Senin, 22 Juni 2015

NASAB (GARIS KETURUNAN LANGSUNG) FATAHILLAH, MUJAHID AGUNG PENDIRI KOTA JAYAKARTA, TRAH MULIA RASULULLAH SAW

Siapa sebenarnya sosok Fatahillah yang selama sering dibicarakan dalam sejarah berdirinya kota Jakarta atau Jayakarta? Kenapa sejarah utuh tentang dirinya tidak banyak yang mengungkap? Kenapa sosok ini terkesan dianggap misterius?. Tidak itu saja bahkan yang menjadi pertanyaan, kenapa keberadaan dirinya digugat oleh salah seorang penulis sejarah dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang Pembunuh bagi orang Betawi, padahal pada tahun 1527 istilah yang dipakai pada wilayah tersebut adalah nama Sunda Kelapa dan kemudian berganti menjadi Fathan Mubhina setelah itu Jayakarta hingga akhirnya menjadi Jakarta.

Bicara Fatahillah, mungkin sudah banyak yang tahu tentang perannya dalam menguasai Sunda Kelapa dan kemudian menggantikannya dengan nama Fathan Mubina hingga akhirnya menjadi Jayakarta. Di balik sosoknya yang berjasa dalam merebut Sunda Kelapa dan kemudian menjadikan dasar daerahnya menjadi daerah  Islam, tidak banyak yang tahu jika sebenarnya sosok Fatahillah ini adalah masih bagian keluarga besar Walisongo yang  mempunyai fam Azmatkhan yang merupakan salah satu rumpun keluarga besar Alawiyyin. Fam sendiri adalah sebuah nama khusus yang dimiliki beberapa keluarga besar. Beberapa dari kita sering mengatakan bahwa itu adalah marga.  Fam adalah sebuah bukti dan tanda jika orang tersebut mempunyai hubungan yang kuat dengan garis keturunan dengan fam tersebut.

Pengetahuan kita akan Ilmu Nasab atau ilmu yang membahas garis keturunan itu mutlak diperlukan bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah seseorang. Dengan kita mengetahui nasab tokoh tersebut, maka interpretasi kita akan lebih seimbang dan obyektif, apalagi bila informasi itu berasal dari seorang ulama ahli nasab yang keberadaannya jelas dan mempunyai sanad, keterangan ulama yang mengerti sejarah ataupun nasab seorang tokoh jelas lebih berharga ketimbang data dari Portugis yang jelas ada unsur subyektif dan juga hikayat yang antah berantah atau naskah kuno yang ternyata terbukti bermasalah besar.

Dengan kita mengetahui Nasab Fattahillah maka diharapkan kita tidak berfikir negatif lagi terhadap sosok beliau, apalagi dengan mengatakan dia sebagai perampok dan pembunuh orang Betawi, jelas pernyataan tersebut sangat  kelewat batas apalagi ditujukan kepada sosok pemimpin besar Islam dan pendiri Kota Jayakarta yang kini bernama Jakarta.

Menurut Sayyid Bahruddin Azmatkhan  dalam kitabnya Al-Mausû’ah Li Ansâbi Al-Imam Al-Husaini, adapun nasab dari Fatahillah terutama jalur nasab ayahnya adalah sebagai berikut :

  1. Nabi Muhammad Rasulullah SAW
  2. Sayyidah Fatimah Azzahra
  3. Al-Imam Sayyidina Husein Asshibti
  4. Al-Imam As-Sayyid Ali Zaenal Abidin
  5. Al-Imam As-Sayyid Muhammad Al Baqir
  6. Al-Imam As-Sayyid Ja’far Asshodiq
  7. Al-Imam As-Sayyid Ali Al Uraidhi
  8. Al-Imam As-Sayyid Muhammad Annaqib
  9. Al-Imam As-Sayyid Isa Arrumi
  10. Al-Imam As-Sayyid Ahmad Al Muhajir
  11. Al-Imam As-Sayyid Ubaidhillah/Abdullah
  12. Al-Imam As-Sayyid Alwi Al Awwal/Alwi Al Mubtakir (cikal bakal lahirnya Keluarga Besar/ Bani Alawi
  13. Al-Imam As-Sayyid Muhammad Shohibus Souma’aH
  14. Al-Imam As-Sayyid Alwi Atsani/Alwi-Shohib Baitu Jubair
  15. Al-Imam As-Sayyid Ali Kholi’ Qosam
  16. Al-Imam As-Sayyid Muhammad Shahib Marbath
  17. Al-Imam As-Sayyid Alwi Ammul Faqih
  18. Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan
  19. Al-Imam As-Sayyid Abdullah Amirkhan
  20. Al-Imam As-Sayyid Sultan Ahmad Syah Jalaludin
  21. Al-Imam As-Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro I
  22. Al-Imam As-Sayyid Sultan Barakat Zaenal Alam
  23. As-Sayyid Maulana Maghfur/Maulana Abdul Ghafur
  24. As-Sayyid Maulana Mahdar Ibrahim Patakan/Mufti Kesultanan Pasai
  25. As-Sayyid Fathullah / Ahmad Fathullah / Fatahillah / Fadhillah Azmatkhan/ Wong Agung Paseh / Falatehan / Tubagus Pasai/ Laksamana Khoja Hasan / Pangeran Jayakarta

Sangat jelas dalam nasab ini jika Fatahillah nasabnya masih merupakan keluarga besar Walisongo, karena kakeknya yang nomor 21 yaitu Al-Imam Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro adalah nenek moyangnya Walisongo, sedangkan kakeknya yang  22 adalah Maulana Abdul Ghofur. Maulana Abdul Ghofur adalah adik dari Maulana Malik Ibrahim Azmatkhan yang merupakan walisongo angkatan pertama. Artinya Maulana Malik Ibrahim masih terhitung kakek dari  Fatahillah, karena Maulana Abdul Gafur adik dari Maulana Malik Ibrahim. Adapun jika ditinjau dari jalur ibunya, nasab Fatahillah adalah :

1. Nabi Muhammad Rasulullah SAW
2. Sayyidah Fatimah Azzahra/Fatimah Al Batul
3. Al Imam Sayyidina Husein Asshibti
4. Al Imam As-Sayyid Ali Zaenal Abidin
5. Al Imam As-Sayyid Muhammad Al Baqir
6. Al Imam As-Sayyid Ja’far Asshodiq
7. Al Imam As-Sayyid Ali Al Uraidhi
8. Al Imam As-Sayyid Muhammad Annaqib
9. Al Imam As-Sayyid Isa Arrumi
10.Al Imam As-Sayyid Ahmad Al Muhajir
11.Al Imam As-Sayyid Ubaidhillah/Abdullah
12.Al Imam As-Sayyid Alwi Al Awwal/Alwi Al Mubtakir (cikal bakal Bani Alawi)
13.Al Imam As-Sayyid Muhammad Shohibus Souma’ah
14.Al Imam As-Sayyid Alwi Atsani/Alwi Shohib Baitu Jubair
15.Al Imam As-Sayyid Ali Kholi’ Qosam
16.Al Imam As-Sayyid Muhammad Shahib Marbath
17.Al Imam As-Sayyid Alwi Ammul Faqih
18.Al Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan
19.As-Sayyid Abdullah Amirkhan
20.As-Sayyid Sultan Ahmad Syah Jalaludin
21.As-Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro Wajo
22.As-Sayyid Ibrahim Zaenuddin Al Akbar Asmorokondi
23.As-Sayyid Maulana Ishak Azmatkhan
24.Syarifah Musallimah Azmatkhan (MELAHIRKAN FATTAHILLAH)

Artinya ayah dan ibu Fatahillah sama-sama Azmatkhan Al-Husaini, kedua-duanya berasal dari rumpun nasab yang sama yaitu Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro Wajo. Ibu dari Fatahillah adalah adik kedelapan dari Sunan Giri Azmatkhan (Maulana Muhammad Ainul Yaqin), artinya Fatahillah adalah keponakan dari Sunan Giri. Fatahillah juga merupakan cucu keponakan dari Sunan Ampel Azmatkhan, karena Maulana Ishak adalah kakak dari Sunan Ampel Azmatkhan. Jadi jelas dari uraian nasab ini Fatahillah adalah masih merupakan  bagian penting keluarga besar Walisongo.

Di Jayakarta kelak Fattahillah banyak menurunkan-pejuang tangguh yang salah satunya adalah Guru Amin dari Kalibata, Pejuang Betawi yang legendaris dari rumpun keluarga besra Pangeran Sanghyang yang merupakan keturunan Pangeran Sendang Garuda bin Fattahillah dan dimakamkan di Cirebon. Disamping itu, salah satu anak Fattahillah yaitu Pangeran wijayakusuma yang dimakamkan di Jelambar Jakarta Barat juga kelak menjadi tokoh besar. Keturunannya yang lain yang berada di lampung adalah Raden Inten yang merupakan musuh besar penjajah Belanda, juga beberapa ulama besar di palembang juga banyak keturunan dari Fattahillah, belum lagi yang berada di Malaka dan juga Aceh. Intinya Fattahillah adalah tokoh besar Islam Nusantara. sehingga sangatlah wajar jika keberadaannya dhormati masyarakat Aceh, Malaka, Demak, Cirebon, Banten, Ternate, Lampung, Palembang, sehingga sangatlah ironis jika ada orang Jakarta justru melecehkan pahlawan besar Nusantara ini.

Melecehkan Fattahillah yang jelas merupakan ulama, pejuang, mujahid, itu sama saja menunjukkan bahwa mereka yang melakukan hal negatif itu buta akan sejarah pejuang yang Agung ini...

Al Fatehah Untuk As-Sayyid Ahmad Fathullah/Wong Agung Pasai/Laksamana Hoja Hasan/Fattahillah/Taruna Pasai......


