Selasa, 04 Agustus 2015

LAPORAN HAUL SYEKH ARSYAD AL BANJARI (Datuk Kalampayan) DI MASJID SABILAL MUHTADIN JAK-TIM, Maha Guru Ulama Nusantara Abad 18

Pada tanggal 26 Juli 2015 Hari Minggu Jam 09.00 s/d 11.30, kami telah menghadiri Haulnya (Peringatan Wafatnya) seorang ulama besar kebanggaan Nusantara, yaitu Syekh Arsyad Al Banjary. Maha Guru Ulama Nusantara Abad Ke 18 Masehi


Nama Syekh Arsyad Al-Banjary adalah sosok ulama yang sudah lama kami pelajari sejarahnya. Namun demikian sekalipun kami sudah lama kenal dengan sosok yang hebat ini, kami kesulitan untuk mencoba mencari keberadaan jaringan keturunannya, terutama yang berada di Jakarta. Oleh karena itu setelah kami mendengar dari salah satu keturunannya bahwa akan  ada kegiatan Haul beliau di daerah Pisangan Baru Jakarta Timur tepatnya Masjid Sabilal Muhtadin, sayapun kemudian mendatangi kegiatan tersebut. Dalam acara Haul tersebut Penceramah Utama adalah KH Maulana Kamal Yusuf dan Pembaca Doa Penutup adalah Al Habib Abdurrahman bin Muhammad Al Habsyi dari Majelis Taklim Kwitang Jakarta Pusat. Acara diantaranya adalah pembacaan maulid, tahlil dan pembacaan manaqib dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Tentu banyaknya ulama yang hadir pada saat itu membuktikan jika nama besar Syekh Arsyad Al Banjari masih melekat dihati para pencintanya. Kami sendiri kagum dengan sosok beliau beberapa puluh tahun yang lalu. 

Kedatangan kami dalam kegiatan Haul, sudah tentu disamping ingin mendengar sejarah beliau secara lebih detail, juga kami ingin mengenal lebih dekat dan bersilaturahim dengan keluarga besar Syekh Arsyad Al Banjary yang kalau mau dikenal lebih dekat lagi, ternyata keberadaan mereka itu sangat banyak dan bertebaran di wilayah Kalimantan dan juga Jakarta. Sudah tentu kedatangan kami ini juga ada hubungan dengan ilmu nasab yang kami pelajari. Sosok Syekh Arsyad Al Banjari bagi kami adalah sosok yang menarik untuk dikaji sejarah dan nasabnya, mengingat beliau ini salah satu maha gurunya ulama Nusantara dalam kurun waktu abad ke 18 Masehi , sehingga keberadaan sejarah dan nasabnyapun bagi kami harus diungkap dengan adanya penelitian ilmiah dan bersanad. Adanya dorongan kami untuk secara intens mempelajari sejarah dan nasab beliau karena dilatar belakangi beberapa informasi yang kami terima yang kiranya  cukup "hangat" dalam "membicarakan" tentang nasab ulama yang multi talent ini. Kami sendiri berapa kali menyaksikan  langsung adanya "beberapa diskusi" mengenai sosok besar  ini. Tapi diantara sekian diskusi itu, kami masih banyak melihat ketidak adilan dalam menilai sosok beliau ini (terutama pada sisi nasabnya). Oleh karena itu dengan adanya hal-hal tersebut kami termotivasi untuk meneliti secara serius tentang sejarah dan nasab beliau ini, 

Terus terang bagi kami, ketika orang sudah "berani" untuk membicarakan sebuah hal yang kami anggap "sensitif"  akan lebih baiknya mereka itu diiringi dengan modal dasar seperti  pengetahuan akan sejarah dan ilmu nasab. Kenapa itu penting ? karena sosok yang kita bicarakan ini bukan sosok sembarangan, bahkan sosok ini bisa kami katakan sebagai salah satu Pakunya ulama Nusantara pada masa itu bahkan hingga sekarang. Keturunannya saja banyak yang menjadi ulama-ulama besar dan juga dihormati oleh berbagai kalangan baik yang dari dalam negeri dan luar negeri. Tidak sedikit ulama-ulama besar datang mengunjungi beberapa ulama keturunan Syekh Arsyad Al Banjari untuk bersilaturahim. Kami sendiri sejak dahulu merasa yakin jika sosok Syekh Arsyad Al Banjari pasti bukan dari keturunan sembarangan. Pengalaman kami telah banyak membuktikan jika banyak ulama-ulama besar Nusantara yang ternyata jika diteliti nasabnya secara mendalam, maka kebanyakan mereka itu bersambung dengan tokoh-tokoh besar masa lalu (dan rata-rata nasabnya banyak yang bersambung kepada Rasulullah SAW, termasuk  Syekh Arsyad Al Banjari ini !). Hanya saja sayangnya diantara sekian banyak ulama dan tokoh tokoh besar tersebut nasabnya banyak yang tidak diketahui orang banyak, bukan karena mereka tidak memelihara nasab, namun itu karena faktor kehati-hatian mereka sendiri  dalam mengungkap jati diri nasabnya  dan juga karena  faktor ketawaduan mereka yang tidak ingin menonjolkan nasab. Tentu hal ini bisa kita maklumi. Tapi kita juga tidak bisa mentolerir kalau ada fihak-fihak yang coba mendistorsikan sejarah dan nasab mereka secara serampangan. Biasanya distorsi nasab sering terjadi dan dilakukan oleh fihak-fihak yang benci kepada sosok tersebut, terutama itu ditujukan kepada para ulama dan pejuang bangsa yang dianggap merugikan kepentingan "mereka". Dahulu ini sering terjadi pada penjajahan dimana fihak penjajah dan juga antek-anteknya sering melakukan penyimpangan informasi tentang sejarah dan nasab dari tokoh tokoh yang mereka waspadai dan ditakuti , baik itu tokoh Islam pada masa datangnya Islam Awal, masa Kesultanan sampai pada masa kemerdekaan. Akibatnya ? sampai sekarang masih banyak sejarah dan nasab ulama atau pejuang kita seolah "rumit " dan "gelap" padahal dalam catatan-catatan ulama ahli nasab, keberadaan jejak para leluhur mereka itu tercatat dengan jelas, ini karena adanya sanad yang terjaga.

Dalam beberapa penelitian kami dan juga salah satu saudara kami yang ada di Sukapura  Tasikmalaya  dan sudah berlangsung hampir satu tahun ini, kami  sendiri telah menemukan beberapa fakta yang mencengangkan dan menakjubkan, bahwa ternyata Syekh Arsyad Al-Banjari masih mempunyai ikatan nasab serta berkaitan erat dengan keluarga besar Kesultanan Demak, Kesultanan Sukapura Tasikmalaya dan juga Kesultanan-Kesultanan Islam lain. ini sekaligus menjawab berbagai pertanyaan kami, kenapa dulu Syekh Arsyad AL Banjari  sampai  pernah datang ke Jayakarta, Demak, Ampel, Kudus dalam rangka penelitian masjid. Di Demak bahkan Syekh Arsyad Al Banjari pernah memberikan pernyataan bahwa satu-satunya masjid yang mihrabnya benar adalah masjid Demak (tercatat dalam bukunya Hamka Sejarah Umat Islam Jilid IV). 


Kedepannya dengan diketahuinya sejarah dan nasab beliau ini, sosok Syekh Arsyad Al Banjari ini bisa kita lebih cintai dan ikuti ajaran-ajarannya...

Oleh karena itu dengan kedatangan kami ke acara haul ini diharapkan kedepannya bisa mengungkap lebih teliti dan ilmiah bagaimana sosok sejarah dan terutama nasab dari Ulama yang luar biasa ini....

Adapun mengenai manaqib beliau adalah sebagai berikut : 

Diantara ulama Nusantara terkemuka abad ke-18 m yang dikenal kedalaman ilmu dan kecemerlangan karya karyanya adalah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yang sering kita sebut Datu Kalampayan, beliau lahir pada 15 syafar 1122 H/ Maret 1710 M dikampung Lok Gabang Martapura kalimantan selatan, nama lengkap beliau adalah Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari, terlahir dari seorang ibunda yg sholehah bernama Siti Aminah, ayah beliau yang bernama Abdullah bin Abdurrahman adalah seorang yang zuhud dan alim, beliau tumbuh dan besar dalam suasana keislaman yang kental dibawah pemerintahan kerajaan islam banjar.sejak umur 7 tahun beliau sudah fasih dan sempurna dalam membaca Al-Qur'an, kecerdasannya dalam ilmu agama dan bakat melukisnya menarik perhatian Sultan Tahlilullah penguasa kerajaan banjar pada waktu itu, maka Muhammad Arsyad kecil pun diboyong untuk belajar ilmu agama dilingkungan istana bersama keluarga kerajaan, setelah dewasa dan menikah karena kepandaian dan kecerdasan beliau dalam mempelajari ilmu agama maka menjelang usia 30 thn beliau diberangkatkan ketanah suci Mekah untuk memperdalam ilmu agama dengan dibiayai oleh kerajaan, karena Sultan berharap dengan ilmu yang dipelajarinya nanti ditanah suci itu kelak akan dapat membimbing dan mengajarkan ilmu kepada rakyat banjar dan sekitarnya.

Ditanah suci Mekah dan Madinah ini beliau belajar kepada beberapa ulama terkenal dan wali pada jamannya diantara guru guru beliau adalah :
1. Syekh Athaillah bin Ahmad Al-Mihsri Al-Azhari Mekah
2. Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi Madinah (pengarang kitab hawayil madaniyyah)
3. Syekh Muhammad bin Abdul karim As-Semman Al-Madany dalam ilmu tasawuf yang akhirnya beliau mendapatkan ijazah dengan kedudukan sebagai Khalifah (waakil)
4. Syekh Ahmad bin Abdul Muun'in Ad-Damanhuri
5. Syekh Sayyid Abul Faydh Muhammad Murtadha' Az-Zabidi
6. Syekh Hasan bin Ahmad 'Akisy Al-Yamani
7. Syekh Salim bin Abdullah Al-Bashri
8. Syekh Siddiq bin Umar Khan
9. Syekh Abdullah bin Hijazi bin Asy-Syarqawi
10. Syekh Abdurrahman bin Abdul Azis Al-Magribi
11. Syekh Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal
12. Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin Al-Fatani
13. Syekh Abdul Ghani bin Muhammad Hilal
14. Syekh Syekh 'Abid As-Sindi
15. Syekh Abdul Wahab Ath-Thanthawi
16. Syekh Maulana Sayyid Abdullah Mirghani
17. Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Jawahir
18. Syekh muhammad Zayn bin Faqih Jalaluddin Aceh

Ketika beliau di Mekah beliau bersahabat dengan para penuntut ilmu dari tanah air dan merupakan sahabat erat,mereka adalah Syekh Abdul wahab Bugis dari Makasar, Syekh Abdus Samad dari Palembang (pengarang kitab Siyarus Salikin dan Hidayatus salikin) dan Abdurrahman masri dari Betawi

Konon pada waktu beliau berada di Mekah,beliau menemui keanehan pada setiap hari jum'ad di Mesjid Al-Haram,ada seseorang yang berpakaian lain dari kebiasaan berpakaian orang arab lainnya,orang tersebut berpakaian hitam dan memakai laung dan memakai butah, pakaian khas dari banjar, setiap habis berdoa orang tersebut selalu menghilang tanpa bekas, dengan rasa penasaran kemudian pada jum'ad berikutnya beliau menunggu kedatangan orang itu tp seperti biasa selesai habis shalat jum'ad dan berdoa orang tersebut selalu menghilang,kemudian pada jum'ad yg lainnya ketika orang tersebut datang beliau segera ikut sholat disamping nya dengan harapan dapat berkenalan dengan orang tersebut, ketika selesai berdoa tak ingin kehilangan orang tersebut dengan sigap beliau lalu memegang tangan orang tersebut,"mengapa tuan menangkap tangan saya "kata orang tersebut

Setelah terlebih dahulu Syekh Muhammad Arsyad minta maaf beliau lalu berkata :
"maaf saya ingin bertanya siapakah anda,disini semua orang berpakaian ikhram sedangkan anda tidak berpakaian ikhram'
"maaf hamba berasal dari kampung muning tatakan rantau borneo" jawab orang itu
"mengapa anda setiap hari jum'ad bisa sholat disini' kata Syekh Muhammad Arsyad kembali
"alhamdulillah semua adalah anugrah dari Allah SWT "kata orang tersebut yg setelah berkenalan adalah Datu Sanggul
"saya berasal dari martapura borneo sudikah kiranya anda mampir kerumah saya "pinta Syekh Muhammad Arsyad
"baiklah "jawab Datu Sanggul

