pengajian di Matraman Dalam jam jam malam sekitar jam 10 - 11 (kalau tidak salah itu malam minggu). Waktu itu saya mikir, wah baru tumben nih ngaji malam-malam mana pake toa lagi, tapi mungkin Hb Alwi ingin mengingatkan, daripada ente berisik malem mingguan mending ngaji sama ane deh...apalagi masa masa itu Matraman Dalam memang dikenal wilayah "bronk" karena seringnya tawuran.
Habib Alwi memang tipikal Ustadz yang memang lain daripada yang lain. Saya masih ingat ada seorang murid yang kita tahu sering gak nyambung kalau lagi belajar, sama habib Alwi justru sering "dikerjain", karena disamping sering gak mudeng sama hafalan nahwu dan sharaf tapi gayanya udah kayak mualiim aja..
😀
tapi istimewanya murid ini kalau baca sholawat enak banget....
🙂
tapi di kemudian hari, saya kaget banget, murid yang dulu sering diroasting Hb Alwi itu justru jadi tomas (tokoh masyarakat) di kampung saya...
Saat ini dari info yang saya peroleh Hbb Alwi atau Ustadz Alwi mengelola warisan ayah beliau yaitu Majelis Al Busyro di Citayam Depok Jawa Barat yang setiap tahunnya bila mengadakan haul bisa mengumpulkan massa puluhan ribu... dulu sewaktu beliau mau mendirikan bangunan majelis Zadul Muslim disamping Madrasah Tsaqofah Islamiah, saya dan beberapa murid madrasah ikut membantu dan itu kami lakukan dengan suka rela, kalau ada pertanyaan siapa yang mau sugul buat majelis dari ustadz² kelas, maka saya dan beberapa santri langsung bergerak membantu biarpun ngaduk atau angkut batu bata. Dan kalau udah selesai Ustadz Alwi paling sering ngasih kopi dan gorengan serta makan siang...intinya beliau peduli sama santri madrasah Tsaqofah.
Ada satu hal yang paling sering saya dengar baik dari Pak Umar (khadim setia Al Walid) dan juga santri santri senior, menurut mereka, Al Walid Abdurrahman Assegaf pernah ngomong, "Hati-hati sama Alwi, dia beda...", saat itu yang saya ketahui Hb Alwi mulutnya memang gak pernah berhenti berzikir "Bismillahirrohmanirrohim", saat ceramah sajq kalimat Bismillah selalu keluar. Entah apa maksud Al Walid Abdurrahman tentang ucapan tersebut.
Lantas bila demikian bagaimana kita menyikapi viralnya video beliau ? Silahkan saja bila anda ingin mengingatkan dan mengkritisi, itu hak anda sebagai jamaah medsos nusantara. Kita boleh tidak sepakat dengan gaya ceramah seseorang apalagi jika didalamnya terdapat materi isi yang sangat tidak pantas diungkapkan, yang terpenting jadikan diri kita ini alat kontrol yang jernih dan seimbang...
Saya percaya pasti sudah ada ulama yang mengingatkan dan saya juga yakin Ustadz Muhammad Assegaf dan Ustadz Umar Assegaf dan adik beliau Ustadz Abubakar Assegaf pasti sudah mengingatkan beliau untuk lebih berhati-hati.
Sebagai murid yang pernah menimba ilmu di madrasah Tsaqofah Islamiah saya hanya bisa berdoa semoga dengan viralnya video Ustadz Alwi ini bisa menjadi hikmah dan pelajaran baik untuk beliau sendiri maupun kita semua untuk lebih berhati hati ke depannya.

"𝗞𝗨𝗔𝗟𝗔𝗧 𝗗𝗔𝗡 𝗦𝗜𝗔𝗟 𝗚𝗔𝗥𝗔-𝗚𝗔𝗥𝗔 𝗛𝗔𝗕𝗜𝗕 ?"

Akhir-akhir ini saya melihat, mereka-merekà yang selama ini dekat hubungannya dengan Habib sering menjadi sasaran cyber bullying oleh fihak-fihak yang selama ini tidak percaya akan nasab Habib khususnya Bani Alawi. Yang juga tidak kalah anehnya, banyak diantara mereka bila dilihat sekilas dari wajah berusia diatas 50an. Entah apakah mereka mengerti atau memang cuma ikut-ikutan karena diajak.