SUMBER ;

Iwan Mahmud Al Fattah, Fattahillah Mujahid Agung Pendiri Kota Jayakarta, Jakarta : Madawis: 2014.
Asy-Syaikh As-Sayyid Bahruddin Azmatkhan , Kitab Al-Mausû’ah Li Ansâbi Al-Imâm Al-Husaini, Penerbit. Madawis, h.258-270

BERDIRINYA NEGERI ISLAM FATHAN MUBHINA (JAYAKARTA) DI SUNDA KELAPA, 1 SYAWAL 933 HIJRIAH

“Materi yang kami garis miringi, semua dikutif dari Kitab Al Fatawi)

1521 – 1522.

Pada waktu negeri sunda kelapa menyertakan dirinya berperang bersama armada Pati Unus  dari Kesultanan Demak. Negeri Sunda Kelapa berada dalam kepemimpinan Raja Alhamid Al Majid (Saka Danda Rama), didampingi Patih Panglima Fathullah Khan, Putra dari Sultan Zulkifli Majid dari Kesultanan Aru Barumun Pasai.

Dengan kekalahan dari Armada Paringgi (Portugis) yang diperangi Armada Bintara Demak dibawah pimpinan Al Haj Fattahillah yang  pada waktu itu menyerang Paringgi di Pasai, keadaan Sunda Kelapa  sangat lemah, sebab Sultan Pati Unus mengalami kekalahan, Fattahillah kemudian berlayar ke mesir.

Paringgi (portugis) kemudian memasuki Pelabuhan Jayapati (kini menjadi pelabuhan Pasar Ikan) Sunda Kelapa, jadi tidak di pelabuhan Marunda Jakarta Utara.

Paringgi dan Pajajaran dibawah pimpinan Adipati Singa Menggala bin Prabu Surawisesa Kemudian mengadakan perjanjian di pelabuhan Jayapati ditahun 1522.

Angkatan Perang Sunda Kelapa sempat melakukan penyerangan dibawah pimpinan Panglima Fathullan Khan dilautan. Namun kemudian Bala tentara Pajajaran menyerang balik Keraton Sunda Kelapa di Marunda sehingga mengakibatkan tewasnya Raja Sunda Kelapa dan juga menyebabkan Sunda Kelapa menjadi tidak aman dan tidak kuat.

Keraton Sunda Kelapa di Marunda dapat dimasuki bala tentara Pajajaran dibawah pimpinan Singa Menggala bin Prabu Surawisesa dari Kerajaan Pajajaran.

Agar Supaya Keraton dan rakyat tidak mengalami kerusakan maka gusti Ratu Surya Nara telah mengambil keputusan dan untuk menghindarkan malapetaka telah mengadakan musyawarah antara fihak Sunda Kelapa dan fihak Pajajaran.
Akhirnya Kesepakatan dapat dicapai yang berisi :

 1. Gusti Ratu Suryanara tetap menjadi Raja di Sunda Kelapa yang menggantikan ayahandanya dan bersedia menjadi istri dari Singa Menggala.
 2. Singa Menggala bin Prabu Surawisesa menjadi Adipati Pajajaran di Sunda Kelapa.

Dengan demikian kedudukan Sunda Kelapa masa itu raja bawahan dari Pajajaran.

Sesudah Sunda Kelapa Jatuh dan Pajajaran mempunyai Raja Bawahan yang adipatinya adalah Singa Menggala bin Prabu Surawisesa.

Penguasaan Pajajaran terhadap Sunda Kelapa menyebabkan beberapa keluarga bangsawan Sunda Kelapa yang Islam menyingkir ke Cirebon dan Demak, termasuk keluarga besar Kesultanan Aru Barumun Pasai yang sudah lama menetap di Sunda Kelapa untuk menyusun kembali kekuatan dalam merebut Sunda Kelapa.

1526 – 1527

Pada Periode ini Sultan Bintoro Demak saat itu (Sultan Trenggono) terutama pada bulan Sya’ban 933 Hijriah memerintahkan Fattahillah dan pasukan Mujahidin untuk kembali lagi ke negeri Sunda Kelapa, karena mendengar Portugis atau Paringgi akan masuk berlabuh. Namun demi untuk menghormati Bulan Puasa dan ibadah ramadhan, Sultan Trenggono pada bulan Sya’ban kemudian memulangkan terlebih dahulu para Panglima, hulu balang dan tamtamanya ke daerahnya masing-masing. Sultan Trenggono melarang keras semua fihak melakukan huru hara dan membuat keributan.

Kemudian sesudah puasa semua harus masuk kembali ke keraton Sunda Kelapa tepatnya di Marunda Jakarta Utara (Marunda Kalapa). Maka sesudah satu bulan Bala Tentara Kesultanan Demak Bintoro berada di Marunda Kalapa dan sesudah ibadah puasa Ramadhan, bala tentara Armada Bintara Demak memasuki Istana atau Keraton  Ratu Gusti Surya Nara Kalapa pada malam Takbiran.

Pada malam Takbiran itu, Gusti Ratu Surya Nara sudah duduk bersama tamunya termasuk Maulana Hasanuddin Banten.
Maka Pada Bakda Subuh tepatnya tanggal 1 Syawal 993 Hijriah, Gusti Ratu Surya Nara menyerahkan kekuasaan negeri Marunda Kelapa kepada Panglima Al Haj Fattahillah beserta kekuasaan pemerintahannya.

“Tafsir Sejarah Dari Kitab Al Fatawi”

Penjelasan Kitab Al Fatawi yang disusun oleh Al Allamah KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma ini telah menjelaskan secara tegas bahwa Sunda Kelapa telah menjadi wilayah Islam sebelum kekuasaanya direbut oleh Kerajaan Pajajaran dibawah pimpinan Singa Menggala. Untuk memperkuat fakta tersebut Sunda Kelapa bahkan pernah terlibat perang dalam melawan Portugis di Malaka. Itu artinya Sunda Kelapa sebelum tahun 1521 masehi adalah sekutu terkuat dari Kesultanan Demak, khususnya pada masa Sultan Muhammad Yunus (Pati Unus 1) bin Raden Fattah serta Senopatinya yang terkenal yaitu Raden Abdul Qodir bin Muhammad Yunus (Pati Unus 2). Sedangkan perang di Malaka yang menyebabkan kekalahan pertama terjadi tahun 1513 dan terakhir tahun yang menyebabkan syahidnya Pati Unus 2 di Malaka tahun yaitu 1521 Masehi (sayangnya tahun 1521 jarang diungkap). Setelah kekalahan ini Kerajaan Pajajaran yang telah mendengar kekalahan Demak yang kedua kalinya, mengambil momentum dengan merebut Sunda Kelapa dan menjadikan tanah jajahan. Direbutnya Sunda Kelapa karena daerah ini dianggap penting karena merupakan daerah penghasil merica terbesar saat itu dan juga merupakan pelabuhan penting antara Sumatra dan Sunda. Sehingga dengan menguasai daerah Sunda Kelapa, Pajajaran bisa meningkatkan perekonomiannya serta bisa memutus mata rantai hubungan Sunda Kelapa  dengan Kesultanan Demak dan khususnya Kesultanan Aru Barumun Pasai yang saat itu bangsawannnya banyak terdapat di Sunda Kelapa.  Di samping itu dengan menguasai Sunda Kelapa, mereka ingin merubah image mereka sebagai negara yang tangguh hanya di daratan saja. Dan ini kemudian mereka realisasikan ketika pada bulan Agustus tahun 1522,  mereka membuat perjanjian dengan fihak portugis di Pelabuhan Jayapati (Jagpad) yang kini menjadi Pelabuhan Pasar Ikan dan itu diabadikan dengan adanya Prasasti Padrao. Begitu kuatnya hubungan Pajajaran Dan fihak Portugis, bahkan Portugis sempat pula mendatangi dan hadiri di Pajajaran ketika Prabu Surawisesa dilantik menjadi Raja Pajajaran.

Dikuasainya Sunda Kelapa oleh Pajajaran menyebabkan banyak fihak hijrah yang diantaranya adalah Fattahillah. Dari Fattahillah Kesultanan Demak tahu bagaimana sebenarnya kondisi Sunda Kelapa, sehingga Sultan Trenggono yang sangat perhatian terhadap perkembangan dakwah Islam di Jawa dan Sunda memutuskan untuk kembali menguasai Sunda Kelapa dalam rangka menegakkan kembali Islam yang sudah ditanam keluarga Pasai terutama dari Kesultanan Aru Barumun yang juga berkerabat dengan Fattahillah. Selama beberapa tahun Fattahillah terus mengadakan persiapan untuk menguasai kembali Sunda Kelapa. Tentu Fattahillah akan berfikir bagaimana menguasai Kembali Sunda Kelapa tanpa harus terjadi pertempuran, mengingat Sunda Kelapa yang sebagian masyarakatnya sudah Islam dan juga masih dipegang oleh satu kerabat beliau yaitu Gusti Ratu Surya Nara.

Sudah tentu Fattahillah juga membutuhkan bantuan Sunda Kelapa untuk menghalang masuk Portugis yang sudah mendekat di Banten pada tahun 1526 tepatnya akhir bulan Desember.

