Menulis Sejarah Islam Berdasarkan Fakta & Data, Cp 08179803186, FB : Iwan Mahmoed Al Fattah II & III
Kamis, 16 Juli 2015
NASKAH-NASKAH KUNO KONTROVERSIAL DALAM PENULISAN SEJARAH NUSANTARA & ISLAM NUSANTARA
- Babad Tanah Jawi : Babad yang satu ini bila dikaji lebih mendalam, maka akan kita dapati cerita-cerita yang penuh dengan sejarah kontroversial, karena didalamnya banyak hal-hal yang berbau mitos dan juga di sana sini telah banyak terjadi pembunuhan karakter, terutama ketika itu berkaitan dengan tokoh-tokoh Walisongo dan tokoh-tokoh Kesultanan Islam. Babad Tanah Jawi terbit pertama kali oleh Meinsma pada tahun 1874 M. Setelah itu pada tahun 1941 diterbitkan kembali dalam edisi dan versinya W.L.Orthof, dan kemudian dilanjutkan lagi dengan versi terakhirnya yang terbit tahun 1987 oleh J.J. Rass. Sengaja kami memunculkan Babad versi mereka ini, karena versi mereka inilah yang paling banyak beredar dan sering dijadikan standar pengutipan pada banyak tulisan sejarah, terutama ketika berbicara mengenai Walisongo dan juga Kesultanan Demak. Bahkan versi mereka inilah yang sering dianggap "shahih". Padahal kalau kita mau tahu, mereka yang menerbitkan Babad Tanah Jawi ini adalah “sejarawan” binaan penjajah kolonial. Kami tidak tahu motif apa yang membuat mereka begitu bersemangat dalam menerbitkan buku yang “dianggap” sejarah Jawa ini. Mungkin bagi sebagian orang, buku yang satu ini hanyalah merupakan sebuah prosa, sehingga sudut pandangnya ya hanya bersifat “sastra” belaka. Namun demikian, kita jangan lupa bahwa sampai sekarang masih banyak mereka yang menganggap bahwa buku ini adalah buku “sejarah otentik”. Kami sendiri tidak percaya bahwa diterbitkannya buku ini dengan dalih “ilmu pengetahuan”. Mengingat para sejarawannya adalah bagian penting dari penjajah kolonial. Dan terbukti ketika kami membaca satu demi satu beberapa uraian di buku tersebut, maka akan kita dapati cerita-cerita yang tidak masuk akal dan dan sarat dengan pembunuhan karakter pada tokoh tokoh Kesultanan dan juga Walisongo.
- Babad Kediri : Disusun atas perintah pejabat Belanda. Adapun kronologisnya adalah sebagai berikut : Pada tahun 1832 Mas Ngabehi Poerwadijaya yang mendapat perintah dari Penjajah Belanda mengundang seorang dalang wayang krucil bernama Ki Dhemakonda asal desa Kondairen distrik untuk menuturkan sejarah Kediri. Tetapi Ki Dermakonda menyatakan tidak mengetahui pasti Sejarah Kediri. Ia hanya mengetahui cerita Panji. Untuk itu Ki Dermakonda mengajukan usulan untuk mendatangkan temannya, yaitu seorang Jin bernama Buto Locaya yang tinggal di Gua Batu di Bukit Klotok. Agar bisa mendengarkan Buto Locaya dibutuhkan seorang dukun kesurupan sebagai medium. Untuk itu Ki Dhermakonda mengajukan nama Ki Sondong yang tubuhnya bisa dirasuki Jin yang bernama Buto Locaya itu. Begitulah atas dasar penutusan Jin Buto Locaya yang merasuki tubuh Ki Sondong, disusunlah Sejarah kediri yang diberi judul Babad Kadhiri. Sudah bisa ditebak bagaimana isi dari babad kediri ini, apalagi yang memerintahkan adalah penjajah Belanda. Dalam babad ini banyak sekali fitnah yang ditujukan kepada Walisongo seperti dfitnahnya Sunan Bonang dan Sunan Giri. Inilah akibat sumber sejarah yang berasal dari Jin ! dan mungkin dalam sejarah penulisan bangsa ini, baru kali ini kami mendengar ada Jin menjadi bisa menjadi nara sumber sejarah !. Sepengetahuan kami, nara sumber yang satu ini kebanyakan lebih banyak ngawur datanya, lihatlah tayangan-tayangan di televisi dimana ada beberapa orang yang menjadi medium Jin, kemudian mereka bisa bercerita sejarah pada masa lalu, padahal kebanyakan isinya tidak aneh dan terkesan dibuat-buat.
- Serat Darmagandul : Merupakan cuplikan dari Babad Kedhiri yang disusun oleh seorang murtadin yang bernama asli Ngabdullah (Abdullah) yang bergelar Ki Tunggul Wulung asal Juwana, Pati Jawa Tengah. Ki Tunggul Wulung ini adalah murid binaan dari Jelesma ang merupakan Misionaris Nasrani. Ngabdullah ini masuk agama Nasrani karena kemiskinannya. Ki Tunggul Wulung inilah yang kemudian menyusun sebuah karya sastra yang diberi judul Serat Darmagandul yang merupakan sastra dekade berbahasa Jawa. Dikatakan Dekaden karena selain tidak mengikuti tata aturan dalam menggubah sastra Jawa, Ki Tunggul Wulung juga menggunakan kata dan kalimat yang sarkastis dan bernuansa porno dengan memasukan istilah-istilah Belanda. Jika diperhatikan isi dari Serat Darmagandul ini mirip dengan cerita porno yang kami temukan pada beberapa kitab suci dari sebuah akidah lain. Inti dari serat Darmagandul ini kebanyakan diarahkan kepada pemujaan yang bersifat akal budi semata (Pemujaan kepada rasionalitas semata) dengan menolak keras mainstream agama serta menolak keras eskatologi agama yang bersifat Ukhrawi. Sampai saat ini kami melihat ada beberapa penulis yang begitu getol menerjemahkan isi dari Serat yang luar biasa penistaannya kepada Walisongo dan juga keluarga Kesultanan Demak ini, entah apa yang ada dikepala si penerjemah tersebut, apalagi jika dia seorang “muslim”. Darmagandul jelas merupakan serat yang isinya berbahaya, jika dijadikan sumber sejarah, baik itu sejarah lokal maupun nasional.
- Suluk Gatoloco : Secara tendensius suluk yang satu ini telah banyak ini menyerang tokoh-tokoh ulama dan bangsawan pendukung Pangeran Diponegoro lewat pendeskreditan tokoh Kyai Hasan Besari (Kasan Besari) Pendiri Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo, yang tidak saja fiktif tapi digambarkan kalah berdebat dengan Ki Gatoloco tetapi juga mengungkapkan paparan-paparan tentang kekeliruan pemahaman dan pemikiran golongan santri yang diwakili pandangan Kyai Kasan Besari, sebaliknya diungkapkan kebenaran pemahaman dan pemikiran KI Gatoloco yang jelas sekali memuat pemahaman universalitas khas Freemason dan Theosofi, yang diselimuti pemikiran otak atik ghatuk yang akan menjadi bahan tertawaan orang yang menggunakan commo sense dalam berfikir. Perlu diketahui Kyai Kasan Besari yang merupakan keturunan Raden Fattah lewat jalur Panembahan Wirasmara bin Sunan Prawoto ini adalah seorang Ulama Besar dan Waliyullah. Kemampuan atau taraf keilmuwan beliau dalam bidang agama juga sudah mencapai taraf Allamah, jadi sangat aneh dan menggelikan jika digambarkan beliau kalah berdebat dengan tokoh fiktif seperti Gatoloco itu, padahal beliau terkenal alim. Salah satu keturunan Kyai Kasan Besari yang besar pengaruhnya pada bangsa ini adalah HOS Cokroaminoto.
- Sabda Palon : Lagi-lagi naskah yang satu ini mengambil dari isi Babad Kedhiri yang didalamnya banyak menentang ajaran-ajaran islam. Isinya penuh dengan mitos dan ramalan-ramalan yang dikaitkan dengan Prabu Jayabaya. Dalam naskah yang satu ini Sabda Palon sendiri digambarkan sebagai seorang tokoh yang hidup di zaman Majapahit namun mempunyai pandangan yang buruk terhadap Islam. Kenyataannya dalam tradisi lisan yang berkembang di Trowulan, tokoh Sabda Palon dan juga sahabatnya yang bernama Noyo Genggong bukan merupakan sosok yang anti Islam. Sabda Palon dan Noyo Genggong yang hidup dalam tradisi oral (tradisi lisan) masyarakat setempat adalah dua orang abdi Majapahit yang telah memeluk agama Islam. Hal ini sudah tentu berbeda dengan sejumlah kisah babad yang menempatkan keduanya sebagai sosok mitologis dan anti terhadap Islam. Dalam pandangan Sabda Palon versi naskah tersebut, ajaran Islam yang dibawa oleh para Majelis Dakwah Wali Songo, termasuk yang diusung Sunan Kalijaga, belum merupakan ajaran Islam yang sempurna, bahkan Sabda Palon menganggap Islam yang dibawa oleh Walisongo masih menyimpang dari ajaran yang murni, Islam hanya dianggap sebagai agama yang mementingkan ibadah semata tanpa memperhatikan hati dan jiwa. Sabda Palon akan masuk Islam jika ajarannya sudah sempurna dan murni. Kitab ini betul-betul merupakan kitab yang meremehkan Islam Nusantara, karena berisi penggambaran tentang kehancuran Islam di tanah Jawa dan digantikan oleh ajaran “pengganti Islam” setelah 500 tahun keruntuhan Majapahit, sebuah prediksi dan ramalan yang aneh, karena Alhamdulillah sampai saat ini Islam masih bisa bertahan dengan baik berkat jasa para penyebar Islam yang diantaranya adalah Majelis Dakwah Walisongo. Seolah Sabda Palon versi naskah ini adalah yang paling tahu tentang Islam, padahal Majelis Dakwah Walisongo adalah orang-orang yang alim, cerdas dan bijak dalam memperkenalkan Islam pada masa itu. Sepertinya Sabdo Palon versi ini ingin mengaburkan sejarah yang sesugguhnya dari peran dan jasa Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara ini. Islam di tangan Walisongo jelas sudah sesuai dengan ajarannya Rasulullah SAW. Islam yang dibawa Walisongo jelas Islam yang Rahmatan lil Alamin dengan faham Ahlussunnah Wal Jama'ah. Jadi salah besar jika Sabda Palon menilai Islam dari sudut pandangnya yang keliru itu.
