Sabtu, 27 Juni 2015

KATA-KATA MUTIARA HIKMAH DARI IMAM JAKFAR SHODIQ BIN MUHAMMAD AL BAQIR (LELUHUR WALISONGO)

Beliau adalah Jakfar As-Shodig bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Al Husain As-Shibti binti Fatimah Az-Zahra binti Muhammad Rasulullah SAW yang merupakan salah seorang pemimpin besar keluarga keturunan Rasululllah SAW pada masa itu.  Kebesaran nama, kealimannya serta akhlaknya tidak perlu diragukan. Namanya mashyur dimana-mana mengikuti jejak ayah, kakek, buyut dan datuk datuknya. Begitu besarnya pengaruh beliau sampai sampai penguasa dari Dinasti Abbasiah dan Dinasti Umayyah selalu mewaspadai gerak gerik langkahnya. Oleh kedua firqoh pada masa itu, terutama firqoh Ahlussunnah Wal Jamaah, Imam Jakfar As-Shodiq dianggap sebagai Imam besar pada ilmu-ilmu para Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah.  Kebanyakan sanad keilmuwan dari para ulama ahlisunnah wal jamaah terdapat nama Imam Jakfar As-Shoddiq.

Madrasahya di madinah pada masa itu dihadiri tidak kurang dari 4000 orang yang sebagian besar terdiri dari ulama-ulama besar dari berbagai negara. Sehingga dapatlah dikatakan Imam Jakfar As-Shodiq pada masa itu merupakan mutiara dan pusat ilmu pengetahuan kaum muslimin dari berbagai wilayah. Berkat keberadaan keluarga besarnya itu Madinah menjadi kota ilmu yang terang benderang. Dari gemblengannya telah muncul nama Imam Hanafi (Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah), Imam Maliki (Imam Ahlussunnah Wal Jamaah), Sufyah Tsauri (ulama besar Ahlussunnah), Sufyan bin Uyainah (ulama besar Ahlussunnah Wal Jamaah), Yahya bin Said Al-Anshari (perawi hadist), Al Qahthan (Perawi Hadist), Ibnu Ishaq (Penulis terkenal Sirah Nabawiyah), Syu’bah bin Al Hajjaj (Ahli Hadist),  Abu Ayyub As-Sajistani (ulama besar di kalangan Tabiin).

Imam Jakfar As-Shodiq adalah salah satu leluhur penting Kaum Alawiyyin termasuk Walisongo, sehingga tidaklah mengherankan jika Alawiyyin yang ada di Hadramaut ataupun Walisongo sendiri ajarannya seiring selaras, yaitu ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah. Kelak salah satu anggota Walisongo juga mengikuti jejak nama beliau,  yaitu As-Sayyid Jakfar Shodiq Azmatkhan atau Sunan Kudus yang mempunyai gelar Waliyul Ilmi.

Dibawah ini adalah kata-kata mutiara hikmah telah disusun oleh para muridnya yang tersebar di berbagai wilayah dan kemudian telah dirangkum kembali oleh salah satu penulis sejarah Ahlul Bait Nusantara, yaitu HMH Alhamid Alhusaini’

