Sabtu, 11 Februari 2023

SYEKH BAYANILLAH GUNUNG JATI, SISI LAIN DIANTARA KOMPLEK MAKAM SUNAN GUNUNG JATI DAN SYEKH DZATUL KAHFI

Alhamdulillah pada hari ini saya telah melakukan ziarah sekaligus penelitian sejarah tokoh-tokoh Islam masa lalu.

Kali ini tujuan perjalanan saya adalah ke wilayah Cirebon...Beberapa makam sudah saya plot untuk didatangi..Perjalanan ini juga sekaligus menuntaskan perjalanan 9 Wali satu bulan yang lalu dimana wilayah Jawa Barat belum sempat diziarahi karena kondisi fisik saya yang sudah kelelahan...

Seperti biasa, perjalanan saya lakukan seorang diri, dan seperti biasa pakaian "dinas" yang saya gunakan baju lapangan kantong empat untuk memudahkan pergerakan...

Dari bekasi saya berangkat Jam 03.30 pagi untuk mengejar bus jurusan cirebon yang berangkat jam 5 pagi dari terminal bekasi.

Jam 08.59 Alhamdulilah saya sampai di Kedawung Cirebon. Dari Kedawung kemudian saya naik mobil elf dengan ongkos 5000 dan turun di depan komplek makam Syekh Dzatul Kahfi.

Saya kemudian naik keatas....ah...lumayan juga tanjakannya...tapi asyik juga karena bisa melihat peninggalan peninggalan tua tempo dulu...

Saya sempatkan dulu sholat di Masjid dekat makam Syekh Dzatul Kahfi, setelah itu dilanjut ziarah ke makam beliau. Dari makam beliau saya kemudian keliling sekitar makam untuk melihat peninggalan Syekh Dzatul Kahfi...beberapa sumur "keramat" saya tengok airnya, ehhh...saya melihat ada orang mandi bayah kuyup pakai baju lengkap...wah....antik juga kata saya...saya bilang, "mas baru nyebur di sumur ?", dia jawab, "ya gak lah mas..." sambil dia senyum...ya sudahlah...dalam hati saya...saya juga barusan mandi dan emang airnya disitu bening banget, dingin dan segar banget...

Dari makam Syekh Dzatul Kahfi, saya kemudian melanjutkan ke makam Sunan Gunung Jati. Hari ini ternyata ramai sekali pengunjung yang berziarah.....Di komplek makam Sunan Gunung Jati saya tidak lama karena terus berhitung dengan waktu...

Saya kemudian berjalan ke arah depan jalan raya, untuk melanjutkan ke makam Syekh Bayanillah. Tidak saya sangka ternyata jarak makam beliau sangat dekat dengan komplek makam Syekh Dzatul Kahfi.

Sebetulnya makam yang akan saya tuju adalah makam Syekh Bayanillah yang ada di desa SAMPIRAN KECAMATAN TALUN KABUPATEN CIREBON, karena dari hasil penyelusuran saya, makam ini paling sering diziarahi dan yang sering muncul di Youtube, tapi waktu saya buka aplikasi gojek yang keluar justru makam Syekh Bayanillah yang ada di dekat makam Syekh Dzatul Kahfi....wah....kalau tau deket lebih baik jalan kaki deh....Sepertinya memang saya ditakdirkan ke makam Syekh Bayanillah yang satu ini, padahal makam beliau tidak saya plot mengingat informasinya sangat minim...tapi itulah, takdir membuat saya memang harus ke makam ulama yang mastur ini...

Alhamdulillah, makam tersebut akhirnya bisa saya temukan karena memang posisinya mudah didatangi dari akses jalan raya Sunan Gunung Jati. Paling sekitar 30 meter dari jalan raya.

Di komplek makam Syekh Bayanillah saya kemudian ditemani Bapak Khusnuddin yang merupakan Juru Kunci sekaligus keturunan langsung Syekh Bayanillah..