Kemudian mereka berjalan ketempat tinggal Syekh Muhammad Arsyad ,sesampai dirumah Syekh Muhammad Arsyad memeluk datu sanggul dan mencium tangan beliau sambil berkata "sampeyan adalah saudara ulun dunia akhirat'
"ya...kita saudara dunia akhirat "jawab Datu Sanggul
"dimanakah kakanda belajar sehingga mendapatkan anugerah begitu besar ini" Syekh Muhammad Arsyad kembali bertanya "kakanda belajar dengan Datusuban dimuning pantai munggu tayuh tiwadak gumpa dan sekarang beliau telah wafat,dan kepada kakanda diberikan sebuah kitab dan Al-Qur'an segi delapan,kedua pusaka itu asalnya adalah milik Datu Nuraya yang juga telah wafat" ,mendengar cerita tentang  kitab tersebut Syekh Muhammad Arsyad sangat tertarik. "kalau kakanda menganggap saya sebagai saudara dunia akhirat izinkanlah adinda ikut mempelajari isi kitab tersebut "   boleh saja adinda mempelajari kitab tsb namun kitab ini harus dibagi dua bagian,dengan dipotong segitiga silahkan adinda memotongnya "kata Datu Sanggul sambil mengeluarkan kitab yg selalu dibawanya,Syekh Muhammad Arsyad mengambil pisau yg sangat tajam dan mulai memotong kitab tsb, namun alangkah terkejutnya beliau karna pisau yg sangat tajam tersebut tidak dapat memotong kitab itu menjadi dua bagian bahkan mata pisau tsb menjadi tumpul, kemudian kitab tsb diserahkan kembali kepada Datu Sanggul untuk beliau potong sendiri, kemudian Datu Sanggul hanya dengan menggoreskan kuku beliau kitab tersebut terbelah menjadi dua bagian, yg kemudian satu bagiannya diserahkan kepada Syekh Muhammad Arsyad untuk dipelajari dan bagian yg satunya beliau bawa kembali dengan pesan setelah selesai mempelajari dan pulang keborneo untuk mengambil bagian yang satunya,"jika adinda nanti pulang keborneo dan bertandang kerumah kakanda untuk mengambil kitab yg satunya hendaklah adinda mmbawa kain putih sebanyak lima lembar,kakanda berharap agar adinda jangan sampai lupa pesan kakanda ini "kata Datu Sanggul menambahi "baiklah pesan kakanda akan adinda ingat selalu dan adinda memohon doa restu dan mendoa kan adinda dalam mempelajari kitab ini, karena hari sudah menjelang magrib Datu Sanggul lalu berpamitan untuk pulang ke borneo " tunggu sebentar kakanda ada yg adinda pertanyakan lagi dihalaman istana ada tumbuh sebatang pohon durian ,apakah pohon tersebut berbuah atau belum,kalau sudah berbuah adinda mohon kakanda memetiknya sebiji untuk adinda,sebab selama adinda tinggal disini adinda belum pernah memakan buah durian "
"pohon durian tsb sekarang sedang berbuah namun buahnya cuma dua biji dan dijaga ketat oleh pasukan raja siang dan malam agar tak seorang pun dapat mengambilnya,sebaiknya buah tsb jangan diambil sebab nantinya mungkin akan berakibat tidak baik "kata datu sanggul,tapi karna didesak oleh Syekh Muhammad Arsyad akhirnya Datu Sanggul berjanji memenuhi permintaan Syekh Muhammad Arsyad.

Pada jum'at berikutnya ketika tengah hari Datu Sanggul memetik buah durian yg dijaga oleh pasukan raja tanpa diketahui oleh satu orangpun, alhasil kerajaan menjdi gempar, baginda raja sangat marah dan berencana menghukum para pasukan yg menjaga pohon durian tersebut, tapi permaisuri melarang baginda raja menghukum mereka karena tidak ada bukti kesalahan mereka,singkat cerita buahdurian tersebut diserahkan kepada Syekh muhammad Arsyad dengan pesan supaya tangkai durian tadi disimpan sebagai bukti nanti kepada baginda raja,setelah berpisah kembali dengan Datu sanggul beliau dengan tekun mempelajari kitab tsb.

Setelah lebih 30 thn Syekh Muhammad Arsyad belajar ditanah suci akhirnya beliau menguasai berbagai bidang ilmu agama, sebenarnya beliau dan kawan kawan tidak ingin pulang ketanah air dan ingin melanjutkan pelajaran ke mesir namun maksud tersebut dibatalkan karena perintah gguru mereka yaitu Syekh Sulaiman Al-Kurdi yang menyatakan bahwa ilmu mereka sudah cukup dalam dan luas dan lebih penting untuk memberi pelajaran dan bimbingan kepada masyarakat masing masing,akhirnya mereka menuruti nasehat guru mereka itu, setia ditanah Betawi (Jakarta) Syekh Muhammad Arsyad dan kawan kawannya disambut oleh ulama dan orang banyak dengan gembira, selama dijakarta berkat karamah yang beliau miliki beliau dapat membetulkan arah kiblat mesjid yang kurang tepat,diantaranya mesjid Jembatan Lima, Mesjid Luar Batang dan Mesjid Pekojan setelah sholat sunat beliau hanya menggeserkan sorban beliau ...luar biasanya bangunan mesjid tsb mengiringi geseran sorban beliau...subhanallah....

Itu adalah sebagian   karamah beliau yg diluar nalar manusia dan banyak lagi yg lainnya,setelah sampai dimartapura beliau langsung menuju istana kerajaan dan disambut dengan meriahnya, dalam kesempatan tsb beliau menceritakan hal ikhwal mengenai durian lengkap dengan hari tanggal dan jam kehilangan durian diistana raja,akhirnya raja memakluminya dan bersyukur karena tidak menghukum para prajurit kerajaan,setelah beberapa hari beliau minta ijin kepada raja untuk mendatangi datu Sanggul dengan diiringi sepasukan prajurit raja,tak lupa beliau membawa kain putih yg dipesankan oleh Datu Sanggul,setelah sampai dikampung muning tatakan rantau dengan petunjuk masyarakat beliau langsung menuju rumah Datu Sanggul,tapi apa yg terjadi setelah sampai dirumah Datu Sanggul ternyata beliau baru saja berpulang kerahmatullah....Innalillahi wainailahirajiun....ternyata kain putih yang dipesankan oleh Datu Sanggul untuk kain kapan beliau...subhanallah...setelah pemakaman Datu Sanggul atas pesan beliau sebelum wafat kepada istrinya maka diserahkan penggalan kitab yang kemudian hari disebut kitab barencong kepada Syekh Muhamad Arsyad Al-Banjari,lalu Syekh Muhammad Arsyad pamit untuk pulang kemartapura.

Disamping sebagai seorang pengajar Syekh Muhammad Arsyad adalah seorang penulis yang produktif diantara kitab kitab yang beliau karang adalah : 

1.Sabilal Muhtadin (kitab fiqih)
2.Risalah Ushuluddin (kitab tauhid)1188 hijriah
3.Tuhfatur Raghibin (kitab tauhid)1188 hijriah
4.Kanzul Ma'rifah (tasawuf)
5.Lugthatul 'Ajlan (kitab fiqih khusus masalah perempuan)
6.Kitab Faraid (kitab pembagian waris)
7.Al-Qawlul Mukhtashar(kitab berisi tentang Imam Mahdi)1196 hijriah
8.Kitab Ilmu Falak (astronomi)
9.Fatawa Sulaiman Kurdi (berisi fatwa fatwa grur beliau Sulaiman Al-Kurdi)
10.Kitabun Nikah (tata cara perkawinan dalam syariat islam)

Selain itu ada pula karya tulis beliau berupa Mushaf Al-Qur'an tulisan tangan beliau berukuran besar dengan Khat sangat indah dan sampai sekarang masih bisa dilihat di Museum Nasional Banjarbaru Kalimantan Selatan, beliau mempunya 11 orang istri dan mempunyai 30 orang anak dan sekarang sudah tersebar kemana mana, di kalimantan khususnya kalimantan selatan keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan mutiara yang tiada ternilai, keturunan beliau merupakan penerang penerang bagi para pecinta ilmu...salah satunya Yang Mulia Guru kita Alm. Syekh Muhammad Zaini  bin H. Abdul Ghani Al-Banjari ,Syekh Muhammad Arsyad wafat pada 6 syawal 1227 hijriah bertepatan dengan 3 oktober 1812 m dalam usia 105 tahun,semoga Allah SWT selalu merahmati beliau dan keturunan keturunan beliau hingga akhir jaman. آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِنَْ

HIJRAHNYA PARA SYARIF HADRAMAUT KE INDIA LALU DARI SANA KE ASIA TENGGARA (Kesalahan Fatal Teori Gujarat)

Dalam tulisan kali ini, kami akan coba membahas tentang Sejarah Para Pendakwah Kita yang selama ini banyak ditulis secara salah kaprah  oleh sejarawan eropa. Para pendakwah sejati yang sebenarnya merupakan keturunan Alawiyyin itu telah lama ditulis secara sefihak dalam sejarahnya, oleh karena itu mudah-mudahan beberapa tulisan dibawah ini bisa mempercerah kita dalam mempelajari sejarah terdahulu tentang Pendakwah-pendakwah tangguh tersebut, khususnya yang berasal dari Keluarga Besar Alawiyyin yang diantaranya adalah Walisongo.

inilah sebagian tulisan yang telah kami rangkum .......

Hijrahnya para Syarif Hadramaut ke India  dan dari sana ke Asia Tenggara, merupakan sebab dari ketidakfahaman sebagian besar sejarawan khususnya  sejarawan eropa. Kesalahan mereka adalah bahwa mereka menganggap para da’i yang datang ke Asia Tenggara adalah dari India.

Sebagian mereka membandingkan dengan orang-orang terdahulu yang datang dari India, dimana mereka datang ke Indonesia  dengan membawa agama Hindu dan Budha, sebagaimana dikatakan oleh Brian May dalam bukunya tentang Indonesia bahwa agama Islam menyerupai agama Hindu karena ia darang Ke Indonesia dari India, menetap di sebagian Sumatra pada abad ke 13 Masehi sebelum berkembang ke berbagai pesolok Indonesia pada abad ke 15.

Da’i Muhammad  bin Abdurrahman bin Syahab ketika memberikan catatan atas kitab “Hadhir Al-Alam Al-Islam karya Amir Syakib Arsalan mengatakan : “Dari segi ini para sejarawan eropa menerangkan secara serampangan tentang para da’i yang ditangan mereka orang-orang Jawa masuk Islam. Satu ketika mereka mengatakan bahwa para da’i ini berasal dari Gujarat. Sedangkan pada kesempatan lain mereka mengatakan bahwa para da’i ini adalah orang-orang Persi. Dalam masalah ini mereka hanya berputar-putar dan tidak lepas dari kebodohan.”

Mereka berpendapat bahwa para da’i tersebut datang dari negeri-negeri itu tanpa mengetahui hakekat mereka yang sebenarnya. Sesungguhnya orang-orang Arab Hadramaut  dengan dipimpin oleh para Syarif Alawiyyin sering pulang pergi ke Malabar, Gujarat, Kalikut, dan negeri-negeri lain di India. Di sana mereka mempunyai pusat-pusat perdagangan dan keagamaan. Dan banyak orang Alawiyyin yang mempunyai asrama-asrama yang terbuka untuk para penuntut ilmu. Banyak juga kapal-kapal yang pergi dari pesisir Hadramaut menuju Malabar kemudian ke pesisir India di sebelah Timur.. Dari sana menuju Sumatra dan Aceh, kemudian ke Palembang lalu ke Jawa.

Kita dapat membantah pendapat orang-orang Eropa itu karena berbagai sebab yaitu :

Pertama, masalah hijrahnya para Syarif Hadramaut dan menetapnya mereka di India.

Para Syarif Hadramaut hijrah ke pesisir India dan menetap di sana pada abad ke X Masehi atau sebelu itu, seperti keluarga Bani Abdul Malik bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath yang wafat pada tahun 613 Hijriah. Keturunannya tersebar di India dan mereka mempunyai keistimewaan dalam keberanian dan kekuatan. Mereka mendirikan kerajaan disana yang terkenal dengan nama “Azhamat Khan”.

Diantara yang hijrah ke India adalah seorang Alim, Syarif Abdullah bin Husein bin Muhammad Bafaqih ke kotan “Kanur” dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai ia wafat. Lalu ada nama Syarif Muhammad bin Abdullah Al-Aydrus yang terkenal di kota Ahmadabad dan Surat. Ia Hijrah atas permintaan kakeknya yang bernama Syarif Syeikh bin Abdullah Al-Aydrus. Ketika kakeknya tersebut wafat pada tahun 990 M menempati kedudukannya sampai pada tahun 1003 M ketika wafat di Surat.

Sultan Kharm berhubungan dengan Syarif Abubakar din Husein Al-Aydrus yang wafat di kerajaan Abad pada tahun 1048 M. Juga Raja Anbar berhubungan dengan Syarif Abubakar bin Husein bin Abdurrahman dari keluarga  Ahmad bin Al Faqih Muqaddam. Sultan Bijapur yaitu Sultan Mahmud Syah bin Sultan ‘Adil Syah juga berhubungan  dengan Syarif ini dan menjadikannya  teman khususnya. Syarif ini adalah orang-orang  yang pemurah kepada orang-orang yang datang kepadanya. Adapun Syarif Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Haddad adalah seorang penasehat dari Raja Anbar yang juga berhubungan dengan Syarif Ja’far Ash-Shadiq bin Zainal Abidin Al-Aydrus (997 – 1064 M) di Kerajaan Abad. Syarif ini datang mengajar di daerah Deccan dan mengajar bahasa Persi dan menerjemahkan kitab “Al –Aqd Al-Nabawi” ke dalam bahasa tersebut. Sultan Burhan Nizham Syah  juga berhubungan dengannya. Mereka semua mempunyai kedudukan di sisi Sultan Haidarabad dan lainnya.

Al-Allamah Syarif Muhammad Al-Baqir bin Umar bin Aqil Bahasan Jamalullail pulang pergi ke India sampai wafat pada tahun 1076 M sesudah ia kembali ke Hadramaut di Kota Tarim.

Buku-buku biografi penuh dengan orang-orang hijrah ke berbagai daerah dan menetap di daerah-daerah itu. Sebagian keluarga-keluarga Arab itu telah melebur dalam masyarakat itu sedangkan yang lainnya masih dikenal di India dan Asia Tenggara. Diantara mereka adalah : Keluarga Al-Qodri, Al-Muthahar, Al-Haddad, Basyaiban, Khaneman, Al-Aydrus, bin Syahab, bin Syeikh Abubakar, As-Saqqaf, Bafaqih, Jamalullail, Al-Habsyi, Asy-Syatiri, Al-Baidh, Aidid, Al-Jufri. Keluarga ini semua adalah keturunan dari Imam Ahmad Al Muhajir Ahmad bin Isa.

