Rabu, 23 November 2016

BERZIARAH KE MAKAM UMMUL MU'MININ SAYYIDATUL KHADIJAH AL KUBRO DAN KELUARGA BANI HASYIM DI MA'LA MEKKAH

Edisi laporan perjalanan kali adalah Ziarah k Makam Ma'la Mekkah. Bagi saya yang sudah sampai di Mekkah, tidak lengkap rasanya jika belum mengunjungi makam yang usianya sudah lebih 1500 tahun ini. Bagi saya mengunjungi makam bersejarah ini akan bisa mengingatkan kita bagaimana sepak terjang dari mereka yang dimakamkan itu.
Perjalanan ziarah ke Ma'la ini adalah yang kedua buat saya. Yang pertama adalah setelah dua hari saya tiba di Mekkah. Perjalanan pertama tersebut saya mendapatkan beberapa makam para sahabat Nabi dan Syekh Nawawi Banten. Perjalanan ini saya lakukan setelah terlebih dahulu melakukan sholat zuhur berjamaah di masjid jin yang lokasinya berada di samping makam 'Ma'la. Makam ma'la sendiri pada saat sekarang posisnya sudah dikurung bangunan-bangunan megah. Kontras dengan kondisinya yang dibuat sangat "sederhana".
Perjalanan kali ini saya tempuh dengan berjalan kaki dari tempat hotel saya sampai ke lokasi. Jarak tempuh yang harus saya lalui kurang lebih sekitar 3-4 km. Perjalanan dengan jalan kaki ini betul betul saya nikmati apalagi jamaah haji masih penuh..
Pada perjalanan yang kedua ini saya ingin memperdalam informasi tentang pemakaman. Terus terang dari awal dan akhir saya cukup kesulitan mengorek data data disini, mengingat di negara Arab Saudi dalam memperlakukan makam tidaklah sama seperti di negara kita. Tapi walaupun demikian saya tidak ingin buruk sangka, saya justru tertantang dengan kondisi seperti ini. Naluri petualang dan rasa ingin tahu saya "meledak" untuk meneliti makam makam yang ada disini.
Target utama perjalanan kedua di Ma'la ini adalah makam Ummul Mu'minin Sayyidatul Khadijah Al Kubro dan leluhur beliau serta beberapa sahabat di sebuah bagian agak pojok komplek makam, posisinya sudah berdekatan dengan bukit yang kini sudah dikurung gedung-gedung tinggi. Selain Ummul Mu'minin saya juga berhasil kembali menemukan makam Sayyid Muhammad bin Alwi Al Malilki serta kembali mengunjungi makam Syekh Nawawi Banten....sedangkan makam Syekh Yasin Al Fadani belum berhasil saya temukan, tapi untuk laporan kedua ulama yang pertama itu akan saya buat terpisah.
Komplek makam Ummul Mu'minin dikunci dengan gembok besar, sehingga kita tidak bisa berdekatan dengan makam, kita hanya bisa melihat dari depan dan samping pagar pembatas. Adanya pagar beton pembatas ini tentu telah membuat banyak pengunjung bingung siapa saja kira kira yang dimakamkan disitu, apalagi semua makam hanya ditandai dengan sebuah batu cadas yang semuanya di cat putih dan nyaris ukuran dan bentuknya sama. Pada kedatangan saya yang pertama, saya sempat mengalami kebingungn, namun kebingungan saya segera lenyap setelah beberapa tukang sapu (OB) makam yang semuanya berasal dari Banglafes memberi tahu saya dimana letak makam Ummul Mu'minin dan keluarga besar Bani Hasyim.
Karena lokasi Ummul Mu'minin saya sudah ketahui maka ketika sudah berhadapan dengan konplek makam ini saya sempat berujar dalam hati "Ah, saya kok merasa seperti balik kampung saja..."
Jujur....jika melihat kondisi makam beliau, bani hasyim dan para sahabat, saya merasa terharu.. jika melihat foto pada tahun 1908 Masehi dimana pada saat itu Sharif Husain Mekkah yang merupakan keturunan Sayyidina Hasan masih berkuasa (kini mereka berkuasa di Yordania dengan Raja Sayyid Abdullah Al Hasani) terlihat sekali jika komplek makam yang ada di sekitat Ummul Mu'minin kita ini sangat berbeda jauh dengan kondisi yang sekarang...
Rasa panas saat kemarin seolah tidak saya hiraukan apalagi saat itu saya hanya seorang diri berkeliling di sekitar makam. Padahal panas saat itu hampir 50 derajat, tapi saya masih tetap semangat, buat saya kapan lagi saya bisa berziarah di makam ini.
Sesampai di makam ini saya seperti biasa bertahlil dan kemudian berdoa sambil merenung tentang sejarah Ibunda kita ini. Setelah berdoa saya sempat bertemu dengan satu orang Turki, kepadanya saya minta tolong untuk difoto di samping komplek makam Bani Hasyim...
Setelah kami berkenalan akhirnya kami berjalan masing masing, tidak lama datang para peziarah dari China. Tapi saya tetap larut dalam kegiatan saya. Setelah dari komplek makam Bani Hasyim saya mengambil banyak foto. Hampir 90 % lokasi makam saya foto terutama di lokasi kanan dan tengah..
Setelah berziarah saya kembali ke pintu gerbang masuk awal, ternyata sudah ditutup ! Saya segera berteriak untuk dibuka dan akhirnya sama penjaga pintu, wah nyaris saja terkurung....
Di depan pintu masuk ini kita akan disuguhi banyak informasi mengenai "tata cara ziarah" yang benar. Dan anda juga tidak perlu khawatir karena di area ruang masuk yang ber AC atau teras utama ini disediakan minuman yang melimpah ruah. Serta juga disediakan buku buku tentang agama.
Ke Mekkah, jika anda tidak berziarah ke Ibunda kita....Ah betapa sayangnya, karena berkat kesabaran, dukungan dan kegigihan beliaulah Rasulullah SAW mampu bertahan ditengah hujatan dan fitnah yang dilakukan oleh Kafir Quraish...
Al Fatehah untuk Ummul Mu'minin Sayyidatuna Khadijah Al Kubro, Keluarga Bani Hasyim dan para sahabat Rasul serta para ulama dan kaum muslimin dan muslimat yang dimakamkan di Ma'la.....

NAPAK TILAS KE MASJID JIN DAN MAKAM MA'LA MAKKAH

Siang ini saya melakukan napak tilas ke makam Ma'la Mekkah. Saya sekarang berada di masjid Jin yang posisinya bersebelahan dengan pemakaman tersebut. Ziarah saya ke Ma'la adalah yang kedua. Yang pertama saya berhasil menemukan makam Syekh Nawawi Al Bantani, Sayyidina Abdullah bin Zubair, Dan putri Sayyiidina Abu Bakar Asma Binti Abu Bakar. Ziarah saya yang pertama sengaja saya tidak membuat tulisan dan mengupload foto, ini saya lakukan untuk menghindari riya' dalam berhaji. Proses haji telah selesai oleh karena itu saya memberanikan diri untuk mencoba untuk membagi informasi hasil perjalanan saya ini, Insya Allah dihati saya tidak ada rasa pamer, semua mutlak demi dakwah melalui kajian sejarah.
Dan yang kedua ini saya akan mencari makam Syekh Yasin Al Fadani dan Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki. Saya yakin keberadaan ulama Indonesia tempo dulu tidak jauh dari makam Syekh Nawawi Al Bantani. Kali ini saya berziarah seorang diri demi untuk merasakan bagaimana perjuangan para Sahabat Rasul dan ulama kita dalam menegakkan agama Islam. Panas hari ini hampir 50 derajat. Namun Insya Allah panas ini adalah rahmat Allah..waktu saat ini tepat pukul 12.01..

