Kamis, 06 Agustus 2026

MATRAMAN OH MATRAMAN..

 Wilayah Matraman dan sekitarnya serta Jakarta Pusat memang sejak dulu sering terjadi pergolakan, mulai wilayah Matraman Dalam, Tambak, Manggarai, Berland, Salemba, Talang, Vadel, Bonang, Pasar Rumput, Menteng, Pegangsaan, Kwitang, Tanah Tinggi, Kemayoran. Sejak masa Sultan Agung Mataram, Perang Perancis dan Inggris, Masuknya tentara sekutu, Proklamasi 45 sampai perlawanan terhadap tentara sekutu oleh Kyai Noer Ali, Kyai Darip, dan Kyai Kyai Matraman yang lain serta jagoan jagoan dari suku Betawi dan suku suku lain matraman membuktikan bahwa wilayah ini sulit untuk ditundukkan...

Matraman dan daerah sekitarnya adalah daerah kantong kantong masyarakat Betawi, disitu juga terdapat keturunan Laskar Mataram, keturunan Banten, dan suku suku keturunan yang lain seperti Bugis, Melayu, China, Arab. Dll. Semua disatukan oleh kehidupan yang egaliter penuh kebersamaan namun terkadang antar kampung sering sekali terjadi tawuran, tapi anehnya semua bisa disatukan kalau sudah urusan agama, karena memang mayoritas penduduk asli dan juga suku suku keturunan lain yang sudah menetap secara turun temurun adalah Islam.
Orang-orang Maluku pada dasarnya juga punya sejarah di Jakarta ketika banyak mereka yang didatangkan oleh Jan Pieterzoon Coen dari Banda Naira untuk diperkejakan, orang-orang Maluku juga pernah melakukan perlawanan terhadap VOC bekerja sama dengan keturunan Jayakarta, setelah sebelumnya mereka mendukung VOC dibawah pimpinaan TETE JONGKER (makam di Marunda), namun akhirnya JONGKER balik badan dan gabung dengan pejuang jayakarta, namun disisi lain ada juga di masa tahun 1800 akhir sampai awal mereka diperjakan menjadi marsose untuk menghadapi pribumi Jakarta yang berontak kepada Penguasa Penjajah.
Sikap warga matraman dan sekitarnya yang terkenal "keras" telah diakui banyak fihak tawuran sudah tidak terhitung, seolah sudah menjadi kurikulum wajib, mulai dari bocah, remaja bahkan aki aki kalau udah urusan harga diri wilayah sepertinya pasti turun tempur kalau sudah dicolek.
Oleh karena itu jujur saya kaget sekali mendengar kabar bentrokan antara orang-orang Ambon dan orang-orang Matraman, setahu saya sejak dulu orang-orang Ambon dengan orang kampung Matraman akur akur saja.
Saya tahu semua ini karena saya dan lahir besar di wilayah ini, jadi tahu betul bagaimana watak mereka. Biarpun ada kode, "ribut biasanya ada barang turun", itu menurut saya cuma sebagian dari penyebab terjadinya kericuhan sosial...
Mengenai orang Ambon, saya yakin masih banyak yang baik dan juga memegang prinsip dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung...dan bicara Ambon, sebenarnya itu kan nama wilayah kota di Maluku, sedang aslinya Maluku itu kan ada Ternate, Tidore, Halmahera, Jailolo, Kei, Haruku, Bandanaira, Hitu, Bacan, dan masih banyak yang lain..Maluku juga berasal dari kata "JAZIRAH AL MULUK" dimana dulu banyak kerajaan Islam.
Jadi ricuhnya orang-orang Maluku dan Warga Matraman sudah seharusnya dihentikan karena tidak ada manfaatnya sama sekali, hanya meninggalkan luka yang dalam, membalas juga bukan jalan keluar, karena kita hidup tujuannya bukan untuk membunuh tapi untuk berdampingan..