Senin, 10 Juli 2017

KRONOLOGIS MENGENAI HUT JAYAKARTA/JAKARTA BERDASARKAN KITAB AL FATAWI


1. Kitab Al Fatawi mencatat bahwa pafa tanggal 12 Robiul Awal 933 Hijriah telah diadakan peringatan Maulid Nabi secara besar-besaran di Kesultanan Demak guna mengangkat semangat jihad para mujahid Nusantara. Ribuan pasukan mujahidin berkumpul di masjid demak untuk persiapan jihad fisabillah menghadapi Portugis (Paringgi) yang akan masuk ke Sunda Kelapa.

2. Setelah peringatan Maulid Nabi besar-besaran ini para mujahid dibawah pimpinan Fattahillah bergerak melalui darat dan laut. Pasukan laut membawa sekitar 60 kapal Jung. Kapal-kapal itu ditempatkan pada beberapa titik. Ada yang di pelabuhan Jayapati (pasar ikan), ada yang di kepulauan seribu dan sebagian lagi di beberapa tempat yang tersembunyi.

3. Pertempuran yang sebenarnya dengan Portugis terjadi di lautan dan itu terjadi sebelum bulan Ramadhan. Portugis berusaha mendekat ke perairan Sunda Kelapa namun pasukan mujahid yang berada di kapal jung berhasil membuat kapal Portugis kehilangan manuver. P.asukan mujahid kapal jung akhirnya mampu memukul mundur pasukan angkatan laut Portugis yang saat itu dikenal sebagai kekuatan maritim terkuat di dunia.

4. Menjelang Ramadhan setelah kemenangan atas pasukan militer Portugis, Para Mujahid dibawah pimpinan Fattahillah mulai mendekati wilayah Keraton Marunda (kini masjid Al Alam).

5. Berdasarkan komando Sultan Trenggono bin Raden Fattah, seluruh pasukan Mujahid dilarang keras melakukan peperarngan di bulan Ramadhan dan ini dipatuhi secara penuh. Demi untuk menghormati bulan Suci seluruh Mujahid hanya diperintahkan untuk beribadah sambil melakukan persiapan.

6. Akhir Ramadhan sekitar tanggal 29 atau 30 933 Hijriah Fattahillah dan ribuan pasukan mujahid gabungan memasuki Keraton Marunda Kelapa untuk mengadakan pertemuan bersejarah dengan Penguasa Sunda Kelapa.

7. Hadir dalam pertemuan itu diamtaranya :
A. Ratu Sri Janar (Penguasa Sunda Kelapa)
B. Singa Menggala bin Prabu Surawisesa dari kerajaan Pajajaran
C. Fattahillah bin Maulana Mahdar Ibrahim
D. Maulana Hasanudin bin Sunan Gunung Jati
E. Fadilah Khan (paman Fattahillah)
F. Sungareksa Jayawikarta
dan tokoh tokoh besar lainnya.

8. Pertemuan malam itu menghasilkan sebuah kesepakatan bahwa tampuk kekuasaan Sunda Kelapa diserahkan secara damai kepada fihak Kesultanan Demak melalui wakilnya yaitu Fattahillah.

9. Di tengah ramainya ribuan takbir yang dikumandangkan di malam takbiran oleh para mujahid dan juga rakyat Sunda Kelapa, setelah perundingan yang bersejarah itu Fattahillah melakukan sholat tahajud dengan khusyu sambil bermunajad. Setelah sholat tahajud beliau meneruskan membaca Al Qur'an, tepat pada saat beliau membaca Surat Al Fath ayat 1, Allah memberikan illham agar Fattahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Fathan Mubina

10. 1 Syawal 933 Hijriah atau tepatnya tanggal 1 Juli 1527 Fattahillah menjadi Khotib Idul Fitri. Dalam isi khotbahnya Fattahillah memproklamasikan negeri Sunda Kelapa menjadi Negeri FATHAN MUBINA dengan dasar pemerintahannya SYARIAT ISLAM sedangkan bentuk pemerintahannya adalah HIKMAH JUMHURIYAH dibawah naungan Kesultanan Demak dan Majelis Wali Agung. 

Demikianlah Kronologis terbentuknya Negeri Fathan Mubina atau Jayakarta yang kini bernama Jakarta.

Semua informasi pada kitab Al Fatawi sudah mulai ditulis secara bersanad sejak masa AL HAJJ SAYYID FATTAHILLAH sampai dengan KH AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA. KH AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA sendiri melanjutkan penulisan bersanad itu sejak tahun 1910 s/d 1946.