Yang Kedua, sulitnya mengarungi lautan langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara tanpa melalui India.

Sungguh merupakan suatu hal yang sangat sulit jika  tidak mustahil mengarungi lautan langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara, khususnya karena kita mengetahui bahwa kapal-kapal yang digunakan pada masa itu adalah kapal-kapal perniagaan yang sederhana yang menuju ke India dan dari sana ke Asia Tenggara.

Bahkan kapal-kapal modern pada masa sekarangpun harus melalui beberapa pelabuhan India  untuk mengambil perbekalan bahan bakar, makanan, air, dan persiapan-persiapan lainnya sebelum menuju ke Asia Tenggara karena jarak dari Hadramaut ke Asia Tenggara sangat jauh.

Da’i Muhammad Abdurrahman bin Syahab mengatakan : “Yang dimaksudkan  adalah mungkin orang-orang Eropa yang mengatakan tentang hal ini telah mempunyai  persangkaan yang salah dikarenakan para da’i itu datang melalui jalan India”.

Hal tersebut diatas memang benar karena tidak seorangpun mengarungi lautan Hadramaut ke Jawa, melainkan mereka menuju ke sana melalui India. Dan disana  terdapat markas mereka, bahkan disana telah berdiri kerajaan-kerajaan dimana diantara para  pekerja yang mendirikannya adalah sebagian Syarif Hadramaut seperti Kerajaan Anbar.

Diantara penyebab timbulnya persangkaan yang salah dari sejarawan Eropa tersebut adalah pakaian yang dikenakan oleh orang-orang Alawiyyin mirip dengan  yang dikenakan oleh orang-orang Alawiyyin mirip dengan yang dikenakan oleh para ulama Persia. Dalam perkataan-perkataan mereka  terdapat prasangka yang keliru yang dapat diketahui oleh setiap pengamat.

Perlu disebutkan bahwa memang ulama-ulama Hadramaut mengenakan pakaian dan sorban hijau mirip dengan yang dikenakan oleh-oleh Persia. Keserupaan ini disebabkan karena keduanya berasal dari asal yang sama. Sesungguhnya yang mengenakan sorban hijau biasanya adalah para ahlul bait. Di sana (Persia/Iran) terdapat sebagian canang dari keturunan Imam Jakfar Ash-Shodiq. Sedangkan pada masa yang sama  terdapat cabang lain yang hijrah ke Hadramaut yaitu keturunan Imam Al Muhajir Ahmad bin Isa.

Yang Ketiga, Perbedaan Mazhab antara orang India Dan Syarif Hadramaut.

Seandainya kita kembali ke India, kita akan dapati diantara sejumlah besar  orang syiah dan firqoh-firqoh lainnya. Orang-orang sunnninya bermazhab Hanafi. Sedangkan para da’i yang  menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara adalah bermazhab Syafi’i yang merupakan mazhab para Syarif Hadramaut. Adanya perbedaan ini adalah bukti terbaik bahwa mereka yang datang dari India atau melalui India dan menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara adalah para Syarif Hadramaut yang menetap di India atau datang dari Hadramaut melalui jalur India.

Perlu kami jelaskan dari uraian diatas sampai point ketiga yang telah dikemukakan oleh Sayyid Muhammad Husein Al-Aydrus, yang dimaksud dengan da’i-dai yang datang dari  Hadramaut kemudian menetap di India lalu menyebarkan Islam ke Asia Tenggara kebanyakan adalah keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Beberapa cicit beliau telah menyebarkan Agama Islam khususnya wilayah-wilayah Nusantara Seperti Champa, Patani, Kelantan, Malaka, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sunda, Sulawesi, Mindanau Sulu, Tumasik (singapura) dan wilayah-wilayah lainnya, dan kemudian banyak juga keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan ini  menurunkan Kesultanan-Kesultanan Islam Nusantara dan juga Majelis Dakwah Walisongo. Keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan adalah gelombang pertama  Rombongan Alawiyyin yang masuk Ke Asia Tenggara. Merekalah yang selama ini sering dianggap datang dari Gujarat dan hanya merupakan pedagang biasa, padahal jika melihat keterangan diatas, sudah jelas mereka ini profesi utamanya adalah da’i dan bukan asli berasal dari India, dalam hal ini teori yang berkembang adalah Teori Gujarat (Teorinya Pijnapel yang kemudian dikembangkan oleh Snouck Horgronje).

Keluarga Besar Bani Abdul Malik Azmatkhan ini sudah masuk Asia Tenggara pertengahan abad ke 14 dan itu dimulai dari anak-anak dari Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. Beberapa anak dari Sultan Ahmad Syah Jalaluddin telah memutuskan hijrah dan berdakwah ke Asia Tenggara, dan salah satu yang terkenal adalah Sayyid Husein Jamaluddin atau Syekh Jumadil Kubro I atau Syekh Maulana Jumadil Kubro Wajo. Beliaulah yang merupakan leluhur besar dari Kesultanan Azmatkhan Nusantara dan Walisongo. Hampir semua keturunan Walisongo dan Sultan-Sultan Nusantara kembali kepada beliau ini, sedangkan jalur Sunan Kalijaga dari jalur adik beliau yang bernama Sayyid Ali Nuruddin Syah. Di Asia Tenggara inilah lagi-lagi keluarga Alawiyyin ini mampu beradaptasi dan berakulturasi pada setiap tempat yang mereka datangi. Sepertinya mereka ini telah mengikuti jejaknya Imam Ahmad Al-Muhajir (Al-Muhajir Awwal) dan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan (Al-Muhajir Tsani). Dakwah mereka sukses dan diterima masyarakat Nusantara tanpa harus melakukan peperangan.

Gelombang Pertama Alawiyyin yang masuk ke Nusantara ini kemudian disusul  oleh pula oleh Gelombang Alawiyyin yang datang pada abad ke 16 dan 17, yang salah satu kantong pemukimannya banyak terdapat di Palembang karena mendapatkan fasilitas dari Kesultanan Palembang Darussalam yang juga merupakan Kesultanan Azmatkhan. Sehingga tidaklah mengherankan jika hingga kini banyak terdapat puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu Alawiyyin yang menetap dan tinggal di Palembang. Sekalipun di daerah lain juga terdapat Alawiyyin seperti misalnya Aceh, namun sepertinya Palembang merupakan daerah yang paling banyak Alawiyyinnya pada masa itu, sehingga tidaklah mengherankan jika pada Walisongo dan Kesultanan Demak, wilayah Palembang merupakan wilayah yang paling sering didatangi keluarga besar Alawiyyin.

Setelah itu pada pertengahan abad ke 19, Keluarga besar Alawiyyin secara gelombang besar-besaran menuju Asia Tenggara mengikuti jejak saudara-saudaranya yang lebih dulu menetap, khususnya Indonesia.Kedatangan Alawiyyin pada pertengahan abad ke 19 ini adalah puncak dari hijrah besar-besaran keluarga mereka, apalagi saat itu Terusan Suez telah dibuka sehingga mempercepat laju transportasi menuju Asia Tenggara. Sehingga sangat wajar jika penduduk Hadramaut, khususnya Bani Alawiyyin jadi berkurang, karena hijrah besar-besaran tersebut. Disamping itu pula keluarga lain yang non Alawiyyin juga melakukan hijrah secara besar-besaran bersamaan dengan rombongan Alawiyyin.

Tentu kedatangan Rombongan Alawiyyin setelah era Bani Abdul Malik Azmatkhan, adalah dikarenakan bahwa mereka sudah mendengar jika Nusantara itu sudah banyak Alawiyyin yang sukses dalam melakukan misi dakwah Islamiah, disamping juga tentu misi-misi yang lain seperti perdagangan, politik, kebudayaan, sosial, dll. Seperti biasa, sebelum melakukan hijrah, tentu Alawiyyin yang berada di negara-negara lain itu, sudah mempersiapkan diri dengan lebih dahulu  mendengar informasi yang berguna, dan salah satu informasi yang penting itu adalah,  ternyata Asia Tenggara pada da’inya  masih merupakan keturunan Alawiyyin.  Kesemuanya ini bisa kita temukan dalam catatan berbagai kitab yang menerangkan sejarah dan nasab keluarga besar Alawiyyin, seperti Al-Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini , Syamsu Dzahirah, Khikmatul Asyira, dll.

Hingga kini persaudaraan antara Alawiyyin Keturunan Bani Abdul Malik Azmatkhan (kebanyakan mereka banyak kyai-kyai dan ulama besar Nusantara) dan keluarga lain seperti Assegaf, Al-Attas, Al-Haddad, Al-Jufri, Jamalullail, Al-Haddar, Asy-Syatiri, Basyaiban, Bin Syekh Abubakar, Ba’abud, Bin Yahya, Musawwa, Al-Habsyi, Al-Aydrus, Bin Smith, dll berlangsung dengan baik.

Wallahu A’lam Bisshowab........

Sumber :

Dr. Muhammad Husein Al-Aydrus, Penyebaran Islam Di Asia Tenggara, Asyraf Hadramaut Dan Peranannnya, Jakarta : Penerbit Lentera, 1996, hlm 34 – 39
Iwan Mahmud Al-Fattah, Raden Fattah-Patriot Revolusioner, Pendiri Kesultanan Islam Pertama di Pulau Jawa (Bab Sejarah Walisongo),  Jakarta : Madawis-Ikrafa, 2015, hlm 369 - 371

PROSES MASUKNYA ISLAM DI PAPUA (Sejarah Yang Membuktikan Jika Islamlah Yang Lebih Dahulu Masuk Ke Papua Daripada Penjajah)

A. Pendahuluan

Kajian oleh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan bahwa telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda (yakni antara Hindu-Budha-Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur. Melalui data-data tersebut, Habib ingin menjelaskan bahwa sesungguhnya dakwah Islam sudah terjadi terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan Majapahit yakni tahun 1527M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga malaysia, Brunei Darussalam, hingga di seluruh kepulauan Papua. Masa antara abad XIV-XV memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara, di mana pada saat itu ditandai hegemoni Majapahit sebagai Kerajaan Hindu-Budha mulai pudar. Se-zaman dengan itu, muncul jaman baru yang ditandai penyebaran Islam melalui jalur perdagangan Nusantara. Melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin dikenal di tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif terbatas di kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang sangat besar pengaruhnya di tempat-tempat baru. Sebagai kerajaan tangguh masa itu, kekuasaan Kerajaan Majapahitmeliputi seluruh wilayah Nusantara, termasuk Papua. Beberapa daerah di kawasan tersebut bahkan disebut-sebut dalam kitab Negarakertagama, sebagai wilayah Yurisdiksinya. Menurut Thomas W. Arnold : "The Preaching of Islam”, setelah kerajaan Majapahit runtuh, dikalahkan oleh kerajaan Islam Demak, pemegang kekuasan berikutnya adalah Demak Islam. Dapat dikatakan sejak zaman baru itu, pengaruh kerajaan Islam Demak juga menyebar ke Papua, baik langsung maupun tidak. Dari sumber-sumber Barat diperoleh catatan bahwa pada abad ke XVI sejumlah daerah di Papua bagian barat, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama, dan Salawati, tunduk kepada kekuasaan Sultan Bacan di Maluku. Bertolak dari kenyataan ini maka berdasarkan ceritera populer dari masyarakat Islam Sorong dan Fak – fak, bahwa agama Islam masuk di Irian Jaya sekitar abad ke 15 yang di lalui oleh pedagang – pedagang Muslim. Daerah – daerah yang sudah mengenal dan memeluk Agama Islam itu tidak ada pembinaan terus menerus, cukup di tanamkan oleh pedagang – pedagang muslilm yang singgah di tempat – tempat itu kemudian mereka meninggalkan tanpa pembinaan seterusnya. Untuk daerah Merauke, Islam di kenal melalui pembuangan – pembuangan yang beragama Islam oleh penjajahan Belanda yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Maluku dan Jawa, sehingga sampai saat ini ada istilah yang populer di Merauke dengan nama JAMER ( Jawa Merauke ). Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa proses Islamisasi di Papua di lakukan melalui jalur perdagangan yang di kembangkan oleh para pedagang – pedagang dari suku Bugis melalui Banda ( Maluku Tengah ) dan di teruskan oleh para pedagang Arab dari Ambon yang melalui Seram Timur. Selain melalui jalur perdagangan, kedatangan Islam ke Papua pun bisa terjadi melalui pembuangan orang – orang yang beragama Islam oleh Belanda yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Maluku dan Jawa. Karena pada saat itu Islam telah berkembang pesat di Nusantara, dan daerah – daerah tersebut telah di kuasai oleh kerajaan – kerajaan Islam. Namun pada masa tersebut juga para penjajah Belanda telah mengusai wilayah kepulauan Indonesia, dan siapa saja yang memberontak kepada belanda akan di tangkap dan di penjarakan atau di buang dan di asingkan ke wilayah lain.

B. Letak Geografis Wilayah Papua

Pulau Papua memiliki luas sekitar 421.981 km2, pulau Papua berada di ujung timur dari wilayah Indonesia, dengan potensi sumber daya alam yang bernilai ekonomis dan strategis, dan telah mendorong bangsa – bangsa asing untuk menguasai pulau Papua. Kabupaten Pucuk Jaya merupakan kota tertinggi di pulau Papua, sedangkan kota yang terendah adalah kota Merauke. Sebagai daerah tropis dan wilayah kepulauan, pulau Papua memiliki kelembaban udara relative lebih tinggi berkisar antara 80-89% kondisi geografis yang bervariasi ini mempengaruhi kondisi penyebaran penduduk yang tidak merata. Pada tahun 1990 penduduk di pulau Papua berjumlah 1.648.708 jiwa dan meningkat menjadi sekitar 2,8 juta jiwa pada tahun 2006.Perkembangan asal usul nama pulau Papua memiliki perjalanan yang panjang seiring dengan sejarah interaksi antara bangsa-bangsa asing dengan masyarakat Papua, termasuk pula dengan bahasa-bahasa local dalam memaknai nama Papua. Jika dilihat dari karakteristik budaya, mata pencaharian dan pola kehidupannya, penduduk asli Papua itu dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu Papua pegunungan atau pedalaman, dataran tinggi dan Papua dataran rendah dan pesisir. Pola kepercayaan agama tradisional masyarakat Papua menyatu dan menyerap ke segala aspek kehidupan, mereka memiliki suatu pandangan dunia yang integral yang erat kaitannya satu sama lain antar dunia yang material dan spiritual, yang sekuler dan sacral dan keduannya berfungsi bersama-sama.