LAMBANG GERAKAN PITUAN PITULUNG (PITUNG) BERDASARKAN KITAB AL FATAWI

Pitung atau Pituan Pitulung adalah salah satu organisasi perlawanan rakyat Jakarta yang dibentuk pada tahun 1880 Masehi oleh Kyai Haji Naipin atas saran dari Pejuang Jayakarta dan Sesepuh adat Tempo Dulu. Kyai Haji Naipin adalah seorang yang alim dan juga dikenal sebagai salah satu ahli silat yang handal di kawasan Tenabang.
PITUNG didirikan setelah seluruh anggotanya melewati beberapa tes seperti ujian jurus terakhir illmu silat, ujian ilmu agama yang sudah mereka pelajari, ujian ilmu tarekat serta diakhiri dengan khataman Al-Qur'an yang diikuti oleh 7 santri terbaik Kyai Haji Naipin. Setelah dinyatakan lulus maka ketujuhnya dibaiat untuk selalu setia dalam jihad fisabillah, setia terhadap persahabatan, selalu menolong rakyat dan hormat dan patuh terhadap orangtua, ulama dan sesepuh adat.
Nama Pitung yang berarti 7 Pendekar Penolong, mengambil dari inspirasi Surat Al Fatehah yang terdiri dari 7 ayat. Oleh karena itu ke 7 Pendekar ini selalu ditekankan untuk terus menghayati dan mengamalkan kandungan Surat Al Fatehah dalam setiap perjuangan mereka.
Diantara ke 7 Pendekar itu maka kemudian dipilihlah yang paling terbaik untuk menjadi pemimpin, jatuhlah pilihan itu kepada salah satu murid yang paling dicintai KH Naipin yaitu Radin Muhammad Ali Nitikusuma yang asli kelahiran Slipi, beliau lahir di "Rumah Jipang" (kini bangunan Rumah Jipang sudah musnah berganti dengan bangunan Kompas Gramedia). KH Naipin memang sangat sayang pada sosok ini, karena sejak kecil Radin Muhammad Ali adalah seorang Yatim dan beliau juga tahu bagaimana kisah terbunuhnya ayah Muhammad Ali. Sedangkan ibunya telah menikah lagi dengan salah seorang duda yang mempunyai anak yang berada di daerah Kemanggisan. Kasih sayang ulama sufi ini juga sangat wajar karena dia adalah paman Radin Muhammad Ali.
Beliau Radin Muhammad Ali Nitikusuma adalah sosok yang alim dan soleh, pewaris silat Kyai Haji Naipin dan silat-silat warisan pejuang Jayakarta. Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dan pantang kompromi dengan penjajah kafir. Ayahnya syahid dibunuh penghianat bangsa yang diantaranya para Tuan Tanah China dan centeng-centeng bayarannya, harta bendanya dirampas dan keluarga besarnya banyak yang diburu dan difitnah. Beliau yatim sejak umur dua tahun. Di mata penjajah sosok ini lebih dikenal sebagai perampok daripada pejuang.
Orang kedua yang juga tidak kalah hebatnya adalah Ratu Bagus Muhammad Roji'ih Nitikusuma. Beliau kelahiran dari Desa Cengkareng yang kini berada di Jakarta Barat Dialah otak dibalik semua strategi perlawanan gerakan Pitung. Dikenal licin dan sulit untuk ditangkap. Namanya sering disebut sebagai Ji'ih. Sosoknya alim dan Soleh dan dikenal sangat keras perlawanannya terhadap penjajah kafir. Dia tidak seperti yang digambarkan dalam beberapa film. Dia justru sangat cerdas dan penuh perhitungan.
5 orang lagi juga tidak kalah hebatnya, mereka adalah Abdul Qodir (dari Kemanggisan), Abdus Shomad (Kemanggisan), Saman (dari Cileduk), Rais (asli Tenabang), Jebul/Ki Dulo/Abdulloh (dari Kramat Togo). Salah satu dari mereka yaitu Bang Jebul bahkan pernah membuat gempar para pendekar persilatan, dimana pada sebuah acara pesta dia telah membuat Schout Van Hinne keok, padahal Hinne sebelumnya berkoar-koar kalau dia jago beladiri segala aliran dari berapa negara, dan dia saat itu berani nantang semua yang hadir. Pada acara pesta yang diadakan oleh salah satu tuan tanah itu kebetulan semua anggota Pitung datang tapi dengan cara menyamar sebagai orang biasa. Pitung datang karena mendengar Hinne datang. Pitung ingin melihat seberapa besar sebenarnya pengaruh dia terhadap Tuan tanah yang ada di Betawi.
Tantangan Opsir polisi yang sombong itu dilayani, Radin Muhammad Ali yang paling dituakan membisiki Bang Jebul agar segera memberi pelajaran, dan hanya berapa gebrakan jurus "Sira Macan" Bang Jebul berhasil membuat babak belur Schout Van Hinne dalam sebuah adu tanding silat di Tangerang, sehingga dari kejadian inilah Hinne menjadi sangat dendam dan marah, dia dan pasukan marsosenya bahkan saat itu mau ngamuk tapi keburu dicegah tuan rumah. Schout yang satu ini bahkan bertambah dendam begitu tahu bahwa yang mengalahkan dia ternyata satu dari anggota Pitung. Hinne betul-betul dendam terhadap semua anggota Pitung karena merasa telah dipermalukan di depan khalayak ramai.
Schout Van Hinne sepertinya memang musuh besar Pituan Pitulung. Satu kali dia pernah kena batunya saat semua Anggota Pitung menangkapnya di daerah Jelambar. Disini dia dan pasukan marsosenya dihajar habis-habisan. Pasukan Marsosenya itu terkenal sadis dan kejam terhadap pribumi, tapi menghadapi Pituan Pitulung mereka lari terbirit birit. Pitung memang sangat keras terhadap Hinne dan marsosenya. Anggota Pitung kesal karena Hinne dan marsosenya ini sering memfitnah Pitung dan mengancam beberapa orang yang pro terhadap perjuangan Pitung. Tapi semua anggota Pitung masih memberikan kesempatan dia hidup dengan catatan dia tidak menindas rakyat dan tidak memfitnah Pitung sebagai gerombolan perampok.
Seperti pada sebuah perjuangan pasti ada resiko..dua orang anggota Pitung yaitu Jebul dan Saman pada tahun 1896 pernah tertangkap dan dipenjarakan di Glodok. Namun mereka berhasil meloloskan diri bahkan berhasil membunuh beberapa marsose. Beberapa anggota Pitung juga harus mengalami mati syahid. Dji'ih tertembak tahun 1899 Masehi, jenazahnya masih bisa diselamatkan. Radin Muhammad Ali syahid ditembak tahun 1905 Masehi. Beliau ditembak bertubi tubi oleh para Marsose sampai akhirnya rubuh, namun sampai detik detik kematiannya dia tidak menyerah dan terus bertakbir.
Setelah Syahid jasad Muhammad Ali dimutilasi penjajah kafir melalui para inlander yg menjadi "anjing anjing penjajah" yang rela menindas saudaranya sendiri. Jasad Muhammad Ali yang tidak sempurna kemudian disholatkan oleh para alim ulama di kawasan Slipi dan sekitarnya untuk kemudian dimakamkan di daerah Bandengan. Para ulama dan sesepuh yang berada di daerah Jipang Pulorogo (Slipi, Palmerah, Rawa Belong, Kemandoran dan sekitarnya) sangat berduka dengan kematian salah satu pejuang terbaik mereka.
Pitung adalah fakta sejarah, kisah mereka tercatat dalam kitab Al Fatawi, kisah mereka adalah kisah perlawanan kaum muslimin yang tertindas oleh penjajah kafir dan antek anteknya Mereka adalah Mujahid Sejati yang membela agama Islam dan rakyat Jakarta, mereka bukan Perampok, mereka orang orang terpelajar dan juga mengerti tentang dunia politik yang diterapkan penjajah.
Kisah mereka tentu tidak akan pernah sesuai dengan kisah yang berasal dari penjajah kafir baik itu melalui koran mereka ataupun para sejarawan kolonialis yang memang bekerja untuk kepentingan penjajah. Penjajah pada masa itu dengan politik devide et imperanya bahkan berusaha untuk menciptakan Pitung-Pitung palsu untuk memancing Pitung Pitung asli keluar dari persembunyian. Bahkan saat syahidnya Radin Muhammad Ali , salah satu fihak yang menjebaknya mengaku sebagai Pitung asli.
Para anggota Pitung adalah manusia biasa, mereka tidak mempunyai ilmu macam-macam apalagi sampai memakai jimat seperti yang disebarkan beritanya oleh Belanda kalau Pitung Sakti mandraguna. Isu peluru emaspun dibuat-buat dan disebarkan kepada masyarakat agar Radin Muhammad Ali dianggap sosok sakti namun ternyata Belanda ternyata bisa membunuhnya, Belanda menciptakan cerita fiktif seperti ini agar masyarakat semakin takut. Jasadnya sengaja dimutilasi agar masyarakat kehilangan jejak sejarahnya dan juga tidak bisa lagi menziarahi makamnya. Namun sekalipun jasadnya terpencar kisah kepahlawanan pejuang tangguh ini tidak akan pernah hilang dari tanah Jakarta ini...
Kematian dua orang dedengkot Pitung tentu mengguncangkan perasaan keluarga besar mereka yang ada di wilayah Jipang Pulorogo (kini merupakan daerah Slipi, Palmerah, Kemanggisan, Rawa Belong, Kemandoran dan sekitarnya), sehingga akhirnya banyak dari mereka yang trauma dan menutup diri terhadap fihak luar (terutama oknum-oknum pendatang yang telah setia menjadi "anjing-anjingnya penjajah") Mereka betul-betul semakin terpukul karena kematian dua orang Mujahid itu telah melibatkan oknum-oknum bayaran pribumi yang disewa para tuan tanah china dan penjajah kafir..lagi-lagi politik devide et impera dimunculkan.
Pasca kematian dua orang tokoh utama Pitung, penjajah semakin gencar membuat berita dan kabar bohong tentang Pitung, digambarkan kalau Pitung itu identik dengan ilmu-ilmu yang aneh dan senang pakai jimat, padahal semua anggota Pitung hanya diajarkan ilmu beladiri dan juga ilmu ilmu agama seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqih, Ilmu Hadist, Ilmu Tassawuf, Ilmu Tauhid, Ilmu Alat dan juga pengetahuan tentang strategi-strategi perlawanan. Mereka juga melek terhadap dunia politik yang berkembang pada masa itu, sehingga karena lengkapnya pengetahuan mereka, penjajah menghabisi gerakan ini sampai ke akar akarnya yang salah satunya dengan cara menghancurkan sejarah asli Pituan Pitulung, tidak heran ada kabar bahwa Pitung katanya orang China, Pitung katanya dari daerah luar, padahal semua anggota Pitung pribumi asli Jakarta yang sudah menetap ratusan tahun.
PITUAN PITULUNG....1 untuk 7....7 untuk 1
7 Golok adalah jiwa kesatria mereka
Allah SWT Dasar hidup mereka 
Rasulullah SAW panutan suci mereka