Adapun mengenai tanggal 22 Juni adalah merupakan kesepakatan Politik yang mendesak di tahun 1955 antara Pemda Jakarta (belum nama DKI) dan DPR dengan bersandarkan kajian beberapa ahli sejarah termasuk Dr. SUKANTO. Itupun masih terdapat silang pendapat yang cukup tajam pada beberapa sejarawan karena sulitnya menemukan bukti mengenai tanggal dan waktu yang pasti mengenai kelahiran kota bersejarah ini, padahal para sejarawan itu sudah diakui kepakarannya, tapi pada kenyataannya saat itu memang cukup sulit mendapatkan tanggal yang pasti, sedangkan Pemerintah Jakarta saat itu membutuhkan sebuah keputusan cepat mengingat daerah ini merupakan IBIUKOTA NEGARA RI, sehingga sejarahnyapun harus terlihat "jelas". Bung Karno secara tidak langsung juga telah mendesak Dr. Sudiro yang pada saat itu menjabat GUBERNUR Jakarta agar segera menetapkan Hari Jadi Kota Jakarta. Dapat dikatakan bahwa tanggal 22 Juni 1527 atau 22 Ramadhan 933 H merupakan hari jadi kota Jakarta yang didasari atas sebuah keputusan politik. Sedangkan Al Fatawi jauh sebelumnya sudah menulis secara tegas bahwa Jayakarta terbentuk pada tanggal 1 Syawal 933 Hijriah. Dan itu ditulis secara bersanad oleh para pemelihara sejarah Jayakarta (Mushonif). 

Wallahu A'lam bisshowwab...

POROS KEKUATAN ISLAM PADA MASA JAYAKARTA 1527 - 1629

1. Para keluarga dan kerabat Kesultanan Pasai melakukan hijrah ke Sunda Kelapa setelah adanya provokasi dari Kerajaan Katolik Portugis di Aceh dan kemudian keluarga tersebut berhasil melakukan proses Islamisasi sebelum akhirnya langkahnya terhambat dengan adanya perjanjian antara kerajaan Pajajaran dengan Portugis di tahun 1522, namun 5 tahunkemudian kekuatan Islam Pasai timbul kembali setelah Fattahillah berhasil menguasai Sunda Kelapa dengan damai.

2. Majelis Wali Agung dibawah komando Wali Senior seperti Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga memberikan mandat kepada Kesultanan Demak untuk menguasai Sunda Kelapa secara damai serta menyelamatkannya dari ancaman misi Kerajaan Katolik Portugis yang saat itu merupakan kekuatan militer laut terbesar di dunia bersama spanyol.

3. Kesultanan Demak dibawah pimpinan Sultan Trenggono menugaskan Keponakannya yang bernama Pangeran Aria Penangsang alias Aria Jipang alias Ratu Sahibul Ma'rifah alias Raden Bagus Sayyid Husein untuk membantu Fattahillah dan Maulana Hasanuddin Banten menggelorakan dakwah serta mengatur pemerintahan Jayakarta.

4. Keluarga Kerajaan Pajajaran yang ada di Jayakarta mengalami proses Islamisasi setelah terjadinya pernikahan antara Penguasa Sunda kelapa Ratu Sri Janar yang merupakan keturunan Pasai dengan Singa Menggala anak Prabu Surawisesa dari Kerajaan Pajajaran. Pertalian semakin kuat manakala Keluarga Demak melalui Aria Jipang telah menikahi Ratu Ayu Jatibalabar binti Singa Menggala bin Prabu Surawisesa. Aria Jipang nantinya juga menikahi anak Fattahillah.

5. Kesultanan Cirebon menugaskan Maulana Hasanuddin untuk menjadi Pangeran Ratu Jayakarta pertama sebelum beliau menjadi Sultan Banten yanΔ£ pertama di tahun 1552. Kesultanan Cirebon melalui perintah Sunan Gunung Jati juga mengutus Pangeran Kuningan Awangga , Fattahillah dan para wali untuk menyebarkan Islam di bumi Jayakarta. 

6. Kesultanan Banten dibawah kepemimpinan Maulana Hasanudin telah memberikan mandat kepada Pangeran Wijayakusuma bin Fattahillah untuk meneruskan tampuk kepemimpinan di Jayakarta dan melanjutkan dakwah Islamiah.

