Selasa, 26 Januari 2016

BERZIARAH KE MAKAM ULAMA BESAR TAREKAT TIJANIAH

Selama ini kawasan Empang Bogor Jawa Barat lebih dikenal dengan ulama keramat yang bernama Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas dan juga makam Sayyidil Walid Al-habib Abdurrahman Assegaf dari Bukit Duri Jakarta Selatan, padahal selain makam dua ulama karismatik tersebut, ternyata ada salah satu makam ulama besar yang jarang diketahui orang banyak, kedudukan ulama tersebut dimata beberapa muridnya bukan main alimnya. Mungkin karena dimasa hidupnya beliau lebih senang Mastur, maka makamnya pun juga terkesan tidak mau diketahui masyarakat banyak, beruntunglah saya yang telah diberi tahu salah satu murid beliau yang masih hidup, bahwa di empang bogor ada salah satu makam Waliyullah yang jarang diziarahi masyarakat, padahal beliau ini bukan main dalam ilmunya..
Menurut salah satu muridnya yang merupakan keturunan dari Pangeran Diponegoro, bahwa dahulunya Sayyid Muhammad Al-Hasani tinggal di Madinah, namun karena ayahnya telah mendapatkan "Isyarat" agar beliau berhijrah ke Indonesia demi mengembangkan dakwah dan juga tarekat yang dipegang keluarga besar mereka, maka tidak lama kemudian, Sayyid Ali menjual semua harta bendanya untuk memberikan modal kepada anaknya agar hijrah ke negeri dan wilayah yang sudah "diisyaratkan". Dari Madinah kemudian Sayyid Muhammad menuju Indonesia dan kemudian pada proses selanjutnya beliau memilih Empang Bogor sebagai wilayah dakwahnya, Pada beberapa ulama Karismatik (ulama Khos) yang ada di kota Bogor, nama beliau sangat dikenal. Sehingga tidak mengherankan jika sosoknya sangat dihormati pada masanya.....Beberapa fihak yang biasa berziarah di Empang Bogor sangat terkejut begitu saya kabarkan bahwa di Empang Bogor juga ada seorang ulama besar keturunan Sayyidina Hasan yang dimakamkan. Sebenarnya bukan hanya beliau, tapi masih banyak di Bogor itu ulama-ulama yang setaraf dengan beliau ini, namun sayangnya masih banyak fihak yang kurang menyadarinya. Pada saat saya berziarah ke makam Sayyid Muhammad Al-Hasani ini, beberapa orang bahkan terlihat heran melihat kami mendatangi makam beliau ini, karena setahu mereka yang paling sering diziarahi adalah Sayyidil Walid Al-Habib Abdurrahman Assegaf.Di Pemakaman Lolongok Empang Bogor ini ada hal yang unik, karena ternyata pengelola makam tersebut "berbeda" pandangan dalam menyikapi tradisi ziarah kubur (dan bagi saya ini adalah sebuah dinamika yang wajar saja), bahkan pemakaman ini dijadwalkan waktunya, namun demikian ternyata mereka juga memberikan kesempatan atau toleransi terutama pada Malam Jumat kepada yang mau berziarah, terutama di makam Sayyidl Walid Al-Habib Abdurrahman Assegaf yang merupakan Pimpinan Besar Madrasah Tsaqofah Islamiah Bukit Duri, tempat kami menimba ilmu agama di tahun 90an.

