Kamis, 06 Agustus 2026

GEBYAR MAULID DI JAKARTA (Bersatunya Kyai Betawi dan Habaib)

 Gebyar Maulid sedikit lagi, seperti biasa di Jakarta kegiatan Maulid sangat semarak bahkan sampai 2 bulan penuh, mulai dari Majlisnya para habaib, kyai, muallim sampai kepada pemuda dan anak kecil.

Dulu di tahun 90an hampir semua majelisnya kyai dan habaib selalu saya datangi, bahkan maulid maulid yang hanya diadakan dari kalangan tertentu...
Tidak heran dari sekian banyak majelis yang saya datangi, saya sering bertemu dengan habaib dan kyai kyai Betawi ataupun kyai dari luar Betawi.
Saya masih ingat siapa saja ulama yang pernah saya ambil barokahnya dalam setiap kegiatan Maulid seperti Muallim Yunus Bukit Duri, Kyai Sasi Condet , Muallim Abdul Hadi Cipinang Kebembem, Muallim Zayadi Muhajir Klender, KH Noer Ali (beliau sering kali sekali bertemu), Kyai Sukron Makmun, KH Syaifudin Amsir, Kyai Maulana Kamal Yusuf, KH Damanhuri Otista (ini gurunya guru saya dan murid Habib Abdullah bin Salim Al Attas Otista), KH Nahrawi Abdusalam Kuningan, Mualim KH Junaidi Menteng, Muallim KH Syafii Hadzami, KH Asmuni Marzuki Pisangan, KH Zainudin MZ, KH Fakhrul Razi Ishaq, KH Manarul Hidayat, Gus Dur, Mbah Mangli, KH Abdurahman Nawi Depok, Ajengan Nahrawi, KH Tobri Assalam Kebon Nanas, KH Salim Naih Tebet (pernah saya undang ke rumah), KH Diauhudin Abdul Khoir Bukit Duri, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii (bahkan pernah satu mobil ngobrol soal Masjid Matraman, Kyai Sabilal Rasyad, Kyai Syukur Yakub, KH Tahir Rohili (dosen saya), KH Hamid Husein Kalibata (sepupu KH Said Agil Siraj, saya dulu sering ngaji sama beliau dan diskusi), KH Hasbullah Mampang, KH Ali Sibro Malisi, KH Mursyidi Klender, KH Mashuri Baidowi, Al-Ustadz Idrus Jamalulai Macan Podium Betawi, KH Hamim Alqorib Tebet, KH Nawawi Abdurahman Kalibata, dll. Ini yang saya ingat, catatan lain tersimpan rapi di buku harian saya era tahun 90- 95. Selain itu waktu masih kecil emak saya juga sering ngajakin ke Masjid Matraman buat dengerin ceramahnya KH Abdullah Syafii, KH Hasyim Adnan...
Dari fihak habaib saya sering mendapat barokah dan doa seperti Habib Muhammad Al Habsyi Kwitang (alhamdulillah pernah masuk ke kamar beliau dan didoakan), Habib Umar bin Hud Al Attas (sudah tidak terhitung dan pernah mendapat ijazah zikir), Habib Abdurrahman Assegaf Bukit Duri (alhamdulillah diperintahkan beliau untuk terus sholawat), Habib Abdullah bin Husein Syami Al Attas (alhamdulillah selalu didoakan beliau bila bertemu), Habib Muhammad Al Baqir otista dan Habib Alwi King (keduanya enak diajak ngobrol), Alwalid Habib Ali bin Abdurahman Assegaf Tebet (cukup lama saya ngaji dengan beliau di mushola haji muhi jalan talang jakpus), Habib Novel bin Jindan Macan Podium, Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abubakar (saya ngaji sama beliau 4 tahun di masjid bintaro dan dirumahnya), Habib Abdul qodir assegaf dari Jeddah yang datang ke matraman dan sempat didoakan, Habib Syekh bin Ali Al Jufri Condet (ini paling sering dan salah satu anaknya adalah murid ane), Habib Husein bin Ali bin Husein Al Attas Gang Buluh Condet, Habib Abdul Qodir Alhaddad Alhawi, Alhabib Muhammad bin Soleh Al Attas (ahli nasab dan pernah ngomelin dan cemberutin ane karna waktu lagi nyamar jadi orang biasa, tau tau ane cium tangan beliau