Adapun kata-kata mutiara hikmah Imam Jakfar As-Shodiq adalah sebagai berikut :
  1. Akal ialah yang dipergunakan untuk beribadah kepada Allah dan dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang belum dimengerti.
  2. Ganjaran tergantung pada kadar akal seseorang.
  3. Orang yang paling sempurna akalnya yang baik akhlaknya.
  4. Akal adalah landasan hidup manusia.
  5. Akal adalah pandu bagi orang yang beriman.
  6. Kesempurnaah terletak pada tiga hal : Rendah hati terhadap Allah, keyakinan yang baik dan diam kecuali dalam hal kebaikan.
  7. Kebodohan terletak pada tiga hal : Takabur, gemar berdebat dan tidak mengenal Allah.
  8. Ciri utama akal adalah ibadah, pembicaraan yang paling terpercaya adalah ilmu, dan martabat akal yang paling mulia adalah himah.
  9. Banyak  memperhatikan ilmu membuka akal pikiran.
  10. Ilmu adalah surga, perkataan yang benar adalah mulia, kebodohan adalah hina, pengertian adalah utama, kedermawanan adalah keberuntungan, akhlak yang baik menarik persaudaraan, orang yang memahami keadaan zamannya yang tidak akan dipermainkan oleh kebimbangan, perasaan jengkel melahirkan prasangka buruk.
  11. Bila engkau ingin dihormati lembutkanlah hatimu, bila engkau ingin dicemoohkan orang berlaku kasarlah!
  12. Orang yang berasal dari keturunan baik tentu berhati  lunak, orang yang berpembawaan kasar ia barhati keras.
  13. Barangsiapa bersikap berlebih lebihan ia akan tergelincir, dan barangsiapa yang mengkhawatirkan akibat suatu perbuatan ia pasti tidak akan memasuki persoalan yang tidak diketahuinya.
  14. Siapa yang mencela suatu persoalan tanpa pengertian sama artinya  dengan menghancurkan dirinya sendiri.
  15. Ulama adalah orang-orang terpercaya, orang-orang yang bertakwa adalah benteng perkasa, dan orang-orang yang menerima wasiat adalah orang yang memperoleh kuasa.
  16. Ilmu berada di tempat tertutup, sedang kuncinya ialah mau bertanya.
  17. Amal tanpa pengertian sama dengan salah jalan, makin cepat berjalan makin jauh dari tujuan.
  18. Allah tidak menerima amal yang tidak disertai pengertian. Akan tetapi tak ada pengertian tanpa amal. Siapa yang mempunyai  pengertian ia tidak akan dituntun oleh pengertiannya untuk beramal. Orang yang tidak beramal ia tidak mempunyai pengertian. Bukanlah iman itu terletak pada saling berhubungan antara amal dan pengertian ?
  19. Kebajikan dapat disebut sempurna bila dilaksanakan dengan tiga cara : Segera, tidak dibesar besarkan, dan tidak diperlihatkan.
  20. Empat hal sekalipun kecil dapat menimbulkan hal yang besar yaitu : Peperangan, permusuhan, kemelaratan dan penyakit.
  21. Barangsiapa yang tidak merasa malu di saat tidak berhadapan dengan orang lain, tidak sadar dihari tua, dan tidak takut kepada Allah; pada diri orang seperti itu tidak ada kebaikan apapun juga.
  22. Hormatilah orang yang menghormatimu, dan jagalah kehormatanmu terhadap orang yang meremehkan dirimu.
  23. Tidak bersikap penyantun sama artinya berprasangka buruk terhadap Allah.
  24. Anggota-Anggota keluarga adalah ibarat tawanan bagi kepala keluarga, karena itu bila kepala keluarga memperoleh  karunia nikmat (rezeki) hendaklah ia pemurah terhadap keluarganya. Jika tidak, maka nikmat yang diberikan Allah kepadanya akan segera lenyap.
  25. Dengan berbuat tiga hal, orang akan mendapat tambahan kemuliaan dari Allah, yaitu : Memaafkan orang yang berlaku Dzalim terhadap dirinya, menolong orang yang tidak mau menolongnya, dan menyambung kembali silaturahmi yang diputuskan orang.
  26. Ada lima syarat persahabatan. Bila lima syarat dipenuhi, itulah persahabatan yang sebenarnya. Lima syarat itu adalah : (1) Apa yang baik bagi sahabatnya, baik bagi dirinya, (2) Batinnya sama dengan lahirnya. (3) Tidak iri hati melihat kekayaan sahabatnya. (4) Ia memandang sahabatnya patut menerima seluruh rasa persaudaraannya. (5) Tidak membiarkan sahabatnya ditimpa musibah.
  27. Para ulama adalah kepercayaan para Rasul selama mereka tidak jongkok di depan pintu istana para penguasa.
  28. Nilai manusia terletak pada akalnya, kemuliaannya terletak pada agamanya, dan martabat kehormatannya tergantung pada takwanya. Semua manusia adalah anak Adam dan semua anak Adam adalah sama sederajat.
  29. Ada sepuluh sifat mulia, yang jika anda dapat, milikilah sifat-sifat itu. Mungkin sifat-sifat itu dimiliki seorang ayah, tetapi tidak dimiliki oleh anaknya, atau mungkin dimiliki oleh seroang anak tetapi tidak dimiliki ayahnya. Mungkin pula ada pada seorang budak dan tidak ada pada seorang yang berstatus merdeka. Beberapa orang sahabat bertanya “ “sifat-sufat apa sajakah yang sepuluh itu ?. Imam Jakfar menjawab : (1) mempercayai orang lain. (2) Lidahnya tidak berdusta. (3) Menunaikan amanat sebagaimana mestinya. (4) Menjaga hubungan Silaturahmi. (5) Menghormati tamunya. (6) memberi makan kepada orang yang kelaparan. (7) Tahu Balas budi. (8). Bersikap baik kepada tetangga. (9)  Berlaku baik terhadap sahabat. (10) Diatas semuanya itu adalah kenal malu.
  30. Keyakinan yang sehat bagi seorang muslim ialah memberi kepuasan kepada orang lain dengan berbuat yang menimbulkan murka Allah. Ia tidak menyesal karena tidak mendapat karunia seperti yang diberikan Allah kepada orang lain, karena ia sadar bahwa rizki tidak dapat didatangkan oleh orang yang sangat menginginkannya, dan tidak pula dapat dicegah oleh yang tidak menyukainya. Seumpama ada orang yang menjauhkan diri dari rizki seperti ia berusaha menjauhkan diri dari kematian, rezkinya tetap akan sampai kepadanya, sama halnya dengan ajal yang pasti datang juga kepadanya.
  31. Atas dasar keadilan Allah menciptakan perasaan tentram dan tenang terletak pada keyakinan dan keridhoan hambaNya, dan menciptakan kesedihan serta kesusahan terletak pada kebimbangan dan ketidak ridhoan-Nya.
  32. Puncak ketaatan seseorang kepada Allah ialah kesabaran dan keridhoannya kepada apa yang diberikan Allah kepadanya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Apa yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah baik baginya, sekalipun dirasa menyenangkan atau tidak.
  33. Orang yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling ridho menerima Takdi-Nya.
  34. Janganlah engkau mempergunjingkan orang lain yang engkau tidak dipergunjingkan. Janganlah engkau menggali lubang untuk menjerumuskan saudaramu karena engkau sendirilah yang akan terjerumus ke dalamnya. Bila engkau mencela orang, engkaupun akan dicela orang.
  35. Janganlah engkau suka berdebat agar engkau tidak kehilangan keanggunanmu, dan jangan pula engkau suka berkelakar agar engkau disegani orang.
  36. Janganlah engkau bermusuhan, karena permusuhan akan menimbulkan keburukan bagimu dan akan membongkar kekuranganmu.
  37. Siapa yang tidak malu mencari rezki yang halal, bebannya akan menjadi ringan dan keluarganya akan menjadi senang.
  38. Aku heran melihat orang yang tidak mau berusaha memperoleh keduniaan, padahal keduniaan itu datang kepadanya; dan akupun heran melihat orang kikir setelah memperoleh keduniaan, padahal ia tahu keduniaan itu akan meninggalkannya. Menerima keduniaan sambil menginfakkan tidaklah merugikan, sebaliknya, meninggalkan keduniaan tanpa infak tidak menguntungkan.
  39. Orang yang dipenjara ialah orang yang ditawan oleh dunianya hingga terjauhkan dari akhiratnya.
  40. Janganlah kalian risau memikirkan apa yang telah lalu, agar fikiran kalian siap menghadapi apa yang belum tiba.
  41. Mohonlah turunnya rizki dengan bershodaqoh; jagalah keamanan harta kalian dengan menunaikan zakat; orang yang hidup sederhana tak akan mengalami kesusahan penghidjupan. Barangsiapa yang membuat ayah ibunya sedih berarti ia telah berbuat durhaka kepada keduanya. Budi baik hanya pada orang yang kenal harga diri dan patuh kepada Agama. Allah SWT menciptakan kesabaran dalam hati hamba-Nya sesuai dengan kadar musibah yang dihadapinya, dan menurunkan rezki sesuai dengan kadar beban penghidupannya. Barangsiapa yang hidup hemat akan ditambah rezkinya dan siapa yang hidup boros akan dicabut rezkinya.
  42. Orang yang paling kaya ialah yang tidak ditawan oleh katamakannya.
  43. Tidak ada yang lebih baik daripada diam; musuh tidak lebih berbahaya daripada kebodohan, dan tidak ada penyakit yang lebih para daripada dusta.
  44. Tidak ada apapun juga yang dirugikan oleh tiga hal, yaitu : Doa disaat kesusahan, istigfar setelah berbuat dosam dan bersyukur di saat mendapat nikmat.
  45. Orang beriman disenangi orang lain. Tidak ada kebaikan apapun pada orang lain yang tidak menyenangi dan tidak disenangi orang lain.
  46. Seorang sahabat bertanya : Apakah batas Akhlak yang baik? Imam Jakfar As-Shodqi menjawab : Perangai lembut, ucapan yang baik dan menemui saudaranya dengan air muka cerah ceria.
  47. Siapa yang lidahnya tidak berdusta, bersih amal perbuatannya, siapa yang baik niatnya, Allah menambah rezkinya, dan siapa yang bersikap baik terhadap sanak keluarganya, Allah akan memperpanjang umurnya.
  48. Malu adalah bagian dari imam dan tidak iman bagi orang yang tidak kenal malu.
  49. Barangsiapa yang merasa cukup dengan rizki yang diberikan Allah kepadanya, ia akan menjadi orang yang paling kaya.
  50. Seorang sahabat datang kepada Imam Jakfar As-Shodiq mengeluh karena rezki yang didapat dari usahanya selalu dirasa tidak mencukupi dan ingin mendapat lebih banyak lagi. Kepada Imam Jakfar orang itu berkata : “tolong berilah nasehat yang berguna bagiku”. Imam Jakfar menjawab : Jika yang cukup bagi anda itu dapat membuat anda merasa tidak membutuhkan yang lain lagi, maka kurang dari itu pun dapat membuat anda tidak membuat membutuhkan  tambahan. Akan tetapi jika apa yang cukup bagi anda itu tidak membuat anda merasa tidak membutuhkan tambahan lagi, maka berapapun banyaknya yang ada pada anda tidak akan membuat anda merasa tidak membutuhkan tambahan.
  51. Keadilan  jauh lebih sejuk daripada air yang diteguk oleh orang yang kehausan.
  52. Orang yang berfikir adil terhadap dirinya sendiri, ia akan puas melihat keadilan bagi orang lain.
  53. Kemuliaan orang beriman terletak pada kegiatannya bersembahyang malan (tahajud), dan kehormatan dirinya terletak pada kemandiriannya dari orang lain.
  54. Menggantungkan kebutuhan kepada orang lain akan menghancurkan harga diri dan melenyapkan perasaan malu. Tidak menggantungkan diri kepada apa yang ada di tangan orang lain merupakan kehormatan bagi seorang yang beriman yang patuh kepada agamanya. Tamak adalah kemiskinan yang tiada habis habisnya.
  55. Shodaqoh yang disukai Allah ialah yang bertujuan memperbaiki kerusakan masyarakat dan mendekatkan hubungan satu sama lain di saat mereka saling jauh menjauhi.
  56. Orang yang bergaul  dan tidak berbuat dzalim terhadap orang lain, tidak berkata dusta dan tidak menciderai janji, termasuk orang yang diinginkan kehadirannya, sempurna penampilannya, tampak keadilannya dan perlu dipererat persaudaraanya.
  57. Barangsiapa berambisi mengejar kekuasaan ia akan binasa.
  58. Siapa yang menanam benih permusuhan ia akan mengetam hasil-hasilnya.
  59. Marah adalah kunci segala keburukan. Siapa yang tidak dapat menahan amarahnya ia tidak mampu menguasai pikirannya.
  60. Iri hati menggerogoti iman, sama halnya dengan api menghanguskan kayu bakar.
  61. Kedunguan adalah perangai orang jahat, menindas yang di bawahnya dan membongkok di depan orang yang diatasnya.
  62. Orang yang gemar berdusta, Allah menambah kejelekan dengan penyakit lupa.
  63. Hati-hatilah jangan sampai lidah kalian tergelincir, karena akibatnya pahit getir.
  64. Imam Abu Hanifah (Hanafi) merasa kagum melihat Imam Jakfar As-Shodiq sangat rajin bersembahyang, ia berkata : Hai Abu Abdullah (nama panggilan Imam Jakfar), alangkah rajinnya anda ini bersembahyang ! Imam Jakfar menyahut : “Hai Nu’man (nama asli Imam Abu Hanifah), tidaklah anda mengetahui bahwa Sholat itu merupakan qurban (taqqarub) bagi setiap orang yang bertakwa, dan bahwa ibadah haji itu merupakan jihad bagi orang yang lemah?  Segala sesuatu perlu dibersihkan, dan membersihkan badan ialah berpuasa. Ketahuilah, bahwa amal perbuatan yang afdhal ialah sabar menantikan datangnya kegembiraan dari Allah. Berdoa tanpa berusaha sama dengan melempar panah tanpa busur. Hai Nu’man, ingatlah selalu yang kukatakan itu.
  65. Aku bersumpah demi Allah bahwa tiga hal pasti benar, yaitu : (1) Harta kekayaaan tidak akan berkurang karena shodaqoh dan zakat. (2) Orang yang diperlakukan Dzalim tetapi ia tidak membalas, sekalipun mampu, Allah pasti akan memberikan kedudukan mulia  kepadanya. (3) Orang yang membuka pintu hatinya hingga gemar meminta minta kepada orang lain, Allah akan membukakan kemiskinan baginya.
  66. Orang yang sombong  tidak akan mendapat pujian baik. Penipu tidak akan banyak mendapatkan sahabat. Orang yang berkelakuan buruk tidak akan menjadi terhormat. Orang yang tidak kikir tidak akan kehilangan silaturahmi. Orang yang gemar mengejek-ejek tidak dapat dipercaya persahabatannya. Orang yang hanya sedikit mendalami ilmu agama tidak akan sanggup menetapkan keputusan hukum. Tukang mempergunjingkan orang tak akan selamat. Orang yang iri hati tidak akan pernah merasa tentram. Orang yang suka menghukum orang lain atas dasar kesalahan kecil, tidak akan dapat bertindak lurus. Orang yang sedikit berpengalaman dan membanggakan pendapatnya sendiri tidak pantas menjadi pemimpin.
  67. Orang bodoh yang dermawan lebih baik daripada orang beribadah tapi kikir.
  68. Siapa yang menuntut bukan haknya ia patut diberi apapun juga.
  69. Pemaaf tang terbaik ialah yang sebenarnya sanggup membalas. Yang paling kurang akal fikirannya ialah orang yang Dzalim terhadap bawahannya dan  menolak permintaan maaf orang lain.
  70. Janganlah buru buru memberi nasehat, dan janganlah engkau berfikir ceroboh.
  71. Tiga hal dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan, yaitu : Kemunafikan, Kecongkakan dan Kedzaliman.
  72. Ada tiga soal yang baru dapat diketahui dalam tiga keadaan yaitu : (1) Orang yang sabar baru dapat diketahui di saat ia marah. (2) Seorang pemberani baru dapat diketahui di saat peperangan. (3) Teman Sejati baru dapat diketahui di saat saudaranya membutuhkan pertolongannya.
  73. Seseorang akan tetap menjadi munafik sekalipun ia sholat dan puasa, yaitu orang yang : jika berkata ia bohong, jika berjanji ia ciderai, dan bila dipercaya  dia berkhianat.
  74. Hati-hatilah terhadap tiga macam orang : Penghianat, orang Dzalim dan tukang adu domba; karena pada suatu saat si pengkhianat akan mengkhianatimu, si dzalim akan berbuat dzalim terhadap dirimu, dan si tukang adu domba akan mengadu domba engkau dengan orang lain.