C. Proses Awal Islamisasi di Papua

Mengenai kedatangan Islam di Nusantara, terdapat diskusi dan perdebatan yang panjang di antara para ahli mengenai tiga masalah pokok yaitu mengenai tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Tanah Papua secara geografis terletak pada daerah pinggiran Islam di Nusantara, sehingga Islam di Papua luput dari kajian para sejarahwan lokal maupun asing, kedatangan Islam di tanah Papua juga masih terjadi silang pendapat di antara pemerhati, peneliti maupun para keturunan raja-raja di Raja Ampat-Sorong, fak-fak, kaimana dan teluk Bintuni-Manokwari, diantara mereka saling mengklaim bahwa Islam lebih awal dating kedaerahnya yang hanya di buktikan dengan tradisi lisan tanpa didukung dengan bukti-bukti tertulis maupun bukti-bukti arkelogis. Penelusuran sejarah awal Islamisasi di tanah Papua, setidaknya dapat digali dengan melihat beberapa versi mengenai kedatangan Islam di tanah Papua, terdapat 7 versi yaitu:

1. Versi Papua

Teori ini merupakan pandangan adat dan legenda yang melekat di sebagaian rakyat asli Papua, khususnya yang berdiam di wilayah fakfak, kaimana, manokwari dan raja ampat (sorong). Teori ini memandang Islam bukanlah berasal dari luar Papua dan bukan di bawa dan disebarkan oleh kerejaan ternate dan tidore atau pedagang muslim dan da’I dari Arab, Sumatera, Jawa, maupun Sulawesi. Namun Islam berasal dari Papua itu sendiri sejak pulau Papua diciptakan oleh Allah Swt. mereka juga mengatak bahwa agama Islam telah terdapat di Papua bersamaan dengan adanya pulau Papua sendiri, dan mereka meyakini kisah bahwa dahulu tempat turunya nabi adam dan hawa berada di daratan Papua.

2. Versi Aceh

Studi sejarah masukanya Islam di Fakfak yang dibentuk oleh pemerintah kabupaten Fakfak pada tahun 2006, menyimpulkan bahwa Islam datang pada tanggal 8 Agustus 1360 M, yang ditandai dengan hadirnya mubaligh Abdul Ghafar asal Aceh di Fatagar Lama, kampong Rumbati Fakfak. Penetapan tanggal awal masuknya Islam tersebut berdasarkan tradisi lisan yang disampaikan oleh putra bungsu Raja Rumbati XVI (Muhamad Sidik Bauw) dan Raja Rumbati XVII (H. Ismail Samali Bauw), mubaligh Abdul Ghafar berdakwah selama 14 tahun (1360-1374 M) di Rumbati dan sekitarnya, kemudian ia wafat dan di makamkan di belakang masjid kampong Rumbati pada tahun 1374 M.

3. Versi Arab

Menurut sejarah lisan Fakfak, bahwa agama Islam mulai diperkenalkan di tanah Papua, yaitu pertamakali di Wilayah jazirah onin (Patimunin-Fakfak) oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al-Qathan dengan gelar Syekh Jubah Biru dari negeri Arab, yang di perkirakan terjadi pada abad pertengahan abad XVI, sesuai bukti adanya Masjid Tunasgain yang berumur sekitat 400 tahun atau di bangun sekitar tahun 1587. Selain dari sejarah lisan tadi, dilihat dalam catatan hasil Rumusan Seminar Sejarah Masuknya Islam dan Perkembanganya di Papua, yang dilaksanakan di Fakfak tanggal 23 Juni 1997, dirumuskan bahwa:

  • Islam dibawa oleh sultan abdul qadir pada sekitar tahun 1500-an (abad XVI), dan diterima oleh masyarakat di pesisir pantai selatan Papua (Fakfak, Sorong dan sekitarnya)
  • Agama Islam datang ke Papua dibawa oleh orang Arab (Mekkah).

4. Versi Jawa

Berdasarkan catatan keluarga Abdullah Arfan pada tanggal 15 Juni 1946, menceritakan bahwa orang Papua yang pertama masuk Islam adalah Kalawen yang kemudian menikah dengan siti hawa farouk yakni seorang mublighat asal Cirebon. Kalawen setelah masuk Islam berganti nama menjadi Bayajid, diperkirakan peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1600. Jika dilihat dari silsilah keluarga tersebut, maka Kalawen merupakan nenek moyang dari keluarga Arfan yang pertama masuk Islam.

5. Versi Banda

Menurut Halwany Michrob bahwa Islamisasi di Papua, khusunya di Fakfak dikembagkan oleh pedagang-pedagang Bugis melalui banda yang diteruskan ke fakfak melalui seram timur oleh seorang pedagang dari Arab bernama haweten attamimi yang telah lama menetap di ambon. Microb juga mengatakan bahwa cara atau proses Islamisasi yang pernah dilakuka oleh dua orang mubaligh dari banda yang bernama salahuddin dan jainun, yaitu proses pengIslamanya dilakukan dengan cara khitanan, tetapi dibawah ancaman penduduk setempat yaitu jika orang yang disunat mati, kedua mubaligh tadi akan dibunuh, namun akhirnya mereka berhasil dalam khitanan tersebut kemudian penduduk setempat berduyun-duyun masuk agama Islam.

6. Versi Bacan

Kesultanan bacan dimasa sultan mohammad al-bakir lewat piagam kesiratan yang dicanangkan oleh peletak dasar mamlakatul mulukiyah atau moloku kie raha (empat kerajaan Maluku: ternate, tidore, bacan, dan jailolo) lewat walinya ja’far as-shadiq (1250 M), melalui keturunannya keseluruh penjuru negeri menyebarkan syiar Islam ke Sulawesi, philipina, Kalimantan, nusa tenggara, Jawa dan Papua. Menurut Arnold, raja bacan yang pertama masuk Islam bernama zainal abiding yang memerintah tahun 1521 M, telah menguasai suku-suku di Papua serta pulau-pulau disebelah barat lautnya, seperti waigeo, misool, waigama dan salawati. Kemudian sultan bacan meluaskan kekuasaannya sampai ke semenanjung onin fakfak, di barat laut Papua pada tahun 1606 M, melalui pengaruhnya dan para pedagang muslim maka para pemuka masyarakat pulau – pulau tadi memeluk agama Islam.Meskipun masyarakat pedalaman masih tetap menganut animisme, tetapi rakyat pesisir menganut agama Islam. Dari sumber – sumber tertulis maupun lisan serta bukti – bukti peninggalan nama – nama tempat dan keturunan raja bacan yang menjadi raja – raja Islam di kepulauan raja ampat. Maka diduga kuat bahwa yang pertama menyebarkan Islam di Papua adalah kesultanan bacan sekitar pertengahan abad XV. Dan kemudian pada abad XVI barulah terbentuk kerajaan – kerajaan kecil di kepulauan raja ampat itu.

7. Versi Ternate dan Tidore

Dalam sebuah catatan sejarah kesultanan Tidore yang menyebutkan bahwa pada tahun 1443 M Sultan Ibnu Mansur ( Sultan Tidore X atau sultan Papua I ) memimpin ekspedisi ke daratan tanah besar ( Papua ). Setelah tiba di wilayah pulau Misool, raja ampat, maka sultan ibnu Mansur mengangkat Kaicil Patrawar putra sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi ( Kapita Gurabesi ). Kapita Gurabesi kemudian di kawinkan dengan putri sultan Ibnu Mansur bernama Boki Tayyibah. Kemudian berdiri empat kerajaan dikepulauan Raja Ampat tersebut adalah kerajaan Salawati, kerajaan Misool/kerajaan Sailolof, kerajaan Batanta dan kerajaan Waigeo. Dari Arab, Aceh, Jawa, Bugis, Makasar, Buton, Banda, Seram, Goram, dan lain – lain. Di peluknya Islam oleh masyarakat Papua terutama didaerah pesisir barat pada abad pertengahan XV tidak lepas dari pengaruh kerajaan – kerajaan Islam di Maluku ( Bacan, Ternate dan Tidore ) yang semakin kuat dan sekaligus kawasan tersebut merupakan jalur perdagangan rempah – rempah ( silk road ) di dunia. Sebagaimana ditulis sumber – sumber barat, Tome pires yang pernah mengunjungi nusantara antara tahun 1512-1515 M. dan Antonio Pegafetta yang tiba di tidore pada tahun 1521 M. mengatakan bahwa Islam telah berada di Maluku dan raja yang pertama masuk Islam 50 tahun yang lalu, berarti antara tahun 1460-1465. Berita tersebut sejalan pula dengan berita Antonio Galvao yang pernah menjadi kepala orang – orang Portugis di Ternate (1540-1545 M). mengatakan bahwa Islam telah masuk di daerah Maluku dimulai 80 atau 90 tahun yang lalu. proses masuknya Islam ke Indonesia tidak dilakukan dengan kekerasan atau kekuatan militer. Penyebaran Islam tersebut dilakukan secara damai dan berangsur-angsur melalui beberapa jalur, diantaranya jalur perdagangan, perkawinan, pendirian lembaga pendidikan pesantren dan lain sebagainya, akan tetapi jalur yang paling utama dalam proses Islamisasi di nusantara ini melalui jalur perdagangan, dan pada akhirnya melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin dikenal di tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif terbatas hanya di sekitar kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang sangat besar pengaruhnya di tempat-tempat baru itu. Bukti-bukti peninggalan sejarah mengenai agama Islam yang ada di pulau Papua ini, sebagai berikut:

  • Terdapat living monument yang berupa makanan Islam yang dikenal dimasa lampau yang masih bertahan sampai hari ini di daerah Papua kuno di desa Saonek, Lapintol, dan Beo di distrik Waigeo.
  • Tradisi lisan masih tetap terjaga sampai hari ini yang berupa cerita dari mulut ke mulut tentang kehadiran Islam di Bumi Cendrawasih.
  • Naskah-naskah dari masa Raja Ampat dan teks kuno lainnya yang berada di beberapa masjid kuno.
  • Di Fakfak, Papua Barat dapat ditemukan delapan manuskrip kuno brhuruf Arab. Lima manuskrip berbentuk kitab dengan ukuran yang berbeda-beda, yang terbesar berukuran kurang lebih 50 x 40 cm, yang berupa mushaf Al Quran yang ditulis dengan tulisan tangan di atas kulit kayu dan dirangkai menjadi kitab. Sedangkan keempat kitab lainnya, yang salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadits, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Kelima kitab tersebut diyakini masuk pada tahun 1912 dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudra Pasai yang datang menyertai ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk melalui Mes, ibukota Teluk Patipi saat itu. Sedangkan ketiga kitab lainnya ditulis di atas daun koba-koba, Pohon khas Papua yang mulai langka saat ini. Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang terbuat dari bambu. Sekilas bentuknya mirip dengan manuskrip yang ditulis di atas daun lontar yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia Timur.
  • Masjid Patimburak yang didirikan di tepi teluk Kokas, distrik Kokas, Fakfak yang dibangun oleh Raja Wertuer I yang memiliki nama kecil Semempe.

Pengaruh Islam terhadap penduduk Papua dalam hal kehidupan social budaya memperoleh warna baru, Islam mengisi suatu aspek cultural mereka, karena sasaran pertama Islam hanya tertuju kepada soal keimanan dan kebenaran tauhid saja, oleh karena itu pada masa dahulu perkembangan Islam sangatlah lamban selain dikarnakan pada saat itu tidak generasi penerus untuk terus mengeksiskan Islam di pulau Papua, dan merekapun tiadak memiliki wadah yang bias menampungnya. Namun perkembangan Islam di Papua mulai berjalan marak dan dinamis sejak irian jaya berintegrasi ke Indonesia, pada saat ini mulai muncul pergerakan dakwah Islam, berbagai institusi atau individu-individu penduduk Papua sendiri atau yang berasal dari luar Papua yang telah mendorong proses penyebArab Islam yang cepat di seluruh kota-kota di Papua. Hadir pula organisasi keagamaan Islam di Papua, seperti muhammadiyah, nahdhalatu ulama, LDII, dan pesantren-pesantren dengan tradisi ahli sunnah wal jamaah. Kesimpulan Selama ini persepsi yang berkembang di masyarakat yaitu penduduk Papua identik dengan penduduk yang memeluk agama Kristen dan katolik, padahal pada kenyataannya Islamlah yang pertama datang ke Papua, yaitu sekitar abad XV, sedangkan Kristen dan katolik baru dikenalkan oleh para zending dan misionaris pada pertengahan abad XIX di tanah Papua. Sangat di sayangkan, pada saat itu agama Islam tidak memiliki wadah yang dapat mengembangkan ajaran Islam lebih lama di tanah Papua sehingga tidak ada penerus – penerusnya. Islam di Papua berkembang di sekitar pesisir, Fakfak, Sorong, Misool, Mimika, dan lain – lain. Dalam hal dakwah Islam melalui beberapa jalur yaitu : perdagangan, pendirian mesjid, perkawinan dan peperangan.