Dari tahun 1521 s/d 1527 Sunda Kelapa dikuasai oleh Gusti Ratu Surya Nara bin Sultan Alhamid Majid yang mempunyai nama laqob Sansekerta yaitu Saka Danda Rama. Pasca kekalahan Sunda Kelapa Gusti Ratu Surya Nara memutuskan menikah dengan Singa Menggala. Fakta ini membuktikan jika Singa Menggala sudah masuk Islam, karena Gusti Ratu Surya Nara adalah muslimah yang taat dan leluhurnya berasal dari Pasai yang terkenal akan keislamannya. Gusti Ratu Surya Nara adalah wanita yang lebih mementingkan rakyat ketimbang kekuasaanya. Tentu dengan bersedianya beliau menikah dengan Singa Menggala, karena beliau mempunyai strategi dakwah Islam yang cerdik dalam menghadapi Pajajaran, mengingat Pajajaran adalah sebuah Kerajaan Besar di Sunda bahkan dapat dikatakan sebanding dengan Majapahit, apalagi seperti yang kita tahu Islamisasi di Keraton Pajajaran itu sebenarnya sudah lama terjadi, hanya saja masih belum banyak dikaji oleh Sejarawan. Gusti Ratu Suryanara tentu tidak ingin Islam yang sudah dibangun di Sunda Kelapa kembali menjadi nol, apalagi akar keislaman di Sunda Kelapa belum sebaik di daerah lain. Singa Menggala sebagai seorang Kesatria Pajajaran ketika mendapatkan penawaran untuk menikah dengan Gusti Ratu Surya Nara tentu menyambutnya dengan positif, mengingat juga fihak Sunda Kelapa sudah menyatakan tahluk, apalagi dalam sejarah Jayakarta, Singa Menggala ini terkenal kooperatif terhadap Islam, dan ini dibuktikanya ketika beliau menikahkan anaknya yang bernama Ratu Ayu Jati Balabar  dengan Cucu Raden Fattah yang bernama Arya Jipang atau Aria Penangsang dari Jipang Panolan, dan kelak keturunan Arya Jipang di Jayakarta dari jalur Ratu Ayu Jati Balabar bin Singa Menggala akab banyak yang meneruskan jejak langkahnya. Diantara keturunan Arya Jipang adalah Para Pendekar Pituan Pitulung (Pitung).

Kembalinya Sunda Kelapa ke Pangkuan Umat Islam ternyata tidak dilakukan dengan perang seperti yang ditulis oleh sejarawan Portugis atau beberapa hikayah yang tidak jelas, karena walaupun saat itu sudah banyak tentara Demak yang mendekat di Marunda  Kelapa, namun karena perintah Sultan Trenggono agar semua pasukan menahan diri untuk tidak berperang demi menghormati Ibadah Puasa Ramadhan, semua pasukan Islam sepakat menunggu momentum yang tepat, dan momentum itu terjadi pada malam Takbiran atau tanggal 1 Syawal 933 Hijriah atau 1 juli 1527 Masehi, Sunda Kelapa berhasil dikuasai kembali dengan jalan damai berkat kesepakatan antara Penguasanya dan fihak Kesultanan Demak. Bahkan saat itu untuk membuktikan bahwa Sunda Kelapa dikuasai dengan damai Maulana Hasanuddin Banten sudah lebih dahulu masuk dan mengadakan misi diplomasi damai. Tidak lama sesudah dikuasainya Sunda Kelapa secara damai, Portugis yang terlambat mendengar berita bahwa Sunda Kelapa sudah kembali kepangkuan umat islam, telah mendekat di Pelabuhan Jayapati, dan bersamaan dengan itulah Pasukan Fattahillah yang sudah kuat di Sunda Kelapa menyerbu dan berhasil menenggelamkan sebagian kapal perang Portugis, sebagian pasukan Portugis yang sudah mendarat langsung di serang, hingga mengakibatkan kepanikan luar biasa pada fihak Portugis. Sehingga menyebabkan mereka mundur ke Malaka. Kekalahan memalukan mereka ini, sampai sekarang tidak pernah tercatat dalam Sejarah Portugis, bahkan kebencian terhadap Islam dan juga terhadap Fattahillah semakin membekas pada diri bangsa yang mengaku pada saat itu sebagai negara terkuat di dunia dalam bidang militer dan kelautanan. Namun saksi adanya perang antara Portugis dan Pasukan Mujahidin Kesultanan Demak masih bisa kita lihat di Museum Kraton Kesepuhan Cirebon yang didalamnya banyak terdapat baju perang Portugis dan Meriam.

Kemenangan 1 Syawal 933 Hijriah ditambah kemenangan terhadap Portugis menyebabkan Kesultanan Demak, Walisongo dan Kesultanan lain menjadi bangga, karena misi Portugis di Sunda Kelapa berhasil dipatahkan oleh Pasukan Jihad Islam dibawah pimpinan Fattahillah. Dan sejak tanggal 1 Syawal 933 Hijriah itulah Sunda Kelapa dirubah namanya menjadi Negeri Fathan Mubina dan kemudian berkembang dengan nama “Pemerintahan Hikmah Jumhuriyah Jayakarta” dengan asaz Islam yang dianut keluarga besar Walisongo dan Kesultanan Islam Demak Bintoro yaitu Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

Kemenangan 1 Syawal 993 Hijriah adalah kemenangan murni umat Islam tanpa dilalui dengan peperangan, Sunda Kelapa kembali kepangkuan Umat Islam berkat perjuangan suci para mujahidin yang tidak saja berasal dari Kesultanan Demak, tapi disana banyak Mujahidin dari Banten, Cirebon, Ternate, Pasai, Bahkan dari Malaka yang ikut bergabung demi mematahkan ambisi Portugis yang akan melanjutkan misi perang salib mereka di Asia Tenggara sesuai dengan adanya perjanjian Tardesillas.

Sumber :

Al-Allamah KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, Kitab Al-Fatawi-Silsilatul Syar’i, Palembang : 1910.
Iwan Mahmud Al Fattah, Fattahillah Mujahid Agung Pendiri Kota Jayakarta, Jakarta : Madawis, 2014.
Gunawan Mertakusuma, Wangsa Aria Jipang Di Jayakarta, Jakarta : Penerbit Agapress, 1986.
Gunawan Mertakusuma, Tafsir Kitab Al Fatawi, Jakarta : Al Fatawi, 1981.
Yosef Iskandar, Sejarah Jawa Barat, Bandung, CV Geger Sunten, 1997.

BERDIRINYA NEGERI ISLAM FATHAN MUBHINA (JAYAKARTA) DI SUNDA KELAPA, 1 SYAWAL 933 HIJRIAH

“Materi yang kami garis miringi, semua dikutif dari Kitab Al Fatawi)

1521 – 1522.

Pada waktu negeri sunda kelapa menyertakan dirinya berperang bersama armada Pati Unus  dari Kesultanan Demak. Negeri Sunda Kelapa berada dalam kepemimpinan Raja Alhamid Al Majid (Saka Danda Rama), didampingi Patih Panglima Fathullah Khan, Putra dari Sultan Zulkifli Majid dari Kesultanan Aru Barumun Pasai.

Dengan kekalahan dari Armada Paringgi (Portugis) yang diperangi Armada Bintara Demak dibawah pimpinan Al Haj Fattahillah yang  pada waktu itu menyerang Paringgi di Pasai, keadaan Sunda Kelapa  sangat lemah, sebab Sultan Pati Unus mengalami kekalahan, Fattahillah kemudian berlayar ke mesir.

Paringgi (portugis) kemudian memasuki Pelabuhan Jayapati (kini menjadi pelabuhan Pasar Ikan) Sunda Kelapa, jadi tidak di pelabuhan Marunda Jakarta Utara.

Paringgi dan Pajajaran dibawah pimpinan Adipati Singa Menggala bin Prabu Surawisesa Kemudian mengadakan perjanjian di pelabuhan Jayapati ditahun 1522.

Angkatan Perang Sunda Kelapa sempat melakukan penyerangan dibawah pimpinan Panglima Fathullan Khan dilautan. Namun kemudian Bala tentara Pajajaran menyerang balik Keraton Sunda Kelapa di Marunda sehingga mengakibatkan tewasnya Raja Sunda Kelapa dan juga menyebabkan Sunda Kelapa menjadi tidak aman dan tidak kuat.

Keraton Sunda Kelapa di Marunda dapat dimasuki bala tentara Pajajaran dibawah pimpinan Singa Menggala bin Prabu Surawisesa dari Kerajaan Pajajaran.

Agar Supaya Keraton dan rakyat tidak mengalami kerusakan maka gusti Ratu Surya Nara telah mengambil keputusan dan untuk menghindarkan malapetaka telah mengadakan musyawarah antara fihak Sunda Kelapa dan fihak Pajajaran.
Akhirnya Kesepakatan dapat dicapai yang berisi :

 1. Gusti Ratu Suryanara tetap menjadi Raja di Sunda Kelapa yang menggantikan ayahandanya dan bersedia menjadi istri dari Singa Menggala.
 2. Singa Menggala bin Prabu Surawisesa menjadi Adipati Pajajaran di Sunda Kelapa.

Dengan demikian kedudukan Sunda Kelapa masa itu raja bawahan dari Pajajaran.

Sesudah Sunda Kelapa Jatuh dan Pajajaran mempunyai Raja Bawahan yang adipatinya adalah Singa Menggala bin Prabu Surawisesa.

Penguasaan Pajajaran terhadap Sunda Kelapa menyebabkan beberapa keluarga bangsawan Sunda Kelapa yang Islam menyingkir ke Cirebon dan Demak, termasuk keluarga besar Kesultanan Aru Barumun Pasai yang sudah lama menetap di Sunda Kelapa untuk menyusun kembali kekuatan dalam merebut Sunda Kelapa.

1526 – 1527

Pada Periode ini Sultan Bintoro Demak saat itu (Sultan Trenggono) terutama pada bulan Sya’ban 933 Hijriah memerintahkan Fattahillah dan pasukan Mujahidin untuk kembali lagi ke negeri Sunda Kelapa, karena mendengar Portugis atau Paringgi akan masuk berlabuh. Namun demi untuk menghormati Bulan Puasa dan ibadah ramadhan, Sultan Trenggono pada bulan Sya’ban kemudian memulangkan terlebih dahulu para Panglima, hulu balang dan tamtamanya ke daerahnya masing-masing. Sultan Trenggono melarang keras semua fihak melakukan huru hara dan membuat keributan.

