Selasa, 23 Februari 2016

TOKOH-TOKOH TERKENAL DALAM PERJALANAN SEJARAH KETURUNAN ARAB HADRAMAUT (Meluruskan Pemahaman Yang Salah Tentang Keturunan Arab Indonesia)



Tulisan ini ditujukan kepada mereka yang selama ini mengalami kesalahan informasi dan persepsi terhadap keberadaan  Arab Keturunan di Indonesia..

Jika menghitung berapa banyak tokoh-tokoh keturunan Arab yang pernah mewarnai perjalanan bangsa ini, kami jamin anda akan tercengang karena begitu banyaknya mereka. Diaspora, aktifitas dan sumbangsih mereka terhadap negeri ini sangatlah luar biasa. Hebatnya lagi banyak diantara mereka yang berhasil meleburkan diri menjadi masyarakat Indonesia, padahal sebagian besar mereka ini berasal dari keturunan Bani Quraisy yang merupakan suku terhormat dan tertinggi dalam hal “stratifikasi sosial” di lingkungan kehidupan orang Arab. Namun ketika mereka masuk ke Indonesia, sebagian besar mereka ternyata banyak yang mampu berasimilasi dengan pribumi. Sehingga tidak jarang banyak keturunan Arab yang sudah ratusan tahun menetap di negeri ini sudah tidak lagi terlihat sebagai orang Arab dan banyak yang mengganti namanya menjadi nama-nama pribumi. Adanya asimilasi ini jelas sangat menguntungkan kehidupan sosial mereka. Sangat jarang terdengar jika orang Arab itu mendapatkan intimidasi dari lingkungan sekitarnya terutama dari sisi etnisnya. Jika dibandingkan dengan etnis China, justru orang Arab ini lebih bisa diterima secara terbuka. Mungkin karena idiologinya yang sama dan mungkin juga karena Arab memang dekat dihati Pribumi. Kami sendiri ketika mempelajari keturunan-keturunan Arab yang ada di Indonesia terutama mereka yang berasal dari Arab Yaman khususnya Hadramaut cukup dibuat terkaget-kaget ketika mendapati bahwa banyak dari mereka yang eksis dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari Ulama, artis, aktor, politikus, seniman, budayawan, musikus, pebisnis, sejarawan, sosiolog,  dokter, olahragawan, akademisi, bahkan tokoh garis keras juga ada,  dan masih banyak lagi profesi lainnya. Perlu diketahui Arab yang ada di Indonesia adalah Arab yang 98 % berasal dari Yaman khususnya wialyah Hadramaut. Sejak dahulu wilayah Hadramaut ini banyak menciptakan peradaban yang kemudian disebarkan ke berbagai dunia, baik itu dari golongan Sayyid maupun golongan non Sayyid. Arab yang ada di Indonesia adalah Arab yang unik dikarenakan menyebarnya mereka dalam segala kehidupan, dapat kami katakan Arab Hadramaut yang ada di Indonesia adalah Arab Warna Warni (Arab Pelangi). Dan rata-rata mereka itu dalam pemahaman yang kami miliki, banyak yang merasa dirinya “enjoy” menjadi orang Indonesia sejati. Tubuh dan darah mereka mungkin Arab tapi jiwa mereka adalah Indonesia. Inilah salah satu kelebihan bangsa Arab terutama Bani Quraish, di banyak tempat mereka  itu ternyata mampu membawa dirinya dengan baik.

Diantara tokoh-tokoh keturunan Arab yang terdapat di Indonesia adalah sebagai berikut :

Diantara tokoh-tokoh keturunan Arab yang terdapat di Indonesia adalah sebagai berikut :


  1. Golongan Ulama, Sultan Dan Pejuang
1.   Maulana Malik Ibrahim Azmatkhan Al Husaini, beberapa keturunannya banyak yang menjadi ulama besar dan pejuang di Jawa dan Jayakarta/Jakarta.
2.  Sunan Ampel (Raden Ali Rahmatullah Azmatkhan Al-Husaini), salah satu keturunannya adalah KH As’ad Syamsul Arifin, Tokoh Besar NU.
3.    Sunan Giri (Maulana Muhammad Ainul Yaqin Azmatkhan Al Husaini), Keturunannya yang merupakan ulama-ulama besar adalah :
  • Syekh Ahmad Khotib Al Minangkabawi (Guru Besar Masjidil Haram)
  • Syekh Yasin Al Padani, Musnid Fid Dunnia (pemegang sanad terbanyak)
  • KH Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah Jogyakarta
Keturunannya yang ada di Palembang Sumatra Selatan menggunakan gelar KEMAS, MASAGUS, yang diantaranya :
·  Sunan Candi Walang/Pangeran Ario Kusuma Abdurrahman Kemas Hindi (Pendiri Kesultanan Palembang Darussalam).
·         Sunan Kebon Gede, seorang alim, adil dan bijaksana.
·         Sunan Lembang/Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo
·         Sultan Mahmud Baddaruddin II
·         Pangeran Penghulu Nata Agama Akil
·         Pangeran Penghulu Nata Agama Muhammad Akib
·         Pangeran Surya Kusuma Ali Muhammad Arsyad
·     Ki Marogan (Masagus Haji Abdul Hamid, seorang yang setara dan mirip dengan Mbah Kholil Bangkalan)
·         Kemas Haji Abdullah Umar, Ulama Besar Karismatik
·         Ki Kemas Haji Umar, Sufi Besar Palembang, Mursyid Thariqoh, Ulama yang karismatik (kakek dari ahli sejarah Kemas Andi Syarifudin).
·         Kemas Hasan Umari Pahlawan Perang  5 hari 5 malam
·         Ki Masagus Haji Husin Abu Mansur, Ulama Karismatik
·         Kemas Muhammad Dahlan, Tokoh Pendidikan Palembang (tokoh yang berbeda dengan KH Ahmad Dahlan Jogyakarta)
4.     Sunan Kalijaga (Raden Syahid Azmatkhan Al Husaini), keturunannya banyak yang menjadi ulama besar di Jawa, Palembang.
5.       Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah Azmatkhan Al Husaini), keturunannya banyak yang memakai gelar Tubagus dan Ratu (wanita) Banten, Para Elang di Cirebon dan ulama seperti:
·         Syekh Mansyuruddin Banten
·         Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani,
·         Abuya Dimyati Banten
·         KH Abbas Buntet
6.       Sunan Kudus (Sayyid Jakfar Shodiq Azmatkhan Al Husaini), keturunannya yang ada di Jawa dan Madura adalah sebagai berikut :
·           Mbah Kholil Bangkalan Madura
·           Sayyid Bahruddin Banyuwangi (ahli nasab Walisongo).
·           Jenderal Besar Sudirman.
Sedangkan Keturunan Sunan Kudus yang ada di Palembang menggunakan gelar KEMAS. Diantaranya adalah sebagai berikut :
·         Syekh Kemas Ahmad bin Abdullah (Sufi, Ulama Besar dan Waliyullah).
·         Syekh Kemas Muhammad bin Ahmad (ulama Sufi, Guru Kesultanan Palembang).
·         Syekh Kemas Muhammad Azhari bin Abdullah (Sufi, penulis produktif).
·         Syekh Kemas Muhammad Said (ulama pejuang yang Syahid).
·         Syekh Kemas Haji Muhammad Azhari/Ki Pedatuan (ulama besar Karismatik).
·         Ki Kemas H.A Roni Azhari (Sufi dan Ahli Pengobatan).
7.      Sunan Muria (Raden Umar Said Azmatkhan Al Husaini), keturunannya banyak yang menjadi pembesar kerajaan dan ulama.
8.   Sunan  Derajat (Raden Syarifuddin Azmatkhan Al-Husaini) banyak menurunkan ulama-ulama di Madura, Jawa Timur.
9.       Fattahillah Azmatkhan Al-Husaini, keturunannya banyak yang menjadi ulama dan pejuang di beberapa daerah seperti Jayakarta, Lampung, Palembang, Aceh. Beberapa keturunannya yang terkenal adalah :
·         Guru Amin Pejuang Jakarta
·         Raden Intan Pahlawan Lampung.
Di Palembang keturunan Fattahillah memakai gelar KIAGUS yang diantaranya adalah :
·         Tuan Umar Baginda Saleh, Waliyullah, penyebar Islam di Sumatra Selatan
·         Datuk Muhammad Akib (Sufi, Waliyullah)
·         Syekh Abdullah bin Makruf (Penulis, Sufi, Khatib)
·         Kiagus H.A. Malik Imam (penulis, Imam besar Masjid Palembang)
·         Kiagus Penghulu Muhammad Yusuf.
·         Hoofd Penghulu Kiagus Haji Nang Tayyib
·         Kiagus Haji Abdul Hamid imam, ( Imam, Khotib, imam masjid Agung Palembang)
10.   Raden Fattah (Sayyid Hasan Azmatkhan Al Husaini), Pendiri Kesultanan Demak Bintoro. Beberapa keturunannya yang menjadi tokoh-tokoh besar adalah :
·         KH Kasan Besari (Ulama Besar Karismatik)
·         HOS/Haji Oemar Said Cokroaminoto (Bapak Bangsa)
·         Bung Karno (Presiden RI)
·         Kartosuwiryo (Tokoh MIlitan Islam
·         KH Raden Muhammad Adnan (Ahli Tafsir dari Surakarta)
·         Pendekar Pitung Jayakarta (Pejuang Jakarta)
·         Syekh Abdul Ghoni Jayakarta (Sufi, Waliyullah dari Jakarta)
·         KH Ahmad Syar’i Mertakusuma (penyusun kitab sejarah Jayakarta Al Fatawi).
·         Syekh Junaid Al Batawi, (Maha Guru Ulama Mekkah)
·         Guru Mansur, (Ulama Ahli Falak Dari Sawah Lio Jakarta Barat).
_ -   Mbah Nurkarim Cibabat (Waliyullah)
   -  Mbah Jangkung Cibabat Cimahi (Waliyullah)
Keturunan beliau yang lain banyak menyebar di Jawa Barat, Jakarta, Palembang, Madura, Jawa Tengah, Jawa Timur. Di Jawa Barat banyak terdapat keturunanya menjadi Ajengan dan Ulama di Garut, Tasikmalaya, Bandung dan mereka banyak yang memimpin Pesantren,  Sedangkan di Jakarta keturunannya banyak yang menjadi Pejuang dan Ulama dan dahulu mempunyai gelar Ratu Bagus (hampir mirip dengan gelar Tubagus).
11.   Jaka Tingkir (Sayyid Abdurrahman Azmatkhan Al-Husaini), Diantara Keturunannya adalah  
·         Syekh Mutamakkin,
·         Ronggo Warsito
·         KH Hasyim Asy’ari
·          KH Wahid Hasyim
·         Gus Dur
·         KH Sahal Mahfudz
12. Keturunan Sayyid Abdurrahman Basyaiban melalui Sayyid Sulaiman Mojoagung yang tersebar di berbagai daerah seperti Magelang, Pekalongan, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Purworejo,  Surabaya, Pasuruan, Bandung, Banten, Jambi, Mekkah, Jeddah. Di Magelang ini keluarga besar Basyaiban dahulu dikenal dengan gelar Raden Dhoro Sayyid atau Doro Sayyid. Keturunanya banyak yang menjadi ulama besar dan berhasil berbaur dengan pribumi. Basyaiban adalah Fam atau keluarga tertua setelah Azmatkhan Al-Husaini.
13. Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus Keramat Luar Batang. Beliau adalah salah satu Habaib gelombang kedua yang datang di Nusantara, merupakan tokoh karismatik pada masanya.
14.  Sayyid Husein bin Abubakar Alaidrus Kramat Luar Batang Jakarta Utara, sosok ulama karismatik pada masanya.
15.   Sayyid Sholeh bin Husein bin Alwi bin Yahya (Raden Saleh), Pelukis Terkenal Indonesia
16. Al-Habib Usman bin Yahya, Mufti Batavia Pada masa penjajahan, berkat nasihat-nasihat  Habib Usman kepada pemerintah Belanda posisi bangsa Arab pada waktu tidak terlalu banyak ditekan  dan diintimidasi.
17.   Al-Habib Abdurrahman Az-Zahir, Salah satu pemimpin perang Aceh.
18.  Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al Attas Ulama Besar Pekalongan. Salah satu ulama karismatik yang banyak menelurkan ulama-ulama besar  pada waktu itu
19. Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas Keramat Empang Bogor Jawa Barat, ulama yang terkenal akan kelimuwan dan kekeramatannya
20. Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi, Perintis Pembacaan Maulid Simtudduror yang pertama di Jawa untuk kemudian diestafetkan di Jakarta kepada Habib Ali Kwitang.
21.   Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor Bondowoso, ulama karismatik.
22.   Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik, waliyullah besar pada masanya.
23.   Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang, Maha Guru Ulama Nusantara. Habib Ali merupakan ulama besar yang memiliki pengikut dan jaringan yang sangat besar, keberadaannya dihormati berbagai kalangan pada waktu itu.
24.   Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir Al Haddad, salah satu penasehat Bung Karno.
25.   Habib Husein bin Muhammad bin Thohir Al Haddad, ulama besar  Jombang
26.   Habib Jakfar bin Sekhan Assegaf Pasuruan, guru besar dan Waliyullah, Guru terdekat dari Mbah Hamid Pasuruan.
27.   Habib Ali  bin Husein Al Attas Bungur Jakarta, Rujukan para ulama Jakarta, gurunya para Kyai dan Muallim di Jakarta. Banyak Ulama Besar pernah berguru pada ulama yang karismatik ini, diantaranya adalah KH Muallim Syafi’i Hadzami, Habib Ali Assegaf, KH Buya Abdurrahman Nawi.
28. Habib Idrus bin Salim Al Jufri Palu, Pendiri Pondok Pesantren Al Khairta di Indonesia Timur.
29.   Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih Darul Hadist Malang, Ulama Besar yang alim . Pondok Pesantrennya banyak melahirkan ulama-ulama besar seperti Habib Syekh Bin Ali Al Jufri, Habib Saggaf bin Mahdi, Habib Muhammad Quraish Shihab, Prof. Dr. Habib Abdullah Bil Faqih (Ulama Hadist yang jenius)
30.   Habib Muhammad bin Husein Alaydrus Surabaya (habib Neon), Ulama Besar Karismatik.
31. Habib Salim Jindan Jakarta, Ahli Hadist dan orator, keturunannya yang sekarang melanjutkan adalah Habib Jindan bin Novel dan Habib Ahmad bin Novel.
32.   Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid Tanggul Jembel Jawa Timur, Waliyullah dan ulama karismatik. Pada masanya beliau terkenal dekat dengan Wakil Presiden Adam Malik. Beliau juga Terkenal akan doanya yang mustajab.
33.   Habib Umar bin Hud Al-Attas Jakarta. Salah satu ulama Alawiyyin yang cukup berpengaruh di Jakarta dan beberapa manca negara.
34. Habib Abdurrahman bin Ahmad Asssegaf Jakarta, salah ulama yang terkenal akan keilmuwannya, banyak menelurkan ulama-ulama tangguh Jakarta.
35.  Habib Anis Al Habsyi Solo, salah satu ulama Solo yang cukup karismatik yang setiap mauled dihadiri puluhan ribu jamaah.
36.  Prof. Dr. Alhabib Abdullah Bilfaqih, Ulama Besar Malang, Ahli Hadist Indonesia yang cukup ternama di luar negeri.
37.   Al Habib Syekh bin Ali Al Jufri, Ulama Jakarta yang memiliki jaringan yang cukup luas.
38.   Al Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar, Pimpinan Pondok Pesantren Ciseeng Bogor yang tidak memungut biaya pendidikan.
39.   Al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, Salah satu ulama Alawiyyin yang cukup menonjol pada masa ini.
40.   Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali, Ketua ICI Kwitang.
41.   Syekh Muhammad bin Ali Basalamah, Khalifah Tariqah Tijaniah dari Jati Barang.
42. KH Sholeh bin Muhammad Basalamah, Muqaddam Thariqah Tijaniah yang terkenal di Pantura.
43.   Abdullah Sholeh Al Hadrami, dai
44.   Habib Taufik Assegaf Pasuruan, Ulama dari Pasuruan.
45.   Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf, Pembaca zikir dan sholawat.
46.   Habib Lufti bin Yahya Pekalongan. Salah satu ulama yang cukup berpengaruh di Jawa saat ini. Pengikutnya sangat banyak di wilayah Pekalongan dan sekitarnya.
47.  Husein Umar Al Hajri, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiah, ketua dewan Pakar ICMI, wakil Ketua Syura Partai Bulan Bintang.
48.   Habib Munzir Musawa, Pencetus Majelis Pemuda di Jakarta.
49.   Habib Ali bin Hasan Al Bahar MA, da’i.
50.   Habib Hasan Assegaf, Majelis Nurul Mustofa.
51.   Ustadzah Lutfiah Sungkar, penceramah di beberapa stasiun TV
52.   Al ustadz Ahmad Al Habsyi, Dai muda ternama.
53.   Syekh Toriq Fikri Al Katiri, Dai Terkenal.