7. Sebagian keluarga besar Jayakarta, Demak, Cirebon, Banten dan Majelis Wali Agung melakukan misi dakwah secara meluas ke wilayah sumatra. Mereka hijrah dan memasuki wilayah Lampung, Sumatra Selatan seperti wilayah Komering, Ogan hingga tembus ke Palembang, beberapa tokohnya bahkan kemudian menetap dan membuat pemukiman, mereka diantaranya Aria Jipang Jayakarta, Aria Sakti Mataram (adik Aria Jipang), Walliyullah Muhammad Zaka bin Fattahillah, Waliyullah Tuan Umar Baginda Saleh bin Fattahillah, Waliyullah Kyai Abdul Aziz Nogowongso bin Fattahillah, Waliyullah Kyai Abdurahman Bondrowongso bin Fattahillah, Waliyullah Amir Qodhi bin Sunan Kudus, waliyullah Amir Hamzah bin Sunan Kudus, Tuan Hamim/Tuan Di Pulau (Trah Sunan Gunung Jati), Waliyullah Pangeran Mas (cucu Sultan Trenggono), Keluarga besar Sunan Giri, Keluarga Besar Sunan Ampel, dan juga Keluarga besar bangsawan Sunda.

8. Poros Malaka dan champa juga ikut menjalin kekuatan dan menyemarakkan Islam dengan masuknya para wali-wali besar ke negeri Sunda seperti Syekh Datuk Kahfi dan keluarga Syekh Quro Karawang di timur Jayakarta.

9. Kesultanan Mataram dibawah Pemimpin besarnya Sultan Agung Mataram berhasil menjalin kekuatan dahsyat bersama Mujahid Jayakarta dan Mujahid Jawa dan Sunda pada tahun 1628 - 1629 M. Mereka juga berhasil melakukan misi dakwah di wilayah barat dan pusat jayakarta.

10. Jayakarta juga membentuk poros Islam yang kuat dengan Sulawesi, ini dibuktikan dengan banyaknya wali-wali dari Makasar yang bergerak di arah Timur Jayakarta serta membantu Banten yang bertempur dengan VOC di Batavia.

Sumber : Kitab Al Fatawi, Kitab Wangsa Aria Jipang dan Arsip Keluarga Dzurriyah Jayakarta

FAKTA SEJARAH JAKARTA DI KITAB AL FATAWI


Sunda Kelapa para penguasanya beragama Islam, ini karena mereka sebagian berasal dari Pasai. Mereka hijrah dari Pasai ke Sunda Kelapa ketika Portugis mulai menekan Aceh.

Diantara penguasa Sunda Kelapa ada yang merupakan paman dan bibi dari Fattahillah 

Kekuasaan Sunda Kelapa masih Islam sekalipun sudah dibawah pajajaran. Kedua kekuatan malah menjadi satuketika putra Prabu Surawisesa yang bernama Singa Menggala menikah dengan Ratu Sri Janar Penguasa Sunda Kelapa

Keraton Marunda Kelapa terdapat di Marunda tepatnya di masjid Al Alam Marunda

Keraton Jayakarta bukan dibakar oleh pasukan Jan Pieterzoon Coen tapi ia sengaja dibakar Mujahid untuk mempermudah evakuasi rakyat melalui jalur darat

1 Syawal 933 Hijriah adalah HUT Jakarta yang pertama 

Jayakarta mencapai puncak kekuasaannya pada tahun 1540 - 1546 

Luas kekuasaan Jayakarta pada masa kejayaannya meliputi Tangerang, Bekasi, Karawang, Depok, perbatasan bogor, Seluruh Kepulauan 1000.

Masjid-masjid tua di Jayakarta seperti Kampung Bandan, Angke, Pekojan, Al Mansuriyah, masjid Jayakarta mangga dua pada mulanya merupakan kantong kantong perjuangan para mujahid Jayakarta sampai kemudian diketahui penjajah kafir harbi dan akhirnya dilarang digunakan untuk kegiatan lain selain hanya untuk ibadah saja 

Tete Jongker yang makamnya di Marunda nama aslinya adalah Kapitan Ahmad Sangaji yang turut membantu mujahid Jayakarta. Tete Jongker istrinya adalah Ratu Ayu Fatimah dari Jipang Pulorogo. Dia Syahid di Marunda, VOC menganggapnya sebagai penghianat

Peter Ebveperlt adalah Muallaf karena telah menikah dengan adik Raden Karta Aria/Raden Zakaria/Pangeran Ratu Jayakarta V

Raden Ateng Kertadria atau Raden Karta Aria atau Raden Zakaria adalah Pahlawan Perang Pecah Kulit, beliau adalah tokoh penggerak Mujahid Di Jayakarta, namun sayang dia dihianati oleh bangsanya sendiri

Jan Pieterzoon Coen tewas bukan karena kolera tapi dipenggal oleh Mujahid Jayakarta 