Daftar Pustaka

Monografi daerah Irian Jaya. Proyek media kebudayaan departemen pendidikan dan kebudayaan.
Santoso, s budhi, dkk. Masyarakat terasing amungme di Irian Jaya. CV eka putra. 1995.
Wanggai, toni victor M. Rekonstruksi Sejarah Umat Islam di Tanah Papua. Badan litbang dan diklat departemen agama RI. 2009. Http://Islamthis.wordpress.com.
http://ajiraksa.blogspot.com/2012/06/proses-masuknya-islam-di-papua.html Jejak Prajurit Islam Majapahit dari Bali hingga Australia

Kamis, 16 Juli 2015

1 SYAWAL 933 HIJRIAH, BERDIRINYA NEGERI ISLAM FATHAN MUBINA (JAYAKARTA), Gema Takbir Mengiringi Kemenangan Sang Mujahid Agung...

الله اكبر- الله اكبر- الله اكبر لااله الاالله والله اكبرالله اكبر ولله الحمد

:َاللهُ اكبَر كَبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا, لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه, مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن, وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه, لاالهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُ وَِللهِ الحَمْد

Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,...
wasubhaanallaahi bukrataw - wa ashillaa.
Laa - ilaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiin walau karihal - kaafiruun, walau karihal munafiqun, walau karihal musyrikun. Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, - wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah. Laa - ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil - hamd.

Artinya: Allah maha besar dengan segala kebesaran, Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, munafiq dan musyrik membencinya. Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.  Sumber Materi :


"Inilah Sepenggal Cerita Tentang Berdirinya Negeri Fathan Mubina (Jayakarta) di Malam Takbiran..."

Periode 1521 – 1522.

Pada waktu negeri sunda kelapa menyertakan dirinya berperang bersama armada Pati Unus  dari Kesultanan Demak. Negeri Sunda Kelapa berada dalam kepemimpinan Raja Alhamid Al Majid (Saka Danda Rama), didampingi Patih Panglima Fathullah Khan, Putra dari Sultan Zulkifli Majid dari Kesultanan Aru Barumun Pasai.

Dengan kekalahan dari Armada Paringgi (Portugis) yang diperangi Armada Bintara Demak dibawah pimpinan Al Haj Fattahillah yang  pada waktu itu menyerang Paringgi di Pasai, keadaan Sunda Kelapa  sangat lemah, sebab Sultan Pati Unus mengalami kekalahan, Fattahillah kemudian berlayar ke mesir.

Paringgi (portugis) kemudian memasuki Pelabuhan Jayapati (kini menjadi pelabuhan Pasar Ikan) Sunda Kelapa, jadi tidak di pelabuhan Marunda Jakarta Utara.

Paringgi dan Pajajaran dibawah pimpinan Adipati Singa Menggala bin Prabu Surawisesa Kemudian mengadakan perjanjian di pelabuhan Jayapati ditahun 1522.

Angkatan Perang Sunda Kelapa sempat melakukan penyerangan dibawah pimpinan Panglima Fathullan Khan dilautan. Namun kemudian Bala tentara Pajajaran menyerang balik Keraton Sunda Kelapa di Marunda sehingga mengakibatkan tewasnya Raja Sunda Kelapa dan juga menyebabkan Sunda Kelapa menjadi tidak aman dan tidak kuat.

Keraton Sunda Kelapa di Marunda dapat dimasuki bala tentara Pajajaran dibawah pimpinan Singa Menggala bin Prabu Surawisesa dari Kerajaan Pajajaran.

Agar Supaya Keraton dan rakyat tidak mengalami kerusakan maka gusti Ratu Surya Nara telah mengambil keputusan dan untuk menghindarkan malapetaka telah mengadakan musyawarah antara fihak Sunda Kelapa dan fihak Pajajaran.

Akhirnya Kesepakatan dapat dicapai yang berisi : 

 1. Gusti Ratu Suryanara tetap menjadi Raja di Sunda Kelapa yang menggantikan ayahandanya dan bersedia menjadi istri dari Singa Menggala.
 2. Singa Menggala bin Prabu Surawisesa menjadi Adipati Pajajaran di Sunda Kelapa.

Dengan demikian kedudukan Sunda Kelapa masa itu raja bawahan dari Pajajaran.

Sesudah Sunda Kelapa Jatuh dan Pajajaran mempunyai Raja Bawahan yang adipatinya adalah Singa Menggala bin Prabu Surawisesa.

Penguasaan Pajajaran terhadap Sunda Kelapa menyebabkan beberapa keluarga bangsawan Sunda Kelapa yang Islam menyingkir ke Cirebon dan Demak, termasuk keluarga besar Kesultanan Aru Barumun Pasai yang sudah lama menetap di Sunda Kelapa untuk menyusun kembali kekuatan dalam merebut Sunda Kelapa.


Periode 1526 – 1527 (Berdirinya Negeri Fathan Mubhina/Jayakarta)

Pada Periode ini Sultan Bintoro Demak saat itu (Sultan Trenggono) terutama pada bulan Sya’ban 933 Hijriah memerintahkan Fattahillah dan pasukan Mujahidin untuk kembali lagi ke negeri Sunda Kelapa, karena mendengar Portugis atau Paringgi akan masuk berlabuh. Namun demi untuk menghormati Bulan Puasa dan ibadah ramadhan, Sultan Trenggono pada bulan Sya’ban kemudian memulangkan terlebih dahulu para Panglima, hulu balang dan tamtamanya ke daerahnya masing-masing. Sultan Trenggono melarang keras semua fihak melakukan huru hara dan membuat keributan.

Kemudian sesudah puasa semua harus masuk kembali ke keraton Sunda Kelapa tepatnya di Marunda Jakarta Utara (Marunda Kalapa). Maka sesudah satu bulan Bala Tentara Kesultanan Demak Bintoro berada di Marunda Kalapa dan sesudah ibadah puasa Ramadhan, bala tentara Armada Bintara Demak memasuki Istana atau Keraton  Ratu Gusti Surya Nara Kalapa pada malam Takbiran.

Pada malam Takbiran itu, Gusti Ratu Surya Nara sudah duduk bersama tamunya termasuk Maulana Hasanuddin Banten.

Maka Pada Bakda Subuh tepatnya tanggal 1 Syawal 993 Hijriah, Gusti Ratu Surya Nara menyerahkan kekuasaan negeri Marunda Kelapa kepada Panglima Al Haj Fattahillah beserta kekuasaan pemerintahannya.

“Tafsir Sejarah Dari Kitab Al Fatawi”

Penjelasan Kitab Al Fatawi yang disusun oleh Al Allamah KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma ini telah menjelaskan secara tegas bahwa Sunda Kelapa telah menjadi wilayah Islam sebelum kekuasaanya direbut oleh Kerajaan Pajajaran dibawah pimpinan Singa Menggala. Untuk memperkuat fakta tersebut Sunda Kelapa bahkan pernah terlibat perang dalam melawan Portugis di Malaka. Itu artinya Sunda Kelapa sebelum tahun 1521 masehi adalah sekutu terkuat dari Kesultanan Demak, khususnya pada masa Sultan Muhammad Yunus (Pati Unus 1) bin Raden Fattah serta Senopatinya yang terkenal yaitu Raden Abdul Qodir bin Muhammad Yunus (Pati Unus 2). Sedangkan perang di Malaka yang menyebabkan kekalahan pertama terjadi tahun 1513 dan terakhir tahun yang menyebabkan syahidnya Pati Unus 2 di Malaka tahun yaitu 1521 Masehi (sayangnya tahun 1521 jarang diungkap). Setelah kekalahan ini Kerajaan Pajajaran yang telah mendengar kekalahan Demak yang kedua kalinya, mengambil momentum dengan merebut Sunda Kelapa dan menjadikan tanah jajahan. Direbutnya Sunda Kelapa karena daerah ini dianggap penting karena merupakan daerah penghasil merica terbesar saat itu dan juga merupakan pelabuhan penting antara Sumatra dan Sunda. Sehingga dengan menguasai daerah Sunda Kelapa, Pajajaran bisa meningkatkan perekonomiannya serta bisa memutus mata rantai hubungan Sunda Kelapa  dengan Kesultanan Demak dan khususnya Kesultanan Aru Barumun Pasai yang saat itu bangsawannnya banyak terdapat di Sunda Kelapa.  Di samping itu dengan menguasai Sunda Kelapa, mereka ingin merubah image mereka sebagai negara yang tangguh hanya di daratan saja. Dan ini kemudian mereka realisasikan ketika pada bulan Agustus tahun 1522,  mereka membuat perjanjian dengan fihak portugis di Pelabuhan Jayapati (Jagpad) yang kini menjadi Pelabuhan Pasar Ikan dan itu diabadikan dengan adanya Prasasti Padrao. Begitu kuatnya hubungan Pajajaran Dan fihak Portugis, bahkan Portugis sempat pula mendatangi dan hadir di Pajajaran ketika Prabu Surawisesa dilantik menjadi Raja Pajajaran.

Dikuasainya Sunda Kelapa oleh Pajajaran menyebabkan banyak fihak hijrah yang diantaranya adalah Fattahillah. Dari Fattahillah Kesultanan Demak tahu bagaimana sebenarnya kondisi Sunda Kelapa, sehingga Sultan Trenggono yang sangat perhatian terhadap perkembangan dakwah Islam di Jawa dan Sunda memutuskan untuk kembali menguasai Sunda Kelapa dalam rangka menegakkan kembali Islam yang sudah ditanam keluarga Pasai terutama dari Kesultanan Aru Barumun yang juga berkerabat dengan Fattahillah. Selama beberapa tahun Fattahillah terus mengadakan persiapan untuk menguasai kembali Sunda Kelapa. Tentu Fattahillah akan berfikir bagaimana menguasai Kembali Sunda Kelapa tanpa harus terjadi pertempuran, mengingat Sunda Kelapa yang sebagian masyarakatnya sudah Islam dan juga masih dipegang oleh satu kerabat beliau yaitu Gusti Ratu Surya Nara.

Sudah tentu Fattahillah juga membutuhkan bantuan Sunda Kelapa untuk menghalang masuk Portugis yang sudah mendekat di Banten pada tahun 1526 tepatnya akhir bulan Desember.

Dari tahun 1521 s/d 1527 Sunda Kelapa dikuasai oleh Gusti Ratu Surya Nara bin Sultan Alhamid Majid yang mempunyai nama laqob Sansekerta yaitu Saka Danda Rama. Pasca kekalahan Sunda Kelapa Gusti Ratu Surya Nara memutuskan menikah dengan Singa Menggala. Fakta ini membuktikan jika Singa Menggala sudah masuk Islam, karena Gusti Ratu Surya Nara adalah muslimah yang taat dan leluhurnya berasal dari Pasai yang terkenal akan keislamannya. Gusti Ratu Surya Nara adalah wanita yang lebih mementingkan rakyat ketimbang kekuasaanya. Tentu dengan bersedianya beliau menikah dengan Singa Menggala, karena beliau mempunyai strategi dakwah Islam yang cerdik dalam menghadapi Pajajaran, mengingat Pajajaran adalah sebuah Kerajaan Besar di Sunda bahkan dapat dikatakan sebanding dengan Majapahit, apalagi seperti yang kita tahu Islamisasi di Keraton Pajajaran itu sebenarnya sudah lama terjadi, hanya saja masih belum banyak dikaji oleh Sejarawan. Gusti Ratu Suryanara tentu tidak ingin Islam yang sudah dibangun di Sunda Kelapa kembali menjadi nol, apalagi akar keislaman di Sunda Kelapa belum sebaik di daerah lain. Singa Menggala sebagai seorang Kesatria Pajajaran ketika mendapatkan penawaran untuk menikah dengan Gusti Ratu Surya Nara tentu menyambutnya dengan positif, mengingat juga fihak Sunda Kelapa sudah menyatakan tahluk, apalagi dalam sejarah Jayakarta, Singa Menggala ini terkenal kooperatif terhadap Islam, dan ini dibuktikanya ketika beliau menikahkan anaknya yang bernama Ratu Ayu Jati Balabar  dengan Cucu Raden Fattah yang bernama Arya Jipang atau Aria Penangsang dari Jipang Panolan, dan kelak keturunan Arya Jipang di Jayakarta dari jalur Ratu Ayu Jati Balabar bin Singa Menggala akab banyak yang meneruskan jejak langkahnya. Diantara keturunan Arya Jipang adalah Para Pendekar Pituan Pitulung (Pitung).

Kembalinya Sunda Kelapa ke Pangkuan Umat Islam ternyata tidak dilakukan dengan perang seperti yang ditulis oleh sejarawan Portugis atau beberapa hikayah yang tidak jelas, karena walaupun saat itu sudah banyak tentara Demak yang mendekat di Marunda  Kelapa, namun karena perintah Sultan Trenggono agar semua pasukan menahan diri untuk tidak berperang demi menghormati Ibadah Puasa Ramadhan, semua pasukan Islam sepakat menunggu momentum yang tepat, dan momentum itu terjadi pada malamTakbiran atau tanggal 1 Syawal 933 Hijriah atau 1 juli 1527 Masehi, Sunda Kelapa berhasil dikuasai kembali dengan jalan damai berkat kesepakatan antara Penguasanya dan fihak Kesultanan Demak.. Bahkan saat itu untuk membuktikan bahwa Sunda Kelapa dikuasai dengan damai Maulana Hasanuddin Banten sudah lebih dahulu masuk dan mengadakan misi diplomasi damai. Sejarah ini sekaligus membuktikan dan membantah jika Fattahillah membumi hanguskan Fattahillah dan membunuh tokoh “Wak Item” yang ternyata dalam catatan kitab Al-Fatawi tidak ada sama sekali, artinya tokoh ini adalah FIKTIF!.