  1. Golongan Politikus Pejuang Dan Perintis Kemerdekaan
  1. Abdurrahman Baswedan, Perintis Kemerdekaan, Pendiri Partai Arab Indonesia (PAI), Anggota Panitia 19 Februari Pembukaan UUD 45 (1945), Anggota BPUPKI, Anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat, Anggota Parlemen RI (1950), Pendiri Kantor Berita Antara, Wartawan, Jurnalis, diplomat, agamawan, negarawan, budayawan, sastrawan dan anggota Partai Masyumi. Tokoh berpengaruh keturunan Arab dan Pejuang Yang disegani yang dikenal sebagai manusia multi talenta. Beliau juga merupakan Pencetus Sumpah Pemuda Keturunan Arab pada tahun 1934 dalam sebuah konfrensi di Semarang. Sampai saat ini Sumpah Pemuda Keturunan Arab adalah satu satunya kelanjutan setelah Sumpah Pemuda tahun 1928.
  2. Syekh Ahmad bin Abdurrahman Bajened, Presiden Syarikat Dagang Islamiah di Bogor (1909)
  3. Syekh Ghalib bin Sayid bin Tebe (Syarikat Dagang Islam)
  4. Syekh Muhammad bin Sayid Bajened.
  5. Ahmad bin Muhammad Musawa Dari Surabaya, Pendukung Utama Gerakan Pan Islami.
  6. Alim Al Gadri (Kapiten Arab Pasuruan), Pelopor Aliran Modern dan gerakan Islam
  7. Hasan bin Smith, aktivis Pendidikan dan Politiik.
  8. Muhammad Husni Thamrin, Pahlawan Nasional dan Tokoh Betawi, dalam kitab Al fatawi diketahui bahwa nasab sebenarnya dari MH Thamrin berasal dari keluarga Al-Qadri yang berlokasi di wilayah sekitar Masjid Angke.
  9. Sultan Hamid Al Qadri, pencipta Lambang Garuda Pancasila.
  10. A.S. Al Attas, Penasehat Ketua PAI (Partai Arab Indonesia), Penandatangan petisi Sutarjo.
  11. H.M. A. Husein Al Attas Ketua Partai Arab Indonesia.
  12. Abdullah Bayasut, Politikus PAI (1947 – 1950).
  13. Husein Bafaqih, Jurnalis, Pejuang PAI, pendiri majalah Aliran Baroe, jurnalis cerdas.
  14. Barkah Al Ghanis, aktifis PAI yang juga istri AR Baswedan.
  15. Abdullah Hasan BPH, Wakil keresidenan Solo.
  16. Said Bahmid, Ketua PAI Maluku tahun 40an.
  17. Abu Bakar Al Attas (bung Abu), gugur dalam peperangan dengan Jepang.
  18. Alhadad, gugur bersama adik Prof. Dr. Sumitro Joyohadikusomo dan dimakamkan di TMP.
  19. Juslam Badres, tokoh pemuda PAI.
  20. Salim Ar-Rasyidi, tokoh yang memonitoring Belanda dengan Bahasa Arab di RRI Jogya (1947 – 1949).
  21. Abdul Kadir Assegaf Yang mendampingi Bung Hatta dalam Koferensi Meja Bundar.
  22. Yahya Alaydrus Yang mendamping Bung Hatta dalam konferensi Meja Bundar.
  23. Faraj bin Said Awad Martaq, Saudagar Besar dan Pembeli rumah di jalan Pegangsaan Timur No 56, untuk kemudian diserahkan kepada Bung Karno.
  24. Ali Gathmyr, Perintis Kemerdekaan, Ketua DPR Tingkat I Sumatra Selatan.
  25. Salim Ali Maskati, Tokoh Perintis Kemerdekaan, tokoh pejuang PAI (Partai Arab Indonesia), merupakan mentor dari AR Baswedan dalam bidang tulis menulis, wartawan Indonesia keturunan Arab pertama. Salah satu karyanya adalah “Indonesia Tumpah Darahku”. Merupakan pelanjut majalah Zaman Baroe.
  26. Mr. Hamid Al Qadri, Politikus, Tokoh Nasionalis, Perintis Kemerdekaan dan Sejarawan, anggota BPKNIP.
  27. Ustadz Husein bin Abu Bakar AL Habsyi, Aktivis Masyumi, Pejuang dan Ulama dari Surabaya.
  28. Abdullah bin Husein Alaidrus, ketua Jamiatul Khoir Yang selalu ikut rapat-rapat Syarikat Islam.
  29. Abdullah Salim Basalamah, ketua DPR DKI (1955 – 1956.)
  30. Saleh Sungkar, Ketua DPR Lombok (1955 – 1965).
  31. Husein Muthahar, Pencipta Lagu Lagu perjuangan.
  32. Said Bahresy, perintis kemerdekaan, jurnalis dan anggota PNI.
  33. Ahmad Bahmid dari NU, Anggota DPR  tahun 1950.
  34. Abu Bakar bin Harun dari Surabaya, Mahasiwa HAS (Hollanddsc Arabische Shool) dan Aktivis PAI.
  35. Abdullah Bahasuwan, Mahasiwa HAS (Hollanddsc Arabische Shool) dan Aktivis PAI.
  36. Zein Bin Yahya, pengurus, Pengurus Besar PAI dan Mahasiswa  Sekolah Tinggi Hukum Jakarta Rechtshogeschool) tahun 1937.
  37. Anwar Makarim, Staf Redaktur Majalah Insyaf, Pengurus Partai PAI dan Mahasiwa Sekolah Tinggi Hukum Jakarta (Rechtshogeschool) tahun 1937.
  38. Mahdar bin Syekh Abu bakar, Komite Politik Kalangan Arab, respon terhadap perjanjian ‘renville”
  39. Hud Alaydrus, Komite Politik Kalangan Arab, respon terhadap perjanjian ‘renville”
  40. Saleh Abdul Aziz, Komite Politik Kalangan Arab, respon terhadap perjanjian ‘renville”

  1. Golongan Pembaharu Islam
  1. Syekh Ahmad Surkati, sekalipun beliau berasal dari Sudan tapi nasabnya berasal dari sahabat Anshor di Madinah.
  2. Al-Habib Abdullah bin Alwi Al Attas, Pemuka Gerakan Pan Islamisme, pernah mengirim 4 orang putranya ke Sekolah Tinggi Turki, Wafat 1928.

  1. Golongan Politikus Era Tahun 90an hingga sekarang
  1. Nurhayati Assegaf, politikus senior Partai Demokrat.
  2. Jakfar Bajeber, tokoh politik PPP & PBR, pimpinan DPRD
  3. Zain Bajeber, tokoh PPP dari Sulawesi Utara.
  4. Muhsin Bafadal, anggota DPR pusat dari PPP.
  5. Nabil Musawa, Anggota DPR PKS.
  6. Agus Abu Bakar Al Habsyi dari Partai Demokrat
  7. Habib Mahdi bin Abdurrahman Al Attas, Ketua Bidang Agama DPP Partai Gerindra.
  8. Said Abdullah bin Abdullah Syekhan Baqraf dari PDIP, Anggota DPR RI,  Politisi Senior dan berpengalaman  dari Sumenep Madura.
  9. Sayuti Asy-Syatri, Dulu pernah aktif di PAN dan kemudian di PDK.
  10. Abu Bakar Al Habsyi, PKS Komsisi III
  11. Isa Mahdi Al Habsyi, DPRD Jember.
  12. Ahmad Husein Alaydrus, Partai Demokrat.

  1. Golongan Pendidik, Akedemisi, Cendikiawan
  1. Awal Syahbal, Pendiri HAS (Holland Arabe School), 1930 – 1940, Penganjur Pendidikan Modern.
  2. Abdul Kadir Assegaf, Penganjur Pendidikan Modern.
  3. Abdullah Bahasuwan, pendiri Holland Arabiche School (1940).
  4. Abu Bakar Shihab, Penganjur Pendidikan Modern.
  5. Prof. Dr. Achmad Bachmid, Guru Besar Dalam Bidang Sastra dan Kebudayaan Arab UIN Syahid.
  6. Prof. Dr. Ir. Anis Saggaf, Rektor Unersitas Sriwijaya Palembang 2015 – 2019.
  7. Prof. Dr. Ir. Muhammad Idrus Al Hamid, Guru Besar Fakultas Tehnik Universitas Indonesia
  8. Prof. Dr. Umar Shihab, Ulama (MUI).
  9. Prof. Dr. Abdullah Al Kaf, Guru Besar UIN Syahid.
  10. Dr. Umar Al Haddad MA, Dosen Fakultas Syariah UIN Syahid dan Pendiri QLC (Qur’an Learning Center  yang berada di Jalan Buncit Raya No 18 E Jakarta Selatan.
  11. Dr. Khalid Al Kaf, Pengajar QLC dan Dosen Fakultas Adab UIN Syahid.
  12. Dr. Idrus Al Kaf MA, Ketua Program Studi Jurusan Kebudayaaan UIN Raden Fattah Palembang.
  13. Dr. Abdul Qodir Al Habsyi. Dosen dan Da’i
  14. Ismail Fajri Al Attas, intelektual Muda
  15. Prof. Dr. Muhammad bin Hasan Baharun, merupakan Rektor Universitas Nasional Pasim, Ahli Pendidikan, jurnalis, pejuang Aswaja.
  16. Prof.Dr. Syekh Muhammad Naquib Al Attas, Cucu Habib Empang Bogor.
  17. Habib Hasan Baharun, Ensiklopedia Islam Berjalan Dari Gresik.
  18. Dr. Syekhan Shahab, Pendiri Universitas Islam Azzahra Kampung Melayu Jakarta Selatan,

  1. Golongan Pemerintahan
  1. Prof. Dr. Fuad Hasan, Menteri Pendidikan zaman zaman Pak Harto.
  2. Ali Al Attas, Menteri Luar Negeri Zaman Pak Harto.
  3. Dr. Fuad Bawazir, Menteri Keuangan Zaman Pak Harto.
  4. Dr. Alwi Shihab, Menteri Luar Negeri Gus Dur.
  5. Prof. Dr. Quraish Shihab, Menteri Agama dan Ahli Tafsir Indonesia, Menteri Agama
  6. Prof. Dr. Said Agil Husein Al Munawar, Menteri Agama Zaman Pak Harto.
  7. Mar’i Muhammad, Menteri Zaman Pak Harto.
  8. Nabil Makarim, Menteri Lingkungan Hidup.
  9. Dr. Salim Segaf Al Jufri, Menteri Sosial.
  10. Fadel Muhammad Al Hadar, Menteri Kelautan, Gubernur Gorontalo dan Politikus Partai Golkar.
  11. Dr. Anis Baswedan, Menteri Pendidikan.
  12. Prof. Dr. Muhammad Al Hamid, ketua Bawaslu.
  13. Abdul Qodir Basalamah, Dirjen Haji.
  14. Hamid Al Hadi,  Diplomat Senior Deplu.
  15. M. Alaydrus, Duta Besar Tunisia.
  16. Saleh Afif, Menteri Perindustrian Era Pak Harto
  17. Lutfi Hamid Syekbubakar, Komisaris PLN, “Profesor” Olahraga Bulu Tangkis
  18. Dr. H. M. Basyir Ahmad Syawie , Walikota Pekalongan.
  19. Said Assagaf, Gubernur Maluku.

