Jumat, 03 Desember 2021

"HITAM PUTIH SOEHARTO"

Oleh : Iwan Mahmud Al-Fattah 

Akhir akhir ini banyak fihak yang membahas kembali masa masa  keemasan orde baru dengan tokoh utamanya Jenderal Soeharto. Namun disisi lain tidak sedikit yang menuduh kalau Soeharto dalang dari berbagai persoalan dimasa lalu terutama yang berkaitan dengan PKI. 

Tidak bisa dipungkiri Soeharto adalah salah satu sosok penting dibalik tumbangnya PKI setelah tahun 1965. Untuk hal ini sudah banyak fihak yang menyepakatinya walaupun ada juga beberapa orang  yang percaya bahwa Soeharto punya andil karena menurut Kolonel Abdul Latif sebelum G  30 S PKI meledak dia bertemu Soeharto dan melaporkan  (ini versi Latif yang merupakan Exekutor GESTAPU), selain itu ada juga yang mencurigai hubungannya dengan Letkol Untung. Namun sampai saat ini versi yang menuduh Soeharto ikut terlibat PKI masih perlu pembuktian sejarah dikarenakan tidak sebanding datanya dengan data sejarah pada umumnya.

Namun ada beberapa fase yang kiranya patut dipelajari agar kita lebih obyektif dalam menilai sosoknya..melihat sosok Jenderal Bintang 5 ini tidak bisa sebelah mata saja...benar kalau beliau punya jasa terhadap negeri ini namun perlu juga kita belajar dari kesalahannya  sebagai manusia biasa. 

Tumbangnya Orde Lama dan berganti menjadi Oede Baru adalah merupakan Babak Baru dalam sejarah bangsa kita. Sayangnya dibalik gemilangnya Orde Baru terdapat juga beberapa fakta yang miris.

Pada masa Orde Baru KKN sangatlah melekat kuat. Kolusi, Korupsi Nepotisme merajalela. Dalam hal sejarah juga terjadi pengkaburan misalnya peran Sri Sultan Hamengkubuwono yang terpinggirkan dalam Peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Peran Jenderal Nasution dalam sejarah militer hampir terpinggirkan. Orde Baru juga sarat dengan militerisasi. Di hampir semua jabatan pemerintahan sipil banyak militer aktif yang menjabat. Soeharto menafsirkan Dwi Fungsi ABRI melebihi apa yang dikonsep Pak Nas, sehingga Pak Nas seringkali bersuara kritis terhadap langkah dari Soeharto. Akibatnya Pak Nas dikucilkan dalam pergaulan milter. Bahkan bersama Petisi 50 Pak Nas, Ali Sadikin dan tokoh tokoh kritis lain mulai ditekan dan diintimidasi. Banyak tokoh Petisi yang hidupnya menjadi tidak nyaman karena intimidasi Orde Baru.  Melalui Benni dan Sudomo militer benar-benar berjaya. Polisi yang harusnya berwajah sipil bahkan sukses dijadikàn saudara kandung mereka.

Pada masa  Orde Baru, terutama di tahun tahun 70 dan 80an banyak sekali aktifis Islam yang juga mengalami tekanan demi tekanan sehingga tidak sedikit yang dipenjara. Pada awal awal berjayanya Orba terlihat sekali kalau Soeharto kurang sreg dengan gerakan Islam. Soeharto mulai agak melunak dengan gerakan Islam dengan merestui berdirinya ICMI. Soeharto juga banyak membangun Masjid Amal Bakti Muslim Pancasila. Dia juga dekat dengan Yasser Arafat. Namun demikian hubungannya dengan ormas dan organisasi Mahasiswa Islam masih sering terjadi ganjalan. Hubungan tersebut nampaknya masih panas dingin dan penuh intrik politik. Soeharto bahkan sukses memaksakan azas tunggal Pancasila ke dalam tubuh HMI yang saat itu bersuara kritis, HMI pun pecah menjadi 2, dengan NU misalnya, Soeharto mencoba melakukan ilfitrasi dengan mencoba menyingkirkan GUS DUR, namun GUS DUR rupanya tahu langkah ini, GUS DUR pun membalas dengan caranya, bahkan GUS DUR pernah menulis di dalam sebuah bukunya bahwa sosok SOEHARTO STUPID, hal yang membuat Soeharto semakin marah. Namun Soeharto juga berhati hati sekali dalam menghadapi Gus Dur mengingat loyalitas massa yang sangat kuat serta kyai kyai yang berdiri di belakang GUS DUR.

