Rabu, 26 Agustus 2026

"๐— ๐—˜๐—ก๐—˜๐—ฅ๐—œ๐— ๐—” ๐— ๐—˜๐——๐—”๐—Ÿ๐—œ ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—š๐—›๐—”๐—ฅ๐—š๐—”๐—”๐—ก ๐—•๐—˜๐—Ÿ๐—”๐—ก๐——๐—” ๐—•๐—˜๐—ก๐—ง๐—จ๐—ž ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—š๐—ž๐—›๐—œ๐—”๐—ก๐—”๐—ง๐—”๐—ก ๐—•๐—”๐—ก๐—š๐—ฆ๐—” ?" (๐—ž๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—›๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ๐—ฏ ๐—จ๐˜€๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—›๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ๐—ฏ ๐—”๐—น๐—ถ ๐—ž๐˜„๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด)


Salah satu fitnah besar yang disebarkan oleh para pembatal nasab Bani Alawi tentang kedudukan para pemuka Bani Alawi adalah cap "Pengkhianat" karena dianggap telah berkolaborasi dengan penjajah. Menurut mereka, adalah aneh dengan sikap para Habib tersebut, di saat banyak yang berjuang berdarah-darah tiba tiba ada tokoh Bani Alawi mau-maunya menerima medali penghargaan dari Belanda Kafir Harbi.
Narasi yang berkembang bahwa para Habaib yang menerima medali penghargaaan Belanda adalah pengkhianat busuk, komparador, musuh dalam selimut dan segudang cap jelek lainnya. Menurut para pembatal nasab itu, medali medali berlambang salib kayak gitu kok mau maunya diterima...
Narasi narasi liar terus bermunculan tanpa bisa dihentikan, sosok Habib Usman dan Habib Ali Kwitang yang merupakan maha guru orang² Betawi betul-betul rendah dihadapan kaum nawashib tersebut, padahal kedua tokoh tersebut hampir semua sanad keilmuan para ulama Betawi seperti Guru Marzuki Cipinang, Guru Mugni Kuningan, Guru Kholid Gondangdia Guru Madjid, Guru Mahmud Romli, dll bersambung kepada kedua habib tersebut. Para Muallim, kyai dan habib² sejabodetabek tempo dulu itu sanadnya banyak yang mengambil dari kedua ulama tersebut. Bahkan kitab² yang ditulis habib usman dan majelis habib ali kwitang banyak yang dijadikan rujukร n kaum muslimin Betawi. Habib Ali bahkan mempunyai pengaruh yang luas dalam jaringan ulama Bani Alawi se nusantara.
Memberi cap pengkhianat kepada kedua Habib tersebut secara tidak langsung telah menuduh semua tokoh yang pernah menerimanya termasuk tokoh-tokoh pribumi adalah pengkhianat juga. Ini jelas salah kaprah dan menandakan betapa rendahnya literasi yang dimiliki para penuduh tersebut.
Bila demikian apakah dengan menerima medali penghargaan Belanda berbentuk salib itu otomotis kedua habib tersebut murni kaki tangan penjajah ?
Untuk mengetahui itu semua, yuk coba kita pelajari apa itu medali yang dimaksud dan siapa saja sih yang sudah menerima medali tersebut ?
Medali yang selama ini diributkan oleh kaum nawashib itu adalah MEDALI ORDE VAN ORANJE NASSAU.
Dalam sejarahnya ​Medali Orde van Oranje-Nassau telah disahkan atau diresmikan pada tahun 1892 Masehi oleh Pemerintah Kerajaan Belanda. Dalam sistem administrasi Hindia Belanda, tanda kehormatan ini diberikan kepada individu, baik warga Belanda maupun masyarakat pribum yang dinilai memberikan kontribusi luar biasa di bidang pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan kebudayaan.
​Bentuk fisik medali ini menyerupai salib bersudut delapan (Maltese cross). Bentuk ini murni merupakan simbol heraldik (tata lambang) standar Eropa untuk tanda penghargaan tingkat ksatria (knighthood), bukan simbol misionaris atau keagamaan (catat kembali, bukan untuk kallimat terakhir ini).