10 NOVEMBER 1945, PERANG “BRUTAL“ TENTARA SEKUTU DAN AREK-AREK SUROBOYO (Mengenang Keberanian Rakyat Surabaya)

Allahu Akbar.......Allahu Akbar........Allahu Akbar............. 
(Takbir Legendaris Bung Tomo dalam perang 10 November 1945)
Sengaja kami mengambil judul yang sedikit “seram” ini karena memang begitulah kenyataannya. Dan ini juga sesuai dengan apa yang telah digambarkan oleh Des Alwi yang merupakan saksi sejarah langsung dalam perang yang sangat mendebarkan tersebut. Perang yang berlangsung sejak tanggal 10 s/d 30 November 1945 memang telah dimenangkan oleh Inggris, namun jangan lupa Inggris hanya berhasil menguasai wilayah geografis Surabaya, namun secara moral mereka tidak pernah mampu meruntuhkan mental perjuangan arek-arek Suroboyo. Sekalipun pejuang surabaya mundur keluar wilayahnya, namun perlawanan masih terus dilakukan dengan cara Gerilya. Jelas dengan adanya perlawanan diluar kota Surabaya itu telah menunjukkan kepada dunia bahwa arek-arek Suroboyo tidak pernah kalah.
Perang 10 November 1945 adalah satu perang terbesar dan terhebat yang pernah dilakukan rakyat Indonesia terhadap penjajah. Kalau dulu rakyat Surabaya masih bersabar terhadap penindasan Belanda dan Jepang, namun untuk kali ini para arek Suroboyo sepertinya sudah tidak mampu lagi menahan kemarahan mereka terhadap kezaliman tirani penjajahan. Dalam perang 10 november 1945 ini, musuh yang mereka hadapi adalah Tentara Sekutu yang baru saja berhasil mengalahkan Jerman dan Jepang diberbagai medan tempur pada perang dunia ke 2, sehingga dengan modal pengalaman tempur yang menurut mereka “hebat” itu, Inggris datang ke Surabaya dengan sangat jumawa dan PD untuk kemudian menundukkan dan menguasai kembali wilayah Surabaya yang terkenal sebagai pelabuhan armada laut terbesar kedua penjajah Jepang di wilayah Asia Tenggara. Kedatangan Tentara Sekutu ini jelas sangat membuat rakyat Surabaya berang karena dibelakang mereka ternyata berdiri fihak Belanda yang ingin kembali berkuasa.
Sebelumnya, kedatangan tentara Sekutu yang dimotori oleh Inggris sudah lebih dahulu tiba di Surabaya, bahkan pada tanggal 27 Oktober 1945 dengan congkaknya, mereka berani mengancam rakyat Surabaya, dengan kesombongan yang luar biasa mereka berani melakukan parade kekuatan untuk menggertak rakyat Surabaya. Dengan kekuatan 20.000 personil mereka begitu percaya diri. Akibat ancaman dan tantangan dari tentara Inggris ini sudah tentu rakyat surabaya tidak terima dan kemudian melakukan perlawanan hebat, sehingga dari tanggal 27 s/d 29 Oktober 1945 terjadilah pertempuran hebat babak pertama yang nyaris dimenangkan oleh para pejuang dan arek-arek Suraboyo, sayang pada saat pasukan Inggris yang sudah berada di ujung kekalahan ini, dengan liciknya mereka kemudian mengajak berunding pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Bung Karno dan Bung Hatta, padahal sebelumnya kedua proklamator tersebut dianggap sebelah mata. 
Dari hasil perundingan itu kemudian disepakati bahwa semua fihak agar menahan diri untuk melakukan gencatan senjata. Tentu keputusan ini sangat “menyakitkan” bagi para pejuang Surabaya dan arek-arek Suroboyo, apalagi saat itu Tentara Inggris sudah hampir kalah di berbagai Front, namun sebagai rakyat mereka kemudian hanya bisa patuh untuk tidak melakukan kontak senjata. Sayangnya dengan adanya perjanjian ini fihak Inggris kemudian mengambil kesempatan untuk memperkuat armadanya untuk kemudian melakukan serangan balik besar-besaran. 
Pertempuran Babak Pertama yang berlangsung pada tanggal 27 s/d 29 Oktober 1945 itu jelas telah memukul mental pasukan Inggris yang terkenal tangguh, mereka tidak menyangka jika ternyata lawan yang mereka hadapi sangat nekat dan terkenal berani bahkan nyaris membuat mereka kalah, padahal saat itu Tentara Inggris telah dilengkapi dengan berbagai persenjataan yang sangat modern. Dalam beberapa catatan harian beberapa perwira Inggris, mereka menyatakan kalau saja perundingan dengan Bung Karno gagal maka Inggris sudah dipastikan kalah, dan ini adalah aib besar dalam sejarah militer mereka yang sejak dahulu selalu memperoleh kemenangan gilang gemilang. Pada perang babak pertama ini bahkan banyak pasukan Inggris yang depresi dan nyaris seperti orang gila karena pasokan logistik yang mereka miliki sudah disabotase dan diblokir pejuang kita. Semua sumber logistik seperti air dan makanan betul-betul sudah diisolasi, sehingga saking begitu kelaparannya tentara Inggris, nasi basipun mereka makan.
Pertempuran babak pertama memang telah selesai, namun secara diam-diam Tentara Inggris rupanya sudah mempersiapkan pasukan kedua yang ditujukan untuk menghancur leburkan kota Surabaya. Keadaan semakin genting ketika terdengar kabar kalau Brigadir Jenderal Malaby tewas pada tanggal 31 Oktober 1945, padahal dalam sejarah perang Inggris mereka tidak pernah kehilangan perwira tingginya. 
Dari sejak tanggal 31 Oktober sampai tanggal 9 November 1945 suasana kota Surabaya begitu mencekam bagi para rakyat jelata, namun tidak bagi para pejuang dan arek-arek Suroboyo yang sudah mulai siap sedia. Inggris terus melakukan ancaman dan provokasi terhadap Rakyat Surabaya. Rakyat Surabaya diultimatum untuk segera menyerah dan memberikan senjatanya kepada fihak sekutu dalam kondisi tangan diatas, sebuah penghinaan yang luar biasa. Sementara itu di kota Jakarta para pemimpin bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta berusaha melakukan negoisasi agar fihak Inggris tidak melakukan serangan terhadap rakyat Surabaya. Namun sepertinya fihak Inggris tidak memperdulikan pemimpin bangsa kita ini. Dengan congkaknya bahkan Panglima Perang Tentara Sekutu wilayah Jawa Letnan Jenderal Christison bahkan berani mengatakan bahwa Bung Hatta adalah seorang pemimpi dan pengkhayal bahkan menuduhnya dengan menulis bahwa Bung Hatta telah melemparkan tanggung jawab.
Puncak dari provokasi itu adalah ketika tanggal 9 November 1945 Tentara Inggris melalui pesawat tempurnya menebarkan Pamflet dengan ultimatum agar rakyat surabaya menyerah. Namun kemudian ultimatum ini dijawab oleh Gubernur RM Suryo dengan tegas dengan penolakan, bahkan Gubernur RM Suryo dengan suara yang bergetar, tenang dan berwibawa menyerukan agar rakyat Surabaya bersiap-siap untuk menghadapi pertempuran. Gubernur RM Suryo mengatakan demikian karena sudah mendapatkan persetujuan dari pemerintah pusat agar rakyat Surabaya dipersilahkan untuk melakukan perlawanan jika tentara sekutu memang menyerang. Sekalipun kecewa terhadap keputusan pemerintah pusat, namun RM Suryo sebagai Gubernur Jatim tetap berbesar hati. Fihak Jakarta sendiri sepertinya sudah sangat sulit untuk menahan Tentara Sekutu yang begitu bernafsu untuk meluluhlantakkan kota Surabaya. Di sisi lain, kekuatan militer Jakarta belum sekuat seperti Surabaya. Dengan kekuatan personil berjumlah 28.000 disertai perlengkapan tempur yang dahsyat seperti Tank, Pesawat, Kapal Perang, pasukan Inggris sudah bersiap-siap menghabisi rakyat Surabaya. Beberapa pasukan elit mereka seperti pasukan Gurkha bahkan dikerahkan pada misi ini. Tentara Gurkha memang terkenal hebat pada perang dunia kedua, kekejaman mereka sudah terkenal dimana-mana. Namun untuk kali ini Tentara Gurkha yang hampir semuanya berasal dari Nepal dan India mungkin lupa kalau yang mereka hadapi kali ini adalah Arek-arek Suroboyo yang terkenal pemberani dan nekat. Penggunaan Tentara Gurkha ini bahkan sampai diprotes keras oleh Nehru Pemimpin India, namun nasi sudah menjadi bubur, Gurkha rupanya harus berhadapan dengan arek-arek Suroboyo, disisi lain, beberapa tentara Inggris yang berasal dari India yang beragama Islam juga menjadi serba salah ketika mereka melihat betapa kerasnya “jihad fi sabilillah” arek-arek Suroboyo ini, sehingga pada satu kesempatan Bung Tomo meminta agar arek-arek Suroboyo tidak memperlakukan secara kejam tentara India yang Islam bila sudah tertangkap.
Menjelang penyerbuan 10 November 1945 ini, para pejuang Surabaya seperti BKR (Badan Keamanan Rakyat), TKR (tentara Keamanan Rakyat), Polisi Istimewa, BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia), PRI (Pemuda Rakyat Indonesia), Laskar Hizbullah, Gerakan Pemuda Islam Indonesia yang kesemuanya menyatakan akan bertahan total sampai titik darah penghabisan. Para tokoh-tokoh pejuang seperti Gubernur Jawa Timur RM Suryo, Kolonel Sungkono, Dr. Moestofo, Sumarsono, Residen Sudirman, Ruslan Abdul Gani, Des Alwi, M Yasin, dll, telah menyatakan untuk semua bersatu padu melawan Inggris yang diboncengi Belanda. Salah satu tokoh yang cukup menonjol yaitu Bung Tomo melalui Radio Pemberontak bahkan terus menggelorakan perlawanan dan mengajak rakyat Surabaya ikut bertempur sampai titik darah penghabisan. Pidato Bung Tomo yang menggetarkan itu selalu diiringi dengan takbir “Allahu Akbar”. Takbir ini bahkan membuat pejuang dari agama lain ikut terbakar untuk sama-sama menghadapi pasukan Inggris. Bung Tomo yang merupakan sosok yang sangat religius bahkan juga telah mendapatkan suntikan moral dari Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam perang 10 November 1945. Mbah Hasyim bahkan telah mengeluarkan “Resolusi Jihad” pada tanggal 22 Oktober 1945 yang akhirnya sangat berpengaruh bagi rakyat Indonesia. Bahkan dengan adanya “Resolusi Jihad” ini telah mampu menghadirkan ribuan ulama dan santri untuk turun langsung dalam perang 10 November 1945. Tercatat pada saat itu nama KH Abbas dari Pesantren Buntet yang ditunggu oleh kalangan ulama Jawa Timur, demikian pula KH Mustofa Kamil dari Garut. Kehadiran para ulama tersebut telah membangkitkan Barisan Sabilillah. Semua santri dan ulama turun langsung dalam perang yang “keras” ini. Bahkan keberadaan ulama-ulama tersebut telah banyak memberikan suntikan pada kekuatan “spritual” arek-arek Suroboyo yang memang sejak dahulu sangat menghormati ulama. Cerita tentang potensi spritual yang dimiliki para ulama ini bahkan banyak sekali yang menyaksikan termasuk Des Alwi sendiri.
10 November 1945 ......
Pagi hari dimulailah perang yang dahsyat. Seperti yang sudah kami tuliskan pada judul diatas. Perang ini adalah perang “brutal” dan sengit, karena fihak inggris telah mengerahkan semua kekuatan darat, laut, udara, sehingga para pejuang di Surabaya dikurung pada semua sektor. Dari pagi serangan sporadis sudah dilakukan, semua persenjataan lengkap dikeluarkan dan pasukan Sekutu mulai memasuki kota Surabaya. Namun demikian semua elemen rakyat Surabaya telah bersatu padu dalam menghadapi penjajah ini. Arek-arek Suroboyo dengan gagah berani bahkan nekat maju menerjang tentara Inggris. Para pemuda yang ikut bertempur yang sebenarnya tidak berpengalaman, namun dengan semangat juang yang tinggi, nekat melakukan aksi pasukan berani mati. Dengan bermodalkan berbagai senjata tajam, mereka betul-betul menunjukkan nyali sebagai arek Suroboyo sejati. Pasukan Gurkha yang terkenal kejam kali ini menghadapi nyali orang-orang yang memang sudah “nekat” untuk mati. Duel satu lawan satu bahkan sering terjadi, sekalipun korban banyak berjatuhan, namun istilah “mati satu tumbuh seribu” sudah sangat terpatri pada diri arek Suroboyo. Des Alwi yang menyaksikan perlawanan gila-gilaan arek-arek Suroboro bahkan telah dibuat geleng-geleng dan setengah tidak percaya melihat kegigihan arek Suroboyo dalam melakukan pertempuran. Des Alwi bahkan sangat kagum dengan kenekatan arek suroboyo yang berani menghadang Tank tempur milik Tentara Inggris, bahkan mereka berani meledakkan dirinya dengan granat, sehingga dengan adanya perlawanan ini banyak membuat Tentara Inggris ngeri. Sekalipun kota Surabaya terus dibom oleh pesawat tempur, hal itu tidak meruntuhkan moral arek-arek Suroboyo.
Begitu nekatnya para Arek Suroboyo ini bahkan telah membuat jalur komando di lapangan sedikit kacau, terutama bagi mereka yang biasa menjadi komandan tempur yang selalu menggunakan strategi perang, seperti BKR dan TKR. Para arek Suroboyo memang sudah tidak memikirkan lagi nyawa mereka, apalagi setelah keluarnya resolusi jihad. Padahal diantara mereka banyak yang tidak bisa menggunakan senjata hasil rampasan tentara Jepang, bahkan dengan modal keris, pedang, bambu runcing itu sudah cukup untuk duel satu lawan satu dengan pasukan Inggris dan Gurkha yang terkenal ahli dalam memainkan senjata. Bagi Des Alwi sekalipun jalur komando dilapangan kacau balau karena kenekatan arek-arek Suroboyo, namun ternyata efeknya telah membuat pasukan inggris berfikir keras dan jeri dalam menundukan Surabaya dengan arek-areknya ini. Para arek Suroboyo yang nekat tersebut memang tidak pernah mau berada di garis belakang, rata-rata mereka mengatakan bahwa berada di garis belakang itu adalah hal yang memalukan bagi arek Suroboyo, bagi mereka kematian tidak masalah yang penting mereka mampu menghabisi tentara Inggris. Setiap arek Suroboyo bahkan selalu bertanya dimana musuh mereka berada, sehingga bila terlihat tanpa fikir panjang mereka langsung menerjangnya. Beberapa tentara Inggris yang tertangkap bahkan tidak ada ampun lagi mereka habisi ditempat.
Prestasi terbesar arek-arek Suroboyo adalah ketika beberapa mereka ada yang berhasil menjatuhkan sebuah pesawat tempur inggris yang didalamnya terdapat Brigadir Jenderal Loder Sydmons, padahal Jenderal yang satu ini terkenal sebagai Jenderal tempur yang paling disegani dan mempunyai banyak prestasi. Total pesawat yang berhasil dijatuhkan menurut Des Alwi adalah 7 pesawat, sebuah prestasi yang mengagumkan mengingat penggunaan senjata anti pesawat belum banyak yang mampu menggunakannya. Memang sebenarnya senjata-senjata peninggalan Jepang itu cukup banyak yang telah dirampas oleh para pejuang dan arek-arek Suroboyo, total 37.000 pucuk senjata yang berhasil dirampas, namun dari banyak senjata itu, ternyata banyak pula yang tidak bisa menggunakannya, sehingga para komandan BKR atau TKR yang biasa bertempur berusaha keras untuk mengajarkan mereka bagaimana menggunakan senjata api.
Dari mulai tanggal 10 sampai tanggal 30 November, surabaya benar-benar menjadi kota perang, arek-arek Suroboyo bertempur tanpa kenal lelah, sementara itu para pejuang dari daerah lain sudah masuk ke wilayah ini untuk ikut membantu pertempuran. Sementara itu Bung Tomo dengan tidak bosan-bosannya terus menggelorakan dan menyemangati arek-arek Suroboyo dengan takbir.....Allahu Akbar.....Allahu Akbar...Allahu Akbar.....semua golongan disuruh bersatu oleh Bung Tomo, apakah dia Madura, China, Bugis, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Sunda atau apakah dia Islam ataupun agama lain, semua disuruh untuk terus berjuang. 
Pertempuran di bulan November yang dimulai sejak tanggal 10 s/d 30 November 1945 ini memang menyisakan tragedi kemanusiaan yang tidak sedikit, tercatat hampir 15.000 rakyat surabaya tewas, dan ini tentu membuat dunia mengecam tentara Sekutu yang katanya datang hanya untuk melucuti tentara Jepang, namun anehnya kalau hanya untuk melucuti, kenapa pasukan yang dibawanya setara dengan pasukan tempur pada perang dunia kedua ?. 
Satu hal yang perlu dicatat, sekalipun tentara Inggris berhasil menguasai Kota Surabaya pada tanggal 30 November 1945, pada hakekatnya mereka itu hanya bisa menguasai kota tersebut dalam keadaan hancur lebur, karena sebelumnya arek-arek Suroboyo telah menjadikan Surobaya menjadi Lautan Api. Arek-arek Suroboyo berprinsip, silahkan saja Surabaya dikuasai, tapi jangan harap tentara Inggris bisa mendapati kota Surabaya dalam keadaan utuh, semua infrastruktur sudah dibakar habis oleh para pejuang dan arek-arek Suroboyo. Fasilitas penting seperti pemancar radio, logistik, obat-obatan, dan senjata-senjata sudah dibawa keluar dari kota Surabaya, sehingga ketika Inggris merasa berhasil menguasai kota surabaya, sesungguhnya mereka hanya mendapati puing-puingnya saja. Sehingga otomatis pergerakan mereka tidak dilanjutkan untuk masuk ke wilayah pinggir Surabaya, apalagi kekuatan mereka semakin berkurang karena adanya perlawanan-perlawanan di daerah lain. Di sisi lain, para pejuang dan arek-arek Suroboyo tidak pernah berhenti untuk melakukan serangan mendadak besar-besaran di beberapa Front yang telah dikuasai Inggris.
Perang dahsyat babak kedua yang terjadi di Surabaya ini memang telah menjadikan inspirasi terhadap beberapa daerah lain untuk melakukan perlawanan secara gagah berani terhadap penjajahan, setiap detik, setiap menit, setiap jam dari mulai tanggal 10 s/d 30 semua rakyat Indonesia terus memantau dan mendengarkan Siaran Radio RRI yang terus berkumandang menyiarkan perang sabil tersebut. 
Perang 10 November 1945 jelas adalah perang “brutal” dalam sejarah perjuangan bangsa kita, sekalipun arek-arek Suroboyo harus menghadapi kekuatan yang maha dahsyat namun berkat keimanan terhadap Allah SWT dan semangat jihad fi sabillah yang telah digelorakan oleh para ulama yang kemudian dilantunkan oleh takbirnya Bung Tomo patut kita jadikan sebagai pelajaran yang berharga, betapa hebatnya sebuah kekuatan namun jika kita yakin kalau Allah selalu bersama kita, maka kekuatan apapun itu tidak akan pernah menang melawan kekuatan Allah SWT....
Allahu Akbar.......Allahu Akbar........Allahu Akbar............
Sumber : 
Alwi, Des. Pertempuran Surabaya 10 November, Jakarta : Buana Ilmu Populer, 2012.
Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah Jilid 2, Bandung : Salamadani, 2014.
Sutomo (Bung Tomo). Menembus Kabut Gelap, Bung Tomo Menggugat, Pemikiran, Surat, dan Artikel Politik (1955 – 1980), Jakarta : Transmedia Pustaka, 2008.