- Serat Syekh Siti Jenar : Disusun oleh Raden Panji Natarata, pensiunan Jaksa (Beskal) di Jogyakarta. Tidak berbeda dengan Serat Darmagandul yang diambil dari naskah Babad Kedhiri, naskah Serat Syekh Siti Jenar yang disusun oleh Raden Panji Natarata banyak memunculkan cerita dan pandangan negatif terhadap para Walisongo sebagai penyebar agama Islam yang licik dan curang, yang dengan tindakan tidak terpuji merancang kematian Syekh Siti Jenar termasuk mengganti jenazahnya dengan bangkai anjing. Padahal dalam tradisi lisan di Kalangan pengikut Syekh Siti Jenar yang diwariskan secara turun temurun dalam Tarikat Akmaliyah, Syekh Siti Jenar wafat dengan cara yang wajar selayaknya orang yang meninggal dunia. Ada kesan jika penulis serat ini ingin mengadu domba antara Syekh Siti Jenar dengan Majelis Dakwah Walisongo dan juga Kesultanan Demak. Sampai sekarang kami sering mendapati cerita bahwa antara Walisongo, Syekh Siti Jenar dan Kesultanan Demak itu terlibat konflik yang serius, padahal faktanya hal tersebut adalah kisah fiktif mengingat semua tokoh-tokoh tersebut adalah penyebar agama Islam yang menjunjung tinggi Akhlak dan budi pekertinya keluarga besar Alawiyyin, disamping itu Syekh Siti Jenar juga merupakan anggota Majelis Dakwah Walisongo dan nasabnyapun sama dengan Walisongo. Jelas serat yang satu ini sarat dengan penistaan terhadap Walisongo dengan "menjual" kisah Syekh Siti Jenar.
- Kronik Sam Po Kong : Naskah ini sempat menggemparkan para sejarawan, terutama pada akhir tahun 60an ketika Prof. Dr Slamet Mulyana memunculkannya dalam buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa Dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara”. Hal yang cukup mengagetkan dalam buku Prof. Dr. Slamet Mulyana ini adalah ketika dia berani memunculkan teori bahwa Walisongo dan juga Raden Fattah itu keturunan China. Dari beberapa rujukan yang dia pakai dalam bukunya, secara mengejutkan dia “berani” menggunakan buku Babad Tanah Jawi dan juga naskah Resident poormant yang juga berasal dari buku Tuanku Rao sebagai bagian penting dari isi bukunya tersebut. Buku Tuanku Rao sendiri disusun oleh Mangaraja Onggang Parlindungan dan juga pernah menimbulkan polemik yang berkepanjangan dengan Prof. Dr. Hamka. Walisongo dan Raden Fattah pada buku Prof. Dr. Slamet Mulyana dengan jelas dan secara tegas dikatakan dari China, dan pijakan dari teori beliau itu ternyata “katanya” berdasarkan dari “Kronik Sam Po Kong” dan “katanya” ditemukan oleh Resident Poormant (padahal Slamet belum pernah melihat langsung naskah tersebut). Sampai saat ini yang namanya naskah Residen Poormant itu tidak pernah ditemukan oleh siapapun, baik yang ada di Semarang maupun yang ada di Belanda. Nama Residen Poormant pun tidak pernah ada, alias fiktif. Lagipula bila dibandingkan dengan catatan nasab keluarga besar keturunan Walisongo yang ada di berbagai pelosok negeri ini, semua telah sepakat menulis, jika leluhur Walisongo itu secara mutlak dan tegas berasal dari keturunan Alawiyyin yang merupakan keturunan dari Imam Ahmad Al-Muhajir Al-Husaini, yang artinya Walisongo itu jelas keturunan Arab Hadramaut. Pendapat ini juga telah dipertegas beberapa ahli nasab seperti yang tertera dalam kitab Syamsu Dzhirah, Khidmatul Asyirah, Ilhafun Nadzhoir, Al-Mausuuah Li Ansaabi Al-Imam Al-Husaini, belum lagi kitab-kitab berbahasa Arab lainnya. Dan juga mengenai sejarah Nasab Raden Fattah, juga telah kami dapatkan bukti jika nasab beliau sama (satu rumpun) dengan keluarga besar Walisongo. Kalaupun ada keturunan China, sebenarnya itu bukan Nasab, tapi tautan atau kekerabatan, misalnya istri dari ayah Sunan Ampel yaitu Maulana Ibrahim Zaenuddin Al-Akbar As-Samarkondy yang menikah dengan putri China penguasa Champa atau Sunan Gunung Jati yang menikah dengan Putri Ong Tien anak dari Kaisar China pada waktu itu. Jelas menchinakan Walisongo adalah sesuatu yang salah kaprah dalam sejarah mereka. Kami tidak anti terhadap Etnis China, kami bicara fakta, dan jika bicara fakta, ya wajib diluruskan apa adanya. Kalau memang nasabnya ke China silahkan saja tulis secara tegas asal ada sumber yang bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan, namun kalau nasabnya memang berasal dari Alawiyyin apa mau dipaksakan ke China ? Jelas ini tidak mungkin, apalagi semua catatan nasab Walisongo sudah menegaskan jika Walisongo adalah Keturunan Al-Imam Ahmad Al-Muhajir.
- Kidung Sunda : Mengenai Kidung Sunda ini adalah tulisan naskah berbahasa Jawa pertengahan dalam bentuk syair atau tembang yang kemungkinan besar berasal dari Bali, di Keraton Surakarta ternyata terdapat Kitab Kidung Sundayana dan juga kitab Kidung Sunda. Keduanya pernah diterbikan oleh C C Berg pada tahun 1927 dan 1928 M. Adapun mengenai tentang Kidung Sunda ini adalah sebagai berikut: a). Tahun 1927 dengan judul : “Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen’. BKI 83: 1 – 161. b). Tahun 1928 dengan judul: "Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch (Kidung Sundฤyana)". Soerakarta: De Bliksem”. Isi kedua buku tersebut berbicara tentang cerita peristiwa “Perang Bubat”yang lebih detail, seperti yang di kisahkan dalam kitab Pararaton yang juga pernah diterjemahkan Brandes (sejarawan Belanda). “Konon” katanya Kidung Sunda dan Kidung Sunda yang ditemukan dari sisa-sisa kebakaran pada penyerangan Belanda di Bali, itu artinya tidak ada pihak ketiga lainnya yang menyaksikan secara langsung pada saat dokumen itu diketemukan, hanya pihak Penjajah Belanda. Artinya pemunculan naskah Kidung Sunda itu dipelopori oleh Penjajah Belanda! Dan jelas kita wajib untuk mewaspadai kebenaran dari isi naskah Kidung Sunda ini, karena tidak adanya saksi-saksi yang mendukung penemuan tersebut. Sejarah versi ini patut kita kritisi, karena akibat kepercayaan terhadap peristiwa perang bubat itu sampai sekarang efek budayanya masih terasa pada masyarakat yang berkaitan dengan sejarah ini, terutama pada masyarakat Sunda pada umumnya. Dalam Hal ini Agus Sunyoto pernah menyatakan bahwa pada tahun 1860 M fihak Belanda secara khusus memang pernah mengeluarkan naskah Kidung Sunda. Setelah diteliti, ternyata yang membuatnya adalah orang Bali. Isinya banyak menceritakan tentang Peristiwa Bubat, yaitu dimana patih Gajah Mada membunuh Raja Sunda sekeluarga dan pasukannya. "Itu cerita fiktif, rekayasa Belanda. Belanda yang bikin pasti tujuannya devide et impera, memecah belah. Jadi kita harus hati-hati sama naskah kolonial, uji dulu, kita harus mengkompilasi dengan data lain”, ujar Agus Sunyoto.
- Naskah Pararaton Versi Brandes : Naskah ini adalah naskah sastra Jawa pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini tidak diketahui siapa penulis aslinya, sehingga sulit diketahui kredibilitasnya. Naskah Pararaton yang ada justru kesemuanya itu kebanyakan bersumber dari terjemahan Jan Laurens Andres Brandes yang merupakan ahli sejarah, linguistik dan filologi penjajah kolonial Belanda. Adalah hal yang mencurigakan ketika Belanda menugaskan Brandes untuk menerjemahkan naskah yang satu ini tapi tidak pernah bisa menyebut siapa penulis asli dari Kitab Pararaton itu, apalagi Brandes ini dapat dikatakan satu-satunya orang Belanda yang ahli dalam penerjemahan bahasa Jawa kedalam bahasa Belanda pada masa itu. Serat Pararaton sendiri sering menampilkan hal-hal yang berbau kekerasan dan sarat dengan mitologi, disamping itu karena seringkali memuat cerita dunia hitam, isinyapun sulit untuk bisa diteladani. Pada kisah Ken Arok misalnya, seringkali Ken Arok ini digambarkan dengan hal-hal yang berbau kekerasan, padahal sosok Ken Arok sendiri masih banyak yang mempertanyakan, apakah sedemikian jahatnya dalam kisah Pararaton tersebut ? Lagipula sosok Ken Arok ini juga masih banyak yang meragukan keberadaannya, apakah dia sosok nyata atau buatan dari Brandes sendiri?.
- Naskah Wangsakerta : Salah satu naskah yang juga sampai saat ini masih dianggap kontroversial namun oleh sebagian fihak dianggap “shahih” adalah naskah Wangsakerta. Naskah ini telah menciptakan polemik yang berkepanjangan pada dekade tahun 80an. Beberapa Sejarawan Jawa Barat bersikap pro dan kontra dalam menyikapi munculnya naskah ini. Ada juga dari polemik itu yang bersikap hati-hati dan terkesan masih memberikan kesempatan kepada banyak fihak untuk terus mengkaji naskah yang satu ini. Namun sepertinya dari beberapa fihak yang kami amati, fihak yang kritis terhadap naskah ini ternyata lebih dominan, terutama mereka yang berasal dari latar belakang sejarah, dengan alasan :
1) Isi naskah Wangsakerta dianyam seolah-olah sejarah kuno indonesia padahal bukan cerita sejarah, sehingga naskah tersebut tidak dapat dianggap atau dipakai sebagai sumber sejarah baik primer maupun sekunder.
2) Asal usul naskah tersebut tidak jelas dari siapa ataupun dari desa mana? (sebuah sumber wajib jelas asal usulnya)
3) Identitas penyusun naskah Wangsakerta tidak meyakinkan (dalam pemahaman kami bisa jadi nama Pangeran Wangsakerta ini disalah gunakan)
4) Penyusunan naskah Wangsakerta agaknya menggunakan kerangka dasar arkeologi dan sejarah kuno Indonesia yang dikembangkan pada abad ke 20, padahal Pangeran Wangsakerta kehidupannya tercatat jelas antara tahun 1677 s/d 1713 M.
5) Dalam pemakaian huruf banyak terjadi ketidak konsistenan, seharusnya ditulis pendek jadi panjang, seharusnya panjang jadi pendek, ada kesan huruf-hurufnya ingin dikuno-kunokan.
6) Kertas yang digunakan tidak meyakinkan berasal dari dari masa Pangeran Wangsakerta mengingat Indonesia adalah negeri tropis yang sulit mengadakan konservasi.
7) Dalam satu tulisan tertulis bahwa pada tahun 1677 ada negara lain yang hadir pada seminar besar, yaitu negeri Abasid, padahal Belanda menyebutnya Abbasiah, sedangkan Abbasiah sudah runtuh abad ke 12 !
8) Isi Teks Naskah Wangsakerta terlalu modern untuk abad ke 17. (setiap abad biasanya ada selalu ciri khas sebuah bahasa)
9) Proyek besar Pangeran Wangsakerta yang berhasil membuat seminar/musyawarah besar di Cirebon pada masa itu dan kemudian berhasil membuat naskah Wangsakerta, anehnya tidak pernah disebut dalam Babad Cirebon sebagaimana umumnya Babad.