Tentu saja pertemuan ini saya tidak saya sia siakan untuk menggali informasi tentang tokoh Syekh Bayanillah.

Bapak Khusnuddin ini menurut saya bukan orang biasa, karena beliau pernah jadi santri Mbah Hamid Pasuruan, Habib Husein Al Habsi Bangil, Habib Hasan Baharun dan Kyai Kastolani yang masih keturunan Syekh Tolhah (Mursyid Thoriqoh Naqsabandi). Beliau bahkan mempunyai cerita khusus akan kedekatannya dengan Mbah Hamid Pasuruan.

Dalam wawancara yang berlangsung 1 jam lebih tersebut Pak Khusnuddin menegaskan bahwa makam Syekh Bayanillah yang ada disini adalah asli bukan petilasan. Saya juga mempertanyakan, bagaimana dengan makam yang berada di desa sampiran kecamatan talun itu ? Beliau menjawab bahwa itu juga merupakan makam asli namun sosok yang berbeda yang namanya kebetulan dinisbatkan kepada Syekh Bayanillah yang dimakamkan di Pederesan ini..

Secara fisik, menurut Pak Khusnuddin, wajah dan perawakan Syekh Bayanillah hampir mirip dengan Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki. Pak Khusnuddin sudah berkali kali bertemu Syeh Bayanillah dalam mimpinya sehingga pada tahun 80an ketika pesantrennya di Bangil dikunjungi Sayyid Muhammad Al Maliki, beliau kaget karena begitu miripnya wajah dan perawakan antara Sayyid Maliki dan Syekh Bayanillah.

Syekh Bayanillah dalam sejarah yang saya pelajari bukanlah ulama sembarangan, beliau ulama besar yang sezaman dengan walisongo. Dalam beberapa literatur beliau adalah adik dari Syekh Dzatul Kahfi. Berdasarkan keterangan Pak Khusnuddin, Istri Syekh Bayanillah bernama asli Nyimas Mutmainnah adalah kakak Pangeran Cakrabuana.

Berdasarkan dari keterangan bapak khusnuddin ini dan juga beberapa literatur yang ada, Syekh Bayanillah ulama satu angkatan dengan Syekh Quro Karawang, Syekh Dzatul Kahfi, Maulana Ibrahim Zaenuddin Asmorokondi. Nasabnya kembali kepada Al Imam Abdul Malik Al Azmatkhan. Beliau datang dari Timur Tengah yaitu Mekkah dan Baghdad Irak. Datang ke Cirebon untuk berdakwah....

Ada sisi menarik, keturunan dari Syekh Bayanillah ini menggunakan laqob Al-Hindi. Menurut saya digunakannya laqob Al-Hindi bukanlah hal yang asing, mengingat leluhur Syekh Bayanillah memang ada yang berasal dari India, yaitu Sayyid Abdul Malik Al Azmatkhan, Sayyid Abdullah Amirkhan dan Sayyid Ahmad Syah Jalaludin. Berdasarkan keterangan Pak Khusnuddin beliau memang lama di India dan juga lama menetap di Mekkah, Bahgdad dalam rangka menuntut ilmu agama, sehingga tidak heran jika nantinya Syekh Bayanillah menjadi ulama besar setara dengan kakaknya..

Rasanya kalau anda berziarah ke wilayah Gunung Sembung, Gunung Jati tapi tidak mampir ke makam Syekh Bayanilllah kurang lengkap, karena disini kita bertemu langsung dengan keturunannya dan Insya Allah kita bisa masuk ke "ring 1" makam dengan diantar Pak Khusnuddin...beliau orangnya ramah dan murah senyum, ahli zikir dan sholawat...saya tentu hormat kepada beliau, saya cium tangan beliau karena rasa hormat saya juga karena beliau murid ulama dan wali besar tanah Jawa dan juga keturunan Wali Besar di masa Walisongo...