  1. Golongan Sejarawan & Budayawan
  1. Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf, merupakan Pejuang, Reformer Pendidikan, Ahli Nasab, dan Sejarawan Alawiyyin yang menulis kitab Khidmatul Asyirah (kitab ringkasan sejarah nasab Bani Ba’alawi yang bersumber dari Kitab Syamsu Zahirah), beliau juga menulis tentang Sejarah Banten dan tentang konsep-konsep pendidikan.
  2. Sayyid Muhammad bin Hasyim, merupakan seorang Satrawan, Penyair, editor majalah Al Bashir, majalah berbahasa Arab pertama di Hindia Belanda dan Hadramaut Courant.
  3. Des Alwi, Sejarawan Indonesia dari Banda Naira, Anak Angkat Bung Hatta.
  4. Prof. Dr. Yasmin Shahab, Budayawan dan Sejarawan Jakarta.
  5. H.M.H. Alhamid Al Husaini,  Ulama, Sejarawan Islam dan Ahlul Bait Indonesia.
  6. Dr.Haji A. Majid Hasan Bahafdullah, sejarawan dan Ahli Hadramaut.
  7. Dr. Hilmi Bakar Al Mascaty, Sejarawan Aceh.
  8. Abdul Qodir Maula Dawilah, Sejarawan Alawiyin
  9. Muhammad Al Baqir, Sejarawan Alawiyyin dan peneliti Ahlul Bait.
  10. Dr. Idrus Al Mashyur, Sejarawan dan Ahli Nasab Rabithah Alawiyah, Lembaga yang mendata dan mensensus keturunan Alawiyyin yang ada di Indonesia.

  1. Golongan Olahragawan
  1. Muhammad Zein Al Haddad, Pelatih Sepak Bola Persebaya.
  2. Shehan Saleh Al Habsyi, Pelatih kawakan Karate (Guru Besar Lemkari) Pemegang DAN V.
  3. Helmi Sungkar, Pembalap Mobil.
  4. Rifat Sungkar, Pembalap mobil.
  5. Sutan Harhara, pesepakbola legendaries.
  6. Aun Harhara, Pesepakbola
  7. Salim Alaydrus, pesepakbola
  8. Rossy Syekhbubakar, Atlet Tenis Meja Nasional
  9. Irfan Bachdim, pesepakbola
  10. Rudi Bahalwan, pesepakbola.
  11. Haidar Al Junaid, Atlet Futsal Nasional.
  12. Mahdi Fahri Al Bar, Pesepakbola
  13. Jamal Attamimi salah satu tokoh sepakbola Indonesia.

  1. Golongan Seniman Dan Pelaku Sineas
  1. Syekh bin Abdullah Al Bar, pemain gambus legendaries pada tahun 1920 – 1930an, pernah dikagumi oleh pers Libanon dan dijuluki pemusik gambus terbaik di Timur Tengah, merupakan ayah dari Ahmad Al Bar Vokali Grup Rock Legendaris, God Bless.
  2. Sa’diah Al Bar, Seniman wanita Jakarta era tahun 1950an.
  3. Alwi.A.S (Alwi Alaidrus), Aktor Senior (pemeran Pak Lurah dalam film Masa Depan di TVRI).
  4. Alwi Oslan (Alwi Al habsyi),Aktor senior tahun 60 dan 70an.
  5. Ahmad Al Bar (Iyek), Vokali Grup Musik Legendaris God Bless
  6. Muhsin Al Attas, Penyanyi.
  7. Fahmi Shahab Penyanyi.
  8. Syekh Abidin Al Jufri, Drumer Band Rock Legendaris AKA dari Surabaya
  9. Amak Baljoun, Aktor watak
  10. AN Alcaff/Alkaf, Aktor watak
  11. Bing Slamet/Ahmad Syekh Al Bar, Pelawak Legendaris.
  12. Alwi Shahab, Sejarawan Jakarta
  13. Ali Shahab, Sutradara.
  14. Mubarellah Ali Sungkar (Mark Sungkar), Aktor.
  15. Amang Rahman Zubair, kritikus Sastra dan pelukis sufistik.
  16. Omar Olly Alaudrus,
  17. Fauzi Baadila, Artis.
  18. Hadad Alwi, Penyanyi religi.
  19. Husein Bawafie, Penyanyi dan pencipta lagi Melayu.
  20. Fuad Hassan, Drumer Terbaik pada masanya, anggota Grup Musik God Bless
  21. Rama Aiphama (Hasan Alaidrus), penyanyi.
  22. Fuad Baraja, Aktor, Aktifis anti  rokok.
  23. Munif Bahasuan, Pencipta dan penyanyi  legendaries musik melayu
  24. Muhammad Masyhabi, Pencipta lagu melayu
  25. Said Effendi/Said Arrasyidi, Penyanyi Legendaris & pencipta lagu melayu terkenal.
  26. Umar Fauzi Aseran, Pendiri Orkes Melayu Modern
  27. Said Kelana Bawazir, Musikus Jazz.
  28. Hamdan At Tamimi, Penyanyi Dangdut.
  29. Risyad Karim, Aktor Senior
  30. Ali Zaenal Abidin Shahab, Aktor.
  31. Sakdiah Ma’ruf, Komedian Stand Up Comedy
  32. Iskandar Wijaya Hadar, Pemain Biola Internasional.
  33. Fuad Al Khar, Pemeran Pertama Wan Abud.
  34. Hussein Al Attas, Runer Up Indonesian Idol 2015.
  35. Saleh Husein Bawa, gitaris White Shoes And The Couples Company dan juga seniman.
  36. Alex Abdullah Abbad, VJ MTV dan Comedian Stand Up Comedi.
  37. Fatima Vanesa Al Habsyi, Model Majalah Go Girl.
  38. Naila Alatas, model.
  39. Nabila Syakib, Artis
  40. Ali Syakib, Aktor
  41. Opet Al Attas, mantan Drumer Gigi.
  42. Awab Adam Jordan, Aktor.
  43. Saleh Ali Bawazir, pemeran sitkom Bajay Bajuri.
  44. Ibrahim Al Katiri (Baim), Artis Cilik

  1. Golongan Aktifis dan Pergerakan
  1. Munir Said Thalib, Pejuang HAM Indonesia (tewas diracun).
  2. Muhammad Ikbal Assegaf (Ketua PB Anshor 1995 – 1999).
  3. Said Fahrul Barakbah, tokoh kiri Kaltim era tahun 60an.
  4. Ivan Abu Bakar Hadar,  Pejuang Kemanusiaan dan peradaban, aktivis Mahasiswa, tokoh Maluku Utara, Mantan Wartawan Jakarta Post Dan Media IndonesIA, Sosiolog.
  5. Wanda Hamidah Syekbubakar, Politikus PAN, aktifis 98.
  6. Itje Khadijah, Aktivis dan Praktisi Pendidikan Nasional dan International.
  7. Annas Alamudi, Aktivis 98,
  8. Abdullah Al Jufri, Pegiat LSM.
  9. Hamid Basyaib – Aktifis JIL (Jaringan Islam Liberal).
  10. Thaha Al Hamid, tokoh Papua (Sekjen OPM).
  11. Awab bin Muhammad Nahdi, tokoh pemuda pendobrak kultur di Kalibata.
  12. Faisal Assegaf, Progres 98.

  1. Golongan Penulis, Sastrawan. ilmuwan & Peneliti
  1. Muhammad Balfas, Sastrawan  Angkatan 45.
  2. Salim Bahresyi, penulis dan penerjemah kitab-kitab agama.
  3. Agus Rahmad Sarjono/Faisal Baisya, penyair dan penulis.
  4. Agil Abdullah Al Batati, penulis
  5. Zeffry Al Katiri, Sejarawan dan penulis
  6. Mansyur Al Katiri, penulis artikel pada beberapa media besar.
  7. Dr. Haidar Baqir (pemilik Mizan).
  8. Hasan Bahanan, pengamat masalah keturunan Arab.
  9. Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis Shahab M.Met, Rektor UI Tahun 2014 - 2019
  10. Dr. Muhammad Yusuf Alamudi, peneliti dari Universitas Airlangga.
  11. Dr. Taufik Bawazir, Doktor Ilmu Politik UI.
  12. Profesor Zaki Baridwan, Dosen Senior Unibraw Malang.
  13. Dr. Ir. Muhammad Faidz Syuaib, Dari Program Recognition and Mentoring Institut Pertanian Bogor (RAMP-IPB).
  14. Dr. Anwar Alaydrus, MM. Dosen Ilmu Sosial Politik Universitas Mulawarman Samarinda. 
  15. Nabil A. Karim Hazaye’, penulis dan penyusun biografi tokoh Abdurrahman Baswedan.
  16. Taufik Alwi Syekhbubakar, ketua STIKOM CKI/Sesprp Pascasarjana IMNI Jakarta.
  17. Dr. Muhsin Labib. Dosen UIN dan Penulis di Blog.
  18. Ben Shohib/Ali Shahab, penulis novel The Da Peci Code.
  19. Dr. Muhammad Muchdor Al Hamid, Cendikiawan Muslim dari Makassar.
  20. Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, penulis produktif Sejarah, Agama.
  21. Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, penulis muda Produktif.
  22. Smith Al Haddar, Penasehat Ismes, Staf Ali Institute For Democrazy Education (IDE), pengamat Timur Tengah.
  23. Syadiq Badri Assegaf, Konsultan Komunikasi Bidang Pengembangan Cabang Perhumas.

  1. Golongan Penggiat Ormas, Organisasi & Lembaga Keagamaan, Ormas Umum/Pelajar/Mahasiswa/Alumni, & Yasayan
  1. Al Habib Zein bin Smith, Ketua Rabithah Alawiyah, Lembaga Yang mensensus data-data keturunan Alawiyyin yang ada di Indonesia dan sekitarnya.
  2. Habib Riziq Shihab, Ketua Front Pembela Islam.
  3. Geys Ammar Ketua Umum Al Irsyad
  4. KH Abdullah Jaidi, Ketua Umum Al Irsyad 2006 - 2011
  5. Husein Al Habsyi, Pendiri Ikhwanul Muslimin Indonesia
  6. Abdullah Baraja, Pendiri Pesantren Al Mu’min.
  7. Yahya Assegaf, Pembina Forum Silaturahmi Hadrami Indonesia.
  8. Muhammad Ridwan bin Abdurrahman Al Jufri, Ketua Umum Forum Alumni Al Azhar Cairo.
  9. Yusuf Usman Baisya, Pendiri Yayasan As-Sunnah Cirebon Jawa Barat.
  10. Salim Bajrei, pemimpin Yayasan As-Sunnah Cirebon Jawa Barat.
  11. Yayasan Ulil Albab di Lampung, Sukabumi dan Bogor yang diketuai Yazid Jawaz.
  12. Hasyim bin Salim Al-Hilabi, Anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi DKI Jakarta.
  13. Al Ustadz Abdurrahman Abubakar Bahmid LC, Ketua MUI Gorontalo.
  14. Dr. Khalid Basalamah Lc, MA,  dari Divisi Fatwa dan Pengkajian MUI Jakarta.
  15. Dr. HS Aqil Al Attas, Ketua Yayasan Pendidikan Jamiatul Ittihad Wa Muawwana, Makasar.
  16. Dr. Muhsin Bin Ahmad Al Attas, Penasehat MUI Depok, Ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama Depok, Presiden Laskar Anti Korupsi Pejuang 45 (Laki P 45), Sekjen FPI.
  17. Buya Abubakar bin Zein Al Habsyi, Ketua Annas Jakarta,
  18. Syarif Jakfar Baraja, Yayasan Muallaf Center.
  19. KH Abdul Karim Makarim, Ketua MUI Kupang NTB
  20. KH Hasan Makarim, Rohaniawan Penjara Nusakambangan, Ketua MUI Cilacap, penyebar Islam di Nusakambangan.
  21. Habib Muhammad bin Ahmad Al Attas, Yayasan Darul Mustofa, bergerak dibidang sosial, pendidikan dan keagamaan
  22. Jakfar Umar Thalib, Pendiri Laskar Ahlussunnah Wal Jama’ah.
  23. Abdullah Sungkar, Pendiri Jamaah Islamiah.
  24. Abu Bakar Baasyir, pendiri Jamaah Islamiah.
  25. Hisyam Bawazir/Umar Patek, tokoh militant.