Kemudian sesudah puasa semua harus masuk kembali ke keraton Sunda Kelapa tepatnya di Marunda Jakarta Utara (Marunda Kalapa). Maka sesudah satu bulan Bala Tentara Kesultanan Demak Bintoro berada di Marunda Kalapa dan sesudah ibadah puasa Ramadhan, bala tentara Armada Bintara Demak memasuki Istana atau Keraton  Ratu Gusti Surya Nara Kalapa pada malam Takbiran.

Pada malam Takbiran itu, Gusti Ratu Surya Nara sudah duduk bersama tamunya termasuk Maulana Hasanuddin Banten.
Maka Pada Bakda Subuh tepatnya tanggal 1 Syawal 993 Hijriah, Gusti Ratu Surya Nara menyerahkan kekuasaan negeri Marunda Kelapa kepada Panglima Al Haj Fattahillah beserta kekuasaan pemerintahannya.

“Tafsir Sejarah Dari Kitab Al Fatawi”

Penjelasan Kitab Al Fatawi yang disusun oleh Al Allamah KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma ini telah menjelaskan secara tegas bahwa Sunda Kelapa telah menjadi wilayah Islam sebelum kekuasaanya direbut oleh Kerajaan Pajajaran dibawah pimpinan Singa Menggala. Untuk memperkuat fakta tersebut Sunda Kelapa bahkan pernah terlibat perang dalam melawan Portugis di Malaka. Itu artinya Sunda Kelapa sebelum tahun 1521 masehi adalah sekutu terkuat dari Kesultanan Demak, khususnya pada masa Sultan Muhammad Yunus (Pati Unus 1) bin Raden Fattah serta Senopatinya yang terkenal yaitu Raden Abdul Qodir bin Muhammad Yunus (Pati Unus 2). Sedangkan perang di Malaka yang menyebabkan kekalahan pertama terjadi tahun 1513 dan terakhir tahun yang menyebabkan syahidnya Pati Unus 2 di Malaka tahun yaitu 1521 Masehi (sayangnya tahun 1521 jarang diungkap). Setelah kekalahan ini Kerajaan Pajajaran yang telah mendengar kekalahan Demak yang kedua kalinya, mengambil momentum dengan merebut Sunda Kelapa dan menjadikan tanah jajahan. Direbutnya Sunda Kelapa karena daerah ini dianggap penting karena merupakan daerah penghasil merica terbesar saat itu dan juga merupakan pelabuhan penting antara Sumatra dan Sunda. Sehingga dengan menguasai daerah Sunda Kelapa, Pajajaran bisa meningkatkan perekonomiannya serta bisa memutus mata rantai hubungan Sunda Kelapa  dengan Kesultanan Demak dan khususnya Kesultanan Aru Barumun Pasai yang saat itu bangsawannnya banyak terdapat di Sunda Kelapa.  Di samping itu dengan menguasai Sunda Kelapa, mereka ingin merubah image mereka sebagai negara yang tangguh hanya di daratan saja. Dan ini kemudian mereka realisasikan ketika pada bulan Agustus tahun 1522,  mereka membuat perjanjian dengan fihak portugis di Pelabuhan Jayapati (Jagpad) yang kini menjadi Pelabuhan Pasar Ikan dan itu diabadikan dengan adanya Prasasti Padrao. Begitu kuatnya hubungan Pajajaran Dan fihak Portugis, bahkan Portugis sempat pula mendatangi dan hadiri di Pajajaran ketika Prabu Surawisesa dilantik menjadi Raja Pajajaran.

Dikuasainya Sunda Kelapa oleh Pajajaran menyebabkan banyak fihak hijrah yang diantaranya adalah Fattahillah. Dari Fattahillah Kesultanan Demak tahu bagaimana sebenarnya kondisi Sunda Kelapa, sehingga Sultan Trenggono yang sangat perhatian terhadap perkembangan dakwah Islam di Jawa dan Sunda memutuskan untuk kembali menguasai Sunda Kelapa dalam rangka menegakkan kembali Islam yang sudah ditanam keluarga Pasai terutama dari Kesultanan Aru Barumun yang juga berkerabat dengan Fattahillah. Selama beberapa tahun Fattahillah terus mengadakan persiapan untuk menguasai kembali Sunda Kelapa. Tentu Fattahillah akan berfikir bagaimana menguasai Kembali Sunda Kelapa tanpa harus terjadi pertempuran, mengingat Sunda Kelapa yang sebagian masyarakatnya sudah Islam dan juga masih dipegang oleh satu kerabat beliau yaitu Gusti Ratu Surya Nara.

Sudah tentu Fattahillah juga membutuhkan bantuan Sunda Kelapa untuk menghalang masuk Portugis yang sudah mendekat di Banten pada tahun 1526 tepatnya akhir bulan Desember.

Dari tahun 1521 s/d 1527 Sunda Kelapa dikuasai oleh Gusti Ratu Surya Nara bin Sultan Alhamid Majid yang mempunyai nama laqob Sansekerta yaitu Saka Danda Rama. Pasca kekalahan Sunda Kelapa Gusti Ratu Surya Nara memutuskan menikah dengan Singa Menggala. Fakta ini membuktikan jika Singa Menggala sudah masuk Islam, karena Gusti Ratu Surya Nara adalah muslimah yang taat dan leluhurnya berasal dari Pasai yang terkenal akan keislamannya. Gusti Ratu Surya Nara adalah wanita yang lebih mementingkan rakyat ketimbang kekuasaanya. Tentu dengan bersedianya beliau menikah dengan Singa Menggala, karena beliau mempunyai strategi dakwah Islam yang cerdik dalam menghadapi Pajajaran, mengingat Pajajaran adalah sebuah Kerajaan Besar di Sunda bahkan dapat dikatakan sebanding dengan Majapahit, apalagi seperti yang kita tahu Islamisasi di Keraton Pajajaran itu sebenarnya sudah lama terjadi, hanya saja masih belum banyak dikaji oleh Sejarawan. Gusti Ratu Suryanara tentu tidak ingin Islam yang sudah dibangun di Sunda Kelapa kembali menjadi nol, apalagi akar keislaman di Sunda Kelapa belum sebaik di daerah lain. Singa Menggala sebagai seorang Kesatria Pajajaran ketika mendapatkan penawaran untuk menikah dengan Gusti Ratu Surya Nara tentu menyambutnya dengan positif, mengingat juga fihak Sunda Kelapa sudah menyatakan tahluk, apalagi dalam sejarah Jayakarta, Singa Menggala ini terkenal kooperatif terhadap Islam, dan ini dibuktikanya ketika beliau menikahkan anaknya yang bernama Ratu Ayu Jati Balabar  dengan Cucu Raden Fattah yang bernama Arya Jipang atau Aria Penangsang dari Jipang Panolan, dan kelak keturunan Arya Jipang di Jayakarta dari jalur Ratu Ayu Jati Balabar bin Singa Menggala akab banyak yang meneruskan jejak langkahnya. Diantara keturunan Arya Jipang adalah Para Pendekar Pituan Pitulung (Pitung).

Kembalinya Sunda Kelapa ke Pangkuan Umat Islam ternyata tidak dilakukan dengan perang seperti yang ditulis oleh sejarawan Portugis atau beberapa hikayah yang tidak jelas, karena walaupun saat itu sudah banyak tentara Demak yang mendekat di Marunda  Kelapa, namun karena perintah Sultan Trenggono agar semua pasukan menahan diri untuk tidak berperang demi menghormati Ibadah Puasa Ramadhan, semua pasukan Islam sepakat menunggu momentum yang tepat, dan momentum itu terjadi pada malam Takbiran atau tanggal 1 Syawal 933 Hijriah atau 1 juli 1527 Masehi, Sunda Kelapa berhasil dikuasai kembali dengan jalan damai berkat kesepakatan antara Penguasanya dan fihak Kesultanan Demak. Bahkan saat itu untuk membuktikan bahwa Sunda Kelapa dikuasai dengan damai Maulana Hasanuddin Banten sudah lebih dahulu masuk dan mengadakan misi diplomasi damai. Tidak lama sesudah dikuasainya Sunda Kelapa secara damai, Portugis yang terlambat mendengar berita bahwa Sunda Kelapa sudah kembali kepangkuan umat islam, telah mendekat di Pelabuhan Jayapati, dan bersamaan dengan itulah Pasukan Fattahillah yang sudah kuat di Sunda Kelapa menyerbu dan berhasil menenggelamkan sebagian kapal perang Portugis, sebagian pasukan Portugis yang sudah mendarat langsung di serang, hingga mengakibatkan kepanikan luar biasa pada fihak Portugis. Sehingga menyebabkan mereka mundur ke Malaka. Kekalahan memalukan mereka ini, sampai sekarang tidak pernah tercatat dalam Sejarah Portugis, bahkan kebencian terhadap Islam dan juga terhadap Fattahillah semakin membekas pada diri bangsa yang mengaku pada saat itu sebagai negara terkuat di dunia dalam bidang militer dan kelautanan. Namun saksi adanya perang antara Portugis dan Pasukan Mujahidin Kesultanan Demak masih bisa kita lihat di Museum Kraton Kesepuhan Cirebon yang didalamnya banyak terdapat baju perang Portugis dan Meriam.