  75. Ada tiga jenis istri : Ada yang menguntungkan dirimu, ada yang menguntungkan dan merugikan dirimu, dan adapula yang merugikan dirimu. Yang menguntungkan dirimu ialah gadis. Yang menguntungkan dan merugikan dirimu ialah janda tak beranak. Yang merugikan dirimu ialah janda yang membawa anak dari bekas suaminya.
  76. Ketentraman terdapat di dalam tiga hal : Istri yang serasi, anak yang patuh dan sahabat yang tulus.
  77. Penguasa yang terbaik ialah yang memiliki tiga sifat : Kasih sayang, penyantun dan adil.
  78. Orang yang berakal sehat tidak akan meremehkan orang lain, dan yang tidak boleh diremehkan ada tiga : Ulama, Umara (Penguasa) dan sahabat. Orang yang meremehkan ulama akan rusak penghayatan agamanya, yang meremehkan penguasa akan rusak urusan dunianya, dan yang meremehkan sahabat akan rusak pandangan pikiranya.
  79. Tiga hal mutlak dibutuhkan setiap orang : Keamanan, Keadilan dan Kesejahteraan.
  80. Tiga macam yang mengeruhkan kehidupan, yaitu : Penguasa yang Dzalim, tetangga yang buruk dan istri yang gemar mengumpat.
  81. Siapa yang menuntut tiga soal yang bukan haknya ia tidak memperoleh apapun juga : (1) Barangsiapa menuntu keduniaan yang bukan haknya ia akan kehilangan urusan akhiratnya. (2) Barangsiapa menuntu kepemimpinan tanpa hak ia tidak akan ditaati orang. (3) Siapa yang menuntut harta kekayaan tanpa hak ia akan kehilangan hartanya.
  82. Seseorang yang terhindar dari tiga macam keburukan ia akan selamat semua segi kehidupannya : Menghindari perkataan buruk, tingkah laku buruk dan  perbuatan buruk.
  83. Tiga kewajiban utama seorang anak terhadap ayah ibunya : (1) Dalam keadaan apapun ia wajib berterimakasih kepada kedua orang tuanya. (2) Ia wajib  mentaati perintah dan larangan ayah ibunya dalam hal yang tidak bertentangan dengan agama Allah. (3) Mengindahkan nasihat ayah ibunya, baik di depan maupun dibelakang mereka berdua.
  84. Orang yang tidak memiliki tiga macam sifat utama, iman tak berguna baginya.  Tiga sifat itu adalah  : Kesabaran menghadapi orang bodoh, kesucian hidup yang menjauhkan dirunya dari perbuatan yang dilarang oleh agama, dan akhlak yang menyenangkan orang banyak.
  85. Iman seseorang tidaklah sempurnah sebelum ia mempunyai tiga sifat : menguasai ilmu agama, hidup secara baik dan sederhana, dan tabah serta sabar dalam menghadapi musibah.
  86. Syukurilah nikmat Allah yang diberikan kepadamu, dan berilah kenikmatan kepada orang yang berterima kasih kepadamu. Nikmat yang kauterima tak akan lenyap bila kau syukuri, dan pasti tak lestari bila kau ingkari.
  87. Adalah lemah orang yang tidak menghadapi cobaan dengan sabar, menghadapi nikmat dengan syukur, dan menghadapi kesukaran dengan mengharapkan kemudahan.
  88. Yang paling bermanfaat bagi kebaikan seseorang ialah kediniannya menyadari kekurangan dirinya. Beban yang terberat ialah menyembunyikan kesesengsaraan. Kesulitan yang paling besar ialah memberi nasehat kepada orang yang tidak mau menerimanya. Jiwa  yang paling segar ialah yang tidak mengandalkan pertolongan orang lain.
  89. Engkau harus bersikap jujur terhadap sehabat karibmu, karena mereka itu adalah pengawal di waktu senang dan penolong di waktu susah.
  90. Bentuk maaf yang baik ialah tidak menyalah-nyalahkan orang yang berbuat kekeliruan, dan bentuk sabar yang terbaik ialah yang tidak dibarengi dengn keluh kesah.
  91. Di antara bentuk-bentuk perangai orang yang bodoh ialah : Menjawab sebelum mendengar, menentang sebelum faham dan memutuskan sesuatu tanpa pengetahuan.
  92. Rahasiamu adalah bagian dari darahmu, karenanya janganlah kau alirkan ke saluran yang bukan saluranmu, Ingatlah bahwa dadamu lebih luas dari rahasiamu.
  93. Seumpama orang yang berperangai buruk sadar bahwa ia disiksa oleh perangainya sendiri, tentu cepat cepat berusaha memperbaikinya.
  94. Ujilah sahabatmu disaat engkau mendapat nikmat baru atau di saat engkau ditimpa musibah.
  95. Barangsiapa menguji sahabatnya lebih dulu sebelum menaruh kepercayaan, dan menaruh kepercayaan lebih dulu sebelum erat bergaul, maka janganglah menyesal kalau persahabatannya itu akan melahirkan kekecewaan.
  96. Orang yang memaksakan pendapatnya kepada orang lain, sesungguhnya ia berdiri di lereng terjal.
  97. Hutang membuat sedih di malam hari dan membuat hina di siang hari.
  98. Patuhilah orang tua kalian, pasti kalian akan dipatuhi oleh anak-anak kalian. Janganlah mengincar istri orang lain agar istri kalian tidak diincar orang lain.
  99. Betapa sering terjadi, sabar sejenak mendatangkan kesenangan banyak dan lama ; betapa sering terjadi, kesenangan sejenak mendatangkan kesedihan banyak dan lama.
  100. Termasuk sikap durhaka jika orang yang berkendaraan berkata kepada pejalan kaki : “Hai Minggi!”
  101. Dalam kesempatan lain kepada muridnya Imam Jakfar Ash-Shodiq berkata : “Janganlah ada diantara kalian yang suka berbicara tentang urusan orang lain hingga lupa dan meninggalkan urusannya sendiri. Ketahuilah, bahwa orang yang berbicara mengenai soal yang bukan pada tempatnya dapat mendatangkan kesalahan bagi dirinya sendiri. Janganlah diantara kalian ada yang suka berbantah dengan orang yang berhati lembut, atau dengan orang yang berperangai buruk. Berdebat dengan orang yang berhati lembut akan membuatknya menjauhkan diri, dan berdebat dengan orang yang berperangai buruk akan membuatnya lebih buruk lagi. Ingatlah kebaikan sahabat yang tidak berada di depanmu sebagaimana engkau ingin diingat kebaikanmu olehnya di saat engkau tidak berada di depannya. Berbuatlah sesuatu dengan sadar, bahwa jika perbuatan itu baik akan mendatangkan kebajikan dan jika perbuatan itu buruk akan mendatangkan kemudharatan.
  102. Hendaklah kalian tetap bertakwa kepada Allah dan hidup bersaudara satu sama lain, saling cinta mencintai, saling berkasih sayang, saling berkunjung dan saling bertemu.
  103. Hati-hatilah jangan sampai kalian berbuat dzalim, karena doa orang yang diperlakukan secara dzalim naik langsung ke langit (yaitu langsung dikabulkan Allah).
  104. Orang yang tidak memperdulikan urusan kaum muslimin bukanlah Muslim. Rasulullah SAW telah bersabda: “Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin ia bukan dari mereka. Barangsiapa mendengar orang menyerukan kepentingan kaum muslimin dan tidak menyambutnya, ia bukan seorang muslim”.
  105. Shodaqoh yang sangat disukai Allah ialah : memperbaiki masyarakat bila mereka saling berbuat kerusakan, dan memperdekatkan mereka bila saling jauh menjauhi.
  106. Orang yang beriman ialah orang yang baik mata pencahariannya, sehar hati nuraninya, baik budi pekertinya, menginfakkan kelebihan hartanya, menahan kelebihan ucapannya, tidak berbuat buruk terhadap orang lain dan berlakuk adii terhadap terhadap dirinya sendiri.
  107. Orang beriman ialah orang yang memberi pertolongan baik kepada orang lain, tidak memberatkan beban orang lain, mengatur penghidupannya dengan baik dan tidak terjerumus dua kali dalam satu liang.
  108. Apa yang menjadi hak Allah janganlah kalian jadikan hak manusia. Apa yang menjadi hak Allah adalah untuk Allah, sedangkan apa yang menjadi hak manusia tidak akan naik ke hadirat Ilahi.
  109. Hendaklah kalian berhati-hati jangan sampai bermusuh-musuhan, karena rasa permusuhan tidak menentramkan hati dan menumbuhkan kemunafikan. Ingatlah, barangsiapa menanam benih permusuhan ia akan mengetam hasilnya, dan barangsiapa tidak dapat mengekang amarahnya ia tidak akan sanggup menguasai akal fikirannya.
  110. Barangsiapa membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama berarti ia merasa puas dengan meniru perbuatan orang jahat.
  111. Ayahku berkata : Apakah ada yang lebih jahat dari nafsu amarah? Orang yang telah dikuasai oleh nafsu amarah dapat merenggut nyawa manusia, hal yang dilarang keras oleh Allah, dan iapun dapat menuduh perempuan suci berbuat zina.
  112. Hati-hatilah menghadapi nasfu kalian sebagaimana kalian menghadapi musuh. Tidak ada musuh yang paling berbahaya selain menuruti hawa nafsu dan mengumbar lidah.
  113. Hormatilah orang yang menghormati dirimu. Terhadap orang yang tidak menghargai dirimu hendaknya engkau menghargai dirimu sendiri.
  114. Tidak ada yang lebih baik daripada diam, tidak ada musuh yang paling berbahaya selain kebodohan, dan tidak ada penyakit yang lebih parah daripada dusta.
  115. Orang beriman ialah yang dicintai orang lain. Tak ada kebaikan apapun bagi orang yang tidak mencintai dan tidak dicintai orang lain.
  116. Barangsiapa yang berakal ia beragama dan barangsiapa beragama ia masuk syurga.
  117. Bila engkau mendengar saudaramu mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan dirimu, janganlah engkau menggerundel. Jika yang dikatakannya itu benar berarti dosamu telah ditebus, tetapi jika apa yang dikatakannya itu tidak benar maka engkau telah memperoleh kebajikan tanpa amal.
  118. Orang yang membersihkan dirinya dari tiga perkara akan memperoleh tiga perkara : Bersih dari kejahatan memperoleh kehormatan. Bersih dari kesombongan memperoleh kemuliaan. Bersih dari kefakiran akan memperoleh penghargaan.
  119. Tiga perkara mendatangkan kebencian : Kemunafikan, ketakaburan dan kezaliman.
  120. Penyakit yang merusak iman ialah : Iri hati, takabur, dan membanggakan diri.
  121. Suatu ummat tidak dipandang adil jika ia belum mengembalikan hak orang yang lemah dari perkosaan orang kuat.
  122. Celakalah suatu ummat yang tidak mengindahkan amar ma’ruf dan nahi mungkar (memerintahkan amal kebajikan dan mencegah keburukan).
  123. Tiga hal yang menghambat usaha mencapai keutamaan : lemah tekad, lemah pendapat, dan tidak kenal malu.
  124. Barangsiapa yang dikaruniai tiga perkara ia telah menjadi orang kaya : Merasa cukup dengan apa yang telah diterima, tidak mengharapkan apa yang berada ditangan orang lain, dan meninggalkan yang tidak diperlukan.
  125. Bila engkau melihat ada orang yang mencari-cari kesalahan orang lain dan melupakan kesalahan sendiri, maka ketahuilah bahwa orang itu sesungguhnya menipu diri sendiri.
  126. Ada tiga lapisan masyarakat yang dapat menjadi tulang punggung kekuasaan, yaitu : lapisan yang selalu menginginkan kebaikan, ini merupakan keberkahan bagi kekuasaan itu. Lapisan yang ingin memperoleh perlindungan bagi apa yang ada di tangannya, ini tidak terpuji dan tidak tercela, tetapi lebih dekat kepada tercela. Lapisan yang menyukai keburukan, ini sungguh-sungguh tercela, baik lapisan itu sendiri maupun kekuasaan yang bersandar padanya.
  127. Setiap masyarakat membutuhkan tiga hal, yang jika tidak terdapat di dalamnya masyarakat itu akan menjadi biadab, yaitu : orang-orang yang sholeh yang hidup zuhud, penguasa yang baik dan ditaati, serta dokter yang berpengalaman dan terpercaya.
  128. Kawan terdiri dari tiga macam : kawan yang menyenangkan engkau dengan pribadinya, kawan yang menyenangkan engkau dengan hartanya; dua-duanya itu adalah kawan yang benar-benar  berjiwa persaudaraan. Yang ketiga adalah kawan yang hanya ingin mendapatkan sesuatu darimu atau hendak menggunakan dirimu untuk memperoleh kenikmatan, Kawan seperti itu janganglah kau percayai.
  129. Jika engkau ingin mengetahui seberapa jauh kejujuran dan kesetiaan kawanmu, maka marahilah dia. Jika ia tetap bersahabat denganmu, ia benar-benar kawanmu.
  130. Percayalah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya. Ia selalu melihatmu. Kalau engkau berfikir bahwa Allah tidak melihatmu maka engkau telah menjadi kafir. Kalau engkau mengerti Allah melihatmu tetapi masih berani berbuat maksiat terhadap-Nya, berarti engkau telah meremehkan-Nya.
  131. Tuntutlah ilmu dan jadikanlah ia hiasan hidup bersama dengan sikap arif dan rendah hati. Janganlah sekali-kali kalian menjadi ulama (ilmuwan) yang congkak, karena dengan demikian kebenaran yang ada pada kalian akan dilenyapkan oleh  kebatilan sikap kalian.
  132. Bila seorang beriman marah, marahnya tidak sampai mengeluarkan dirinya dari kebenaran, dan jika ia merasa puas, kepuasannya tidak sampai menjerumuskannya kedalam kebatilannya.
  133. Srigala yang paling  buas pun tidak lebih membahayakan kambing yang terpisah dari pengembalaannya daripada bahayanya seorang yang mengincar kehormatan dan harta kekayaan milik orang lain.
  134. Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dalam menghadapi dua makhluk yang lemah, yaitu anak yatim dan wanita.
  135. Kepada Al-Mufaddhal bin Zaid, Imam Jakfar Ash-Shodiq berkata : Engkau kucegah jangan sampai mempunyai dua macam sifat yang dapat menghancurkan kebesaran martabat, yaitu berbuat bakhil terhadap Allah dan memberikan fatwa tentang sesuatu yang tidak kau ketahui.
  136. Orang yang telah tiga kali marah kepadamu tetapi ia tidak berkata buruk tentang dirimu dengan orang lain, jadikanlah ia sahabat karibmu. Barangsiapa yang menginginkan temannya tetap baik kepadanya, janganlah ia mengejeknya, janganlah ia bersenda gurau dengannya dan jangan menciderai janji kepadanya.
  137. Janganlah engkau bergaul dengan orang yang berperangai buruk, sebab jika ia hendak mendatangkan manfaat bagimu ternyata ia malah mendatangkan madharat. Jangan engkau bergaul dengan pendusta, sebab perkataannya seperti fatamorgana, mendekatkan yang jauh kepadamu dan menjauhkan yang dekat darimu. Janganlah engkau bergauk dengan orang fasik, sebab ia kan menjualmu dengan sepotong roti. Janganlah engkau bergaul dengan orang kikir, sebab ia tidak mau menolongmu di saat engkau membutuhkan pertolongannya. Janganlah egkau bergaul dengan seorang pengecut, sebab itu akan menyerahkan dirimua kepada musuh.
  138. Ada tiga orang yang harus kamu kasihani, yaitu orang kaya yang jatuh miskin, orang terhormat jatuh menjadi hina, dan orang yang alim yang dipermainkan orang-orang bodoh.
  139. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu ummat, mereka dikaruniai seorang penguasa yang hatinya penuh kasih kasih sayang dan para pembantunya bersikap adil.
  140. Hafsh bin Abul Bakhtary menceritakan sebagai berikut : Pada suatu hari di saat aku sedang berada di rumah Abu Abdullah (imam Jakfar) datanglah seorang menemuinya. Ketika itu Abu Abdullah bertanya kepadaku. “Apakah anda mencintai dia?” Aku menjawab” “Ya, tentu”. Ia lalu berkata : “Benar, tak ada alasan untuk tidak mencintainya, sebab ia adalah saudaramu, sekutumu dalam agama dan penolongmu dalam menghadapi musuh; lagi pula rezkinya tidak berada di tanganmu.
  141. Hendaklah kalian berhati-hati melihat wanita, sebab hal ini dapat menanamkan nafsu syahwat di dalam hati dan dapat menjerumuskan orang kedalam fitnah. Bahagialah orang-orang yang ketajaman pandagannya berada di dalam hatinya bukan pad matanya.
Sumber :

