Kamis, 06 Agustus 2026

KISRUH NASAB KARENA MALAS DAN LEMAHNYA LITERASI ?

 Menentukan seseorang Sayyid, Syarif, Habib itu tidaklah sembarangan mas, fihak² yang ada di Lembaga nasab seperti Naqabatul Asyraf, atau sosok seorang Qaif (Qiyafah), Naqib, Munsib harus dilibatkan dalam menentukan status nasab seseorang, mereka tidak ujug-ujug gampang mengatakan nasab itu palsu sebelum mendapat kesaksian dari fihak² yang saya sebutkan itu..

Mereka yang ada di Naqobatul Asyraf tiap-tiap negara adalah orang² yang memang berkompeten dalam bidang ilmu nasab secara turun temurun. Seorang Qaif juga tidak sembarangan, dia harus memiliki keahlian khusus dalam mendeteksi apakah nasab itu palsu atau tidak, ini profesi langka, seorang naqib dan munsib juga mempunyai tanggung jawab yang tidak main-main dalam menjaga nasab, mereka adalah benteng pertahanan terkuat dalam menjaga nasab.
Biasanya para ahli nasab bahasanya sangat berhati-hati dalam menyikapi sebuah nasab, terutama nasab² yang baru muncul setelah sekian puluh atau ratus tahun "terpendam". Beberapa forum nasab yang pernah saya lihat seperti Forum Kajian Keluarga Idrisiah, ketika terjadi diskusi nasab, bahasanya sopan² bahkan penuh doa-doa. Ketika ada nasab yang diindikasikan bermasalah, justru sesama anggota forum saling memberikan solusi untuk untuk mencari data data guna melengkapi kekurangannya. Jika ada satu nasab ditolak dengan alasan meragukan tapi disisi lain nasab itu juga diterima, maka tugas naqiblah menjadi penengah bahkan ikut meluruskan bahkan meredakan ketegangan sampai nanti nasab tersebut apakah mendapatkan status shohih atau tidak. Kalaupun tiba² muncul nasab palsu, maka biasanya di forum forum langsung menghujaninya dengan data² kitab, manuskrip yang valid daripada debat kusir.
Dengan adanya forum² kajian nasab tersebut (sekitar 10 sd 15 tahun yang lalu), ilmu nasab menjadi berwibawa, forum kajian nasab banyak membantu orang-orang dari berbagai negara yang mau belajar tanpa saling menjatuhkan, makanya negara² seperti Mesir, Maroko tidak pernah heboh dan ribut sendiri soal nasab apalagi mendadak menjelma menjadi ahli nasab sambil memvonis nasab secara brutal, padahal seumur-umur belum pernah belajar dan tidak ada tradisi melakukan pemeliharaan nasab secara temurun. Bagaimana bila ada fihak yang mengklaim diri sebagai ahli nasab tapi justru menjadi biang keladi kisruh nasab atau menjadi kompor meleduk agar suasana menjadi rame ? Jawabnya mudah, tanya pada dirinya, apa tujuannya belajar ilmu nasab dan apa hakikat ilmu nasab dalam dirinya...
Kalau belajar ilmu nasab tujuannya cuma mau jatuhin fihak lain atau fitnah sana sini, atau pengen balas dendam karena nasabnya dulu pernah ditolak dan "dikatain" palsu oleh lembaga nasab tertentu atau gagal menikah karena ditolak mentah mentah seorang syarifah, itu jelas salah kaprah, tujuan belajar ilmu nasab sama seperti ilmu² yang lain yaitu bertujuan untuk mencari kebaikan dan keridhoan Allah SWT.
Bagi mereka yang senang akan kisruh nasab itu sebenarnya cermin dari rasa malas dan lemah literasi. Hal itu bisa dilihat dari komen² yang ada yang bertebaran, lebih banyak caci maki dan hinaan ketimbang diskusi sehat. Sekalipun isu-isu nasab sudah seringkali dijawab oleh banyak fihak tetap saja golongan manusia seperti itu ngeyelnya tingkat dewa alias kepala batu, dan perhatikan betul-betul, mereka rata² sangat sulit untuk diberi nasehat...satu-satunya jalan untuk mereka sadar dan taubat hanyalah Hidayah Allah. Di dunia nyata saya sering bertemu dengan manusia² tipe seperti ini. Bertemu dengan mereka saya lebih memilih mengalah sajalah, sebab daripada saya terpancing marah lebih baik saya ikut nasehat Imam Syafii bagaimana caranya menghadapi orang² bodoh.
Kisruh nasab tidak akan pernah selesai selama golongan pembenci keluarga Nabi (nawashib) itu masih ada, tapi memang di setiap masa golongan para pembenci keturunan Nabi selalu saja ada, jangankan itu, di masa Nabi Muhammad SAW hidup saja golongan itu bahkan menghina Nabi Muhammad SAW terputus keturunannya karena anak laki lakinya wafat semua. Tapi apa yang terjadi ? Semua yang menghina nasab Nabi putus semua keturunannya ! Ketika peristiwa Karbala selesai, semua pembunuh Al-Husein tewas mengenaskan, nama Sayyidina Ali bahkan pernah dilarang untuk disebut dalam mimbar jumat karena begitu antinya dinasti umayyah ketika itu, ketika Ali Zainal Abidin bin Husein mau dihabisi Yazid karena dialah anak satu satunya Al Husein yang lolos, Allah balas dengan kematian Yazid yang lebih awal. Ketika keturunan Nabi banyak yang dihina, ditindas dan dizolimi mulai dari Dinasti Umayyah dan Abbasiah, sejarah banyak mencatat keturunan Nabi Muhammad harum namanya di banyak negara, mereka yang menghina, menindas bahkan membunuh hidupnya berakhir tragis.
Ingat, sejarah sudah banyak memberikan bukti bahwa para golongan pembenci keturunan Nabi, hidupnya berakhir dengan buruk. Bukanlah menjadi sebuah alasan untuk dihujat ketika ada keturunan Nabi hanya bisa membuktikan dirinya lewat lisan karena pada masa lalu memang memelihara nasab lewat lebih banyak yang diwariskan berupa hafalan secara turun temurun, kalaupun catatan itu hanya orang-orang tertentu. Keturunan Nabi juga manusia biasa, jika mereka salah tegur dan luruskan. Jangan karena beberapa oknum keturunan Nabi yang jelek akhlaknya atau rajin dawir semuanya divonis palsu.
Dalam hal ini tentunya tugas naqib dan munsib adalah menyelamatkan dan menjaga mereka, apalagi ketika mereka sudah menyebar kemana mana dan menikah dengan suku suku yang lain.
Sadarlah wahai kaum nawashib, membenci keturunan Nabi Muhammad SAW secara tidak langsung kalian sudah menyakiti Rasulullah SAW, bukankah setiap kalian bersholawat ada keluarga Rasulullah SAW yang disandingkan ?
Semoga kalian diberikan hidayah oleh ALLAH SWT dan semoga kalian bisa sabar dalam menghadapi keturunan keturunan Nabi yang kalian anggap tidak baik, doakan mereka ada yang salah dan luruskan perbuatan mereka bila ada yang menyimpang saudaraku....