Kemenangan 1 Syawal 933 Hijriah ditambah kemenangan terhadap Portugis menyebabkan Kesultanan Demak, Walisongo dan Kesultanan lain menjadi bangga, karena misi Portugis di Sunda Kelapa berhasil dipatahkan oleh Pasukan Jihad Islam dibawah pimpinan Fattahillah. Dan sejak tanggal 1 Syawal 933 Hijriah itulah Sunda Kelapa dirubah namanya menjadi Negeri Fathan Mubina dan kemudian berkembang dengan nama “Pemerintahan Hikmah Jumhuriyah Jayakarta” dengan asaz Islam yang dianut keluarga besar Walisongo dan Kesultanan Islam Demak Bintoro yaitu Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

Kemenangan 1 Syawal 993 Hijriah adalah kemenangan murni umat Islam tanpa dilalui dengan peperangan, Sunda Kelapa kembali kepangkuan Umat Islam berkat perjuangan suci para mujahidin yang tidak saja berasal dari Kesultanan Demak, tapi disana banyak Mujahidin dari Banten, Cirebon, Ternate, Pasai, Bahkan dari Malaka yang ikut bergabung demi mematahkan ambisi Portugis yang akan melanjutkan misi perang salib mereka di Asia Tenggara sesuai dengan adanya perjanjian Tardesillas.

Sumber :

Al-Allamah KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, Kitab Al-Fatawi-Silsilatul Syar’i, Palembang : 1910.
Iwan Mahmud Al Fattah, Fattahillah Mujahid Agung Pendiri Kota Jayakarta, Jakarta : Madawis, 2014.
Gunawan Mertakusuma, Wangsa Aria Jipang Di Jayakarta, Jakarta : Penerbit Agapress, 1986.
Gunawan Mertakusuma, Tafsir Kitab Al Fatawi, Jakarta : Al Fatawi, 1981.
Yosef Iskandar, Sejarah Jawa Barat, Bandung, CV Geger Sunten, 1997.

Kamis, 04 Juni 2015

WASIAT, NASEHAT DAN AJARAN ARIA JIPANG KEPADA RAKYAT JAYAKARTA (1540 - 1546)

WASIAT ARIA JIPANG KEPADA RAKYAT JAYAKARTA
  1. Tidak Pemarah
  2. Tidak Banyak Bicara
  3. Adil Dan Bijaksana
  4. Menurunkan sesuatu yang baik
  5. Budi Pekerti Terpuji Dan Jujur
  6. Menghindarkan diri dari segala macam pertengkaran
  7. Berpendirian Teguh
  8. Membela siapa yang wajib di bela
NASEHAT DAN AJARAN ARIA JIPANG
  1. Sebarkan Ajaran Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
  2. Turuti perilaku Walisongo, diantaranya puasa untuk menahan hawa nafsu, karena hawa nafsu lebih banyak batilnya.
  3. Laksanakan Perintah Guru Ratu Pangatur Akur (Pemelihara Kedamaian).
  4. Laksanakan Wasiat Al Haj Fattahillah.
  5. Bela Hak Bagi Warga Kaum (Rakyat pribumi).
  6. Panggilah dia dengan kedudukannya.
  7. Sabar Menerima Cobaan.
Sumber :

KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, Kitab Al Fatawi (Silsilatul Syar’i), Palembang: Penerbit Majelis Adat Al Fatawi Jayakarta, 1910, hlm 54.

Keterangan :

Aria Jipang nama lainnya adalah Aria Penangsang (Sayyid Husein) bin Pangeran Sekar Seda Lepen (Sayyid Ali) bin Raden Fattah (Sayyid Hasan), beliau pada tahun 1540 Masehi pernah menjadi Mangkubumi pada pemerintahan Hikmah Jumhuriah Jayakarta yang dipimpin Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Pada masa Aria Jipang ini Jayakarta mengalami puncak kejayaan. Islam berkembang dengan pesat diberbagai wilayah Jayakarta. Islam yang berkembang adalah Islamnya Walisongo dan Kesultanan Demak yang menganut faham Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Ketika itu Maulana Hasanuddin menjabat sebagai Pangeran Ratu Jayakarta Yang Pertama. Maulana Hasanuddin menjabat dari tahun 1527 s/d 1552 M. Di tahun 1552 Masehi  Maulana Hasanuddin Banten diangkat menjadi Sultan Banten Pertama dan bersamaan dengan itu Banten juga memerdekakan diri dan independen dari Kesultanan Demak.

Keberadaan Aria Jipang di Jayakarta adalah atas mandat dari  Majelis Dakwah Walisongo dan Kesultanan Demak untuk mendampingi Fattahillah dan Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati/Syekh Syarif Hidayatullah dalam membangun kota Jayakarta yang kini bernama Jakarta. Jayakarta pada waktu membutuhkan orang-orang yang ahli dalam bidang pemerintahan dan juga militer. Dari sekian banyak putera-putera Kesultanan Demak, Sultan Trenggono/Sultan Demak III mempercayakan keponakan tercintanya nya itu untuk membenahi wilayah Jayakarta.  

Pasca dilantiknya Maulana Hasanuddin Banten menjadi Sultan, negeri Jayakarta menjadi wilayah kekuasaan Banten. Namun hubungan antara keturunan Banten dan keturunan Demak masih tetap terjalin dengan baik. Pengganti selanjutnya dari Maulana Hasanuddin adalah Pangeran Wijayakusuma dengan gelar Pangeran Wijayakrama yang makamnya ada di jalan raya Tubagus Angke. Keberadaan keluarga Demak tidak berhenti sekalipun Aria Penangsang telah hijrah ke Palembang untuk memperdalam dunia “makrifatnya”. Keturunan Aria Jipang atau Aria Penangsang bersama dengan keturunan Banten, Demak, Mataram bahu membahu dalam melakukan perjuangan melawan penjajah Portugis, Belanda.

Sampai saat ini beberapa keturunan Aria Jipang telah ikut mewarnai perjalanan kota Jayakarta, seperti Raden Ateng Kertadria (Pahlawan Perang Pecah Kulit),  Pangeran Papak (Pangeran Ahmad Muhammad/Wangsa Muhammad, hijrah ke Garut karena dikejar Belanda) Aria Wiratanudatar (hijrah karena dikejar Belanda ke Cianjur dan kemudian menjadi Adipati Cianjur), Datuk Kidam Kayu Putih (Pendiri Pondok Pesantren di Kayu Putih Jakarta Timur),  Syekh Junaid Al Batawi (Maha Guru Ulama Mekkah), Syekh Mujtaba Al Batawi (Ulama Betawi Karismatik), Syekh Abdul Ghoni Mertakusuma (Mufti Betawi Pertama), Guru Mansur (Ahli Falak Betawi), KH Ahmad Syar’i Mertakusuma (pencatat Sejarah Jayakarta), Pendekar Pituan Pitulung (Pendekar Pitung). semua ini tercatat di dalam kitab Al Fatawi dan Al Mausuuah Li Ansabi Al-Imam Al-Husaini.

KRONOLOGIS MUNCULNYA KOTA JAYAKARTA (Cikal Bakal Lahirnya Kota Jakarta, 1 Juli 1527 M / 1 Syawal 933 H, Sening Pahing)

1. Fattahillah (Wong Agung Jepara) menyerahkan kekuasaan wilayah Jepara kepada Ratu Kalinyamat di tahun 1526 Masehi, guna persiapan menghadapi Portugis di Sunda Kelapa. 
2. 12 Rabiul Awal 933 Hijriah Perayaan Maulid Nabi di Kesultanan Demak dirayakan secara besar-besaran untuk mengangkat moral dan semangat jihad Pasukan Demak dalam rangka menghadapi Portugis di Sunda Kelapa.
3. Akhir Rabiul Awal 933 Hijriah (sekitar tanggal 3 atau 4 Januari 1527 Masehi), Pasukan Fattahillah masuk bersama Pasukan Jihadnya kewilayah Banten yang belum Islam dan berhasil gerakan Islamisasi dan kemudian melakukan penggabungan pasukan dari Banten, Demak dan Cirebon.
4. Dari wilayah Banten kemudian pasukan Fattahillah segera  bergerak cepat untuk mendahului Portugis melalui jalur pesisir dan darat menuju Sunda Kelapa dan ketika tiba di Sunda Kelapa, kedatangan Fattahillah disambut oleh penguasa Sunda Kelapa dengan baik dan kemudian terjadi penyerahakn kekuasaan secara damai. setelah itu Fattahillah kemudian membagi beberapa kapalnya di Pelabuhan Marunda, Pelabuhan Pasar Ikan (Jagapati/Jagpad) dan kepulauan seribu untuk menghadang laju kedatangan Portugis.
5. Akhir Ramadhan 933 Hijriah atau sekitar tanggal 28 atau 29 Juni 1527 pecah pertempuran antara Pasukan Portugis yang dipimpin D Coelho melawan pasukan Fattahillah. Colhoe dan armadanya tidak menyangka jika Sunda Kelapa sudah jatuh ke tangan Pasukan Fattahillah.
6. Kemenangan diraih Fattahillah pada akhir Ramadhan 933 Hijriah, pasukan Portugis yang terjebak di perairan dangkal berhasil dipukul mundur secara telak, Pasukan Portugis kemudian kembali ke Malaka.dan kemudian Bulan September 1527 Frasesco De Sa mengirim surat kepada rajanya jika misi mereka di Sunda Kelapa Gagal, namun anehnya tidak disebutkan alasannya.
7. Bersamaan Malam Takbiran, setelah Sholat Tahajud Fattahillah mendapat Ilham agar Sunda Kelapa dirubah namanya menjadi Fathan Mubina persis sama seperti keberhasilan &  kemenangan kaum muslimin dalam perjanjian Hudaibiyah pada masa Rasulullah SAW
8. Fattahillah memproklamirkan negeri Fathan Mubina pada tanggal 1 Syawal 933 Hijriah atau tanggal 1 Juli 1527 Masehi bertepatan dengan Hari Raya Idul pertama di Sunda Kelapa dihadapan Rakyat Sunda Kelapa dan pasukan Jihad gabungan. Sejak itu secara resmi Jayakarta berdiri.
9. Fathan Mubina dikonversikan kedalam bahasa lokal menjadi Jayakarta untuk menghormati Budaya Nusantara pada tanggal yang sama 1 Juli 1527 Masehi.
10. Fattahillah menyatakan bahwa Jayakarta didirikan dengan nama "PEMERINTAHAN HIKMAH JUMHURIYAH JAYAKARTA" dibawah pengawasan Majelis Dakwah Walisongo di Kesultanan Demak.   
11. Jayakarta berdiri pada tanggal 1 Syawal 933 Hijriah atau 1 Juli 1527 Masehi dengan Adipati Pertamanya yang bernama Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati sampai tahun 1550 Masehi.
12. Fattahillah menjadi penasehat pemerintahan penting bagi Pemerintahan Hikmah Jumhuriyah sambil bolak balik Cirebon-Banten Dan Demak.
13. Aria Jipang wakil dari Kesultanan Demak masuk di tahun 1540 M untuk menjadi Mangkubumi pada pemerintahan Hikmah Jumhuriyah Jayakarta mendampingi Maulana Hasanuddin. 
14. Sultan Trenggono sebagai pelindung Wilayah Jayakarta wafat syahid  tahun 1546 Masehi di Panarukan Jawa Timur.
15. Maulana Hasanuddin menjadi Sultan banten pertama di tahun 1552 dan sejak saat itu Jayakarta menjadi milik Banten dengan opsi otonomi khusus, sehingga dalam pemerintahannya Jayakarta bisa menentukan keputusan sendiri terutama dalam masalah adat, agama, dan hukum.
16. Jayakarta terus berkembang hingga akhirnya dikuasai oleh JP COEN tahun 1619 Masehi.
17. Keluarga besar Jayakarta menyingkir, ada yang ke Jatinegara Kaum Jakarta Timur, ada yang ke Jelambar Jakarta Barat (Kampung Gusti), ada yang ke Rawa Belong, Slipi, Rawa Sari, Cengkareng, Pekojan, Sawah Lio, dll, namun semua tetap masih berkoordinasi melakukan perlawanan dengan nama Perlawanan Mujahidin Jayakarta.
18. Nama Batavia tidak pernah diakui oleh para pejuang Jayakarta hingga Indonesia Merdeka....
19, Jakarta muncul setelah kemerdekaan RI
20. Ulang Tahun Jakarta ditetapkan pada tanggal 22 Juni oleh Pemerintah...