  1. Golongan Penggiat Hukum
1.       Nono Anwar Makarim, Ahli hukum, pengacara. Bekas  Pemimpin Redaksi Harian KAMI
2.       Muhammad Assegaf SH, pengacara Senior.
3.       Malik Bawazir, Ahli hukum, pengacara.


  1. Golongan Kreativitas & Usahawan
1.       Maher Al Gadri, Pengusaha Pendiri Perusahaan Kodel
2.       Gamal Al Binsaid, pencetus bank sampah di Malang)
3.       Nadim Makarim, Pendiri GO JEK
4.       Thohir Al Qadri, Pengusaha
5.       Ir. Ahmad Al Ganis, Pengusaha.
6.       Soleh Jamalullail,
7.       Fathy F Bahanan, mahasiswa FTP Unibraw yang menemukan beras tiruan

O.     Golongan Militer & Polisi

  1. Zaki Anwar Makarim (Mayor Jenderal AD), Ketua BIAS.
  2. Prof. Dr. Irjen. Muhammad Faruk, Gubernur PTIK.

  1. Golongan Praktisi dan Penggiat Kesehatan
  1. Prof.Dr.  Husein Al Attas, Sp.A, praktek Pribadi dn Praktek di RSIA Evasari dan di Cempaka Putih, Guru Besar tetap yang mengajar di FKUI.
  2. Prof. Dr. dr Idrus Alwi Shahab SpPD KKV FECS FACC, meraih spesialisasi di bidang kardiovaskular. Beliau anak Ibu Nafisah Ahmad Zen Shahab dan Alwi Idrus Shahab dari Palembang yang terkenal karena 10 anaknya jadi Dokter, Luar Biasa !!!
  3. Drg. Farida Alwi menekuni bidang spesialisasi gigi,  (Adik dari Prof Idrus Alwi Shahab dari Palembang).
  4. dr. Shahabiyah MMR menjadi Dirut RSU Islam Harapan Anda di Tegal, (Adik dari Prof. Idrus Alwi Shahab dari Palembang).
  5. dr Muhammad Syafiq SpPD, spesialis penyakit dalam; (Adik dari Prof Idrus Alwi Shahab dari Palembang).
  6. dr. Suraiyah SpA (spesialisasi anak); (Adik dari Prof Idrus Alwi Shahab dari Palembang).
  7. dr. Nouval Shahab SpU, spesialis urologi dan sedang menempuh pendidikan untuk gelar PhD di Jepang, (Adik dari Prof Idrus Alwi Shahab dari Palembang).
  8. dr. Isa An Nagib SpOT mengambil bidang spesialisasi ortopedi, (Adik dari Prof Idrus Alwi Shahab dari Palembang).
  9. dr. Fatinah yang menjabat wakil direktur RS Ibu dan Anak Permata Hati Balikpapan, (Adik dari Prof Idrus Alwi Shahab dari Palembang).
  10. dr. Zen Firhan, dokter umum di Balai Pengobatan Depok Medical Service dan Sawangan Medical Center (Adik dari Prof Idrus Alwi Shahab dari Palembang)
  11. dr. Nur Dalilah, dokter umum di RS Permata Cibubur, (Adik dari Prof Idrus Alwi Shahab dari Palembang).
  12. Dr. Muhammad Ali Toha Assegaf, Praktisi Kedokteran Ala Nabi, Pendiri Rumah Sehat Afiat.
  13. dr. Haidar Abdullah Bawazir Sp.PD, Ahli penyakit dalam yang juga aktivis dakwah, praktek di RS QADR Tangerang Banten.
  14. Dr. Fachmi Shahab, Dokter senior yang praktek di Jalan Kebun Kacang IV Tanah Abang Jakarta.
  15. Dr. Muhammad Hadad, Dokter Spesialis anak angkatan 66, tinggal di Jalan Bangka Jakarta Selatan.
  16. Dr. Hasan Shahab, S.PM, Dokter Spesialis Mata dari Rumah Sakit Permata Cibubur Jakart Timur.
  17. Dr. M.K. Shahab, Spesialis Mata dan merupakan Dokter Senior, praktek di Jalan Dewi Sartika No 115 Cawang Jakarta Timur.
  18. Dr. Mustafa Kamil Shahab, Oftalmologi dari Rumah Sakit Sukanto Kramat Jati Jakarta Timur, beliau adalah orang tua dari artiz Zee Zee Shahab.
  19. Dr. Abdullah Segaf Al Haddad, Dokter Umum di Surabaya Alumni Airlangga.
  20. dr. Hasan Ali Al Habsyi, Dokter Umum dari Lulusan Trisakti
  21. dr. Muhammad Al Habsyi,  dari Malaria Center, Halmahera
  22. Dr. Faris Basalamah Sp.JP, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Mitra Keluarga  Bekasi.
  23. Dr. Abdullah Basalamah, Sp.OG, dokter kandungan RS Hermina Bekasi
  24. dr. Sarah Al Attas, Sp OG, Dokter Spesialis Obstetri Genekologi Rumah Sakit Bunda Aliyah Jakarta.
  25. dr. Rizal Alaydrus, Pakar Support Nutrisi, Pemenang L Men Year 2012, pemain film garuda superhero
  26. dr. Ali Alattas, merupakan dokter muda yang inspiratif, sekarang kuliah menjalani program KOAS di  RSUP Fatmawati.
  27. dr. Hisyam Attamimi, Ahli Jantung dan Pembuluh Darah dari RSU Kraton, Pekalongan.
  28. dr. Abbas Thalib, dokter dari Pasuruan (Mertua DR. Hidayat Nurwahid)
  29. dr. Diana Abbas Thalib, dokter dan direktur RS Ibu dan Anak Bunda Aliyah Pondok Indah Jakarta (Istri Mantan Ketua MPR, Hidayat Nurwahid).
  30. dr. Fatima Safira Al Attas, Ph.D, S.PA, Dosen FK UI, Sistem Informasi Lab Riset dan Pengabdian Masyarakat.
  31. Dr Jasmin Thalib, Sp. KK, dokter spesialis kulit kelamin, Sidoarjo, Surabaya.
  32. Dr. dr. Lucky Aziza Bawazir, Sp.DD – KGH, Staf Divisi Ginjal Hipertensi, FKUI – RSCM.
  33. Dr. Fauzi Ahmad Al Katiri, praktek di Gedung Bidakara Medical Lantai Dasar.
  34. Dr. dr. Ali Sungkar Sp.OG, Dosen UI dan dokter Kandungan RS Pondok Indah.
  35. Dr. Harun Al Bar Sp.A, dokter RS Medika Permata HIjau Jakarta Selatan.
  36. dr. Muhammad fahrizal Al Hamid, dokter umum di Pekanbaru Riau.
  37. dr. Idrus Al Jufri, dokter di jalan condet raya Jakarta Timur.
  38. dr. Farida Al Hasni, general Praktioner, Manado.
  39. dr. Muhammad bin Sholeh bin Salim bin Abdurrahman Al Jufri, penulis buku HIjamah Dilihat Dari Segi Sains dan Kedokteran Modern.
  40. dr. Saleh Al Jufri
  41. dr. Soraya Al Jufri, SPOG
  42. dr. Munira Al Jufri
  43. dr. Afaf Aqil Munawar, Spesialis Kulit Kelamin.

  1. Golongan Wartawan, Jurnalis Dan Pertelevisian
  1. Harun Musawa, Wartawan Senior Majalah Tempo, Pendiri Majalah Al Kisah.
  2. Prof.Dr. Salim Said, Wartawan Senior dan Pengamat Militer.
  3. Fikri Al Jufri, Wapemred Tempo.
  4. Jakfar Assegaf, wartawan Senior.
  5. Safira Bawazir, presenter Stasiun TV NET.
  6. Najwa Shihab, presenter Metro TV.
  7. Rahma Sarita Al Jufri, Presenter Nasional
  8. Fessy Alwi Assegaf, Presenter Metro TV
  9. Ziza Hamzah, Presenter

  1. Golongan Penerjemah
  1. Ali Audah (bin Salim), Penerjemah tangguh buku buku bahasa Arab, Sastrawan yang dikagumi, Legenda yang cukup mendapat apresiasi para penulis dan penyair kawakan di negeri ini. Tahun 1961-1978 Ali Audah mengajar agama Islam di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Selanjutnya, ia menjadi ketua Himpunan Penerjemah Indonesia dan menjadi Dewan Redaksi majalah Horison, serta menjadi dosen Humaniora di Institut Pertanian Bogor (IPB).
  2. Husein Shahab, penerjemah bahasa Ingris yang sering mendampingi Syekh Hisyam Kabbani, diakui cara penterjemahannya sekalipun materi yang diberikan Syekh Hisyam mencakup materi yang sulit.
  3. Abdullah Sholeh Ali Al Hadrami, penerjemah Imam Besar Masjidil Haram Mekkah, Syaikh Abdur Rahman As-Sudais dan Imam Besar Masjid Nabawi Madinah, Syaikh Shalah Al-Budair ketika kunjungan resmi kenegaraan di Malang Jawa Timur, beliau juga banyak menyandang berbagai jabatan.
  4. Husein Muhammad BSA, Penerjemah Arab Inggris, Condet Raya Jakarta Timur.

  1. Orang-orang yang  kami “indikasikan” memiliki tautan darah Arab

  1. Prof.Dr. Husein Haikal MA, Guru Besar UNY Jogya, Rektor Universitas Pekalongan 2004 – 2009 (masih dalam pendalaman, dikarenakan bio data belum secara terbuka menyatakan dirinya keturunan Arab). Muhammad Husein Haikal, Jurnalis Tangguh dari Harian Bisnis Indonesia, anak dari Prof. Dr. Husein Haikal MA (masih dalam pendalaman)
  2. KH Ali Yafie, (bila melihat nama terakhir beliau, itu adalah salah satu Bani yang ada di Hadramaut Yaman). Kakek beliau juga terkenal sebagai ulama besar Di Masjidil Haram, kami berharap ada informasi mengenai nasab beliau ini.
  3. Camelia Malik (ibunya bernama Farida Al Hasni dari Keturunan Sayyidina Al Hasani)
  4. Abdurrahman Saleh Jaksa Agung. (kami masih belum mendapati fam yang melekat pada beliau), namun banyak yang mengatakan jika beliau adalah keturunan Arab
  5. Marsekal Saleh Basarah (Basyahroh?), Mantan KSAU (Kepala Staf Angkatan Udara), masih dalam penelitian dan kami belum berani mencantumkan dikarenakan minimnya informasi tentang ayah atau kakek beliau ini.
  6. Dr. Lula Kamal, (ibunya dari Klan Bawazir), Artis dan dokter.
  7. Eza Yayang (pemeran Rozak dalam sinetron Tukang Ojek), ibunya dari Klan Assegaf.
  8. Viergiawan Listanto (Iwan Fals), ibunya berdarah Arab bermarga Abdat, bahkan pada waktu kecil Iwan Fals pernah tinggal di Jeddah mengikuti salah satu saudara orangtuanya yang tidak punya anak.

Adanya fakta  keberadaan tokoh-tokoh keturunan diatas yang sebagian besar sudah kami pelajari biografinya ini jelas menunjukkan jika tuduhan yang selama ini dilontarkan oleh mereka yang fobia terhadap Arab adalah salah kaprah dan terlalu prematur. Jelas tuduhan mereka yang fobia Arab itu terlalu dipaksakan dan terkesan bertujuan untuk menjatuhkan orang Arab melalui pembunuhan karakter. Arab yang ada di Indonesia, adalah Arab yang sudah nasionalis atau sudah berjiwa Indonesia. Kalau ada orang Arab di Indonesia berperilaku exktrim, itu bukanlah gambaran umum orang Arab Indonesia. Justru bila ada orang Arab yang berperilaku extrim, Sebagian besar orang Arab lainnya merasa gelisah dan khawatir mereka terkena imbanya. Jangan dikira mereka yang sebagian besar itu tidak galau jika mendengar ada sebagian kecil orang Arab yang bertindak extrim.

Fakta deretan tokoh orang Arab yang kami ungkap yang berasal dari berbagai bidang dan latar belakang ini agar mereka yang fobia Arab bisa melihat dengan jelas siapa sesungguhnya orang Arab yang ada di Indonesia itu. Kami sengaja menulis semua tokoh, mulai yang dari konservatif, moderat, kontroversi sampai yang extrim, mulai yang mempunyai pemahaman “kiri sampai kanan mulai dari tokoh agama sampai tokoh sekuler, semua kami tulis dengan sangat terbuka. Hitunglah berapa banyak yang orang Arab yang extrim atau mempunyai pemahaman “anti mainstream”,  hitung pula berapa banyak orang Arab keturunan sudah yang berjasa pada bangsa ini, hitung pula berapa banyak kiprah mereka  yang ada di berbagai bidang dibanding dengan orang-orang Arab yang katanya “bermasalah”. Jumlah diatas yang kami tulis ini belumlah seberapa dan belum mewakili orang-orang Arab yang sukses dan menjadi tokoh-tokoh di negeri ini, masih banyak lagi sebenarnya mereka itu, hanya karena keterbatasan waktu kami saja yang belum sempat mendata mereka..

