Senin, 10 Agustus 2026

“SEJARAH IMAM AHMAD AL-MUHAJIR DAN ANAKNYA IMAM UBAIDHILLAH BESERTA KESAKSIAN AKAN NASAB MEREKA”

Ketika Al-Muhajir keluar (bermigrasi) dari Bashrah, bersamanya ada Abdullah, anak bungsunya. Abdullah telah dikaruniai seorang putra bernama Ismail yang belajar di Irak dan wilayah lainnya pada tahun 305 H. Dengan demikian, usia Abdullah saat itu diperkirakan kurang dari dua puluh tahun. Maka, usia minimal Abdullah ketika bermigrasi bersama ayahnya pada tahun 319 H adalah sekitar 23 tahun. Kelahirannya diperkirakan terjadi pada tahun 295 H, wafatnya pada tahun 383 H, dan usianya mencapai 93 tahun.

Jika kelahiran Abdullah terjadi pada tahun 295 H, dan jika dia adalah anak bungsu dari saudara-saudaranya—yaitu Muhammad, Ali, dan Al-Husain—serta jika kita asumsikan jarak usia antara satu anak dengan anak berikutnya adalah dua tahun, maka usia Muhammad ketika ayahnya bermigrasi adalah 38 tahun.

Tampaknya kelahiran Al-Sayyid Al-Muhajir terjadi pada tahun 273 H. Beliau bermigrasi saat berusia 45 tahun. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa beliau lahir pada tahun 241 H, yaitu pada masa hidup kakeknya, Muhammad Al-Naqib, dikatakan bahwa beliau adalah anak kedua dari ayahnya yang paling panjang umurnya, dan usianya mencapai lebih dari seratus tahun. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam pengantar Musnad Al-Muhajir (Manuskrip di perpustakaan almarhum Al-Sayyid Salim bin Ahmad bin Jindan di Perpustakaan Al-Fakhriyah, Jakarta – Indonesia).

Silsilahnya (Nasabnya)

Beliau adalah Ahmad (Al-Muhajir) bin Isa bin Muhammad Al-Naqib (yang dijuluki Al-Rumi) bin Ali (Al-Uraidhi) bin Al-Imam Ja'far Al-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (Al-Sajjad) bin Al-Husain Al-Syahid bin Ali bin Abi Thalib.

Andai saja kaum Khawarij ingin mengingkari silsilah nasabnya ketika beliau tiba di Hadramaut, niscaya mereka akan melakukannya. Namun, mereka tidak memiliki celah untuk mengingkarinya. Bahkan, ketika Al-Muhajir telah wafat dan meninggalkan keturunannya di sana, mereka (keturunannya) ingin memperkuat pembuktian nasab tersebut. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dari munculnya pengingkaran atau penolakan dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Maka dari itu, Al-Sayyid Ali bin Muhammad pergi kembali ke Irak, lalu membuktikan kesahihan nasabnya dan meminta kesaksian dari seratus orang saksi yang adil dari kalangan jamaah haji. Kemudian, beliau membuktikannya sekali lagi di Makkah Al-Mukarramah dan meminta kesaksian atas pembuktian tersebut dari sekumpulan jamaah haji asal Hadramaut. Para saksi ini kemudian dihadirkan pada hari yang telah ditentukan, lalu mereka bersaksi secara terbuka di hadapan publik atas kebenaran nasab tersebut (Al-Masyra', hlm. 29).

Syaikh Muhammad Al-Thayyib Abu Makhramah menyebutkan dalam kitabnya, Qiladat Al-Nahr fi Wafayat A'yan Al-Dahr: "Sesungguhnya ketika Ahmad bin Isa tiba (di Hadramaut), penduduk Hadramaut mengakui keutamaan beliau dan tidak mengingkarinya. Kemudian setelah itu, mereka (keturunan Ahmad bin Isa) ingin menegakkan bukti yang kuat demi memperkokoh apa yang mereka nyatakan. Pada saat itu, di kota Tarim terdapat 300 ahli fatwa (mufti). Maka pergilah Al-Imam Al-Muhaddits Ali bin Muhammad kembali (untuk membuktikannya)..." dan seterusnya.

Kitab atau naskah manuskrip ini berada di kota Tarim, ditulis pada tahun 987 H oleh Umar bin Ibrahim Al-Habani bin Ridwan bin Abdul Ghaffar bin Ismail bin Muhammad bin Umar, dan satu salinannya terdapat di Dar al-Kutub al-Misriyah (Perpustakaan Nasional Mesir) yang ditulis pada tahun 1001 H oleh Yahya bin Ahmad bin Ali al-Sha'idi al-Syafi'i. Kedua salinan tersebut disalin langsung dari tulisan tangan penulisnya. Selain itu, di Dar al-Kutub al-Misriyah juga terdapat ringkasan silsilah nasab Al-Muhajir yang ditulis pada tahun 1143 H oleh Ismail bin al-Hasan al-Himyari di kota Sana'a, yang juga disalin dari tulisan tangan penulisnya.

Kedudukan Al-Muhajir, keberadaan keluarga dan kerabatnya di Bashrah, serta keberadaan putranya, Muhammad, yang mengurusi harta kekayaannya; begitu pula kedatangan putra-putranya, Ali dan Al-Husain; serta perginya cucu beliau, Al-Sayyid Jadid bin Abdullah, untuk memeriksa harta kekayaan tersebut dan mengunjungi kerabat; kemudian perginya Al-Sayyid Ali bin Muhammad bin Jadid; serta kesegeraan para saksi yang adil dari kalangan penduduk Irak untuk bersaksi atas kesahihan nasab tersebut; ditambah pemanfaatan hasil pendapatan harta mereka di Irak oleh anak cucu mereka di Hadramaut selama bertahun-tahun; serta keberadaan saudara-saudara dan sepupu-sepupu Al-Sayyid Al-Muhajir di Irak dan hubungan yang terus terjalin di antara mereka; serta keberadaan para sayyid dari keluarga Al-Ahadilah dan Bani Qadim di Yaman sejak masa lampau; semua hal tersebut menjadi bukti nyata atas ketetapan nasab dan kemasyhurannya.