Pitung atau Pituan Pitulung adalah organisasi Jakarta pertama yang berani melakukan perlawanan terbuka 

Muhammad Husni Thamrin kumpinya adalah Sultan Pontianak yang bermarga Al Qadri

ISTILAH SILSILAH LELUHUR JAKARTA


Perlu diketahui bahwa di Jakarta untuk memanggil para sesepuh, terlebih para leluhur, mereka mempunyai panggilan khusus. Ini juga nantinya akan berkaitan dengan urutan silsilah yang mereka miliki. Diantara urutan Silsilah tersebut adalah sebagai berikut : 

1. Cucu
2. Anak
3. Ayah Ibu
4. Kakek/Nenek
5. KUMPI LAKI/KUMPI PUAN
6. Buyut Laki/Buyut Eneng
7. Gentur Siwur (Lk/Pr)
8. Udeg-Udeg (LK/Pr)
9. Janggawareng (Lk/Pr) 

Biasanya yang menjadi standar untuk diingat adalah 7 generasi keatas dan ini biasanya juga terjadi diberbagai daerah, idealnya memang kita harus mengingat lebih dari 7 generasi, syukur-syukur kita hafal sampai keakar-akarnya, ini penting agar kita tidak MATI OBOR dalam mengenal sejarah para leluhur kita, mengenal sejarah leluhur kita berarti juga mengenal sejarah yang berkaitan dengan daerah daerah yang pernah mereka pijak, apalagi mereka adalah tokoh tokoh besar dimasa lalu. MATI OBOR adalah penyakit yang memang sengaja ditanam penjajah, dengan MATI OBOR banyak dari kita tidak perduli lagi sejarah asli kita, bahkan dengan teganya menghina dan sinis kepada para leluhur yang pernah berjasa. Inilah salah satu pekerjaan penjajah yang tidak ingin bangsa ini melek sejarah dan melek ilmu nasab, padahal mereka sendiri sangat menjaga sejarahnya serta sangat peduli kepada perkembangan silsilah mereka. Penjajah banyak merampas buku buku sejarah penting milik kita, mereka banyak mencuri data-data silsilah bangsa kita, agar bangsa kita ini MATI OBOR. Orang yang mengetahui Sejarah garis Keturunan, baik milik dirinya atau milik orang lain, Insya Allah akan membantu dirinya dalam memecahkan kerumitan kerumitan sejarah yang selama ini sudah disebarkan oleh Penjajah melalui para sejarawan binaan mereka serta penulis-penulis yang "Anonim" pada bidang sejarah ataupun pada bidang ilmu sejarah, nasab dan geneologi.

Kita harus mulai melek atau sadar akan hal ini, sebab Amerika Serikat dan negara negara eropa saja sangat memperhatikan hal seperti ini, Tidak percaya? lihatlah setiap pemilihan Presiden AS, hal seperti ini mutlak sangat mereka perhatikan. Bahkan di Amerika Serikat ada perpustkaan Silsilah terbesar di dunia. Jangan kira bangsa eropa tidak melek akan hal yang satu ini. Oleh karena itu Justru bangsa kita ini sudah saatnya harus lebih dari mereka. Membicarakan hal diatas bukanlah hal yang tabu, bukan juga berkaitan dengan hal-hal yang feodalistik atau "gila" akan kehormatan atau yang berbau ningrat, atau juga bukan juga berkaitan dengan hal klenik aatu ghaib. Semata-mata semua adalah untuk kebaikan kita sendiri dan juga keluarga besar kita. Nabi Muhammad SAW sendiri sangat menjunjung tinggi mereka yang bisa memelihara garis keturunan, karena didalam garis keturunan itu (nasab) terdapat hal-hal yang bersifat silaturahim.....

KOMPLEK PEMAKAMAN WALI MASTUR DI MASJID AL MUFLIHUN TANAH KUSIR BINTARO JAKARTA SELATAN


Masjid yang penuh dengan getaran para wali ini sudah lama menjadi target untuk saya ziarahi. Disini banyak dimakamkan para wali, namun kesemua wali itu mastur. Masyarakat hanya tau kalau disitu terdapat banyak makam Syekh dan wali-wali, nama mereka tidak ada yang tahu apalagi para sesepuh asli kampung banyak yang wafat, namun demikian masyarakat asli daerah ini yang sepuh dan masih hidup sangat menghormati keberadaan makam-makam misterius ini. Ada yang mengatakan kalau salah satu makam tersebut adalah ayah ? dari Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas Empang Bogor. 