Wallahu A'lam Bisshowwab...


Semua tangga

SYEKH SITI JENAR DITENGAH "KESUNYIAN"

Setelah sekian lama memendam keinginan untuk berziarah ke makam ulama yang sezaman dengan Wali Sanga (Walisongo) ini, akhirnya dengan izin Allah pada hari Sabtu tanggal 21 Januari 2023 pukul 15.45 saya bisa tiba di makam Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang.

Sempat khawatir tidak sampai karena menuju ke lokasi makam beliau hujan deras sekali...namun setelah sampai di area makam beliau, cuaca menjadi cerah dan adem....Saya bahkan merasakan "sensasi" yang berbeda ketika berada di dalam rumah makam beliau...seolah sepi senyap tanpa ada suara padahal posisi makam dekat jalan raya besar yang banyak dilewati bus bus besar antar provinsi...Salah satu pengurus makam dengan senyum mengatakan, bahwa apa yang saya rasakan juga pernah dirasakan oleh beberapa peziarah.....entah apa maksudnya..?

Dalam sejarah Islam mungkin nama Syekh Siti Jenar sarat dengan kontroversi karena beberapa ajaran tassawufnya dianggap tidak sejalan dengan Walisongo. Namun, benarkah demikian adanya ? Fakta lain yang juga tidak kalah menariknya, makam-makam atas nama dirinya tidak hanya satu..boleh jadi nama Syekh Siti Jenar lain berbeda jalur silsilah atau bisa jadi juga itu adalah petilasan beliau.

Pada masa era Walisongo metode dakwah yang dikembangkan memang banyak dipengaruhi oleh gerakan thoriqoh. Dalam beberapa literatur semua anggota Walisongo mengikuti beberapa thoriqoh. Seorang anggota Walisongo bahkan memiliki beberapa sanad thoriqoh.

Thoriqoh yang saat itu banyak dikembangkan adalah thoriqoh Syattariah yang muncul dari India, walaupun demikian akar sejarahnya tidak lepas dari salah satu tokoh besar Sufi yaitu Abu Yazid Al Busthomi. Syekh Sit Jenar sendiri selain menganut thoriqoh ini beliau juga mempunyai sanad thoriqoh lain.

Dalam strategi penyiaran Islam di Nusantara sebenarnya antara anggota Walisongo dengan Syekh Siti Jenar tidak ada friksi-friksi yang menegangkan. Justru antara beliau dengan Walisongo terjadi kolaborasi yang harmonis. Apalagi secara nasab Syekh Siti Jenar masih satu rumpun dengan Walisongo. Secara usia Syekh Siti Jenar memang lebih senior setelah eranya Sunan Ampel karena beliau diperkirakan lahir tahun 1420 M sehingga wajar jika beliau dihormati oleh Walisongo.

Adanya kontroversi tentang ajaran beliau yang dianggap sesat harus dikaji ulang, karena pada prinsipnya ajaran thoriqoh beliau dan Walisongo itu sama. Salah seorang pakar sufi Kyai Lukman dalam majalah cahaya sufi mengatakan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar sering disalahfahami, bahkan juga sering diselewengkan oleh mereka yang tidak senang dengan beliau.

Cerita cerita lain yang juga arus disikapi secara kritis, misalnya adanya pengakuan kalau beliau adalah TUHAN, cerita berubahnya beliau menjadi cacing untuk mencuri ilmu makrifatnya Sunan Giri, jasad beliau yang berubah menjadi anjing agar seolah olah tidak dikultuskan atau terjadinya hukuman pancung seolah-olah beliau seorang kriminal berat, pada puncaknya katanyq Syekh Siti Jenar tidak mewajibkan muridnya sholat.