Selain Cyber Bullying di media sosial, di lapangan pun para pembenci nasab habib ini gemar membubarkan paksa majelis majelis yang di dalamnya terdapat habib, bahkan mereka dibawah arahan "ulama" versi mereka membuat surat resmi perizinan yang ditujukan kepada aparat pemerintahan agar bisa membubarkan kegiatan yang didalamnya mengundang habib. Yang ironis mereka melakukan "kekerasan" mengatasnamakan Walisongo dengan atribut serba hitam. Padahal sejarah Walisongo itu ajarannya sangat Sufistik dan jauh dari hal-hal keras dan brutal.
Coba perhatikan, berapa banyak tokoh besar yang sudah mereka bully habis-habisan hanya karena dekat atau baik hubungannya dengan habib. Caci maki dan kata-kata kotor sepertinya sudah menjadi "kurikulum" wajib untuk menjatuhkan harkat dan martabat habib.
Ironis sekali, di saat bangsa kita sibuk terhadap berbagai permasalahan sosial, hari gini masih ada yang sibuk ngurusin nasab, udah 4 tahun lagi ! Seolah mereka itu sejak dari kecil sampai tua ngurusin masalah nasab. Di saat Iran sedang memborbardir Israel, Amerika dan Saudi menghantam Houti, atau Prabowo yang sedang sibuk lantik pejabat, atau Jokowi yang lagi mumet karena Gibran ketahuan cuma punya SUKET PENYETARAAN SMA, eh ada yang sibuk membahas masalah nasab HABIB dari Hadramaut.
Tokoh ulama sekelas Habib Umar bin Hafiz saja mereka olok-olok tanpa ampun baik dalam bentuk meme yang diedit ataupun gambar gambar AI, hanya saja Habib Umar bin Hafiz menjawab itu dengan senyuman dan doa, tidak ada satupun balasan beliau berupa caci maki ataupun hujatan, bahkan murid-murid beliau juga tidak menanggapi serius.
Selain Habib Umar, nama Rais Aam PBNU termasuk jajaranya sampai sekarang menjadi sasaran utama dengan target pelengseran hanya karena beliau dekat dengan Habib. Sebentar lagi nampaknya orang seperti Nusron Wahid yang sedang terkena kasus pastinya akan menjadi santapan pesta pora untuk dirujak karena Nusron Wahid adalah sosok yang cukup akrab dengan habib.
Terakhir saya lihat nama Almarhum Prof. KH Syukron Ma'mun juga menjadi sasaran empuk mereka, KH Syukron Ma'mun yang dikenal dekat dengan habib mereka lekatkan dengan stigma jelek, padahal siapapun tahu di Jakarta bahkan nasional siapa KH Syukron. Istilah-istilah khas kaum keras kepala ini pun kemudian bermunculan seperti, "korban mubahalah", "kualat", "dobolowi", "modyar", "kabeb rungkat", "habib PKI", Habib itu Yahudi Askenazi", dan istilah-istilah lain yang "mengerikan".
Saya sendiri sampai berfikir, orang² yang selama ini gemar melakukan cyber bullying dan juga di lapangan itu sebenarnya pernah diajarin akhlak gak sih selama hidupnya ? Masak pelajaran adab dan akhlak saat masih kecil gak membekas sama sekali ? Kok mudah sekali jari dan mulutnya melakukan hal yang masuk kategori hinaan berat, kok bisa mengaku agama Islam malah bangga kalau "berantem" sama habib, tapi giliran sama tauke tauke dan tuan tanah cokim pada diam dan malah "cium tangan". Apakah mereka ketika melakukan hal hal jelek seperti diatas tidak malu dilihat oleh keluarga, anak, istri, cucu dan orang kampung ? Apa gak lebih baik ngaji akhlak lagi ketimbang ikutin pujaannya mencaci maki habib dengan dalil ilmiah ? Apa gak bosen dan mumet tiap hari otak dan hati diisi dengan narasi narasi kebencian dari orang² yg ngaku² ahli nasab ? Apa gak capek memelihara kedengkian terus-terusan ? Masak mau otak tiap hari diisi racun-racun pemikiran...
Hidup buat para pembenci habib ini ruwet dimata mereka, seolah bila kita dekat dengan Habib hidup akan sial dan kualat. Bila anda dapat musibah itu tidak lain adalah bentuk kualat atau efek mubahalah karena berani membela atau simpati kepada habib. Dengan kata lain semua apa yang terjadi kepada mereka yang ada sangkut pautnya dengan habib itu karena "sumpah" atau keinginan kaum nawashib ini. Secara tidak langsung mereka ini sebenarnya sudah memposisikan diri sebagai TUHAN, karena apa yang terjadi harus seperti apa kata mereka. Padahal apapun yang terjadi pada manusia itu semata mata karena takdir Allah. Masalah kematian itu jelas hak preogratif Allah bukan apa kata manusia apalagi sampai membandingkan dengan tokoh pujaan mereka yang sampai saat ini katanya masih sehat walafiat padahal sudah berani membatalkan nasab habib. Itu salah satu indikator mereka.
Para pembenci nasab habib ini akan semakin bersorak sorai dan "brutal" ketika mendapati ada habib yang viral karena bertingkah laku konyol atau tidak pantas baik dalam bentuk ceramah atau hal-hal lain. Kesalahan beberapa habib yang virall akan mereka jadikan tolak ukur bahwa semua habib bejat dan wajib dirungkatkan, padahal habib² yang lurus lurus juga banyak.
Kualat dan sial itu hanya masuk pada kategori orang-orang yang boleh jadi latar belakang perbuatannya dulu jelek di mata Allah sehingga kemudian Allah beri teguran. Masak karena ada yang kecelakaan, kebakaran, sakit terus gampang bilang kualat, padahal jelas² orang tersebut bukan ahli maksiat. Hanya karena kenal habib semua yang terjadi gak enak langsung dibilang kualat dan sial dangkalan.
Adalah sangat aneh kalau ada habib sepuh yang soleh, kyai sepuh, orang² soleh saat wafat dikaitkan dengan istilah kualat apalagi korban mubahalah. Jelas ini mencerminkan kedangkalan pikir yang kronis. Bagaimana mungkin minyak dan air mau dicampur baurkan ? Mereka yang sering mengatakan kualat, korban mubahalah, cobalah sekali kali berkaca pada cermin dan perhatikan wajah anda selama 25 menit, kemudian nilailah sendiri wajah anda....jangan lupa coba tanyakan kepada keluarga anda, kira² mereka bangga tidak kalau bapaknya atau anaknya atau cucunya atau istrinya menjadi pembenci habib ?
"Sejelek-jelek orang, udah tua tapi seneng ngumpulin penyakit hati. Sebodoh bodoh orang, usia masih muda tapi sibuk sama hal yang gak bermanfaat...."