Al Fatehah untuk KH Naipin, Asy-Syahid Radin Muhammad Ali Nitikusuma, Asy-Syahid Ratu Bagus Muhammad Roji'ih Nitikusuma, Abdul Qodir, Abdus Shomad, Rais, Saman, Abdullah (Jebul)
Disarikan dari KITAB AL FATAWI yang dtulis ulang dari tulisan lama ke dalam bahasa arab melayu oleh Al Allamah Asy-Syekh KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i/Kumpi Syari/Babe Betawi) atas perintah Guru Mansur Sawah Lio tahun 1910 Masehi di Jakarta.

SYEKH ABDUL GHONI, WALIYULLAH DARI TANAH CIGANJUR (Wali Di Tengah Kesunyian..)

Penelitian kali ini masih di seputaran wilayah Selatan..
Target penelitian adalah makam seorang ulama atau Waliyullah mastur yang pernah berjasa dalam dakwah Islamiah di Selatan Jakarta. Makam yang kami tuju ini merupakan salah satu target beberapa makam yang akan kami teliti.
Adanya informasi mengenai keberadaan makam saya peroleh berkat kebaikan dari salah satu sahabat di akun saya ini. Biasanya informasi seperti ini tidak mudah diperoleh kalau memang tidak berjodoh. Tentu dengan memperoleh info sangat berharga ini, saya kemudian segera membuat rencana penelitian. Dan kesempatan itu akhirnya datang beberapa minggu yang lalu.
Seperti biasa untuk mencari sebuah makam, saya niatkan untuk hal-hal yang positif yang kiranya nanti bisa berguna bagi masyarakat. Insya Allah apa yang saya lakukan, semata-mata karena Allah dan kepentingan terpeliharanya sejarah para ulama yang dulu pernah berjasa untuk kita, khususnya umat Islam yang ada di Jakarta dan sekitarnya.
Penelitian saya lakukan bersama sahabat saya Sandi Sedayu beserta istri tercinta. Makam yang kami cari posisinya berada "DI JALAN KELINCI RT 07/RW 06 Kelurahan CIganjur Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan." Wilayah yang saya datangi ini sudah tidak asing lagi, karena berapa kali saya sudah masuk kesana juga dalam rangka penelitian sejarah tokoh-tokoh Islam pada masa lalu.
Pada perjalanan kali ini, Alhamdulillah kami berhasil menemukan makam yang kami cari walaupun sebelumnya kami harus banyak bertanya, mengingat keberadaan makam yang satu ini tidak banyak yang tahu. Dan semua itu memang terbukti, pada saat kami bertanya di dekat makam yang kami maksud, beberapa orang yang tinggal disitu justru baru tahu kalau di daerah mereka ada makam seorang ulama.
Saat menemukan lokasi makam, seperti yang sudah-sudah, kami kemudian mencari orang-orang yang kiranya faham dengan sejarah makam yang akan diteliti ini. Namun sayangnya, orang yang biasa menjaga makam sedang tidak ada. Sekalipun demikian saya masih bersyukur, karena dengan Izin-NYA saya bisa bertemu dengan salah satu situs makam bersejarah milik seorang ulama. Rasa lelah karena kesana-kemari bertanya, terbayar lunas dengan kami menemukan makam wali yang mastur ini.
Berdasarkan keterangan yang sangat singkat dari istri pengurus makam yang kami kunjungi, makam keramat tersebut usianya sudah ratusan tahun. Saya sendiri merasa tidak heran ketika disebut kalau makam ini berusia ratusan tahun, karena memang wilayah Ciganjur Jagakarsa sarat dengan sejarah Islam, ini dibuktikan dengan banyaknya makam-makam ulama dan pejuang Islam yang bertebaran seperti Mbah Datuk Hawiya Kuningan, Mbah Pangeran Jaga Raksa, Nyi Ros Kembang, Datuk Zakaria, dll. Tidak heran orang seperti Gus Dur sangat kerasan di daerah ini, dan bukanlah hal yang aneh kalau sekarang banyak para ulama yang hijrah dan menetap bahkan kemudian mereka mendirikan Pondok Pesantren di wilayah yang kental dengan nilai-nilai Islamnya ini.
Menemukan makam ini tentu merupakan sebuah hal yang cukup menggembirakan buat saya, karena sedikit demi sedikit, tabir sejarah bisa terungkap, memang keberadaan makam ini sangat tersembunyi, namun jika melihat bentuknya, sepertinya makam ini sering dikunjungi para peziarah, menurut salah seorang sahabat FB saya, Gus Dur bahkan pernah menziarahi makam ini. Posisi makam yang berada di tanah terbuka tentu memudahkan kita untuk bisa berziarah ke makam ini.
Seperti yang sudah-sudah, ketika datang ke sebuah makam, saya melakukan tahlil dan doa. Setelah selesai kami mengambil beberapa sudut gambar untuk nanti saya share ke medsos sebagai sebuah informasi sejarah.
Suasana sekitar makam sangat hening sekali, apalagi kebun-kebun masih cukup rindang, tidak heran nyamuk masih banyak. Rumah makam juga sangat sunyi.. Sahabat yang saya ajak (Dayu) terlihat sangat khusuk berdoa, dia hanya menyatakan kagum dengan sosok yang satu ini. Saya sempat bertanya pada dia, "Apa yang ente rasakan ?" . Dayu menjawab, "pemakaman ini sangat tenang sekali", "sosok yang dimakamkan ini sepertinya memang ingin sekali "beruzlah" dari kehidupan masyarakat. Sahabat yang satu ini memang saya kenal cukup peduli terhadap keberadaan makam bersejarah.
Sayangnya keberadaan makam Waliyullah ini tertutup oleh kandang ayam milik penduduk setempat, sehingga dari jauh kita tidak akan menyangka, kalau dibalik kandang-kandang ayam tersebut ada seorang makam Waliyullah. Semoga saja kedepannya suasana tersebut bisa berubah..
Sampai saat ini keberadaan sosok yang kami datangi ini belum bisa dilacak tentang sejarah dan riwayatnya, memang dibutuhkan sebuah kesabaran dalam melacak sejarah seseorang, baik itu dari sisi nasab maupun biografinya. Namun demikian jika melihat peta jaringan ulama yang ada di Jagakarsa dan sekitarnya, bukan tidak mungkin beliau ini adalah salah satu sosok yang juga menentukan wajah keislaman di daerah yang dulu terkenal sebagai "TANAH PARA AULIA", dari gelarnya saja sudah menunjukkan kalau beliau adalah sosok ulama yang cukup ternama dan dihormati..
Siapapun beliau.....Al_fatehah untuk Syekh Abdul Ghoni..

DATOK KEMBANG, WALIYULLAH DITENGAH KLENTENG CHINA (Sisi Lain Wisata Ziarah Di Pesisir Utara Jakarta)

