Kamis, 10 September 2015

PENGGUSURAN KAMPUNG PULO SOLUSI BANJIR ? DUKA NESTAPA &TANGIS PEDIH RAKYAT KECIL JAKARTA TERHADAP AROGANSI PENGUASA

"Turut Berduka Cita atas penindasan yang dilakukan Penguasa Jakarta Kepada Rakyat"

Miris saya mendengar telah terjadinya bentrok antara fihak Pemda DKI dengan warga Kampung Pulo Kampung Melayu Jakarta Timur yang terjadi pada hari ini (Kamis, 20 Agustus 2015). Sepertinya untuk menyelesaikan sebuah masalah, kekerasan selalu menjadi sebuah jalan keluar yang “terbaik” menurut sudut pandang pemerintah. Pengerahan Satpol secara besar-besaran dengan didukung aparat keamanan sepertinya merupakan “jurus jitu” untuk menundukan rakyat jelata yang tinggal didaerah yang “mereka” anggap tidak layak dan katanya “mengganggu” lingkungan, ironisnya pada satu sisi sangat jarang saya mendengar kalau pengerahan besar-besaran seperti ini ditujukan kepada fihak golongan kaya yang tinggal dipemukiman-pemukiman elit, padahal pemukiman tersebut telah merusak dan menghancurkan lingkungan serta ekosistem yang ada. Stratifikasi sosial sepertinya telah menjadikan pemerintah “tebang pilih” dalam menjalankan setiap “operasinya”. Mirip dengan perilaku Kumpeni Belanda dulu terhadap rakyat miskin. Dengan angkuhnya penjajah Kumpeni Belanda itu menindas rakyat jelata, namun terhadap Tuan-tuan tanah Penjajah Belanda sangat memanjakan betul mereka itu. Rakyat Pribumi seperti tidak berada di negerinya sendiri...dan itu kini terjadi sekarang!

Penggusuran dengan alasan apapun pada dasarnya sangatlah tidak manusiawi dan tidak beradab. Saya berani mengatakan seperti ini karena cara-cara yang dilakukan para penggusur tersebut bila kita lihat secara kasat mata cenderung sangat melukai perasaan rakyat kecil. Akibatnya dengan adanya perilaku seperti itu semakin membuat adanya jarak antara “si miskin” dan “si kaya” atau “si lemah’ dan “si kuat”. Kalau memang ingin mengadakan sebuah penggusuran, apakah tidak ada cara yang lebih beradab dan bermartabat ? sudah putus asakah mereka yang menjadi penguasa, sehingga tidak ada cara yang lebih elegan dalam menyelesaikan masalah seperti ini ?  Pendekatan “kerakyatan” dulu yang pernah dilakukan pada saat kampanye politik sepertinya tidak berlaku lagi bila untuk masalah penggusuran, dulu begitu butuhnya mereka para pemimpin itu pada rakyat, kini justru malah menyakiti rakyat. Ingat bung, ini Jakarta, kota yang penuh dengan sejarah yang panjang. Jangan pernah menyakiti rakyat kalau anda tidak ingin menyesal.

Saya bukan anti terhadap pemerintah DKI, tapi jika mereka selalu memakai cara-cara kekerasan seperti ini apalagi untuk masalah sosial, itu sama saja mereka akan menciptakan bom waktu yang mungkin sangat mengerikan bila terjadi. Kita tentu masih ingat bagaimana dulu Peristiwa penggusuran Makam Mbah Priok yang berakhir dengan kekerasan yang cukup “mengerikan” bukan?. Kalau penggusuran untuk alasan mencegah banjir, kenapa tidak dimulai dari hulunya dulu?  Permasalahan banjir ini sangat kompleks, namun demikian, sekalipun masalahnya komplek perlu ada sebuah skala prioritas, maka menurut saya skala prioritasnya adalah dimulai dari Hulu dulu dengan mengadakan kerjasama yang baik, bukan justru dari hilirnya dulu seperti yang dilakukan pada Kampung Pulo yang jelas-jelas berada di pusat kota (hilir), mau ditanggulangi seperti apapun, tetap saja masih sangat berpotensi besar untuk banjir, karena posisi tanahnya memang sudah rendah, dengan posisi tanah Jakarta yang seperti ini, tetap saja bahaya banjir akan selalu mengintai. Justru saya sendiri sangat malu pada diri sendiri kalau melihat perjuangan penduduk Kampung Pulo itu bertahan dari bahaya banjir (apa pemimpin Jakarta yang sekarang sudah berbasah-basah ria masuk kelorong kampung ini pada saat banjir besar ? ). Di satu sisi kita hanya bisa menyalahkan mereka kenapa mereka tinggal disana, padahal mereka itu sudah tinggal berpuluh-puluh tahun yang lalu dan hanya bisa memilih tinggal di tempat itu karena keadaan.

