Dalam catatan L.W.C. van den Berg atau Lodewijk Willem Christiaan van den Berg, seorang penasihat hukum pemerintah kolonial Belanda untuk urusan Arab dan Islam, menulis karya monumental berjudul Le Hadhramout et les Colonies Arabes dans l'Archipel Indien (1886). Dalam riset lapangannya, Berg mencatat bahwa migrasi orang-orang Hadramaut (termasuk marga-marga Ba'alawi seperti Al-Attas, Al-Jufri, Assegaf, Al-Haddad, Al-Habsyi, Bin Syekh Abubakar, Shihab, Al-Qadri, Jamalulail, Bilfaqih, Al-Muhdor, dll.) ke Nusantara telah berlangsung berabad-abad sebelum abad ke-19, jauh sebelum kebijakan imigrasi kolonial diatur secara ketat.
Pemerintah kolonial Belanda tidak
pernah mengistimewakan status keagamaan kaum Ba'alawi sebagai keturunan Nabi
Muhammad SAW. Sebaliknya, arsip kolonial menunjukkan sikap curiga dan
diskriminatif terhadap seluruh golongan timur asing (Vreemde Oosterlingen),
termasuk orang-orang Arab (lebih lengkapnya silahkan baca buku Hamid Al-Gadri
berjudul : Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab di Indonesia).
Perlu diketahui bahwa status
orang-orang Arab Hadramaut saat ini khususnya para Habaib sedang dipertanyakan peran
serta serta kiprahnya secara serius terutama oleh para pembenci keturunan Nabi
Muhammad SAW. Tuduhan yang paling nyata dari merek adalah “bahwa para habaib adalah segolongan
orang-orang yang dibawa oleh penjajah kolonial dan merupakan imigran yang
membawa misi penjajahan kepada pribumi. Ini jelas merupakan sebuah tuduhan yang
tidak berdasar, absurd, dan liar karena
tidak sesuai dengan fakta sejarah.
Istilah imigrant sendiri dalam
kasus Bani Alawi dikaitkan dengan hal-hal yang buruk seperti halnya image beberapa
imigran di beberapa negara yang dianggap menjadi biang kerok permasalahan
sosial. Padahal istilah imigrant adalah seseorang yang berpindah melintasi
batas teritorial negara-bangsa (nation-state) dari negara asal ke negara
tujuan dengan maksud untuk menetap secara permanen atau dalam jangka waktu
yang relatif lama, dan ini sah-sah saja selama tujuannya untuk kebaikan
apalagi demi untuk dakwah Islamiah dan juga dalam rangka meningkatkan
perekonomian, jadi tidak ada yang salah dengan istilah imigrant. Adalah aneh
jika menjadikan istilah imigrant sebagai alat untuk menghantam Bani Alawi,
karena faktanya imigran bangsa lain juga banyak terdapat di nusantara bahkan
mereka ada yang mendominasi berbagai kehidupan sosial masyarakat. Mereka kaum
nawashib ini sepertinya ingin menyamakan
imigrant Bani Alawi seperti imigrant Eropa yang nanti mendirikan USA atau
imigran Yahudi yang kemudian mendirikan Israil Raya di bumi Palestina yang
didalamnya penuh dengan darah dan genosida. Istilah imigrant bagi Bani Alawi
menurut mereka adalah jongos, budak, penjajah, tukang rusuh, problematik, dll,
artinya imigrant untuk Bani Alawi adalah jelek sejeleknya kaum di nusantara.
Migrasi Bani Alawi dalam
sejarahnya justru memiliki kekhasan khusus yang mewarnai peradaban nusantara,
karena tidak terjadi secara serentak dalam satu gelombang besar militer atau
kolonial (PERHATIKAN SIAPA YANG MEMBAWA MISI MILTER UNTUK MENJAJAH BANGSA INI),
melainkan melalui pola jaringan kekerabatan, perdagangan, dan dakwah yang
berlangsung selama berabad-abad (terutama intensif sejak abad ke-18 hingga awal
abad ke-20). Ini jelas berbeda dengan kolonisasi politik, imigrasi Bani Alawi
bersifat perorangan atau kelompok kecil saudagar dan ulama. Setibanya di
Nusantara, mereka melakukan inkulturasi berinteraksi secara intensif,
berasimilasi melalui pernikahan dengan penduduk lokal (seperti masyarakat
Betawi, Palembang, Jawa, Cirebon, dan Bugis), serta menduduki posisi penting
sebagai penyebar agama Islam dan tokoh rujukan moral. Migrasi Bani Alawi
dilakukan secara cerdas dengan memakai pendekatan kultural. Kalaupun nanti Wali
Songo tidak mau disangkut pautkan dengan nasab Bani Alawi oleh sebagian orang
yang mengaku pakar dan ahli nasab sejagat raya, namun di abad-abad 17 s/d 19,
pola migrasi tetap berlangsung dengan baik damai.