10) Kertas lembaran daluwang yang digunakan untuk naskah Wangsakerta ternyata setelah digosok dengan jari berludah warna abu-abunya luntur, dibaliknya terdapat warna hijau dan merah muda dan ternyata setelah diamati itu adalah Kertas Manila!. (Saat ini dengan menggunakan zat-zat kimia tertentu sangat mudah untuk membuat sebuah kertas baru menjadi kertas kuno)
11) Bahasa Jawa Kuno yang dipakai terlalu dikuno-kunokan, sehingga malah tak mewakili bahasa akhir abad ke 17, sedangkan pada Wali yang hidup di abad ke 15 menggunakan bahasa Jawa Baru.
12) Dalam naskah Wangsakerta sebelum ditulis dengan tinta ditemukan bekas-bekas pensil yang dihapus dengan penghapus karet dan tampak pula pada sisi kiri dan kanan kertas. (tentu ini sangat mencurigakan, karena naskah asli biasanya langsung ditulis dengan tinta, kalaupun ada penyalinan naskah lama ke naskah baru, tetap saja biasanya langsung ditulis, apalagi penulisnya orang yang sudah berpengalaman dalam tulis menulis)
13) Sampul kitab hampir polos, tidak menampakkan motif awan atau karang yang dikenal sebagai motif asli Cirebon. (biasanya sebuah kitab itu ada tanda khusus yang menandakan darimana keberadaan kitab tersebut).
14) Tulisan Panitia Wangsakerta tentang konsep sejarah prasejarah begitu lengkap (1500 daftar pustaka). Banyak data yang cocok dengan referensi sekarang, padahal apa yang dikemukakan Pangeran Wangsakerta baru dicoba ilmuwan barat tahun 1850 M. (Penggunaan daftar Pustaka sebanyak itu, terutama pada masa itu jelas menurut kami patut dipertanyakan, apalagi daftar pustakanya banyak yang cocok dengan referensi terbaru).
15) Dalam pembacaan nama raja Panangkaran persis seperti pembacaan epigrafi bangsa Belanda J.G. De Casparis (Arkeolog Belanda) dalam desertasinya tahun 1950. (Salah satu alat bantu dalam ilmu sejarah adalah epigrafi, sehingga kalau ada kesamaan dengan sejarawan belanda ini tentu sebuah keanehan besar).
16) Naskah Wangsakerta ternyata ditulis oleh Pro. Dr De Casparis setelah dia menulis desertasinya tahun 1950 dan prasasti Indonesia II tahun 1956, karena semua yang ditulis di naskah Wangsakerta itu sesuai benar dengan teori De Casparis, apalagi ketika wangsakerta menuliskan rekonstruksi Mataram Kuno dan Sriwijaya sesuai benar dengan teori De Caspari itu.
17) Belum ditemukan sumber lain yang menulis kegiatan seminar atau musyawarah besar yang diadakan Pangeran Wangsakerta itu, padahal kegiatan tersebut dihadiri para ahli dari berbagai daerah dari Madura, Makasar, Penarukan, Blambangan, Galiao, Banggawi, Maluku, Bali, Seran, Lwan Gajah, Ambon, Gurun, Taliwang, Palembang, Bantayan, Banten, Dermayu, Wirasaba, kediri, Lasem, Mojoagung, Bagelen, Tuban, Losari, Brebes, Tegal, Jepara, Mantingan, Bonang, Demak, Jayakarta, Lamongan, Kudus, Cirebon, Gresik, Pasai, Tanjungpura, Karawang, Cangkuang, Kuningan, Tembayat, Sedayu, Malaka, Tumasik, Barus, Trenggani, Galunggung, Sumedang, Sukapura, Parakanmuncang, Rancamaya, Imbanagara, ukur, Galuh, Sindangkasih, Luragung, Kretabumi, Rajagaluh, Talaga, Sendangduwur, Giri, Jambi Minangkabau, Bangka, Perlak, Brunai, Lamuri, Kutalingga, Kamperhawa (mandailing), Siak, Tanjungnegra, Tanjungkutai, dan Tanjungpuri. Selain itu terdapat juga nama negara Mesir, Arab, India, Srilangka, Benggala, Champa, China dan Ujungmedini (semenanjang melayu). (banyaknya nama-nama daerah tersebut jelas menjadi sebuah pertanyaan besar, benarkah pada abad ke 17 tersebut Kesultanan Cirebon mampu mendatangkan banyak daerah tersebut, apalagi jalur transportasi sangat sulit dijangkau untuk mendatangi daerah-daerah tersebut).
18) Kegiatan Musyawarah Besar tidak pernah disebutkan kapan diadakan. (adalah hal yang aneh jika acara sebesar ini tidak pernah tercatat, sekalipun katanya memang ditutup-tutupi demi menghindari diri dari pengawasan Belanda, namun tetap saja harusnya waktu kegiatan tersebut ditulis, apalagi ini sekelas Pemimpin besar).
19) Kekuatan Kompeni VOC pada masa itu sangat besar, sehingga kegiatan sekecil apapun akan mudah dilacak, apalagi transportasi perairan ataupun darat dikuasai oleh mereka, sehingga siapapun yang datang dari luar akan mudah mendeteksinya.
20) Naskah Wangsakerta tidak dapat dipergunakan sebagai sumber sejarah, tapi sebatas kajian filologi dipersilahkan.
21) Naskah Wangsakerta kredibilitasnya sebagai sumber sejarah sangat diragukan.
22) Sebuah naskah bisa dijadikan sumber yang kuat tentu dengan melihat kredibilitasnya.
23) Prof. Dr. Nina Lubis dan Prof. Dr. Edi. S. Ekajati (tokoh yang membela keberadaan naskah wangsakerta) ternyata sepakat bahwa dalam penulisan Sejarah Jawa Barat tidak akan mempergunakan naskah Wangsakerta sebagai rujukan, meskipun demikian naskah ini sah sebagai bagian obyek kajian filologi. (Kalau dalam penulisan Sejarah Jawa Barat sudah tidak digunakan lagi, berarti secara tidak langsung naskah ini sudah dianggap bermasalah besar).
24) Perlu kami tekankan, dalam point 17 ada nama Jayakarta, padahal dalam catatan keluarga besar Jayakarta terutama dalam kitab Al-Fatawi tidak pernah disebutkan jika fihak Jayakarta mengikuti kegiatan musyawarah besar itu. Catatan Jayakarta yang disusun secara estafet oleh Para Mushonifnya tergolong lengkap sehinggga sudah pasti akan menuiis kegiatan sebesar itu, dan ini ternyata tidak tertulis sama sekali dalam kitab tersebut, dan jangan lupa kitab Al-Fatawi tidak pernah jatuh ke tangan Belanda, sehingga keasliannya masih terus terjaga hingga pada tahun 1910 Masehi dan kemudian disalin ulang oleh Al-Allamah KH Ahmad Syar’i Mertakusuma dalam bahasa Arab Melayu. Alangkah janggalnya jika Sejarawan Jayakarta tidak menulis pertemuan sebesar itu, mengingat hubungan antara Jayakarta, Cirebon itu sangat kuat. Dalam sejarah Demak juga belum kami dapati data tentang datangnya fihak Demak kedalam pertemuan besar tersebut, apalagi saat itu Kesultanan Demak sudah tidak ada, dan Demak hanya merupakan kadipaten biasa.
25) Secara sanad keilmuwan menurut kami naskah wangsakerta wajib dipertanyakan, siapa yang memegang naskah atau pewaris naskah yang terakhir ?, setahu kami Keluarga Besar Wangsakerta ini adalah keturunan Sunan Gunung Jati yang merupakan salah satu Walisongo berpengaruh dan selalu menjunjung sanad keilmuwan, sehingga sangat mustahil jika mereka tidak menjaga sanad yang selalu dipegang teguh keluarga besar Walisongo.
Dalam menyimpulkan beberapa naskah “kuno’ diatas yang kontroversial, dimana unsur keterlibatan penjajah kolonial itu juga cukup besar perannya, akhirnya saya ingin mengutif beberapa tulisan pada artikel yang disusun oleh Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara yang merupakan seorang pakar sejarah Islam ternama dimana beliau telah menulis :
“Kalau sejarah Barat menjadikan Yunani dan Romawi sebagai dasar peradaban Barat sebelum datangnya agama Kristen di Eropa, maka kebijakan penulisan Sejarah Indonesia dari pemerintah kolonial Belanda lebih mengutamakan penelitian, pemugaran, publikasi Sejarah Budha dan Hindu Indonesia, sebaliknya Sejarah Islam Indonesia sekalipun agama mayoritas pribumi indonesia dikaburkan sistem penulisannya”.
Selanjutnya beliau juga mengutif sebuah pernyataan B.H.M. Vleke dalam Nusantara A History Of Indonesia yang menyatakan : “Bahwa VOC tidak tahu sama sekali tentang Sejarah Indonesia yang sebenarnya”. Dan menurut Drs. R. Muhammad Ali, Ketua Arsip Nasional, “mereka menulis Sejarah Indonesia dari atas geladak kapal VOC. Maka sejarah Indonesia yang dituliskannya berisikan Sejarah Gubernur Jenderal dan kaki Tangannya, dan merendahkan nilai kesejarahan Islam Indonesia. Tetapi anehnya hasil tulisannya dijadikan landasan penulisan Sejarah Indonesia oleh sementara Sejarawan Indonesia”.
Wallahu A’lam Bisshowwab.....
Sumber :
Agus Sunyoto, Sastra Dan Kolonial Dalam Pengaburan Sejarah Islam Nusantara, Tangerang Selatan : Demafah & Padasuka, Aula UIN Syahid Dalam Seminar Nasional, 12 Maret 2015.
Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, Menelusuri Indikasi Pangaburan Sejarah Islam Nusantara, Tengerang Selatan : Padasuka & Demafah, Aula UIN Syahid, 12 Maret 2015.
Prof. W.L Olthop, Babad Tanah Jawi Tahun 1941, Alih Bahasa : HR Sumarsono, Penerbit Narasi Jogyakarta, 2011.
Dr. Suwito Santoso, Babad Tanah Jawi Galuh Mataram, Delanggu : CV Citra Jaya Murti, 1970.
Prof. Dr. Edi S Ekadjati, Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta, Bandung : PT Dunia Pustaka Jaya, 2005.
Prof.Dr. Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerajaan Hindu Budha Dan Munculnya Negara-Negara Islam Nusantara, Yogyakarta : LKIS, 2007.
Suwardi, Manunggaling Ken Arok dan Serat Pararaton, Yogyakarta : FIBS Universitas Negeri, Harian Merdeka, 1 Juni 2008.
Susiyanto, Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Jawa? 24 Januari 2010. Lihat di www.susiyanto.com.