Sumber : 

KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma, Kitab Al-Fatawi, Palembang : Majelis Adat Al Fatawi Jayakarta, 1910.
Gunawan Mertakusuma, Wangsa Aria Jipang, Jakarta: Agapress, 1986.
Yosef Iskandar, Sejarah Jawa Barat,  Bandung : Geger Sunten, 1997.

KRONOLOGIS SEJARAH PERJALANAN KITAB AL FATAWI, KITAB SEJARAH DAN SILSILAH JAYAKARTA

Bicara sejarah Jayakarta, seolah tidak habisnya, apalagi bila sumber yang kita dapati berasal dari sumber asli. Sumber asli yang dimaksud disini para keturunan Jayakarta.  Adapun jika melihat sumber yang ditulis oleh beberapa sejarawan kolonial belanda ataupun portugis, terus terang sampai saat ini kami belum merasa terpuaskan. Dengan posisi mereka yang merupakan bagian dari penjajah, tentu setiap tulisan yang mereka buat pasti ada unsur subyektifitasnya. Kami bukannya anti, namun untuk memakai data mereka 100 % rasanya perlu dipertimbangkan kembali. Kami yakin sikap Eropa sentris pada diri mereka pasti tertanam kuat. Oleh karena itu sejak beberapa tahun yang lalu kami secara marathon mencoba melacak dan mencari sumber sumber sejarah yang berasal dari bangsa sendiri, kami sangat percaya jika Jayakarta yang merupakan daerah penting bagi Indonesia menyimpan banyak sejarah aslinya, hanya saja tinggal kita yang harus mencarinya. Adanya data sejarah asli milik bangsa ini tentu nanti bisa mengimbangi dan juga bisa meluruskan penyimpangan-penyimpangan sejarah yang dilakukan ilmuwan-ilmuwan yang berasal dari Kaum Penjajah. Namun demikian kamipun tidak memaksa kepada fihak yang membaca tulisan ini untuk ikut alur pikiran kami, tapi satu hal, yang namanya kebenaran dan kejujuran dalam sebuah pengungkapan fakta dan data sejarah perlu ditegakkan.

Alhamdulillah selama proses pencarian kami mengenai data-data sejarah Jayakarta dan Betawi, kami banyak memperoleh kemudahan, Allah memudahkan langkah ini dalam mencari “harta karun” data sejarah Jayakarta.

Salah satu data sejarah Jayakarta yang cukup membuat kami takjub mengenai Jayakarta adalah ketika kami mendapati sebuah KITAB yang ditulis seorang ulama keturunan Jayakarta asli. Kenapa kami begitu takjub dengan kitab ini?, karena kitab ini ditulis dengan Bahasa Arab Melayu Gundul, kemudian hurup-hurup yang ditulis sangat rapi dan indah, serta urutan penulisannyapun ternyata sangat kronologis.  Dan yang juga lebih membuat kami kagum, data-data yang ada di kitab ini cukup lengkap mengenai sejarah perjuangan para Mujahidin Jayakarta serta adanya tentang penulisan ADAT ISTIADAT JAYAKARTA, IDIOLOGI JAYAKARTA, STRATEGI PERTAHANAN JAYAKARTA DAN JUGA PETA-PETA TENTANG WILAYAH JAYAKARTA DULU.

Jelas yang menulis kitab ini bukanlah orang sembarangan, tentu ia adalah ULAMA PLUS. Terus terang sejak dulu kami paling percaya kalau tulisan sejarah itu berasal dari ulama, sebab biasanya mereka para ulama yang mampu menguraikan sejarah dan juga  ilmu nasab (Ilmu yang mempelajari garis keturunan) selalu menjaga mata rantai keilmuan yang sambung menyambung dengan ulama ulama terdahulu. Biasanya disamping pengetahuannya mendalam tentang sejarah dan nasab mereka juga rata-rata mampu mengurai semua itu melalui tulisan atau tutur (lisan). Ulama-ulama yang seperti inilah yang biasanya paling ditakuti penjajah, karena penjajah tahu, ulama dengan tipe seperti ini tahu betul ‘URUSAN DAPUR” Penjajah. Tidak heran ulama-ulama seperti Syekh Nawawi Al Bantani, Mbah Kholil Bangkalan, KH Ahmad Syar’i Mertakusuma, KH Hasyim Asy’ari, KH Muhammad Dahlan, KH Noer Ali,dll sering diburu dan dicurigai oleh Penjajah. Khusus untuk KH Ahmad Syar’I Mertakusuma, beliau bahkan sepanjang hidupnya terus diburu Penjajah, KH Ahmad Syar’I bahkan pernah divonis hukuman mati berupa HUKUMAN GANTUNG DI KARAWANG tahun 1926 Masehi. Melalui tulisan beliaulah akhirnya sejarah KITAB AL FATAWI  bias kami tahu. Oleh karena untuk mengetahui bagaimana sebenarnya proses panjang perjalanan kitab AL FATAWI sampai kepada masa KH AHMAD SYARI MERTAKUSUMA itu, kam iakan menguraikan dari catatatan beliau dan juga yang berasal anak dan cucunya.

BIsmillahirrohmanirrahim…..

Orang yang pertama kali membuat KITAB AL FATAWI adalah KI MEONG TUNTU/DATUK MEONG TUNTU.

Siapakah beliau ini ?

Ki MEONG TUNTU adalah adik dari Raja Syah Khan Mahmud Majidilah. Adapun RAJA SYAH KHAN MAHMUD MAJIDILAH ini juga merupakan adik dari SULTAN KARIM MUKJI dari Kesultanan Pasai (didalam sejarah Aceh, Sultan Karim Mukji adalah SULTAN KE 11 DARI DINASTI BATAK GAYO DI KESULTANAN ARU BARUMUN). Artinya dari penjelasan ini KI MEONG TUNTU dan RAJA SYAH KHAN MAJIDILLAH merupakan keluarga besar dari KESULTANAN ARU BARUMUN yang dahulunya merupakan sebuah dinasti Islam yang cukup ternama di wilayah Pasai. Kenapa mereka yang dari Pasai bisa ada di Sunda Kelapa pada masa itu? Sebabnya adalah pada masa itu antara Pasai, Demak, dan Cirebon sudah menjalin hubungan komunikasi. Pasca Jatuhnya Pasai oleh Malaka, maka hubungan yang paling mudah ditempuh adalah Palembang dan Sunda Kelapa. Sultan Barumun yang ke X yang bernama  SULTAN ZULKIFLI MAJID telah melakukan hubungan silaturahim yang kuat dengan fihak Kerajaan Sunda Kelapa. Setelah beliau wafat hubungan itu diteruskan oleh putra penggantinya yang bernama  SULTAN KARIM MUKJI.

Sekalipun seorang muslim tetapi nama asli KI MEONG TUNTU tidak begitu dikenal. Sepertinya ini adalah sebuah kesengajaan dari diri beliau karena berbagai factor. KI MEONG TUNTU inilah  orang pertama membuat kitab sejarah dengan memakai huruf WESIG. Penulisan yang dilakukan beliau pada masa itu sudah memakai bahasa melayu dicampur dengan bahasa SUNDA BUHUN (semacam bahasanya orang RAWAYAN/BADUY di Pandeglang.
Setelah Ki Meong Tuntu tidak ada, posisi dan kedudukannya digantikan oleh DATUK SYAH SYARIF FADHILAH KHAN dengan gelar KERTAWIWEKA NEGARA TAHUN 1530 Masehi. Hurufnya  tetap memakai WESIG dan bahasanya Melayu campur bahasa KARO (Melayu asli dari Kesultanan Haru Barumun Pasai Samudra).