Berdasarkan fakta sejarah migrasi
berbagai bangsa di nusantara itu tidak hanya didominasi oleh bangsa Arab saja,
tapi China, Persia, India, Turki juga ikut mendominasi dan bahkan kelak
menjadikan mereka bagian teori Islamisasi di nusantara, sehingga apa yang salah
dengan istilah imigrant ? apalagi jika ditambahkan dengan tuduhan kedatangan
Bani Alawi yang katanya dibawa oleh Belanda. Lagi pula migrasi Bani Alawi tidak
hanya di nusantara, dari afrika sampai India mereka juga ada di sana (silahkan
pelajari pola migrasi Bani Alawi di berbagai belahan dunia…)
Kedatangan orang Arab Hadramaut
khususnya para habaib justru menjadi perhatian khusus penjajah karena jejak
langkah mereka yang dianggap berpotensi “menggoyang” kedudukan dan kredibilitas
pemerintahan kolonial, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga
wajar di kemudian hari penjajah kolonial menerapkan aturan khusus yang
tujuannya membatasi gerak-gerik orang Arab Hadramaut khususnya Bani Alawi.
Dalam beberapa data arsip
kolonial terdapat hal penting yang menunjukkan betapa diskriminasinya Penjajah
kolonial kepada bangsa Arab Hadramaut, yang diantaranya :
- Regulasi Diskriminatif (Wijkenstelsel dan
Passenstelsel): Berdasarkan undang-undang kolonial (misalnya Indische
Staatsregeling), orang-orang Arab di Hindia Belanda dikenakan aturan
tempat tinggal yang dikhususkan dalam perkampungan tertentu (Arabische
Buurt) dan diwajibkan memiliki surat jalan (passenstelsel) jika
ingin bepergian antar-kota. Tidak usah heran di beberapa wilayah besar
perkotaan seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Pekalongan,
terdapat “kampung Arab”. Dengan
terkonsentrasinya orang-orang Arab pada satu tempat maka akan lebih mudah
bagi penjajah untuk mengawasinya, ketimbang mereka bertebaran dimana-mana.
- Pengawasan Ketat: Arsip-arsip di Arsip
Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Ministerie van Koloniรซn
di Den Haag mencatat bahwa birokrasi kolonial justru memandang para
Sayyid/Habib sebagai kelompok yang berpotensi mempengaruhi mobilitas
sosial pribumi, sehingga pergerakan mereka diawasi secara ketat demi
mencegah bangkitnya perlawanan anti-kolonial berideologi Islam.
ADAPUN FAKTOR-FAKTOR UMUM MENGAPA
ORANG ARAB HADRAMAUT DATANG KE NUSANTARA ADALAH :
·
Kondisi Geografis dan
Ekonomi yang Tandus: Secara geografis, Hadramaut adalah wilayah semi-arid
dengan curah hujan rendah dan lahan pertanian yang sangat terbatas.
Keterbatasan sumber daya alam ini sering memicu krisis pangan, kemiskinan, dan
kesulitan ekonomi bagi penduduknya.
·
Ketidakstabilan Politik
dan Konflik Internal: Wilayah Yaman kerap diwarnai oleh konflik perebutan
kekuasaan antar-suku, perang saudara, serta ketidakamanan politik yang kronis.
Kondisi ini mendorong kaum laki-laki muda untuk keluar dari kampung halaman
demi mencari keselamatan dan penghidupan yang layak.
·
Tradisi Merantau (Rihlah):
Merantau telah menjadi bagian dari struktur sosial dan budaya masyarakat
Hadramaut. Mereka memiliki tradisi turun-temurun untuk pergi ke luar negeri
guna mengumpulkan kekayaan, yang nantinya sebagian dikirimkan kembali untuk
menopang keluarga yang ditinggalkan di Yaman.