Kamis, 15 Oktober 2026

Manaqib Haji Yusuf Ishak, Guru Ngaji Saya Sejak Kecil Hingga Dewasa


Al Ustad Haji Yusuf bin H. Ishak saya sudah lama ingin menemui beliau ingin bermuzakarah. Saya akhirnya bertemu beliau dan berbincang-bincang beliau banyak memberikan wejangan dan nasehat-nasehat yg berharga yg tidak akan saya lupakan. Di samping itu saya menanyakan perihal kepada siapa beliau berguru dan belajar agama.

Yang mula-mula ialah beliau belajar kepada bapaknya sendiri yaitu Al Ustad Ishak kemudian beliau kepada bapaknya belajar baca kitab nahu, sharaf, tauhid, fiqih, tajwid dll, beliau 1 bangku dengan ustad Junaidi, beliau umur 8 thn sudah hafal Jurmiah.

1. Haji Ishak bapak haji Yusuf belajar kepada : 

2. K.H Mahmud (Menteng Sukabumi)

3. Muallim Tabaroni Paseban

4. Mualim Marzuki Plumpang

5. Mualim Abdul Hamid Utan Kayu

Kemudian pak Haji masuk Madrasah Muawwanah Ikhwan pimpinan Muallim Abdullah Muhrim yaitu menantu K.H Mahmud. Yg cukup terkenal beliau juga pernah belajar di Muallim Abdullah Muhrim dirumahnya yaitu tentang Sukabumi dengan para ustad-ustad. Asbabnya ialah dulu beliau disuruh baca kitab setelah baca beliau dilihat seluruh jamaah dan kemudian beliau ditanya siapa gurunya, akhirnya beliau disuruh datang kerumahnya dan beliau kemudian belajar, beliau sangat dicintai.

Kemudian beliau belajar di daerah Klender yaitu belajar Qiroah Sabaah oleh Ustad K.H. Abdul Rasyid Abdul Qiram bersama K.H. Tubagus Mansur Ma'mun, guru K.H. Abdul Rasyid waktu K.H (saya lupa) mungkin K.H. Suyuti atau Sholeh dari Banten.

Kemudian melanjutkan ke Paseban yaitu Ustad Memed Soleh juga dari Banten.