Di komplek makam ini juga terdapat makam mertua Habib Riziq Syihab yang merupakan keturunan Sayyid Usman bin Yahya Mufti Betawi. Menurut pengurus makam bahwa yang dulu sering ziarah banyak orang-orang Arab dan juga orang orang dari luar Jakarta. Dahulu masjid ini yang mewakafkan adalah orang arab setelah itu orang Betawi, sehingga tidak mengherankan kalau disini banyak makam orang arab.

Memasuki wilayah ini ada perasaan tenang dan damai. Saya bahkan sempat tertidur pulas di teras masjid. 

Dua kali sudah saya menziarahi makam makam disini....termasuk dengan istri saya yang sedang hamil. Entah mengapa kami berdua di masjid Al Muflihun merasa kerasan dan betah.

Pengurus makam mengatakan bahwa masjid Al Muflihun adalah salah satu masjid tua di Jakarta Selatan. Keberadaannya telah menjadi sebuah identitas kebanggaan bagi masyarakat sekitarnya. Sekalipun lokasinya sudah dijepit pemakaman tanah kusir dan jembatam layang toh kondisi masjid ini masih menjadi magnet bagi mereka yang senang ziarah...

PITUNG PENGANUT ILMU RAWE RONTEK ???


Sebenarnya saya agak sungkan untuk menulis tema yang satu ini, tapi bila melihat beberapa informasi yang bertebaran di berbagai situs yang ada, saya akhirnya terpanggil juga untuk menanggapinya. 

Pitung atau Pituan Pitulung adalah sebuah organisasi yang bertujuan melakukan jihad fisabilillah di bumi Jayakarta/Jakarta. Gerakan mereka dibentuk pada tahun 1880 oleh KH Naipin (Ratu Bagus Arifin) yang berasal dari Tenabang. Di bawah bimbingan para ulama-ulama Jayakarta gerakan Pitung menjadi momok besar bagi Pemerintah Batavia. 

Di dalam perjuangan sudah tentu mereka itu dibekali berbagai pengetahuan dan ketrampilan untuk menghadapi penjajah dan antek-anteknya, dari mulai pengetahuan strategi, pengetahuan politik, pengetahuan militer, pengetahuan keorganisasian, pengetahuan diplomasi, pengetahuan Agama dan sudah tentu ketrampilan bela diri yang pada masa itu memang wajib dipelajari. Pitung adalah sebuah gerakan “cerdas” mengingat para anggotanya adalah santri-santri terbaik dari Pesantren Haji Naipin). Mereka adalah kader-kader terbaik yang memang sudah disiapkan para pejuang-pejuang Jayakarta yang berada di balik sosok KH Naipin. 

Secara silsilah sebagian besar anggota Pitung adalah keturunan mujahid-mujahid Jayakarta masa lalu yang tersebar di beberapa wilayah. Para pejuang-pejuang Jayakarta yang namanya tertera di di kitab Al Fatawi itu terdapat di daerah-daerah seperti Jipang Pulorogo (Slipi, Palmerah, Kemandoran, Rawa belong, kemaΓ±ggisan dan sekitarnya), Cengkareng, Jelambar, Tanah Abang, Kayu Putih, Tangerang, Kampung Bandan, Angke, Pekojan, Jembatan Lima, Ancol, Jatinegara Kaum, dll. 

Nama besar Pitung pada akhir-akhir abad ke 19 sangatlah menggetarkan penjajah, jangan dikira gerakan mereka itu dianggap biasa, karena sekelas Snouck Horgronye saja sampai ikut berkomentar dengan nada kesal karena sulitnya Pitung ditundukkan. Artinya gerakan Pitung benar-benar diperhitungkan oleh penjajah pada waktu itu.

Sebagai sebuah organisasi, sudah tentu dalam perjuangannya Pitung atau Pituan Pitulung mendapatkan banyak halangan dan rintangan. Diantara sekian masalah yang muncul adalah fitnah dan intimidasi yang dilakukan penjajah yang bekerjasama dengan tuan tanah china, centeng-centeng laknat dan marsose. Fitnah terbesar adalah ketika mereka dituduh sebagai perampok. Fitnah yang juga tidak kalah kejinya bahwa Pitung oleh penjajah dituduh menggunakan “ILMU KESAKTIAN” dalam melakukan aksi kriminal. Ironisnya kita sering terjebak dengan pendapat yang terakhir ini. Seolah Pitung hanya merupakan sosok pendekar semata dengan nilai plus kesaktiannya, padahal dibalik itu semua mereka adalah pejuang cerdas yang memiliki wawasan luas serta sangat faham dengan informasi yang berkembang saat itu, apalagi mereka dan guru-gurunya mempunyai jaringan perjuangan yang kuat dengan para pejuang wilayah lain, namun lagi-lagi area perjuangan mereka hanya dianggap “secuil” bagi penjajah dan antek-anteknya.