Sabtu, 27 Juni 2015
BUDI PEKERTI WALISONGO DALAM MENYEBARKAN "ISLAM DI NUSANTARA", (ALAWIYYIN GENERASI AWAL DI NUSANTARA)
Belum lama ini banyak fihak yang memunculkan istilah Islam Nusantara yang kemudian akhirnya istilah ini menjadi pembicaraan hangat banyak orang. Bagi kami sendiri, tema yang satu ini sudah lama dikaji dan kami buat dalam beberapa tulisan, sehingga ketika muncul istilah Islam Nusantara kami justru memandangnya secara positif apalagi jika ditinjau dari sudut pandangnya Walisongo. Islam Nusantara menurut kami adalah gambaran Islam yang pernah dibawa oleh Para Pendakwah ulung keturunan Rasulullah SAW yang bernama Majelis Dakwah Walisongo. Mereka adalah keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath yang merupakan keturunan Imam Ahmad Al Muhajir yang terkenal akan budi pekertinya. Sayyid Abdul Malik adalah sosok kelahiran Tarim Hadramaut Yaman dan kemudian hijrah ke negeri India (Naserabad), setelah itu beliau menjadi guru besar dan diangkat menjadi bangsawan kesultanan delhi pada masa itu. Dari India inilah kemudian keturunan beliau banyak yang menyebar ke berbagai negara seperti Samarkand, Turki, Maroko, Mesir, Irak, Iran, India, dan termasuk Nusantara yang tercinta ini.
Dalam dakwah mereka, keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan selalu berusaha memahami kultur masyarakat setempat, disamping itu satu hal yang selalu ditanamkan dalam hidup mereka adalah Budi Pekerti ditengah masyarakat. Sehingga dimanapun keturunannya berdakwah, selalu diterima oleh masyarakat setempat. Dakwah mereka sangat cerdas, tradisi masyarakat yang banyak digemari mereka bisa masuki dengan unsur-unsur Islam. Hampir disemua tempat, Majelis Dakwah Walisongo bisa diterima dengan tangan terbuka, sekalipun saat itu banyak yang memfitnah mereka, namun pendekatan dakwah yang mengacu pada surat Annahl 125 betul betul mereka praktekkan ditengah masyarakat.
Majelis Dakwah Walisongo dalam menyebarkan Islam Nusantara mencapai puncaknya ketika Kesultanan Islam Demak berdiri dan berjaya dengan Sultannya yang bernama Sayyid Hasan Azmatkhan atau Raden Fattah. Dibawah Raden Fattah dan Majelis Dakwah Walisongo, Islam Nusantara mencapai kejayaan, semua itu karena dalam dakwah mereka selalu menjunjung tinggi budi pekerti yang telah ditanamkan para leluhurnya yang diantaranya adalah :
- Bersikap Wara dan Zuhud : artinya benar-benar bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya Takwa, yaitu setia menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya dalam semua aspek kehidupan. Terutama sangat berhati-hati dalam persoalan Haram dan Halal dengan menjauhi semua hal-hal yang masih diragukan kebenaranannya menurut agama Islam, apalagihukumnya haram atau haram (syubhat). Meninggalkan keduniawian, tidak tertarik dengan kesenangan dunia, merasa cukup dengan makanan, pakaian dan tempat tinggal yang serba sederhana sekali. Tidak gembira dengan kehadiran harta dan tida susah dengan kehilangannya dan banggadengan kesederhanaan dirinya. Sebagian waktu hidupnya dipergunakan untuk beribadah kepada Allaw SWT.DI samping menekuni konsep hidup Wara dan Zuhud tersebut, mereka tidak melupakan untuk mengatasi persoalan hidup, mencari nafkah dan mengumpulkan harta yang banyak yang diperoleh melalui jalan yang wajar dan halal serta diperuntukkan selain memenuhi kebutuhan keluarganya juga disalurkan untuk kepentingan Sabilillah (mendirikan mesjid, panti asuhan anak-anak Yatim, madrasah-madrasah, pondok-pondok pesantren dan membantu mereka yang memerlukan bantuan. Semua hal-hal tersebut dikerjakan karena berpedoman pada firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Adz-Dzaryat ayat 56 : “Tidak Aku jadikan Jin dan Manusia untuk beribadah kepadaKU”. Dan karena mengikuti ajaran Rasulullah SAW seperti yang disabdakan dalam riwayat Ibnu Asakir:“ Beramalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan beramalah kamu untuk akhirat seolah-olah kamu akan mati esok hari”.
- Sabar : Terutama dalam menghadapi semua problem kehidupan.
- Pemberani: Terutama dalam “Jihad Fi Sabililah” (berjuang di dalam menegakkan Agama Allah SWT). Berani mengatakan yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah. Sebagai realisasi anjuran Allah SWT yang difirmankan dalam Kitab Suci Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 81 : “Dan katakanlah yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap, sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”
- Tidak Sombong : Tidak Takabur.
- Tidak Riya’ : (Riya berarti orang yang ingin minta pujian dari orang-orang atas amalannya). Dimana hal tersebut sangat dibenci oleh Allah SWT seperti yang diperingatkan dalam firmanNya dalam Kitab Suci Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat 264 : “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.”
- Tidak Pernah Berdusta, mengingkari janji, berkhianat : Karena ketiga hal tersebut merupakan sifat-sifat (karakter) orang-orang Musyrik. Sebagaimana yang diperingatkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya pada Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim : “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. (1). Bila berbicara suka berdusta (2). Bila berjanji suka mengingkari (3). Bila dikhianati suka berkhianat”.
- Tidak Egois (mementingkan diri sendiri) : Sebaliknya selalu menomorsatukan kepentingan orang lain. Sebagai pelaksanaan atas anjuran Rasulullah SAW seperti yang disabdakan dalam Hadist Riwayat Tabharani : “Tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga ia menyintai saudaranya sebagaimana ia menyintai dirinya sendiri”.
- Berkalbu tulus dan ikhlas : Tidak pernah iri dan dengki pada seseorang dan serta memaafkan seseorang, walaupun orang itu telah merugikan dan menyakiti hatinya. Hal mana dilakukan karena mentaati atas perintah Allah SWT sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam Kitab Suci Al-Qur’an dalam surat Al-Imran ayat 134 : “Orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.
Demikianlah kesimpulan Budi Pekerti Leluhur Alawiyyin dalam garis besarnya. Sudah selayaknya jika mereka mengaku sebagai keturunan Rasulullah SAW ataupun yang bukan keturunan beliau, mempunyai perilaku seperti yang disebut diatas. Islam diterima di negeri ini karena dahulu Walisongo memegang teguh ajaran leluhur Alawiyyin. Sehingga kalau ada sekarang mereka yang mengaku keturunan Rasulullah SAW tapi meninggalkan ajaran budi pekerti diatas, berarti mereka hanya bisa mewarisi nasab darah, sedangkan nasab akhlak sama sekali tidak berbekas. Islam yang dibawa Walisongo adalah Islam yang ramah dan berkarakter, sehingga sampai saat ini kita bisa merasakan nuansa itu. Islam ditangan Walisongo adalah Islam rahmatan lil Alamin yang kemudian menyatu dengan kultur bangsa ini. Islam di Nusantara adalah Islam yang dibawa Walisongo dimana didalamnya penuh dengan budi pekerti sesuai dengan suri tauladan Alawiyyin yang pernah ditanam oleh Al Imam Ahmad Al Muhajir.
Para Kyai Keturunan Walisongo, para tokoh bangsa dan ulama keturunan Kesultanan Azmatkhan yang ada di Nusantara, serta para Habaib yang sekarang ini banyak menjadi “lilin” ditengah masyarakat, sudah selayaknya mempunyai sifat diatas, karena mereka itu adalah keluarga besar Alawiyyin yang salah ciri khasnya adalah Akhlak, betapapun mulianya sebuah nasab tanpa adanya sifat diatas maka sudah selayaknya mereka itu malu menyandang dirinya sebagai Alawiyyin. Alawiyyin sejati itu adalah mereka yang mampu menunjukkan 8 karakter dasar Ahlul Bait. [1] [2]
Sumber :
[1] Untuk lebih jelasnya lagi mengenai garis besar budi pekerti Alawiyyin, menurut As-Sayyid Muhammad Hasan Al-Aidid pembaca dapat menalaah kitab-kitab seperti : 1. Al-Ilmun Nibras Fit-Tambihi Ala Manhajil Akhyas oleh Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al-Attas 2. Al-Masya Arrawiy Manaqib Assadah Al-Kiran Bani Alawiy oleh Muhammad Abubakar Syilliy 3. Qu’tul Qulub oleh Sayyid Abu Thalib Al-Makki
[2] Dikutif Dari Buku Raden Fattah Sang Pendobrak, Iwan Mahmud Al Fattah, Jakarta : Madawis, 2015, hlm 308 - 310.
JASA WALISONGO DALAM MENGISLAMKAN NUSANTARA (Mengikuti Jejak Langkah Al-Imam Ahmad Al-Muhajir)
Apa saja sebenarnya jasa walisongo dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini? apakah hanya sekadar penyiaran dalam bidang agama? Apakah Walisongo gerak dakwahnya hanya terbatas pada kajian-kajian keislaman semata saja?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah selayaknya bisa kita jawab secara detail dan tuntas pada sejarah mereka, karena akhir-akhir ini ada sebagian kecil orang yang berani meremehkan keberadaan Walisongo, padahal bila dibandingkan kiprah dakwah mereka dengan Walisongo, jauh panggang daripada api. Mereka yang berani “menggugat” keberadaan Walisongo itu, saya ingin bertanya, sudah berapa ribu orangkah yang anda Islamkan? Sanggupkah anda berdakwah ditengah kehidupan saat itu yang notabenenya bukan pemerintahan Islam?. Sanggupkan anda berdakwah ditengah suasana yang masih penuh keterbatasan dan fasilitas? Sanggupkah anda membuat sebuah tradisi Islam yang bertahan sekian ratus tahun ?
Terus terang kondisi seperti ini telah membuat kami prihatin. Pada beberapa situs yang pernah kami kunjungi, Walisongo ini bahkan dianggap sebagai perusak aqidah Islam terutama dalam kehidupan Islam tradisionalisnya (Innalillahi....., memangnya siapa dia berani menilai Walisongo sebagai perusak aqidah dan pembawa bid'ah!), lebih memprihatinkan lagi bahkan nama walisongo ini hampir hampir saja terlempar dari sebuah buku yang katanya "ENSIKLOPEDI" tentang Islam di Nusantara ini..Aneh bin Ajaib, Walisongo hampir lenyap pada buku sekelas 'ENSIKLOPEDIA ISLAM" .