Sebab, tidaklah mudah bagi Al-Sayyid Ali bin Muhammad bin Jadid untuk membuktikan nasab ini setelah enam puluh tahun wafatnya para leluhur beliau yang jauh dari Irak, andai saja nasab tersebut tidak terbukti kuat dan dikenal di Bashrah. Tokoh bernama Ali dilahirkan di Hadramaut, demikian pula ayahnya, Muhammad, dan kakeknya, Jadid. Akan tetapi, mereka tetap menjaga hubungan dengan tanah air leluhur mereka ketika pergi dan berkunjung ke sana untuk menuntut ilmu. Ini juga menjadi bukti atas semangat mereka untuk mengambil manfaat dari para ulama Irak. Mereka terus terhubung dengan Bashrah dan saudara-saudara mereka di sana. Kabar tentang mereka selalu sampai, dan orang-orang yang datang dari sana selalu memperbarui pengetahuan tentang tanda-tanda agama mereka serta menyebutkan biografi dan sejarah mereka. Namun, ketika jalur pelayaran kapal-kapal berubah setelah munculnya kapal-kapal dagang, hubungan antara mereka dengan tanah air dan saudara-saudara mereka menjadi terputus, kecuali dalam kesempatan yang jarang terjadi (Majalah Al-Rabitah, Juz 3, hlm. 2, hal. 95).

Kitab Al-Jawhar al-Syafaf menyebutkan bahwa perjalanan Al-Sayyid Jadid ke Bashrah terjadi ketika beliau menunaikan ibadah haji bersama saudaranya, Alawi, untuk mengambil hasil panen dan mengunjungi kerabat. Beliau kembali melalui pesisir Teluk Persia, memasuki wilayah Al-Ahsa, Al-Qatif, dan Oman, lalu berbelok menuju Dhofar.

Dan di antara keturunan Muhammad bin Ahmad Al-Muhajir adalah: Abu Muhammad Al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Al-Muhajir, yang dikenal dengan julukan Al-Qalal. Di antara anak-anaknya adalah Abu Al-Qasim Al-Gathath.

Dan Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir menimba ilmunya di Irak, Hijaz, dan Yaman.

Sedangkan Ismail (yang berjuluk Al-Basri) dikenal karena luasnya ilmu, periwayatan, serta kemahirannya dalam bahasa Arab, hadis, dan fikih, hingga beliau diangkat untuk memberikan fatwa dan mengajar.

Adapun Jadid dilahirkan di Hadramaut, dididik langsung oleh ayah dan saudara-saudaranya, serta menimba ilmu dari para ulama Yaman, Hijaz, dan Irak.

Dan Alawi, yang kepadanya dinisbatkan kaum Alawiyyin di Hadramaut, Hijaz, India, Afrika, serta wilayah Asia Tenggara dan tempat lainnya.

Keabsahan nasab Alawi ini telah diverifikasi oleh banyak sejarawan dan ahli silsilah (nasab), di antaranya adalah:

Abu Abdullah Muhammad bin Al-Husain Al-Samarqandi Al-Madani dalam kitabnya, Tuhfat al-Thalib bi Ma'rifat man Yansab ila 'Abdullah wa Abi Thalib. Beliau lahir di Madinah Al-Munawwarah dan tumbuh besar di sana. Satu salinan kitabnya berada di Makkah, dan salinan lainnya berada di kedalaman Al-Sayyid Al-Syarif Abdul Qadir bin Ali bin Abdul Qadir Al-Aydarus. Biografi beliau telah ditulis oleh penulis kitab Al-Nur al-Safir yang wafat pada tahun 996 H (Jany al-Syamarikh, hlm. 2).

Serta ahli nasab terkemuka Abu Al-Hasan Najmuddin Ali bin Abi Al-Ghanaim Muhammad bin Ali Al-Alawi Al-Basri (wafat tahun 443 H). Beliau menulis kitab Al-Majdi, Al-Mabsuth, dan Al-Musajjar (berbentuk manuskrip). Beliau menyusun kitab Al-Majdi atas nama Al-Sayyid Majduddin Al-Uraidhi. Beliau juga disebutkan dalam kitab Raudhat al-Albab bi Ma'rifat al-Ansab.

Serta Muhammad bin Ja'far Al-Ubaidili, beliau memiliki kitab Tahdzib al-Ansab (berbentuk manuskrip) dan wafat pada tahun 435 H.

Serta Ibnu Ma'iyyah Tajuddin Muhammad bin Abi Ja'far Al-Hasani, beliau memiliki kitab Nihayat al-Thalib fi Ansab Ali Abi Thalib.

Dan Mu'ayyaduddin Ubaidillah bin Umar bin Muhammad, beliau memiliki kitab Al-Thabt Al-Mushan.

Serta Jamaluddin Muhammad Al-Astarabadi dalam kitab Ghayat Al-Ikhtishar.

Serta cucu perempuannya, Jamaluddin Ahmad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Muhanna Al-Dawudi Al-Husaini (748 – 828 H) dalam kitab Umdat Al-Thalib Al-Kubra. Beliau menulis kitabnya sekitar tahun 814 H atas arahan dari Jalaluddin Al-Hasan, seorang kepala suku (Naqib) putra Amiduddin Ali Al-Hasani.

Serta Ubaidillah Al-Jurjani dalam bagan silsilahnya (Musyajar).

Syaikh Ibnu Abil Futuh Abu Fadhil Muhammad Al-Kazhimi dalam kitab Al-Nafhah Al-Anbariyah fi Ansab Khair Al-Bariyah, beliau masih hidup pada tahun 859 H.

Serta Dhamin bin Syaqam dalam kitab Zahr Al-Riyadh wa Zulal Al-Hiyadh.

Serta cucunya memiliki kitab Tuhfat Al-Azhar fi Nasab Al-Aimmah Al-Athhar.

Serta Abu Al-Nashr Sahl bin Abdullah Al-Bukhari dalam kitab Sirr Al-Silsilah Al-Alawiyah, beliau masih hidup pada tahun 351 H.

Serta Al-A'raji dalam kitab Al-Durr Al-Munazham fi Ansab Al-Arab wa Al-Ajam.

Serta Abul Abbas Al-Syarji dalam kitab Thabaqat Al-Khawash Ahl Al-Shidq wa Al-Ikhlas. Di dalamnya disebutkan kisah migrasi kakek keluarga Al-Asdal dan dua putra pamannya. Salah satunya tinggal di Lembah Saham, putra pamannya yang lain tinggal di Lembah Surdad dan dia merupakan kakek buyut dari keluarga Bani Al-Qadimi, sedangkan yang ketiga bermigrasi ke Hadramaut dan dia merupakan kakek buyut dari keluarga Al Abi Alawi (hlm. 80).

Serta Abdul Hafizh Al-Fasi dalam kitab Riyadh Al-Jannah.

Serta Muhammad Sirajuddin Al-Makhzumi Al-Musawi di Irak (793 – 885 H) dalam kitabnya Sihah Al-Akhbar fi Nasab Al-Sadah Al-Fathimiyah Al-Akhyar.