​Pada era penjajah kolonial, pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan rust en orde (ketertiban dan kedamaian). Mereka memberikan penghargaan sipil ini secara rutin setiap tahun kepada pejabat sipil, bupati, pemimpin kesultanan, hingga ulama dan pimpinan organisasi Islam yang mengelola lembaga masyarakat. Bagi para ulama dan pimpinan Islam, menerima pengakuan legal-administrasi ini bermanfaat agar aktivitas dakwah, pembangunan madrasah, dan pengelolaan rumah sakit/panti asuhan dapat berjalan lancar tanpa diintimidasi oleh aparat penjajah. Oleh karena itu, penerimaan medali ini pada zamannya bukanlah indikator pengkhianatan politik maupun penyerahan akidah.
Jadi jelaslah dari penjelasan diatas, menerima penghargaan diatas tidak serta menjadikan seseorang menjadi pengkhianat. Bahkan diantara mereka mereka yang menerima ada juga yang tetap kritis terhadap pemerintah kolonial. Penghargaan tidak serta merta membuat mereka bungkam. Justru banyak dari mereka melalui organisasi masing² terus melakukan "perlawanan sunyi". Melalui jalur politik Islam itu sudah dirintis oleh organisasi Islam sampai kemudian muncul perlawanan terbuka bersenjata menjelang kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan.
Lantas siapa siapa saja ​tokoh Islam, Pahlawan Nasional, dan Ulama Penerima Orde van Oranje-Nassau yang pernah menerima medali ini.. mari kita coba baca sambil mengambil nafas dalam dalam agar lebih jernih dalam menilainya.
​1. Ulama, Mufti, dan Tokoh Keagamaan
- ​Habib Utsman bin Yahya (Mufti Batavia) – Diberikan atas kontribusinya dalam penulisan karya-karya literatur hukum Islam, pelayanan fatwa masyarakat, dan pengabdiannya sebagai penasihat keagamaan.
- ​Habib Ali al-Habsyi (Kwitang, Batavia) – Diberikan atas kontribusi sosial-kemanusiaan, pengayoman masyarakat, dan pengelolaan majelis taklim serta pendidikan Islam di Batavia.
- ​KH. Hasan Mustapa (Penghulu Besar Bandung & Kutaraja Aceh) – Diberikan atas pengabdiannya mengelola Mahkamah Syariah, pencatatan sipil Islam, serta karya-karya sastra keagamaan.
​2. Pimpinan Organisasi Keagamaan & Tokoh Pergerakan
- ​KH. Hisyam (Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah 1934–1936) – Diberikan atas jasanya memajukan dan mengelola jaringan sekolah-sekolah rakyat Muhammadiyah (HIS, Schakel School, dll.).
- ​KH. Ibrahim (Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah 1923–1932) – Diberikan atas perannya memperluas jaringan lembaga pendidikan, panti asuhan, dan layanan kesehatan Muhammadiyah di Nusantara.
- ​KH. R. Haji Djiwosewojo (Pengurus PB Muhammadiyah) – Diberikan atas pengabdian sosial-kemanusiaan dalam merintis panti asuhan dan sekolah bumiputra.
- ​KH. Mas Mansur (Tokoh Muhammadiyah & Pahlawan Nasional) – Diberikan atas kepemimpinan sosial-keagamaannya sebelum era pergerakan Empat Serangkai.
- ​H.O.S. Tjokroaminoto (Pemimpin Sarekat Islam) – Tercatat menerima apresiasi sipil pada masa awal pengorganisasian pergerakan massa Islam atas pengaruh sosialnya dalam menjaga ketertiban masyarakat.
- ​Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (Pahlawan Nasional) – Diberikan (Ridder, 1912) atas aksi heroiknya mengobati wabah penyakit pes (black death) di Malang. (Medali ini kemudian dikembalikan sebagai bentuk protes politik).
- ​Prof. Hoesein Djajadiningrat (Cendekiawan Islam & Ahli Hukum) – Diberikan atas kontribusi akademis dalam keilmuan Islam dan tata hukum peradilan agama.
- ​Prof. Dr. Mr. Soepomo (Perancang UUD 1945 & Ahli Hukum Adat-Islam) – Diberikan atas jasa-jasanya dalam penelitian hukum adat dan sistem peradilan Hindia Belanda.