Kitab itu kemudian dikerjakan oleh Syah Fadhilah Khan sampai pada masanya Maulana Hasanuddin yang menjadi Pangeran Ratu yang pertama di Jayakarta,  Dikarenakan Maulana Hasanuddin menjadi Sultan Banten, maka kedudukan seorang MUSHONAF (Pencatat Sejarah) diserahkan kepada KI MAS WISESA ADIMERTA Pada tahun 1580 Masehi. MUSHONAF KI MAS WISESA ADIMERTA inipun belum lagi mempergunakan huruf Arab/AlQuran. Beliau telah memperkenalkan huru JAWA KUNO, oleh karena beliau tidak bisa menulis dengan hururf wesig, maka bahasa penulisan yang dibuat mempergunakan Bahasa Jawa Mataram (tidak memakai aliran O dan masih bersahaja seperti bahasa SUNDA BANYUMAS.

Setelah era Ki Mas Wisesa Adimerta  seluruh lembaran/catatan itu telah dikumpulkan oleh Pangeran Mertakusuma yang telah menjabat sebagai Pangeran Adiningrat yang 4 di Jayakarta. Naskah-naskah itu terdiri dari :
  1. Kulit Kerbau, kayu, tembikar (lempengan tanah liat yang dikeringkan) yang dibuat oleh Ki Meong Tuntu.
  2. Kulit Kerbau, Rotan, Kayu, dan Tulang-tulang Ikan, dibuat oleh Syah Fadhilah Khan
  3. Kulit Kerbau, Lontar, dan lempengan-lempengan tembaga, dibuat Ki Mas Wisesa Adimerta.
Oleh Pangeran Mertakusuma semua telah disalin kembali kedalam satu kitab besar yang diberi nama Kitab Al-Fatawi. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 7 Syawal 1036 Hijriah atau menurut  Bapak Parada Harahap (yang telah dimintakan keterangan oleh Ratu Bagus Abdul Majid Asmuni bin KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, pada tahun 1930an) jatuh pada tahun 1626 Masehi. Namun Pangeran Mertakusuma tidak menjadi mushonif. Beliau hanya menyalin naskah lama.

Sebelumnya kedudukan pencatatan Sejarah dilakukan oleh Raden Suryakawisa Adimerta Jayakarta pada tahun 1611 s/d 1625 Masehi.

Pada tahun 1680 Masehi proses pencatatan kitab Al Fatawi dilakukan Ratu Bagus Haji Abbas Mertakusuma

Pada tahun 1840 Masehi pencatatan dilakukan kembali oleh Ratu Bagus Bahsin Mertakusuma

Tahun 1870 Masehi pencatatan dilanjutkan oleh Ratu Bagus Arbain Mertakusuma

Pada tahun 1890 Masehi pencatatan dilakukan oleh Ratu Bagus Abdul Wahab Mertakusuma

Pada tahun 1910 Masehi semua naskah disalin ulang kembali oleh KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma setelah belajar langsung huruf khot (kaligrafi) kepada Guru Mansur Sawah Lio, sekaligus Guru Mansurlah yang menganjurkan agar semua kitab Al-Fatawi lama disusun ulang kembali dengan menggunakan Arab Melayu. Pada tahun yang sama KH Ahmad Syar'i Mertakusuma juga melakukan perjalanan napak tilas para pejuang dan Mujahidin Jayakarta sekaligus kembali mengumpulkan punti punti Jayakarta yang menyebar di Jayakarta untuk bersatu melawan penjajah.

Penyalinan huruf latin dilakukan pada tahun 1935 Masehi oleh putra KH Ahmad Syar’i Mertakusuma yang bernama Ratu Bagus Abdul Madjid Mertakusuma. Sedangkan KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma hijrah ke Palembang dan berada didalam lindungan para pejuang Palembang dan disana dikenal dengan nama BABE BETAWI. Segala urusan adat istiadat Jayakarta diwakilkan oleh Ratu Bagus Abdul Majid Mertakusuma.

Tahun tanggal 8 Rajab 1373  Hijriah (12 Maret 1954 Masehi), Jumat Kliwon bertempat di Masjid Al Ghoni Kampung Tanah Tinggi Kayu Putih Pulo Gadung Jakarta Timur, pukul 13.30 siang hari bakda sholat Jumat dengan disaksikan oleh Keluarga Kerabat dan Ahli Waris Syuhada Mujahidin Betuwe Jayakarta serta disaksikan oleh kerabat-kerabat Jayakarta yang datang dari wilayah Jabodetabek, Palembang, Garut, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kitab Al Fatawi yang asli diwariskan oleh salah satu cucu KH Ahmad Syar’i Mertakusuma yang bernama Babe Gunawan Mertakusuma.

Tahun 1968 Masehi Kitab Al Fatawi sempat diberikan ke Museum Jakarta, dan beberapa materi kitab Al Fatawi telah dikutif oleh  Drs. Sucipto dan Drs. Uka Candrasasmita untuk melengkapi  buku biografi Pahlawan-Pahlawan di Jakarta dengan Daftar Pustaka tersebut “Dikutif Dari Silsilah Syar’i”.
Tahun 1968 Pangdam V Jayakarta Dalam Ulang Tahunnya yang ke XVIII membuat sejarah lengkap tentang Jakarta yang berisikan Silsilah Batavia, Silsilah Pangeran Jayakarta dan juga buku ini mengutif isi dari kitab Al-Fatawi yaitu pada Bab Silsilatul Syar’i.

Tahun 1970 Keluar sebuah tulisan tentang Pangeran Pangeran Jayakarta Keturunan Ario Jipang yang ditulis oleh Gunawan Semaun Mertakusuma  yang mengambil kutipan dari kitab Al-Fatawi dan terdapat dibuku KADO BUKU BESAR ADAT IBU KOTA RI KE 442 DAN 443 Jakarta saat itu.

Tahun 1970 kitab Al-Fatawi kemudian dikembalikan kepada Ratu Bagus Gunawan Semaun Mertakusuma Oleh salah satu fihak Museum Jakarta yang peduli terhadap Budaya dan Sejarah Jayakarta, dikembalikan kitab tersebut karena menurut yang mengembalikannya telah mendapatkan pelecehan oleh salah seorang Pejabat Museum Jakarta, hingga akhirnya membuat tetua adat Jayakarta marah. Selanjutnya kejadian pelecehan itu dilaporkan kepada Majelis Warga  di Masjid Kumpi Kuntara  Kampung Bambu Larangan Cengkareng Jakarta Barat hingga menyebabkan warga Jayakarta resah.

Pada tahun 1971 Radin Muhammad Nur Karim Nitikusuma sebagai perwakilan Al-Fatawi menghadiri upacara Sekatenan Yogyakarta, dan kitab Al-Fatawi itu diperlihatkan kepada kerabat-kerabat Ngadiningratan Jogyakarta.

Tahun 1972 khususnya pada bulan April, Radin Muhammad Nur Nitikusuma telah mendapatkan Surat Kekancingan Darah  Dalem Dari Keraton Jogyakarta Adiningrat No. 3675/Tanggal 15 April 1972, surat itu berbahasa Jawa dan bertuliskan huruf Jawa. Adapun alasan dengan diterbitkannya surat keputusan itu adalah karena semua isi yang termaktub didalam kitab Al Fatawi adalah sesuai dengan silsilah yang dimiliki oleh kerabat Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Pada tahun 1972, bulan Juni bertepatan dengan ulang tahun kota Jakarta yang ke 445, keluarga besar Kaum Betawi dari rumpun Pangeran Wijayakusuma telah mengadakan “Pameran Benda-Benda Adat Kaum Betawi” bertempat di rumah Haji Mustafa jalan Daan Mogot di Aula Kantor Kelurahah Jelambar Jakarta Barat. Adapun yang dipamerkan adalah :
  1. Semua Kitab Al-Fatawi
  2. Berbagai Jenis Senjata Adat (Keris Penta/Keris Pangeran yang asli)
  3. Pakaian-Pakaian Adat
  4. Tumbal-tumbal Kaum Betawi yang disimpan di rumah keluarga Kampung Bambu Larangan
  5. Figura-figura Silsilah Dan Panji-Panji Jayakarta
Hasil Pameran ini mendapatkan apresiasi masyarakat Betawi pada waktu itu dan rencananya akan disiarkan di TVRI, namun tiba-tiba TVRI tidak jadi menayangkan dengan alasan ada fihak-fihak yang tidak ingin ditayangkan acara tersebut.

Pada tahun 1973 bulan Juni Keluarga Besar Kaum Betawi di Palembang serta beberapa daerah Provinsi lainnya meminta kembali kitab Al-Fatawi.

Pada tahun 1975 kembali dilakukan penyalinan kedalam bahasa latin oleh cucu KH Ahmad Syar’i Mertakusuma yang bernama Ratu Bagus Semaun Mertakusuma (Babe Semaun).

Pada tahun 1986 muncul buku Wangsa Aria Jipang Di Jayakarta yang banyak mengutif dari Kitab Al Fatawi dan disusun oleh Gunawan Mertakusuma dan telah mendapat sambutan dari Wakil Gubernur Haji Benyamin Ramto SE dari para tetua adat Betawi seperti  Haji Muhammad Aseni, Haji Effendi Yusuf, Firman Muntaco, Drs Asmawi Manaf,  Wakil Ketua DPRD DKI saat itu H.W. Salamoen dan H.Hikmatullah dan beberapa sesepuh Betawi lainnya.