Jakarta….sekali lagi Jakarta….
Kota ini seolah tidak pernah kering akan situs bersejarah Islamnya.
Sekali lagi saya dipertunjukan sebuah suguhan situs yang luar biasa.
Perjalanan yang saya lakukan ini sebenarnya sudah saya lakukan sebulan yang lalu, hanya saja baru hari inilah saya berkenan untuk membagi pengalaman penelitan di pesisir utara Jakarta.
Dalam perjalanan kali ini saya mendatangi makam seorang Waliyullah yang berada di wilayah Ancol. Keberadaannya sendiri sebenarnya sudah lama saya ketahui melalui berbagai sumber, hanya saja kesempatan untuk meneliti tempat ini selalu terbentur masalah waktu karena adanya pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.
Nama Waliyullah yang saya datangi ini adalah “DATOK KEMBANG”. Beliau sangat dikenal oleh sebagian para peziarah yang berada di Jakarta Utara. Menurut beberapa sumber DATOK KEMBANG nama aslinya adalah Al-Habib ‘Ali Bin Ahmad Abdulloh Al-Habsyi. Di nisannya sendiri tertulis nama MBAH SAID (SAYYID) ARELI DATO KEMBANG (KRAMAT ANCOL). Yang membuat saya tertarik untuk mendatangi makam ini adalah karena saya mendengar bahwa makam ini berada di sebuah Vihara atau Klenteng China. Tentu hal ini merupakan sebuah keunikan, mengingat beliau ini adalah seorang ulama dan juga merupakan Waliyullah. Saya sendiri sebelum mendatangi tempat ini, sebelumnya mempelajari sejarah dari Klenteng yang berhubungan dengan Datok Kembang ini dari beberapa sumber. Dengan saya mempelajari sejarah keterangan singkat Datok Kembang dan juga Klenteng ini (sekarang bernama Viihara Bahtera Bakti) maka saya tidak akan kaget atau syok ketika memasuki situs ini. Dan memang, saat saya masuk ke Vihara ini rasa percaya diri saya sangat tinggi, sehingga ketika saya masuk, saya merasa biasa-biasa saja.
Awalnya untuk mendatangi tempat ini, saya harus banyak bertanya, mengingat tidak semua orang tahu, mungkin kalau Vihara sebagian tahu, namun untuk makam DATOK KEMBANG sepertinya tidak begitu banyak yang tahu. Untuk kawasan wilayah Jakarta Utara memang kebanyakan pusat-pusat ziarah yang paling dikenal adalah Makam Habib Husein Luar Batang, Makam Kramat Kampung Bandan, Makam Mbah Priuk, sedangkan untuk makam yang satu ini bisa dikatakan jarang-jarang ada pengunjung ziarahnya.
Setelah beberapa kali saya bertanya, akhirnya tidak lama kemudian saya mendapati tempat ibadah milik Agama Budha ini. Vihara ini mempunyai halaman parkir yang cukup luas. Tidak lma sampai di lapangan parkir, saya kemudian memasuki Vihara ini.
Terus terang seperti yang saya sudah saya tulis diawal ketika saya masuk ke tempat ini, rasa percaya diri saya sangat tinggi sekali, sehingga ketika saya masuk, perasaan saya biasa-biasa saja. Saya merasa tempat ini sama seperti tempat bersejarah yang lain, lagi pula saya datang kesini untuk penelitian sejarah apalagi keberadaan situs ini sudah masuk sebagai cagar budaya.
Sampai di lokasi Vihara Bahtera Bakti saya sempat bertanya kepada salah satu anak muda yang sepertinya dari Etnis China tentang dimana posisi makam Datok Kembang, dengan ramah dia menunjukkan makam Datok Kembang. Saya kemudian masuk keruang tengah, melewati ruang ini saya sempat berpapasan dengan beberapa pengurus Vihara, dengan santai saya katakan kalau saya mau ziarah, mereka dengan senang hati mempersilahkan. Kurang dari satu menit akhirnya saya tiba di depan makam DATOK KEMBANG.
Saat saya memasuki area makam, saya sempat kaget dan syok juga ketika melihat di depan makam beliau banyak atribut-atribut yang biasa dipakai untuk upacara agama leluhur China. Tapi itu tidak lama, karena saya lebih berkonsentrasi untuk berdoa kepada arwah Sang Waliyullah ini, lagipula saya baru ngeh kalau saya lagi berada di Viharanya orang Budha. Saat saya sedang berdoa, tidak lama datang seorang anak muda (dari etnis China) yang kemudian melalukan upacara ritual di depan makam, (dalam hati saya tersenyum geli, karena kalau saja dia tahu bahwa yang disembah itu adalah ulama Islam, tentu dia pasti mikir..). Setelah dia berdoa, saya dekati dia dan saya ajak ngobrol, ternyata cukup ramah juga orang ini. Orang ini mengatakan kepada saya, bahwa tempat yang dia datangi selalu membawa “hoki”, nah loh kok bisa …???.(dalam hati saya…). Dia sudah lama mencari keberadaan makam ini, namun selalu saja gagal, dia buka google maps, tapi gak ketemu juga. Dan begitu ketemu maka segera dia datangi tempat ini untuk melakukan upacara ritual. Saya mendengarnya sih, senyum dalam hati sajalah..lha wong dia gak tahu kok. Setelah banyak ngobrol, kemudian saya minta tolong kepada dia untuk mengambil foto saya, lengkap dengan latar belakangnya. Dengan ramah dia kemudian melakukan apa yang saya inginkan. Tidak lama dengan orang ini, kemudian datang lagi seorang wanita china, dia ini juga melakukan upacara ritual yang sama, bahkan wanita yang satu ini terlihat sangat “khusuk” sekali. Walah dalam hati....(Ulama saya kok diginikan ya...?), ya sudahlah, nafsi-nafsi sajalah...gak mungkin juga kalau tiba-tiba saya teriak ke mereka, "hei musyrik kamu..." hehehe, tidak mungkinlah...
Dalam sejarahnya keberadaan Vihara ini adalah merupakan sebuah gambaran perjalanan sejarah yang unik di Kota Jakarta. Dahulu tempat ini merupakan pusat ziarah dari beberapa kebudayaan. Ada Betawi, Ada Arab dan Ada pula China. Daerah ini dahulunya merupakan daerah yang yang selaras akan kehidupan masyakarat Betawi, Arab dan China. Keberadaannya yang berlokasi di pesisir pantai menjadikannya lebih mempunyai warna, apalagi pada masa itu pusat kegiatan dan komunikasi selalu melalui laut dan sungai hingga kemudian seorang tokoh penyebar agama Islam datang ke tempat ini. Dan beliau adalah Datok Kembang. Pada masa lalu di Jakarta gelar Datok adalah gelar yang sering disematkan untuk mereka yang mempunyai keilmuan agama yang dalam, kalau sekarang mungkin bisa disebut Kyai. Orang Betawi dan orang Arab ziarah karena mengetahui bahwa Datok Kembang adalah seorang penyebar agama Islam dan dikenal juga sebagai Waliyullah, setelah wafat makamnya sering diziarahi, sedangkan orang China mengenalnya sebagai salah satu leluhur yang patut dihormati.
Tentu dalam perkembangan selanjutnya, ceritanya banyak dibumbui dengan hal-hal yang berbau legenda, dan ini bukanlah hal yang salah, karena siapa bisa menghentikan hal-hal seperti ini dari masyarakat ? Mengenai bagaimana hubungan antara Datok Kembang dengan masyarakat China, sepertinya saya melihat kemungkinan bahwa Datok Kembang ini adalah sosok yang bisa diterima semua golongan pada masa itu, itu artinya dia faham dengan keadaan masyarakat saat itu yang budayanya sangat majemuk. Mengenai keberadaan makam beliau yang ada di tengah klenteng tersebut kiranya bisa kita sikapi dengan pendekatan sejarah. Saya sendiri yakin bukan tidak mungkin posisi makam Datok Kembang dahulunya merupakan pusat penyiaran Agama Islam, namun karena pergeseran zaman keberadaannya berubah fungsi karena sudah banyak ditinggal penduduk aslinya.....(tentu perlu kajian lagi).
Bagi saya keberadaan Datok Kembang adalah sebuah sisi lain yang cukup menarik untuk dikaji. Siapa sangka di tengah sebuah Vihara ada sebuah situs yang ternyata sangat berhubungan erat dengan perkembangan agama Islam yang ada di Jakarta, khususnya di pesisir Utara Jakarta..Dan bagi saya jika ada yang mengatakan kalau situs ini sebagai sebuah tempat yang tidak layak untuk seorang ulama, itu adalah sikap yang tidak bijak. Bagaimana kalau ada kasus seorang ulama tersebut lahir dan wafat di sebuah negara non musliim ? bagaimana pula jika keberadaan makam tersebut tanahnya ternyata sudah menjadi umat lain atau pemilik Vihara tersebut ? Ingatlah kasus seperti ini sudah banyak terjadi. Justru dengan adanya tulisan seperti ini diharapkan hal seperti itu tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.
Sebaiknya bagi mereka yang memandang makam ini secara "minor" pelajari dulu bagaimana semua itu bisa terjadi, Ingatlah bahwa sekalipun beliau berada di lingkungan umat lain, toh umat Islam masih banyak yang mengunjunginya...itu menandakan jika sosok ini masih dipandang dan dihormati.
Mudah-mudahan makam yang satu ini bisa menjadi pembelajaran buat kita semua...dimanapun dia berada kalau Allah ingin memuliakan, tetap saja dia mulia...
Wallahu A'lam bisshowwab...
Al Fatehah untuk Datok Kembang…….