Sejarah Hidup Imam Jakfar As-Shodiq RA, HMH Al Hamid Al Husaini, Semarang : Toha Putra, 1985, hlm 70 – 85.

SUMATRA SUDAH DIKENAL SEJAK ZAMAN RASULULLAH SAW, Kajian Teori Prof. Dr. Sayyid Muhammad Naquib Al Attas

Benarkah pulau Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah SAW semasa hidup, serta telah dilalui dan disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu? Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction” yang di seminarkan November 2011 lalu.

Syed Muhammad al Naquib al Attas lahir di Bogor, 5 September 1931 adalah seorang cendekiawan dan filsuf muslim saat ini dari Malaysia. Ia menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur.

Muhammad al Naquib al Attas Ia juga menulis berbagai buku di bidang pemikiran dan peradaban Islam, khususnya tentang sufisme, kosmologi, filsafat, dan literatur Malaysia.

Sumber Wikipedia menyebutkan, tahun 1962 Al-Attas menyelesaikan studi pasca sarjana diInstitute of Islamic Studies di McGill University, Montreal, Kanada, dengan thesis Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh.

Al-Attas kemudian melanjutkan studi ke School of Oriental and African Studies, University of Londondi bawah bimbingan Professor A. J. Arberry dari Cambridge dan Dr. Martin Lings. Thesis doktornya (1962) adalah studi tentang dunia mistik Hamzah Fansuri.

Pada 1987, Al-Attas mendirikan sebuah institusi pendidikan tinggi bernama International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur. Melalui institusi ini Al-Attas bersama sejumlah kolega dan mahasiswanya melakukan kajian dan penelitian mengenai Pemikiran dan Peradaban Islam, ia terkenal kritis terhadap Peradaban Barat.

Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.

Ada dua fakta yang al-Attas gunakan untuk sampai pada kesimpulan di atas.

Pertama, bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari. Hikayat Raja-raja Pasai antara lain menyebutkan sebagai berikut:

…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda“Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin Samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (sediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu”

Dasarnya tentu sangat kuat baik secara teologis maupun secara antropologis. Menurutnya, Hamzah Fansuri, Nurruddin Ar-Raniry, Syamsuddin As-Sumatrani, Syech Abdurrauf As-singkili yang terkenal dengan nama Syeikh di Kuala atau Syiah Kuala adalah sekian diantara ulama besar Aceh yang pernah ada di zaman keemasan kesultanan Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Bahkan, sekian diantara Wali Songo memiliki garis hubungan pendidikan atau lulusan (alumni) yang berguru di Samudera Pasai sebagai pusat peradaban Islam Asia tenggara kala itu. Bahkan beberapa diantaranya ada yang memiliki hubungan keturunan dengan Aceh penyebar Islam di tanah Jawa.

Sumber wikipedia menyebutkan, bahwa asal-usul penamaan pulau "Sumatra" sendiri berasal dari keberadaaan sebuah kerajaan benama Samudera Pasai (terletak di pantai pesisir timur Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, dia melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang. (Nicholaas Johannes Krom, De Naam Sumatra, BKI, 100, 1941.)

Kedua, berupa terma “kฤfลซr” yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Kata ini berasal dari kata dasar “kafara” yang berarti menutupi. Kata “kฤfลซr” juga merupakan nama yang digunakan bangsa Arab untuk menyebut sebuah produk alam yang dalam Bahasa Inggris disebut camphor, atau dalam Bahasa Melayu disebut dengan kapur barus.

Masyarakat Arab menyebutnya dengan nama tersebut karena bahan produk tersebut tertutup dan tersembunyi di dalam batang pohon kapur barus/pohon karas (cinnamomum camphora) dan juga karena “menutupi” bau jenazah sebelum dikubur.

Produk kapur barus yang terbaik adalah dari Fansur (Barus) sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terletak di pantai barat Sumatra.

Dengan demikian tidak diragukan wilayah Nusantara lebih khusus lagi Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah dari para pedagang dan pelaut yang kembali dengan membawa produk-produk dari wilayah tersebut (pasai) dan dari laporan tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar tentang tempat-tempat yang telah mereka singgahi.

Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas Menurut berita-berita luar yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai (Pase) kerajaan ini letaknya di kawasan Selat Melaka pada jalur hubungan laut yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada abad ke XIII sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di kawasan itu.

Kembali menurut Al-Attas, ia menyebutkan, ada empat faktor penyebab minimnya sumber dan kajian sejarah Islam dan sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Pertama, sumber dan karya ilmiah sejarah Islam yang ditulis dalam huruf Jawi/Pego (Arab latin) oleh masyarakat Nusantara tidak begitu terkenal di kalangan ilmuwan Barat karena tidak banyak dari mereka yang pandai membaca tulisan Jawi.

Kedua, banyak sumber sejarah yang hilang atau tidak diketahui keberadaannya pada zaman penjajahan.

Ketiga, biasanya sumber-sumber sejarah yang ditulis masyarakat Nusantara dianggap oleh orientalis sebagai artifak sastra, sebagai karya dongeng atau legenda, yang hanya bisa dipelajari dari sudut filologi atau linguistik, dan tidak bisa diterima sebagai sumber sejarah yang sempurna dan benar.

Keempat, karena minimnya sumber dan kajian sejarah Islam Nusantara membuat para ilmuwan Barat hanya menggunakan sumber, kajian dan tulisan dari luar Nusantara termasuk dari Barat. Mereka tidak memperhatikan atau mungkin tidak tahu adanya bahan-bahan dan informasi yang terdapat dalam berbagai sumber sejarah Islam termasuk sumber-sumber sejarah dari wilayah Nusantara.

Prof. Dr. Abdul Rahman Tang, Akademis dan dosen pasca sarjana di Departemen Sejarah dan Peradaban, Kulliyyah of Islamic Revealed Knowledge and Human Sciencesdi International Islamic University Malaysia, selaku pembanding menyatakan kajian sejarah Islam Nusantara yang dilakukan al-Attas dalam buku tersebut sebagian besar bersifat spekulatif.