๐Ÿ™‚
), Habib Husein bin Abdullah Empang Bogor, Habib Syekh Assegaf Gresik, Habib Anis Solo, Habib Husein bin Jindan Otista, Ustadz Quraish Shihab, Habib Muhammad Al Idrus Tanah Abang, dan masih banyak lagi..waktu itu generasi-generasi awal murid Habib Umar Bin Hafiz belum muncul...karena di akhir tahun 80 dan awal awal 90an, murid murid Al Walid Habib Abdurrahman Assegaf Bukit Duri dengan madrasah Tsaqofah Islamiahnya lebih menonjol seperti anak anak beliau Alwalid Habib Muhammad, Alwalid Habib Ali Assegaf, Al Ustadz Umar Assegaf, Al Ustadz Alwi, Al Ustadz Abubakar dan para ulama ulamanya yang punya majelis-majelis.
Saya dulu sampai dijuluki sama ustadz saya (Kak Ika Jalan Kimia/Ustad Ishak)
Murid yang "GILA MAULID" karena gak kenal lelah, bersama sahabat kecil saya Arif Lebe atau Arif Jahe almarhum, kita berdua udah besty dan menyisir wilayah Jakarta untuk mengikuti acara maulid.
Hasilnya ? kita mencintai para ulama dibalik kekurangan dan kelebihannya, tapi kita diajarin sama KAK EKA atau KAK IKA guru tercinta kami, agar kami ninggalin orang-orang yang suka gibahin apalagi menghina atau mencaci maki ulama dan habaib hatta itu orang katenye alim..... makanya di wilayah kita Matraman sekalipun orang²nya agak sedikit selon
๐Ÿ˜€
tapi kalau udah urusan membela Habaib, kyai, ustad atau Masjid mereka udah paling duluan, biar kata dia sering mabok dan blangsak, tapi kalau udah urusan igame, tanya aja dah sendiri, buktinya lihat aja gerakan 212 dan Gerakan Bela Islam, Masjid Matraman jadi tempat berkumpul para mujahid Islam...
Pada tahun tahun 90an tidak ada itu orang ributin nasab, bukan karena mereka gak faham, tapi para ulama dulu lebih sibuk untuk menata akhlak masyarakat. Urusan nasab palsu atau bukan itu biasanya diselesaikan secara tertutup, saya masih ingat sama Habib Muhammad Al Baqir Otista yang marah ketika nama majelis Kwitang disentil karena satu masalah, tapi beliau menahan diri tentang identitas orang orang tersebut karena masih berharap orang tersebut sadar. Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf Bukit Duri bahkan pernah bilang, kita ini di majelis untuk menata akhlak bukan menciptakan keributan..Habib Saggaf bin Mahdi di tahun 92 pernah saya tanya masalah nasab, jawaban beliau malah seperti ini "belajar yang rajin raih ilmu sebanyak banyaknya, raih gelar doktor ya Mahmud....' sayang saya baru cuma sampai S2...
Para Habaib dan Kyai di Jakarta identik dengan persatuan karena sanad ilmunya saling sambung menyambung. Kyai kyai di Betawi itu kalau diselusuri leluhurnya juga banyak dari keturunan, Mataram, Banten, Cirebon, Demak, Bugis, Makasar, Sunda, dll... Daerah Mampang, Tegal Parang, Kuningan, Kalibata, Matraman, Pasar Minggu itu banyak yang nasabnya terjaga dan terpelihara termasuk keluarga istri saya yang masih menjadi jaringan nasab Trah Kesultanan Banten....