SAYYID WAN BISKAL/KYAI ANGGA DINATA (Waliyullah dari Pasar Minggu), Jaringan Ulama Tempo Dulu di Jakarta Selatan

Jakarta seolah tidak pernah kehabisan akan situs-situs sejarah Islam, terutama situs makam para ulama dan wali yang jarang diketahui orang. Satu persatu-satu kini keberadaan mereka bermunculan. Tentu itu semua bukan karena saya tapi karena jasa orang-orang yang telah memberikan informasi. Keberadaan makam-makam tersebut menurut saya memang sudah waktunya untuk diketahui masyarakat, sebab berdasarkan pengamatan yang saya lihat banyak makam-makam yang bersejarah telah hilang karena adanya pembangunan-pembagunan, sebagian lagi masih bertahan tapi terkurung ditengah kepungan bangunan rumah-rumah mewah.
Pada penelitian kali ini, saya berkesempatan meneliti salah satu situs makam yang menurut saya sangat bersejarah. Penelitian saya lakukan seorang diri dengan berbekal alat dokumentasi dan alamat makam yang ada.
Makam yang saya datangi ini adalah makam seorang Waliyullah dan penyebar agama Islam sekitar wilayah Pasar Minggu. Namanya cukup terkenal bagi mereka yang sering berziarah dan mengamati sejarah perkembangan penyebaran Islam yang ada di sekitar Jakarta Selatan khususnya wilayah Pasar Minggu. Bagi mereka yang asli Pasar Minggu nama ini mungkin tidak terasa asing. Berangkat dari inilah saya akhirnya tertarik untuk meneliti keberadaan tokoh yang cukup misterius ini. Di Pasar Minggu sendiri bagi mereka yang penduduk asli Betawi mengenal nama beliau dengan nama Sayyid Wan Biskal ketimbang nama aslinya yang berbau bangsawan Sunda.
Makam tersebut berada di jalan Ketapang Pejaten Pasar MInggu. Makam tersebut berdekatan dengan masjid An-Nur, dari Universitas Nasional jaraknya juga tidak terlalu jauh. Ada hal yang menarik ketika saya mendatangi makam ini, pada saat saya masuk ke jalan Ketapang, nuansa atau hawanya seperti berbeda dengan wilayah sebelumnya. Kesan Islamnya sangat kuat sekali, lingkungannya juga masih asri. Seperti biasa saya selalu mengandalkan “Navigasi Mulut”. Sayangnya ketika saya tanyakan kepada beberapa orang yang ada di sekitar Masjid, banyak yang tidak tahu (kemungkinan mereka itu adalah pendatang), ketika saya bertanya di beberapa orang tua sekitar Pejaten banyak juga yang tidak tahu. Akibatnya saya harus bolak-balik untuk mencari jejak makam tersebut. Saya berfikir, “jangan-jangan makam ini berada di dalam rumah”. Untungnya saya bertemu dengan salah satu penduduk asli sini dan kemudian dari dialah saya akhirnya tahu keberadaan makam yang sedang saya cari ini.
Makam yang saya cari memang ketemu, dan ternyata makam ini memang tidak jauh dari masjid An-Nur, posisinya berada di pinggir jalan raya Ketapang, namun sayangnya disitu tidak ada tanda-tanda namanya, karena plang nama makam tersebut sudah menjadi nama orang lain. Pintu masuk makam saya dapati tidak terkunci, saya kemudian langsung masuk. Suasana pemakaman sangat tenang dan nyaman. Sepertinya di sekitar makam sedang ada renovasi dan sepertinya sedang dibuat lahan untuk para peziarah. Setelah masuk saya kemudian berdoa, setelah berdoa saya kemudian keliling sekitar makam untuk mengamati dan mempelajari suasana sekitarnya. Sayangnya saya tidak mendapatkan apa-apa selain bentuk makam yang mungkin cukup unik kelihatannnya, selain daripada itu, tidak banyak yang bisa saya peroleh alias kosong sama sekali. Akhirnya setelah itu saya putuskan tidak lama disini. Keluar dari makam saya berusaha mencari orang-orang yang tahu sejarah keberadaan makam ini. Saya kemudian bertemu dengan salah satu fihak yang berada di sebelah makam (saya lupa namanya). Dari keterangan bapak ini, ternyata yang tahu tentang sejarah keberadaan makam ini adalah Cing Hadi yang rumahnya berada persis dibelakang rumahnya, selain itu titiik terang belum kelihatan. Namun sepertinya Cing Hadi sedang tidak ada dirumah sehingga sayapun kemudian meneruskan perjalanan.
Sejarah makam ini baru terkuak pada saat salah satu keturunan yang dimakamkan menghubungi saya. Tokoh atau Waliyullah ini ternyata bernama KYAI ANGGA DIPA. Sebelumnya nama “SAYYID WAN BISKAL” menjadi pertanyaan besar buat saya, karena gelar Sayyid itu jelas-jelas menunjukkan kalau beliau ini seorang Dzurriyah Rasulullah SAW. Jangan lupa pula nama “SAYYID WAN BISKAL” ini sudah lama ada pada beberapa generasi sebelumnya, artinya pada masa orang-orangtua dulu yang asli Pasar Minggu, mereka lebih kenalnya sosok ini dengan nama SAYYID WAN BISKAL.
Kyai Angga Dinata atau Sayyid Wan Biskal anak seorang ulama yang bernama Kyai Naja Poespa yang juga merupakan Bupati di daerah Padegan Sumedang Larang. Hampir semua saudara beliau yang berjumlah 8 orang adalah ulama. Mereka adalah :
1. Kiai Anggapuspa
2. Kiai Angga Kusumah 
3. Kiai Naja Kusumah 
4. Raden Wirakusumah 
5. Kiai Wirakusumah 
6. NM Nata Wulan
7. Kiai Bangsawiria
8. Kiai Sura kusumah