Serta Al-Azurqani, seorang syarif terkemuka Abu Thalib Ismail bin Al-Husain, beliau memiliki kitab Ghiyat Al-Thalib fi Ansab Bani Abi Thalib atas arahan dari Al-Imam Fakhruddin Al-Razi sebagaimana yang beliau isyaratkan dalam khotbahnya. Kitabnya terdiri dari dua jilid, dan di dalamnya beliau menyebutkan silsilah keturunan Al-Sayyid Muhammad Murtadha Al-Zabidi dalam kitab Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi saat menyebutkan junjungan kita, Ali bin Alawi bin Al-Faqih Al-Muqaddam beserta keturunannya. Al-Sayyid Ali bin Alawi ini hidup sezaman dengan Al-Syarif Al-Azurqani, penulis kitab (Bahr Al-Ansab) yang dikenal sebagai kitab Al-Fakhri (Jany Al-Syamarikh, hlm. 21). Beliau juga memiliki kitab tentang silsilah dan sanad yang dinamai Abwab Al-Sa'adah wa Salasil Al-Siyadah.

Sejarawan sekaligus ahli nasab, Muhammad bin Al-Thayyib bin Abdussalam Al-Qadiri Al-Hasani, menyebutkan dalam kitabnya, Lamhat Al-Bahjah Al-Aliyah fi A'qab Alawiyyin, yang membahas keturunan Alawiyyin di wilayah Al-Uraidhi. Satu salinan manuskripnya terdapat di Dar al-Kutub al-Misriyah (Perpustakaan Nasional Mesir) bagian sejarah, tersimpan dalam jilid dengan nomor kode 2028. Di dalamnya dikutip pujian atas mereka serta silsilah nasab mereka. Disebutkan pula kisah perjalanan Al-Imam Al-Hujjah Al-Sanad, seorang tokoh terkenal sekaligus pilar wilayah Maroko, Abu Salim Abdullah bin Abi Bakar Al-Ayyasy. Beliau menyebutkan dalam catatan perjalanannya bahwa beliau mengambil ilmu dari Al-Imam Muhammad bin Alawi bin Muhammad Al-Saqqaf, guru dari Al-Habib Al-Quthb Abdullah Al-Haddad (Jany Al-Syamarikh, hlm. 21).

Serta Abu Syukail, seorang qadhi sekaligus ahli fikih, Muhammad bin Saad.

Serta Al-Ahdal dalam kitab Tuhfat Al-Zaman.

Serta Abul Wazir Abdullah bin Abdurrahman dalam kitab Al-Tuhfah Al-Nuraniyah.

Serta Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Khatib dalam kitab Al-Jawhar Al-Syafaf.

Serta Muhammad Al-Madhaj dalam kitab Jawahir Al-Tijan.

Dan masih banyak tokoh lainnya seperti Al-Khazraji, Al-Yafi'i, Al-Awaji, Ibnu Abil Hubb, Al-Sakhawi, Abu Al-Fadhl, Abu Abbas, Ibnu Rosyid, Ibnu Isa Al-Tirmidzi, Al-Junaid, Ibnu Abi Hasan, Ibnu Hajar Al-Haitami, Ibnu Samrah, Ibnu Kin, Abdullah Abu Makhramah, Muhammad Al-Thayyib Abu Makhramah, Ibnu Fahd, Ibnu Aqil, dan Al-Mirwafi Al-Tarimi.

Dan yang terakhir adalah hasil penelitian dari seorang peneliti, Al-Sayyid Abdullah bin Hasan Balfaqih, dalam kitabnya Tafnid Al-Maza'im.

"Selain itu, hal ini didasarkan pada kitab-kitab biografi (thabaqat), silsilah periwayatan, serta sanad-sanad hadis, fikih, dan bidang lainnya. Mereka telah dikenal sepanjang sejarah oleh para raja Arab, Persia, Turki, serta Asia Tenggara dan wilayah lainnya.

Sultan Maroko, Yang Mulia Syarif Muhammad bin Abdullah, secara khusus telah menetapkan tunjangan tahunan sebesar seribu mitsqal emas untuk mereka, serta untuk para syarif di Hijaz dan Yaman.

Demikian pula dengan Khalifah Ottoman, berdasarkan 'Ferman' (surat keputusan resmi) yang dikeluarkannya, yang dokumennya masih tersimpan dengan baik. Beliau juga menyediakan ribath (tempat singgah/pemukiman) dan wakaf untuk mereka.

Sebagaimana yang disaksikan pula oleh Naqib (ketua persatuan) para syarif di Fez pada awal abad ke-13 Hijriah, dalam sebuah surat keputusan resmi (zhahir) dari Sultan Maroko, Mawlay Sulayman. Surat tersebut memuat kesaksian-kesaksian dari para ulama terkemuka yang dikenal luas.

Sebelum itu, kesaksian ini juga telah dikemukakan oleh Al-Imam Al-Ansar, syekh ahli nasab pada abad ke-10 Hijriah di Maroko. Silakan rujuk kembali jawaban Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam tanggapannya mengenai nasab ini, yang ditulis dengan tulisan tangan Al-Sakhawi.

Saya juga telah menerima sepucuk surat dari Yang Mulia Al-Allamah Al-Sayyid Hibatuddin Al-Shahrastani di Baghdad. Di dalamnya, beliau menyebutkan kutipan dari penulis kitab Al-Umdah dan kitab lainnya sebagai berikut: '... Adapun Ahmad bin Isa, yang dikenal dengan julukan Al-Muhajir, keturunannya merupakan para syarif yang mulia di kalangan non-Arab maupun Arab. Mereka membangun rumah-rumah dengan kubah yang tinggi di berbagai negeri. Mereka menerangi bangsa-bangsa dengan ilmu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan petunjuk Sunnah Nabi, hingga mereka menetap di wilayah Malaka (Melayu) serta pesisir India sebagai para pembimbing...'

Di antaranya juga disebutkan dalam kitab Al-Nafhah Al-Anbariya dan Silsilat Al-Dzahab sebagai berikut:

'... Dan di antara keturunan Isa adalah Al-Sayyid Ahmad yang berpindah ke Hadramaut. Lalu di antara keturunannya adalah Al-Sayyid Ali Al-Khali' yang datang ke Aden pada masa pemerintahan Mas'ud bin Tughtakin bin Ayyub bin Syadi pada tahun 611 H. Ia keluar dari Aden karena suatu urusan yang mengharuskannya pergi ke tanah India. Kemudian ia kembali ke Hadramaut setelah wafatnya Mas'ud. Dan di antara keturunannya adalah Bani Alwi...'"

"Dan disebutkan nasab Bani Alwi putra dari Abi Al-Jadid bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Jadid bin Ali bin Muhammad bin Jadid bin Abdullah bin Ahmad bin Isa.