Ingatlah dulu betapa orang Arab juga punya sikap nasionalis yang tinggi disaat negeri ini dijajah oleh Belanda, mereka punya sumpah yang bernama Sumpah Pemuda Keturunan Arab yang  dicetuskan di Semarang Tanggal 3 – 4 Oktober 1934 yang berbunyi :

  1. Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia (sebelumnya, mereka merasa bertanah air Yaman, negara asal mereka).
  2. Karenanya , mereka harus meninggalkan kehidupan menyendiri (isolasi).
  3. Memenuhi kewajiban terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

Satu hal yang disepakati oleh Bangsa Hadrami tersebut bahwa identitas mereka merujuk kepada tanah air, juga telah membedakan mereka dari masyarakat Asia Tenggara lainnya. Studi  studi mengenai usaha bangsa Vietnam, Birma dan Melayu untuk menegaskan kembali Identitas mereka selama periode diatas tersebut menunjukkan bahwa “ras” atau masyarakat menjadi dasar yang penting untuk menyatakan batas-batas identitas. Proses yang sama terjadi pada masyarakat Indonesia pribumi.

Secara Keseluruhan masyarakat Arab Hadramaut pasca perang dunia ke II mengakui bahwa mereka adalah bangsa Indonesia dengan percepatan yang luar biasa. Hamid Al Qadri menyatakan bahwa penggabungan bangsa Arab Hadramaut ke dalam negara Indonesia modern hanya merupakan keberlanjutan proses asimilasi yang berjalan lama, yang secara singkat terpecah karena gangguan  penguasa colonial Belanda dan pelaksanaan kebijakan seperti Passenstelsel dan Wijkenstelsel. Pola ini menganggap dengan sangat remeh ruang kompleksitas perubahan social dari idiologis yang terjadi pada bangsa Indonesia sejak awal abad keduapuluh. Tokoh-tokoh kebangkitan mereka meletakkan prinsip-prinsip untuk melakukan “Indonesianisasi” Kaum Arab Hadramaut pasca Arab. Keinginan mereka untuk berubah sehubungan dengan keadaan lingkungan yang berubah, kemampuan mereka untuk memperkirakan sejumlah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok mengenai siapakah mereka dan termasuk bangsa apakah mereka, dan sensitivitas mereka terhadap perubahan idiologis dalam masyarakatnya dengan batas-batas yang dimilikinya sehingga mereka menemukan jati dirinya, merupakan gambaran tradisi intelektual yang hidup dan ini menjelakan mudahnya mereka menyesuaikan diri dalam zaman yang diwariskan dan dilestarikan oleh bangsa Arab Hadramaut Indonesia generasi paska kemerdekaan..

Wallahu A’lam Bisshowwab...

Sumber :

Iwan Mahmud Al-Fattah. Sejarah Dan Sumbangsih Orang Arab Di Indonesia (Meluruskan Pemahaman Yang Salah Tentang  Arab Keturunan), Jakarta : Madawis & Ikrafa, hlm 60 – 72, 2016.

Catatan :

1.    Bagi yang ingin Copi Paste harap disebutkan penulis dan link websitenya, hal ini semata-mata untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan untuk menghargai sebuah karya intelektual.

2.       Nama-nama diatas tersebut sudah melalui riset dan penyelusuran yang mendalam, namun apabila masih ditemukan beberapa nama yang perlu dikaji ulang, maka penulis dengan senang hati merima kritik dan saran..

Biografi Penulis :

  1. Ketua Umum Ikrafa (Ikatan Keturunan Raden Fattah Azmatkhan)
  2. Ketua Bidang Sejarah dan Penelitian Nasab Majelis Dakwah Walisongo.
  3. Anggota Jamiiyah Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani di Jakarta Pusat
  4. Anggota Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri
  5. Anggota KSR PMI Jakarta Selatan.
  6. Guru SMA di Jakarta.
  7. Dll.
Adapun nasab kedua orangnya adalah sebagai berikut :

1. Jalur Ayahnya keturunan dari Arya Penangsang/Sayyid Husein bin Pangeran Sekar Seda Lepen/Raden Bagus Sayyid Ali bin Raden Fattah/Sayyid Hasan Azmatkhan Al Husaini (Pendiri Kesultanan Islam Pertama di Jawa)

2. Jalur Ibunya adalah keturunan dari Sunan Prawoto/Raden Bagus Mukmin bin Sultan Trenggono/Sultan Ahmad Abdul Arifin/Sayyid Abdurrahman bin Raden Fattah/Sayyid Hasan Azmatkhan Al Husaini (Pendiri Kesultanan Islam Pertama di Jawa.

3. Beberapa tautan nasab, terutama dari istri para  leluhurnya juga terdapat nama keturunan dari  Fattahillah, Sunan Kudus, Sunan Ampel.

Selasa, 26 Januari 2016

WASIAT, NASEHAT DAN AJARAN ARIA JIPANG/ARIA PENANGSANG KEPADA RAKYAT JAYAKARTA (1540 - 1546)

WASIAT ARIA JIPANG KEPADA RAKYAT JAYAKARTA

  1. Tidak Pemarah
  2. Tidak Banyak Bicara
  3. Adil Dan Bijaksana
  4. Menurunkan sesuatu yang baik
  5. Budi Pekerti Terpuji Dan Jujur
  6. Menghindarkan diri dari segala macam pertengkaran
  7. Berpendirian Teguh
  8. Membela siapa yang wajib dibela

NASEHAT DAN AJARAN ARIA JIPANG
  1. Sebarkan Ajaran Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
  2. Turuti perilaku Walisongo, diantaranya puasa untuk menahan hawa nafsu, karena hawa nafsu lebih banyak batilnya.
  3. Laksanakan Perintah Guru Ratu Pangatur Akur (Pemelihara Kedamaian).
  4. Laksanakan Wasiat Al Haj Fattahillah.
  5. Bela Hak Bagi Warga Kaum (Rakyat pribumi).
  6. Panggilah dia dengan kedudukannya.
  7. Sabar Menerima Cobaan.

Sumber :

KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, Kitab Al Fatawi (Silsilatul Syar’i), Palembang: Penerbit Majelis Adat Al Fatawi Jayakarta, 1910, hlm 54.

Keterangan :

Aria Jipang nama lainnya adalah Aria Penangsang (Sayyid Husein) bin Pangeran Sekar Seda Lepen (Sayyid Ali) bin Raden Fattah (Sayyid Hasan), beliau pada tahun 1540 Masehi pernah menjadi Mangkubumi pada pemerintahan Hikmah Jumhuriah Jayakarta yang dipimpin Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Pada masa Aria Jipang ini Jayakarta mengalami puncak kejayaan. Islam berkembang dengan pesat diberbagai wilayah Jayakarta. Islam yang berkembang adalah Islamnya Walisongo dan Kesultanan Demak yang menganut faham Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Ketika itu Maulana Hasanuddin menjabat sebagai Pangeran Ratu Jayakarta Yang Pertama. Maulana Hasanuddin menjabat dari tahun 1527 s/d 1552 M. Di tahun 1552 Masehi  Maulana Hasanuddin Banten diangkat menjadi Sultan Banten Pertama dan bersamaan dengan itu Banten juga memerdekakan diri dan independen dari Kesultanan Demak.

Keberadaan Aria Jipang di Jayakarta adalah atas mandat dari  Majelis Dakwah Walisongo dan Kesultanan Demak untuk mendampingi Fattahillah dan Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati/Syekh Syarif Hidayatullah dalam membangun kota Jayakarta yang kini bernama Jakarta. Jayakarta pada waktu itu membutuhkan orang-orang yang ahli dalam bidang pemerintahan dan juga militer. Dari sekian banyak putera-putera Kesultanan Demak, Sultan Trenggono/Sultan Demak III mempercayakan keponakan tercintanya itu untuk membenahi wilayah Jayakarta.  

Pasca dilantiknya Maulana Hasanuddin Banten menjadi Sultan, negeri Jayakarta menjadi wilayah kekuasaan Banten. Namun hubungan antara keturunan Banten dan keturunan Demak masih tetap terjalin dengan baik. Pengganti selanjutnya dari Maulana Hasanuddin adalah Pangeran Wijayakusuma dengan gelar Pangeran Wijayakrama yang makamnya ada di jalan raya Tubagus Angke. Keberadaan keluarga Demak tidak berhenti sekalipun Aria Penangsang telah hijrah ke Palembang untuk memperdalam dunia “makrifatnya”. Aria Penangsang sama sekali tidak tewas di Jipang Panolan seperti diceritakan pada babad tanah jawi, justru dia hijrah ke Komering dan Palembang dengan aman bahkan diketahui oleh keluarga besar Kesultanan Demak. Keturunan Aria Jipang atau Aria Penangsang bersama dengan keturunan Banten, Demak, Mataram bahu membahu dalam melakukan perjuangan melawan penjajah Portugis, Belanda.

Sampai saat ini beberapa keturunan Aria Jipang telah ikut mewarnai perjalanan kota Jayakarta, seperti Raden Ateng Kertadria (Pahlawan Perang Pecah Kulit),  Pangeran Papak (Pangeran Ahmad Muhammad/Wangsa Muhammad, hijrah ke Garut karena dikejar Belanda) Aria Wiratanudatar (hijrah karena dikejar Belanda ke Cianjur dan kemudian menjadi Adipati Cianjur), Datuk Kidam Kayu Putih (Pendiri Pondok Pesantren di Kayu Putih Jakarta Timur), Syekh Junaid Al Batawi (Maha Guru Ulama Mekkah), Syekh Mujtaba Al Batawi (Ulama Betawi Karismatik), Syekh Abdul Ghoni Mertakusuma (Mufti Betawi Pertama), Guru Mansur (Ahli Falak Betawi), KH Ahmad Syar’i Mertakusuma (pencatat Sejarah Jayakarta), Pendekar Pituan Pitulung (Pendekar Pitung). semua ini tercatat di dalam kitab Al Fatawi dan Al Mausuuah Li Ansabi Al-Imam Al-Husaini.

GELAR DATUK/DATO DALAM KHAZANAH SEJARAH JAYAKARTA

Bagi sebagian masyarakat Jakarta, untuk menghormati seorang tokoh biasanya pada nama tokoh tersebut selalu disematkan dengan sebuah gelar yang menandakan apa yang disandingkannya  tersebut sesuai dengan karakter dirinya.

Dahulu terutama pada awal-awal abad 20 jika ingin menyebut seorang ulama yang ilmunya dalam, di Jakarta selalu disematkan dengan  gelar GURU. 

Sampai tahun 60an gelar ini masih bertahan di sebagian masyarakat Jakarta. Sayangnya pada tahun 70an hingga sekarang, gelar GURU tergantikan dengan gelar KH (Kyai Haji). Padahal dengan pemakaian gelar GURU itu, Jakarta akan memiliki ciri khas gelar tersendiri dalam bidang keagamaan, dan ini adalah bagian kearifan loKal. Coba kita tengok di Sunda dimana ada Gelar Ajengan, di Aceh, Melayu Riau, Medan ada gelar Tengku, di Jawa ada gelar Kyai, di Lombokada Tuan Guru, di Sumatra Barat ada Buya, di Madura ada Bendara, di Sukawesi ada Tofanrita, di Kalimantan Selatan ada GURU (mirip dengan Jakarta) dan masih banyak lagi gelar-gelar keagamaan lokal yang ada di bumi Nusantara ini.

Diantara mereka yang pernah mendapatkan gelar di Jakarta  misalnya Guru Mansur, Guru Romli, Guru Mughni, Guru Majid, Guru Abdullah, Guru Mahmud, Guru Marzuki, Guru Amin, Guru Riun, Guru Junaidi, Guru Cit,  Guru Alif, Guru Ending,  dan masih banyak lagi ulama-ulama Jakarta yang memakai gelar seperti ini. Tentu gelar ini bukanlah gelar sembarangan mengingat mereka yang saya sebut ini pada masanya dikenal sebagai ulama yang karismatik dan dalam ilmunya. Gelar Guru memang menandakan kalausi pemilik ilmu diakui secara budaya berdasarkan keilmuannya. Namun demikian bergesernya gelar Guru menjadi Kyai Haji memang bukan merupakan kesalahan, karena setiap kebudayaan pasti akan mengalami perkembangan. Dulu mungkin masyarakat akrab dengan panggilan Guru namun seiring berjalan waktu, title Kyai Haji itu kemudian mengambil alih kedudukan spiritual ulama-ulama Jakarta, misalnya KH Abdullah Syafi’I, KH Thohir Rohili, KH Noer Ali, KH Zayadi Muhajir, KH Nahrowi Abdussalam, KH Syafi’I Hadzami, KH Abdurrozaq Khaidir, KH Fathullah Harun, KH Sasi, KH Zaenuddin MZ, dan masih banyak lagi.