Sayyid Wan Biskal dari Sumedang Larang kemudian dalam kehidupan selanjutnya beliau hijrah dan berdakwah ke wilayah Pasar Minggu Jakarta Selatan. Berdasarkan urutan nasab yang diberikan kepada saya dari salah satu keturunannya, beliau ini berada pada posisi yang ke 9 dari generasi bawah yang sekarang, itu artinya beliau hidup pada pertengahan tahun 1700 sampai pertengahan tahun 1800 Masehi. Nasab beliau sendiri kembali kepada Syekh Datuk Kahfi Cirebon. Artinya Sayyid Wan Biskal ini memang seorang Sayyid karena leluhur beliau  bernama Syekh Datuk Kahfi yang nasabnya adalah sbb : Datuk Kahfi bin Datuk Ahmad bin Datuk Isa bin  Sayyid Abdul Kodir Kaelani bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath. Imam Muhammad Shohib Mirbath adalah keturunan dari Al Imam Ahmad Al Muhajir yang merupakan leluhur besar Kaum Alawiyyin yang ada di Hadramaut. Dengan adanya keterangan nasab ini maka semakin terbukalah siapa sesungguhnya beliau ini.
Keberadaan beliau di Pasar Minggu sendiri untuk berdakwah. Adanya beliau ini mengingatkan saya akan keberadaan seorang Waliyullah dari Condet yang bernama Datuk Raiman yang juga dari Sumedang Larang dan dimakamkan juga tidak terlalu jauh dari wilayah Pasar Minggu. Berdasarkan keterangan ini tidak menutup kemungkinan jaringan keluarga besar keturunan Sumedang Larang banyak terdapat di Pasar Minggu, apalagi sebelumnya para pejuang dan bangsawan Sumedang Larang banyak terlibat dan membantu Mataram dalam perang melawan VOC pada tahun 1628 - 1629 M. Jadi saya sendiri tidak heran jika keberadaan mereka banyak terdapat di Jakarta pada masa lalu.
Kyai Angga Dinata atau yang lebih dikenal sebagai Sayyid Wan Biskal adalah seorang ulama yang karismatik pada masanya, beliau dengan kendaraan kudanya telah melakukan penyiaran dakwah di kawasan wilayah Pasar Minggu dan sekitarnya, berkat dakwahnya sebagian wilayah Pasar Minggu khususnya Pejaten telah menjadi sebuah daerah yang cukup kental keislamannya. Sampai sekarang beberapa keturunannya masih banyak terdapat di daerah Pajaten dan dikuburkan juga di sekitar makam beliau. Keberadaan makam Sayyid Wan Biskal sendiri masih ada yang menziarahinya, bahkan menurut bapak yang saya wawancarai, pernah ada beberapa habaib yang menziarahi makam ulama masa lalu ini.
Salah satu warisan beliau yang sampai saat ini masih bisa kita saksikan dalah masjid An-Nur yang berdiri kokoh di tengah pemukiman pejaten pasar minggu. Sayangnya saya lupa mengambil gambar masjid bersejarah ini.
Sekali lagi ..adanya fakta sejarah ini telah banyak membuka mata kita, kalau wilayah Jakarta banyak dihuni oleh Ulama-ulama besar pada lalu…Pejaten beruntung karena ditanahnya telah dimakamkan seorang Waliyullah.

AL FAtehah Untuk Sayyid Wan Biskal atau Kyai Angga Dipa….

Senin, 22 Agustus 2016

PENELITIAN MAKAM BERSEJARAH DI HUTAN KOTA UI, SITUS SEJARAH YANG "TERKURUNG" DI UJUNG SELATAN JAKARTA (Waliyullah Mastur "Di Tengah Lautan Ilmu", Syekh Abdurrahman bin Abdullah Al Magribi)