Dibalik sosoknya yang murah senyum, sosok Soeharto juga menakutkan bagi preman bertato di tahun 80an, berkat perintahnya Petrus (Penembakan Misterius) telah menjadi horor yang berkepanjangan...banyak preman yang mati mengenaskan dengan cara ditembak dan dikarungi. Ada selentingan bahwa preman yang  dihabisi adalah "binaan" yang bergerak secara liar karena tokoh dibelakangnya sudah wafat. Ide Petrus sendiri diakui Soeharto didalam buku oto biografinya.  Cara ini telah banyak membuat ulama meradang karena biar bagaimanapun preman adalah manusia yang layaknya diperlakukan sebagai manusia bukan seperti binatang. Peristiwa kelam yang juga sulit terlupakan dan terjadi dimasa orde baru peristiwa Tanjung Priuk yang berdarah darah yang menyebabkan ratusan korban terluka dan hilangnya banyak nyawa.. 

Dalam bidang ekonomi, nampaknya Soeharto terlalu memberikan kebebasan kepada anak anaknya, semua anaknya menjadi pengusaha kaya raya yang tidak ada satupun yang berani menyentuhnya. Seorang Benny Murdani yang mencoba menasehatinya saja telah dia singkirkan. Hubungannya dengan Konglomerat China juga merupakan hal yang lumrah. Bahkan taipan taipan ini mendapatkan fasilitas yang wah.. Bahkan beberapa dari mereka bisa dengan mudah menemui Soeharto. Sehingga wajar seorang Jenderal M Yusuf sampai pernah memukul perut salah satu taipan kesayangan Soeharto yang mau menenuinya karena bercelana pendek. 

Dalam bidang demokrasi...di masa orde baru adalah mimpi berkepanjangan kalau kita ingin melihatnya. Bagaiamana tidak...Soeharto membonsai partai menjadi 3 saja. Tidak ada kritik, bila ada, pasti orang yang mengkritik akan hancur lebur kehidupannya karena teror yang berkepanjangan...."demokrasi" hanya diwakili oleh Golongan Karya saat itu.  Pemilu hanya itu itu saja Calon Presidennya..semua ketok palu kompak menjadikan Soeharto sebagai Presiden. Bagi aktifis demokrasi Soeharto adalah musuh besar. Soeharto juga sukses mengkebiri beberapa aktifis 66 yang kritis untuk ikut didalam pemerintahnya,  hal yang betul betul sangat menjengkelkan seorang Soe Hok Gie.. 

32 tahun akhirnya Soeharto berhasil berkuasa. Dibalik itu  exs PKI dan simpatisannya pun masih menguntitnya dan menghitung terus berapa banyak kesalahan yang sudah dia perbuat...Disatu sisi usianya sudah sepuh dan rentan, hingga akhirnya dia tumbang di tahun 98. Yang ironis disaat akan jatuh orang orang yang dipercayainya justru menikung dari belakang. Namun demikian Soeharto masih bisa menikmati akhir hidupnya dengan baik, dia semakin religius dan telah menjauhkan diri dari hingar bingar kekuasaan yang sudah 32 tahun dipegangnya...orde reformasi pun muncul..

Soeharto adalah manusia biasa..dia tidak akan melakukan ini dan itu tanpa ada masukan dan bisikan dari orang orang di sekitarnya...artinya tanggung jawab tidak bisa dibebankan kepadanya seorang...seperti halnya Bung Karno yang telah memberikan angin kepada  PKI untuk berkiprah...semua tentu ada orang orang yang mempengaruhinya...

Soeharto sudah wafat...hanya Allah yang berhak menentukan nasibnya di Akhirat...kita hanya bisa belajar dari pengalaman hidupnya,  kekuasaan merupakan sebuah ujian terberat dalam sebuah kehidupan...Bung Karno, Soeharto, Gus Dur contoh dari itu semua....

Bagaimana dengan kondisi sekarang ? Nampaknya bila dibandingkan dengan orde lama dan orde baru, sekarang ini tidak lebih baik...bahkan dapat dikatakan lebih buruk...sepertinya para penguasa yang sekarang tidak pernah mau belajar dari kesalahan sejarah yang ada, rasanya aneh kalau berteriak teriak anti orde baru dan anti soeharto namun pada prakteknya jauh lebih buruk dari yang diteriakkannya..