Sabtu, 11 Maret 2023

"JENDERAL SOEHARTO DAN SU 1 MARET 1949"

 Jenderal Soeharto....

Tahukah anda, nama ini di tahun 1998 pernah menjadi momok bagi mahasiswa, sehingga ditahun itu pula dia harus jatuh karena aksi besar besaran massa yang dipelopori oleh berbagai elemen mahasiswa. Saya adalah pelaku dan saksi jatuhnya penguasa terlama RI tersebut. Beberapa saksi sejarah dari teman mahasiswa saat itu mungkin tahu bagaimana kerasnya saya saat itu untuk menjatuhkan Jenderal Soeharto, sehingga saya pun kemudian sempat menjadi target untuk "diamankan". Tapi itu cerita lama...
Nama Jenderal Soeharto yang sempat tenggelam di era sekarang ini kini muncul kembali dalam pembahasan sejarah SU 1 MARET 1949, satu peristiwa yang mengegerkan Belanda dan dunia karena ternyata kekuatan perjuangan bangsa saat itu masih ada, padahal fihak Belanda, menganggap fihak TNI didukung rakyat sudah habis, padahal TNI dan rakyat masih terus siap bertempur. Dan salah satu yang dianggap heroik tokohnya adalah Letkol Soeharto yang kelak pada masa orde baru menjadi Presiden terlama. Karir Jenderal Soeharto sendiri sebenarnya nyaris mentok karena "diparkir" di bagian yang kurang bergengsi padahal dia lebih senior dari Jenderal Ahmad Yani. Tidak heran dengan kondisi yang terkucilkan Soeharto pernah berniat pensiun dini sebelum dicegah oleh Jenderal Gatot Subroto. Sosoknya dahulu dianggap koppig (keras kepala) oleh Bung Karno dan dianggap bodoh oleh jenderal jenderal lain, namun siapa sangka saat peristiwa G 30 S PKI, namanya mendadak bersinar. Jenderal Nasution yang justru paling senior justru malah tersingkir.
Di masa orde baru itulah, peristiwa heroik SU 1 MARET 1949 dimunculkan. Sudah bisa ditebak, bahwa sosok yang ditonjolkan adalah Jenderal Soeharto yang saat itu menjadi Presiden. Tentu tim sejarah pada masa itu lebih berorientasi "Soeharto sentris" dan inilah yang menyebabkan SU 1 Maret 1949 menjadi kontroversi dan menimbulkan pertanyaan bagi beberapa sejarawan terutama di masa orba, karena digambarkan peran Jenderal Soeharto seolah mendominasi kuat peristiwa bersejarah tersebut, padahal saat peristiwa tersebut terjadi banyak tokoh berperan besar disitu seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Jenderal Soedirman, Jenderal AH Nasution, Jenderal Gatot Subroto, Syafrudin Prawiranegara, Jenderal Jatikusumo, Jenderal TB Simatupang, Kolonel Zulkifli Lubis, dll... Walaupun demikian menghilangkan nama Jenderal Soeharto pada peristiwa SU 1 Maret 1949 rasanya sangat tidak adil. Kalaupun mau SU 1 MARET 1949 mau direkontruksi sejarahnya, tetap nama Jenderal yang dikenal murah senyum ini tetap harus ada. Memang dulu pada masa orba pernah terjadi ketidak adilan pada pengungkapan fakta sejarah dimana saat itu peran perjuangan para pahlawan dan jenderal² senior terpinggirkan, namun apakah itu harus terulang lagi di era rezim sekarang ini...
Ingat, sejarah hanya bisa berdiri tegak ketika ditulis oleh orang-orang yang berintegritas tinggi. Anda boleh benci terhadap Jenderal Soeharto karena mungkin semasa pemerintahannya beliau pernah melakukan kesalahan seperti cenderung bersikap diktator militeristik, penembakan petrus, keras terhadap petisi 50, penyalahgunaan dwi fungsi ABRI, menganak emas konglomerat, namun bukan berarti kesalahan-kesalahan tersebut menutup perannya di masa lalu. Sekalipun dahulu perannya tidak sebesar nama-nama jenderal hebat seperti Jenderal Soedirman dan Jenderal Nasution, tapi namanya memang pernah ada, terutama pada peristiwa SU 1 MARET 1949.
Jangan aji mumpung dengan semboyan, "sejarah ditulis oleh sang pemenang..." tidak bung, sejarah tetap harus ditulis oleh orang-orang jujur dan berani, hanya pemenang yang curanglah yang tega melakukan distorsi sejarah demi memuaskan dendam ataupun menjilat kepada penguasa...