Beliau juga pernah ke Pesantren Darul Hadist Malang yaitu pada acara khaul, beliau datang dan mencatat namanya, tahu-tahu beliau tidak lama dipanggil sendiri saja oleh Alm Al-Habib Prof. DR. Abdullah Bilfaqih padahal banyak yg sudah menunggu orang2 (Sangat banyak). Beliau datang dan mencium paha beliau dan beliau disuruh baca kitab. Dan beliau diajak berkeliling beliau kemudian di baiat menjadi seorang murid thariqah Alawiah, selama 10 hari beliau tidak boleh pulang, beliau selalu diajak kesana kemari, terutama acara maulid. Yaitu Pasuruan dil habib Abdullah sangat cinta kepada beliau.

Pak haji juga cerita habib Abdullah ketika sedang naik mobil ditengah jalan mogok, beliau lihat isi bensin ternyata habis, beliau bilang"Tunggu sebentar saya mau ke kampung, beliau bawa dirigen, tidak lama beliau datang tapi dengan isi air, beliau tuang saja ke tempat tanki, sopir bingung akhirnya beliau bilang jalan ternyata mobil itu jalan (maha suci Allah). Pernah juga waktu beliau bacakan air dibotol, tiba tiba isi air bergerak-gerak. Pernah juga orang ingin memberikan uang 5000 di masjid padahal dia tidak punya ongkos pulang, dia hanya modal pasrah, ketika dikasihi itu uang Habib Abdullah bilang, "jangan ini untuk uang pulang" Ambil itu dibelakang untuk pulangmu, sambil menunjuk ke khodimnya dan memberikan 5000, orang itu setelah cium tangan kemudian dia menangis, pak Haji tanya kenapa, ternyata kemudian orang itu menjelaskan sambil terharu dan terisak isak beliau belajar juga sampai sekarang bersama K.H. Damanhuri Paseban yaitu menantu Muallim tabaroni yaitu kakek dari K.H Kamal Maulana beliau juga belajar Al Hikmah bersama K.H. Saki Banten beliau juga sangat dicintai oleh K.H. Saki, bahkan diakhir umur K.H. Saki memberikan foto dirinya, dan buah kelapa dan 3 bulan berikutnya beliau berpulang ke rahmatullah beliau juga belajar dengan ustad Nursalim yg cukup terkenal, beliau juga pernah disuruh Habib Umar Al attas, untuk membuka madrasah beliau juga belajar pada bapaknya dari kecil sampai menikah. Beliau juga pernah dipuji oleh seorang gurubesar yaitu lulusan dari mekah 10 thn mesir 16 thn dikatakan bahwa beliau kalau di mesir sudah sarjana."

Beliau ketika masuk madrasah langsung kelas 3 karena beliau sudah lancar dan bisa, beliau berkata bahwa beliau pernah difitnah bahwa beliau melarang bacaan sholowat di suatu musholla.

Beliau orangnya lembut tidak kasar dan pemaaf dan tidak mau menonjolkan, beliau mukanya bercahaya, tenang dan sejuk bila dipandang kitab-kitab beliau sangat banyak. beliau sangat gemar membaca-baca kitab.

Saya belajar dengan beliau dari umur 6 thn sampai 14 thn kemudian berhenti dan mulai lebih baru kelas 1 SMA semester kembali lagi dengan beliau selama 2 ½ tahun ngaji dengan beliau yaitu sendiri saja jam 7. sd 9.

Beliau sangat mahir dlm nahwu, sharaf.

Beliau juga belajar dengan mertua beliau

Beliau sebenarnya cukup alim sekali tetapi beliau tidak mau dibilang alim, kini dia sering berwirid dan tarekat alawiah (tepat jam 3.10)

Pak Haji waktu masuk Ibtidaiyah madrasah Muawwanul Ikhwan langsung kelas 3 karena sudah sangat pandai

Jadi seluruh guru beliau adalah : 

1.  Ayahnya Sendiri,  H. Ishak

2. K.H Abdul Rasyid Abdul qiram klender

3. ustad Memet Saleh Paseban

4. Muallim Abdullah Mukrom menteng suko

5. .H Saki Banten

6. ALHABIB Abdullah bilfaqih

7. Al Ustad Damanhuri Paseban beliau belajar juga di Habib Abdurrahman Assegaf

8. Ustad Nur Salim

𝗞𝗘𝗨𝗧𝗔𝗠𝗔𝗔𝗡 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚-𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗬𝗔𝗠𝗔𝗡

  𝗬𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗔𝗽𝗮 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗵𝗺𝘂 ?