Di antara mereka yang menisbatkan diri kepada Al-Imam Al-Muhajir adalah keluarga Al-Qab'i, termasuk di antaranya seorang ahli nasab bernama Al-Sayyid Adnan bin Isa bin Mahmud Al-Shadiqi Al-Qab'i.

Di antara ulama yang juga menyebutkan nasab ini adalah:

Amiduddin Al-Najafi dalam kitab Al-Mushajjari Al-Kasysyaf

Ibnu Al-Thaqthaqi dalam kitab Al-Ashili

Ja'far Al-A'raji Al-Kazhimi dalam kitab Al-Balad Al-Amin

Shihabuddin Al-Mar'asyi, yang menetap di Qom, dalam kitab Al-Masyjarat Al-Kabirah

Al-Sayyid Mihri bin Abdul Lathif Al-Husaini dari keluarga Abi Al-Ward dalam kitab Ansab Al-Murtadhawiyyin

Al-Sayyid Abdussatar Al-Hasani dalam kitab Al-Qawl Al-Hassim fi Ansab Bani Hasyim

Syekh Husain bin Muhammad Al-Rifa'i Al-Azhari dalam kitab Dzail Al-Mushajjar Al-Kasysyaf

Syekh Muhammad Badruddin Sibt Al-Syarbinan Al-Syafi'i, seorang pengajar di Al-Azhar, dalam kitab Al-Minah Al-Aliyyah fi Al-Sadah Al-Alawiyyah.

Al-Allamah Ahmad Al-Bujairami dalam risalah Al-Thal'ah Al-Saniyyah fi Madhi Al-Bidh'ah Al-Aydarusiyyah

Al-Allamah Yusuf bin Ismail Al-Nabhani dalam kitab Riyadh Al-Jannah fi Adzkar Al-Kitab wa Al-Sunnah."

SUMBER PENULISAN

Kitab “Al-Imam al-Muhajir: Ahmad bin 'Isa bin Muhammad bin 'Ali al-'Uraidhi bin Ja'far as-Sadiqy”, yang disusun oleh Maha Guru, Ulama Kelas Dunia Profesor Raden KH Mama Abdullah bin Nuh & Sejarawan Senior Penulis Kitab-Kitab Sejarah Berbahasa Arab dan Indonesia, As-Sayyid Muhammad Dhiya’ Shahab, (Jeddah: Percetakan: Dar al-Syuruq, 1980 M/1400 H), halaman 63-71. Kitab ini juga ada dalam bentuk digital (PDF), bagi yang berminat 

๐ˆ๐ฆ๐š๐ฆ ๐€๐ก๐ฆ๐š๐ ๐›๐ข๐ง ๐ˆ๐ฌ๐š (๐ฌ๐จ๐ฌ๐จ๐ค ๐ฉ๐ž๐ง๐ญ๐ข๐ง๐  ๐ง๐š๐ฌ๐š๐› ๐๐š๐ง๐ข ๐€๐ฅ๐š๐ฐ๐ข)

 Namanya kita dapatkan dalam kitab "Tarikh Baghdad" karangan Al-Khatib Al-Baghdadi, yaitu dalam bagian Jarir At-Tabari, itu ahli sejarah yang terkenal. Di situ dikutip beberapa kalimat dari kata-katanya, demikian : "Aku (Muhammad bin Jarir At-Tobari) telah terima sepucuk surat dari Al-muhajir Al-imam Ahmad bin 'Isa Al'alawi dari Basrah".