Penelitian makam kali ini adalah masih berkisar di seputaran wilayah Jakarta Selatan.
Sebelum saya banyak bercerita tentang kisah perjalanan ini, saya berharap terhadap beberapa fihak untuk tidak salah sangka dan salah menduga terhadap apa saya lakukan. Ini penting agar nantinya apa yang saya suguhkan tidak bias kemana-mana apalagi sampai masuk wilayah khilafiah dan perdebatan yang bisa mengundang kebencian. Apa yang saya lakukan adalah murni penelitian sejarah dan perilaku syar’i yang Insya Allah tidak ada sama sekali unsur kemusyrikan seperti yang dikhawatirkan beberapa fihak. Insya Allah ketika saya mendatangi makam, saya lebih banyak mencari riwayat atau catatan sejarah dari nara sumber yang berhubungan dengan makam yang saya teliti, selain itu saya hanya berdoa untuk arwah para ulama tersebut, lain dari itu tidak ada hal-hal yang aneh yang saya lakukan. Insya Allah dalam penelitian yang saya lakukan saya masih mengedepankan nilai-nilai logika namun juga tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada.
Insya Allah apa yang saya lakukan semata-mata demi untuk melestarikan sejarah para nenek moyang kita yang sudah berjasa dalam menyebarkan agama Islam di negeri ini.
Inilah laporan perjalanan yang telah saya lakukan....
Perjalanan yang saya lakukan kali ini pada tanggal 21 Agustus 2016. Perjalanan saya lakukan bersama dengan istri dan sahabat saya yang bernama Sandi Sedayu dari Salemba. Perjalanan dimulai bakda zuhur dengan berkumpul di Kramat Jati. Dari Kramat Jati, sebelumnya kami menapak tilasi sebuah makam tua yang berada di daerah Ciracas Jakarta Timur. Dari Ciracas kami kemudian bergerak ke target makam yang akan kami tuju. Target yang kami tuju kali ini adalah makam milik seorang Waliyullah yang bernama SYEKH ABDURRAHMAN bin ABDULLAH AL MAGRIBI atau yang terkenal dengan sebutan MBAH TAKOL. Makam ulama ini posisinya berada di tengah Hutan Kota Universitas Indonesia.
Makam ini sebenarnya sudah lama saya ketahui, namun baru satu bulan ini bisa saya datangi sebanyak dua kali. Kedatangan pertama saya adalah 3 minggu yang lalu, saya sendiri pada waktu itu, sedangkan kedatangan kedua kali ini kami datang dengan jumlah tiga orang. Karena prosedur masuk ke wilayah ini sudah saya ketahui, dalam perjalanan yang kedua ini, saya meminta izin untuk bisa masuk kepada fihak keamanan yang ada di daerah tersebut. Untuk masuk ke wilayah ini sebaiknya kita melapor kepada fihak Keamanan yang menjaga keberadaan Hutan Kota UI ini, fihak tersebut adalah Satuan Pengamanan dari Dinas Pertanian PEMDA DKI yang berada di depan jalan besar Hutan Kota. Ada baiknya kita juga melapor kepada fihak keamanan UI yang posisinya bersebelahan dengan Satuan Pengamanan Dinas Pertanian Pemda DKI. Perlu diketahui walaupun UI masuk wilayah Depok Jawa Barat, namun keberadaan Hutan Kota UI justru masuk wilayah Jakarta Selatan. Karena Hutan UI ini dikelola Dinas Pertanian Pemda DKI maka keberadaan makam Keramat Syekh Abdurrahman masuk bagian Jakarta.
Dari depan pintu masuk, kami menyusuri Hutan Kota UI dengan mengendarai motor. Saat menyusuri ini kami jadi teringat saat masih aktif di kegiatan petualang, kebetulan istri saya adalah pernah menjadi ketua Mapala di kampusnya, sedangkan saya aktif di Wanadri, sahabat saya Dayu juga aktif di Kegiatan Korps Suka Rela PMI Jakarta Selatan. Perjalanan berlangsung tidak lama, namun demikian jalanan yang kami lewati cukup membuat kesan seolah kami seperti berada di tengah hutan rimba yang sesungguhnya. Suasana juga agak sedikit “mencekam” karena kami melewati “police line” yang masih tersisa, sepertinya ini bekas kasus pembunuhan yang terjadi tempo hari.
Tidak lama kami tiba, disini kami kemudian disambut oleh salah satu pengurus makam yang bernama ABAH atau kadang dipanggil AKI. Dengan ramah beliau mempersilahkan kami duduk di depan teras makam. ABAH yang kami temui ini ternyata adalah sosok yang ramah dan sederhana, beliau adalah pensiunan TNI AD. Sebelum ziarah, seperti biasa kami terlebih dahulu memperkenalkan diri sekaligus mengungkapkan tujuan kedatangan kami. Abah sangat senang mendengar tujuan kami yang ingin menggali sejarah makam bersejarah ini.
Sekalipun kami sudah tahu nama makam ini, Abah kemudian juga menceritakan secara singkat sosok yang akan kami ziarahi ini. Menurut Abah, beliau yang dimakamkan disini bernama Syekh Abdurrahman bin Abdullah Al Magribi. Beliau mempunyai gelar MBAH TAKOL yang menurut ABAH bermakna, “Orang yang selalu berpindah-pindah dalam melakukan dakwah”. Ajaran yang dikembangkan Syekh Abdurrahman Al Magribi, menurut Abah tidak jauh berbeda seperti yang diajarkan ulama-ulama terdahulu. Abah mengatakan kalau makam ini tergolong makam tua di wilayah Jakarta. Keberadaan makam ini juga pernah membuat beberapa orang Jawa Timur penasaran. Beberapa orang tersebut bahkan mengatakan jika Syekh Abdurrahman ini masih berkaitan dengan keluarga “AL MAGRIBI” yang banyak terdapat di Jawa Timur. Memang jika menilik nama laqob “AL MAGRIBI" menunjukkan jika nama tersebut identik dengan keluarga besar Walisongo. Namun jangan lupa gelar AL Magribi ini juga sering disematkan kepada keluarga keturunan Sayyidina Hasan yang berasal dari Maroko. Kita perlu tahu kalau Al Magribi itu adalah nama lain Maroko pada masa lalu.