Salah satu fakta spekulatif tersebut adalah hadits yang terdapat dalam Hikayat Raja Raja Pasai.

Menurutnya, fakta-fakta tersebut bisa valid jika telah menjalani proses “verification of fact”. Namun Al-Attas tidak melakukan proses ini terhadap hadits yang disebutkan di dalam hikayat raja-raja pasai tersebut.

Historical Fact and Fiction Muslim China warga Malaysia ini mempertanyakan tentang hadits ini dan mengkhwatirkan implikasinya terhadap pemikiran masyarakat Nusantara. Menurutnya, al-Attas melakukan inductive methode of reasoning secara tidak konstruktif. Sedang Dr. Syamsuddin Arif, dosen IIUM asal Jakarta, selaku pembicara kedua dalam acara bedah buku tersebut mengungkapkan kesimpulan al-Attas di atas logis dan sesuai dengan fakta.

Hal ini berdasarkan perjalanan pelaut dan pedagang Arab pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  yang pergi ke China. Untuk mencapai negeri China melalui laut tak ada rute lain kecuali melalui dan singgah wilayah Nusantara.

Lebih lanjut Arif mengemukakan berbagai teori dan pendapat tentang kapan, dari mana, oleh siapa, dan untuk apa penyebaran Islam di Nusantara beserta bukti-bukti dan fakta-fakta yang digunakan untuk mendukung pendapat-pendapat tersebut. Arif juga menjelaskan ilmuwan siapa saja yang memegang dan yang menentang pendapat-pendapat tersebut.

Di akhir makalahnya, Arif mempertanyakan pendapat J.C. Van Leur yang pertama kali menyatakan bahwa penyebaran Islam di Nusantara dimotivasi oleh kepentingan ekonomi dan politik para pelakunya.

Van Leur dalam bukunya “Indonesian Trade and Society” berpendapat, sejalan dengan melemahnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Sumatera dan khususnya di Jawa, para pedagang Muslim beserta muballigh lebih berkesempatan mendapatkan keuntungan dagang dan politik.

Dia juga menyimpulan adanya hubungan saling menguntungkan antara para pedagang Muslim dan para penguasa lokal.

Pihak yang satu memberikan bantuan dan dukungan materiil, dan pihak kedua memberikan kebebasan dan perlindungan kepada pihak pertama.

Menurutnya, dengan adanya konflik antara keluarga bangsawan dengan penguasa Majapahit serta ambisi sebagian dari mereka untuk berkuasa, maka islamisasi merupakan alat politik yang ampuh untuk merebut pengaruh hingga menghimpun kekuataan.

Menurut catatan M. Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat Kerajaan Islam Samudera Pasai terdiri dari orang-orang alim dan bijaksana. Adapun nama-nama dan jabatan-jabatan mereka adalah sebagai berikut:

1. Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, sebagai Perdana Menteri.2. Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani, sebagai Syaikhul Islam.3. Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari, sebagai Menteri Luar Negeri.

Dari catatan-catatan, nama-nama dan lembaga-lembaga seperti tersebut di atas, Prof. A. Hasjmy berkesimpulan bahwa, sistem pemerintahan dalam Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah teratur baik, dan berpola sama dengan sistem pemerintahan Daulah Abbasiyah di bawah Sultan Jalaluddin Daulah (416-435 H).

Nama Samudera dan Pasai sudah populer disebut-sebut baik oleh sumber-sumber Cina, Arab dan Barat maupun oleh sumber-sumber dalam negeri seperti Negara Kertagama (karya Mpu Prapanca, 1365) pada abad ke 13 dan ke-14 Masehi. Dan tentang asal usul nama kerajaan ini ada berbagai pendapat.

Menurut J.L. Moens, kata Pasai berasal dari istilah Parsi yang diucapkan menurut logat setempat sebagai Pa’Se. Dengan catatan bahwa sudah semenjak abad ke VII M, saudagar-saudagar bangsa Arab dan Parsi sudah datang berdagang dan berkediaman di daerah yang kemudian terkenal sebagai Kerajaan Islam Samudera Pasai .


Mohammad Said, salah seorang wartawan dan cendikiawan Indonesia pengarang buku ACEH SEPANJANG ABAD yang berkecimpung dengan penelitiannya tentang kerajaan ini dan kerajaan Aceh, dalam prasarannya yang berjudul “Mentjari Kepastian Tentang Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Indonesia", berkesimpulan bahwa istilah PO SE yang populer digunakan pada pertengahan abad ke VIII M seperti terdapat dalam laporan-laporan Cina, adalah identik atau mirip sekali dengan Pase atau Pasai.

Pendapat ini adalah sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Prof. Gabriel Ferrand dalam karyanya (L’Empire, 1922, hal.52-162), dan pendapat Prof. Paul Wheatley dalam (The Golden Khersonese, 1961, hal.216), yang didasarkan pada keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara. Kedua sarjana ini menyebutkan bahwa sudah sejak abad ke-7 Masehi, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah ramai dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Bahkan pada setiap kota-kota dagang itu telah terdapat fondachi-fondachi atau permukiman-permukiman dari pedagang-pedagang yang beragama Islam. 

Wallahu'alam bissawab..

Referensi:



DOKUMEN-DOKUMEN LANGKA TENTANG WALISONGO (Bukti Kuatnya Tradisi Intelektual Walisongo Dan Keturunannya)

Berikut adalah dokumen-dokumen yang dipastikan kebenarannya sehubungan dengan Nasab dan Sejarah Walisongo;

