Kamis, 10 September 2015

DATUK QIDAM, ULAMA BETAWI PENDIRI PONDOK PESANTREN KAYU PUTIH TANAH TINGGI & MARKAS BESAR MUJAHIDIN JAYAKARTA

Beliau adalah seorang Ulama Karismatik Jayakarta pada masanya. Para Pejuang Mujahidin Jayakarta mengenalnya sebagai sosok yang tegas dan penuh dengan strategi, tidak heran jika beliau ini dihormati oleh para mujahidin Jayakarta pada waktu itu, apalagi beliau saat itu menjabat sebagai seorang "Pangeran Jayakarta" dengan kedudukan sebagai PEMIMPIN MUJAHIDIN. .

Nama aslinya adalah Raden Karta Daim Syah sedangkan nama yang lebih terkenal adalajh Datuk Kidam. Gelar Datuk yang berada di Betawi menunjukkan jika beliau ini adalah bukan seorang ulama. biasa. Menurut Riwayat yang dituturkan kepada kami oleh buya KH Rusdi Ali dari Kampung Melayu Jakarta Selatan tahun 2014 yang lalu, semua ulama yang kedudukannya tinggi di Betawi pada masa abad ke 17 dan 18 diberikan gelar Datuk, salah satunya adalah ulama-ulama pengurus Masjid Al Atiq Kampung Melayu. Oleh karena itu apabila kita mendapati ada makam-makam di betawi yang diberikan gelar Datuk maka dia adalah merupakan seorang ulama yang boleh jadi sangat karismatik, seperti misalnya Datuk Ibrahim di Condet (keturunan Maulana Malik Ibrahim).

Datuk Qidam ini dahulunya pernah tinggal di wilayah Barat terutama kantong-kantong perjuangan para ulama betawi seperti Kampung Bambu Larangan Cengkareng, Jelambar Kampung Gusti, namun karena dirinya selalu dikejar-kejar Penjajah Belanda karena menjadi pemimpin mujahidin, akhirnya beliau memutuskan hijrah ke wilayah Jatinegara Kaum.

Kantong-Kantong Perjuangan Mujahidin Jayakarta di wilayah Betawi terutama Front Barat saat itu yang tercatat dalam kitab Al Fatawi adalah Jelambar, Pekojan, Cengkareng dan sekitarnya, Rawa Belong, Tanah Abang (saat itu belum ada pemecahan wilayah), Masjid Angke, Mangga Besar, dan masih ada beberapa yang lainnya.

Dari wilayah Jatinegara Kaum kemudian beliau bergeser lagi ke sebuah daerah yang bernama TANAH TINGGI KAYU PUTIH yang kini sudah tidak ada lagi dan berganti dengan PACUAN KUDA PULO MAS. Di daerah inilah beliau mendirikan PESANTREN DATUK KIAI QIDAM SYAH (DATUK QIDAM). Sayangnya keberadaan Masjid dan Pondok Pesantren yang didirikan dahulu kini tinggal kenangan, masjid yang beliau bangun dirubuhkan rezim orde baru tahun 1972 untuk kepentingan pacuan kuda dan perumahan. Padahal dari Kayu Putih Tanah TInggi dahulu terkenal sangat makmur, sampai-sampai pernah dijuluki "NEGERI INDAH KAMPUNG DONGENG" karena begitu makmur dan sentosanya kehidupan para penduduknya. Kini daerah tersebut sudah hilang dan menjadi daerah elit, keluarga besar keturunan Datuk Qidam kemudian hijrah ke daerah Kayu Putih Utara Kecamatan Pulo Gadung. Namun ada satu hal yang aneh, hingga kini tanah bekas masjid Datuk Qidam yang dirubuhkan rezim orde baru (masa Gubernur Ali Sadikin) tidak pernah bisa dibangun apapun......aneh, Miris juga bila melihat tanah bekas masjid tersebut, kebetulan saya sudah melihatnya. Sampai saat ini wilayah Kayu Putih Tanah Tinggi sudah tidak dikenal, orang tahunya hanya daerah Pulo Mas Pacuan Kuda. Sedangkan nama Kayu Putih berpindah ke wilayah Pulo Gadung yang sekarang ini.