Di samping gelar GURU di Jakarta ternyata ada satu gelar yang menarik untuk dikaji, yaitu gelar DATUK/atau DATO. Pada setiap budaya di Nusantara ini, terutama Melayu, Gelar Datuk/Datu/Dato memang memiliki makna yang berbeda pada setiap daerah seperti misalnya :

1.  Ayah atau kakek
2.  Yang Dituakan
3.  Yang dipertuan

Dalam konteks sejarah Jakarta, tentu menjadi sebuah kajian yang menarik ketika gelar tersebut muncul.

Dalam konteks sejarah keluarga besar Walisongo sendiri nama Datuk kita dapat lihat pada gelar Syekh Datuk Kahfi yang ada di Cirebon, memang beliau ini ayahnya banyak bertempat tinggal di Malaka.

Berdasarkan penelitian dan wawancara saya dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan atau mereka yang mengetahui gelar ini. 

Ternyata gelar DATUK atau DATO ini diperuntukkan bagi ulama-ulama yang hidup pada era abad ke 17 – 19 Masehi. Pada wawancara saya dengan Abuya KH Rusdi Saleh (kakeknya adalah ulama besar Betawi Kampung Melayu yang pernah 11 tahun di Mekkah) di kediaman beliau Kampung Melayu Jakarta Selatan pada tahun 2013 lalu, beliau menegaskan kepada saya bahwa semua Ketua Masjid Al Atiq Kampung Melayu sejak tahun 1700san sampai akhir abad ke 19 Masehi adalah ulama-ulama yang mumpuni ilmunya. Ketua Masjid tidak boleh dijabat oleh yang bukan ulama. Dan gelar ketua masjid Al-Atiq adalah rata-rata adalah DATUK/DATO. Pengurus Masjid pertama bernama DATUK ABDUL MAJID yang merupakan ulama besar pada masanya, terutama pada kawasan Mester cornelis.

Untuk memperkuat jika gelar DATUK atau DATO ini bukan gelar sembarangan, pada tahun 2013 saya juga mengadakan wawancara dengan beberapa sesepuh yang tinggal di daerah Condet Jakarta Timur dimana disitu terdapat  makam ulama yang bernama DATUK IBRAHIM. Datuk Ibrahim ini ternyata keturunan Maulana Malik Ibrahim yang menyebarkan Islam di Condet dan sekitarnya. Beliau adalah ulama dan waliyullah yang kapasitas keilmuwannya sangat tinggi. Beberapa sesepuh seperti Haji Musa juga menegaskan jika gelar Datuk adalah gelar untuk ulama Jakarta pada masa lalu, dan mereka yang bergelar DATUK atau DATO ini bukanlah ulama sembarangan.

Masih belum puas saya juga berusaha mencari nama DATUK/DATO BiIRU yang ada di Rawa Bunga Jatinegara Jakarta Timur dan mempunyai hubungan dengan masyarakat Condet, ternyata beliau inipun seorang ulama yang Waliyullah, dinamakan BIRU karena beliau selalu memakai pakaian dan Jubah Biru.

Berdekatan dengan Condet yang berlokasi di Kelurahan Kramat Jati Jakarta Timur ada juga salah satu makam penyebar agama Islam yang bernama DATUK TONGGARA yang berasal dari Sulawesi. Besar kemungkinan beliau ini salah satu ulama dan pasukan perangnya Syekh Yusuf Makasar yang pernah singgah di Jayakarta untuk membantu perlawanan Sultan Banten dalam  menghadapi Penjajah.

Bergeser saya kearah Kayu Putih Utara Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur saya juga menemukan makam seorang ulama Jakarta tempo dulu yang bernama DATUK QIDAM, beliau adalah pendiri pertama Pesantren Kayu Putih ,beliau merupakan kakek dari Syekh Abdul Ghoni atau Wan Gani yang merupakan mufti betawi pertama sebelum Sayyid Usman bin Yahya. Datuk Qidam disamping seorang Mujahidin Jayakarta dia juga merupakan ulama yang Waliyullah. Gelar Datuk disandangnya karena pengakuan ulama dan masyarakat pada masa itu.

Yang juga tidak kalah menarik adalah keberadaan seorang Ulama di daerah lubang buaya pondok gede  yang bernama DATUK BANJIR yang nama aslinya Pangeran Syarif bin Syekh Abdurrahman. Beliau dikenal sebagai ulama yang mempunyai banyak karomah dan pejuang pembela rakyat yang ditindas oleh penjajah. Menurut sebuah riwayat Datuk Banjir adalah orang yang membangun masjid Maulana Hasanudin di dekat PMI jalan MT Haryono, masjid yang sering disebut kubah hijau yang tiangnya tidak memakai tiang soko guru seperti masjid lainnya, kebetulan saya sudah berapa kali sholat dimasjid ini, dan menurut dari keluarga Kong Riun yang ada Tegal Parang Jakarta Selatan, memang masjid tersebut dibangun oleh Dzurriyah keturunan Maulana Hasanuddin Banten yang ada di Jayakarta.

Dan masih banyak lagi nama-nama Datuk yang belum saya datangi seperti DATUK GEONG, DATUK SIRRIN yang makamnya di samping SMA GLOBAL ISLAMIC SCHOOL CONDET atau juga KYAI LUKMANUL HAKIM yang bergelar DATUK di Kramat Kampung Pulo yang kini terancam digusur.  Dari beberapa riwayat dan konteks Sejarah Jayakarta jelaslah bahwa seorang DATUK/DATO itu adalah ulama yang karismatik dan dalam ilmunya. Rata-rata mereka juga banyak yang merupakan pejuang dan Mujahidin Jayakarta. Seorang yang bergelar DATUK atau DATO merupakan ulama yang mampu menjadi contoh bagi masyarakat baik perkataan maupun tingkah lakunya, karismanyapun biasanya cukup bisa dirasakan oleh masyarakat. Gelar DATUK atau DATO itu setara dengan ulama Jakarta yang karismatik pada masa awal abad 20 seperti para GURU yang sudah saya sebutkan terdahulu dan juga para Habaib seperti Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur, Habib Salim Jindan, Habib Zain Alaidrus Krukut, Habib Muhsin bin Muhammad Al-Attas, Habib Kuncung, Habib Umar Bin Hud Al-Attas. Sayyidil Walid Alhabib Abdurrahman Assegaf Bukit Duri, dll.

Sumber :

Wawancara dengan Abuya KH Rusdi Saleh Kampung Melayu tahun 2013
Wawancara dengan para sesepuh Condet di Masjid Assa’dah tahun 2013
Wawancara dengan salah satu Dzurriyah Kong Riun di Tegal Parang tahun 2014
Penelitian sejarah makam penyebar Islam Jakarta secara mandiri, sejak tahun 1993 sampai dengan sekarang.

PERNIKAHAN CUCU RADEN FATTAH (SULTAN DEMAK) DAN CUCU RAJA PAJAJARAN (PRABU SURAWISESA) MENGGUGURKAN MITOS PERANG BUBAT

Salah satu misteri sejarah yang sampai kini masih menjadi perdebatan adalah tentang kisah perang bubat antara Pajajaran dengan Majapahit. Bagi sebagian besar masyarakat Sunda yang mengetahui cerita yang satu ini, kisah perang bubat adalah luka kelam dalam sejarah mereka, bagi sebagian masyarakat Jawa juga merupakan kisah yang seharusnya tidak perlu terjadi dan membuat nama mereka sedikit tercemar. Sebagian orang Sunda mengatakan bahwa peristiwa perang bubat itu bukanlah perang tapi pembantaian,karena bagaimana mungkin disebut perang, karena Raja Pajajaran datang ke Majapahit justru untuk besanan dengan Majapahit tapi gara-gara arogansi Gajah Mada semua jadi berantakan. Bagi sebagian masyarakat Jawa tidak sepatutnya seorang Gajah Mada memperlakukan rombongan Pajajaran yang dipimpin Maharaja Linggabuana sampai harus terjadi pemaksaan, yang mengakibatkan gugurnya semua rombongan Pajajaran termasuk calon istri Hayam Wuruk yang bernama Dyah Pitaloka. Sehingga akibat kejadian ini Hayam Wuruk menjadi terpukul dan akibatnya kemudian Gajah Mada pun disingkirkan dari kekuasaan, dan Hayam Wuruk akhirnya mencoba menjalin kembali hubungan dengan pewaris Kerajaan Pajajaran…begitu ceritanya….

Kisah yang begitu mengharu biru ini sampai sekarang masih terus dipercaya oleh masyarakat Sunda dan Jawa, harus diakui sampai sekarang cerita ini masih sangat membekas terutama pada masyarakat Sunda. Begitu membekasnya kisah ini sampai sekarang sangat sulit mencari nama-nama yang berbau Majapahit di beberapa jalan ataupun bangunan-bangunan penting, tengok saja kalau anda ke Bandung, pasti akan sulit mencari jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, Raden Wijaya, Brawijaya, Empu Prapanca, dll. Sedangkan di Jakarta yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Pajajaran justru nama-nama tersebut akan banyak kita temui. Cerita perang bubat seolah tidak terlepas dari Harta, Tahta, Wanita sehingga membuat orang lupa dan nestapa. Seolah sejarah kita ini identik dengan  tiga hal tersebut, kalau tidak harta kekayaan, ya perempuan, kalau tidak perempuan ya masalah kekuasaan. Dan ini selalu ada pada beberapa cerita lokal ataupun nusantara yang kebanyakan justru diterjemahkan oleh ilmuwan penjajah belanda. Dan itu juga kami sinyalir terjadi juga pada kisah perang bubat ini.

Akibat dari adanya ini semua kami sedikit banyak bertanya...

Benarkah kisah Perang Bubat ini ?

Kenapa kisah ini baru dimunculkan pada awal abad 20 ?

Kenapa dari Walisongo sampai muculnya kisah tersebut sama sekali tidak tercatat ?

Kisah Perang Bubat kalau kita mau mengkaji lebih dalam lagi, ternyata cerita tersebut terdapat pada naskah Serat Pararaton dan naskah Kidung Sunda (Sundayana) yang berbentuk Syair, dan katanya naskah tersebut ditemukan di Bali ! Nah kalau kita mau kritis sedikit, kedua naskah ini ternyata yang menerjemahkan adalah J.L.A. BRANDES ! ia adalah seorang filolog (ahli bahasa kuno), kolektor barang kuno, dan leksikografer (ahli penyusun kamus bahasa langka) berkebangsaan Belanda. Brandes merupakan ilmuwan dari Penjajah kolonial Belanda yang ditugaskan untuk menterjemahkan naskah-naskah Jawa kedalam bahasa Belanda. Dan tujuan dari penerjemahan itu sudah jelas untuk membengkokan sejarah bangsa ini, karena Belanda tahu bahwa dengan merusak sejarah dan budaya bangsa ini maka mereka akan lebih mudah menguasai Indonesia. Tidak heran jika Bung Karno selalu meneriakan semboyan JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Sekalipun isi naskah pararaton dan kidung sunda ada perbedaan, namun ujung dari peristiwa dibubat sama, yaituTragis !

Sampai saat ini bila kita pertanyakan, dimana naskah asli dari Pararaton dan Kidung Sunda itu ? tidak pernah ada jawaban yang jelas dan siapa juga penulis terakhirnya tidak ada yang bisa mengetahuinya, yang ada hanya bentuk terjemahannya saja dari J.L.A. Brandes  yang kemudian diterjemahkan oleh C.C.Berg pada tahun 1927 – 1928. Padahal kunci untuk menentukan keabsahan sebuah tulisan sejarah itu harus dilihat dari naskah aslinya, setelah ketemu naskah aslinya maka penulisnyapun perlu kita teliti ulang siapa dia, apakah dia mempunyai mata rantai penulisan (dalam islam disebut sanad), bagaimana kemampuan menulis sejarahnya, bagaimana pemahanan dia terhadap garis keturunan-keturunan Nusantara. Nah pada kasus Pararaton dan Kidung Sunda (Sundayana) yang ini justru kita hanya mendapati cerita terjemahan Brandes yang sekali lagi saya tegaskan bahwa dia adalah ilmuwan yang bekerja dan dibiayai oleh pemerintah kolonial Belanda,yang tujuannya sudah jelas untuk menjalankan politik devide et impera.

Perlu anda ketahui pada saat penerbitan naskah terjemahan PARARATON DAN KIDUNG SUNDA , itu masanya hampir bersamaan dengan masa-masa akan diadakannya SUMPAH PEMUDA, artinya ada kecendrungan usaha untuk memecah belah usaha para pemuda Nusantara untuk bersatu, dan  salah satu kekuatan utama atau pelopor gerakan sumpah pemuda saat itu adalah masyarakat SUNDA dan JAWA, sehingga untuk membendung gerakan ini muncullah terjemahan Pararaton dan Kidung Sunda yang disebarkan oleh Belanda dan kemudian banyak dibaca oleh sebagian besar masyarakat Sunda dan Jawa pada saat itu. Gerakan Belanda ini juga sepertinya satu paket untuk serba memajapahitkan atau menghinduisasikan sejarah Nusantara secara umum, sehingga akhirnya sejarah Islam menjadi tersingkir, padahal sejarah Islam cukup menentukan kelangsungan bangsa ini.