Tidak lama sesudah dikuasainya Sunda Kelapa secara damai, Portugis yang terlambat mendengar berita bahwa Sunda Kelapa sudah kembali kepangkuan umat islam, telah mendekat di Pelabuhan Jayapati (Pasar Ikan).  Ddiperkirakan Portugis mendekat dua  atau tiga minggu sesudah dikuasainya Sunda Kelapa, karena pada pertengahan Agustus mereka sudah berada Malaka, dan kemudian Fransesco De Sa yang merupakan pemimpin ekpedisi perjalanan ke Sunda Kelapa telah mengirim surat ke rajanya pada tanggal 7 September 1527 Masehi,

Bersamaan dengan masuknya Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa,  tidak lama kemudian  Pasukan Fattahillah yang sudah kuat di Sunda Kelapa menyerbu dan berhasil menenggelamkan sebagian kapal perang Portugis, sebagian pasukan Portugis yang sudah mendarat langsung di serang, hingga mengakibatkan kepanikan luar biasa pada fihak Portugis. Sehingga menyebabkan mereka mundur dan kembali ke Malaka. Kekalahan memalukan mereka ini, sampai sekarang tidak pernah tercatat dalam Sejarah Portugis, bahkan kebencian terhadap Islam dan juga terhadap Fattahillah semakin membekas pada diri bangsa yang mengaku pada saat itu sebagai negara terkuat di dunia dalam bidang militer dan kelautan..Anehnya berkat informasi Sejarawan Portugis seperti De Baros dan De Couto, sampai saat masih ada saja dari bangsa kita yang percaya kalau Fattahillah justru sebagai pembunuh terhadap rakyat Sunda Kelapa (sebuah pemutar balikan fakta !). Saksi adanya perang antara Portugis dan Pasukan Mujahidin Kesultanan Demak masih bisa kita lihat di Museum Kraton Kesepuhan Cirebon yang didalamnya banyak terdapat baju perang Portugis dan Meriam.

Kemenangan 1 Syawal 933 Hijriah ditambah kemenangan terhadap Portugis menyebabkan Kesultanan Demak, Walisongo dan Kesultanan lain menjadi bangga, karena misi Portugis di Sunda Kelapa berhasil dipatahkan oleh Pasukan Jihad Islam dibawah pimpinan Fattahillah. Dan sejak tanggal 1 Syawal 933 Hijriah itulah Sunda Kelapa dirubah namanya menjadi Negeri Fathan Mubina dan kemudian berkembang dengan nama“Pemerintahan Hikmah Jumhuriyah Jayakarta” dengan asaz Islam yang dianut keluarga besar Walisongo dan Kesultanan Islam Demak Bintoro yaitu Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

Kemenangan 1 Syawal 993 Hijriah adalah kemenangan murni umat Islam tanpa dilalui dengan peperangan, Sunda Kelapa kembali kepangkuan Umat Islam berkat perjuangan suci para mujahidin yang tidak saja berasal dari Kesultanan Demak, tapi disana banyak Mujahidin dari Banten, Cirebon, Ternate, Pasai, Bahkan dari Malaka yang ikut bergabung demi mematahkan ambisi Portugis yang akan melanjutkan misi perang salib mereka di Asia Tenggara sesuai dengan adanya perjanjian Tardesillas.

Sumber :

Al-Allamah KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, Kitab Al-Fatawi-Silsilatul Syar’i, Palembang : 1910.
Iwan Mahmud Al Fattah, Fattahillah Mujahid Agung Pendiri Kota Jayakarta, Jakarta : Madawis, 2014.
Gunawan Mertakusuma, Wangsa Aria Jipang Di Jayakarta, Jakarta : Penerbit Agapress, 1986.
Gunawan Mertakusuma, Tafsir Kitab Al Fatawi, Jakarta : Al Fatawi, 1981.
Yosef Iskandar, Sejarah Jawa Barat, Bandung, CV Geger Sunten, 1997.

MAJELIS DAKWAH WALISONGO & KESULTANAN ISLAM DEMAK (SALAH SATU PELETAK DASAR WAJAH ISLAM NUSANTARA)


Tema Islam Nusantara rupanya masih terus diperdebatkan, beberapa hari belakangan ini, tema yang satu ini rupanya semakin “meledak”, terutama ketika ada seorang Ustadzah di salah satu stasiun TV melemparkan statement agar Islam Nusantara segera “dicoret” dari bumi Nusantara ini. Akibat dari penyataan beliau itu sepertinya semakin membuat suasana semakin “menghangat” kembali, apalagi seperti yang kami ketahui, bahwa disamping Ustadzah tersebut ada juga pendukung kuat “faham” Islam Nusantara yang merupakan budayawan dan seniman nyentrik. Pernyataan Sang Ustadzah tersebut sudah tentu membuat beberapa fihak meresponnya dengan antusias, terutama kepada fihak yang selama ini sangat “khawatir” dengan munculnya istilah Islam Nusantara.

Sejenak  kami merenung, begitu menakutkankah istilah yang satu ini? Kenapa sebagian orang  begitu paranoid terhadap tema yang satu ini ? Padahal belum tentu kita faham akan akar sejarah pada wajah Islam yang satu ini. Ketika sebuah wacana dilontarkan, bukankah akan lebih baiknya kalau kita melakukan sebuah tabayyun kepada fihak yang melemparkan wacana tersebut. Mengatakan Islam Nusantara sebagai sebuah tema yang “berbahaya” bagi kelangsungan hidup bangsa  tanpa pernah mau mempelajari  akar sejarah munculnya tema tersebut, menurut kami bukanlah hal yang bijak.

Seharusnya ketika menghadapi tema tersebut, mari dihadapi dengan mengadakan sebuah dialog dan adu pemikiran, bukan justru adu hujat, adu sindir, adu kuat-kuatan pendapat tapi ironisnya banyak dari kita yang  “minim dan miskin”  akan pemahaman sejarah tema tersebut.

Dalam pandangan kami yang selama beberapa tahun ini fokus pada beberapa penelitian Islam Nusantara, terutama penelitian sejarah para tokoh-tokohnya, kami justru banyak melihat hal-hal yang positif. Itu karena dalam beberapa fakta yang kami temukan, tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan wacana tersebut,  justru banyak dari mereka yang  merupakan peletak utama pada sendi-sendi  penyebaran Islam yang berwajah ramah, toleran, akomodatif namun tidak pula meninggalkan sikap ketegasannya. Dalam beberapa penelitian kami,  justru kami banyak menemukan fakta yang mencengangkan jika mereka yang mengusung “faham” Islam Nusantara itu banyak merupakan sosok-sosok yang ditakuti penjajah dan juga pemikir-pemikir cerdas dan brilian pada masanya. Bahkan berdirinya beberapa ormas seperti NU dan Muhammadiyah juga tidak lepas dari andil dari keturunan tokoh-tokoh Islam Nusantara tersebut. Kami sendiri membahas tema yang satu sudah beberapa tahun yang lalu (kam isudah membahas tema-tema ini secara serius sejak tahun 2005), artinya apa yang kami uraikan ini tidak ada hubungannya  dengan fihak yang melemparkan wacana ini, dan ini juga bukan merupakan “pesanan” dari fihak-fihak tersebut,  semua murni karena kami melihat bahwa isu yang satu ini sudah disalahfahami terlalu jauh.

Islam Nusantara yang wacananya dilemparkan oleh PBNU, sebenarnya kalau mau difahami secara jernih dan mendalam, tidak perlu disikapi dengan reaksi-reaksi yang berlebihan, karena apa yang ada pada wacana ini nantinya sangat berkaitan dengan jejak langkah para ulama terdahulu, lagipula Istilah Islam Nusantara itu bukanlah merupakan mazhab tersendiri atau firqoh baru. Islam Nusantara itu sudah lama ada dan sudah jalankan (sadar atau tidak sadar).  Islam Nusantara, ya Islam yang sejak dahulu kita anut dan sarat akan nilai-nilai budaya dan sosial yang bisa diterima oleh banyak masyarakat dan tema ini bukan “idiologi kaku”, jadi kalau ada orang atau fihak yang tiba-tiba mengeluarkan wacana ini dianggap sebagai  sebuah  “faham” baru yang “sesat menyesatkan” atau “bid’ah yang kesekian kalinya”, menurut kami masih terlalu prematur, apalagi bila diembel-embeli dengan perkataan-perkataan “musyrik”, “kafir”, “jumud”, “lebay”, “tidak syar’i”, “Neo JIL”, KPQ (Komunitas Perusak Aqidah), “Keblinger”, “JIN (Jemaah Islam Nusantara) dengan embel-embel pakaian pocong batik”,   dan cap-cap yang  terkesan kurang dilandasi pada sisi ilmiah, sehingga pada pandangan kami cap-cap tersebut merupakan sesuatu yang terlalu dipaksakan. Lebih tidak masuk akal lagi bila wacana Islam Nusantara itu dianggap sebagai “Pesanannya Amerika Serikat” dengan tujuan “meninabobokan” bangsa ini karena sudah merasa “terbaik” dan “bangga” dengan wacana tersebut. Seolah yang melemparkan wacana itu adalah “pengikut setia” anak emas dari Bani Israil  yang sekarang ini. Padahal dilemparkan wacana tersebut sebenarnya untuk menawarkan sekaligus menunjukkan bahwa Islam itu sebenarnya tidak ektrim, jumud, dan mudah untuk menyalah-nyalahkan sesuatu. Kecenderungan untuk mudahnya menyalahkan, memvonis, bahkan bersikap ekstrim  dengan menggugat terhadap kebiasaan yang sudah lama kita jalankan,  memang akhir-akhir ini telah mengemuka baik dalam konsep negara yang sudah matang  dan final maupun kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang mayoritas menganut faham Ahlussunah Wal Jama’ah. Inilah yang menyebabkan wacana Islam Nusantara muncul.

Kalau ada kekhawatiran bahwa  Islam akan semakin “bias” dengan adanya wacana ini, justru menurut kami dengan adanya wacana ini harusnya bisa “memaksa” kita untuk terus mau mempelajari  bagaimana sebenarnya  sejarah perkembangan Islam itu sendiri, baik secara fiqih, tauhid, tassawuf, tafsir, sirah dan cabang-cabang ilmu lainnya. Kalau kita berkata bahwa “Islam ya Islam” atau pendapat “ Islam ya harus kembali kepada Al-Qur’an Dan Sunnah”, “Islam ya harus seperti pada masa Rasulullah SAW”, itu memang benar secara umum, namun secara rinci dan runut,  kalau kita mau jernih dan jeli, bukankah Islam di masa Rasulullah SAW hingga kepada masa sekarang ini, telah kita ketahui berjalan secara mata rantai  yang berkesinambungan,  melalui ilmunya para Ulama yang secara estafet dan sudah saling mewarisi antara satu generasi dengan generasi selanjutnya, hingga  sampai pada masa sekarang, misalnya mulai dari Rasulullah SAW, Para Sahabat, Tabi Tabiin, Ulama-ulama dahulu hingga akhirnya pada ulama yang sekarang, bukankah itu berjalan secara estafet?  Bicara aliran saja, sampai saat ini masih terus terjadi perbincangan hangat, seperti misalnya mengenai Syiah, Sunni, Khawarij dan lain-lain, sehingga dalam pembahasannya, kita ini tetap membutuhkan peran ulama dalam menjelaskan apa Islam yang sesungguhnya. Belajar tentang Islam sebenarnya tetap harus membutuhkan peran serta dan bimbingan ulama yang lebih mengerti seluk beluknya agama Islam. Tidak bisa kita belajar agama secara otodidak apalagi hanya melalui sebuah terjemahan. Islam ya tetap harus dipelajari kepada ulama yang memiliki pengetahuan mendalam dan juga memiliki sanad yang berkesinambungan. Jadi menurut kami  jangan juga memotong peran para ulama dalam memperkenalkan Islam ini dengan mengambil loncatan langsung kepada masa Rasulullah SAW  apalagi dengan mengeyampingkan perjalanan sanad dari para Sahabat, Tabi tabiin, Ulama Ahlul Bait, Imam Mazhab Empat dan ulama-ulama yang bersanad lainnya seperti Majelis Dakwah Walisongo.

Kita semua harus tahu, bahwa yang dimaksud dengan Islam Nusantara itu adalah Islam yang dibawa oleh penyebar Islam yang bernaung dalam organisasi Majelis Dakwah Walisongo yang kesemuanya ini mempunyai mata rantai atau sanad keilmuwan hingga kepada Rasulullah SAW. Sehingga kekhawatiran akan tema Islam Nusantara sebenarnya tidak perlu harus terjadi.

Majelis Dakwah Walisongo atau kami menyebutnya Madawis adalah organisasi dakwah yang berdiri sejak tahun 1404 Masehi atas prakarsa Sultan Muhammad I dari Turki Usmani. Didirikannya Organisasi ini  karena berkat adanya kerjasama yang baik antara keluarga besar keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan dengan fihak Turki. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan adalah salah satu keturunan dari Keluarga Besar Alawiyyin yang hijrah dari Tarim Hadramaut ke India. Sebagian keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan ini kemudian banyak menyebar di berbagai negara dan mereka banyak mempunyai hubungan yang baik dengan para penguasa-penguasa di setiap negara termasuk Turki Usmani yang saat ini sedang membangun kejayaannya.

Puncak kejayaan Majelis Dakwah Walisongo adalah ketika berdirinya Kesultanan Islam Demak terutama ketika pada masa Raden Fattah. Kesultanan Islam Demak yang merupakan negara Islam pertama di Pulau Jawa sangat mendukung gerakan Madawis ini. Dibawah lindungan Kesultanan Islam Demak, Majelis Dakwah Walisongo semakin berkibar di Nusantara. Tidak akan berjaya Islam pada saat itu tanpa ada hubungan yang harmonis antara Kesultanan Islam Demak dan Majelis Dakwah Walisongo. Sehingga sangatlah wajar dari generasi satu hingga generasi saat ini keturunan Walisongo dan Keturunan Islam Demak masih terus menjalin hubungan yang baik.