Jadi ia itu hidup di zamannya At-Tobari, penyusun kitab "Tarikh at-Tobari" yang terkenal itu, terdiri dari 13 juz.
Dalam kitab "Musnad al-Imam Ahmad bin Tsa terdapd riwayat hidup singkat baginya, demikian Ia (Almuhajir Ahmad bin 'Isa) dilahirkan di Basrah ('Irak) pada malam Jum'at tanggal 13 Jumadil awal, tahun 241 Hijrah, pada masa masih hidup kakeknya (Muhammad An-Naqib). Ia adalah anak kedua bagi ayahnya ('Isa bin Muhammad), satu tahun enam bulan lebih muda daripada kakaknya (Muhammad bin 'Isa), Ia, di antara saudara-saudaranya, adalah yang paling panjang usianya, ia hidup lebih dari seratus tahun. Berhubung dengan kelahirannya itu, maka kakeknya mengadakan walimah pada hari ketujuhnya, dihadiri oleh seorang Imam Ahli Hadits, yaitu Abu Tohir Ahmad bin Harun bin Musa Al-Kadzim bin Ja'far As-Sadiq, guru besar Irak pada masa itu. Hadir pula disitu Al-Imam Ishak bin 'Abbas bin Ishak bin Musa Al-Kadzim, terkenal dengan julukan Al-Mahlus al-Akbar, naqib dari segala naqib-naqib di Wasit, ketika itu ia sedang ada di Basrah, yaitu pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil dari Bani'Abbas.
Ia (Almuhajir) adalah penghafal Al-Qur'an, belajar qiraat 'Asim pada Imam Qasim bin Ahmad al-Khayyat, dan padanya pula ira belajar; huruf rasm, tajwid dan 'ilmu-ilmu Al-Qur'an, Nahwu, 'arabiyah dan sastera telah ia pelajari pula pada Imam, Abu 'Ali Hasan bin Dawud bih Hasan bin 'Awn bin Munzir bin Sobih al-Qurasyi, yaitu yang terkenal dengan nama julukan An-Naqqar An-Nahwi Al-Kufi, seorang imam dalam ilmu logat (lughah) pada masa itu. Dalam ilmu Fiqh, ia (Ahmad Almuhajir) mula-mula bermazhab Ja'fari, tegasnya berittiba' kepada ijtihadnya Imam Ja'far As-Sadiq, lalu kemudian ber-ijtihad sendiri, dengan pengertian mendalam tentang riwayat Hadits dan ilmui-lmu yang berhubungan dengan itu. Akhimya cenderunglah ia kepada mazhab Imam Syafi'i dalam istidlal dan mu'amalatnya, dan selanjutnyapun tetaplah ia berpendirian demikian. (Karena itulah maka keturunannya dan murid-muridnya semua bermazhab Syafi'i).
Untuk menuntut ilmu, selain di Basrah, ia pergi ke Baghdad, Wasit, Persi, Asfahan, Kufah, Di sana ia belajar dengan langsung pada gum-guru besar dalam ilmu Hadist. Ia pernah belajar pada Bisyr bin Haris Al-Hafi (seorang tokoh yang sering disebut namanya oleh Imam Ghazali datam karangan-kanngannya). Pernah pula ia mengalap ilmu sastera pada Ahmad bin Faraj Ar-Riasyi. Akhimya kembalilah ia ke Basrah, di mana ia memegang jabatan Naqib, menggantikan saudaranya yang meninggal. Jabatan Naqib itu ialah jabatan khas untuk pemeliharaan silsilah, kelahiran dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keturunan dsb. Kemudian ia pegang pula direksi unrsan wakaf bagi golongan para syarif dengan pengesahan dari Khalifah Bani 'Abbas. Kemudian bersuluklah ia dan berhubungan dengan para ahli tasawwuf, suka berkhalwat, akhirnya ditinggalkannyalah segala jabatan itu, terutama setelah menyaksikan peristiwa-peristiwa pemberontakan bangsa Zinji (Negro) di sana, yang menyerbu masuk ke Basrah, di mana terbunuh Ahmad bin Faraj Riasyi. Diwaktu itu ia (Almuhajir) bersembunyi dalam Sebuah sumur dengan keluarganya. Kemudian keadaan bertambah kacau dengan datangnya kaum Karamitah di Basrah. Akhlrnya berhijrahlah ia mula-mula ke Hijaz di bulan Bajab 316 Hijrah, beserta isterinya, Sayyidah Zarnab binti 'Abdullah bin Hasan bin 'Ali 'Uraidi bin Ja'far Sadiq. ๐ˆ๐ค๐ฎ๐ญ ๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐š ๐ฉ๐ฎ๐ญ๐ž๐ซ๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ซ๐ง๐š๐ฆ๐š ๐€๐›๐๐ฎ๐ฅ๐ฅ๐š๐ก (๐ค๐ž๐ฆ๐ฎ๐๐ข๐š๐ง ๐๐ข๐ฌ๐ž๐›๐ฎ๐ญ ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐”๐๐€๐ˆ๐ƒ๐ˆ๐‹๐‹๐€๐‡) ๐›๐ž๐ซ๐ฎ๐ฌ๐ข๐š 20 ๐ญ๐š๐ก๐ฎ๐ง. Demikian pula ikut dalam perjalanan ini beberapa orang lainnya, diantaranya beberapa putera dari Husain bin 'Ali Hadi bin Muhammad Jawad bin 'Ali Rido bin Musa Kazim.
Almuhajir dan rombongannya keluar dari Basrah menuju Bagdad, lalu melanjutkan perjalanan ke Damsik, kemudian menuju Madinah. Mereka sampai di Madinah pada tanggal 18 Syawal 316 H.
Ada beberapa orang tetap tinggal di Basrah yaitu : puteranya bernama Muhammad bin Ahmad, mewakili ayahnya sebagai naqib para Syarif, dan beberapa orang lagi dari putera-putera saudaranya, (Muhammad bin 'Isa).
Dalam perjalanannya ke Hijaz, mereka singgah di Mosul, Palestina, Syam. Akan tetapi setelah sampai di Madinah, maka dalam tahun itu pula kaum Karamitah masuk ke Madinah dan. Makkah di mana mereka mengacau dan melakukan pembunuhan terhadap jema'ah haji. Maka dilanjutkannyalah hijratrnya itu ke Yaman pada tahun 317 H. Kemudian berpindahlah ia dari negeri ke negeri orang supaya ia pergi ke Hadramaut untuk rnenyebarkan itmu dan hidayat di sana. Maka berhijrahlah ia di negeri Hadramaut.
Sumber :
KH Prof. Mama Ajengan Abdullah bin Nuh, Ringkasan Sejarah Walisongo (Surabaya : Penerbit Teladan, Tanpa Tahun), 16-20. Materi ini bisa diakses bebas dalam bentuk PDF.

"HINAAN-HINAAN KEPADA BANI ALAWI OLEH KAUM NAWASHIB"

Selama 3 tahun terakhir ini semenjak munculnya isu nasab, muncul sikap rasis dari orang-orang yang mengaku mencintai Ahlul Bait, tapi justru kelakuannya bertolak belakang dengan klaim akan kecintaan ahlul bait. Dengan dalih bahwa Bani Alawi bernasab palsu mereka secara habis-habisan menghina dan mencaci maki para habaib. Padahal penolakan akan nasab Bani Alawi hanyalah minoritas dari sekian banyak ulama yang mengakui.

Hinaan-hinaan telah ditujukan kepada beberapa habaib berpengaruh seperti Hb Lutfi, hb Umar bin Hafiz, Hb Ali Bungur, Hb Ali Kwitang, Hb Soleh Tanggul, Hb Abdurrahman Assegaf Bukit Duri, Hb Umar Cipayung, Hb Salim Jindan, Hb Abdullah Bilfaqih, dll. Oleh mereka para habaib tersebut telah dihina secara habis-habisan oleh manusia² PEMBENCI KETURUNAN NABI. Padahal mereka yang dihina ini bukanlah ulama sembarangan, mereka banyak panutan ummat dan waliyullah.
Hinaan mereka sudah luar biasa jahatnya, saya saja juga sempat dihina habis habisan oleh pendukung garis Imad cs, hanya karena membela nasab Bani Alawi, saya dibilang DAJJAL, BLO'ON, TUKANG TIPU SEJARAH, dan hinaan-hinaan lain, untungnya saya gak terpancing untuk menghina mereka sampai begitu parahnya walaupun hati agak panas juga, tapi alhamdulillah masih bisa ditahan berkat masukan dari istri, paling paling cuma saya cakin ala Betawi. Tapi lihat Hb Hanif dan Hb Riziq dibikinin meme yang sangat kotor dan vulgar, hb Taufik bahkan ada yang bilang asu dan meme yang sadis, Rais Am PBNU saja mereka hina sehinanya, Gus Wafi malah dibilang celengan semar, Gus Rumail dibilang Pinokio dan tukang ngibul, Gus Gus lain bahkan dikata katain hanya karena mereka menjelaskan siapa Bani Alawi yang sesungguhnya....intinya, anda membela Bani Alawi maka bersiaplah mendapat hinaan-hinaan, bersiaplah dipersekusi dan bersiaplah dicap sebagai penipu, manusia bodoh dan tolol, otak dangkal, dungu, dll..
Para pecinta habaib dibilang MUKIBIN (Kibin), DOBOLOWI, dan hinaan hinaan rasis lainnya. Terakhir Gus Baha dan Mbah Riyan yang kita tahu kapasitas keilmuannya juga ikut dikata-katain...paling² mereka memuji Prof Quraish Shihab dan Najwa Shihab yang kata mereka tahu diri karena gak ngaku ngaku keturunan Nabi, padahal sikap Prof Quraish adalah ketawaduannya sebagai ahlul bait, mereka lupa kalau Prof. Quraish Baalawi tulen dan guru gurunya banyak yang Baalawi dan dia jebolan Darul Hadist Malang dan murid dari Habib Abdul Qadti Bilfaqih...Sedangkan Najwa, alm suaminya adalah Baalawi.
Anda yang memang mencintai Ahlul Bait, jangan ikut ikutan melabeli orang² tersebut, silahkan debat mereka baik keras ataupun lembut, tapi gak perlu ngatain mereka dengan label binatang, kotoran manusia, omongan kotor dan jorok..silahkan kalau mau nyindir secara satire atau sekalian sarkas yang penting jangan pernah keluar seperti tulisan dan kata kata mereka yang jauh dari akhlak..
Entah apa mereka sadar kalau apa yang mereka perbuat kelak akan jadi dosa jariah kalau tidak cepat bertobat, apalagi hinaan hinaan masih terus diputar dan dilihat di medsos..Apa mereka juga tidak sadar bahwa yang mereka kata-katai banyak diakui sebagai Waliyullah...Betapa mengerikannya kelak mereka yang menyakiti para Wali Allah karena Allah langsung yang akan memberi pelajaran, cepat atau lambat, kalau tidak pada dirinya bisa jadi pada keluarga sebagai cara Allah menegur mereka...
Apakah dulu pernah terjadi ?
Ya pernah terjadi, banyak keturunan Nabi yang didustai, bahkan dikejar kejar dan dibunuh, tidak sedikit mereka yang nasabnya dianggap batil hanya karena mereka berani melawan penguasa dan melawan kesewenang wenangan...tidaklah usah heran jika keturunan Nabi banyak yang hijrah termasuk Imam Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi dan anaknya Abdullah (Ubaidillah) yang berusia 20 tahun yang berhijrah ke Hadramaut....
Sejarah kini berulang, kita harus berhadapan dengan kaum Nawashib yang mengingatkan akan sosok Abdurahman bin Muljam yang selalu merasa dirinya benar, merasa paling faham agama, merasa paling dekat dengan Allah, merasa memuliakan Alquran dan Sunnah tapi ternyata dia membenci Sayyidina Ali bahkan akhirnya membunuhnya..namanya memang Islami tapi dia gagal membuktikan arti dari nama Abdurrahman....