Di Pesantren ini disamping sebagai tempat belajar, namun dijadikan juga sebagai basecampnya para Mujahidin Jayakarta yang terus menerus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dahulu banyak pejuang-pejuang Jayakarta singgah dan bersembunyi di wilayah ini, dan hebatnya daerah ini sulit dideteksi Belanda karena begitu rahasianya informasi yang ada didalamnya. Datuk Qidam memang sangat merahasiakan tempat yang dijadikan markas besar perjuangan kaum Mujahidin Jayakarta ini. Belanda hanya tahu kalau Pondok Pesantren Tanah Tinggi hanya merupakan pesantren biasa yang tidak perlu diwaspadai. Inilah yang menurut kami salah satu kecerdasan Datuk Qidam dalam rangka melakukan sebuah strategi. Para Mujahidin Jayakarta, pasca dibakarnya Keraton Jayakarta, secara turun temurun dan estafet terus menerus melakukan koordinasi perlawanan di beberapa perlawanan yang terjadi di beberapa wilayah Jayakarrta. Salah satu Pemegang Garis Komando mereka adalah Datuk Qidam ini. Perlawanan bawah tanah terus digelorakan oleh Kaum Mujahidin sampai puncaknya muncul Para Pendekar Pitung dan Gerakan Ki Dalang.

Para Mujahidin Jayakarta tidak pernah berhenti untuk berjuang baik secara terbuka maupun gerilya dan semua perjuangan tersebut telah dicatat dengan baik oleh para Mushonif (ulama pencatat sejarah) Jayakarta secara turun temurun. Para ulama pencatat sejarah tersebutlah yang berhasil merekam berbagai perjuangan mujahidin Jayakarta dan menjaganya dengan baik dari incaran dan rampasan penjajah. Dan terakhir pencatatan itu dilakukan oleh Al Allamah KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma yang juga murid dari Guru Mansur Sawah Lio, Syekh Abdul Ghoni, Sayyid Muhammad Idrus Al Haddad dari Kampung Rawa Sari.

Secara silsilah, Datuk Qidam ini masih satu nasab (satu keturunan) dengan Syekh Junaid Al Batawi, Syekh Mujtaba Al Batawi, Guru Mansur Sawah Lio, KH Ratu Bagus Ahmad Sya'ri Mertakusuma, Syekh Abdul Ghoni, Para Pendekar Pitung, juga dengan keluarga besar Aria Wiratanudatar (leluhurnya KH ABDULLAH BIN NUH), Raden Kertadria (Pahlawan Perang Pecah Kulit), Raden Wirantayudha (Pangima Perangnya Untung Suropati). Mereka ini adalah keturunan dari Sultan Besar di Pulau Jawa yaitu Sultan Abdul Fattah Sayyidin Panatagama yang merupakan Pendiri Kesultanan Islam Pertama di Jawa yaitu Kesultanan Demak Bintoro.

Datuk Qidam ini beberapa puluh tahun yang lalu mempunyai peninggalan jubah untuk sholat dan perangkat keagamaan lainnya, sayangnya hingga kini keberadaan barang-barang tersebut tidak diketahui keberadaannya, padahal jubah tersebuth menjadi bukti sejarah.

Semoga jasa salah satu pemimpin Mujahidin Jayakarta ini dibalas oleh Allah SWT.....

Al Fatehah...........

Sumber :

Kitab Wangsa Aria Jipang oleh Ratu Bagus Gunawan Semaun Mertakusuma, Agapress, 1986.
Kitab Al Fatawi (Silsilatul Syar'i), oleh Al Allamah KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma Al Hafizh, Palembang - Jakarta, Al Fatawi, 1910.