Sampai saat ini cerita yang paling sering berkembang tentang Pitung adalah tentang “KESAKTIANNYA YANG MANDRAGUNA” ketimbang kecerdasan-kecerdasan mereka dalam perjuangan. Banyak yang lupa kalau Pitung ini telah berhasil melakukan penyadaran-penyadaran kepada rakyat agar berani melawan penjajah, bahkan Pitung juga berhasil “mengunci” ambisi para tuan tanah cina untuk menguasai Jayakarta secara menyeluruh. Mereka juga berhasil melakukan konsolidasi dengan keturunan (trah) pejuang yang ada di Jakarta. Jadi jelas Pitung adalah gerakan yang memiliki cakupan luas, otak dan kemampuan mereka jelas tidak hanya diperuntukkan untuk satu kemampuan saja, sehingga sangatlah ironis bila Pitung hanya diidentikkan dengan kesaktian belaka.

Salah satu yang paling sering dibahas adalah tentang ilmu yang dmiliki Pitung yang menurut sebagian orang adalah RAWE RONTEK. Saya tidak tahu kenapa hingga saat ini banyak yang percaya jika Pitung merupakan penganut ilmu yang kontroversial ini. Bagi anda yang belum tahu tentang ilmu Rawe Rontek ini silahkan tonton film JAKA SEMBUNG yang ditulis oleh Djair Warni dan diperankan oleh Barry Prima.

Namun agar tidak menjadi polemik saya akan mencoba membahas ilmu ini dari sisi pengetahuan yang pernah saya dapati.

Di beberapa daerah Indonesia ilmu Rawe Rontek ini memang ditengarai ada dan benar-benar nyata. Namun kalau itu dikaitkan dengan Pitung yang guru-gurunya ulama semua, rasa-rasanya perlu dikaji kembali pendapat yang mengatakan Pitung menganut ilmu Rawe Rontek. Ilmu Rawa Rontek adalah ilmu yang “diindikasikan” beraliran hitam, karena ilmu ini sifatnya bisa “menangguhkan” kematian ?. Betapapun badan anda dipotong-potong menjadi beberapa bagian namun jika penangkalnya sudah diperoleh, anda bisa hidup kembali seperti sedia kala. Saya sendiri pernah mendengar dari abang saya, bahwa pernah ada di sebelah kampung saya seorang jagoan kampung yang dibantai ramai-ramai oleh jawara lain karena masalah pribadi. Si Jagoan yang dibantai itu setelah tewas tubuhnya dilempar ke sungai Ciliwung, anehnya keesokan harinya, si Jagoan yang tewas itu sudah nongol dengan kondisi segar bugar. Bapak saya sendiri yang pernah hidup di dunia Pasar Senen pernah menyaksikan salah satu temannya “dicincang” rame-rame oleh musuhnya karena masalah “kekuasaan”, Saat itu sebenarnya beliau mau bantu, namun karena masalah ini adalah menyangkut harga diri, beliau hanya menyaksikan saja, apalagi beliau juga tahu bagaimana kemampuan temannya yang "dicincang' itu. Nah setelah dianggap tewas, temannya itu ditinggal begitu saja, tapi keesokan harinya temannya itu datang dalam kondisi sehat wal afiat tanpa kurang suatu apapun bahkan kemudian bisa ketawa ketiwi.

Menurut bapak saya, ilmu rawe rontek sebenarnya memang ada, hanya untuk memperolehnya diperlukan banyak syarat-syarat dan ritual yang berat. Saya pernah bertanya kepada beliau, ‘bagaimana bentuk amalan atau bacaan serta lelaku untuk memperoleh ilmu tersebut?” menurut beliau bacaan yang ada memang bercampur dengan bahasa-bahasa zaman dulu, tapi biasanya diujung kalimat ada penutup kalimat tauhid, Nah loh ? Sedangkan lelakunya kalau tidak sanggup bisa berakibat fatal (maaf kalau yang ini saya tidak bisa menjellaskan). Menurut beliau, mereka yang menganut ilmu ini bawaannya “panas’ dan “mudah marah”, bagi beliau ilmu ini tergolong “jahat” karena didalamnya ada beberapa ungkapan yang menunjukkan “seolah-olah” kita adalah “TUHAN”. Ilmu ini jika sudah masuk dalam ”taraf sempurna” memang luar biasa efeknya jika digunakan, sehingga tidak mengherankan pada era-era tahun 50an menurut beliau banyak para jawara besar Pasar Senen memburu ilmu ini hingga kebeberapa daerah pedalaman di Indonesia. Beliau juga menambahkan, ilmu ini memang “hebat” tapi pada akhirnya banyak orang bernasib tidak baik di akhir hidupnya. Di hari tua bahkan banyak yang menderita dengan adanya ilmu ini. Beliau mengatakan, “kalau bisa anak cucu saya jangan pernah menggunakan ilmu ini, saya haramkan keluarga saya menggunakan ilmu ini, Allah tidak ridho kepada mereka yang memakainya”. 