NAMA WALI SONGO DIRUSAK !

 WALI SONGO berdakwah dengan pendekatan akhlak melalui nilai-nilai kesufian, sehingga akhirnya banyak orang² yang tadinya kafir masuk Islam secara rela, tapi yang ini memakai nama WALI SONGO justru banyak menciptakan fitnah dan adu domba, menggunakan nama WALI SONGO justru untuk mencaci maki dan memperkusi.

Ajaran WALI SONGO yang mengedepankan akhlak yang luhur seperti yang pernah diwariskan Al Imam Ahmad Al-Muhajir hancur ditangan orang-orang yang mengaku masih sholat tapi lidahnya beracun dan akhlaknya seperti Abdurrahman bin Muljam....
Mereka lupa arti kata WALI, perbuatan mereka lebih menyerupai SYAITON. Para Wali yang dakwahnya tembus ke sanubari rakyat berlaku seperti layaknya antara orangtua dan anak, tapi mereka ini mengaku berdakwah tapi senang dengan kekerasan verbal maupun non verbal.
Terlalu picik rasanya menggunakan nama WALI SONGO tapi perilakunya mirip Abu Jahal.
Sejak dulu ajaran utama WALI SONGO salah satunya menghormati para ulama, dan menata hati dengan jalan mengikuti Thoriqoh...
Ajaran WALI SONGO menciptakan persatuan bukan perpecahan, ajaran WALI SONGO merangkul bukan memukul, ajaran WALI SONGO mengayomi bukan menindas, ajaran WALI SONGO menyempurnakan akhlak bukan justru merusak akhlak...
WALI SONGO tidak gila nasab atau menjual nasab dalam berdakwah, garis keturunan bukan untuk dipamerkan atau diadu dengan nasab lain.
WARISAN WALI SONGO yang paling utama dalam kehidupan penerusnya bukanlah pamer nasab atau pamer status sosial, tapi ajaran utama WALI SONGO adalah MENERUSKAN AKHLAK YANG LUHUR yang telah diajarkan oleh para keturunan Nabi Muhammad SAW dari generasi ke generasi....

MAKAM MBAH PRIUK DIGUGAT PWI LS ?

 Dalam peristiwa kerusuhan Makam Mbah Priuk dulu, Hb Salim Al-Attas atau Habib Selon sampai bilang dan nelpon Hb RiezibShihab "Ente kemari deh, ane udah gak kuat tahanin jamaah". Ini Hb Salim Selon kalau soal nyali, ane tahu persis, karena beliau kakak kelas ane di Madrasah Tsaqofah Islamiah Bukit Duri, tapi menghadapi kemarahan massa aja dia nyaris kewalahan, padahal Hb Selon udah ultimatum fihak yang mau bongkar makam, kalau masih ngotot beliau bilang, "kite perang"...

Perlu diketahui, Hb RS saat itu lagi dirawat dirumah sakit, tapi begitu ditelpon kayak gitu sama hb Salim , HRS langsung minta sama suster untuk mencabut selang infus dan segera berangkat ke lokasi kerusuhan, padahal saat itu beliau masih lemah fisiknya, dan saat beliau datang semua jamaah yang dalam keadaan marah langsung menahan diri, saat itu pula kondisi udah chaos dan berdarah-darah demi mempertahankan makam yang dikenal makam mbah priuk.
Kedatangan HRS akhirnya sedikit banyak mampu meredam amarah massa, semua patuh dengan apa yang dikatakan beliau untuk tahan amarah dan tenang...dan tentunya itu membuat Hb Salim agak lega, padahal Hb Salim Selon kalau udah urusan tempur kayak model begini gak ada rumusnya nyerah, cuma karena hb salim lebih mikirin keselamatan anak anak majlis dan jamaah, makanya hb salim minta bantuan HRS....
Militansi dan kerasnya orang-orang Priuk benar-benar membuat Pemda DKI serta fihak keamanan ketar ketir...orang-orang Priuk benar benar pasang badan buat menjaga makam tersebut, sedikit pun mereka tidak gentar menghadapi fihak keamanan, orang² Betawi, orang orang keturunan Banten, Madura, Bugis, Makasar, dll tumpah ruah disana...
Artinya apa ?
Jangan membangunkan Singa yang lagi tidur, jangan sampai tragedi berdarah muncul kembali, ini daerah Priuk, dikenal sebagai wilayah yang sangat keras gesekannya, mirip dengan Matraman (11-12). Mencolek wilayah ini apalagi bawa bawa urusan nasab bisa berabe. Ingat gak tahun 84 peristiwa Tanjung Priuk berdarah ?
Masalah makam itu palsu atau tidak, atau makam itu sudah dipindah atau sejarahnya Habib Hasan Al Haddad yang berasal dari Palembang dianggap penuh kejanggalan, ya coba anda ajak diskusi fihak yang mengurus disana (kalau punya nyali) bukan ujug ujug minta Pemda DKI untuk "membekukan" keberadaan makam tersebut...itu sih sama aja ingin mengadu antara Pemda DKI dengan jamaah Mbah Priuk...
Hati-hati....ini Tanjung Priuk Mbah, jangan sampai anda jadi "perkedel" disana karena keburu nafsu buat menumpas keberadaan Habib......ingat ini Jakarta, seslengean apapun anak Jakarta, tapi kalau Habibnya, Muallimnya, Kyainya atau makam makam keramat dicolek mereka bisa bela habis habisan sampai mati...