GUBERNUR JATIM RADEN MAS SURYO, TOKOH KUNCI PERANG 10 NOVEMBER 1945

Salah satu tokoh kunci yang ikut menentukan terjadinya perlawanan arek arek Suroroboyo terhadap Tentara Sekutu adalah beliau ini. Kepemimpinannya sangat dikagumi, beliau sangat tegas dan berani berkorban sekalipun dirinya telah diancam dan diultimatum oleh Inggris. Secara kehidupan dia berdarah bangsawan, namun dia juga dikenal sangat merakyat. Dialah yang menentukan dan memerintahkan kepada rakyat Surabaya untuk melakukan perang terbuka dan mengangkat moral para pejuang untuk tidak takut dalam menghadapi Tentara Sekutu. Setelah fihak Jakarta tidak sanggup melakukan negoisasi dengan Inggris dialah yang berani mengambil keputusan agar rakyat surabaya tetap bertahan total dan melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan. Berkat kepemimpinanya ini, arek-arek Suroboyo mampu melakukan perlawanan yang heroik dan kemudian menjadi inspirasi banyak daerah untuk melakukan perlawanan besar. Sebagai pemimpin rakyat Jawa Timur beliau mampu menunjukkan jiwa kepemimpinan yang luar biasa. Sejarah seolah berputar, karena salah satu leluhurnya juga pernah menjadi pemimpin besar, beliau memang masih ada keturunan Raden Fattah (Sultan Demak)
R.M Suryo lahir di Magetan, Jawa Timur tanggal 9 Juli 1898. Ayahnya adalah Raden Mas Wiryo Sumarto, ajun jaksa di Magetan. Ibunya adalah Raden Ayu Kustiah, keturunan Raden Ronggo Prawirodirdjo, ayah Alibasah Prawirodirdjo.
Setelah tamat dari HIS, R.M Suryo melanjutkan sekolah di OSVIA Magelang dan tamat tahun 1918. Ia kemudian bekerja sebagai pamong praja di Ngawi dan 2 tahun pindah ke Madiun sebagai mantra Veldpolitie. Tahun 1922, R.M Suryo sekolah polisi di Sukabumi. Pernah menjadi asisten wedana di beberapa tempat dan tugas belajar di Sekolah Calon Bupati di Jakarta. Sehingga pada tahun 1938 ia menjadi bupati di Magetan.
Pada saat pendudukan Jepang, R.M Suryo menjadi residen di Bojonegoro. Setelah merdeka ia menjadi gubernur Jawa Timur dan tinggal di Surabaya. Pada tanggal 23 Oktober 1945 di Surabaya terjadi pertempuran selama 3 minggu dan disinilah Gubernur Suryo berperan. Tahun 1947 R.M Suryo diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Beliau meninggal setelah dicegat dan dibunuh oleh gerombolan PKI dalam perjalanan Yogyakarta-Madiun tanggal 10 November 1948. Empat hari setelah itu jenazahnya ditemukan dan dimakamkan di Magetan.

AKIDAHNYA AL-IMAM AHMAD AL-MUHAJIR (Akidah Keluarga Besar Walisongo & Alawiyyin)