Sebuah negara yang kini banyak dibicarakan, khususnya dalam isu-isu nasab yang mutakhir. Sayangnya image yang muncul cukup miring. Kalau anda mengamati ketika Anis Baswedan maju sebagai Calon Presiden, isu Yaman ini terus menerus digulirkan sebagai bentuk kampanye hitam oleh mereka-mereka yang senang akan tema SARA. Setelah isu ini mereda, tiba-tiba kata Yaman bermunculan kembali dalam bentuk yang lebih variatif, kadang satire namun tidak jarang juga yang sarkas. Bahkan sekelas Presiden Prabowo pernah melontarkan kalimat, “Pergi Sana ke Yaman……” Seolah Yaman adalah negara tempat pembuangan.
Isu Yaman terus meluncur secara masif demi untuk meruntuhkan kredibiltas nasab Bani Alawi. Gambaran Yaman sebagai negara yang miskin, kacau, dan kisruh dikaitkan dengan identitas para Habaib di negeri ini. Beberapa akun yang saya dapati bahkan dengan entengnya menulis : “Kembalikan Para Kabib ke Yaman…..”, “Sana bela negeri kalian yang sedang kacau”, “Negerinya lagi kacau kok malah jualan disini….”, “dasar negara miskin”, "Idung Unta" , "Habib itu rasis sejak dari sananya", "Arab Yaman Kere" , "Negara kalian sendiri saja hancur dan miskin, tidak usah sok mengatur atau merasa paling mulia di negara orang lain." atau "Yaman itu negara gagal, makanya warganya kabur dan cari makan di Indonesia.", "Dulu leluhur kalian datang ke sini naik kapal dalam kondisi kelaparan dan ditampung oleh pribumi, sekarang malah mau menguasai tanah Jawa.", "Dasar Orang gurun", "Pemberi makan unta", “Budaya kami di nusantara jauh lebih beradab dari pada negara kalian”, "Lembaga nasab di Yaman itu bisa disuap", "Yaman itu sarang pemalsu sejarah demi menyembunyikan identitas asli mereka.", "Jangan biarkan budaya Yaman menjajah budaya Nusantara, mereka mau meng-Yaman-kan tanah Jawa yang damai ini dengan konflik mereka." Walisongo itu asli Jawa/Cina, klaim bahwa mereka dari Yaman adalah konspirasi imigran untuk menguasai sejarah kita.", "Kalau tidak suka aturan di sini, silakan angkat kaki dan pulang ke Yaman, biar kalian tahu rasanya hidup di sana." atau "Pemerintah harus mendeportasi semua keturunan Yaman agar Indonesia bersih dari konflik nasab.", "orang-orang Yaman datang ke Nusantara hanya untuk merampok identitas pahlawan lokal dan memalsukan silsilah demi dominasi sosial.", "ideologi padang pasir yang merusak kearifan lokal”, "Kalau tidak suka aturan di sini, silakan angkat kaki dan dideportasi massal kembali ke Yaman", "mereka kelompok eksklusif yang hanya mementingkan golongannya sendiri dan menganggap bangsa lain lebih rendah." Dll. Dengan kata lain, menyebut kata Yaman berarti sebuah negeri yang buruk seburuknya..
Kalimat-kalimat yang bermunculan diatas buat saya justru menjadi pemacu untuk mengetahui lebih dalam, apa benar gambaran seperti yang dikemukakan oleh para pembatal nasab Bani Alawi tersebut ? Sebegitu burukkah negara Yaman ? Jujur kalau boleh bercerita pengalaman saya bertemu dengan orang-orang Yaman saat menunaikan haji di tahun 2016, saya mendapatkan kesan positif yang mendalam, bahkan ketika saya menyebut diri dari Indonesia, mereka seperti bertemu dengan saudara sendiri.
Bagi saya, ketika mempelajari diaspora keturunan Imam Jakfar As-Shodiq melalui Imam Ali Al-Uraidhi, menjadi sebuah pertanyaan besar kenapa Imam Ahmad Al-Muhajir memilih Yaman khususnya Hadramaut menjadi tempat akhir menetap sekaligus sebagai basis dakwah beliau dan keturunannya sampai hari ini. Tentunya sebagai ahlul bait yang kedudukannya berilmu, beliau tidak akan sembarangan memilih tempat untuk menetap. Ketimbang memilih Hadramaut Yaman yang gersang dan kering kerontang, beliau bisa saja memilih Makkah dan Madinah atau negeri Islam lain yang lebih makmur, apalagi beliau juga mempunyai harta yang cukup. Tapi dalam sejarahnya Imam Ahmad Al-Muhajir memilih negeri Hadramaut di Yaman sebagai tempat akhir sampai wafatnya. Dan kelak nanti negeri Hadramaut Yaman menjadi termashur karena disana terdapat peradaban Islam yang banyak memunculkan tokoh-tokoh dari Bani Alawi.