Tentu sebagai sebuah organisasi dakwah yang isinya banyak ulama-ulama dan dai-dai berpengalaman, mereka mempunyai cara dan strategi tersendiri dalam melakukan penyebaran Islam. Pada setiap tempat yang akan mereka singgahi, metode dakwah mereka selalu menyesuaikan dengan kultur setempat tanpa pula harus kehilangan nilai-nilai Islam yang kuat. Dan sudah  tentu Islam yang dikembangkan oleh Majelis Dakwah Walisongo adalah Islam yang dianut para leluhur mereka yang ada di Hadramaut Yaman yaitu Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah. Walisongo secara mutlak adalah penganut Islam yang sama dengan Imam Ahmad Al-Muhajir yang merupakan nenek moyangnya Bani Ba’alawi yang banyak menyebar ke berbagai penjuru dunia. Keluarga Besar Majelis Dakwah Walisongo dan juga Kesultanan Islam Demak adalah penganut setia faham dan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Walisongo Dan Kesultanan Islam Demak yang merupakan bagian keluarga Alawiyyin, dalam praktek keislamannya selalu mengedepankan Akhlak dan Budi Pekerti yang sesuai dengan ajaran leluhur mereka, dari mulai Akhlaknya Rasulullah SAW, Imam Ali KWA, Sayyidina Husein Ra, Imam Ali Zaenal Abidin Ra, Imam Muhammad Al-Baqir Ra, Imam Jakfar As-Shodiq Ra, Imam Ali Al-Uradidhi Ra, hingga kepada Imam Ahmad Al-Muhajir, kemudian jejaknya mereka ini diteruskan oleh salah satu keturunan mereka yang bernama Sayyid Abdul Malik Azmatkhan yang hijrah Ke India, kemudian dilanjutkan lagi oleh keturunan mereka yang bernama Majelis Dakwah Walisongo.

Majelis Dakwah Walisongo adalah pemegang mazhab Imam Syafi’i, Mereka juga sangat teguh dalam ajaran dan aqidahnya Imam Abu Hasan Al Asy’ari (Asy’ariah), mereka juga banyak mempelajari dan mempraktekkan tassawufnya Al Ghazali, Syadzili dan juga Syekh Abdul Qodir Jaelani. Mereka  juga banyak yang merupakan mursyid Thariqoh dan sufi-sufi yang terkenal, mereka juga merupakan negarawan, politikus, ahli strategi militer, budayawan, ahli dinar dirham, ahli tata negara, dokter, dan bidang profesi lainnya. Islam Ahlussunah Wal Jama’ah dalam konsepnya Walisongo penuh dengan keramahan, kaya akan nilai-nilai toleransi, akomodatif terhadap keinginan masyarakat, tegas dalam bersikap. Dan wajah islam inilah yang kelak ditanam secara sporadis oleh Majelis Dakwah Walisongo dan Kesultanan Islam Demak di bumi Nusantara ini.

Yang juga perlu kita harus ketahui bersama bahwa sebenarnya  Islam yang disebarkan Walisongo dan Kesultanan Islam Demak itu tidak hanya berada di pulau Jawa saja, namun peta penyebarannya ternyata juga merambah ke berbagai wilayah Nusantara lain, tercatat betapa hubungan dakwah Madawis ini juga merambah wilayah Champa (Vietnam Selatan), Patani (Thailand), Kelantan, Malaka (Malaysia), Tumasik (Singapura), Mindanau Sulu (Phlipina), Kalimantan (Borneo, Banjar), Sulawesi, Lombok, Ternate, Tidore, Jazirah Al-Mulk (Maluku), Aceh (Pasai), Aru Barumun (Deli Lama), Melayu (Riau), Minangkabaw, Pagar Uyung, Jambi, Palembang, Lampung, Sunda, dll. Selama ini kita sering menyangka jika Walisongo dan Kesultanan Islam Demak peta penyebaran Islamnya hanya berkibar di Jawa dan Sunda saja, padahal gerak langkah mereka banyak merambah ke berbagai wilayah Nusantara, baik itu berupa hubungan diplomatik maupun hubungan dagang, militer dan juga dakwah. Kami sendiri heran jika Walisongo dan Kesultanan Islam Demak ruang lingkupnya hanya disebut dan dibatasi di pulau Jawa saja, padahal hubungan dan jaringan mereka itu tersebar di berbagai wilayah Nusantara, ini Nanti akan dibuktikan dengan banyaknya keturunan mereka yang hijrah dan berdakwah di daerah daerah Nusantara tersebut,  bahkan jaringan mereka juga tersebar di berbagai mancanegara seperti Turki, Samarkand (Uzbekistan), Maroko, India, Afrika, Yaman, Irak, Iran, Mekkah, Madinah.

Sebagai sebuah organisasi gerakan dakwah, sudah tentu cara dakwah mereka  dilakukan dengan  sistematis dan terukur. Sehingga pada akhirnya bisa kita lihat pada masa sekarang ini, betapa Islam yang tumbuh dan berkembang adalah Islam yang ramah, toleran, akomodatif dan kultural tanpa kehilangan sebuah sikap tegas. Namun demikian sudah tentu Majelis Dakwah Walisongo pada masa itu juga tidak ingin nasib dakwahnya seperti negara Andalusia (Spanyol), Bani Abbasiah, Bani Umayyah, dan beberapa lagi yang lainnya yang kini hanya menjadi kenangan. Pelajaran berharga ini tentu telah mereka dapati dan pelajari kenapa Andalusia dan beberapa negeri Islam  yang lain bisa lenyap dan berganti kepercayaan lain. Oleh karena itu dari kegagalan negeri-negeri Islam itulah Majelis Dakwah Walisongo telah belajar banyak, dan ini terbukti hingga kini Islam masih bisa terus bertahan  sesuai dengan khasnya sendiri.

Dalam beberapa pendapat, ada fihak yang mengatakan kalau Islam Nusantara terlalu akomodatif terhadap beberapa aliran menyimpang dan terkesan lembek dalam menghadapi hal tersebut, sebenarnya hal tersebut tidak benar juga. Kalau dikatakan Islam Nusantara itu seolah lembek atau terlalu akomodatif pada pemikiran atau aliran yang menyimpang, jangan lupa, dalam sejarahnya Islam Nusantara itu berapa kali pernah bersikap tegas dalam berapa hal, terutama ketika menghadapi penguasa Majapahit yang bernama Dyah Ranawijaya yang telah mengkudeta Kertabumi. Dyah Ranawijaya inilah yang kemudian dihadapi Majelis Dakwah Walisongo dan Kesultanan Islam Demak karena sepak terjangnya yang intoleran terhadap perkembangan Islam pada masa itu, padahal Kertabumi sendiri telah menjalin hubungan baik dengan Walisongo dan Demak. Pada sisi lain Madawis  dan Kesultanan Islam Demak juga pernah menghadapi Portugis yang ingin menjajah Sunda Kelapa (kini Jakarta) dan Panarukan (kini berada di Siitubondo Jawa Timur). Pada masa Raden Fattah, terutama pada tahun 1512 – 1513 Masehi  Kesultanan Islam Demak dibawah Restu Majelis Dakwah Walisongo bahkan pernah mengirim “Tim Expedisi Jihad Ke Malaka”, kemudian dilanjutkan lagi pada tahun 1521 Masehi. Adanya ekspedisi jihad dan perlawanan terhadap Majapahit era Dyah Ranawijaya/Girindrawardana membuktikan jika Madawis dan Demak bisa bersikap tegas.

Pada kedua persoalan tersebut Madawis dan  Kesultanan Islam Demak bahkan bisa dikatakan bahwa mereka sudah  masuk dalam semangat “jihad fi sabilillah”, karena ini menyangkut kehormatan Islam yang sudah dibangun  dengan damai di bumi Nusantara, dan ini ternyata pernah terjadi pada   tanggal 10 November 1945 dimana Mbah Hasyim Asy’ari pernah mengeluarkan resolusi jihad, sehingga membuat santri dan ulama-ulama seluruh ulama Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur turun habis-habisan melawan tentara Sekutu. Sehingga pada tanggal tersebut dikenang sebagai Hari Pahlawan, dan sebagai unsur terpenting dalam perlawanan tersebut adalah para santri dan ulama, dan ini diakui oleh Bung Tomo sebagai pembakar semangat jihad pada perang tersebut. Bahkan Bung Tomo selalu menunggu fatwa-fatwa dari Mbah Hasyim Asy’ari untuk melakukan perjuangan melawan penjajah.

Pada permasalahan lain, misalnya perbedaan sudut pandang tentang aliran tassawuf atau keputusan-keputusan hukum pada masa itu, semua diselesaikan dengan adanya  sebuah halaqoh dengan diiringi hikmah kebijaksanaah terlebih dahulu antar anggota Walisongo, setelah itu baru keluar produk hukum dan ini kemudian diikuti jejaknya oleh para kyai-kyai keturunan Walisongo yang berfikir bijak dulu sebelum melakukan produk hukum. Islam di masa Walisongo dan Kesultanan Demak betul-betul seperti merupakan wajah Islam yang ideal, sehingga pada masa itu,  di wilayah-wilayah binaan Walisongo dan Demak nuansa kenyamanan sangat terasa.

Islam yang dikembangkan Madawis dan Demak kalau mau dipelajari adalah Islam yang berwajah khas dan unik karena disitu telah banyak terjadi akulturasi dalam berbagai bidang, disamping itu latar belakang pendidikan agama para anggota Walisongo yang berbeda telah memunculkan wajah Islam yang khas Nusantara.

Dalam sejarah Majelis Dakwah Walisongo, beberapa tokohnya seperti Sunan Giri atau juga Sunan Ampel adalah merupakan simbolisasi gerakan Islam yang murni dan konsekwen, hal ini wajar karena latar belakang pendidikan mereka itu lebih banyak berada diwilayah pesisir pantai seperti Aceh, Champa, dimana daerah-daerah tersebut interaksi dengan dunia Timur Tengah lebih banyak dilakukan dan wajah keislamannya memang terkenal tegas dan disiplin (namun bukan pula keras seperti Kaum Khawarij dan juga “neonya”). Sikap yang timbul pada beliau-beliau ini  adalah hal yang wajar mengingat mereka ini mempunyai ilmu yang mendalam tentang tauhid dan ilmu fiqih, maka sudah tentu mereka sangat berhati-hati sekali dalam menentukan hukum dan takut bila terjerumus pada perbuatan  yang tidak sesuai dengan Sunnah Rasul, apalagi medan dakwah mereka kali ini sebuah negeri yang berbeda dari negeri lain.

Sedangkan pada barisan kedua adalah seperti Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Muria, Sunan Bonang, Sunan Derajat yang wajah Islamnya sudah lebih kental dengan wilayah pedalaman, dimana masyarakatnya masih banyak dipengaruhi kebudayaan lama. Pada wilayah pedalaman, para Walisongo yang kami sebut ini mempunyai pandangan, bahwa dakwah di wilayah pedalaman ini tidak sama dengan wilayah pesisir,  proses pengislamannya tidaklah sama dengan wilayah pesisir yang lebih terbuka dan cepat apalagi pola komunikasi pesisir bisa langsung dengan tokoh dari luar yang banyak membawa ajaran Islam yang langsung dari wilayah Timur Tengah seperti Mekkah, Madinah, Yaman dll, sedangkan  pada masyarakat pedalaman ini, mereka masih tertutup aksesnya terhadap luar, mereka lebih fokus pada sisi agraris daripada kelautan yang didominasi kalangan pesisir. Pada masyarakat pedalaman, kebanyakan mereka masih memegang teguh adat istiadat dan kepercayaan lama sehingga butuh proses dan waktu yang tidak sebentar serta strategi cerdas dan bijaksana  untuk mengislamkan mereka.

Uniknya sekalipun antara Walsongo berbeda cara dan strategi dalam melakukan proses Islamisasi, justru perbedaan mereka itu bisa menyatu dengan sinergis dan mengagumkan, terutama ketika Kesultanan Islam Demak berdiri. Dibawah pemerintahan Kesultanan Islam Demak yang Sultan Pertamanya adalah Raden Fattah, semua bisa bersatu dalam misi menyebarkan Islam  Yang Rahmatan Lil Alamin. Majelis Dakwah Walisongo masing-masing bisa bergerak dengan pola dakwahnya yang khas tanpa harus mengatakan bahwa “pola dakwah wali yang satu itu bid’ah atau sesat”, atau misalnya dengan mengatakan  “pola dakwah wali ini tidak ada di masa Nabi”. Masing-masing Walisongo tetap saling menghormati dan saling memberikan masukan, penguatan dan motivasi. Pada wilayah pesisir Islam dikembangkan dengan caranya sendiri dan langkah ini juga didukung oleh Walisongo yang bergerak di pedalaman, sedangkan pada wilayah pedalaman, Islam juga dikembangkan sesuai pemahaman masyarakat pedalaman, dan langkah walisongo yang di pedalaman ini sangat difahami oleh Walisongo yang bergerak di pesisir. Dan untuk melakukan sebuah evaluasi gerakan dakwah mereka,  pada setiap waktu tertentu telah disepakati untuk mengadakan sebuah pertemuan, apakah itu di Kesultanan Islam Demak, di Ampel, di Giri Kedaton, di Cirebon, Tuban, Kadilangu, Derajat, dan beberapa tempat wali lainnya. Pada pertemuan itu masing-masing anggota Walisongo bisa saling bertukar pengalaman dalam penyiaran agama pada masa itu. Sekalipun Walisongo yang kami sebut itu tidak hidup pada suatu masa yang sama, namun komunikasi antar pengikut, atau anak-anak mereka tidak pernah putus untuk koordinasi mengenai penyebaran Islam di Nusantara. Betapa indahnya Islam pada masa Walisongo dan Kesultanan Islam Demak ini, semua bisa saling menghargai dan saling kersajama tanpa perlu mengatakan, itu sesat, ini keblinger, ini bid’ah, ini aliran baru, ini itu bla bla bla.............