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada kami. apa akidah yang dianut oleh Keluarga Besar Alawiyyin atau katakanlah Keluarga Besar Walisongo?
Pertanyaan ini sudah beberapa kali dilontarkan kepada kami, dan dari beberapa pertanyaan itu terus terang kami belum bisa menjawab sebelum kami mendapatkan beberapa sumber yang kiranya bisa mempertegas akidah apa yang kiranya dianut Walisongo yang merupakan salah satu bagian keluarga Alawiyyin.
Jika kami amati, memang cukup mengherankan, kenapa akhir-akhir sekarang sering muncul pertanyaan-pertanyaan seperti ini?
Adanya pertanyaan adalah merupakan hal yang wajar mengingat dekatnya hubungan bangsa ini dengan keluarga besar Alawiyyin, khususnya rumpun keluarga besar Walisongo., Memang jika kami amati beberapa tahun ini, sepertinya ada kecenderungan dari beberapa fihak untuk mempromosikan beberapa ajaran atau akidah yang dirasa bertolak belakang dengan akidah yang dianut secara umum dari bangsa ini. Sayangnya dari sekian penelitian dan juga dibuktikan dengan kitab-kitab yang jadi rujukan ulama mereka, akidah yang dibawa tersebut banyak terdapat kejanggalan-kejanggalan yang menurut hemat kami sangat tidak sesuai dengan ajaran yang kami anut sejak dari masa leluhur kami yang terdahulu hingga yang sekarang ini. Bahkan yang juga tidak kalah mengagetkan, kami, kami bahkan pernah mendapati seseorang yang mengatakan langsung bahwa ajaran-ajaran Walisongo yang selama ini telah ratusan tahun dianut bangsa ini dikatakan berasal dari akidah tersebut. Tentu saja kami sangat terkejut dengan adanya statement tersebut, karena setahu kami Walisongo itu jauh dari anggapan tersebut. Berdasarkan ajaran dan beberapa literatur yang kami baca dan pelajari, setahu kami, Walisongo dan juga beberapa Kesultanan Nusantara itu ajarannya adalah murni Ahlussunnah Wal Jama’ah. Beberapa Ulama dan keturunan Walisongo juga banyak yang kami temui masih setia dengan akidah ini.
Dalam tulisan ini kami sengaja tidak menulis atau menyebut akidah yang bertentangan tersebut, bukan berarti kami ini takut, kami ingin berdakwah melalui tulisan dengan memakai strategi dan cara seperti ini, tidak perlu menyebut nama, tapi sebut saja perilakunya dan itu kami rasa lebih cocok, tanpa kami harus sebut pun semua juga sudah faham siapa yang kami maksud itu, kami lebih senang untuk memilih sasaran pribadi-pribadi yang sudah mendalami dan mengikuti akidah tersebut, ini semua rasa cinta kami kepada mereka. Insya Allah niat kami kepada mereka semata-mata karena nilai kasih sayang sebagai hamba Allah. Tidak perlu kami menyebut nama akidahnya, cukup kita sebut perilaku-perilaku yang tidak selaras dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah, itu sudah merupakan sebuah indikator dari akidah yang mereka anut. Kami masih berharap mereka bisa terketuk dan terbuka hatinya untuk kembali kepada akidah leluhurnya yang sejati. Pendekatan yang rasanya pas untuk mereka adalah dengan mengetuk hati mereka tanpa harus menghujat dan merendahkan mereka, karena pada dasarnya mereka itu jika sentuh hatinya Insya Allah lambat laun akan terbuka.
Dalam tulisan kami ini tentu yang akan kami ketengahkan adalah tentang Keberadaan Akidah Walisongo, Kesultanan Ahlul Bait Nusantara dan juga khususnya Keluarga Besar Bani Alawi (Alawiyyin) yang datang secara besar-besaran pada pada abad 19 atau 20 ke Nusantara. Mereka semua ini adalah keturunan dari Imam Ahmad Al-Muhajir. Imam Ahmad Al-Muhajir adalah leluhur puncak dari seluruh Alawiyyin seluruh dunia termasuk Walisongo. Dari beliaulah ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berkembang hingga sampai masa Walisongo dan Kesultanan-Kesultanan Islam Nusantara. Beliau awalnya tinggal di Basrah Irak namun kemudian hijrah ke Hadramaut. Salah satu alasan beliau hijrah adalah untuk menyelamatkan keturunan beliau dari adanya pengaruh “akidah” yang dikembangkan oleh satu golongan di Irak namun akidah mereka sangat bertolak belakang dengan akidah yang dianut keluarga besar Imam Ahmad Al-Muhajir. Berkat langkah hebat dari Imam Ahmad Al-Muhajir yang hijrah ke Hadramaut inilah akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selamat dan kemudian terus dianut oleh keluarga besar Bani Alawi yang merupakan keturunan beliau. Akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bahkan juga dianut oleh banyak Kesultanan Islam Nusantara, lebih khusus lagi Walisongo.
Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa Kesultanan Demak dengan Sultannya yang bernama Raden Fattah juga memiliki akidah yang sama dengan anggota Walisongo pada umumnya, yaitu Ahlussunnah Wal Jama'ah dengan mazhab Imam Syafi’i. Sengaja kami menyebut Kesultanan Demak karena Kesultanan ini adalah Khilafah Islamiah pertama di Tanah Jawa yang menganut Ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah. Pendapat kami ini juga selaras dengan apa yang dikemukakan oleh KH Sirajudin Abbas (2010:339) bahwa :
1.Seluruh Wali-wali yang sembilan adalah penganut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah.
2.Kerajaan Islam Demak menganut faham Sunni dan bermazhabkan Syafi’i
Menurut beliau periode Walisongo sampai kepada Kerajaan Demak yang terjadi sekitar abad XIV dan XVI ini sama dengan tahun-tahun kekuasaan Sultan Pasai dan Sultan Malaka yang beragama Islam bermazhab Syafi’i.
Dalam catatan Ibnu Assayuthi Arrifa’i (2012:18) para Walisongo adalah Ulama yang mengajarkan agama Islam yang berdasarkan Mazhab Syafi’i berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Oleh sebab itu maka sebagian besar ummat Islam Indonesia adalah penganut Mazhab Syafi’i seperti yang pernah diajarkan wali tersebut. Dan ini kemudian diteruskan oleh para ulama yang mendirikan pondok pesantren yang sebagian besar terdapat di Pulau Jawa.
Syaikh Imam Muhammad Ali Al Khird dalam buku yang ditulis oleh As-Sayyid Al Faqih Zain bin Sumait (2011:135) juga mengatakan bahwa Ahlussunnah Wal Jamaah berkaitan dengan terhadap Ahlul Bait, Sahabat dan Tabi’in dengan keyakinan yang seharusnya, seperti mencintai, bersikap rela hati dan berkasih sayang terhadap mereka, karena masing-masing dari mereka memiliki syafaat dan wibawa dihadapan Allah SWT baik didunia maupun diakhirat sesuai tingkat keutamaan masing-masing, sebab orang besar akan mendapatkan kemuliaan berdasarkan kemuliaan keluarga.
Ahlusunnah Wal Jama’ah adalah ajaran yang dianut oleh keluarga besar Alawiyyin yang salah satunya adalah Keluarga besar Walisongo dan Kesultanan Demak. Ajaran yang berasal dari leluhur mereka yang bernama Al-Imam Ahmad Al-Muhajir adalah ajaran utama Keluarga Besar Alawiyyin yang sekarang ini, mereka lebih banyak dikenal dengan panggilan Habib atau Syarifah, khususnya yang berada di Nusantara ini. Dari Imam Ahmad Al Muhajir ini kelak akan banyak menurunkan jutaan Alawiyyin yang sering juga disebut Bani Alawi. Kenapa keturunan beliau dinamakan Alawiyyin atau Bani Alawi ini? Karena dari salah satu cucunya yang bernama Imam Alwi Al-Mubtakir bin Imam Ubaidhillah Shohibul Aradh kelak akan banyak menurunkan para Sayyid atau Syarifah yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk Walisongo, dan mereka itu sering disebut sebagai Keluarga Besar Alawiyyin atau Bani Alawi. Menurut Idrus Alwi Al Mahsyur (2010:102) sebutan Alawi hanya digunakan untuk keturunan Imam Alwi bin Imam Ubaidhillah dengan menggunakan Bani Alawi atau Aal Alawi. Jika kedatangan para Habaib yang kita kenal sekarang ini banyak berlangsung pada pertengahan abad ke 19 dan 20, maka Walisongo jauh lebih awal, yaitu abad 14 dan 15. Sehingga kelak keberadaan Keturunan Keluarga Besar Walisongo sudah lebih dahulu melakukan asimilasi dan akulturasi dengan budaya dan keturunan dari bangsa ini, sehingga gaya hidup dan wajah merekapun sudah menjadi bagian dari bangsa kita.
Bagaimana tentang keberadaan Nasab (Garis keturunan) Alawiyyin atau Bani Alawi ini ?. Yang jelas Garis Keturunan mereka sudah banyak yang mengakui, kitab-kitab nasab yang tersebar di seluruh dunia sudah banyak yang menyebut Klan yang satu ini. Dalam catatan As-Syekh As-Sayyid Bahruddin Azmatkhan (2014) yang disusun dalam kitab Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, bahkan keberadaan Nasab Keluarga Besar Alawiyyin tercatat dengan rapi. Sayyid Bahruddin sendiri mengambil sanad keilmuwan nasabnya dari ayahnya yang bernama Sayyid Abdurrozak, begitupula Sayyid Abdurrozaq mengambil sanad dari ayahnya terus sampai kepada Sunan Kudus sampai kemudian kepada Sayyid Abdul Malik sampai kemudian ke Imam Ahmad Al-Muhajir hingga sampai kepada Rasulullah SAW.
Pada masa Imam Ahmad Al-Muhajir sendiri, menurut Fairuz Khoirul Anam (2010:34) beliau sudah membukukan nasab keluarganya hingga sampai pada Rasulullah SAW. Di Basrah Irak bahkan nasab Imam Ahmad Al Muhajir sangat terkenal. bahkan untuk memperkuat nasab beliau, beberapa kerabat beliau datang ke Madinah, Mekkah, Irak untuk mengambil kesaksian 100 ulama besar yang terkenal baik akhlaknya serta mengetahui sejarah nasab beliau, sehingga dengan adanya kesaksian 100 ulama dari beberapa wilayah ini, nasab beliau tidak ada lagi yang meragukan. Kebiasaan mencatat garis keturunan keluarga besar Alawiyyin sampai saat ini masih diteruskan oleh anak keturunannya, termasuk Walisongo. Sama seperti keluarga besarnya yang ada di Hadramaut (secara lengkap kami pernah menulis tema yang satu ini di blog kami yang sudah hilang, pada tahun 2013). Keturunan Walisongo juga rajin mencatat anak keturunannya. Diantara sekian ulama yang rajin mencatat semua keturunan Walisongo dan juga keturunan-keturunan Kesultanan Nusantara (termasuk Kesultanan Demak, Banten, Cirebon, Palembang, Sukapura Tasik Malaya, dll) adalah Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq yang merupakan keturunan Sunan Kudus Azmatkhan.