Kalau ingin melihat sesuatu lebih baik janganlah kita semua melihat dari sudut pandang kita saja, terutama pemerintah DKI Jakarta ini. Setiap permasalahan sosial di DKI tidak harus diselesaikan dengan cara AROGAN dan SARAT AKAN KEKERASAN. Kalau setiap masalah sosial seperti penanggulangan banjir diselesaikan dengan cara penggusuran apalagi disertai dengan kekerasan, plus diiringi dengan pengerahan besar-besaran Satpol dan aparat keamanan, pertanyaannya adalah, apakah Jakarta ini “medan perang”?. Tentu dengan adanya pengerahan seperti ini, rakyat pun akan mudah terpancing karena terbakar hatinya, mereka tentu sangat marah karena ditindas oleh adanya keangkuhan penguasa Jakarta ini. Memang kita tahu Jakarta ini membutuhkan kepemimpinan yang tegas dan disiplin dalam setiap hal, tapi itu bukan berarti si pemimpin jadi semena-mena dan mentang-mentang baik dari keputusan ataupun mulutnya. Pendekatan terhadap rakyat itu harusnya ambil hati mereka mas, bukan menunjukkan arogansi dan merasa paling benar, rakyat itu berfikirnya normal-normal saja kok, untuk urusan hukum mereka itu lugu dan tidak neko-neko, yang penting bagaimana mereka itu tidak terganggu akan hajat hidupnya. Penggusuran jelas sangat menggangu  hajat hidup mereka. Jangan karena anda  itu “berkuasa” dan “menang” terhadap hukum di Jakarta ini, semua bisa dilibas, semua harus tunduk, semua harus memaklumi, semua harus mendengar. Ini negeri Jakarta bung, negeri yang dahulunya merupakan wilayah yang damai dan penuh dengan toleransi kepada siapapun, negeri ini panjang sejarah perlawanannya terhadap tirani, jangan sakiti mereka para rakyat Jakarta, karena sekali anda menyakiti mereka, tunggulah, cepat atau lambat anda akan jatuh, ingat bung penguasa, sejak dahulu negeri Jakarta ini tidak pernah tunduk terhadap penguasa yang arogan dan zalim, siapapun dia....Ingat bung, kami dulu punya Pendekar Pitung yang pernah melawan kezaliman para penguasa dan tuan-tuan tanah budak penguasa, bukan tidak mungkin kalau anda sebagai penguasa masih terus bertahan dengan gaya arogan anda, akan muncul Pitung-Pitung baru yang lebih keras dari Pitung-Pitung yang dahulu dalam menghadapi kezaliman anda....

Jakarta, 20 Agustus 2015

Iwan Mahmud Al-Fattah (Pemerhati Sejarah Jakarta)

ENTONG GENDUT DARI CONDET DAN KISAH KEMATIANNYA BERDASARKAN KITAB AL-FATAWI (Pejuang Jayakarta Di Wilayah Front Timur)

Hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2015 Kemarin, saya menghadiri Lebaran Betawi yang diadakan oleh Komunitas Ciliwung Condet Jakarta Timur, sebuah Komunitas yang mempunyai kepedulian akan lingkungan sungai dan lingkungan Condet. Dalam acara tersebut telah banyak hadir para sesepuh Condet dan juga beberapa tokoh teras Bamus Betawi termasuk Haji Oding, Bang Biem Benyamin juga Ibu Sylvia Murni dan beberapa undangan dari Dzurriyah Kesultanan Banten.

Bagi saya sendiri Condet bukanlah sebuah tempat yang asing, karena sejak tahun 80an wilayah ini sering saya datangi, puncaknya adalah ketika pada tahun 1989 – s/d 1995 saya rajin datang berziarah kerumah  Habib Umar bin Hud Al Attas untuk minta didoakan dengan berbagai hajat. Disamping itu saya juga rajin menghadiri maulid-maulid seperti kediaman Alhabib Syekh Al-Jufri di depan Masjid Al-khairat, Al-Habib Husein bin Ali Al-Attas di Gang Buluh, Alhabib Abdul Qodir Al Haddad Al Hawi, di Majlis Kebajikannya KH Sasi Cililitan. Condet semakin melekat di hati saya ketika akhirnya saya selama 11 tahun ini telah mencari nafkah di daerah ini  dengan mengajar di salah satu sekolah Islam yang berada di wilayah Bale Kambang, tepatnya yang berada disamping Gang Pangeran. Di Condet ini bahkan saya pernah berkunjung dan silaturahim ke kediaman Penulis Handal Jakarta yaitu Almarhum Firman Muntaco dan bahkan pernah ngobrol-ngobrol dengan anak beliau yang bernama Mpok Fifi Firman Muntaco yang meneruskan jejak perjuangan Babe Firman ini..