Ini jelas pembunuhan karakter seorang Syekh Sit Jenar ! Sebagai seorang putra Ulama besar Kesultanan Malaka dan juga cucu tokoh Islam besar Malaka, sejak kecil hingga dewasanya ajaran yang diterimanya selaras dengan walisongo. Thoriqohnya juga bersanad. Jam terbangnya dalam menuntut ilmu juga luas, di kalangan tokoh² sufi thoriqoh Syattariyah yang ada di Mekkah sosok Syekh Siti Jenar bahkan dihormati karena maqom kewaliannya, walaupun beliau sendiri tidak mau diperlakukan seperti itu.

Ciri khas lain beliau yang juga bisa menepis cerita-cerita aneh tentang dirinya, beliau adalah sosok yang tidak senang akan "keramaian", beliau lebih senang berkhalwat, jauh dari hiruk pikuk keduniawian. Beliau lebih soft dalam berdakwah melalui gerakan thoriqoh atau tarekat yang mengedepankan sentuhan hati dan rasa kepada masyarakat langsung tanpa repot-repot harus "kulonuwon" kepada penguasa namun bukan berarti beliau anti apalagi selama penguasa itu memihak ke rakyat. Sedangkan Walisongo berkolaborasi dengan penguasa juga dengan niat untuk mempercepat proses Islamisasi dimana selama itu dianggap stagnan. Tidak heran dari mulai Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Maulana Ishak, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Muria berhasil masuk ke ring penguasa dan akhirnya telah membuat Islam lebih cepat menyebar ke mana mana...

Syekh Siti Jenar adalah sosok ulama yang tawadhu, jauh dari kesan arogan apalagi sampai nantang-nantang Walisongo seperti yang digambarkan dalam film dan beberapa cerita. Tidak mungkin seorang Wali seperti tingkatan beliau yang mungkin sudah mencapai taraf "selesai" melakukan hal yang merusak kewaliannya....aneh...

Saya sendiri heran darimana sebenarnya asal muasal cerita cerita aneh tentang beliau ini ?

Syekh Siti Jenar adalah Wali ditengah lingkaran wali namun dia lebih menikmati kesendiriannya untuk "bercinta" dengan Allah, sehingga sampai akhir hidup dia sudah terikat dengan lingkaran "kesunyian" sampai akhir hayatnya...jasadnya, jiwanya dan fikiran-fikirannya akan selalu "harum seperti bunga melati"

Alfatehah untuk Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang) bin Syekh Datuk Soleh Malaka bin Syekh Maulana Isa Tuwu Malaka bin Sayyid Abdul Qodir Kaelani bin Sayyid Abdullah Amirkhan bin Al Imam Abdul Malik Al Azmatkhan...



Semua tanggapan:
Mashel Yuri, Agus Ladoet dan 63 lainnya

MELURUSKAN PANDANGAN BAPAK DOKTOR ALI MUKHTAR NGABALIN YANG MENGATAKAN WALISONGO BERASAL DARI CHINA

Teori Asal Usul Walisongo berasal dari China yang dikemukakan oleh DOKTOR ALI MUKHTAR NGABALIN itu muncul dari bukunya Prof. Slamet Mulyana. Prof Mulyana sendiri mengutip dari Parlindungan yang telah membuat buku kontroversial "Tuanku Rao" yang nantinya dibantah telak habis-habisan oleh Hamka.