  1. Al-Mausuuah Li Ansaabi Al-Imam Al-Husaini, Kitab ini adalah Kitab Nasab yang disusun oleh Al-Allamah As-Syekh Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh yang lahir tahun 1899 Masehi dan Wafat tahun 1992 Masehi. Sayyid Bahruddin Azmatkhan adalah Ulama Kelahiran Banyuwangi Jawa Timur, 4 orang leluhurnya yang diatas ulama ahli nasab dan Imam-imam Di Masjidil Haram. Kitab Nasab yang beliau miliki ini adalah kitab Nasab yang berisi Nasab-nasab Al-Husaini Seluruh Dunia, Sayyid Bahruddin Azmatkhan sendiri adalah Peneliti Nasab yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW, Beliau memulai penelitian Nasab sejak tahun 1919 s/d 1992 Masehi, sebelumnya penelitian dan pendataan Nasab telah dilakukan oleh ayah, kakek, buyut terus sampai kepada Sunan Kudus yang merupakan leluhur beliau. Artinya status sebagai ahli nasab dari beliau memang turun temurun. Semua nasab keluarga besar Walisongo tercatat dengan rapi dikitab yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW ini. Standarisasi ketika menentukan sebuah nasab itu shohih atau tidak dikitab ini sangatlah super ketat!. Ratusan Metode yang ilmiah menjadi standar kitab ini, sehingga nasab yang masuk kedalam kitab ini betul-betul sudah teruji kesahihannya. Sayyid Bahruddin Azmatkhan memang ulama ahli nasab yang luar biasa, hafalan nasabnya juga sangat menakjubkan (beliau hafal puluhan ribu nasab), beliau ini hafizh quran dan juga penghapal hadist, beliau juga orang yang tawadhu, tidak terlihat jika beliau seorang ahli nasab yang tangguh, pakaian dan gaya beliau bahkan cenderung seperti orang desa pada umumnya. Kitab ini memang sangat mencengangkan, Dari mulai nasab Walisongo, Kesultanan kesultanan, tokoh-tokoh bangsa, dan yang lain-lain, semua ada didalam kitab yang langka ini. Saat ini keberadaan kitab ini sudah dibuat dalam bahasa Indonesia dan dalam bentuk digital. Salah satu Kelebihan kitab ini, disetiap nama yang ditulis selalu diberikan fotnote atau keterangan panjang lebar tentang sejarah, biografi serta keterangan keterangan yang mendetail dari nama tersebut. Jadi bisa dibayangkan bagaimana tebal kitab ini. Oleh karenanya bagi orang yang coba coba membuat nasab palsu yang dinisbahkan kepada keluarga besar walisongo, akan bisa terdeteksi kepalsuanya, karena catatan nasab walisongo ini lengkap dan terperinci. Kitab ini tidak diperjual belikan apalagi difotocopi. Dan memang kitab nasab itu tidak boleh diperjual belikan apalagi sampai difotocopi. Kenapa demikian ? karena kitab nasab ini bersanad, sehingga orang yang bersanadlah yang boleh menyimpan mendata dan menerangkan kepada orang lain. Kalau ada kitab nasab bentuknya foto copi dan mengatasnamakan kitab ini, berarti itu kitab nasab palsu, sekalipun isinya benar, kepalsuannya adalah karena kitab nasab itu didapatkannya dengan cara mencuri. Jika kitab nasab itu berupa fotocopi maka ini justru malah bisa menjadi malapetaka, karena bisa jadi akan banyak orang yang memalsukan kitab nasab itu, dan bahayanya lagi jika kitab nasab itu jatuh kepada orang yang membenci Ahlul Bait. Kitab nasab cukup satu orang saja yang memegangnya dan sudah tentu mereka yang memegang kitab nasab itu harus mempunyai sanad keilmuan dalam bidang ilmu nasab sampai kepada Rasulullah SAW. 
  2. Arsyul Muluk, Kitab Nasab yang disusun oleh Sayyid Bahruddin Azmatkhan, berisi sejarah dan Nasab Walisongo dan nasab-nasab Azmatkhan seluruh dunia dari era Sayyid Abdul Malik Sampai sekarang dan ditulis dalam versi yang sangat lengkap. Kitab Nasab ini sebagai salah satu bukti kuat dan sahih jika walisongo mempunyai keturunan hingga sekarang.
  3. Ilhafun Nadhoir, Kitab Nasab Yang disusun oleh Al habib Zain bin Abdullah Al Kaff, Kitab ini juga isinya banyak dikutif oleh Alhabib Ahmad bin Abdullah Assagaf yang menyusun kitab nasab Khidmatul Asyiroh yang berisi nasab-nasab keturunan keluarga besar walisongo. Banyak yang tidak tahu jika kitab Ilhafun Nadhoir ini ternyata isinya  mengambil dari catatan nasab yang disusun oleh Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Husaini. Kitab nasab ini juga sebagai bukti kepada keluarga besar Alawiyyin yang lain jika nasab walisongo terjaga dengan rapi.
  4. Syamsu Dzahirah, yang merupakan kitab silsilah keturunan Rasulullah dari jalur Ahmad bin Isa al-Muhajir yang disusun oleh Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Mufti Tarim Hadramaut Yaman). Mengenai tentang Sejarah dan Silsilah Walisongo, secara garis besarnya telah dijelaskan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Mashur, sehingga keberadaan Walisongo sangat diakui oleh penyusun kitab nasab ini. Sampai saat ini kitab Syamsu Dzahirah adalah kitab rujukan yang digunakan Rabithah Alawiyah dalam mendata keturunan Alawiyyin yang ada di Nusantara, khusus untuk keturunan Walisongo, pendataannya diserahkan kepada masing-masing keturunannya dan juga khususnya kepada ulama-ulama ahli nasab keturunan Walisongo.
  5. Khidmatul Asyirah,  merupakan sebuah kitab ringkasan dari kitab Syamsud  Azh-Zhahirah yang disusun oleh As-Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf  yang bertujuan untuk mempermudah mengenal dan memahami nasab-nasab Alawiyyin. Di Dalam kitab beliau ini nama-nama silsilah Walisongo juga telah tercatat dengan baik, bahkan tulisan beliau ini sering dijadikan rujukan beberapa penulis sejarah tentang Ahlul Bait Nusantara. Kitab ini terbit pertama kali tahun 1365 Hijriah di Solo  Jawa Tengah.
  6. Tarikhul Aulia, Kitab Sejarah dan nasab walisongo yang ditulis dan disusun secara ringkas oleh KH Bisri Mustofa pada tahun 1954. KH Bisri Mustofa adalah ulama besar NU dan terkenal sebagai penulis kitab yang jenius dan produktif, Kitab ini memang tidak terlalu tebal namun menurut kami isinya sangat luar biasa dalam menjelaskan sejarah Walisongo. Sekalipun ada beberapa yang harus diperbaharui, namun kitab ini menurut kami sangat membantu kami dalam mempelajari sejarah dan sebagian silsilah Walisongo. Sebagian isi dari kitab ini sering kami gunakan sebagai rujukan penulisan. Kitab ini juga menjelaskan tentang tokoh tokoh walisongo lain yang jarang dikenal masyarakat.
  7. “Het book van Bonang”, buku ini ada di perpustakaan Leiden-Belanda, yang menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo. Dokumen ini dibawa Belanda, sudah tentu kita bisa menebak kenapa dokumen sepenting ini bisa jatuh ketangan mereka, Selalu saja, dalam setiap alasan para akademisi belanda mengatakan, jika dokumen ini tidak dibawa ke belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap, sebuah pernyataan yang sefihak dan terkesan meremehkan, kalau dikatakan lenyap, buktinya sampai saat ini diberbagai keraton nusantara masih banyak buku buku kuno yang tersimpan dengan baik. itu artinya klaim akademisi  belanda banyak yang tidak benar, buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam.
  8. “Suluk Linglung” sebuah buku karya Sunan Kalijogo. Buku ini berbeda dengan buku ‘Suluk Linglung’ karya Imam Anom yang banyak beredar. Suluk dalam Jawa adalah ajaran filsafat untuk mencari hubungan dan persatuan manusia dengan Tuhan, suluk merupakan salah satu bentuk ajaran yang termanifestasikan dalam sebuah kitab atau karya. Suluk Linglung Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari sekian ajaran filasafat yang digubah oleh Iman Anom. Suluk Linglung merupakan salah satu karya sastra Sunan Kalijaga yang sampai saat ini masih jarang ditemukan diliteratur Jawa. Buku ini merupakan terjemahan dari kitab kuno warisan dari sepuh Kadilangu Demak, R.Ng. Noto Subroto kepada ibu R.A.Y Supratini Mursidi, yang keduanya adalah anak cucu Sunan Kalijaga yang ke-13 dan 14.  39 Kitab kuno yang diberi nama Suluk Linglung ini memuat tentang pengobatan dengan menggunakan berbagai ramuan tradisional, azimah yang berbentuk rajah huruf arab serta memakai isim, berbagai macam do'a. Disamping itu suluk merupakan sebuah goresan dalam bentuk bibliografi dari proses kehidupan batin seseorang atau tokoh.  Buku kuno ini menggunakan simbol-simbol prasastri penulisan ngrasa sirna sarira aji yang berarti bermakna 1806 caka bertepatan dengan tahun 1884 Masehi. Buku kuno ini ditulis diatas kertas yang dibuat dari serat kulit hewan yang merupakan transliterasi dari kitab Duryat yang diwariskan secara turun temurun oleh keluarga Sunan Kalijaga.
  9. “Kropak Farara” atau “Lontar Farara”, buku yang amat penting tentang walisongo ini diterjemahkan oleh Prof. Dr. GJW Drewes ke dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Wahyudi ke dalam bahasa Indonesia. Lontar Ferrara adalah karya tulis yang memuat petuah keagamaan yang diyakini berasal dari Jaman Kawalen. Jaman Kewalen atau Jaman Kuwalen adalah ungkapan masyarakat Jawa dan juga merupakan ungkapan populer yang termuat dalam sejumlah naskah klasik Jawa untuk menyebut era dimana yang diyakini para anggota Wali Sanga hidup). Naskah ini ditulis di atas daun “Tal” (Lontar) yang terdiri dari 23 lembar berukuran 40 x 3,4 cm dan saat ini tersimpan di Perpustakaan Umum Ariostea di Ferrara, Italia (G. W. J. Drewes, Perdebatan Walisongo Seputar Makrifatullah, Terjemahan dari An Early Javanese Code of Muslim Ethics penerjemah: Wahyudi, Surabaya: Alfikr, 2002, p. 1). Oleh karena itu maka naskah ini sering diidentifikasi sebagai “Lontar Ferrara” atau “Kropak Ferrara”. Naskah ini secara sistematik berisi tentang panduan hidup agar menjadi muslim yang kaffah dan pada saat yang sama juga bertujuan menarik para pemeluk Islam baru dan harapan agar masyarakat Jawa membebaskan diri dari penyembahan berhala. Naskah ini ditulis dalam kondisi dimana komunitas muslim masih berjumlah sedikit.
  10. “Kitab Walisana”, kitab yang disusun oleh Sunan Giri II (Sunan Dalem) bin Sunan Giri bin Maulana Ishak Azmatkhan.  Berisi tentang ajaran Islam dan beberapa peristiwa penting dalam perkembangan masuknya agama Islam di tanah Jawa.
  11. Kitab Al-Fatawi, sebuah kitab sejarah dan silsilah yang menerangkan tentang Jayakarta (Jakarta) dan juga beberapa  kesultanan serta sejarah beberapa anggota Walisongo. Ditulis  secara estafet oleh para pencatat sejarah Jayakarta, sejak masa Al Haj Fattahillah hingga kepada masa Al-Al-Allamah KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma dari Jayakarta (jakarta). Kitab Al Fatawi terdiri dari 4 jilid, sayangnya satu jilid lagi sudah hilang, sedang yang tiga jilid berhasil diselamatkan oleh cicit dari KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma di Jakarta. Kitab ini adalah merupakan bukti keberadaan Walisongo dan beberapa Kesultanan Nusantara. Kitab Al-Fatawi ditulis ulang dengan mengambil catatan-catatan  lama dan pada tahun 1910 Masehi resmi menggunakan hurup Arab Melayu. KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma adalah keturunan Raden Fattah. Keberadaan Kitab ini jelas merupakan sebuah bukti bahwa tradisi penulisan pada keluarga Walisongo tetap berjalan lestari, artinya Walisongo itu telah memberikan warisan kepada anak keturunannya berupa warisan intelektual.

Ini saja dulu dokumen dokumen langka dari walisongo yang kami ketengahkan. sebenarnya masih banyak lagi dokumen dokumen yang dimiliki para ulama ahli nasab walisongo dan juga tersimpan di beberapa keturunan Walisongo. Rata-rata ulama keturunan Walisongo cukup produktif dalam menulis kitab, hanya saja keberadaan kitab-kitab tersebut tidak diperuntukan untuk umum, mengingat pada masa lalu sarana dan prasana begitu terbatas. Dikeluarkannya data ini sebagai jawaban kepada orang orang yang mengatakan jika walisongo atau Azmatkhan tidak memiliki catatan sejarah dan nasab.

Adanya dokumen dokumen penting seperti ini, membuktikan jika keluarga besar walisongo mempunyai budaya tulis menulis yang kuat, dengan kata lain, dunia intelektual dan akademis pada diri mereka tetaplah terjaga. Jadi tidaklah mungkin walisongo yang merupakan keluarga yang terpelajar tidak meninggalkan catatan-catatan penting terutama sejarah dan nasab mereka. Jadi tidak benar jika walisongo hanya mewariskan cerita-cerita yang hanya berbau legenda dan mitos, Walisongo itu keluarga terpelajar, mereka banyak yang terdidik dalam pola pendidikan pesantren pada masa lalu, jadi tidak benar jika walisongo mewariskan cerita rakyat semata. Dengan keterangan dari dokumen-dokumen langka tentang walisongo ini, menunjukkan jika mereka itu adalah intelektual sejati, maka mulai saat sekarang keluarga besar walisongo tidak perlu lagi khawatir terhadap gugatan gugatan tentang sejarah dan nasab walisongo. Semua sudah tersusun rapi dan terjaga dengan baik. Jika masih ada orang yang meragukan sejarah dan nasab walisongo, biarkan saja, yang penting data tentang mereka tetap ada dan terjaga...

Wallahu A'lam bisshowab.......

Senin, 22 Juni 2015

BIOGRAFI KYAI HAJI RATU BAGUS SYAH AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA, SALAH SATU MURID HOS COKROAMINOTO YANG "TERKERAS"

BIOGRAFI  KYAI HAJI RATU BAGUS SYAH AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA (PAHLAWAN BETAWI YANG TERLUPAKAN, MUFTI LEMBAGA KEADATAN JAYAKARTA) & SEJARAH ASLI KIPRAH  KAUM PEJUANG & MUJAHIDIN BETAWI  BAGI  JAYAKARTA DAN BANGSA INDONESIA

Siapakah murid "terkeras" HOS Cokroaminoto? 

Mungkin selama ini kita mengenal nama Kartosuwiryo sebagai murid "terkerasnya" HOS Cokroaminoto, namun jika dilihat kronologis waktu, ternyata ada satu nama yang tidak bisa dianggap remeh yang merupakan kader atau murid yang paling militan atau terkeras dari HOS, yaitu KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma. Beliau adalah pejuang sejati Jayakarta yang paling sering dicari penjajah dan pernah divonis hukuman mati. Namanya cukup dikenal baik oleh HOS, MH THAMRIN dan pejuang-pejuang Betawi pada masa itu, namun sosoknya sendiri jarang bisa ditemui karena beliau selalu berpindah pindah...