Al-Imam Ahmad Al Muhajir sendiri menurut Fairuz Khoirul Anam (2010:109) adalah pengikut Mazhab Imam Syafi’I, bahkan berkat jasa beliau dan muridnya lah sebelum abad 7 hijriah berakhir, mazhab selain Ahlussunnah Wal Jama’ah telah musnah dari Hadramaut Yaman. Menurut HMH Al Hamid Al Husaini (1999:51) pada masa itu setelah kedatangan Imam Ahmad Al Muhajir Negeri Hadramaut menjadi tempat pemancaran cahaya Islam ke Timur dan Barat, bahkan Imam Ahmad Al-Muhajir berhasil menundukkan kaum Khawarij dengan dalil dan argumentasi. Pada akhirnya habislah pengaruh Khawarij di Hadramaut. Penduduk negeri itu kemudian dapat menerima dengan baik dan sadar akidah Ahlussunnah Wal Jama'ah dan menganut Mazhab Imam Muhammad bin Idris As-Syafi"i. Jadi tidak benar jika ada anggapan beliau memiliki akidah lain. Ini sengaja kami kemukakan, karena kami pernah mendapati pada buku Thariqoh Menuju Kebahagiaan yang merupakan terjemahan Kitab dari Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad yang berjudul “Risalatul Muawanah”dan yang ditulis Muhammad Al-Baqir (1989: 18) dimana dalam Kata pengantar tentang Alawiyyin bahwa Al-Imam Ahmad Al-Muhajir dituliskan ada “kecenderungan menganut” kepada ajaran akidah yang bukan Ahlussunnah Wal Jamaah tersebut, bahkan Penulis ini mengatakan ada “kesesuaian” antara Ahlusunnah Wal Jama’ah dengan akidah tersebut seperti diperbolehkanya dalam membangun makam-makam Waliyullah dan Syuhada, disamping itu pada halaman 19 bahkan sangat jelas sekali jika sang penulis mengangkat tema yang sudah lama menjadi pertentangan antara Sunni dan akidah ini, dan puncak dari semua ini ketika di halaman 64 yang menuliskan tentang hadist yang berkaitan tentang tentang sebuah Hari raya yang mereka yakini, padahal bagi Ahlussunnah Wal Jama'ah interpretasi hadist tersebut tidak berkolerasi dengan konteks yang dimaksud pada saat itu. Tentu saja kami sangat terkejut mendapati tulisan ini, walaupun tulisan ini diselipkan secara halus bahkan beberapa tulisan itu seolah-olah dibantahnya sendiri, namun karena buku ini sudah menyebut nama akidah selain sunni yang jelas dianut oleh Imam Ahmad Al-Muhajir, jelas hal ini membuat kami terkejut, jelas ini adalah sebuah strategi promosi akidah yang sangat super halus, kami sampai harus berkali-kali membaca dan memastikan kalau ini memang ada dan jelas, dan ternyata memang misi mengenalkan akidah secara halus benar-benar ada. Padahal Al Imam Ahmad Al-Muhajir itu hijrah dari Basrah Irak menuju Hadramaut justru untuk menghindari berbagai fitnah yang berkaitan dengan akidah tersebut. Sebagai seorang Sunni, saat itu beliau banyak melihat terjadi penyimpangan-penyimpangan yang mengatasnamakan Ahlul Bait (Keluarga Nabi) yang dilakukan beberapa kaum. Disamping itu beliau melihat telah terjadi banyak kezaliman yang dilakukan beberapa penguasa terhadap keberadaan keluarga besar beliau yang merupakan Keturunan Nabi Muhammad SAW.
Keluarga Besar atau Bani Alawiyyin yang tersebar diseluruh dunia, jelas mengikuti Mazhab para leluhurnya yang diantaranya IMAM AHMAD AL MUHAJIR. Dan ini sampai sekarang anak cucunya masih setia mengikutinya, kecuali beberapa sebagian kecil saja mereka yang mengikuti mazhab atau akidah lain. Yang jelas didalam ajaran Alawiyyin selalu mengedepankan dakwah dengan mengedepankan Akhlakul Karimah, dakwah mereka santun, pendekatan mereka selalu mengedepankan kasih sayang.
Dalam tulisan Nur Amin Fattah (1997:17) salah satu ayat yang sering dijadikan patokan untuk berdakwah Walisongo adalah Surat An-Nahl Ayat 125 yang lebih mengedepankan hikmah dan Suri Tauladan yang baik. Sisi lain yang juga mendukung ayat ini, bahwa kebanyakan Kaum Alawiyyin ini mengikuti Thariqoh Alawiyyah, dan tahukah kita apakah Thariqoh Alawiyyah itu? Menurut Sayyid Novel Alaidrus (2006:170) yang memberikan gambaran sangat jelas, bahwa Thariqoh Alawiyyah adalah prinsip-prinsip yang diajarkan Imam Al-Ghazali secara dzohir (Perilaku), sedangkan batinnya dihiasi dengan ajaran-ajaran Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili (zikir-zikir). Dari perpaduan dua ajaran ini muncullah ajaran Thariqoh Alawiyyah yang lebih banyak menerapkan Akhlak dan zikir yang kemudian diaplikasikan dalam dunia dakwah dengan mengambil surat An-Nahl Ayat 125 itu. Kedua ulama yang disebut oleh Sayyid Novel Alaidrus adalah Ulama Sunni, dan kedua-duanya adalah ulama-ulama yang menjadi rujukan para ulama keturunan Alawiyyin termasuk Walisongo. Sampai saat ini ajaran Imam Ghazali dan Imam Abu Hasan Asy-Syadzali sangat banyak penganutnya. Setahu kami memang kedua ulama besar ini ajarannya memang sangat menentramkan hati, jauh dari caci maki, dengki, hasud, dan sangat menghindari yang namanya sikap kemunafikan.
Jadi bila kita dapati ada beberapa orang keturunan Alawiyyin yang mempunyai perilaku yang tidak baik atau memiliki akidah yang tidak sesuai dengan Akidahnya Keluarga Besar Imam Ahmad Al-Muhajir, seperti misalnya berani mengkritik leluhurnya yang sudah mati-matian menyebarkan Islam di negeri ini, jelas ini adalah sesuatu yang janggal, atau dengan tega mencaci-maki para Sahabat Nabi Muhammad SAW seperti Sayyidina Abu Bakar RA, padahal salah satu leluhur Imam Ahmad Al-Muhajir yaitu Al-Imam Jakfar Asshoddiq ibunya keturunan Sayyidina Abu Bakar RA dan ini dipertegas dengan adanya tulisah HMH Al Hamid Al Husaini (1985:1) yang menulis nasab ibu Al-Imam Jakfar yaitu: Ummu Qosim/Qaribah/Fatimah binti Al Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Siddiq RA, sangat tidak mungkin jika Imam Jakfar Asshodiq atau yang mengagumi beliau, menghina nasab ibunya sendiri, jelas ini sangat aneh. Yang juga sering kami dapati, bagaimana mungkin ada Alawiyyin yang meninggikan Sayyidina Ali KWA dengan menjatuhkan atau menghina Sahabat Abu Bakar RA, Sayyidina Umar bin Khattab RA, Sayyidina Usman bin Affan RA, padahal anak-anak Sayyidina Ali KWA Juga ada yang memakai nama ketiga sahabat tersebut, jelas ini adalah sebuah ironi sejarah. Bagaimana mungkin mereka juga berani menghina Ummu Mukminin Sayyidatuna Aisyah, padahal Imam Ali Zaenal Abidin bin Husein RA anaknya ada yang bernama Aisyah, bahkan ada juga yang bernama Umar, Abdurrahman. Alangkah janggalnya mereka menghina Sayyidina Umar bin Khattab padahal Sayyidina Hasan bin Ali anaknya juga ada yang bernama Umar, begitu juga Imam Hasan Mutsanna bin Sayyidina Hasan RA yang memberi nama anaknya Abu Bakar tetapi kenapa Sayyidina Abu Bakar RA dihujat ? Atau bagaimana mungkin mengatasnamakan Keluarga Nabi tapi perbuatannya tidak sesuai dengan Akhlaknya Keluarga Nabi Muhammad SAW, dan juga perilakunya tidak sesuai dengan Aturan Allah dan Rasul-Nya yang telah disusun oleh ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah yang memegang teguh kesanadan. Semua keturunan Sayyidina Ali KWA justru sangat mencintai sahabat, dan ini dibuktikan dengan banyaknya nama sahabat yang dipakai untuk keturunan mereka seperti yang terdapat dalam tulisan Sayyid Syekh Hasan Al Husaini (2013) ulama muda keturunan Ahlul Bait Kelahiran Mekkah.
Disamping masalah akidah ini, yang juga cukup membuat kami risau adalah ketika ada segelintir Alawiyyin ataupun personil umum yang perilaku dakwahnya sering memakai cara-cara kekerasan baik dari segi fisik maupun pemikiran (bahkan terkesan adanya “penjajahan” pemikiran), dikarenakan sebuah kepercayaan yang dia anut secara sempit. Jalan kekerasan dalam berdakwah ini mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh kaum khawarij pada masa lalu. Di mata kaum khawarij, apabila ada segolongan yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka, maka mereka yang tidak sesuai itu bisa dihadapi dengan cara kekerasan fisik ataupun pemikiran, kadang mereka yang tidak sesuai itu dihukumi sebagai fihak yang dituduh kafir, musyrik, bid’ah, dll.
Tentu sebagai Alawiyyin yang merupakan keturunan Imam Ahmad Al-Muhajir bisa memberikan contoh yang positif kepada umat, tunjukkan bahwa sesungguhnya dia adalah keturunan Rasulullah SAW yang harusnya menjadi Suri Tauladan dalam bertindak dan bertutur kata dalam kehidupan.
Bisakah dibayangkan jika ada putra-putri Alawiyyin terjerumus dengan akhlak yang seperti yang telah kami jelaskan diatas ini, Jika itu terjadi maka berarti Alawiyyin tersebut telah menodai perjuangan Al-Imam Ahmad Al Muhajir. Sadar atau tidak sadar mereka itu telah ikut serta meremehkan peran leluhurnya yang telah berjuang mati-matian dalam mempertahankan Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang sangat mencintai para Shahabat dan juga Keluarganya Nabi Muhammad SAW dengan kecintaan karena Allah dan Rasul-Nya. Seorang Alawiyyin yang mengetahui sejarah leluhurnya, dari mulai dirinya sampai kepada Al-Imam Ahmad Al Muhajir, tentu akan mengetahui akidah apa yang harus mereka anut. Seorang Alawiyyin yang faham akan sejarah Imam Ahmad Al-Muhajir tentu akan melakukan dakwah dengan Akhlak, jauh dari kekerasan dan jauh dari perilaku yang sering menyalah-nyalahkan secara “pongah” akidah Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah. Dalam hal ilmu nasab, seorang Alawiyyin sejati juga harus bisa menahan dirinya untuk tidak mudah berbicara tanpa didasari ilmu dan akhlak, alangkah anehnya jika ada Alawiyyin bicara tentang ilmu nasab tapi didalamnya lebih banyak fitnah, caci maki, hasud, dengki baik kepada sesama muslim atau saudara Alawiyinnya sendiri.
Berkaitan dengan Keluarga Besar Alawiyyin terutama keluarga besar Walisongo dan juga beberapa Kesultanan Ahlul Bait Nusantara, Sampai saat ini kami ingin mengatakan secara tegas bahwa Walisongo termasuk adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah, akidah yang sama dianut oleh saudaranya yang ada di Hadramaut Yaman dan juga beberapa negara yang banyak dihuni oleh keluarga Alawiyyin lainnya. Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah warisan dari Imam Ahmad Al-Muhajir yang merupakan leluhur puncak Alawiyyin seluruh dunia. Bagi mereka yang merasa keluarga besar Alawiyyin sudah seharusnya mempelajari sejarah dari tokoh besar dari keturunan Rasulullah SAW ini.
Semoga akidah yang sudah dianut oleh keluarga besar Walisongo dan Alawiyyin ini bisa dipertahankan sampai hari kiamat baik bagi keturunannya maupun bagi umat Islam seluruh dunia.
Wallahu A’lam Bisshowab……………
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, KH Surajuddin, Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i, Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, Cetakan ke 17, 2010.
Al-Baqir, Muhammad, Thariqah Menuju Kebahagiaan, Pengantar Tentang Kaum Alawiyyin, Bandung: Penerbit Mizan, 1989.
Al Fattah, Iwan Mahmud, Hadramaut dan Hijrahnya keluarga Besar Walisongo, Jakarta: Penerbit Ikrafa & Madawis, 2014.
Al Husaini, Syaikh Hasan, Hasan & Husain-The Untold Stories, Penerbit Pustaka Imam Syafi’i, 2013.
Al Husaini, HMH Al Hamid, Sejarah Hidup Imam Jakfar Ash-Shoddiq, Semarang; Penerbit Toha Putra, 1985.
Al Husaini, HMH Al Hamid, Al Imam Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, Riwayat, Pemikiran, Nasihat dan Tarekatnya, Bandung: Penerbit Hidayah, 1999.
Al Mahsyur, Sejarah dan Silislah & Gelar Keturunan Nabi Muhammad SAW DI Indonesia , Singapura, Malaysia, Timur Tengah, India dan Afrika, Jakarta: Penerbit Saraz Publishing, 2010.
Anam, Fairuz Khoirul, Al Imam Al Muhajir Ahmad Bin Isa, Leluhur Walisongo dan Habaib Di Indonesia, Malang: Penerbit Darkah Media, 2010.
Al-Idrus, Novel bin Muhammad, Jalan Lurus - Sekilas Pandang Tarekat Bani Alawi, Sukakarta:Penerbit Taman Ilmu, 2006.
Azmatkhan, As-Syekh As-Sayyid Bahruddin , Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, Jakarta: Penerbit Madawis, Edisi II Vol 24, 2014.
Arrifa’i, Ibnu Assayuthi, Hubungan Antara Syaikhona Kholil Bangkalan & NU-Mengenang & Menghayati Perjuangan Sang Inspirator, Lirboyo: Penerbit Al Haula Press, 2012.
Fattah, Nur Amin, Metode Dakwah Walisongo, Pekalongan: Penerbit CV Bahagia, 1997.
Sumaith, Allamah Al Faqih Al Habib Zain Bin (alih bahasa Rijalul Khairat Team), Akidah Keluarga Nabi, Bekasi: Pustaka Al Khairat, 2011.