Teori China untuk Walisongo begitu kuat dipercaya bagi sebagian orang, tapi perlu anda tahu bahwa dalam ceramah pelepasan Guru Besarnya, Prof Slamet Mulyana (Prof DR Raden Benedictus Slamet Muljana) sempat mengungkapkan bahwa cacat beliau sebagai penulis sejarah adalah ketika beliau tidak mengkroscek data dan fakta mengenai Kronik China yang disebut-sebut sebagai bahan utamanya. Dari sini saja Pak Slamet sudah menyadari bahwa apa yang telah dia tulis itu meragukan isinya.
Tanpa sadar teori chinanya Pak Slamet ini telah membuat sebagian orang "tersesat" dalam memahami asal usul Walisongo, padahal di beberapa tulisannya itu, Pak Slamet masih terdapat kata sebatas "dugaan-dugaan", walaupun beliau dengan PDnya diakhir akhir tulisannya berani menyimpulkan "pasti". Tentu ini merupakan hal yang kontradiktif...
Perlu anda ketahui juga, KRONIK CHINA SAM PO KONG yang katanya berasal dari Semarang, tidak pernah ditemukan tulisan aslinya padahal katanya bentuk fisiknya bergulung-gulung dan dibawa dengan gerobak karena begitu banyaknya. Selain itu Resident Poortman orang Belanda yang katanya dianggap memiliki naskah itu setelah didatangi kediamannya oleh beberapa peneliti sejarah dari Indonesia, ternyata menurut keturunannya tidak ada sama sekali, mereka bahkan heran karena tidak pernah mendengar bahkan memiliki naskah tersebut...Ini menandakan jika naskah tersebut benar-benar fiktif. Darimana nama-nama China itu muncul ? Rekayasa Resident Poortman kah ? Apakah munculnya isu kronik Sam Po Kong saat itu memang sengaja dihembuskan fihak intelejen penjajah karena adanya kepentingan Simbiosa Mutualisme dengan orang² China ?
Tulisan Prof. Slamet Mulyana imbasnya sampai sekarang masih terasa...banyak orang² yang begitu beraninya menyebut kalau Walisongo itu asli China, selain Walisongo Keluarga Kesultanan Demak juga dichìnakan termasuk Raden Fattah (yang sebenarnya menjadi utama sasaran tembak pada teori ini), bahkan saya pernah lihat beberapa dai dengan entengnya dihadapan para jamaahnya melontarkan kalau Walisongo adalah China.
Saya menulis ini bukanlah rasis atau anti China tapi murni karena sejarah. Sejarah adalah sejarah, tetap harus ditulis berdasarkan fakta bukan asumsi. Kalau memang benar Walisongo itu China harus ada bukti data yang kongkret, silahkan dikeluarkan naskah sam po kong jika memang ada, silahkan munculkan data teŕsebut oleh mereka yang sering menggaung gaungkan dan mempercayai teori ala Pak Slamet Mulyana ini. Walisongo jelas sekali nasabnya dan juga sudah banyak diakui kalau mereka itu berdarah Arab. Sedangkan hubungan dengan China adalah karena pernikahan, hubungan dagang dan diplomasi dan juga karena diaspora mereka, misalnya Ibu Sunan Ampel, istri Sunan Gunung Jati (Ong Tien), guru Sunan Kudus (The Ling Sing) atau hubungan Cheng Ho dan Syekh Quro. Tetapi tetap sekali lagi, bila bicara silsilah, Walisongo adalah keturunan Arab yang nasabnya sudah tercatat lengkap baik itu di buku sejarah ataupun buku nasab yang umum seperti Tarikhul Aulia, khidmatul Asyirah, Syamsu Zohiroh, Tarikhul aulia Tis'ah (KH Abdulah bin Nuh), dll...
Kronik China Sam Po Kong adalah naskah fiktif dan kontroversial dalam sejarah bangsa ini, walaupun "katanya" waktu ditemukan tahun 1928 dan "katanya" telah berusia 400 tahunan, namun keberadaan naskah ini tetap diragukan secara fisik, apalagi ditemukannya naskah tersebut di gua yang lembab dekat dengan pantai yang jangankan 400 tahun, berapa tahun saja mungkin naskah tersebut sudah hancur.
Lagipula Doktor Ali Mukhtar Ngabalin bukanlah sejarawan atau peneliti sejarah dan dia juga tidak pernah punya karya tentang sejarah..
Doktor Ngabalin jelas bukan orang yang punya kapasitas bicara tentang Walisongo, masih banyak fihak yang lebih berkompeten yang bisa kita jadikan rujukan...
Semoga Bapak Doktor Ngabalin bisa lebih berhati-hati jika bicara sejarah...karena terkadang yang benar saja sering dipermasalahkan apalagi ucapan Bapak Doktor yang lebih bermasalah..