SELAIN ITU FAKTOR YANG JUGA
TIDAK KALAH PENTINGNYA MENGAPA MEREKA DATANG KE NUSANTARA ADALAH :
·
Peluang Ekonomi dan
Perdagangan Rempah: Nusantara sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan
internasional yang sangat makmur. Membuka jalur maritim melalui Samudra Hindia,
para imigran Hadrami melihat peluang besar dalam bidang perdagangan komoditas
lokal, rempah-rempah, serta pelayaran antarpulau.
·
Kebijakan Politik
Kolonial (Abad ke-19): Puncak migrasi massal terjadi pada paruh kedua abad
ke-19. Hal ini didorong oleh dibukanya Terusan Suez (1869) yang memangkas waktu
tempuh pelayaran dari Timur Tengah ke Asia, serta kebijakan pemerintah Hindia
Belanda yang melonggarkan lalu lintas pelayaran dan perdagangan, serta
memberikan ruang bagi kelompok Vreemde Oosterlingen (Timur Asing) untuk
bermukim di wilayah jajahan.
·
Penyebaran Agama Islam
dan Respek Kultural: Sebagai masyarakat yang mayoritas memeluk Islam dan
banyak di antaranya memiliki latar belakang keilmuan agama (termasuk kelompok
Sayyid/Alawiyyin), Nusantara memberikan ruang sosial yang sangat menghormati
figur-figur pemuka agama. Dakwah berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi,
membuat mereka diterima dengan baik oleh penguasa lokal dan masyarakat
Nusantara.
Pada fase awal
(sebelum abad ke-19), sebagian besar kaum migran Hadrami datang sendiri (tanpa
membawa keluarga) dengan rencana awal untuk mencari kekayaan lalu pulang.
Namun, tingginya tingkat asimilasi melalui pernikahan dengan penduduk lokal,
penguasaan bahasa setempat, serta keterlibatan dalam struktur sosial membuat
sebagian besar dari mereka memilih untuk menetap, beranak-pinak, dan melebur
menjadi bagian dari masyarakat Nusantara.
Perlu
diketahui bahwa secara resmi, Kerajaan Belanda baru berdaulat penuh
menguasai wilayah Nusantara pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1816
setelah sebelumnya VOC dinyatakan bangkrut dan dibubarkan secara resmi pada
tanggal 31 Desember 1799. VOC memang menjadi pihak pertama yang menanamkan
dominasi kolonial yang panjang di Nusantara sejak abad ke-17, tetapi kepemilikan
dan kedaulatan resminya baru beralih ke tangan Kerajaan Belanda pada
tahun 1816 setelah melalui masa kevakuman, kebangkrutan korporasi, dan
pendudukan Inggris. Pada masa VOC maupun Inggris itu tidak ada satupun data
yang menunjukkan jika kaum Arab Hadramaut terutama pada Sayyidnya dibawa oleh
penjajah tersebut.
Sebagai bukti bahwa kaum Sayyid atau Habib
tidak dibawa oleh Belanda adalah :
1.
Sayyid Husain bin
Abu Bakar al-Aidarus (Wafat 1789 M di Batavia): Salah satu ulama besar
Ba'alawi awal yang makamnya berada di kawasan Luar Batang, Jakarta Utara. Ia
adalah figur sentral yang lama mengajar di Batavia pada abad ke-18 sebelum era
kekuasaan kolonial modern sepenuhnya mencengkeram wilayah sipil.
2.
Abd ar-Rahman bin
Musthafa al-Aidarus (Wafat 1194 H / 1780 M): Seorang ulama pengembara dari
Hadramaut yang banyak mendidik ulama-ulama muda di kawasan Nusantara dan Timur
Tengah.
3.
Syarif Abdurrahman
Alkadrie yang membuka pertama Kota Pontianak, pada hari Rabu tanggal 23
Oktober 1771 bertepatan dengan tanggal 14 Radjab 1185, untuk kemudian pada
Hijriah sanah 1192 delapan hari bulan Sja'ban hari Isnen, SYARIF ABDURRAHMAN
ALKADRIE dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Pontianak.
4.
Sayid Abdurrahman
Basyaiban (hidup abad ke 16 Masehi) seorang Bani Alawi yang berpengaruh
yang bertempat tinggal di Cirebon, Jawa Barat. ia mempersunting putri Maulana
Sultan Hasanuddin. Putri bangsawan itu juga masih keturunan Rasulullah. Ia
bernama Syarifah Khadijah, cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Dari pasangan dua keturunan Rasulullah ini, lahir tiga orang putra: Sayid
Sulaiman, Sayid Abdurrahim (terkenal dengan sebutan Mbah Arif Segoropuro
Pasuruan), dan Sayid Abdul Karim.