Fenomena ini tentu membuat kami bertanya-tanya ketika ada fihak yang memandang sinis kepada Walisongo, hanya karena melihat secara sefihak terhadap ajaran dan budaya yang mereka kembangkan dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara. Akulturasi yang dibawa Walisongo dianggap “kebablasan” padahal akulturasi yang dilakukan Walisongo pada masa itu sudah difikirkan dan dikaji secara matang oleh semua anggota Walisongo yang track record keilmuannya rata-rata sudah mencapai “Allamah”, mulai dari angkatan pertama sampai berdirinya Kesultanan Islam Demak. Bagi beberapa fihak, Walisongo bahkan sering dikatakan hanya cocok di pulau Jawa ?, padahal kalau saja mereka mau mempelajari sejarah Walisongo secara jernih dan mendalam, medan dakwah Walisongo justru hampir disemua wilayah Nusantara, ini jauh lebih luas jangkauannya daripada prasangka sebagian orang tersebut, dan ini terbukti dikemudian hari dimana banyak keturunan Walisongo yang berhijrah atau berdakwah tidak hanya di pulau Jawa, daerah-daerah seperti Ternate Tidore dan juga Jazirah Al-Muluk (Kepulauan Maluku) yang jauh saja mereka datangi, daerah Sumatra seperti Lampung, Palembang, Aceh, Jambi, Melayu juga mereka tebar dengan dakwahnya. Daerah Sulawesi bahkan ditempati oleh leluhur utama mereka yaitu Sayyid Husein Jamaluddin atau Syekh Jumadil Kubro Awal, bahkan daerah Kalimantanpun juga mereka masuki pada saat pemerintahan Sultan Trenggono dari Kesultanan Demak. Bahkan Jayakarta atau Jakarta juga mendapat perhatian penuh dari Majelis Dakwah Walisongo pada masa itu. Di beberapa Kerajaan kerajaan non Islam saja keberadaan mereka diterima dengan baik mulai dari kerajaan Majapahit sampai kepada Pajajaran, semua bisa menerima anggota Walisongo dengan baik, sehingga sangat tidak bijak jika sekarang ada fihak yang bersikap sinis kepada para pendakwah yang telah sukses mengIslamkan Nusantara ini.
Yang juga sering membuat kami tidak habis fikir adalah ketika ada beberapa fihak yang berani mengatakan bahwa Nasab atau silsilahnya walisongo dianggap terputus dengan generasi sekarang dengan alasan tidak tercatat ? Kata siapa tidak tercatat ? umur berapakah mereka itu sehingga berani mengatakan jika Walisongo nasabnya tidak terpelihara dan tidak tercatat? Padahal jika kita mau pelajari teliti dan mendalam garis keturunan ulama-ulama besar Nusantara, banyak sekali yang merupakan keturunan Walisongo, bahkan ulama-ulama kelas dunia yang banyak menetap di Mekkah dan menjadi pakunya ulama saat itu merupakan keturunan Walisongo, sebut saja nama Syekh Nawawi Al-Bantani yang merupakan keturunan Sunan Gunung Jati, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang merupakan keturunan Sunan Giri dari anaknya yang bernama Sultan Minangkabau, atau Syekh Yasin Fadani dari keturunan Sunan Giri, Syekh Junaid Al Batawi dari keturunan Raden Fattah Azmatkhan, sedangkan yang didalam negeri ada nama Mbah Kholil Bangkalan yang merupakan keturunan Sunan Kudus, ada KH Hasyim Asy’ary, KH Ahmad Sidiq, KH Sahal Mahfud yang merupakan keturunan Syarif Muhammad Kebungsuan bin Sayyid Jamaluddin/Syekh Jumadil Kubro Wajo (leluhur Walisongo), KH Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah yang merupakan keturunan Sunan Giri, Buya Hamka yang keturunan Sunan Giri, KH As’ad Syamsul Arifin yang merupakan keturunan Sunan Ampel, Abuya Dimyati Banten yang keturunan Sunan Gunung Jati, Kyai Marogan Palembang yang keturunan Sunan Giri, Guru Mansur Sawah Lio Betawi yang keturunan Raden Fattah, atau nama Abuya KH Abdullah bin Nuh yang dalam penelitian kami ternyata keturunan Raden fattah Azmatkhan dan masih banyak lagi ribuan ulama atau tokoh-tokoh bangsa keturunan Walisongo, dan ini membuktikan jika garis keturunan mereka itu terjaga dengan baik. Dan semua ini tercatat dengan baik pada kitab Al’Mausuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini yang disusun oleh As-Syekh Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al-Husaini.
Walisongo memang sepertinya tidak akan habis untuk dikritik dan dicari kelemahannya, baik dari segi sejarah, riwayat atau nasabnya. Seorang yang saya kenal bahkan pernah berani mengatakan kepada saya bila Walisongo itu ajarannya sudah tidak cocok dengan kondisi sekarang! Ha? tidak cocok ? apanya yang tidak cocok saudaraku? setahu kami justru ajaran ajaran mereka yang fleksibel dan justru banyak fihak yang memujinya, tidak tanggung tanggung Walisongo itu bahkan sering menjadi kajian ilmiah dikalangan beberapa peneliti peneliti sejarah. Mengatakan bahwa metode dakwah Walisongo itu sudah usang hanya karena sebagian orang tersebut “Uphoria” terhadap perkembangan dakwah “dinegeri lain” jelas tidak obyektif. Sudah jelas setiap daerah atau negara strategi dakwahnya tentu tidak sama, dan ini pernah dilakukan Walisongo. Sungguh sebuah hal yang ironis jika ada fihak mendeskriditkan figur-figur Walisongo dengan alasan Walisongo hidup di era abad 14 dan 15 dan orang tersebut hidup di era “modern”, padahal kalau kita mau jujur Islamnya kita pada masa kini, terutama di Nusantara, itu jasa siapa? memangnya Islam yang seperti apa yang cocok untuk negara ini?. Janganlah kita membuat sebuah kesimpulan sesaat dalam memahami ajaran Walisongo apalagi dengan mengatakan bahwa Walisongo itu adalah sebuah “mazhab” tersendiri, sehingga keberadaan ajarannya patut dipertanyakan eksistensinya. Janganlah terlalu berlebihan menganggap bahwa ajaran Walisongo itu seolah ajaran “lokal” yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.
Saudara....perlu kita tahu, Islam yang dibawa Walisongo adalah Islam yang sama seperti di negara-negara yang mayoritas menganut faham Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah. Negeri ini akar keislamannya sama seperti negeri Hadramaut Yaman, Palestina, Maroko (Magribi), Turki, Mesir, Damascus, Sebagian India, Sebagian Pakistan, Irak, Sebagian wilayah Iran yang Sunni, sebagian Afganistan, Samarkand (uzbekistan), Mekkah dan Madinah (terutama pada era Syarif-Syarif Mekkah), serta negara-negara yang menganut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah lainnya. Negara-negara tersebut bahkan sangat menaruh hormat terhadap bangsa kita berkat akar keislaman yang dibawa Walisongo ini. Walisongo itu nama organisasi bukan Mazhab, namun sekalipun nama sebuah organisasi dakwah, ajarannya tidaklah menyimpang dari ajaran para leluhurnya. Walisongo tetap mengikuti ajaran jumhur ulama penerus jejak Rasulullah SAW, terutama Ulama yang menganut faham Ahlussunnah Wal Jamaah. Walisongo itu sangat memegang teguh Al-Qur’an, Hadist, dan juga Ijma dan serta menjunjung tinggi adanya Qias. Akidah mereka jelas Ahlussunnah Wal Jamaah dengan mayoritas menganut faham Asy’ariyah-Maturidiyah, fiqih yang mereka anut adalah Imam Syafi’i, Aliran Tassawuf yang mereka anut juga banyak mengambil pemikiran Al-Ghazali dan Syadzili, Thariqoh yang mereka anut juga Thariqoh Alawiyah dan Thariqoh yang selaras dengan ajaran Rasulullah SAW. Mereka juga sangat cinta akan seni sastra arab dan juga lokal. Dalam bidang Akhlak mereka itu mengikuti jejaknya Al-Imam Ahmad Al-Muhajir yang merupakan nenek moyang Kaum Alawiyyin seluruh dunia, dan Walisongo juga sangat tegas dalam menghadapi penyimpangan dalam bidang pemikiran dan akidah, namun cara mereka menghadapinya penuh dengan hikmah kebijaksanaan seperti yang pernah dilakukan datuknya dahulu, yaitu Al Imam Al-Muhajir dimana Al-Imam Ahmad dahulunya berhasil melakukan dakwah dengan meluruskan pemikiran-pemikiran yang menyimpang pada masa itu di Hadramaut. Jika kita berkunjung kebeberapa negara seperti Yaman, Maroko, Turki, maka banyak ulama disana yang merasa kagum dengan cara dakwah Walisongo yang berhasil membuat wajah Nusantara ini menjadi Islam yang ramah, berkarakter namun tidak hilang akan ketegasannya.
Marilah dalam menilai sesuatu itu penuh dengan pendalaman, kaji yang lebih serius, mempelajari sesuatu itu harus penuh kearifan dan juga sikap cerdas dan kritis. Bicara Walisongo itu banyak aspeknya, janganlah kita mempersempit diri dalam melihat sosok sosok yang telah berjasa ini.. Kita juga harus tahu bahwa Walisongo itu pada proses dakwahnya, ternyata tidak hanya bergerak pada bidang agama, namun tanpa diduga pergerakan mereka juga sudah merambah pada bidang bidang kehidupan yang lain, seperti seni, pengobatan, militer, pendidikan, politik, ekonomi, budaya, sosial, dll, ini menandakan jika mereka ini orang-orang yang cerdas. Jangan kira dalam bidang bidang yang disebut tadi mereka tidak punya kemampuan, justru kemampuan-kemampuan seperti ini yang menjadi syarat ketika mereka terjun langsung di masyarakat, bahkan nantinya peran mereka sangat diandalkan dalam bidang pemerintahan pemerintahan Islam. Dalam bidang pengobatan/Kedokteran ada nama Maulana Malik Ibrahim, dalam bidang pendidikan dan pengaturan negara ada maestronya yaitu Sunan Ampel, dalam bidang seni budaya ada nama Sunan Kalijaga, dalam bidang militer dan pasar uang ada nama Sunan Kudus, dalam bidang pemerintahan (tata negara) ada nama Sunan Gunung Jati dan juga Raden Fattah, dalam bidang hukum ada nama Sunan Giri, dalam hal Baitul Mal dan juga seni sastra ada nama Sunan Bonang, dalam bidang politik ada Majelis Dakwah Walisongo yang mengawasi pemerintahan Islam, terutama Kesultanan Islam Demak. Uniknya semua anggota Walisongo baik sejak Masa Angkatan Pertama s/d Kelima mereka bisa menguasai bidang satu dengan yang lain,
Walisongo itu memang unik, siapa bilang mereka hanya cuma ulama semata ? mereka itu justu banyak yang menekuni bidang pendidikan dan seni, dua bidang yang nantinya memberi pengaruh yang luar biasa pada kehidupan bangsa ini, terutama masyarakat Jawa dan Sunda pada masa itu. Kenapa Jawa dan juga Sunda saat itu menjadi pusat dakwah Walisongo? Itu karena di pulau ini ada dua kekuatan besar yang menonjol di Nusantara, yaitu Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran, dan kedua-duanya ternyata dimasuki Walisongo dengan proses Islamisasi yang bisa diterima dengan tangan terbuka.
Kedua bidang yang disebut tadi (pendikan dan seni) bahkan sampai sekarang masih bisa dinikmati seperti misalnya :
- Permainan anak anak seperti : Jelungan, jamuran, Jor, gula ganti, gendi gerit, cublak cublak suweng, ilir ilir dan sebagainya.