Terus terang masuk ke sekitar makam ini, kami seperti masuk kampung Betawi tempo dulu, disitu masih ada sumur tua, disitu masih masak dengan kayu bakar dan kiri kanan semuanya adalah pohon-pohonan, suara serangga masih banyak terdengar, satu minggu saya juga betah di tempat seperti ini, hanya saja nyamuknya luar biasa ramahnya.
Dalam beberapa obrolan kami dengan Abah, menurut beliau keberadaan makam Syekh Abdurrahman bin Abdullah Magribi Alhamdulillah sampai saat ini masih terjaga dan bertahan dengan baik ditengah bangunan-bangunan Universitas Indonesia.
Dari ABAH kami banyak mendapat informasi penting tentang keberadaan makam Syekh Abdurrahman bin Abdullah Al Magribi ini. Menurut beliau Syekh Abdurrahman Al Magribi adalah penyebar agama Islam yang berada di kawasan Universitas Indonesia, dahulu sebelum berdirinya UI kawasan ini adalah merupakan pemukiman warga Betawi yang kental dengan nilai keislamannya. Ini dibuktikan dengan masih banyaknya makam-makam yang berada di sekitar makam Syekh Abdurrahman. Menurut Abah perubahan wilayah disekitar makam terjadi pada tahun 70an, dan pada beberapa tahun kemudian pemukiman tersebut harus berakhir setelah berdirinya Universitas Indonesia. Saya sempat bertanya kepada Abah, “Abah apa betul makam ini mau digusur?”. Abah menjawab dengan santai, “Ah tidak benar itu bang..sambil senyum” (Abah kadang manggil saya Bang, Bib, Ustadz, Abi, Bos, dll, Abah memang kocak orangnya). Menurut Abah Makam Syekh Abdurahman memang tidak digusur namun demikian kepedulian dari fihak yang berwenang dirasa masih kurang. Sebagai sebuah situs sejarah, menurut Abah makam ini harusnya diurus dan dipelihara keberadaannya oleh Dinas-dinas yang terkait, seperti misalnya Dinas Sejarah atau atau UI sendiri. Walau bagaimanapun Syekh Abdurrahman adalah sosok yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di wilayah dimana UI kini berdiri. Abah sendiri sudah berapa kali berusaha agar situs makam ini diperhatikan oleh fihak yang terkait, namun sampai saat ini tanggapan belum ada yang serius, namun walaupun demikian, Abah masih setia merawat makam dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu anda tidak usah heran kalau melihat lingkungan disini, bersih, asri dan rindang
Menurut Abah kalau datang ke tempat makam seperti Waliyullah Syekh Abdurrahman, jangan meminta yang macam-macam, cukup berdoa dan juga mengenang kembali akan jasa beliau dalam menyebarkan agama Islam. Abah mengatakan ajaran Syekh Abdurrahman Al Magribi tidaklah neko-neko. Ajarannya cukup singkat, “jalani saja Islam secara baik dan sempurna”.
Sampai saat ini menurut Abah makam ini tidak pernah sepi dari ziarah. Ada saja yang datang. Bahkan pernah juga ada serombongan polisi yang datang ketempat ini untuk menyelesaikan sebuah kasus. Ketika mereka datang ke tempat ini, justru mereka merasa nyaman karena memang suasana di tempat ini sepi dan tenang. Mereka bahkan kemudian memasak dan makan di tempat ini. Ada juga yang pernah beberapa hari nginap karena merasa tempat ini menjadikan dirinya tenang. Memang jika datang ketempat ini, rasanya berbeda, selain sepi suasanan hijau membuat kita jadi lebih nyaman. Yang penting menurut Abah, bagi yang ingin kesini harus dengan niat yang benar dan tidak lupa juga melapor kepada fihak keamanan agar keberadaannya bisa diketahui. Intinya sopan santun dan etika tetap harus dijaga.
Selain makam Syekh Abdurrahman bin Abdullah Magribi, juga terdapat makam pengikutnya, disamping paling kanan dari arah pintu masuk adalah Nyi Dasimah dari Cirebon, kemudian ditengahnya ada makam Kyai Mojo (bukan Kyai Mojo yang dekat dengan Pangeran Diponegoro), dan di depan makam ketiganya ada satu makam yang bernama Syekh Jalaludin Al Magribi.
Setelah agak lama ngobrol dan silaturahim dengan Abah kami kemudian berziarah dengan adab-adab yang sudah kami pelajari. Setelah selesai berdoa, kami sempat mengambil beberapa gambar di lokasi sekitar. Setelah semua selesai, kami kemudian pamit kepada Abah untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.
Perjalanan kali ini jelas sangat berkesan….siapa sangka di tengah hutan kota yang tertutup ada sebuah makam bersejarah yang keberadaannya masih terjaga…semoga fihak-fihak yang terkait bisa memperhatikan dan menjaga situs ini, khususnya Dinas Pertanian DKI, Dinas Sejarah DKI dan juga UI sendiri. Semoga keberadaannya masih bisa terus bertahan…
Al Fatehah Untuk Syekh Abdurrahman Al Magribi, Syekh Jalaludin Al Magribi, Kyai Mojo dan Nyai Dasimah….