​3. Ulama Birokrat / Penghulu Agung (Hoofd-Penghulu)
- ​Raden Haji Mohammad Rusdi (Hoofd-Penghulu Bandung)
- ​Raden Haji Mohammad Isa (Hoofd-Penghulu Surabaya)
- ​Kiai Haji Raden Mohammad Nawi (Hoofd-Penghulu Batavia)
- ​Raden Haji Mohammad Soleman (Hoofd-Penghulu Serang, Banten)
- ​Raden Haji Ahmad (Hoofd-Penghulu Cirebon)
- ​Haji Mohammad Said (Penghulu Kepala Makassar)
- ​Haji Mohammad Yasin (Hoofd-Penghulu Palembang)
- ​Raden Haji Mohammad Nur (Hoofd-Penghulu Garut)
​4. Pemimpin Kesultanan Islam
- ​Sultan Syarif Kasim II (Kesultanan Siak Sri Indrapura) – Di kemudian hari menyumbangkan 13 juta gulden dan kedaulatan Siak untuk Republik Indonesia.
- ​Sultan Pakubuwono X (Kesultanan Surakarta) – Penerima penghargaan sipil yang secara rahasia menyopport dana bagi organisasi pergerakan Islam dan nasionalis.
- ​Sultan Hamengkubuwono VIII (Kesultanan Yogyakarta) – Diberikan atas pembaharuan administrasi keraton dan dukungan terhadap lembaga pendidikan rakyat.
- ​Sultan Ma'moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah (Kesultanan Deli) – Diberikan atas pembangunan sarana publik, sekolah Islam, dan Masjid Raya Al-Mashun Medan.
- ​Sultan Muhammad Saifuddin (Kesultanan Pontianak)
- ​Sultan Muhammad Kaharuddin III (Kesultanan Sumbawa)
​Kesimpulan Objektif dan Historis dari adanya medali diatas adalah :
​Bukan Bukti Pengkhianatan: Penganugerahan Orde van Oranje-Nassau adalah prosedur administrasi sipil rutin kolonial untuk mengapresiasi jasa di bidang sosial, pendidikan, hukum, dan kemanusiaan.
​Diversitas Penerima: Penghargaan ini diterima oleh berbagai lapisan tokoh mulai dari ulama tradisional, pimpinan Muhammadiyah, pahlawan nasional, hingga raja-raja Islam yang kelak menyokong penuh Kemerdekaan RI 1945.
​Pemanfaatan Ruang Legal: Penerimaan penghargaan oleh para ulama memperlihatkan strategi perjuangan zamannya untuk menjaga keberlangsungan institusi Islam, masjid, dan sekolah rakyat agar tidak diganggu oleh pemerintah penjajah.
"​Sumber Pustaka dan Rujukan Ilmiah"
​Sumber-sumber berikut dapat diakses di perpustakaan nasional, arsip digital resmi, maupun publikasi akademis:
​Nationaal Archief Den Haag (Arsip Nasional Belanda)
​Kanselarij der Nederlandse Orden: Stamboek Ridderorde van Oranje-Nassau (1892–1942).
​(Arsip resmi pencatatan nama, tanggal, dan alasan penganugerahan tanda kehormatan Kerajaan Belanda di wilayah Hindia Belanda).
​Kaptein, Nico J.G. (1997). The Mufti of Batavia: Sayyid 'Uthman (1822-1914) and His Position in the Netherlands Indies. Leiden: E.J. Brill.
​Suminto, H. Aqib. (1985). Politik Islam Hindia Belanda. Jakarta: LP3ES.
​Azra, Azyumardi. (2004). Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Intrik, dan Bahan Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
​Noer, Deliar. (1973). The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900–1942. Oxford: Oxford University Press. (Membahas sejarah perkembangan Muhammadiyah, SI, dan kepemimpinan KH. Hisyam, KH. Ibrahim, serta H.O.S. Tjokroaminoto).
​Delpher Newspaper Archive (Koninklijke Bibliotheek Den Haag)
​Akses publikasi koran era kolonial (Bataviaasch Nieuwsblad dan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indiรซ) pada edisi Koninginnedag (31 Agustus) yang memuat daftar resmi penerima Koninklijke Onderscheidingen.