Tahun 1992 Masehi Kitab Al-Fatawi dijadikan bahan tesis dan juga tulisan artikel oleh Prof. Dr. Yasmin Shihab Budayawan Betawi.

Tahun 2013 saya bertemu dengan Prof. Dr. Yasmin Shihab di kediaman beliau di wilayah Otista Jakarta Timur untuk konfirmasi kitab Al-Fatawi kemudian, saya diarahkan untuk menuju ke perpustakaan Setu Babakan, namun sayang saya tidak menemukan kitab tersebut.

Pertengahan tahun 2014 saya mendatangi kediaman Al-Marhum Babe Gunawan di Joglo Jakarta Barat dan  bertemu dengan cicit KH Ahmad Syar’i Mertakusuma dan beberapa waktu kemudian  kami berhasil menemukan kitab tersebut.

Awal 2015 Makam Penyusun Kitab Al Fatawi, KH Ahmad Syar’i Mertakusuma ditemukan di Palembang oleh Ustad Muhammad Ihsan dari Kesultanan Palembang Darussalam, sekaligus juga menemukan anak bungsu ari KH Ahmad Syar’i Mertakusuma yang sudah sepuh.

SUMBER :

Gunawan Mertakusuma, Catatan Catatan Perjalanan Hidup Gunawan Semaun Mertakusuma, Jakarta : Al-Fatawi, 1981.
Gunawan Mertakusuma, Intisari Kitab Al-Fatawi, Jakarta : Al-Fatawi, 1981.
Gunawan Mertakusuma, Wangsa Aria Jipang Di Jayakarta, Jakarta: Agapress, 1986.
Yasmine Shihab, Bangsawan Betawi, Tantangan Bagi Orang Luar, Jakarta : Thesis PhD, 1994. (atau lihat di Kees Grijns, Jakarta Batavia Esai Sosio Kultural, Jakarta : KITLV, 2007).
Hasil Perjalanan Tim Madawis & Kesultanan Palembang Di Palembang Dalam Rangka Mencari Jejak Makam Penulis Kitab Al-Fatawi Tahun 2014.
Wawancara dengan Bang Yu, Bang Indra, Bang Daeng yang merupakan cicit KH Ahmad Syar’i Mertakusuma .
Wawancara Dengan Prof. Dr. Yasmin Shihab dikediaman Beliau di Otista Jakarta Timur pada bulan Maret 2014 bakda sholat Asar.

PITUNG SAKTI ATAU KAROMAH?

Ketika saya menonton film Pitung yang diperankan Bang Dicky Zulkarnaen tahun 1972, ada sebuah adegan yang mengejutkan, karena ternyata Pitung disitu digambarkan memakai jimat yang isinya banyak terdapat rajah-rajah khusus, dan setelah jimatnya diambil, Pitung bisa ditewaskan oleh Kompeni. Namun berdasarkan riwayat dari Cicit KH Ahmad Syar'i Mertakusuma yang disampaikan kepada saya, semua anggota Pitung tidak ada yang memakai jimat, semua murni berjuang tanpa embel-embel jimat, dan mereka semua tidak sakti seperti yang digambarkan dalam film tersebut. Namun demikian mereka itu memang memperdalam ilmu bela diri asli Jayakarta, dan juga memperdalam Ilmu Thareqat kepada Haji Naipin Kebon Pala Tanah Abang.
Gambaran Pitung Sakti Mandraguna memang sengaja dihembuskan pemerintah Belanda karena mereka kesulitan untuk melacak jejak keberadaan Anggota Organisasi Perlawanan bentukan dari para sesepuh adat Jayakarta ini. Dengan menghembuskan isu ini, pemerintah belanda ingin menunjukkan diri bahwa mereka itu tidak lemah dimata rakyat karena kesaktian Pitung. Pemerintah Belanda ingin menutupi kelemahan intelijen mereka yang tidak mampu menangkap para anggota Pitung yang bertebaran di berbagai wilayah Jayakarta pada masa itu. Belanda tidak segan menyebarkan berita palsu dengan mengatakan bahwa Pitung telah tertangkap dalam kurun waktu 1890 - 1899 Masehi, padahal pada tahun tersebut adalah puncaknya perjuangan Anggota Pitung.
Bukti bahwa anggota Pitung adalah manusia biasa, pada tahun 1899 Masehi salah satu dedengkotnya yang bernama Ratu Bagus Roji'ih Nitikusuma mati syahid tertembak karena keberadaanya berhasil diendus berkat salah seorang penghianat. Kematinan Ji'ih sangat mengguncang Anggota Pitung yang lain, karena dialah yang jadi motor strategi dalam melawan Penjajah Belanda. Setelah itu di tahun 1905 Masehi salah satu pemimpinnya yang bernama Ratu Bagus Muhammad Ali Nitikusuma juga berhasil ditembak mati, dan setelah syahid, jenazahnya dimutilasi, sebagian tubuhnya dikubur di daerah bandengan, kini tempat itu jadi sebuah pabrik. belanda memperlakukan jenazah ratu bagus muhammad ali agar makamnya tidak diziarahi, karena makam orang besar bagi masyarakat betawi sangat dihormati. KH Ahmad Syar'i yang pada tahun 1905 masih bertemu dengan Ratu bagus Muhammad Ali jadi target selanjutnya, karena dia merupakan pencatat sejarah Jayakarta sekaligus tokoh penting dalam gerakan Pitung sehingga akhirnya dia menghilangkan diri dan pergi dari satu tempat ketempat lain bahkan sampai ke Aceh, Malaysia, Medan, Palembang, hingga pada tahun 1914 s/d 1926 bergerak dibawah tanah dan akhirnya tahun 1924 pecah pemberontakan ki dalang di tangerang.
Kelebihan anggota Pitung memang ada, namun itu bukan sakti seperti yang digambarkan dalam film Pitung tahun 1972. beberapa dari anggota Pitung memang ada yang merupakan ulama, ahli maen pukulan, ahli politik, dan juga penulis. Sangatlah aneh jika mengatakan Pitung buta huruf, padahal mereka semua belajar ilmu agama dan juga belajar baca tulis. Sekalipun mereka punya kelebihan itu adalah Karomah dan itupun sifatnya tidak setiap saat, seperti misalnya yang terjadi pada KH Ahmad Syar'i yang selalu lolos dalam setiap sergapan belanda, bahkan saat ia dipenjara setelah tertangkap tahun 1926 dan akan dihukum gantung di Karawang, ia berhasil lolos atas pertolongan Allah SWT.
Anggota Pitung adalah manusia biasa, mereka semua belajar kepada ulama yang juga mahir dalam ilmu beladiri, dan ilmu bela diri yang mereka miliki tidak pernah pakai untuk menjadi centeng penjajah ataupun untuk merampok, semua ilmu mereka digunakan untuk berdakwah dan berjuang dalam jihad fisabilillah. kalaupun terdengar mereka merampok, itu adalah fitnah penjajah, karena berapa kali gudang logistik belanda berhasil dijebol beberapa anggota Pitung untuk kemudian dibagikan kepada rakyat.
Anggota Pitung juga sangat tidak senang jika ada anak bangsa mau bekerjasama dengan pihak penjajah sekalipun itu dalam bentuk politik, tidak ada tawar menawar terhadap penjajah bagi keluarga besar Pitung.
Keberadaaan dan jejak anggota Pitung memang sangat misterius, hal ini memang disengaja oleh keluarga besar mereka, karena hal-hal yang berbau Pitung ini akan terus diburu oleh Penjajah, sehingga tidak mengherankan jika sanak famili pitung semua menuntup diri dan tidak mau terbuka kepada masyarakat dikarenakan trauma sejarah yang mereka alami karena penindasan belanda dan penghianatan beberapa oknum terhadap keluarga besar mereka.
Beberapa makam Pitung sampai saat ini memang masih terus kami lacak, terutama dikawasan jakarta Barat, beberapa keturunannya sudah ada yang kami temukan. Semua anggota Pitung itu menikah dan punya keturunan, kalaupun ada berita Pitung tidak punya keturunan, maka itu adalah bentuk perlindungan yang dilakukan terhadap keluarga besar Pitung agar tidak diburu Belanda.
Pendekar Pitung adalah Fakta Sejarah Perlawanan Kaum Betawi terhadap Penjajah Belanda. Pendekar Pitung atau Pendekar Pituan Pitulung atau Tujuh Pejuang Rakyat atau Tujuh Pendekar Penolong Rakyat, Pitung adalah gerakan Jihad Kaum Betawi, Pitung adalah gerakan para pendekar asli Jayakarta, Pitung adalah gerakan politik kaum betawi yang didalamnya didukung oleh ulama dan sesepuh adat Jayakarta pada masa itu. Angka Tujuh adalah merujuk pada sebuah organisasi Islam yang saat itu sedang diawasi ketat oleh belanda yaitu Syarikat Islam. Memang sebagian anggota Pitung berhubungan erat dengan anggota SI pada saat itu seperti HOS Cokroaminoto, sehingga dapatlah kita maklumi jika Organisasi Pitung sangat diwaspadai karena ogranisasi ini berada di Jantung Kekuasaan Belanda.
Wallahu A'lam Bisshowab
Sumber :
Gunawan Mertakusuma, Biografi KH Ahmad Syar'i Mertakusuma, Jakarta : Penerbit Al-Fatawi, 1981.
Gunawan Mertakusuma, Wangsa Aria Jipang Di Jayakarta, Jakarta : Agapress, 1986.
Gunawan Mertakusuma, Pendekar Pituan Pitulung, Jakarta : Al-Fatawi, 1981.
Wawancara Dengan Cicit KH AHmad Syari Mertakusuma (Bang Yu)