- Nyanyian yang isinya sarat dengan pesan pesan keagamaan seperti Tembang Dolanan Bocah, Lir Ilir.
- Seni Ukir bermotif dedaunan, bentuk gayor atau alat untuk menggantungkan gamelan dan bentuk ornamentik lainnya dianggap sebagai seni ukir nasional, padahal itu adalah kerya walisongo, sebelum zaman walisongo kebanyakan seni ukir bermotifkan binatang atau manusia.
- Seni drama, seni pahat, seni gamelan, seni pakaian (seperti baju takwa). corak batik bergambar burung yang filosofinya adalah supaya manusia senantiasa berkata baik dengan memelihara lisannya dari mengeluarkan kata kata yang kurang baik.
- Pondok-pondok Pesantren yang ada sekarang ini adalah kebanyakan metodologinya mengikuti cara-cara Walisongo, apalagi sebagian besar pengasuhnya banyak keturunan Walisongo.
- Tradisi Penulisan yang dilakukan Walisongo sampai saat ini masih banyak diteruskan oleh para keturunannya.
- Dan masih banyak lagi jejak-jejak jasa lainnya.
So jadi siapa bilang WALISONGO itu tidak punya jasa...
Walllahu A'lam Bisshowab...
Sumber :
Idrus HA, Kitab Asror Walisongo, Pekalongan : Penerbit CV bahagia, 1995, hlm 29-30.
Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, The Return Of Dinar Dirham, Jakarta : Madawis, 2015, hlm 91 - 101.
Iwan Mahmud Al Fattah, Raden Fattah Sang Pendobrak, Jakarta : Madawis, 2015.
Faris Khoirul Anam, Al Imam Ahmad Al-Muhajir, Malang, Darkah Media, 2010.
AL IMAM AL MUHAJIR AHMAD BIN ISA, HIJRAHNYA MENGINSPIRASI WALISONGO DALAM MENANAMKAN ISLAM DI NUSANTARA
Tidak banyak yang tahu bahwa kunci suksesnya Walisongo dalam melakukan proses Islamisasi di Nusantara adalah karena mengikuti jejak dan langkah dari salah seorang leluhur utama mereka yaitu Al-Imam Ahmad Al-Muhajir. Selama ini mungkin kita hanya berfikir bahwa suksesnya Walisongo dalam mengislamkan bumi Nusantara dengan kearifan lokalnya hanya berdasarkan kemampuan komunikasi mereka dengan masyarakat, padahal dibalik itu ada sebuah inspirasi besar yang menyebabkan mereka berhasil dalam melakukan dakwah di negeri yang indah dan damai ini, yaitu Al-Imam Ahmad Al-Muhajir, leluhur puncak Kaum Alawiyyin seluruh dunia yang diantaranya adalah keluarga besar Walisongo dan juga sebagian Kesultanan-kesultanan Nusantara seperti Kesultanan Demak, Banten, Cirebon, Palembang, Malaka, Sukapura, Mataram Islam, juga Kyai-Kyai Besar yang berada di daerah Jawa, Sunda, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan beberapa daerah lainnya.
Adanya wacana “Islam Nusantara” yang muncul telah membuat banyak fihak terkaget-kaget, bahkan sampai saat ini telah menciptakan pro dan kontra. Namun demikian ketika wacana tersebut muncul, justru difikiran kami terlintas tiga nama yang berkaitan dengan wacana Islam Nusantara tersebut, yang pertama adalah Al-Imam Ahmad Al-Muhajir, yang kedua Sayyid Abdul Malik Azmatkhan dan yang ketiga adalah Majelis Dakwah Walisongo. Untuk yang kedua dan ketiga kami sudah sering membahasnya dalam beberapa tulisan, sedangkan untuk Imam Ahmad Al-Muhajir, kami sendiri baru beberapa sesi saja menulisnya. Namun untuk sebuah kecintaan, terus terang nama beliau ini sangat melekat di diri kami, setiap ada pembacaan tahlil dan pembacaan Fatehah, tidak lupa nama beliau ini kami sebut dan kami sandingkan dengan nama Syekh Abdul Qodir Jaelani, Sayyid Abdul Malik Azmatkhan, Al Imam Faqih Muqaddam, dan Juga Walisongo. Bahkan di hampir semua majelis taklim di Jakarta baik yang dikelola para Habaib ataupun Kyai-Kyai, nama Al-Imam Ahmad Al-Muhajir sudah pasti disebut.
Al-Ahmad Al-Muhajir jelas bagi kami adalah tokoh besar dan inspirasi besar bagi Majelis Dakwah Walisongo. Dakwah beliau sangat menyentuh hati bagi semua fihak dan hingga kini masih terus dikenang dan dicontoh oleh para keturunannya yang bertebaran di seluruh dunia termasuk Walisongo. Islam Nusantara yang dikembangkan oleh Walisongo jelas mengambil pola dan metode yang sama dengan ulama yang karismatik ini.
Bagi kami antara Walisongo dan Al-Imam Ahmad Al Muhajir tidak bisa saling dilepaskan, karena Imam Ahmad Al-Muhajir merupakan puncak leluhur Alawiyyin yang ada di Hadramaut yang salah satu keturunannya adalah Walisongo. Sudah selayaknya nama Al Imam Ahmad Al Muhajir ini selalu kita kenang dan kita contoh perilaku dakwahnya. Sudah selayaknya pula bagi keturunanya bisa mengenal beliau ini lebih dekat seperti kita mengenal para kakek-kakek kita terdahulu. Oleh karena itu untuk mengetahui siapa sesungguhnya beliau serta bagaimana sejarah perjuangan beliau, mari kita lihat sejarah singkat tentang tokoh Ahlul Bait yang luar biasa ini.
Siapa Al-Imam Ahmad Al-Muhajir ini ?
Al Imam Ahmad bin Isa Arrumi dilahirkan di sebuah kota yang menjadi pusat peradaban Islam, yaitu Basrah, Irak. Kota ini terletak sekitar 545 km dari Bagdad. Terletak di Sepanjang sungai Shatt-al Arab dekat Teluk Persia. Basrah memiliki peradaban penting dalam sejarah awal agama Islam. Didirikan tahun 636, Basrah kadang dijuluki “Venezia Timur Tengah” karena adanya terusan yang melintasi kota ini.
Al Imam Ahmad Al-Muhajir dilahirkan dari sebuah keluarga yang bahagia yang dijaga kehormatannya oleh Allah SWT. Ayah beliau bernama Isa Al-Naqib bin Ali Al-Uraidhi. Sedang Ibu beliau bernama Zainab binti Abdullah bin Hasan Al Uraidhi. Lengkapknya nasab Al-Imam Ahmad adalah sebagai berikut : Al-Imam Ahmad bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Jakfar Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Al-Imam Husein binti Sayyidah Fatimah binti Muhammad Rasulullah SAW.
Leluhur Keluarga besar Imam Ahmad bin Isa Al-Naqib (Kadang disebut Isa Ar-Rumi karena wajahnya seperti orang eropa/Rumawi) sebenarnya berdomisili di Madinah Munawaroh, namun kakek beliau yaitu Muhammad An-Naqib bin Ali Al Uraidhi pindah ke Basrah dan meninggal ditempat ini dalam usia 59 tahun. Adapun daerah Uraidh berjarak 4 mil dari Madinah.
Keluarga Al-Imam Ahmad bin Isa adalah keluarga terhormat, mereka dikenal berani, kaya, namun disertai karakter takwa dan istiqomah. Saudara Imam Ahmad yaitu Muhammad bin Isa adalah panglima perang dan pemimpin ekspansi wilayah Islam.
Kondisi politik pada saat Imam Ahmad dilahirkan, Basrah tengah dilanda konflik. Pemberontakan meledak di eufrat, sebuah wilayah di pinggiran Bashrah, kota subur yang dibangun pada masa khalifah Umar bin Khattab. Kala itu pemerintahan sudah beralih di Dinasti Abbasiyah, setelah sebelumnya dikuasai oleh Dinasti Umayyah. Kondisi Basrah tidak terus membaik setelah Imam Ahmad dewasa dan menjadi orang alim. Di beberapa tempat Basrah diguncang oleh adanya pemberontakan dan fitnah yang silih berganti dengan mengatasnamakan diri sebagai “Keluarga Nabi” padahal mereka itu bukan keturunan Rasululullah SAW.
Al Imam Ahmad bin Isa tumbuh dewas dibawah asuhan orangtuanya. Nuansa Keilmuan dan kemuliaan budi pekerti sangat terkenal di kalangan Ahlul bait itu. Bagaimanan hal itu tidak terjadi, sedangkan sumber keilmuwan dan akhlak keluarga itu adalah Manhaj Nabawi (Kenabian).
Sejarah telah mencatat budi pekerti keluarga Nabi, baik keturunan Al-Hasan maupun Al-Husain, yang telah dilahirkan di madrasah bermanhaj Nabawi ini. Mereka telah mengawal perjalanan umat, menarik simpati hati, berdiri tegar melawan kebatilan, membayarkan kehidupan mereka sebagai ongkos bagi prinsip dan dakwah Islam, demi meninggikan kalimat La Ilaha Illalah.
Dari lingkungan yang dihiasi dengan ilmu dan kemuliaan inilah Imam Ahmad bin Isa dilahirkan. Beliau tumbuh dewas di antara ayah, kakek, paman-paman, yang mereka adalah Imam, Naqib, dan ulama. Beliau mempelajari ilmu-ilmu agama, baik tafsir, fiqih, adab, sejarah, bahkan ilmu logika kepada keluarganya itu. Selain itu Bashrah sendiri saat itu adalah kota yang kaya dengan kebudayaan dan peradaban. Berbagai disiplin ilmu berkembang pesat, tokoh-tokoh sufi, pujangga, ahli fiqih, ahli hadist, semuanya ada di kota ini. Di Seluruh penjuru kota penuh dengan Majelis-majelis taklim. Para ulama saling bertukar pendapat, berdiskusi dan membahas berbagai macam keilmuwan. Murid-murid pun banyak yang berdatangan dari kota lain. Di Basrah juga banyak terdapat bermacam-macam mazhab dan faham yang berbeda seperti Syiah dan Mu’tazilah.
Saat Imam Ahmad Bin Isa tinggal dan mengenyam pendidikan di Basrah, Al-Imam Ahmad menguasai bidang ilmu Agama (diniyah), Sejarah (tarikh) dan filsafat, bahkan keilmuwan beliau juga merambah pada bidang ilmu falak, ilmu sastra, Tassawuf, matematika dll. Hampir semua ulama besar yang terdapat di basrah dan juga beberapa wilayah lain adalah guru Al-Imam Ahmad.
Hijrah Dari Basrah
Untuk beberapa tahun, Imam Ahmad bertahan di Basrah, namun karena fitnah yang terus melanda Irak memaksa Imam Ahmad bin Isa untuk meninggalkan Basrah. Hijrah ini didorong oleh keinginan untuk melindungi keluarga dan sanak familinya dari bahaya fitnah yang melanda Irak pada waktu itu.