Secara geografis dan derdasarkan letak wilayah, Republik Yaman merupakan sebuah Negara di Jazirah Arab yakni di Asia Barat Daya bagian dari Timur Tengah. Republik Yaman berbatasan dengan laut Arab di sebelah Selatan, teluk Aden dan laut merah di sebelah barat, Oman di sebalah timur dan Arab Saudi di sebelah utara. Menurut penelusuran sejarah diketahui bahwa orang-orang keturunan Arab di Indonesia berasal dari Negara Yaman. Penduduk Yaman diperkirakan berjumlah 23 juta jiwa dengan luas wilayah 530.000 km2, serta wilayah yang terdiri dari 200 pulau. Yaman adalah satu-satunya Negara yang berbentuk republic di jazirah Arab.
Berdasarkan beberapa sumber diketahui bahwa, Islam masuk ke Yaman bermula pada tahun 630 M. Nabi Muhammad SAW mengutus Ali bin Abi Thalib RA saudara sepupu sekaligus menantunya ke Sana'a dan sekitarnya untuk menyampaikan syiar Islam. Republik Yaman Pada waktu itu, merupakan wilayah yang paling maju di Semenanjung Arabia. Adapun yang tercatat sebagai kabilah yang pertama menerima Islam waktu itu adalah Bani Hamdan.
Negara yang memiliki beberapa pulau terpisah ini memiliki kekayaan sejarah peradaban kuno sejak ribuan tahun lalu.Dalam catatan sejarah, Yaman menjadi bagian pusat perdagangan antara India, Cina, Afrika, dan Mediterania.
Sejak awal, Yaman berada di garis depan pasukan Islam yang berkembang dan dipercayakan sejumlah tugas penting.
Selama partisipasi mereka dalam tentara Islam, Yaman mentransfer banyak pengetahuan.
Mereka dengan jelas dan jelas berpartisipasi dalam mendirikan kota dan membangun benteng, serta pembangunan istana dan keterampilan lainnya.
Keterlibatan Yaman dalam perjalanan peristiwa tidak berhenti selama Kekhalifahan. Kontribusi Yaman terhadap pencapaian peradaban gemilang umat muslim abad pertengahan sangat besar.banyak dari penduduk yang terjun di kancah kemiliteran kekhalifahan. Penduduk Yamanturut serta dalam ekspedisi perluasan wilayah Islam yang berakhir sukses.
Dalam kedudukannya pada sejarah Islam, Yaman ternyata mendapat tempat khusus dihati Rasulullah SAW, sehingga tidak sedikit hadist-hadist yang muncul tentang keutamaan Yaman, selain itu di Al-Quran juga terdapat hal tersebut.
Pertanyaannya sekarang, apakah mereka yang selama ini membenci negeri Yaman pernah membaca semua itu ? Ini penting diutarakan agar kita dalam menilai sesuatu itu lebih jernih dan terbuka, sehingga pada akhirnya kita bisa adil dalam menilai sesuatu.
Yaman adalah negeri yang banyak disebut Rasulullah SAW juga disinggung dalam Al-Qur'an.
Berdasarkan ayat Al-Qur’an, keutamaan Yaman terdapat dalam beberapa ayat seperti :
1. Allah subhanahu wa ta’ala telah memberkahi negeri yaman, dan berfirman bahwa negeri saba’ (sebuah negeri di yaman) adalah sebuah negeri yang baik, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat Saba’ 15 : “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda [kekuasaan Tuhan] di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. [Kepada mereka dikatakan]: “Makanlah olehmu dari rezki yang [dianugerahkan] Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. [Negerimu] adalah negeri yang baik dan [Tuhanmu] adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (15)” (QS. Saba’ 15).
2. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas [pemberian-Nya] lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Maidah 54).
Kaum yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan di atas, sebagai kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, mereka adalah bangsa yaman, sebagaimana datang penjelasan tafsir ayat di atas dalam hadits di bawah ini.
Menurut Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya yaitu penduduk negeri Yaman ialah kaumnya sahabat Abu Musa al Asy-‘asy’ari radhiyallahu’anhu. “Turunnya ayat tersebut; terang Imam Al Qurtubi, berkaitan dengan kabilah yang bernama al Asy-‘ari. Dalam riwayat dikatakan: sesudah ayat tersebut turun, beberapa rombongan kapal dari kabilah al Asy-‘ari dan kabilah-kabilah lainnya dari negeri Yaman, datang dari jalur laut. Mereka ialah kaum muslimin yang tertindas di negerinya ketika masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam masih hidup. Merekalah yang memiliki jasa dalam penaklukan negeri Irak (melalui perang Al Qodisiyyah) ketika masa kekhilafahan Umar radhiyallahu’anhu.”