Sejarah tentang tokoh yang satu ini akan saya tuliskan secara bertahap, karena begitu banyaknya catatan-catatan yang beliau himpun didalam perjalanan hidupnya, sampai sampai saya sendiri bingung mana dulu yang harus saya munculkan. Sebagai seorang pejuang sejati yang mungkin telah banyak dilupakan orang, alangkah baiknya jika nama beliau ini kita angkat kembali dalam khazanah sejarah bangsa ini. Bagi saya pribadi ketika membaca biografi beliau, saya berkesimpulan bahwa beliau ini bukanlah tokoh biasa, beliau bukan hanya milik Betawi tapi beliau juga milik bangsa ini. Saya berani katakan bahwa sosok beliau ini termasuk sosok pejuang besar bagi bangsa ini. Sayangnya kesadaran kita untuk menghargai jasa para pahlawan kita masih minim, akibat  minimya penghargaan kita kepada para bunga bunga bangsa, nama KH AHMAD SYAR”I sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, khususnya di Tanah Betawi, sebagian malah lebih tahu Muhammad Husni Thamrin atau Pitung, padahal dua nama yang saya sebut ini adalah berkat jasa  dan andil dari seorang KH AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA ini.

KH Ahmad Syar’i Mertakusuma seperti yang saya baca di beberapa catatan anak dan cucunya serta Kitab Al Fatawi adalah merupakan sesepuh atau ketua Lembaga Adat Jayakarta yang visi dan misinya mengikuti jejak dan ajarannya Rasulullah SAW serta para sahabat. Gelar-gelar yang disandangnya nanti, khususnya yang berkaitan dengan adat dan istiadat Betawi di Jayakarta bukanlah sebuah bentuk fanatisme akan nilai-nilai feodalisme, justru adanya gelar gelar tersebut untuk menjaga nilai-nilai kehidupan dan ajaran Jayakarta yang sebenarnya memakai ajaran dan nilai nilai Islam. Sejak didirikannya Jayakarta oleh Kesultanan Demak melalui Fattahillah, hukum-hukum adat semuanya bersendikan pada ajaran dan nilai nilai Islam Ahlussunah Wal Jamaah seperti yang pernah dibawah Walisongo. Sekalipun pada tanggal 30 Mei 1619 Masehi  Jan Pieterzoon Coon (JP COEN)  mengambil alih Jayakarta dan menggantinya dengan nama BATAVIA, namun semenjak itulah para keturunan JAYAKARTA yang ada di luar Benteng Batavia masih tetap terus dan istiqomah memegang ajaran yang sudah dicanangkan oleh Fattahillah dan penguasa penguasa Jayakarta sebelumnya. Jayakarta jelas sejak dulu adalah Islam dan itu dibuktikan dengan adanya gelar adat yang disandang oleh KH  Ahmad Syar;i Mertakusuma  ini dengan nama GUSTI KHALIFAH BENDAHARA VII. Gelar ini adalah gelar turun temurun, gelar ini sudah ada sejak tahun 1680 Masehi menggantikan fungsi keadatan sebelumnya pasca berpindahnya para keturunan Jayakarta dari Kraton Jayakarta yang telah berubah menjadi benteng Batavia. Pemakaian gelar KHALIFAH menunjukkan jika adat istiadat Jayakarta adalah Islam. Tidak heran sampai saat ini Jayakarta yang kini bernama Jakarta dengan suku Betawinya terkenal sebagai penganut Islam yang kuat dan fanatik, bicara Betawi atau Jayakarta itu adalah bicara Islam.

Sampai pada masanya Kyai Haji Ahmad Syar’i Mertakusuma ini, Lembaga Adat Jayakarta masih terus dipertahankan dan gerakan mereka kebanyakan adalah gerakan jihad fisabilllah untuk melawan penjajah kafir belanda baik itu berupa perlawanan fisik, politik  maupun perlawanan melalui tulisan. Lembaga Keadatan Jayakarta sendiri banyak menghasilkan Mujahidin Mujahidin Jayakarta, yang diantara paling terkenal adalah GERAKAN PENDEKAR PITUAN PITULUNG (PITUNG). Setelah berakhirnya era PITUNG maka muncullah era “PEMBERONTAKAN  KI DALANG  pada tahun 1914 yang salah dedengkotnya lagi-lagi adalah KH AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA ini. Akibatnya sepanjang hidup beliau, beliau tidak lepas dari incaran fihak Belanda.  Namun Allah memang kuasa, sepanjang hidupnya sosok beliau ini selalu lolos, padahal teman teman seperjuangannya banyak yang tertangkap dan ditembak mati atau dihukum gantung Belanda. Sebagai buruan kelas wahid penjajah belanda, sudah tentu menyebabkan beliau selalu melakukan hijrah keberbagai tempat, hingga akhirnya beliau tinggal dan wafat di Palembang Sumatra Selatan, sekarang ini saya sendiri yakin jika di Palembang, tidak banyak yang tahu bahwa ada tokoh besar yang menetap dan dimakamkan disana. Mudah mudahan Fihak Pemda Palembang bisa memperhatikan salah satu pahlawan Betawi yang terlupakan ini.

Inilah biografi atau Riwayat Hidup beliau serta kiprahnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Kaum Betawi di Jayakarta dan Bangsa ini..
  1. NAMA : SYAH AHMAD SYAR’I

1.Gelar : Ratu Bagus Diningrat (Radin), Wali Al Ahad Gusti Khalifah Kaum Betawi.
2.Gelar Al Haj : Mungga Haji pada tahun 1310 hijriah sampai tahun 1315 Hijriah.
3.Gelar Adat : Gelar Adat sebagai Khulafatussholihin  dengan istilah Adat “Gusti Khalifah Bandahara ke VII telah disandangnya pada waktu beliau berusia 32 tahun, yaitu pada tahun Dal Jum’at Kliwon, tanggal 10 Maulid 1319 Hijriah.
4. Nama Panggilan : Babe Syari’i (artinya Bapak Pembuat peraturan hukun Syara’ Islam/Fiqih). Dalam pengembaraannya di Palembang beliau terkenal dengan nama  BABE BETAWI.

II.TEMPAT TANGGAL LAHIR : 

Jayakarta, Kampung Jawa Rawa Sari (termasuk Tanah Tinggi  Pulo Mas Jakarta Timur), Tanggal 8 Rajab tahun 1287 Hijriah
  1. PEKERJAAN :
Tani dan Pedagang, kemudian mengkhususkan pekerjaan dalam jabatan Gusti Khalihah Bandahara ke VII.

  1.  KELUARGA :
    1. Menikah Pertama kali dengan Siti ‘Ainin bin Radin Ismail Somawijaya dari Tangerang (kini masuk Provinsi Banten). Radin Ismail Somawijaya  terkenal dengan panggilan ENGKONG MAIL atau BABE ANDUNG. Mertua Kyai Haji Ahmad Syar’i ini bekerja di Hotel Des Indes sebagai TOLOK atau Ahli Bahasa Inggris. Radin Ismail Somawijaya ini dahulunya juga pernah menjadi Klasi Kapal dan lama bermukim di Inggris, beliau terkenal sebagai JAGOAN oleh masyakat KAMPUNG PETOJO GANG SCHASE/JL Pembangunan. Dari istrinya yang bernama Ainin ini Kyai Haji Ahmad Syar’i Mertakusuma mempunyai 4 orang anak diantaranya :
      1. Syah Marhum (wafat pada waktu bayi)
      2. Syah Abdul Majid Asmuni, lahir tahun 1900 Masehi.
      3. Syah Sema’un Rameni, lahir tahun 1905 M di Medan Sumatra Utara.
      4. Siti Barkah, wafat usia 2 tahun di Medan.
      5. Menikah yang kedua kalinya dengan Putri Haji Junaidi (adik dari Haji Sholihun) Gang Abu Pecenongan Jakarta Pusat. Haji Sholihun ini terkenal dalam kisah Nyai Dasima. Dari pernikahan ini Kyai Haji Ahmad Syar’i Mertakusuma  mempunyai anak :
        1. Syah Ahmad Basri, Ratu Bagus.
        2. Syarifah Hadijah, Ratu Ayu.
        3. Syah Ahmad Junaidi, Ratu Bagus.
        4. Syah Muhammad Akib, Ratu Bagus.
        5. Syarifah Masmun, Ratu Ayu.
        6. Syarifah Aminah, Ratu Ayu.
        7. Syarifah Masni, Ratu Ayu.
  1. PENDIDIKAN ;
    1. Madrasah Al Husna – Jembatan Serong Kampung Jawa Rawasari/Rawamangun Jakarta Timur.
    2. Kyai Al Haji Muhammad Idris Al Haddad Madrasah Baitul Betawi Mekkah Arabia (tahun 1311 – 1314 Hijriah). Di Madrasah ini beliau mempelajari Ilmu Ushuluddin, Ilmu Fiqih, Tassawuf, Ilmu Takwa, Ilmu Sabar dan Ilmu Wara’.
    3. Mempelajari Ilmu Politik dari para Perintis Kemerdekaan, diantaranya ; H.O.S COKROAMINOTO, KH KASMAN SINGODIMEJO di Cempaka Putih Jakarta Pusat dan Dr. GUNAWAN MANGUNKUSUMO, SEMAUN  di Rawa Mangun JAKARTA TIMUR..
    4. Mempelajari Sejarah Kerajaan Pasai di SIPIROK (atas petunjuk  AL HAJ SUTAN SAUTI MUAR MALAYA) kepada seorang AHLI SEJARAH bernama UMAR KHATTAB alias TUANKU SUTAN MARTUA RAJA /GURU NORMAAL SCHOOL.
    5. Belajar menulis huruf Arab Gaya Melayu kepada KH MANSUR – Madrasah AL Mansur Kampung Sawah Lio Jembatan Lima Jakarta Barat.
    6. Belajar Ilmu Pencak Silat SERATUS JURUS kepada berbagai ahli silat di Kawasan Jayakarta dan Bogor dan Cianjur di Jawa Barat. Kyai Haji Ahmad Syar’i Mertakusuma adalah murid guru silat yang bernama ENGKONG INDRA dari KEMAYORAN BENDUNGAN JAGO (Sera’ Cikalang). Kemayoran Bendungan Jago kini berada di Kawasan Jakarta Pusat.                                                                                                                                                                                                                                                            PERJUANGANNYA :
    1. Sebagai salah seorang Wali Al Ahad Khulafatussholihin, beliau sudah melakukan tugas “JAJAR TAPAK” (NAPAK TILAS) dibekas-bekas Ikhwanul “Mujahid Jayakarta”, dimana beliau berhasil menyambung kembali tali silaturahim pada waritsun Mujahid (Generasi Pejuang Jayakarta). Tujuannnya ialah untuk  mendapatkan kebulatan tekad demi melanjutkan perjuangan. Pada masa itu keadaan telah menjadi sepi akibat telah gugurnya Pendekar Pituan Pitulung yang bernama Radin Muhammad Ali bin Radin Syamsirin yang merupakan Ketua Gerakan Perlawanan Pitung 1.
    2. Setelah mendapatkan kesepakatan yang bulat, maka dengan ditandai tahun masehi 1906 telah didirikan sebuah organisasi yang bernama PERKOEMPOELAN KEROEKOENAN KAUM BETAWI (PKKB) yang bertempat di GANG SENTOEL PASAR BARU JAKARTA PUSAT.  Adapun Formasi susunan kepengurusannya masih tetap merupakan formasi organisasi Kerapatan Adat, yaitu :
      1. Ketua Umum/ Gusti Khalifah Bendahara ke VII;  KH syah Ahmad Syar’ie Mertakusuma.
      2. Ketua Bidang Imam : Radin Daim Abdurl Karim Nitikusuma.
      3. Ketua Bidang Kesejahteraan dan Pembelaan /Gusti Khalifah Jagabaya : Radin Muhammad Said Jayalaksana
      4. Ketua Bidang Kemakmuran dan Perusahaan Warga/Gusti Khalifah Kertapati ; Radin Abdul Karim (dari Keluarga Somawijaya Tangerang, kini masuk Provinsi Banten)).
      5. Ketua Bidang Sekretariat dan Sosial (‘Amal/Baitul Mal) Gusti Khalifah Kumitir : Radin Sami’un dari Tangerang (kini masuk Provinsi Banten).