Dari pemahaman yang saya peroleh langsung dari ayah saya, jelas ilmu ini memang ada dan nyata.

Lantas bagaimana dengan Pitung ? (dalam hal ini mungkin yang dimaksud adalah Ratu Bagus Muhammad Ali Nitkusuma yang merupakan dedengkot Pitung). Apa benar beliau menganut ilmu Rawe rontek ? apa benar kalau dedengkot Pitung ini penganut Rawe Rontek “Putih” seperti yang dikatakan beberapa orang kepada saya. 

Ratu Bagus Muhammad Ali ini dalam hidupnya belajar agama, ilmu silat serta Tarekat kepada KH Haji Naipin (Ratu Bagus Arifin). Kalau ilmu rawa rontek dikaitkan dengan ilmu TAREKAT, saya kok merasa aneh ya ? karena pada masa lalu para penganut tarekat ketika berjuang banyak yang gugur syahid tertembak seperti Ji’ih, atau KH Wasit Cilegon. Kalaupun ada amalan atau zikir di dalam tarekat yang menyebabkan Ratu Bagus Muhammad Ali, Ratu Bagus Muhammad Roji’ih dan ke lima rekannya tidak mempan ditembak, itu semata-mata karena izin Allah, bukan karena mereka menganut ilmu rawe rontek ataupun memakai jimat-jimat. Lagipula tarekat itu kan tujuannya bukan untuk mencari “kekebalan” atau “keduniawian”, tarekat itu justru cara kita untuk mendekatkan diri dengan cara “khusus” yang prakteknya dibawah bimbingan para mursyid, masak iya para mursyid mengarahkan muridnya untuk mendalami ilmu hitam, logikanya dimana ??? Kalaupun nanti ada “kelebihan” yang dmiliki anggota Pitung itu adalah “bonus" yang diberikan Allah karena keistiqomahan penganutnya. Kelebihan yang diperoleh itu karena izin Allah karena mereka itu memang hamba-hamba yang soleh dan mujahid. Kelebihan-kelebihan yang diluar kebiasaan itu dalam taraf wali disebut Karomah, dalam taraf orang soleh dan orang-orang yang dikehendaki Allah itu adalah maunah, sedangkan rawe rontek ini justru cenderung Istidraj yang banyak diberikan untuk orang fasiq dan kafir, apalagi menurut bapak saya ilmu ini ada “campur tangan” jin untuk mengelabui pandangan mata orang awam. 

Sebagian leluhur Ratu Bagus Muhammad Ali dalam sejarahnya banyak yang gugur tertembak dalam jihad fisabillah. Ini semakin menegaskan kalau di dalam darah beliau tidak terdapat “gen” ilmu rawe rontek.. Kalaupun Muhammad Ali badannya dipotong-potong para pembunuh bayaran laknatullah dan marsose biadab, itu bukan karena beliau menganut ilmu rawe rontek, dipotong-potongnya tubuh dedengkot Pitung ini adalah demi untuk menghilangkan sejarahnya. Penjajah tahu, jika jenazah beliau dimakamkan pada satu tempat, maka akan banyak yang menziarahi sehingga pada akhirnya bisa membangkitkan perlawanan kembali. Penjajah itu tahu bahwa tradisi ziarah pada masyarakat Betawi itu sering menimbulkan perlawanan kepada penjajah dan tuan tanah cina. Biarpun penjajah Belanda ini berasal dari Eropa, kepercayaan terhadap budaya lokal setempat masih mereka anggap “suci”, terutama terhadap keberadaan makam-makam yang ada, apalagi negeri ini juga masih kental dengan budaya-budaya yang “agak” mirip dengan budaya kita. Jangan dikira tradisi ziarah kubur tidak berpengaruh pada masyarakat Betawi pada waktu itu. Perlu juga diketahui, setelah jenazahnya dimutilasi dengan cara biadab, sebagian tubuh Muhammad Ali masih sempat diselamatkan oleh keluarga besarnya dan kemudian sebagian tubuh itu dimakamkan di daerah bandengan utara dekat masjid Kampung Baru Jakarta Utara. Dalam kondisi seperti ini cerita sudah selesai, tidak ada lagi istilah Pitung bangkit dari kubur, toh buktinya tubuh Muhammad Ali setelah ditembak, dimutilasi, tidak hidup lagi, padahal tubuhnya itu menyentuh tanah yang merupakan sarat dari ilmu rawe rontek. sekali lagi ini membuktikan jika beliau memang bukan penganut ilmu Rawa Rontek..