Dibawah Pemerintahan Kesultanan Islam Demak wajah khas Islam Nusantara semakin berkibar, disitu ada wajah timur tengahnya, disitu ada wajah pedalamannya, disitu ada wajah akulturasinya, disitu juga ada pengaruh gaya pemerintahan Turki Usmani, disitu juga banyak dikembangkan kehidupan sosial budaya, pada bidang kegiatan sastra, seni semakin banyak bermunculan karya-karya berkelas, pada bidang militer juga  banyak mengadopsi strategi militernya Rasulullah SAW, pada bidang bilateral juga ditambah dengan menghubungi kesultanan-kesultanan Nusantara, dan untuk membuat jaminan kehidupan aman, maka dibuat Undang-undang yang sesuai dengan syariat Islam (pada masa ini muncul kitab Jugul Muda, Salokantara sebagai Kitab Undang-Undang), toleransi juga dilaksanakan kepada pemeluk agama lain (banyak bangunan hindu budha yang dibiarkan berdiri). Wajah Islam ditangan Walisongo dan Kesultanan Islam Demak telah membuat kagum beberapa kesultanan sehingga Demak dan Walisongo banyak didatangai berbagai bangsa untuk melihat lebih dekat bagaimana kehidupan Islam yang telah berhasil di tanam ini. Pada masanya beberapa wilayah Nusantara terus mengadopsi wajah Islam yang dikembangkan Walisongo dan Demak.

Islam pada masa Walisongo dan Kesultanan Islam Demak adalah Islam yang betul-betul “warna-warni” dengan ke kekhasannya, nilai-nilai budaya setempat dan nilai-nilai nuansa timur tengah bahkan bisa menjadi satu, serapan bahasa, gaya berpakaian, dan juga aturan hukum dan adat bisa selaras, jadi kalau ada fihak mengatakan Islam Nusantara itu anti akan hal-hal yang berbau arab, ini justru menurut kami aneh, lebih aneh lagi kalau Islam Nusantara seolah-olah  tidak bisa dihubungkan dengan arab. Kalau kita melihat bagaimana lukisan-lukisan Walisongo yang beredar, kita bisa lihat bagaimana wajah mereka yang memelihara jenggot dan berikatkan sorban (imamah) dan juga memakai jubah/gamis, namun uniknya dipinggang mereka juga kadang diselipkan keris. Pakaian keulamaan Walisongo itu berkembang lebih khas, justru ketika pada masa Walisongo itu sendiri. Para ulama NU dan Muhammadiyah dulu bahkan kalau mau dilihat cara pakaian dan wajahnya, sangat khas arabnya (sekalipun sebenarnya interpretasi budaya arab dan sunnah Rasul itu sering tertukar dalam konteksnya).  Pada aspek pakaian yang dikembangkan Walisongo, sebenarnya juga merupakan alat untuk berdakwah, seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga. Alangkah anehnya Islam Nusantara jika dikatakan anti arab, padahal anggota Walisongo dan keturunannya justru keturunan Arab !

Islam Nusantara secara simpelnya sebenarnya bisa kita lihat dengan adanya kebiasaa-kebiasaan yang  sering dilakukan oleh banyak masyarakat Islam di Nusantara seperti  misalnya : berziarah kubur terhadap makam ulama dan juga orangtua, peringatan wafatnya ulama (Haul), perayaan Maulid Nabi, Peringatan Isra Mi’raj, Perayaan Tujuh bulanan, Pelaksanaan runtutan Aqiqah, Pelepasan dan penyambutan haji yang meriah dan syahdu, Pelaksanaan Tahlil, Pembacaan Yasin bersama, Pembacaan Riwayat Orang Soleh (manaqib), Pembuatan makanan-makanan khas menjelang hari raya besar (seperti kolak ayam di Gresik yang diciptakan Sunan Dalem bin Sunan Giri), budaya Tarekat, pemakaian beduq untuk menandakan waktu sholat,  perayaan sekaten, pemakaian tanaman gaharu dan cendana untuk menggantikan kemenyan dalam beberapa kegiatan, pembuatan Masjid dengan mengadopsi bangunan lama (lihat bangunan Masjid Kudus dan pelajari filosofis Bangunan Masjid Demak), Pendirian Pondok Pesantren yang dimulai dari Ampel, Giri, Demak yang metode belajarnya masih terus bertahan dan diikuti banyak pondok pesantren, pembuatan baju takwa dengan mengadopsi jubah dan imamah ulama (lihat blangkon dan baju Takwa ala jogya), peringatan satu Muharom (berkaitan dengan anak Yatim), Penyajian Dakwah dengan Kesenian wayang kulit, sering diadakannya kidung (mirip dengan qosidah) pada sebuah pertemuan keagamaan, dan juga membuat seni-seni lain sesuai Syar’i  namun juga bisa difahami dan diterima masyarakat. Semua ini pada masa Walisongo dan Kesultanan Islam Demak sudah muncul dan diakomodir Raden Fattah sebagai penguasa, hingga akhirnya masyarakatpun merasa nyaman dan merasa bahwa Islam itu agama yang melekat di hati mereka. Sebenarnya masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang kami sebut diatas, dan itu baru sebagian kekayaan Islam Nusantara. Dan sebagian tradisi itu mulai digugat oleh sebagian fihak. Padahal apa yang dilakukan oleh Walisongo dan Kesultanan Islam Demak ini sudah difikirkan secara matang dan selaras dengan ajaran Islam. Bukankah  anggota Walisongo itu merupakan ulama yang multi talent dalam berbagai  bidang keilmuwannya? Bukankah Raden Fattah juga merupakan Sultan yang alim dan kebanggaan Sunan Ampel ?  Jadi kalau ada yang mengatakan Islam yang dikembangkan Walisongo dan Kesultanan Islam Demak itu penuh dengan penyimpangan dan sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi kekinian, sebaiknya menurut kami pelajari dululah siapa Walisongo dan juga Kesultanan Islam Demak secara utuh dan mendalam, bukankah ada peribahasa “tidak kenal maka tidak sayang”.


Kolaborasi Walisongo dan Kesultanan Islam Demak ini pada akhirnya memunculkan wajah Islam  yang unik inilah yang didalamnya penuh dengan nilai-nilai ramah, toleransi, akomodatif, kultural, dan juga tegas. Dan inilah yang disebut Islam khas Nusantara. Islam Nusantara terus berkembang dan terus dipertahankan di banyak pondok-pondok pesantren yang diasuh ulama-ulama serta para tokoh politik bangsa yang juga banyak keturunan dari Walisongo dan Kesultanan Islam Demak seperti Pangeran Diponegoro (Dzurriyah Raden Bondan Kejawan/Sayyid Abdurrahman Jumadhil Kubro), Imam Bonjol (Dzurriyah Sunan Giri), Syekh Nawawi Banten (Dzurriyah Sunan Gunung Jati), Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi (Dzurriyah Sunan Giri), Mbah Kholil Bangkalan (Dzuriyah Sunan Kudus), Kyai As’ad Syamsul Arifin (Dzuriyah Sunan Ampel),  Syekh Junaid Al-Batawi (dzuriyah Raden Fattah), Kyai Hasan Besari (Dzurriyah Raden Fattah), HOS Cokroaminoto (Dzurriyah Raden Fattah), KH Muhammad Dahlan Pendiri Muhammadiyah (Dzurriyah Sunan Giri), Mbah Hasyim Asy’ari (Dzurriyah Syarif Muhammad Kebungsuan Azmatkhan) dan masih banyak lagi lainnya yang namanya kini telah tercatat dalam sebuah kitab nasab yang bernama Al-Mausuuah Li Ansabi Al Imam Al-Husaini yang disusun Oleh As-Syekh As-Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq Azmatkhan Al-Husaini.

Secara umum ajaran yang dikembangkan oleh Walisongo dan Demak tetap mengacu prinsip “Rahmatan Lil Alamin”. Konsep ini kemudian juga mengacu pada Surat Annahl Ayat 125 yang berbunyi :  “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”

Sedangkan Secara rinci ada lima strategi dakwah yang dilakukan oleh Walisongo dalam mengemban misi Islam yaitu :
  1. Penyebaran ulama ke daerah-daerah yang menjadi bawahan Majapahit.
  2. Sistem dakwah dilakukan dengan cara pengenalan ajaran islam melalui pendekatan persuasif yang berorientasikan penanaman aqidah Islam yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.
  3. Melakukan perang idiologi untuk memberantas etos dan nilai-nilai dogmatis yang bertentangan dengan nilai-nilai aqidah Islam dimana peran ulama harus menciptakan mitos dan nilai-nilai tandingan baru yang sesuai dengan Islam.
  4. Melakukan pendekatan terhadap para tokoh yang dianggap mempunyai pengaruh di suatu tempat dan berusaha menghindarkan konflik.
  5. Berusaha menguasai kebutuhan kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, baik kebutuhan yang bersifat materi maupun spritual.
Dari ayat inilah peran Majelis Dakwah Walisongo lebih terasa pada masa itu, terutama ketika mereka mampu menanamkan nilai-nilai pribadinya sebagai uswah bagi masyarakat seperti misalnya :   
  1. Mempunyai sifat Mahabbah/Kasih Sayang.
  2. Menghindari pujian karena pujian hanya milik Allah
  3. Selalu risau dan sedih bila melihat kemaksiatan
  4. Semangat berkorban  harta dan jiwa
  5. Selalu memperbaiki diri
  6. Mencari Ridho Allah SWT
  7. Selalu istigfar setelah melakukan kebaikan
  8. Sabar menjalani kesulitan
  9. Memupukkan semua kejagaan hanya kepada Allah SWT
  10. Tidak putus asa  dalam menghadapi ketidak berhasilan usaha
  11. Istiqomah seperti unta
  12. Tawadhu seperti bum
  13. Tegar seperti gunung
  14. Pandangan luas dan tinggi menyeluruh seperti langit
  15. Berputar terus  seperti matahari sehingga memberikan kepada semua mahluk  tannpa minta bayaran

Dari ayat annahl 125 kemudian diaplikasikan dengan 15 hal diatas ini,  inilah jejak dan langkah Majelis Dakwah Walisongo dalam menyebarkan Islam yang Rahmatan lil alamin yang bersendikan ajaran leluhur mereka yaitu ajaran “Ahlusunnah Wal Jama’ah” dengan khasnya tersendiri, hingga kemudian memunculkan wajah Islam yang dikenal ramah dan damai dimata beberapa negara lain yaitu “Islam Nusantara”, dan itu adalah berkat jasa Majelis Dakwah Walisongo dan Kesultanan Islam Demak.

Sumber :

Syaifullah, Ajaran Dan Amalan Walisongo, Yogyakarta : Interpree Book, Cet 1,  2010.
Iwan Mahmud Al Fattah, Raden Fattah, Sang Patriot Revolusioner (Pendiri Kesultanan Islam Pertama di Pulau Jawa), Jakarta : Ikrafa-Madawis, 2015.
Nur Amin Fattah, Metode Dakwah Walisongo, Pekalongan : CV Bahagia, cet ke 6, 1997. As-Syekh Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al-HJusaini, Al-Mausuuah Li Ansabi Al-Imam Al-Husaini, Jakarta : Madawis, 2015.
Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, The Return Of Dinar Dirham, Jakarta : Madawis, 2014.

Profil Penulis :

Anggota Majelis Ilmu Al Mujahidin Jalan Kimia & Raudatul Fattah Matraman 1988 - 1993
Anggota Perguruan Jamiah Nurul Hikmah Jakarta 1989 – 1993
Santri Madrasah Diniyah Tsaqofah Islamiah Bukit Duri  Jakarta Selatan (Sayyid Abdurrahman Assegaf) 1991 – 1994
Remaja Masjid Jami’ Matraman Dalam Jakarta Pusat 1991 -1993
Mengikuti Pendidikan Kader Dakwah GP Anshor Jakarta 1991
Aktifis HMI MPO  1993 – 1995
Anggota Laskar Muda Pecinta Alam (Lampea) 1994 s/d sekarang
Aktifis Resimen Mahasiswa Attahiriah 1993 – 1995
Anggota Seni Bela Diri Prana Shakti Jayakarta 1995
Anggota IKPA YBSJ (Bea Siswa Pemda DKI) 1995 – 1998
Pendiri Pencinta Alam Girindra IKPA 1997
Kader Konservasi Alam Dan Lingkungan 1995 – 1998
Kader Penyuluh Pariwisata Bagi Pecinta Lingkungan 1996
Kader Konservasi Laut (Pendidikan Kelautan TNI AL di Makasar) 1997
Aktivis pada Organ Kemahasiswaan FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Se Jakarta) 1998 – 1999
Meraih gelar S 1 PAI di Universitas Islam Attahiriah Jakarta 1999
Anggota Perhimpunan Penempuh Rimba Dan Pendaki Gunung Wanadri 2001 s/d sekarang
Angota Korps Suka Rela PMI Jakarta Selatan 2002 s/d sekarang
Guru SMA Global Islamic School Jakarta 2005 s/d sekarang
Pengurus Masjid Azzahra Condet Jakarta 2007 – 2009
Pendiri dan Pembina Gloics Adventure Team SMA GIS 2007
Anggota IGI (Ikatan Guru Indonesia) 2009
Anggota MGBK Jakarta Timur 2009
Jamiah Zikir Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani Jalan Talang Jakarta 2010
Meraih Magister S2 Psikologi tahun 2009 di UPI YAI Jakarta
Ketua Ikatan Keturunan Raden Fattah (Ikrafa) 2011 s/d sekarang
Ketua Majelis Dakwah Walisongo Indonesia 2012 s/d  sekarang