Kamis, 06 Agustus 2026

MAKAM ARYA PENANGSANG DI KUDUS ?

 Dalam beberapa hari ini saya banyak dijapri oleh beberapa kerabat dan juga sahabat untuk menanggapi viralnya makam salah satu tokoh Islam kontroversial di Tanah Jawa yaitu Aria Penangsang.

Kenapa pula saya dijapri ? Mungkin karena ada yang beranggapan saya bisa menjawab itu...mungkin ya...
Persoalan banyaknya makam seorang tokoh memang menjadi dilema sejarah pada bangsa ini karena untuk menyatakan keaslian suatu makam diperlukan "pengetahuan khusus" yang tentunya dilandasi dengan nilai nilai ilmiah, namun bagi mereka yang terbiasa dalam menekuni budaya bangsa ini, rasanya hal tersebut juga bukan hal yang menghebohkan..
Banyaknya jejak makam seorang tokoh menandakan bahwa tokoh tersebut "besar namanya" sekalipun dia sosok kontroversial seperti halnya Arya Penangsang. Selain Arya Penangsang nama Syekh Siti Jenar, Sunan Bonang, Maulana Magribi, Syekh Jumadil Kubro juga banyak makamnya. Namun untuk kasus Arya Penangsang, saking kontroversialnya, keturunannya pun dianggap musnah, kisahnya dijadikan olok olok Ketoprak dan bahkan dijadikan bagian adat pernikahan dengan bunga melati yang disampirkan pada keris pengantin pria. Padahal dalam sebuah tulisan De Graff, tahun 1549 diketahui ada 24 bangsawan Demak yang hijrah ke Palembang yang mayoritas adalah keluarga Jipang Panolan, tidak kalah mengejutkan di Lampung ditemukan Lempengan besi yang dinamakan PIAGAM ING JIPANG. Ini menandakan Sejarah Klan Demak tidak berakhir pasca peristiwa pertempuran di Jipang Panolan.
Pertanyaan terpentingnya, apakah benar makam di Kudus makam Arya Penangsang ?
Kota Kudus dalam sejarahnya merupakan kota terpenting dalam hidup Arya Penangsang, disana Arya Penangsang mondok puluhan tahun dibawah bimbingan Sunan Kudus, bahkan kelak Arya Penangsang dinikahkan dengan salah satu cucu Sunan Kudus. Tapi untuk mengatakan itu makamnya jelas masih butuh pembuktian sejarah. Namun bila dikatakan itu maqom atau petilasan bisa masuk logika sejarah karena memang Kudus bukan daerah yang asing buat tokoh yang pernah menjadi Mangkubumi Jayakarta tahun 1540 -1546 Masehi.
Bagaimana makamnya yang ada di samping Masjid Demak dan komplek makam Kadilangu Sunan Kalijaga ? Bagaimana pula dengan yang ada di Jipang Blora ? Terus bagaimana pula tentang keberadaan makamnya yang ada di Ogan Ilir Sumatra Selatan yang posisinya hanya 1 jam dari Palembang ?
Kedua makam yang ada di Demak diyakini asli, namun pertanyaan terbesarnya apakah disana ada jasad utuh ? Atau bagian tubuhnya ? Apakah bukan hal yang aneh kalau dinyatakan beliau tewas di Jipang (Blora) terus mayatnya dibawa ke Demak padahal sudah pasti membusuk mengingat jarak Blora dan Demak sangat jauh.
Rasanya agak janggal, karena bagaimana mungkin Kesultanan Demak yang menjunjung tinggi syariat Islam dan dibawah bimbingan para wali mengajarkan para bangsawan Demak menjadi manusia² kanibal dan brutal dengan memotong motong jasad Arya Penangsang yang katanya sudah terbunuh dengan cara memalukan ? Dengan alasan apa Arya Penangsang dianggap punya ilmu Rawa Rontek hingga harus dipotong potong tubuhnya ? Rawa Rontek adalah ilmu yang dianggap hitam oleh sebagian orang padahal Arya Penangsang adalah penganut Islam Putihan dan beliau juga seorang penganut tarekat yang kuat.
Hal yang mengejutkan, nama Arya Penangsang juga pernah digunakan pada era selanjutnya dan ini lagi lagi saya temukan pada tulisan De Graff.
Jadi kesimpulan sementara diantara sekian makam pasti ada yang asli dan pasti ada yang bukan, bagaimana mengatakan itu asli atau bukan ? Ya perlu penelitian dan pengetahuan yang lebih mendalam...saya saja melacak sejarah dan makam beliau sejak tahun 1992, dan sampai sekarang masih terus berjalan, jadi untuk sementara saya anggap makam yang ada di Kudus masih menjadi bagian penelitian dalam melacak.sejarah tokoh kontroversial ini.
Kita juga perlu arif namun hati hati dalam menyikapi informasi tersebut....kalau muncul informasi atau data data baru padahal ratusan tahun dinyatakan tidak ada, jangan buru buru memvonis kalau hal hal seperti itu palsu, kecuali memang itu terjadi karena ada unsur unsur materi atau kepentingan terselubung seperti membuat makam palsu untuk meraih untung, membuat makam palsu untuk merusak sejarah, membuat makam palsu karena menguasai lahan, membuat makam palsu demi untuk daerahnya terkenal, membuat makam palsu karena keluguan masyarakat, dll...

KISRUH NASAB KARENA MALAS DAN LEMAHNYA LITERASI ?

 Menentukan seseorang Sayyid, Syarif, Habib itu tidaklah sembarangan mas, fihak² yang ada di Lembaga nasab seperti Naqabatul Asyraf, atau sosok seorang Qaif (Qiyafah), Naqib, Munsib harus dilibatkan dalam menentukan status nasab seseorang, mereka tidak ujug-ujug gampang mengatakan nasab itu palsu sebelum mendapat kesaksian dari fihak² yang saya sebutkan itu..