PROGRAM PERJUANGAN PERKOEMPOELAN KEROEKOENAN KAUM BETAWI (PKKB):

1) Mempersatukan kembali Kaum Betawi di bawah Pembinaan Kaun Betuwe Jayakarta, supaya Kaum Betawi yang sudah bertebaran dan sudah tiada difahami lagi warnanya menjadi satu kerukunan dan ‘Adat Istiadat Kaum Butuwe Jayakarta” yang mulus.

2) Melakukan pertentangan terhadap gejala-gejala yang timbul dalam kurun tahun itu, dimana sudah terdapat kesimpangsiuran istilah BETAWI yang disandangkan kepada KAUM MUHAJIRIN ASING, terutama yang non Islam. Bahwa dengan tegas PKKB menentang aliran KAUM BETAWI dari golongan SNOFLIET dan WIJHAMER.
a. SNOFLIET menyandang IDIOLOGI POLITIK MARXISME – KOMUNISME.
b. WIJHAMER menyandang IDIOLOGI POLITIK NASIONALISMENYA Dr. SOEN YAT SEN. Kemudian terkenal  dengan nama PAH WONGO dengan IDIOLOGI GENERALISMO TSIANG KAI-SEK.
c. Dari fihak Policy Pemerintahan Gemente Batavia, sedang melancarkan Kampanye dengan tujuan untuk mendapatkan dukungan dar massa rakyat di kawasan BATAVIA dan menindas KAUM PUNTI/ASLI JAYAKARTA yang bernama BETAWI. KAMPANYE itu ialah memberikan penafsiran yang keliru, bahwa BETAWI itu asalnya dari nama BATAVIA. Dengan Idialisme seperti itu fihak Kolonial Belanda akan menciptakan kehidupan SOSIAL BATAVIA seperti Kehidupan SOSIAL DI KOTA SINGAPURA. Mereka akan menggantikan TSAQOFAH ISLAMIAH kepada peradaban baru dari pengaruh Nasrani.

3) Hubungan dengan Kaum Politisi Nasional yang pada zaman itu sudah dirintis    oleh BOEDI OETOMO Cabang Weltervreden sudah mulai akrab. Beberapa kali sudah diadakan pertemuan, antara PKKB dengan pimpinan Cabang Boedi Oetomo dengan bertempat di KAMPUNG KEPU, rumah MUHAMMAD ROYANI, di KAMPUNG KRAMAT KRAMAT, rumah penghulu AL HAJ SYAFRI, dan di Kampung Cikini, rumah M. Zailani. Para pimpinan Boedi Oetomo telah banyak memberikan info bahwa Kerajaan Belanda di Nederland sedang goyah, disebabkan akan meletusnya Perang Dunia  ke I, mereka telah mengadakan rencana,  apabila fihak sekutu Nederland beroleh kekalahan, maka Pejuang Nusantara telah siap untuk MELAKUKAN PEREBUTAN KEKUASAAN atas pemerintahan KOLONIAL NEDERLAND INDIE.

4) Kaum Betuwe Jayakarta dibawah pimpinan MAJELIS AL FATAWI dan  pelaksanaannya oleh PKKB telah mendirikan ORGANISASI PEMBERONTAKAN  yang diberikan nama “KI DALANG”. Jika zamannya PENDEKAR PITUAN PITULUNG (PITUNG)  pemimpinnya terdiri dari 7 (TUJUH) orang, maka pada zaman “KI DALANG” terdiri dari 3 (tiga) orang yaitu :
a. KI SAMA’UN , yang berpusat di Teluk Naga Kampung Melayu Tangerang (kini masuk wilayah Provinsi Banten)
b. KI SYAR”IE (KH AHMAD SYAR”IE MERTAKUSUMA), berpusat di Bambu Larangan Cengkareng Jakarta Barat.
c. KI ABDUL KARIM DAIM, berpusat di Kampung Duri Gang Jamblang.
Pemberontakan “KI DALANG” (asalnya dari istilang DALLA, artinya PENUNJUK, PEMBIMBING,ataupun PEMBINA). Pemberontakan dimulai pada bulan Maulud 1332 Hijriah, ataupun bersamaan dengan bulan Maret 1914 Masehi.
Dengan diletuskannya pemberontakan pada bulan Maret TAHUN 1914 itu telah dapat menggagalkan  aktivitas Partai Komunis, dimana mereka sedang mencari dukungan kepada Kaum  Buruh S.S Kereta Api yang akan dimulai di Tangerang. Sebab jika rakyat yang terdiri dari Kaum Buruh Kereta Api sudah dipengaruhu fihak Komunis, maka berarti perjuangan Kaum Punti/Kaum Asli Bangsa Nusantara akan lumpuh, Alasan itu sebagai berikut :
  1. Kekuasaan  Sosial Politik Boedi Oetomo yang sedang merintis kegiatan kebangsaan Universal Nusantara dikalangan Kaum Ningrat Solo dan Yogya akan lumpuh. Kelumpuhan itulah yang paling diharapkan oleh TUAN HORGRONYE dan VAN DER VLAS. Terutama sejak Gubernur Jenderal J.B Van Heutsz, A.W.F, Idenburg, dan sampai pada jaman itu, G.J J.P. Van Limburg  Stirui (1904 – 1916/1921).
PKI akan menjadikan Kaum Ningrat Jawa sebagai titik bidik yang serius. Jika Kaum Ningrat itu telah kehilangan pedoman hidup karena telah dilanda rakyat yang anti Pejuang dikawasan itu, maka dengan mudah RUMPUN KEADATAN dikawasan lainnya juga menjadi lumpuh.
  1. Kekuatan Sosial Politik Boedi Oetomo Cabang Wiltervreden yang paling banyak dipengaruhi oleh Mujahidin Kaum Betawi Yang Islamistis. Jika PKI pada zaman itu telah mempunyai pengaruh yang kuat, maka rakyat tidak ada lagi yang suka beribadah menurut ajaran Islam, karenanya maka “Jiwa Dendam” kepada penjajah Belanda akan sirna dan jika JAYAKARTA lumpuh, maka lumpuhlah seluruh Jiwa berkorban JIHAD AL WATHON NUSANTARA.
Perlu diketahui, bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) sebetulnya ada di Negeri Belanda dan berkiblat kepada Russia.

5) Melakukan Kegiatan Syiar Keadatan Kaum Betawi Jayakarta, demi menggalang kekuatan Kaum Muslimin supaya Agama Islam tidak dirusak oleh Kolonial Belanda melalui antek anteknya yang sudah mendapatkan Besluit  dari Pemerintah Gemente Batavia.

  1. Setelah Pemberontakan dianggap usai pada tahun 1924, dimana sebagian besar pemimpinnya sudah tertangkap, maka perjuangan “bawah tanah” terus dilakukan dengan cara mengadakan kontak dengan Syah Muhammad Husni  bin  Tabri Thamrin (Muhammad Husni Thamrin).

Terhentinya aksi Pemberontakan disebabkan :

  1. KI Sema’un telah gugur di Kota Tangerang.
  2. Ki Dalang telah dinyatakan sudah tidak ada
  3. KI SYAR’I  telah ditangkap bersama :
1). Radin Abdul Karim Daim Nitikusuma
2). Entong Geger dari Jati Padang, Pasar Minggu Jakarta Selatan.
3). Entong Gendut dari Kampung Condet Jakarta Timur yang bergerak di wilayah Tanjung Barat.

Keempat orang pemimpin Mujahid Jayakarta itu telah dihukum dengan cara dibuang ke Jambi Sumatra.

  1. Selanjutnya  KI Syar’i (KH AHMAD SYAR”I MERTAKUSUMA) berhasil melarikan diri dan kemudian kembali Ke Jawa. Radin Abdul Karim Daim Nitikusuma dipindahkan di Tanjung Pinang. Kemudian terdengar kabar beliau telah wafat pada tahun 1940 dirumah sakit Sungai Liat. Entong Geger telah gugur bersama Entong Gendut dirumah tahanan/Penjara di Jambi. Sedangkan KH Ahmad Syar’i Mertakusuma kemudian melarikan diri Ke Bandung Jawa Barat.  Kemudian beliau tertangkap oleh P.I.D, dan telah dijatuhi “HUKUMAN GANTUNG” di KRAWANG, tetapi tidak sampai meninggal dunia, seterusnya beliau berhasil kembali melarikan diri dan kembali ke Medan Sumatra Utara, dan dari Medan kemudian beliau melarikan diri lagi dan akhirnya bermukim di Palembang Sumatra Selatan sejak tahun 1926. Keluarga yang masih berada di Jayakarta telah hijrah turut bermukim di Palembang Sumatra Selatan.

SUMBER :

Kitab AL Fatawi, KH Ahmad Syar’i Mertakusuma, Penerbit Lembaga Keadatan Jayakarta Al Fatawi, tahun 1897 s/d 1954
Wangsa Aria Jipang di Jayakarta, Ratu Bagus Gunawan Mertakusuma, Penerbit Agapress Jakarta, 1986.
Inti Sari Kitab Al Fatawi, Ratu Bagus Gunawan Mertakusuma, Penerbit Al Fatawi Jakarta. 1983.