Pada umumnya umat Islam menghormati serta menaruh perasaan kasih sayang terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW. Ini bukan semata-mata karena mereka adalah keturunan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga karena mereka memiliki budi pekerti yang luhur, keilmuwan yang tinggi dan wara. Kedudukan yang tinggi ini telah menyebabkan perasaan cemburu dan prasangka terhadap mereka dikalangan pemerintah. Mereka khawatir kalau-kalau keluarga Nabi ini akan merebut dan menggugat kekuasaan dari Dinasti Abbasiyah.
Dari masa kemasa golongan “Keluarga Nabi” menjadi sasaran pemerintah. Banyak diantara mereka yang ditangkap dan dibunuh berdasarkan alasan yang bermacam-macam. Namun mayoritas “Keluarga Nabi” ini bersikap sabar n menjauhkan diri dari kelompok yang menimbulkan kekacauan. Dari pengalaman yang lalu, golongan tersebut yakin pada keterlibatan dalam dunia politik akan berakhir dengan kekecewaan. Selain itu seperti telah diketahui Al-Imam Ahmad bin Isa adalah salah satu pemuka ahlul bait (keluarga Nabi) yang populer, sehingga tidak diragukan lagi, beliau berada dalam pengawasan negara. Diam atau bergerak, beliau selalu dipantau. Hal ini semakin diperparah dengan fakta bahwa dua pemberontakan yang terjadi kalau itu pemberontakan kaum Negro dan Qaramitah, mengatasnamakan gerakan tersebut sebagai gerakan Alawiyyun. Karena itu dengan berbagai pertimbangan Imam Ahmad memutuskan untuk hijrah ke Hijaz (Saudi Arabia sekarang).
Keluarga besar Imam Ahmad akhirnya hijrah meninggalkan basrah pada tahun 317 Hijriah saat berusia 38 tahun disertai dengan para pengikutnya yang setia.
Rute Perjalan Sampai Madinah
Daerah pertama yang dituju oleh rombongan Al-Imam Ahmad adalah Madinah Al-Munawaroh. Mereka menuju kota Suci itu melalui jalur Syam, karena rute yang biasa dilalui kurang aman. Jalur resmi itu dinamakan jalur Zubaidah, mengambil nama istri Harun Al-Rasyid.
Kafilah Al Imam Ahmad sampai di Madah hiinah dari jalur Tabuk pada tahun 317 H. Mereka tinggal di kota Suci itu selama setahun. Keluarga ini begitu menikmati Madinah sebaga negeri leluhur mereka.
Sejak berpindahnya Imam Ahmad dari Basrah ke Hijaz ini sejak itu beliau dijuluki “Al-Muhajir” atau Seorang yang berhijrah.
Hijrah yang dilakukan Imam Ahmad ini bukanlah “Hijrah Bid’ah”, karena sudah biasa dilakukan keluarga Nabi. Dimulai dari Hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah yang kemudian diikuti oleh Imam Ali bin Abi Thalib Dari Hijaz ke Irak, dan anak turunnya seperti Al-Imam Husein bin Ali dari Madinah ke Irak (Karbala) dan juga keluarga Al-Hasani yang hijrah ke Magrib (Maroko). Bahkan pada zaman sebelumnya, leluhur mereka , Nabi Ibrahi As juga telah melakukan hijrah ini dari Ur ke Al Quds (Palestina).
Hijrah menjadi satu-satunya jalan untuk menghindari gangguan orang-orang musyrik atau orang-orang yang berniat jahat, pergi ke daerah lain demi menyelamatkan keyakinan agama. Bila kondisi memang menuntut, hijrah harus dilakukan meski harus menanggung banyak resiko seperti berpisah dengan anak, teman, dan harta benda. Tidak diragukan baha hijrah adalah bagian sejarah dan kisah hidup orang-orang sukses.
Berhaji Ke Makkah Al Mukaramah
Pada tahun berikutnya (318 H) rombongan Imam Ahmad Al-Muhajir beserta rombongan menuju Makkah untuk melakukan haji. Dan bersamaah dengan itu rupanya fitnah sekte Qaramitah ternyata telah melanda kota suci Mekkah. Mekkah yang harusnya suci dari perbuatan-perbuatan jahat telah tercemari oleh adanya gerakan Qaramitah, mereka membunuh jamaah yang ada didalam masjid, mereka mencongkel hajar aswad dari tempatnya, mereka membantai 1700 orang di Masjidil Haram, mereka memenuhi sumur zamzam dengan mayat-mayat, mereka juga merampas harta dan perhiasan ka’bah dan juga merobek robek kiswah penutup ka’bah.
Bertemu Orang Hadramaut
Saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 318 H tersebut, Al-Imam Al-Muhajir bertemu dengan rombongan dari Tihamah dan Hadramaut. Tihamah adalah wilayah dataran rendah di Yaman bagian utara. Sedangkan Hadramaut adalah wilayah di selatan Yaman dan saat ini menjadi salah satu provinsi di negara yang terletak di selatan Jazirah tersebut.
Rombongan haji dari Yaman itu lantas belajar ilmu-ilmu agama dan akhlak kepada Al-Imam Ahmad Al-Muhajir. Mereka senang dan terkesan dengan budi pekerti beliau yang mulia. Pada episode selanjutnya, mereka menceritakan kepada Sang Imam tentang fitnah aliran Khawarij di Hadramaut dan mengajak beliau membantu mereka menyelesaikan fitnah itu. Al-Imam Al-Muhajir berjanji untuk datang ke negeri mereka.
Menuju Yaman
Setelah menunaikan haji pada tahun itu, Al Imam Ahmad Al-Muhajir dan rombongan bergerak menuju Selatan. Yang mereka tuju adalah negeri Yaman. Sebuah wilayah yang banyak mendapat pujian dari Rasulullah SAW. Setiba di Yaman Utara, rombongan ini lantas berpisah dengan beberapa anggotanya. Sedangkan Al Imam Ahmad bin Isa meneruskan perjalanan ke Yaman Bagian Selatan, hingga sampai di desa Al Jubail dilembah Dawan
Tiba di Hadramaut
Pada tahun 320 hijriah Imam Ahmad Al Muhajir menginjakkan kakinya di Hadramaut. Dalam sejarah lama, wilayah ini dikenal dengan lembah Al-Ahqaf karena tekstur bagian timur lembah (wadi) ini didominasi bukit pasir berbatu, yang dalam bahasa arab disebut Al-Ahqaf. Secara umum tekstur Hadramaut terdiri dari lembah dan pasir yang tandus dan terkenal dengan suhu udara yang panas. Kondisi Hadramaut tentu berbeda dengan Basrah yang merupakan daerah subur. Oleh karena itu demi untuk mengetahui apa penyebab Imam Ahmad Al-Muhajir hijrah ke Hadramaut ada baiknya kita mengetahui sebab sebab dibawah ini :
- Karena Allah dan Rasul-Nya : Terutama adalah untuk jaminan keselamatan agama beliau dan para pengikut, dari fitnah aliran sesat yang melanda Basrah ketika itu, sebab itulah hijrah ini diniatkan karena Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk yang lain.
- Menepati Janji : Sebagaimana diketahui bahwa Al-Imam Ahmad Muhajir bertemu dengan rombongan dari Tihamah dan mereka itu meminta bantuan Imam Ahmad untuk menyelesaikan fitnah yang terjadi dan Imam Ahmad Al-Muhajir telah menyanggupi dan berjanji untuk datang ke negeri mereka.
- Membantu Orang Hadramaut : Para jamaah haji dari Hadramaut telah meminta kepada Sang Imam untuk membantu rakyat Hadramaut dalam membendung aliran Ibadhiyah (salah satu kelompok Khawarij) yang terus membesar.
Desa-Desa Yang Ditempati Al-Imam Al-Muhajir di Hadramaut
- Desa pertama yang beliau tempati adalah Dawan yang merupakan lembah terbesar yang ada di Hadramaut.
- Setelah ith beliau hijrah di Hajrain, 100 km disebelah barat kota Sewun. Di Hajrain beliau membeli kebun kurma dan pekarangannya seharga 1500 dinar. Beliau membangun rumah sederhana yang hingga kini bangunannya masih ada dan beberapa kali mengalami renovasi.
- Beliau berpindah lagi menuju kampung Bani Jusyair di desa Bur, 112 km dari Hajrain.
- Inilah tempat terakhir beliau yaitu Husayyisah, yaitu antara Tarim dan Sewun. Sayangnya Husayyisah yang sekarang menjadi desa mati dan rusak, namun demikian hingga kini makam Imam Ahmad Al Muhajir masih ramai dikunjungi orang.
Pribadi Imam Ahmad bin Isa
- Zuhud : ketika saudara beliau yaitu Muhammad bin Isa menjadi panglima perang dan penguasa di beberapa daerah di Irak, beliau mendatanginya dan memberikan nasehat, sehingga akhirnya Imam Muhammad bin Isa rela meninggalkan semua kekuasaannya itu dan menempuh jalan para pendaluhunya, jalan menuju kebahagiaan akhirat serta ridha Allah. Di Basrah Irak, Imam Ahmad bin Isa memiliki kehormatan dan harta yang banyak, namun beliau tidak mengindahkannya, sebaliknya beliau menyibukkan diri dengan ibadah, perjuangan dan dakwah agama. Fakta ini mencerminkan karakter orang Shalih dan zuhud pada dunia. Tak hanya menasehati orang lain, Imam Ahmad telah rela meninggalkan bisnis dan relasinya di Basrah untuk menuju daerah baru yang belum beliau kenal medan dan situasinya demi menyelamatkan agama yang beliau yakini.
- Berilmu luas dan Bijak : beliau mempunyai pengetahuan agama yang luas dan seorang yang bijaksana. Beliau tidak hanya menyampaikan informasi dalam situasi biasa, atau kepada orang-orang yang sefaham dan seakidah, ilmu dan nalar yang dimiliki beliau mampu dijelaskan melebih standar pada masa itu. Beliau mampu menjelaskan hujjah dan logika diatas kemampuan yang rata-rata dimiliki manusia. Pendekatan beliau adalah berdiskusi dengan cara yang terbaik (mujadalah billati hiya ahsan) dalam menghadapi aliran sesat, setelah itu beliau mengajak dengan hikmah (kebijaksanaan, lemah lembut) dan memberikan mauizhoh hasanah (nasehat yang baik). Dengan kalangan Ibadhiyah bahkan Imam ahmad mampu “melumpuhkan” mazhab mereka.
- Sabar : Keputusan untuk berhijrah dari basrah membuktikan sifat sabar yang beliau miliki. Pertama : beliau rela meninggalkan harta benda di basrah. Beliau rela mengorbankan semua yang dimiliki daripada harus menyerahkan agama dan keyakinan kepada fitnah aliran sesat yang melanda Basrah kala itu. Kedua : hijrah yang beliau lakukan itu bukanlah pekerjaan ringan. Beliau menempuh perjalanan dari Basrah ke Madinah terlebih dahulu, melalui jalur Syam sejauh 712 mil. Dari Madinah menuju Makkah, kemudian Tihamah, lalu Hadramaut Yaman.