"28 NOVEMBER 1945, PERTEMPURAN LEGENDARIS TENTARA SEKUTU MELAWAN LASKAR HIZBULLAHNYA KOLONEL KH NOER ALI DI JEMBATAN KALI SASAK PONDOK UNGU BEKASI"

Diposkan tanggal 28 November 2015 di Fb Iwan Mahmoed Al Fattah

Hari ini tanggal 28 November 1945 setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, di Jakarta suasana mencekam juga terjadi karena Belanda berusaha datang untuk menguasai kembali. Pada bulan November turunlah mereka di pelabuhan Tanjung Priuk dengan peralatan perangnya yang bertujuan ingin merebut kembali Jakarta. Sebelumnya Sekutu sudah menggempur Surabaya, namun kedatangan mereka mampu dihadapi dengan heroik oleh arek-arek Suroboyo.
Kedatangan pasukan Sekutu yang didalamnya ada pasukan Belanda di Jakarta melalui Tanjung Priuk sempat dicegat oleh kelompok para ulama yang menamakan dirinya "Laskar Hizbullah" di bawah koordinator KH. Ahmad Mursidi, H. Darip, KH. Noer Ali dan para ulama beserta jamaahnya yang berkumpul di bilangan Matraman. Hal itulah yang membuat pihak Belanda melancarkan tembakannya ke arah para ulama dan jamaahnya. Dengan kalimat Takbir mereka maju tanpa takut sedikitpun. Belanda pun dibuat kewalahan. Berondongan peluru tidak mempan. KH. Ahmad Mursidi berteriak: "Masih ade lagi pelornye? Kalo abis, nih boleh Ente pungutin sendiri!" Belanda dibuat takjub dengan tangan kosong H. Darip membalikan mobil-mobil pengangkut tentara penjajah. Belanda merasa kewalahan, sekalipun demikian tetap saja kelompok ulama dan jamaahnya masih kalah jumlah. Akhirnya upaya membendung kedatangan Belanda sedikit alot. Karena pihak ulama dan jamaahnya merasa letih, pihak Belanda pun dapat memukul mundur sampai ke perbatasan Bekasi. Perburuan Belanda terhadap para ulama dan jamaahnya terjadi. Dan itu yang membuat Gerilya dari Laskar Hizbulloh yang imbasnya Jakarta tidak jatuh ke tangan Belanda untuk ke dua kalinya.
Fakta ini jelas menunjukkan jika para ulama telah menjadikan kawasan Matraman dan sekitarnya menjadi kawasan terpenting dalam perjuangan, dan ini seolah mengulang kembali ajang pertempuran bersejarah yang pernah terjadi beberapa ratus tahun yang lalu dikawasan ini. Tiga ulama ini memang dikenal merupakan ulama-ulama yang terkenal sangat keras dalam menghadapi penjajah.
KH Noer Ali adalah ulama besar bangsa ini, siapapun yang pernah membaca biografinya akan terkagum-kagum dengan sepak terjangnya dalam mempertahankan Kemerdekaan RI. Namanya semakin tenar ketika Bung Tomo selalu menyebut dalam beberapa orasinya di Radio Pemberontak dengan kalimat “Kyai Haji Noer Ali”. Sejak itulah namanya terkenal dengan nama “Kyai Haji Noer Ali”. Disebutnya nama Kyai Noer Ali oleh Bung Tomo menandakan bahwa kiprah perjuangan KH Noer Ali sangat diperhitungkan sepak terjangnya oleh berbagai kalangan. Jika Surabaya bergolak dan didalamnya terdapat peran serta ulama-ulama dan santri maka untuk wilayah Jakarta Raya nama seperti Kolonel KH Noer Ali bersama KH Ahmad Mursyidi, Haji Darip dan juga Guru Amin Kalibata mampu “menggetarkan” jagat perjuangan saat itu dengan “Laskar Hizbullahnya”. Jika sejarah mau jujur, perlawanan dari para ulama-ulama inilah yang nanti banyak memberikan pengaruh besar bagi mental pejuang untuk terus berjuang. Laskar Hizbullah memang pada waktu itu terkenal “Selon” dalam menghadapi penjajah. Modal mereka, doa, keberanian dan takbir, sehingga percaya diri mereka itu sudah tidak perlu diragukan lagi. Mati bagi mereka tidak masalah. Sehingga dengan keberanian seperti ini kadang banyak membuat fihak geleng-geleng kepala, seolah bingung kenapa para pejuang tersebut bisa “nekat”.
Pertempuran Kolonel KH Noer Ali yang sangat begitu heroik dalam melawan sekutu adalah tatkala beliau dan pasukan Hizbullahnya bertempur mati-matian mempertahankan Front terakhir di perbatasan Jakarta Bekasi pada tanggal 28 November 1945, 18 hari setelah perang besar 10 November 1945 di Surabaya. Pertempuran 28 November 1945 tepatnya berlangsung di Jembatan Kali Sasak di daerah Pondok Ungu Medan Satria Bekasi Barat (kebetulan dekat dengan rumah kami). Dalam pertempuran hidup mati ini, banyak saksi mata yang mengatakan jika pasukan KH Noer Ali kebal terhadap peluru, demikian pula KH Noer Ali, dengan bekal wirid-wirid yang pernah diajarkan oleh guru-gurunya, KH Noer Ali mampu menghidupkan keberanian para anak buahnya.
Begitu heroiknya pertempuran ini, sampai-sampai Chairil Anwar membuat sebuah Syair yang terkenal berjudul KARAWANG BEKASI. Pertempuran di Kali Sasak Pondok Ungu ini dapat dikatakan satu pertempuran terkeras dan tersengit di wilayah Jakarta Raya. Tidak heran pasca serangan besar-besaran yang ditujukan kewilayah Bekasi Karawang, kondisi menjadi luluh lantak seperti kondisi kota Surabaya. Sekutu sepertinya tidak puas jika belum membom wilayah Karawang Bekasi. Karawang Bekasi memang sangaja dihancurkan karena daerah ini merupakan lumbung beras terakhir untuk wilayah Jakarta, jika daerah ini hancur, maka logistik beras untuk rakyat Jakarta, otomatis terhenti. Namun sekalipun Karawang Bekasi hancur, perjuangan Pasukan KH Noer Ali dan juga Kapten Lukas (kelak beliau masuk Islam setelah menikah dengan istrinya yang muslimah) tetap menggelorakan perjuangan.
Dengan semangat jihad serta kelihaian Strategi Kolonel KH Noer Ali mampu menunjukkan kelasnya sebagai komandan tempur yang handal, bersama dengan Kapten Lukas, dua orang ini merupakan “buronan” penjajah Belanda, karena pasukan mereka terkenal alot dan cerdik dalam melakukan sergapan.
Sampai saat ini nama Kolonel KH Noer Ali begitu melegenda di daerah Bekasi. Kami sendiri adalah pengagum beliau dan Alhamdulillah masih sempat bertemu beberapa kali dengan beliau dalam acara-acara Maulid ataupun Haul yang sering diadakan Majelis-majelis di Jakarta pada dekade tahun akhir 80 dan awal 90an. Pada masanya, nama beliau banyak disebut-sebut penjajah Belanda. Seorang pakar sejarah Belanda bahkan pernah terkagum-kagum dengan beliau ini, pakar tersebut bahkan sempat berkata kepada Kyai Noer Ali, “ternyata seorang Kolonel Noer Ali bukan tentara yang gagah perkasa. Penampilan anda begitu bersahaja, bahkan sangat sederhana, malah pakai kain dan jubah, saya takjub dengan jati diri anda”. Kiprah dan kisah perjuangan Sang Kolonel yang Ulama bahkan pernah ingin dibuat oleh Dinas Sejarah TNI AD, namun karena Sang Kolonel tipikalnya rendah hati dan hati-hati, Sang Kolonel memberikan syarat, jika ingin membuat kisahnya, Dinas Sejarah TNI AD harus bersumber langsung darinya, dan Kolonel ingin melihat tulisan Dinas Sejarah tersebut, akur atau tidak dengan kisah sesungguhnya dari Sang Kolonel. Sampai wafatnya akhirnya kisah perjuangan beliau lebih banyak ditulis fihak lain daripada fihak militer, padahal Sang Kolonel sangat dikagumi banyak pejuang sepeti Jenderal Abdul Haris Nasution dan juga tokoh-tokoh besar lainnya.
Mengenai hubungan dengan Masjid Jami Matraman Dalam dan wilayah sekitarnya, tidak bisa dipungkiri bila hal itu memang ada, apalagi bila melihat data diatas. Dalam tulisan selanjutnya juga akan diketahui bahwa ilmu beladiri yang dimiliki Kolonel KH Noer Ali bersama Haji Darip Klender salah satunya berasal dari dari aliran SILAT MATRAMAN yang merupakan warisan dari putra dari Pangeran Diponegoro yang nantinya akan banyak memberikan warna pada perjalanan sejarah Masjid Jami’ Matraman Dalam dan sekitarnya.
Pada masa pendudukan Jepang (tahun 1942-1945) namanya sempat dimasukan ke dalam SHUMUBU yaitu Kantor Urusan Agama Jepang. Pada pertengahan April 1942, KH Noer Ali memenuhi undangan tentara Jepang menghadap pimpinan Shumubu yang berada dekat Masjid Jami’ Matraman Dalam Jatinegara Jakarta Timur (kemungkinan kantor ini sesudahnya menjadi rumah KH Wahid Hasyim). Ternyata dikantor ini KH Noer Ali bertemu dengan Muhammad Abdul Muniam Inada, pelajar Jepang yang menjadi temannya saat berada di Mekkah dan saat itu sudah menjadi ketua Shumubu. Saat itu secara resmi beliau diminta menjadi anggota Shumubu, namun dengan gaya diplomasi beliau bisa menghindarkan diri dari aktifitas Shumubu yang merupakan propaganda politik Jepang.
Keberadaan KH Noer Ali yang secara historis sangat dekat dengan wilayah Matraman dan sekitarnya tentu sangat membanggakan bagi masyarakat setempat. Perlu diketahui pada masa itu Masjid Matraman Dalam dan sekitarnya adalah masuk wilayah Jatinegara Jakarta Timur, sebelum nanti akhirnya dipecah dan menjadi daerah Jakarta Pusat. Pada masa itu Matraman dan sekitarnya adalah daerah pergolakan, tentu KH Noer Ali yang merupakan pejuang, intelektual, ulama, guru besar, sangat mengetahui persis tentang sejarah dari Masjid Jami’ Matraman Dalam dan sekitarnya, apalagi pada masa itu banyak penduduk atau ulama-ulama keturunan Matraman Dalam asli yang masih hidup, tentu interaksi beliau cukup baik.
Dalam perjalanan Majelis Taklim yang pernah kami ikuti di jalan Kimia yang diasuh oleh Al-Ustadz Ishak Usman, pada tahun 1988 – 1989 bahkan Kyai Noer Ali ini pernah diundang dalam acara kegiatan pengajian. Beliau datang dengan jubah hitam dengan ikat sorban dikepala (imamah) yang berwarna kuning dengan memakai tongkat. KH Noer Ali memang sangat karismatik dan berwibawa. Memang ciri khas beliau ini selalu memakai jubah, kadang hijau, kadang hitam, kadang putih. Dalam pengalaman kami bertemu beliau, memang beliau ini dimana-mana selalu ditunggu dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Kami termasuk fihak yang “kenyang” bertemu beliau, sehingga kami hafal ditempat mana beliau biasanya datang dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang diadakan ulama-ulama Jakarta, seperti Maulid Nabi, Haul, Isra Mi’raj, dll.