Kalau ada yang mengatakan Pitung bangkit dari kubur, itu maksudnya Pitung-pitung lain yang masih berjuang, bukankah anggota Pitung ada 7 ? seperti kH Ahmad Syar'i dan 5 Pitung lainnya yang tersisa. Jadi Pitung, khususnya Ratu Bagus Muhammad Ali bukanlah penganut Rawe Rontek, tapi beliau adalah penganut Islam yang kebetulan mendalami ilmu tarekat kepada para ulama saat itu...dan secara takdir beliau juga diberikan beberapa kelebihan oleh Allah. namun pada waktunya, jika memang ajal menjemput, maka syahidlah beliau......

Semoga ini bisa menjadi pencerah buat kita semua, bahwa Pitung adalah pejuang murni yang menganut syariat Islam tanpa ditumpangi dengan ilmu-ilmu yang aneh yang justru tidak sesuai dengan syariat...Guru-gurunya adalah ulama semua, ajarannya juga sesuai dengan ajaran Majeliis Wali Agung dan Fattahillah yang menganut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah...

LAPORAN NAPAK TILAS SITUS MAKAM DI KEBAYORAN LAMA (SYARIFAH KHADIJAH)


Ini adalah hasil perjalanan saya kemaren. Situs makam ini sebenarnya tidak menjadi target napak tilas saya. Tujuan utama ke daerah kebayoran lama khususnya yang berdekatan dengan pasar dan stasiun untuk mencari jejak makam seorang tokoh dari Mataram. Namun tanpa diduga dalam perjalanan ini saya malah mendapatkan info tentang makam keramat ini.

Di sekitar daerah ini saya bertemu dengan Bang Mahmud dari IKB. Dari beliau saya banyak mendapatkan info tentang makam-makam tua di sekitar kebayoran lama. 

Menurut riwayat yang didapatinya dari orangtua dulu, diketahui bahwa Syarifah Khadijah ini adalah ibu asuh Habib Husein Luar Batang. Keterangan ini tentu sangat menarik mengingat sejarah Habib Husein sudah sangat populer.

Betapapun demikian ada hal yang menjadi pertanyaan saya terutama adalah tentang tanggal dan tahun kematian Syarifah Khadijah yang ternyata bila dibaca di batu nisannya berangka tahun 1931. Apakah disini ada kekeliruan pembuatan batu nisan ? Atau jangan-jangan ini adalah Habib Husein yang lain ? Sebab setahu saya memang banyak nama para Sayyid yang mirip baik namanya maupun binnya. Tentu adanya data nisan ini semakin menarik untuk dibahas mengingat cerita beliau sebagai ibu asuh Habib Husein sudah lama diketahui pada lingkungan orangtua yang ada disekitar masjid Al Alkhyar (lihat foto masjid). Yang juga tidak kalah menariknya pengurus masjid mengatakan kepada saya kalau Syarifah KhadIjah ini wafat masih muda.

Syarifah Khadijah sendiri semasa hidupnya dikenal sebagai wanita yang sholihah. Bahkan banyak yang meyakini kalau beliau inj adalah Waliyullah apalagi diketahui bahwa beliau ini mempunyai banyak "keistimewaan" di dalam hidupnya. 

Dahulu makam ini banyak yang menziarahinya, bahkan banyak orang-orang jauh, namun sejak kepengurusan masjid berganti, makam keramat ini jadi tidak terurus dan mulai dilupakan orang, padahal sejak dulu para sesepuh selalu menjaga dan memelihara mak ini...Dahulu makam tersebut diberikan kelambu dan dibangunkan ruangan tapi kini bisa dilihat kondisinya. Padahal hal hal tersebut adalah merupakan kearifan lokal.

Makam ini jelas merupakan "paku" bagi masyarakat sekitar, sudah selayaknya dipelihara dan dijaga...

Al Fatehah untuk Syarifah Khadijah...