Munculnya naskah-naskah yang kontroversial seperti Pararaton atau Kidung Sunda memang bertujuan untuk merubah alur sejarah bangsa ini, agar mereka buta dan apatis terhadap sejarah bangsa ini. Naskah-naskah ini sepertinya satu paket dengan naskah-naskah kontroversial lain seperti Babad Tanah Jawi, Sabda Palon, Darmagandul yang muncul setelah usainya perang melawan Pangeran Diponegoro, sejak kekalahan Pangeran Diponegoro, Penjajah Belanda gencar meracuni alam pemikiran masyarakat melalui karya-karya sastra berselubung politik kolonial. Melalui karya sastra yang menyesatkan itulah belanda berusaha meruntuhkan jati diri bangsa ini, Sebab jika menghadapi mereka dengan perang dan kekerasan Belanda tidak pernah berhasil 100 % untuk menundukan perlawanan para pejuang bangsa.

Bagi kami kisah perang bubat ini adalah skandal sejarah yang sengaja diciptakan para penjajah, kenapa demikian ? karena ternyata fakta kalau Sunda dan Jawa bermusuhan itu adalah sama sekali sulit dipertanggung jawabkan baik sejarah ilmiah maupun secara sejarah !. Tidak ada satupun prasasti yang menunjukkan adanya peristiwa ini, padahal peristiwa peristiwa ini sangat penting bagi dua kerajaan besar di Nusantara. Keberadaan naskah itu hanya terdapat pada  Pararaton dan KidungSunda (Sundayana) yang diterjemahkan oleh J.L.A. BRANDES yang sampai sekarang naskah yang asli dan telah diterjemahkannya itu antah berantah keberadaannya. Kita perlu tahu bahwa sebelum diterjemahkan oleh Brandes tidak pernah terdengar adanya kisah perang bubat ini, masa Walisongo hingga masa awal abad 20 sama sekali tidak terdengar kisah ini. Padahal Walisongo terutama periode angkatan pertamanya pada periode antara tahun 1350 – 1403 sudah masuk ke pulau Jawa dan dari sini ternyata tidak pernah terdengar ada dalam riwayat mereka tentang kisah ini, padahal mereka itu banyak yang merupakan ahli sejarah. Seperti Sayyid Fadhol Ali Murtadho bin  Maulana Ibrahim Zaenuddin As-Samarqondy yang hidup pada masa Majapahit. Tidak mungkin orang sekelas beliau tidak meriwayatkan kisah yang satu ini. Sayyid Fadhol Ali Murtadho adalah pemegang mata rantai ilmu nasab dan sejarah Walisongo, sehingga akan sangat aneh kalau dalam riwayat yang beliau miliki tidak terdapat cerita perang bubat ini.

Pada sisi lain, kisah perang bubat ini juga bisa runtuh jika melihat kiprah dan hubungan Kesultanan Demak dengan hubungan Kerajaan Pajajaran. Dan seperti yang kita ketahui bahwa Kesultanan Demak sangat berhubungan kuat dengan Majapahit terutama dalam perjalanan sejarah panjangnya.Kalaupun terjadi peristiwa diambil alihnya Sunda Kelapa yang merupakan wilayah Pajajaran oleh Kesultanan Demak pada tahun 1527 M itu justru menjadi kunci pembuka tabir bagaimana sebenarnya hubungan antara Pajajaran dan Kesultanan Demak yang mewakiki Jawa.

Diambil alihnya Sunda Kelapa oleh Kesultanan Demak tahun 1527 itu justru merupakan babak baru tentang hubungan antara Pajajaran dengan Kesultanan Demak. Pajajaran yang mewakili Sunda, Demak mewakili Jawa. Pola hubungan itu adalah ketika terjadinya pernikahan antara ARIA PENANGSANG/ARIA JIPANG yang merupakan cucu RADEN FATTAH DARI KESULTANAN DEMAK dengan RATU AYU JATI BALABAR yang merupakan cucu PRABU SURAWISESA RAJA PAJAJARAN.

Jika melihat pernikahan ini, jelas Perang Bubat adalah mitos, sebab jika itu benar sudah tentu fihak keluarga besar Pajajaran akan menolak keras keluarganya dinikahi oleh bangsawan Jawa, apalagi ini bangsawan yang dianggap memiliki hubungan yang kuat dengan Majapahit. Namun kenyataannya SINGA MENGGALA sebagai ayah dari RATU AYU JATI BALABAR mengizinkan putrinya menikah dengan CUCU RADEN FATTAH tersebut. Demikian pula PRABU SURAWISESA, sekalipun dia berbeda pandangan secara politik dengan Kesultanan Demak, toh pernikahan antara cucunya dengan cucu Raden Fattah berlangsung dengan baik. Ini sekaligus juga memberikan petunjuk kalau Pajajaran itu sebenarnya sudah dimasuki proses Islamisasi. Kami perlu mengangkat fakta yang satu ini, karena pada masa itu kekuatan Pajajaran dan Demak adalah kekuatan yang paling menonjol dan mewakili masing-masing etnis. Sehingga adanya perang bubat itu jika ditinjau dari pernikahan penting antara Klan Pajajaran dan Demak, ceritanya sangat tidak beralasan untuk dipercaya. Dan perlu kita ketahui pada masa itu untuk menyatukan dua kekuatan yang berbeda kutub biasanyaya jalur pernikahan merupakan strategi jitu bagi kedua fihak, istilahnya adalah win win solution…

Kalau seandainya perang bubat saat itu membekas kuat pada diri Kerajaan Pajajaran pasti apa-apa yang berbau Jawa akan ditolak dengan keras. Secara logika mana mungkin di negara sendiri, Pajajaran mau tunduk habis apalagi menyerahkan salah satu putrinya kepada keturunan Jawa yang katanya pernah berbuat zalim terhadap leluhur mereka, padahal katanya di bubat saja mereka mati-matian sampai titik darah penghabisan, tentu trauma sejarah akan sangat membekas pada diri mereka, mengingat kejadian perang bubat jaraknya lebih dekat dengan masanya Kerajaan Pajajaran pada masa itu,  pada  kenyataannya ketika Fattahillah yang mewakili Demak/Jawa memasuki Sunda Kelapa yang merupakan wilayah Pajajaran, keberadaannya justru diterima dengan baik oleh penguasa Sunda Kelapa yang suaminya adalah anak dari Prabu Surawisesa (tidak benar terjadi perang antara Sunda Kelapa dan pasukan Fattahillah !). Bahkan setelah itu terjadi pernikahan antara Klan Sunda dan Klan Jawa melalui Aria Jipang Jayakarta dan Ratu Ayu Jati Balabar. Dari pernikahan ini kelak akan banyak lahir mujahidin-mujahidin Jayakarta.

Hubungan Sunda dan Jawa juga semakin akrab,ketika banyak keturunan Raden Fattah yang  mewakili Jawa hijrah ke negeri Sunda, bahkan  keluarga beliau banyak yang menjalin hubungan dengan bangsawan Sunda yang banyak keturunan Pajajaran.  Di daerah Sukapura Tasikmalaya, bahkan keluarga Demak/Jawa sangat dekat di hati mereka, di daerah garut yang merupakan daerah penyimpan sejarah penting banyak keturunan Raden Fattah yang sudahmenyatu dengan ulama ulama keturunan pajajaran, di Bandung sendiri kalau kita mau jeli dan meneliti ulang silsilah para bupati bupati tempo dulu, itu banyak yang mempunyai hubungan silsilah dengan Demak/Jawa, bahkan Ajengan-ajengan yang ada di Cimahi banyak yang merupakan keturunan Aria Jipang Jayakarta. Di Cianjur bahkah banyak keturunan Aria Jipang Jayakarta yang banyak menurunkan para Ajengan, bahkan kami mendengar ada satu kampung keturunan Sultan Trenggono. Pada penelitian saudara kami yang ada di Sukapura, bahkan beliau menemukan fakta daerah Sumedang juga banyak keturunan Raden Fattah, padahal sumedang terkenal kuat akan sejarah Pajajarannya. Belum lagi kalau kita bicara Banten dan Cirebon dimana kedua kesultanan ini telah menjalin hubungan kekerabatan denganKesultanan Demak. Di beberapa daerah Bogor bahkan banyak sekali keturunan jawa yang diwakili oleh dinasti Pangeran Diponegoro dan bahkan keturunan mereka banyak yang menjadi ulama serta pemimpin di negeri hujan ini. Belum lagi Jayakarta yang jelas-jelas menegaskan bagaimana pola hubungannya dengan Pajajaran.

Kisah perang bubat bagi kami perlu ditinjau ulang kembali kebenaranya, karena pada kenyataannya antara Suku Sunda dan Jawa itu bersaudara, dan itu telah dibuktikan dengan adanya pernikahan cucu RADEN FATTAH dan cucu PRABU SURAWISESA. Sejak dulu banyak mujahidin Sunda dan Jawa itu bersatu dalam melawan penjajahan, hanya saja banyak dari mereka itu yangtidak tercatat sejarahnya. Para pejuang perang 10 November 1945 dulu bahkan banyak orang-orang Sunda yang terjun membantu saudaranya di Surabaya, Mbah Hasyim Asy’ary bahkan sangat berharap dengan kedatangan Kyai-kyai dari Buntet Cirebon.Perlawanan beberapa pejuang di Jawa juga banyak dibantu oleh pejuang-pejuang dari Sunda, bahkan hingga kini ulama-ulama Sunda dan Jawa sudah seperti saudara kandung, kyai-kyai Jawa banyak belajar kepada Ajengan di Sunda, Ajengan-ajengan di Sunda dulu bahkan juga banyak yang belajar di Jawa.

Kesimpulannya bagi kami, kisah perang bubat adalah cara dan usaha politiknya Belanda yang bertujuan untuk Devide Et Impera terutama menjelang akan diadakannya Sumpah Pemuda yang justru diadakan di bumi Jayakarta, yang dalam akar sejarahnya, para pemimpinnya terdahulu adalah merupakan gabungan keturunan Jawa dan Sunda. Belanda melakukannya dengan penyebaran karya sastra berbau politik yang memang sebagian masyarakat kita itu senang akan cerita, tembang syair dari masa lalu, dari celah inilah penjajah berusaha menghancurkan pemikiran bangsa Indonesia akan sejarahnya. Dan salah satu pengaruhnya yang hingga kini masih adalah sinisme antar suku akibat adanya cerita bubat ini. Sinisme kedua suku itu tidak perlu terjadi lagi kalau kita faham dari mana asal usul kisah perang bubat itu. Kita jangan jadi korban dari “trauma sejarah’ yang dibuat-buat oleh penjajah belanda, kalau yang lebih “kuno” dalam peristiwa sejarah  seperti pernikahan Aria Jipang Jayakarta dan Ratu Ayu Balabar saja tidak terjadi trauma, mengapa yang modern sekarang ini malah lebih trauma ?

SUMBER :

Achadiati S, Soeroso M.P Sejarah Peradaban Manusia: Zaman Majapahit’. Jakarta: PT Gita Karya. , 1988.
Mertakusuma, Guwanan, Wangsa Aria Jipang,Jakarta : Agapress, 1986.
Mertakusuma, Kitab Al-Fatawi (silsilah Syar'i) KH Ahmad Syar’i,Jayakarta-Palembang: Al-fatawi, 1910.