Diriwayatkan pula oleh Imam Ath-tabrani dari sahabat jabir bin abdillah bahwasanya beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam telah ditanya tentang firman Allah (“maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya“) beliau berkata : mereka adalah sekelompok kaum dari negeri yaman.
Sedangkan jika lihat berdasarkan Hadist, keutamaan Yaman sangat banyak yang diantaranya adalah :
1. Nabi Bersabda sambil memberi isyarat dengan tangan ke arah Yaman, “Ingatlah, sesungguhnya iman ada di sini (Yaman), sedangkan kekerasan dan kekakuan hati ada pada penggembala yang bersuara keras di dekat pangkal ekor unta ketika muncul sepasang tanduk syaithan pada Bani Rabī‘ah dan Bani Mudhar.” (HR. Muslim no.72).
2. Dari Abū Hurairah dia berkata: “Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah kaum yang paling lembut hatinya. Iman ada pada orang Yaman. Fiqh juga ada pada orang Yaman. Hikmah juga ada pada orang Yaman.” (Shaḥīḥ Muslim 73).
3. Dari Abū Hurairah bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata: “Puncak kekafiran berada pada arah timur (daerah kaum majusi), dan kebanggaan dan kesombongan ada pada pemilik kuda dan unta yang menggembala, yaitu kaum Badui, sedangkan ketenangan ada pada penggembala kambing (maksudnya penduduk Yaman).” (HR. Muslim no.75).
4. Dari Abū Hurairah bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu ada pada Yaman, kekufuran itu ada pada arah timur (maksudnya kaum Majusi), ketenangan ada pada penggembala kambing (maksudnya penduduk Yaman), dan kesombongan dan riya’ itu ada pada orang-orang yang bersuara keras; pengembala kuda dan unta (orang Badui).” (HR. Muslim no.76).
5. Jābir bin ‘Abdullāh berkata: “Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Keras dan keringnya hati berada pada orang Timur, sedangkan iman berada pada ahli Ḥijāz.” (HR. Muslim no.80).
6. Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu’alaihi wasallam berdoa, “Ya Allah… berkahilah kami pada negeri Syam kami. Ya Allah… berkahilah kami pada negeri Yaman kami” (HR. Bukhori dan Ahmad).
7. Suatu ketika, cerita Jubair bin Muth’im, kami bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan antara Makkah dan Madinah. Saat itu Nabi bersabda : “Hampir-hampir bangsa Yaman melebihi kalian. Mereka bak segumpal awan. Mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi.” (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Al-Baihaqi).
8. Rasulullah bersabda, “Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang, satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Hendaklah kalian memilih Syam. Karena ia adalah negeri pilihan Allah. Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya. Jika tak bisa, hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah minum (hewan kalian) dari kolam-kolam (di lembahnya). Karena Allah menjamin untukku negeri Syam serta penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban).
9. Anas bin Malik berkata, “Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepada kalian penduduk Yaman. Merekalah pelopor pertama dalam hal berjabat tangan.
10. Sahabat Anas bin Malik menceritakan, “Suatu hari, beberapa orang dari negeri Yaman datang menemui Rasululloh shallallahu’alaihi wasallam, seraya berkata, “Wahai Rasululloh, kirimkanlah untuk kami seseorang yang akan mengajari kami sunnah dan Islam.. Lalu Rasulullah menarik tangan Abu Ubaidah seraya bersabda, “Ini orangnya, dialah penjaga umat ini.”
11. Dari Abu Sa’id al Khudri radhiyallahu’anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya akan datang kaum, yang kalian akan merasa minder jika membandingkan amalan kalian dengan amalan mereka“.“Apakah mereka kaum dari kaum Quraisy ya Rasulullah?” Tanya para Sahabat. “Bukan, mereka adalah penduduk Yaman.” jawab Rasulullah.” (HR. Ibnu Abi Ashim, dishohihkan oleh Imam Muqbil Al-Wadi’i).
12. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau mengatakan, “Penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian. Mereka adalah orang yang paling lembut hatinya. Iman itu ada pada yaman, Fiqih ada pada Yaman, dan hikmah ada pada Yaman.” (HR. Imam Ahmad).
13. Telah menceritakan kepada kami [Abul Yaman]. Telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] Telah menceritakan kepada kami [Abu Zinad] dari [Al A'raj] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang perasaan (sensitive) dan hatinya paling lembut, kefaqihan dari Yaman, hikmah ada pada orang Yaman." (Shahih Bukhari 4039).
14. Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Awanah] dari [Al A'masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Sa'id] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlan kalian mencela sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sekiranya salah seorang dari kalian bersedekah dengan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak akan bisa menyamai sedekah mereka meski hanya satu mud atau pun setengahnya." (Sunan Abu Daud 4039).
15. Dari sahabat zaid bin tsabit : bahwasanya Nabi mengarahkan pandangannya ke arah negeri yaman, kemudian beliau berkata : Ya Allah… jadikanlah di hati mereka kelapangan dalam menerima islam [HR. Tirmidzi).
16. Diriwayatkan dari abdullah bin umar bahwasanya nabi berdo’a : Ya Allah berkahilah kami pada Yaman kami (negeri Yaman) [HR. A-Bukhari].
17. Diriwayatkan dari sahabat ‘Imron bin Husein, beliau berkata : suatu hari aku berada di samping rosulullah shalallahu alaihi wa sallam tatkala datang kepada beliau sekelompok kaum dari bani tamim, maka berkata rosulullah shalallahu alaihi wa sallam kepada mereka, “aku sampaikan kepada kalian berita gembira (seruan kepada islam dan balasannya berupa surga), mereka berkata kepada rosulullah shalallahu alaihi wa sallam : engkau telah memberi kami kabar gembira, maka berilah kepada kami sesuatu (sebagai hadiah) –maka berubahlah wajah rosulullah- kemudian datang penduduk yaman menemui rasulullah, maka berkatalah rosulullah shalallahu alaihi wa sallam kepada mereka “ wahai para penduduk yaman aku sampaikan kepada kalian berita gembira (seruan kepada islam dan balasannya berupa surga) yang mana bani tamim tidak menerima kabar gembira tersebut dariku, ahlu yaman berkata kepada rosulullah shalallahu alaihi wa sallam : kami menerima seruan engkau, kami mendatangi engkau dalam rangka mempelajari agama.” [HR. Al-Bukhari].
18. Penduduk Yaman adalah sebaik-baik penduduk bumi, Dari jubair bin muthim berkata : suatu ketika kami bersama rasulullah di suatu jalan antara makkah dan madinah, maka berkata rasulullah : hampir-hampir saja bangsa yaman melebihi kalian, seakan-akan mereka seperti gumpalan awan, mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi. [HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Al-Baihaqi].
19. Dari sahabat ‘amr bin abasah rasulullah bersabda : sebaik-baik lelaki adalah lelaki penduduk yaman” [HR. Imam Ahmad, Al-Bukhari].
20. Dari abu sa’id al-khudri berkata : rasulullah berkata : “sesungguhnya akan datang suatu kaum yang kalian akan merasa minder jika membandingkan amalan kalian dengan amalan mereka” sahabat anas bin malik bertanya : wahai rosulullah, apakah mereka kaum dari kaum quraisy ? berkata rosulullah : “Tidak, akan tetapi mereka adalah kaum dari negeri yaman” [HR. Ibnu Abi Ashim].
21. Berkata Imam ibnu jarir ath-thabari dalam tafsirnya : “sesungguhnya Allah mendatangkan ahlu yaman pada masa kekhilafan umar bin khotob, kala itu sikap mereka terhadap ajaran agama islam merupakan yang paling baik diantara kaum-kaum yang lain yang memeluk islam [dari luar mekkah dan madinah] dan mereka pada waktu itu adalah kaum yang paling banyak memberi pertolongan kepada kaum muslimin.
22. Dari Ibnu Abbas berkata : Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata : akan keluar dari antara kota aden dan kota abyan 12.000 orang yang akan menolong agama Allah dan menolong Rasul-Nya.
Wallahu A'lam Bisshowwab...
"Kebenaran Hanya Milik Allah, kesalahan milik Al-Faqir"
• Dikutif dari berbagai sumber