- Dermawan : Beliau memiliki sifat pemurah. Hal ini dibuktikan misalnya dengan menghibahkan kebun korma seharga 1500 dinar dan rumah yang telah beliau beli di Hajrain kepada pembantunya yang bernama Syuwaisyah bin Faraj Al Asbahani.
- Pemberani : Rute yang dilewati beliau mulai dari Basrah hingga lembah Hadramaut kala itu merupakan jalur konflik. Mereka harus siap siaga menghadapi serangan perampok dan orang-orang yang berniat buruk, terlebih beliau membawa harta kekayaan yang tidak sedikit yaitu 13 onta penuh dengan emas dan perak yang jumlahnya cukup banyak, belum para perusuh dari sekte Qaramitah. Tantangan lain misalnya keberadaan Srigala padang pasir yang sewaktu waktu menyerang kafilah mengingat jalur yang mereka lewati bukan jalur resmi belum lagi gundukan gunung pasti yang sewaktu waktu bisa berubah karena terpaan angin. Musafir yang melalui padang pasir juga harus pandai mengatur persediaan logistik terutama air. Tantangan yang terberat adalah jika dihitung jarak yang merentang dalam perjalanan yang ditempuh Sang Imam adalah Sepanjang 3.480, 86 km. Bila dibandingkan dengan Peta Indonesia, maka jarak tempuh Al Ahmad Muhajir dalam hijrahnya itu seperti jarak 3 kali pulau Jawa, sebuah perjuangan besar dalam situasi medan berat yang dilalui jumlah rombongan yang banyak serta kondisi jalur yang tidak aman.
- Karismatik : Jumlah rombongan yang turut serta dalam hijrah Al Imam Ahmad bin Isa menunjukkan bahwa beliau sangat dicintai oleh pengikutnya. Bayangkan, beliau mampu mengajak 70 orang lebih untuk meninggalkan tanah air, mengembara ke laura negeri untuk mencari sebuah daerah baru yang belum mereka kenal. Andai beliau tidak dicintai maka tidak mungkin beliau mampu mengajak mereka semua. Karisma beliau ini diwarisi dari datuknya, Rasulullah SAW. Berkat karisma yang dipancarkan pribadi Rasulullah SAW, para sahabat rela berkorban membela beliau.
- Pebisnis Ulung : Al Imam Ahmad adalah sosok yang terhitung kaya di Basrah, ketika beliau hijrah harta kekayaan yang ditinggalkan, tidak habis hingga turun temurun ke anak cucunya yang ditinggalkan. Padahal dalam perjalanan Imam Ahmad bin Isa juga membawa harta yang banyak sebagi bekal diperjalanan. Beliau banyak bergaul dan mengetahui keadaan negara lain sehingga mempunyai pengalaman dalam bidang perdagangan dan bisnis. Apalagi pada masa itu Basrah adalah negeri tempat berlabuhnya pedagang Islam dan berbagai golongan. Basrah adalah pelabuhan internasional pada Dinasti Abbasiyah. Basrah pada masa itu menjadi rute dan pusat penting perdagangan.
Peran Imam Ahmad Al Muhajir Di Hadramaut
- Menumpas Aliran Sesat : Disebutkan dalam dakwahnya beliau bersikap lemah lembut dan mengeluarkan hartanya, sehingga banyak orang-orang Khawarij yang datang kepadanya dan bertaubat setelah mereka sebelumnya berusaha menentang dan mencaci makinya. Terhadap pengikut Ibadhiyah beliau menggunakan dialog. Cara yang bijaksana ini menjadi daya tarik sendiri bagi para lawan diskusinya. Sang Imam merupakan sosok yang ahli dalam meyakinkan lawan bicaranya. Pendekatan ini menyebabkan aliran Ibadhi perlahan lahan hilang di Hadramaut kemudian berganti menjadi Mazhab Syafi’i dan menganut aqidah Asy’ari, boleh dikatakan Hadramaut sejak abad ke 7 menjadi negeri Ahlussunnah Wal Jamaah.
- Menyelamatkan Keturunan Nabi Muhammad SAW : Dengan hijrahnya maka beliau telah menyelamatkan banyak keluarga Rasulullah SAW, baik dari segi keselamatan fisik maupun kemurnian akidah. Terbukti karena berkat hijrahnya, kemurniah rombongan Ahlul Bait yang beliau bawa hingga kini keturunannya masih terjaga secara akidah, bahkan berkat perjuangan keturunan Sang Imam, Islam yang berdasarkan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah menyebar ke segala penjuru negeri.
Peran Al Imam Ahmad Muhajir Bagi Dunia Islam
Mazhab Syafi’i dan Sunni tersebar di Hadramaut berkat perantara Imam Ahmad bin Isa dan para muridnya. Dapat dipastikan, sebelum abad ketujuh hijriah berakhir, mazhab selain Sunni telah musnah dari Hadramaut.
Peran Imam Ahmad Al-Muhajir di dunia Islam, baik secara langsung maupun tidak telah diakui banyak fihak, berkat dakwahnya, beliau mampu menghilangkan mazhab-mazhab perusak itu, serta mampu memberikan Mazhab Syafi’i, hingga kemudian banyak orang yang bertaubat kembali ke ajaran yang lurus. Ahlul Bait yang satu ini benar-benar mendedikasikan dirinya secara total dalam bidang dakwah sehingga akhirnya beliau mampu memperoleh prestasi yang menakjubkan.
Wafatnya Imam Ahmad Al-Muhajir
Setelah perjuangan tanpa mengenal lelah dan penuh kesabaran, Al Imam Al Muhajir berhasil menanamkan metode dakwah dengan cara khasnya. Beliau berhasil pula menanamkan faham Ahlu Sunnah Wal Jammah di Hadramaut.
Beliau tinggal selama 25 tahun di Hadramaut dan wafat dalam usia 93 tahun (bahkan ada yang menulis bahwa beliau wafat dalam usia 100 tahun).
Pada Episode selanjutnya salah satu keturunan Imam Ahmad Al-Muhajir khususnya pada abad 11 Masehi yang bernama Abdul Malik bin Alwi Ammul Faqih telah mengikuti jejak beliau untuk berhijrah ke negeri India, dan seperti mengikuti jejak leluhurnya yang ke 10 itu, Sayyid Abdul Malik mendapatkan nama yang harum di negeri India sehingga mendapatkan gelar “AZMATKHAN” atau “Bangsawan Mulia (Sayyid) dari Keturunan Rasulullah SAW”.
Sayyid Abdul Malik Azmatkhan yang lahir di Tarim Hadramaut inilah yang kemudian nanti menurunkan keluarga besar Majelis Dakwah Walisongo. Beliau hijrah dari Hadramaut untuk berdakwah ke negeri India dan kemudian mendapatkan prestasi dakwah yang baik. Jejak langkah beliau kemudian diikuti oleh salah satu keturunannya. Salah seorang cicit beliau yang bernama Sayyid Husein Jamaluddin/Syekh Jumadil Kubro Awal telah pula mengikuti jejaknya dengan melakukan hijrah secara besar-besaran ke Asia Tenggara khususnya wilayah Nusantara hingga kemudian beliau banyak menurunkan pada pendakwah tangguh yang bernama Majelis Dakwah Walisongo (diantaranya Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Derajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Raden Fattah, Raden Bondan Kejawan dll) bahkan sebenarnya jika mau dipelajari, tidak hanya Sayyid Husein Jamaluddin, adik-adiknyapun banyak yang berhijrah di bumi Nusantara ini dan berhasil melakukan proses dakwah dengan akulturasi yang mengagumkan, seperti Sayyid Ali Nurrudin Syah yang merupakan leluhurnya Sunan Kalijaga, Sayyid Qomaruddin yang merupakan leluhurnya ulama ulama besar Garut, belum lagi nama seperti Syekh Quro Karawang, Syekh Datuk Kahfi, serta masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan dalam beberapa penelitian salah seorang ahli sejarah dan silsilah dari sukapura Jawa Barat banyak ditemukan fakta yang mengagetkan dan mencengangkan tentang banyaknya keturunan Al-Imam Ahmad Al-Muhajir yang sudah menjadi pribumi Nusantara dan nyaris saja sejarah dan silsilah mereka tertutup.
Pelajaran Dakwah berharga yang pernah ditanamkan oleh Al Imam Ahmad Al-Muhajir kemudian menjadi kunci sukses keturunannya dalam melakukan proses Islamisasi di berbagai penjuru dunia termasuk Nusantara. Dengan metode dakwah yang mencontoh Al-Imam Ahmad Al-Muhajir Walisongo pada masa itu telah mampu menyebarkan Islam dengan cara cerdas dan jenius, dan ini kemudian diikuti oleh kyai-kyai keturunan Walisongo yang ada di Nusantara. Pendekatan ala Imam Ahmad Al-Muhajir dalam menghadapi aliran dan pemikiran sesat pada masa itu, benar-benar dipraktekkan sehingga mereka yang tadinya non muslim dengan sukarela menjadi Islam, mereka yang tadinya memandang sinis terhadap Islam ketika berhadapan dengan Walisongo menjadi Islam yang setia, budaya-budaya yang dianggap menyimpang pada masa itu tidak langsung diberangus, tapi diperbaiki dan diisi dengan unsur-unsur Syariah Islam, sehingga masyarakat saat itu merasa “diorangkan” oleh Walisongo, Islam saat itu betul-betul diterima dengan tangan terbuka oleh berbagai golongan, sekalipun fitnah melanda Walisongo terutama dari mereka yang tidak senang kepada Islam pada masa itu, semua itu dihadapi dengan cara-cara yang cerdas, cerdik dan bijaksana, toh leluhur mereka yaitu Al Imam Ahmad Al Muhajir bahkan lebih berat dari mereka.
Tanpa adanya perang, tanpa adanya provokasi, tanpa harus harus membawa pedang, tanpa adanya pemaksaan atau caci maki, tanpa adanya sikap sering menyalahkan, "Islam Nusantara" yang pernah ditanam oleh Walisongo berhasil bertahan hingga kini dan itu karena berkat jejak langkah dan nama seorang yang luar biasa pada keturunan Rasulullah SAW, yaitu Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Wajah Islam Nusantara adalah wajah Islam yang penuh dengan Toleran, bijaksana, akomodatif tanpa harus hilang ketegasannya, dan itu adalah berkat pembelajaran yang diberikan oleh Al-Imam Ahmad Al-Muhajir kepada para keturunannya. Beliaulah yang menjadi Inspirasi Dakwah Keluarga Besar Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara Yang penuh dengan Rahmatan Lil Alamin ini.
Al-Fatehah untuk Al-Imam Al-Muhajir Ahmad Bin Isa Ar-Rumi Al Husaini..................
Sumber :
Fairus Khoirul Anam, Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, Leluhur Walisongo dan Habaib Nusantara, Malang, Darkah Media, 2010.
Iwan Mahmud Al Fattah, Asal Usul Sejarah Nama Azmatkhan, Jakarta: Madawis, 2015.
Langganan:
Postingan (Atom)