WAJAH HADRATUSSYAIKH MBAH KH HASYIM ASY’ARY DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG

NU sepertinya tidak pernah habis untuk dibahas, selesai pembahasan satu, muncul lagi pembahasan lain. Seolah jika tidak membicarakan NU tidak “meriah”, ibarat anak muda, “gak ada loch gak rame”. Nyaris semua fihak, baik yang “cinta” ataupun yang “benci” kepada NU, tidak pernah habis-habisnya membicarakan organisasi yang didirikan oleh ulama karismatik yang berasal dari Tebu Ireng yaitu Mbah KH Hasyim Asy’ari Azmatkhan dan merupakan murid terkasih dari Mbah Kholil Bangkalan Azmatkhan. 
Pada muktamar yang lalu beberapa pembahasan juga sempat ramai seperti Isu Islam Nusantara, dan juga “meriahnya” pemilihan Ketua Umum. Kami sendiri pada waktu itu juga sempat ikut terlibat untuk membuat sebuah kajian yang berkaitan dengan nasab Mbah KH Hasyim Asy’ari ini. Terlibatnya kami dalam kajian tersebut semata-mata demi memberikan sebuah pencerahan tentang beberapa sudut pandang mengenai Mbah KH Hasyim Asy’ari ini terutama pada Nasab yang beliau miliki.
Sebagai ujung tombak berdirinya NU, bagi kami Mbah KH Hasyim Asy’ari sosok besar yang tidak akan pernah habis untuk dibicarakan, dan lagi-lagi dalam kesempatan kali ini kami juga juga ikut-ikutan untuk “latah” dan “nimbrung” dalam menyikapi sebuah isu yang baru dua hari ini dilemparkan oleh beberapa fihak, yaitu tentang wajah Mbah Hasyim Asy’ari. Tentu dalam kajian kami kali ini seperti biasa, kami tidak akan menghakimi semua fihak, kami justru mencoba untuk memberikan atau menawarkan kepada mereka yang pro dan kontra bahwa dibalik “tanya jawab’ ada data-data yang kiranya kami berharap bisa memperkaya khazanah sejarah tentang tokoh yang mereka bicarakan. Kami yakin baik pro maupun dan kontra semuanya sangat mencintai Mbah KH Hasyim Asy’ari ini, hanya saja mungkin perlu kedepannya dibangun sebuah dialektika yang lebih mengedepankan data dan fakta yang ada tanpa harus saling menjatuhkan.
Berbicara tentang bagaimanakah wajah Mbah Hasyim sebenarnya, sudah banyak fihak yang mengetahuinya. Namun persoalan kemudian timbul, setelah pada tanggal 22 Oktober 2015 pada saat perayaan Hari Santri yang diadakan di Gedung Perintis Kemerdekaan Jakarta Pusat (kebetulan berdekatan dengan rumah kami), wajah Mbah KH Hasyim Asy’ari ditampilkan dalam bentuk yang berbeda dimana wajahnya dibuat klimis padahal sebelumnya bahwa wajah beliau memiliki jenggot dan kumis. Mungkin bagi sebagian orang NU hal itu tidak mengapa, tapi bagi orang lain berbeda, apalagi Mbah Hasyim Asy’ari milik semua komponen bangsa.
Persoalan lukisan ini tiba-tiba menjadi isu besar, padahal sebenarnya itu adalah sebuah lukisan yang biasanya identik dengan nilai subyektifitas dan yang namanya subyektifnya, biasanya selalu tergantung dari sudut pandang si pelukis dan juga tergantung dari nara sumber yang ia peroleh sehingga akhirnya muncul lukisan tersebut. Dalam dunia lukis sudut pandang penulis sangat menentukan, untuk mencapai sebuah nilai yang ideal dan sama dengan wajah aslinya tidak semudah yang dibayangkan. 
Pertama kali munculnya lukisan wajah Mbah Hasyim Asy’ari kami sendiri menyikapinya dengan hati-hati dan berusaha untuk mencoba kembali untuk memperkuat bagaimana sebenarnya wajah Mbah Hasyim Asy’ari ini. Ingat Mbah Hasyim Asy’ari ini kan usianya diatas 75 tahun, sehingga proses perjalanan wajahnya bisa saja terjadi banyak perubahan karena perjalanan waktu. Namun demikian untuk tidak bertele-tele, baiklah kami akan coba kembali untuk mencoba memberikan data-data yang kami miliki bagaimana sebenarnya wajah Mbah Hasyim Asy’ari ini.
Salah satu bukti otentik mengenai wajah Mbah Hasyim Asy’ari, kita bisa lihat pada buku Sejarah Hidup KH.A. Wahid Hasyim yang dicetak ulang oleh Mizan pada tahun 2011 dan disusun oleh Haji Abu Bakar pada tahun 1955 dan terdapat pada halaman 66. Ini adalah bukti otentik yang tidak terbantahkan karena ditulis oleh para ahli sejarah yang dokumentasinya kami anggap cukup luas biasa. Dalam buku ini kita akan bisa melihat dengan jelas bagaimana sebenarnya wajah Mbah KH Hasyim Asy’ari. Perlu diketahui bahwa pembuatan buku ini setelah 2 tahun wafatnya KH Wahid Hasyim dan 8 tahun pasca wafatnya Mbah KH Hasyim Asy’ari (25 Juli 1947/9 Ramadhan 1366). Tentu dengan jarak waktu yang sangat dekat ini, dan saksi-saksi sejarah masih banyak yang hidup, sangat mengetahui betul bagaimana wajah Mbah Hasyim Asy’ari ini. Kami sendiri setelah mendapatkan buku ini jadi sangat yakin kalau wajah Mbah Hasyim Asy’ari begitulah adanya. Kebetulan buku tersebut diberikan kepada kami oleh salah satu cicitnya KH Wahid Hasyim.
Buku kedua yang juga tidak kalah menarik adalah yang disusun oleh Muhammad Asad Shihab yang berjudul Al-Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Waadi’u Istiqlali Indonesia dan diterbitkan oleh Darus-Shodiq Beirut dan telah diterjemahkan oleh KH Mustofa Bisri dengan judul Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari Perintis Kemerdekaan Indonesia dan diterbitkan oleh Kurnia Kalam Mulia Yogyakarta pada cetakan pertama tahun 1994. Di buku ini dalam covernya sangat jelas bagaimana sebenarnya wajah Mbah KH Hasyim Asy’ari ini. Jangan lupa yang menerjemahkan kitab tersebut adalah salah satu ulama karismatik NU saat ini yaitu As-Syekh KH Mustofa Bisri.
Buku ketiga yang juga tidak kalah menarik adalah yang disusun oleh Prof.Dr. Ahmad Mansur Suryanegara yaitu Api Sejarah Jilid 2 yang diterbitkan oleh Salamadani Bandung, Cetakan V 2014, halaman 197. Disitu secara jelas akan kita temukan bagaimana wajah Mbah KH Hasyim Asy’ari yang sebenarnya. Bahkan wajah beliau disitu sama persis dengan wajah yang ada pada buku Sejah KH Wahid Hasyim yang dibuat tahun 1955. Bahkan dibawah wajah beliau ditulis dengan tulisan ejaan lama. 
Buku keempat yang bisa temukan tentang wajah Mbah KH Hasyim Asy’ari adalah yang disusun oleh Drs.Latifhul Khuluq MA yang berjudul Fajar Kebangunan Ulama, Biografi KH Hasyim Asy’ari yang diterbitkan oleh LKIS tahun 2000. Di cover depan buku ini wajah Mbah KH Hasyim Asy’ari sama persis dengan buku sejarah KH Wahid Hasyim yang disusun oleh Haji Abu Bakar. Buku ini adalah satu diantara salah satu karya terbaik tentang biografi Mbah Hasyim Asy’ari karena ditulis dengan fakta-fakta ilmiah dan sebagai kata pengantarnya adalah Profesor Howard M. Federspiel dari McGill University, Motreal, dan Ohio University.
Buku Kelima, dengan judul KH Hasyim Asy’ari Memodernisasi NU dan Pendidikan Islam yang ditulis oleh Rohinah M.Noor MA pada tahun 2010 cetakan ke II dan diterbitkan oleh Grafindo Khazanah Ilmu Jakarta. Pada cover buku ini sangat jelas bagaimana wajah Mbah KH Hasyim Asy’ari dihari tua beliau. Buku yang berasal dari sebuah penulisan tesis ini telah menjadikan wajah ulama karismatik NU ini sebagai cover depannya dengan ukuran yang sangat mudah untuk dilihat.
Buku keenam dengan judul Dahlan –Asy’ari Kisah Perjalanan Wisata Hati yang ditulis oleh Susatyo Budi Wibowo pada tahun 2011 Cetakan Pertama dan diterbitkan oleh Diva Press Jogyakarta. Pada buku ini kita sekali lagi bisa menjelaskan bagaimana sebenarnya wajah Mbah KH Hasyim Asy’ari ini.
Terakhir adalah lukisan Mbah KH Hasyim Asy’ari yang kami peroleh sekitar 20 tahun lalu. Kami sendiri baru ngeh mengenai wajah beliau ini, setelah dua hari ini ramainya pemberitaan tentang lukisan beliau. Pada lukisan ini wajah Mbah Hasyim Asy’ari bahkan sangat mirip dengan beberapa anggota Walisongo, kami sendiri bertanya-tanya siapa sebenarnya yang telah melukis beliau ini, mengingat lukisan ini bagi kami cukup berbeda sudut pandangnya.
Bagaimana lukisan yang kemarin dipajang di gedung perintis kemerdekaan yang diributkan karena tidak memakai “jenggot” itu ? 
Berdasarkan Situs Harian Republika yang kami baca pada hari ini, Lukisan tersebut, merupakan karya Badri dari Pasuruan yang dijadikan kover buku Guru Sejati Hasyim Asy'ari. "Lukisan tersebut dipesan khusus oleh Gus Riza Yusuf Hasyim untuk memvisualkan perjuangan Mbah Hasyim ketika menghadapi kekejaman tentara Nippon," Setelah lukisan itu selesai dibuat, ia bersama Gus Riza dan Mas Badri, pergi menghadap almarhum KH Hamid Baidlowi dan Bapak Bulkin (khadam Mbah Hasyim yang ikut ditangkap tentara Jepang) untuk memastikan kalau lukisan itu benar menyerupai wajah Kiai Hasyim. "Kami ke sana meminta pendapat soal wajah Kiai Hasyim, apa benar seperti di lukisan itu, tak berjenggot." Setelah memeriksa lukisan itu, keduanya menyatakan, Mbah Hasyim raut wajahnya klimis, tidak berjenggot. "Lalu, saya kembali bertanya kepada ayah saya, Ahmad Riyadi (anak salah satu pengawal Mbah Hasyim)," ujarnya. Menurut dia, beliau menjawab, memang benar Mbah Hasyim itu penampilannya selalu klimis, wangi, rapi dengan jas kerah shanghai warna abu-abu pekat. "Jadi, lukisan itu sudah benar. Mbah Hasyim itu klimis tak berjenggot, jadi tak usah dijadikan polemik lagi," kata Masyamsul.
Dari semua penjelasan ini akhirnya kami bisa mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya bahwa sudut pandang mengenai wajah Mbah KH Hasyim Asy’ari itu memiliki pandangan sendiri-sendiri, sekalipun fakta dan data tertulis dengan jelas wajah beliau seperti pada buku Sejarah KH Wahid Hasyim, namun demikian tidak juga bisa anggap remeh adanya informasi orang-orang yang pernah dekat dengan beliau ini, yang mungkin juga tahu bagaimana sisi lain dari wajah ulama yang karismatik itu. Mereka yang pernah dekat bisa saja mempunyai informasi lain mengenai ulama yang luar biasa ini.
Penilaian mengenai ini bukan karena urusan “jenggot” yang akhir-akhir ini sering menjadi polemik pada beberapa fihak, kami sendiri tidak anti “jenggot” dan juga tidak menyalahkan ulama yang tidak mempunyai “jenggot”. Guru-guru kami sendiri ada yang berjenggot ada pula yang tidak, diantara mereka banyak pula yang alim seperti Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abubakar itu berjenggot, Abuya KH Thohir Rohili dari Atthohiriyah itu bahkan klimis, Sayyidil Walid Al-Habib Abdurrahman Assegaf dari Madrasah Tsaqofah Islamiah sangat klimis dan bersih, namun anak-anak beliau ada yang memelihara jenggot ada pula yang tidak dan semua itu berlangsung damai-damai saja, bahkan Ulama kelas dunia seperti Mama’ KH Abdullah bin Nuh bisa kita lihat wajahnya, bagi kami lukisan Mbah KH Hasyim Asy’ari yang tidak berjenggot adalah sisi lain dari interpretasi seorang pelukis yang memiliki sumber informasi dari orang-orang terdekat Mbah KH Hasyim Asy’ari, sedangkan bagi mereka yang bersikukuh bahwa beliau memakai jenggot berdasarkan bukti-bukti yang ada, mungkin juga mempunyai pandangan bahwa hal tersebut adalah prinsip yang tidak boleh dirubah dan ini juga patut kita hormati. Dan sekali lagi kami tekankan, bahwa dari lubuk hati kami yang terdalam tidak ada sama sekali perasaan apriori terhadap mereka yang setia dan konsisten tentang masalah jenggot itu, bagi kami ini hanyalah masalah sudut pandang masing-masing sesuai dengan “kadar pemahaman” yang ada. Perbedaan seperti ini jika dijadikan sebuah dialektika yang diiringi dengan kecerdasan menganalisa, betapa majunya peradaban Islam ini, sekalipun berbeda pendapat jika dibicarakan dalam satu forum maka semuapun bisa jadi cair...
Wallahu A’lam Bisshowab...........

SILATURAHIM DENGAN ULAMA SEPUH JAKARTA

Silaturahim dengan salah satu dari ulama Sepuh Jakarta, KH Harun Al-Rasyid bin KH Fathullah Harun. (KH Fathullah Harun adalah ulama besar Jakarta yang sezaman dengan KH Abdullah Syafi'i). KH Fathullah Harun sendiri berasal dari Jalan Haji Murtadho Paseban Jakarta Pusat dan merupakan salah satu ulama yang cukup disegani pada masanya, beliau kemudian hijrah ke Malaysia dan wafat di Mekkah. KH Fathullah Harun juga memiliki hubungan dekat dengan Syekh Yasin Al-Padani (Dzurriyah Sunan Giri) dan merupakan pemegang sanad terbanyak.
Bagi kalangan tua PBNU, Anshor, PMII dan sebagian politikus senior yang lama di Jakarta, Insya Allah mengenal KH Harun Al Rasyid ini, Atas kehendak Allah, Alhamdulilah kami bisa bertemu dan banyak mendapatkan ilmu dari beliau yang kini berusia 82 tahun tapi masih dalam kondisi sehat wal afiat. Beliau cukup ramah dan terbuka dalam hal pemikiran Islam bahkan banyak memberikan masukan dan pencerahan Islam. Pada pandangan dan pemahaman kami terlihat jelas bahwa beliau ini bukanlah tokoh sembarangan.
KH Harun Al Rasyid adalah sosok yang sederhana, tidak tampak pada dirinya kalau beliau pernah menjadi orang penting pada masa lalu, bila mendengar apa yang beliau riwayatkan rasanya seperti mendapatkan "harta karun" saja karena penuh dengan nilai sejarah yang tinggi, namun untuk menghormati apa yang telah diamanatkan beliau kepada kami, maka kami hanya menulis profil beliau secara singkat saja...hal ini semata-mata beliau tidak ingin ditonjolkan sisi kehidupannya