MEMPERINGATI HAUL WALI TANDUR, KH TUBAGUS ZAINUDDIN SYAFI KALIBATA

Nama yang satu ini bukanlah nama yang asing dalam seri penelitian sejarah dan penjelajahan makam makam Ulama tempo dulu di wilayah Jakarta yang pernah saya lakukan pada tahun 2012 sd 2020. Dari perjalanan tersebut tertuanglah 2 buku yang berjudul WISATA ZIARAH DI JAKARTA jilid 1 dan Jilid 2. Tentu diantara sekian ratusan makam yang terdata tidak semuanya lengkap bahkan bisa jadi harus dikoreksi jika terdapat data data baru, termasuk tokoh yang makamnya saya telah datangi ini.

Beberapa tahun lalu saat saya datang kondisi makam masih terlihat sederhana, dan alhamdulillah sekarang kondisinya sudah dibuat lebih bagus lagi dan nyaman untuk diziarahi..

Nama lengkap beliau adalah KH Tubagus Zainuddin Syafi. Leluhurnya berasal dari Kesultanan Banten. Pada masa hidupnya beliau lebih banyak menutup diri karena faktor kesufiannya. Namun demikian cerita cerita ajaib banyak menyebar di wilayah Kalibata dan sekitarnya.

Nama panggilan beliau pada masa itu dengan sebutan KI ODENG. Beliau pernah belajar di Mekkah selama 3 tahun, selain alim beliau juga seorang pendekar...Beliau bertempat tinggal pada beberapa wilayah dan terakhir beliau lebih memilih bertempat tinggal di kalibata sambil berdakwah kepada masyarakat sekitarnya.

Di wilayah kalibata Jakarta Selatan beliau termasuk tokoh² awal yang membuka wilayah Kalibata. Sehingga tidak mengherankan keturunannya banyak terdapat di wilayah ini termasuk juga wilayah Tegal Parang, Mampang Prapatan yang memang banyak zuriahnya dari keturunan kesultanan Banten. Para leluhur Ki Odeng banyak yang merupakan pejuang besar dalam melawan penjajah..tidak mengherankan jika banyak dari trah ini akan lahir ulama, pejuang pejuang dan pendekar dibeberapa wilayah Kalibata, Pasar Minggu, Tegal Parang, Mampang Prapatan...

Berdasarkan data dan informasi yang saya peroleh dari beberapa orang yang juga merupakan kerabat nasab Ki Odeng, banyak ulama² besar Jakarta Selatan khususnya di wilayah Kalibata, Tegal Parang, Mampang Prapatan masih ada kaitan dengan Waliyullah yang sering menyamar jadi petani ini. Namun sekalipun beliau menyamar untuk menutupi kewaliannya, masyarakat sering melihat bahkan mendengar perilaku² khoriqol adat beliau...

Dahulu makam beliau yang berdekatan dengan Masjid Al Mujtamiun Kalibata Tengah dikenal kramat dan banyak diziarahi oleh masyarakat yang datang dari banyak wilayah...bahkan banyak yang menuntaskan nazarnya di sekitar makam beliau termasuk dalam memberikan kambing untuk dipelihara di sekitar makam, anehnya masyarakat juga enggan untuk memotong kambing makam tersebut...

Ki Odeng dengan berbagai keistimewannya adalah ulama mastur, waliyullah dan sosok yang dicintai oleh masyarakat...sampai saat ini wilayah Kalibata, Mampang , Tegal Parang masih kuat kultur keislamannya, salah satunya adalah berkat jasa beliau ini...

Alfatehah untuk Ki Odeng atau KH TUBAGUS ZAINUDDIN SYAFI....