Setiap pertemuan dengan beliau, selalu saja kami mendengar tentang “keajaiban” kisah beliau dalam berperang melawan penjajah Belanda dan sekutunya. Sehingga itu menambah keinginan kami untuk lebih dekat melihat beliau. Ceramah beliau memang sangat bisa difahami dengan mudah, bahasa beliau cukup ringkas tapi penuh arti. “Singa Karawang Bekasi” ini secara tidak langsung telah memberikan warna keagamaan dalam hidup kami. Kami sendiri setahun yang lalu bahkan pernah berkunjung ke kediaman KH Amir Noer dan cucu beliau di Pondok Pesantren Ujung Harapan Bekasi dalam rangka penelitian nasab yang sesungguhnya KH Noer Ali. Penelitian kami lakukan karena kami ingin mengetahui siapa sebenarnya leluhur dari Pahlawan Besar ini. Bahkan dengan cucu beliau yang merupakan lulusan dari Zabid Hadramaut kami sempat melakukan wawancara cukup panjang, namun Sayangnya penelitian ini tidak kami lanjuti karena kesibukan-kesibukan yang tidak bisa kami tinggal.
Sampai akhir hayatnya, Sang Kolonel lebih banyak berkiprah didunia dakwah dan pendidikan. Beliau sepertinya lebih nyaman menjadi ulama ketimbang menjadi abdi pemerintah ataupun politikus. Nasehat gurunya (Syekh Ali Al-Maliki) saat di Mekkah sepertinya selalu terbayang dan terngiang, bahwa gurunya itu tidak akan pernah Ridho Dunia Akhirat jika mendengar muridnya ini menjadi abdi pemerintah. Sikap hormat dan patuh terhadap gurunya ini memang sudah banyak didengar oleh beberapa sahabatnya, sehingga tidaklah mengherankan jika mereka melihat KH Noer Ali kemudian menjadi ulama plus pendidik tangguh di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Sampai saat ini nama Sang Kolonel yang juga Kyai ini masih harum. Beruntunglah rakyat Bekasi mempunyai ulama yang dulu pernah mampu menghadapi penjajah dengan perlawanan hebatnya.....
KARAWANG BEKASI !!!
Sumber :
Al Fattah, Iwan Mahmud. Masjid Jami Matraman Dalam Dan Sekitarnya, Harta Karun Sejarah Jayakarta, Jakarta : Ikrafa, 2015, hlm 197 – 200

SEJARAH PENANGGALAN & TAHUN MASEHI DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMUJAAN DEWA TAHUN

Menyikapi adanya perayaan Tahun Baru kemarin dan adanya beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Tahun Masehi “berasal” dari tahun Islam, telah membuat kami tertarik untuk membahasnya, oleh karenanya untuk mengetahui semua itu kami mencoba untuk menggali lagi data sejarah mengenai hal tersebut.
Sebelum kami membahas tentang sejarah Tahun Masehi mungkin ada baiknya kita lebih dahulu mengetahui kenapa Umat Islam memunculkan dan membuat tahunnya sendiri yaitu TAHUN HIJRIAH, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab Ra. Ini penting kita ungkap agar nanti pemahaman kita terhadap Sejarah Tahun Masehi tidak bias. Kita juga perlu tahu, Khalifah Umar tentu tidak akan mudah atau sembarangan membuat Tahun atau Kalender Hijriah ini tanpa sebuah tim Sahabat yang faham akan ilmu penanggalan. Khalifah Umar sendiri adalah orang yang terkenal mampu berijtihad dalam menentukan sebuah produk hukum Islam. Beliau dengan dibantu oleh Sahabat-sahabat beliau seperti Sayyidina Ali, Sayyidina Usman serta sahabat lainnya yang mengerti Ilmu Falak mampu membuat terobosan terobosan hukum Islam yang fenomenal, yang saat Rasulullah SAW masih hidup belum pernah dilakukan seperti misalnya, Pembukuan Al-Qur’an, Sholat Tarawih berjamaah dan penentuan Kalender Hijriah ini.
Khalifah Umar sendiri menyusun Penangggalan Islam ini pada hari Rabu bulan Jumadil Akhir tahun 20 Hijriah yang jika dihitung secara hisab Istilahi jatuh pada hari Kamis yang bertepatan dengan tanggal 15 Juli 622 M. Penentuan Penanggalan atau Tarikh Islam ini dimulai dari tahun Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah Ke Madinah. Rasulullah SAW masuk desa Quba pada hari senin tanggal 8 Rabiul Awal, bertepatan dengan tanggal 20 September 622 M.
Adapun beberapa alasan Khalifah Umar bin Khattab Ra membuat Tahun atau Kalender Islam sendiri adalah sebagai berikut :
1.Membentuk persatuan di Tanah Arab dalam naungan Islam dengan menjadikan hijrah Rasulullah SAW sebagai permulaan awal kalender. Selama ini mereka sering menggunakan Tahun Gajah dan kadang peristiwa peristiwa besar lainnya dalam sejarah peperangan orang Arab. Kalau tahun tahun itu semua mengacu kepada tahun Jahiliah, Islam sudah menghapus segala yang sebelumnya. Hijrah adalah peristiwa besar dalam sejarah Islam, karena dari hijrah ini persatuan Arab justru menjadi kuat untuk menghadapi bangsa-bangsa lain seperti Romawi dan Persia. Dengan kata lain bahwa adanya Tarikh (Penanggalan) Islam ini telah menjadikan spirit persatuan seluruh bangsa Arab untuk bersatu melawan kedua bangsa itu yang selama ini telah menjajah bangsa Arab secara semena-mena. Pada masa Khalifah Umar inilah bangsa Arab bisa dipersatukan dalam naungan dan nilai-nilai Islam termasuk dalam penentuan Tarikh Islam.
2.Setelah Khalifah Umar membandingkan kalender Hijriah ini dengan kalender Persia dan Romawi, ternyata kalender Hijriah ini menurut Khalifah Umar lebih Cemerlang. Kalender Hijriah menurut Umar lebih bisa menerjemahkan suatu peristiwa terbesar dalam sejarah dunia. Ini menandakan jika Umar sangat mengetahui kelemahan-kelemahan yang mendasar dari keberadaan tahun-tahun yang digunakan oleh bangsa Persia dan Romawi, terutama penggunaan kalender Masehi. Sekaligus membuktikan bahwa Khalifah Umar juga sangat faham akan adanya Ilmu Falak.
3.Dengan adanya Kalender Hijriah Khalifah Umar lebih bisa menjalankan kebijakan dalam menghadapi persoalan negara yang dalam perkembangannya yang berubah-ubah begitu cepat, dengan selalu mencari yang dipandangnya lebih baik dan lebih praktik untuk mencapai tujuan.
Setelah kita mengetahui latar belakang munculnya Tarikh Islam yang salah satu pencetusnya adalah Khalifah Umar bin Khattab, maka selanjutnya kita perlu mengetahui bagaimana sebenarnya sejarah Tarikh Masehi itu hingga Khalifah Umar akhirnya memutuskan meninggalkannya dan lebih menggunakan Tahun Hijriah untuk pemerintahannya dan juga khususnya bagi umat Islam. Oleh karenanya marilah kita pelajari apa sebenarnya wajah dari Tarikh Masehi ini.
Sebagaimana status kami yang sebelumnya pernah diupload di Facebook kami, bahwa perayaan tahun baru itu identik dengan perayaan Dewa Janus yang didalamnya penuh denga pemujaan-pemujaan terhadap berhala (Paganisme) yang dulu dilakukan bangsa Yunani dan Romawi, maka dibawah ini kami akan mencoba membeberkan secara rinci apa sebenarnya dari isi penanggalan Masehi ini, agar kedepannya kita tidak mudah untuk “latah” dan ikut-ikutan dalam memperingati perayaan suatu kaum yang belum tentu sesuai dengan ajaran Islam. Kalau Khalifah Umar bin Khattab saja meninggalkan Tarikh Masehi tentu ada alasan yang kuat tindakan beliau itu, mengapa kita malah “balik kandang” ke zaman Yunani dan Romawi Kuno ?
Dalam sejarahnya terutama bangsa Yunani, setahun dibagi dalam sepuluh bulan. Sebulan 35 hari dan setiap bulan dikuasai dewa masing-masing.
1.Maret, bulan Dewa Mars, Dewa Perang. Pemujaaan Dewa Mars biasanya dilakukan kaum Bangsawan.
2.April, Aprilia berarti berkembang atau terbuka. Pada bulan April terdapat pesta muda-mudi. Amor atau Aphrodite dipuja pada pesta itu.
Pada tanggal 21 April ada pesta Pahila yang ditujukan kepada Dewi Pales, Dewi Penggembala dan pertanian. Para peternak beramai-ramai memohon perlindungan kepadanya agar semua ternak mereka bebas dari gangguan srigala. Pada masa itu kandang-kandang ternak dibersihkan, ternak dimandikan dengan upacara tertentu, lalu dinyalakan api pengorbanan yang terbuat dari campuran belerang, buah cemara kering, daun salam berikut ranting-rantingnya yang kering dan saribunga mawar. Sajian khas untuk Pales adalah susu, anggur, dan arak. Selain Dewi Pales, dipuja pula Terminus, Dewa Batas Ladang dan Pertanian. Pemujaan Terminus ini baru terkenal pada akhir agama Kultur Romawi dan Yunani.
3.Mai, bulan dari Dewi Maia anak Dewa Atlas. Maia adalah Dewi Musim Bunga, kekasih Dewa Yupiter. Untuk Maia dikurbankanlah seekor babi betina.
Pleiades adalah tujuh orang anak Atlas yang dijadikan bintang bintang. Bintang bintang ini tampak jelas pada bulan Mai. Pleiades dinamakan pula Vergiliae yang artinya bintang pohon pohonan.
4.Juni, bulan untuk Juno, Dewi Pelindung Kaum Lemah, terutama kaum perempuan.
5.Quintilia, berarti bulan kelima. Menurut sebagian kepercayaan rakyat Romawi, bulan ini dikuasasi lima orang Dewa Penentu Nasib.
6.Sextilia, berarti bulan keenam.
7.September, berarti bulan ketujuh.
8.Oktober, berarti bulan kedelapan.
9.November, berarti bulan kesembilan
10.Desember, berarti bulan kesepuluh. Pada tanggal 25 Desember terdapat pesta besar yang ditujukan pada Jupiter sebagai pengganti Mithra.
Pada masa perubahan penanggalan Romawi, setahun dibaginya menjadi dua belas bulan.
1.Maret atau Marat, bulan Dewa Mars. Ia adalah dewa panji-panji pahlawan bangsa dan dewa perang yang gagah berani. Dalam nyanyian pahlawannya berbunyi : “Hanya padamulah hai Dewa pelindung tanah air, sajian ini kupersembahkan. Hanya kepadamulah hai Dewa Bulan kurban kusajikan. Kujaga namamu dengan percikan darahku. Kujaga panji-panji merahmu sepanjang masa”. Dalam sejarah Romawi, bahwa pada zaman Julius Caesar telah dikurbankan dua orang prajurit untuk Dewa Mars pada bulan Maret.
Pada masa Paus Gregorius XIII, penangggalan Romawi yang semula almanak Yulian dimulai tanggal 21 Maret telah dirubah pada tahun 1586 M. Penanggalan Romawi diambil alih gereja dan dinamakan Penanggalan Masehi termasuk juga sisa-sisa Romawi seperti lambang-lambang, pesta-pesta, hari raya dan istilah istilah, juga tidak ketinggalan pada ilmu perbintangannya.
2.April, bulan khas pemujaan Dewa Amor dan Dewi Nasib baik Fortuna.
3.Mai, bulan untuk Maia anak Dewa Atlas.
4.Juni, bulan untuk Juno.
5.Juli, bulan yang dipersembahkan demi kemuliaan dan kebesaran Julius Cesar.
6.Augustus, bulan yang dipersembahkan demi kemuliaan dan kebesar Kaisar Augustus.
7.September, berarti bulan ketujuh.
8.Oktober, berarti bulan kedelapan.
9.November, berarti bulan kesembilan.
10.Desember, berarti bulan kesepuluh.
11.Januari, atau Januarius. Januari berarti pintu. Nama bagi bulan pertama setelah bulan kesepuluh yang diberikan oleh Raja Numa Pompilius. Janus atau Janu adalah Dewa Khas Romawi yang semula berasal dari nama seorang dewa Bangsa Skyth. Janu dianggap sebagai anak Apollo dari Dewi Creusa. Ia memerintah dengan adil di Latinus. Pada masa Saturnus terusir, Saturnus diterima Janus dengan tangan terbuka. Janus dipuja sebagai Dewa Perdamaian dan Keamanan yang memerintah di langit dan bumi.
Janus yang kedudukannya disamakan dengan Juno, pada sebelah tangannya memegang kunci dan sebelah lagi memegang tongkat. Di lain fihak Dewa Janus dianggap sebagai Dewa pembangkit perselisihan dan peperangan, sehingga ia diberi sebutan “dewi”, karena menurut pepatah Romawi : “ Hanya perempuanlah pembangkit perselisihan dan peperangan itu.”