Mereka yang ada di Naqobatul Asyraf tiap-tiap negara adalah orang² yang memang berkompeten dalam bidang ilmu nasab secara turun temurun. Seorang Qaif juga tidak sembarangan, dia harus memiliki keahlian khusus dalam mendeteksi apakah nasab itu palsu atau tidak, ini profesi langka, seorang naqib dan munsib juga mempunyai tanggung jawab yang tidak main-main dalam menjaga nasab, mereka adalah benteng pertahanan terkuat dalam menjaga nasab.
Biasanya para ahli nasab bahasanya sangat berhati-hati dalam menyikapi sebuah nasab, terutama nasab² yang baru muncul setelah sekian puluh atau ratus tahun "terpendam". Beberapa forum nasab yang pernah saya lihat seperti Forum Kajian Keluarga Idrisiah, ketika terjadi diskusi nasab, bahasanya sopan² bahkan penuh doa-doa. Ketika ada nasab yang diindikasikan bermasalah, justru sesama anggota forum saling memberikan solusi untuk untuk mencari data data guna melengkapi kekurangannya. Jika ada satu nasab ditolak dengan alasan meragukan tapi disisi lain nasab itu juga diterima, maka tugas naqiblah menjadi penengah bahkan ikut meluruskan bahkan meredakan ketegangan sampai nanti nasab tersebut apakah mendapatkan status shohih atau tidak. Kalaupun tiba² muncul nasab palsu, maka biasanya di forum forum langsung menghujaninya dengan data² kitab, manuskrip yang valid daripada debat kusir.
Dengan adanya forum² kajian nasab tersebut (sekitar 10 sd 15 tahun yang lalu), ilmu nasab menjadi berwibawa, forum kajian nasab banyak membantu orang-orang dari berbagai negara yang mau belajar tanpa saling menjatuhkan, makanya negara² seperti Mesir, Maroko tidak pernah heboh dan ribut sendiri soal nasab apalagi mendadak menjelma menjadi ahli nasab sambil memvonis nasab secara brutal, padahal seumur-umur belum pernah belajar dan tidak ada tradisi melakukan pemeliharaan nasab secara temurun. Bagaimana bila ada fihak yang mengklaim diri sebagai ahli nasab tapi justru menjadi biang keladi kisruh nasab atau menjadi kompor meleduk agar suasana menjadi rame ? Jawabnya mudah, tanya pada dirinya, apa tujuannya belajar ilmu nasab dan apa hakikat ilmu nasab dalam dirinya...
Kalau belajar ilmu nasab tujuannya cuma mau jatuhin fihak lain atau fitnah sana sini, atau pengen balas dendam karena nasabnya dulu pernah ditolak dan "dikatain" palsu oleh lembaga nasab tertentu atau gagal menikah karena ditolak mentah mentah seorang syarifah, itu jelas salah kaprah, tujuan belajar ilmu nasab sama seperti ilmu² yang lain yaitu bertujuan untuk mencari kebaikan dan keridhoan Allah SWT.
Bagi mereka yang senang akan kisruh nasab itu sebenarnya cermin dari rasa malas dan lemah literasi. Hal itu bisa dilihat dari komen² yang ada yang bertebaran, lebih banyak caci maki dan hinaan ketimbang diskusi sehat. Sekalipun isu-isu nasab sudah seringkali dijawab oleh banyak fihak tetap saja golongan manusia seperti itu ngeyelnya tingkat dewa alias kepala batu, dan perhatikan betul-betul, mereka rata² sangat sulit untuk diberi nasehat...satu-satunya jalan untuk mereka sadar dan taubat hanyalah Hidayah Allah. Di dunia nyata saya sering bertemu dengan manusia² tipe seperti ini. Bertemu dengan mereka saya lebih memilih mengalah sajalah, sebab daripada saya terpancing marah lebih baik saya ikut nasehat Imam Syafii bagaimana caranya menghadapi orang² bodoh.
Kisruh nasab tidak akan pernah selesai selama golongan pembenci keluarga Nabi (nawashib) itu masih ada, tapi memang di setiap masa golongan para pembenci keturunan Nabi selalu saja ada, jangankan itu, di masa Nabi Muhammad SAW hidup saja golongan itu bahkan menghina Nabi Muhammad SAW terputus keturunannya karena anak laki lakinya wafat semua. Tapi apa yang terjadi ? Semua yang menghina nasab Nabi putus semua keturunannya ! Ketika peristiwa Karbala selesai, semua pembunuh Al-Husein tewas mengenaskan, nama Sayyidina Ali bahkan pernah dilarang untuk disebut dalam mimbar jumat karena begitu antinya dinasti umayyah ketika itu, ketika Ali Zainal Abidin bin Husein mau dihabisi Yazid karena dialah anak satu satunya Al Husein yang lolos, Allah balas dengan kematian Yazid yang lebih awal. Ketika keturunan Nabi banyak yang dihina, ditindas dan dizolimi mulai dari Dinasti Umayyah dan Abbasiah, sejarah banyak mencatat keturunan Nabi Muhammad harum namanya di banyak negara, mereka yang menghina, menindas bahkan membunuh hidupnya berakhir tragis.
Ingat, sejarah sudah banyak memberikan bukti bahwa para golongan pembenci keturunan Nabi, hidupnya berakhir dengan buruk. Bukanlah menjadi sebuah alasan untuk dihujat ketika ada keturunan Nabi hanya bisa membuktikan dirinya lewat lisan karena pada masa lalu memang memelihara nasab lewat lebih banyak yang diwariskan berupa hafalan secara turun temurun, kalaupun catatan itu hanya orang-orang tertentu. Keturunan Nabi juga manusia biasa, jika mereka salah tegur dan luruskan. Jangan karena beberapa oknum keturunan Nabi yang jelek akhlaknya atau rajin dawir semuanya divonis palsu.
Dalam hal ini tentunya tugas naqib dan munsib adalah menyelamatkan dan menjaga mereka, apalagi ketika mereka sudah menyebar kemana mana dan menikah dengan suku suku yang lain.
Sadarlah wahai kaum nawashib, membenci keturunan Nabi Muhammad SAW secara tidak langsung kalian sudah menyakiti Rasulullah SAW, bukankah setiap kalian bersholawat ada keluarga Rasulullah SAW yang disandingkan ?
Semoga kalian diberikan hidayah oleh ALLAH SWT dan semoga kalian bisa sabar dalam menghadapi keturunan keturunan Nabi yang kalian anggap tidak baik, doakan mereka ada yang salah dan luruskan perbuatan mereka bila ada yang menyimpang saudaraku....