5.
Pada akhir abad ke 17
hingga awal abad ke 18, Aceh pernah diperintah oleh beberapa sultan yang
berasal dari keluarga Al Jamalullail, sebuah keluarga ulama dan
bangsawan keturunan Arab yang memiliki pengaruh luas di Nusantara. Beberapa
sultan Aceh dari keluarga ini antara lain Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim
Jamaluddin Al Jamalullail (1699–1702), Sultan Jamalul Alam Badrul Munir Al
Jamalullail (1703–1726), Sultan Jauharul Alam Syarif Aminuddin Al Jamalullail
(1726), serta Sultan Syamsul Alam Al Jamalullail (1726–1727).
6.
Kampung Arab yang
terdapat di kelurahan 13 Ulu Palembang sudah ada sejak abad ke-18. Kampung tersebut berkaitan dengan seorang Habib yang
membangun perkampungan
dengan nama Habib Abdurrahman Al-Munawar. Bangsa Arab pada masa Kesultanan
Palembang dianggap sebagai bangsa yang beruntung jika dibandingkan dengan
bangsa atau etnis lainnya. Hal tersebut karena Bangsa Arab dapat dikatakan
Istimewa bagi Kesultanan Palembang. Lebih tepatnya pada masa
pemerintahan Kesultanan Palembang
yang dipimpin oleh
Sultan Abdurrahman pada tahun
1659-1706. Pada masa tersebut, bangsa Arab
atau etnis Arab diistimewakan karena turut berjasa
membantu perekonomian masyarakat Palembang yang berimplikasi pada
munculnya keterkaitan antara keduanya semakin banyak. Sampai sekarang kota
Palembang dikenal sebagai HADRAMAUT TSANI karena begitu banyaknya jumlah
mereka, dan ini bisa dibuktikan dengan banyaknya makam habaib dari mulai abad
ke 18 sd 20, serta peninggalan rumah-rumah panggung berbentuk kayu yang masih
banyak terpelihara hingga hari ini…
7.
Di Jakarta, terutama
Kampung Bandan, ada 3 makam Habaib yang menandakan bahwa mereka sudah ada
sebelum gelombang Alawiyin abad 19 berdatangan.
Mereka adalah Habib
Mohammad Bin Umar Qlqudsi yang wafat pada tanggal 23 Muharram tahun 1118
Hijriah atau 1697 Masehi dan Habib Ali Bin Abdurrahman Ba'Alawi yang wafat
tanggal 15 Ramadhan tahun 1122 Hijriah atau 1701 Masehi. "Setelah itu 200
tahun kemudian datanglah Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy Syathri, beliau
kemudian membangun masjid ini pada tahun 1879.
8. Sultan Syarif Kasim II yang lahir 1 Desember 1893 dan wafat 23 April 1968 adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak Sri Indrapura sekaligus penguasa terakhir Kesultanan Siak sebelum Kerajaaan Melayu itu bergabung kedalam wilayah Indonesia. Beliau pernah berjasa dalam memberikan hartanya untuk NKRI bahkan kemudian rela menjadi orang biasa.
Jelaslah
dari fakta-fakta yang dibeberkan diatas telah membuktikan bahwa tidak benar
dengan datangnya para Habib Hadramaut niatnya
untuk menjajah bangsa pribumi. Kedatangan bangsa Arab Hadramaut juga
bukan dibawa oleh bangsa Belanda yang jelas-jelas sangat anti terhadap Islam
yang notabenenya dianut oleh para Sayyid atau Habib Hadramaut. Kedatangan
bangsa Arab Hadramaut khususnya kaum Sayyid justru membawa efek yang positif
dari segi dakwah, pendidikan, budaya dan
perdagangan. Memberikan cap buruk sebagai imigran buruk lengkap dengan
foto-foto dari KITLV dengan profil “miskin”, “dekil”, “kurus” atau foto saat berkumpul dengan penjajah kolonial seolah sedang berkolaborasi mencerminkan
rendahnya literasi para pembenci nasab Bani Alawi ini. Mengatakan bahwa para
Habib yang datang ke nusantara oleh Belanda adalah sebuah DISTORSI SEJARAH yang
tidak berdasar, absurd, liar dan tidak bisa dijadikan sebuah hujah dalam bagian
Perjalanan Sejarah Islam di Nusantara.
Tammat…..
“Dikutif dari berbagai sumber”