Karena Janus mempunyai sifat yang bertentangan itu, ia disebut Janus Bifrons, yaitu Janus bermuka dua, sebelah menghadap ke Barat dan sebelah lagi menghadap ke Timur. Janus Quadifrons adalah Janus bermuka empat.
Raja Numa Pompilius mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Janus yang pemujaannya dilakukan pada tanggal 1 Januari, tahun baru pintu tahun.
12.Februari. Berasal dari kata Februarius. Yaitu pengampunan atau penebusan dosa. Banyak cerita tentang anak-anak Dewa yang dilahirkan seorang Ibu Perawan, berjuang lalu mati terbunuh dan dengan darahnya ia menebus dosa umat. Kemudian bangkit kembali dan naik bertanya kepada Yupiter.
Menurut salah satu Pendeta Romawi : “ Di dunia atas mengalirlah sungai Fiber, Sungai Pengampunan yang dijaga dewa dewa langit setiap saat. Sungai itu berpintu tujuh lapis dari batu karang. Airnya mengalir dari sela-sela batu karang ke dalam sebuah danau pengampunan. Di tepinya berdirilah Dewa Fiber memegang tongkat dan bunga. Jika seorang hero (anak dewa dan manusia) penebus dosa mati dimandikanlah hero itu dan ditaburkannya bunga, sehingga hero itu bangkit kembali tepat pada pertengahan bulan Februari (Mitologi Grik dan Rum). Orang Romawi merayakan tanggal 15 Februari dengan pesta pengampunan atau Lupercalia, yaitu hari perlindungan terhadap srigala. Dalam arak-arakan itu para pemuda memakai topeng kulit binatang. Untuk pemujaan dua belas dewa pemegang dua belas bulan itu, diluar kota Roma didirikan dua belas tempat pemujaan.
Dari paparan diatas, kesimpulanya sudah sangat jelas bagaimana sebenarnya perjalanan penanggalan Masehi itu, dari mulai penanggalan masa Yunani kemudian Penanggalan Romawi sampai kepada masa Paus Gregorius XIII yang akhirnya dinamakan PENANGGALAN MASEHI.
Pada masa tumbangnya kekuasaan Romawi Timur oleh pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Umar telah dahulu membuat terobosan jenius dengan membuat Penanggalan Hijriah dengan metode ilmu falak yang sesuai dengan nilai-nilai Syar’i dan ini 964 tahun lebih awal dari Paus Gregorius XIII yang baru menetapkan penanggalan atau tahun Masehi di angka 1586. Pada masa tahun 1586 inilah seperti yang kita ketahui Eropa sedang melakukan penjajahan besar-besaran di berbagai wilayah dunia termasuk Indonesia yang saat itu diwakili oleh kekuatan Kerajaan Katolik Portugis dan kemudian dilanjutkan oleh kekuatan Kerajaan Protestan Belanda dengan lembaga berkedok dagang yaitu VOC.
Selama waktu 964 tahun itu Islam telah berhasil melakukan ilmu penanggalan tersendiri. Ilmu Penangggalan yang berkaitan dengan penelitian terhadap perjalanan benda langit diangkasa telah memperoleh hasil yang gilang gemilang dan puncaknya adalah pada masa Khalifah Ma’mun dinasti Abbasiah yang membangun observatorium di Damaskus pada tahun 227 H atau 842 M. Kemudian juga berlanjut pada tahun 657 H / 1259 Nashiruddin At-Thusi atau perintah Hulagu Khan juga membangun sebuah observatorium di daerah Ajarbaizan, kemudian disusul oleh Ulugh Beik yang membangun Observatorium di Irak pada tahun 863 Hijriah/1459 M. Dengan pesatnya penelitan para ilmuwan Islam terhadap perjalanan benda langit, perkembangan dan peradaban Islam semakin pesat, dan ini kemudian sangat berpengaruh besar dalam perjalanan ilmu yang berkaitan penanggalan hijriah termasuk dalam menentukan awal dan akhir bulan dengan menggunakan metode Hisab.
Jadi bila ada pendapat yang mengatakan bahwa penanggalan Masehi “berasal” dari Islam, berarti dia tidak melihat fakta sejarah yang ada diatas ini, kalau memang penanggalan Yunani, Romawi atau katakanlah Masehi itu memang dari Islam sudah tentu Khalifah Umar bin Khattab akan lebih dahulu memakai ketiga sistem penanggalan tersebut, faktanya penanggalan Masehi justru baru digunakan pada tahun 1586 setelah mengadopsi penanggalan Romawi yang justru bulan-bulannya banyak terdapat budaya-budaya paganisme. Sedangkan Islam dalam masa sebelum tahun 1586 telah banyak mengadakan penelitian dan membuat observatorium yang mandiri dalam menentukan penanggalan hijriahnya dan itu semua bersumber dari Al-Qur’an, Hadist dan Pendapat Para Ulama (Ijithad) yang mengerti tentang dunia penanggalan atau ulama yang mendalami Ilmu Falak. Di Indonesia sendiri salah satu tokoh yang terkenal dan patut kita banggakan dalam Ilmu Falak adalah Guru Mansur Sawah Lio.
Ini saja dulu kajian yang bisa kami berikan, semoga dengan kajian ini semakin membuat kita terbuka dan semangat dalam mempelajari sejarah Islam yang sesungguhnya.
Wallahu A’lam Bisshowab....
Sumber :
Haekal, (Terj. Ali Audah). Umar bin Khattab-Sebuah Telaah Mendalam Tentang Pertumbuhan Islam Dan Kedaulatannya Pada Masa itu, Jakarta : Penerbit Litera Antar Nusa, 2000, hlm 642 – 643.
Marzdedeq. Parasit Akidah-Perkembangan Agama-Agama Kultur dan Pengaruhnya terhadap Islam di Indonesia. Jakarta : Syamil Cipta Media, hlm 230 – 233, 246.
KH Abdul Karim & Rifa Jamaluddin Nasir. Mengenal Ilmu Falak-Teori Dan Implementasi, Yogyakarta : Qudsi Media, 2012, hlm 23 – 24.
KH Fattahillah. Metode Perhitungan Awal Bulan Komariah - Sistem Sullamunnirain KH Muhammad Mansur, Jakarta : Lembaga Falakiah – Hisabiah Al Mansuriah, 1431 H/2010 M, hlm 4.