Bagi saya sisi yang menarik dari Condet adalah sejarah panjangnya. Condet adalah merupakan daerah yang cukup unik, dari sebuah daerah yang dulunya merupakan pinggiran Jakarta kini menjelma menjadi sebuah daerah yang sarat akan nilai-nilai perkotaan. Beberapa hal yang menurut saya cukup menonjol dari Condet adalah Karakter Islamnya. Sampai saat ini Islam di tanah Condet masih bertahan dengan baik, sama baiknya seperti daerah tetangga lainnya seperti Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Tentu bertahannya Islam di Tanah Jakarta yang satu ini menjadi sebuah pertanyaan yang menarik bagi kita semua. Jawaban itu sebenarnya bisa kita dapati kalau saja kita mau keliling dan mempelajari sejarah tokoh-tokoh pada masyarakat Condet ataupun Tanjung Barat.  Di Condet ini sebenarnya banyak makam-makam bersejarah dari tokoh-tokoh besar pada masa lalu seperti Makamnya Datuk Ibrahim dan kakeknya yang datang kurang lebih 300 tahun lalu. Beliau ini adalah keturunan Maulana Malik Ibrahim (Walisongo) yang berdakwah di tanah Condet. Salah satu Situs yang juga pernah saya dengar riwayatnya adalah keberadaan wilayah Pesantren Tapak Sunan. Daerah ini dahulunya merupakan salah satu wilayah yang pernah dikunjungi Fattahillah dan beberapa Wali dalam rangka dakwah Islamiah. Sehigga sangat wajar jika pemimpin pondok pesantren ini memberikan nama TAPAK SUNAN.

Di samping  itu, Condet juga dulu pernah bermukim seorang tokoh besar Pejuang Dan Pemimpin Jayakarta yang bernama Aria Wiratanudatar. Aria Wiratanudatar ini adalah pemilik tanah-tanah Condet dan Tanjung Barat (termasuk gedung tinggi yang berada dipertigaan Rindam-TB Simatupang) sebelum dirampas oleh Penjajah Belanda karena Aria Wiratanudatar diketahui mengkoordinir pejuang Jayakarta untuk melawan penjajah, hingga menyebabkan beliau akhirnya hijrah di Cianjur Jawa Barat dan menjadi Adipati Cianjur. Beberapa rekan kerja saya di Condet juga bahkan mengatakan bahwa di Condet masih ada beberapa situs dan makam tua dari beberapa tokoh masa lalu yang terjepit pada beberapa rumah penduduk. Hanya saja saya belum sempat mengadakan penelitian ke makam-makam tersebut.

Hal lain yang juga tidak kalah menarik adalah bahwa Condet ini dahulunya terkenal sebagai penghasil buah-buahan terbaik di Jakarta khususnya salak condet. Sampai saat ini bekas-bekas pohon salak masih bisa kita temukan dipinggir-pinggir sungai Ciliwung dan beberapa tanah warga yang belum dibangun perumahan. Kehidupan lain yang masih bisa kita temukan adalah pembuatan makanan tradisional seperti Emping Condet, Dodol Condet, Geplak dan makanan-makanan khas Jakarta lainnya.

Pada perayaan Lebaran Betawi di Condet 2015, terus terang saya seperti memasuki masa-masa tahun 80an saja, saat saya masih remaja, dimana dulu masih dapat saya tenemukan lingkungan yang asri dan budaya-budaya Jakarta yang khas. Tanah Jakarta termasuk Condet saat itu masih hijau dan rindang, bahkan sampai saat ini masih ada beberapa tempat di Condet yang masih bertahan dengan keasriannya, salah satunya tanah dimana tempat yang menjadi markasnya Komunitas Ciliwung Condet ini. Dahulu menurut ayah saya yang pernah ke Condet tahun 1955, Condet benar-benar masih sangat desa banget. Kebetulan ayah saya bersama rombongannya pernah silaturahim kepada beberapa tokoh Condet dan Tanjung Barat untuk sekedar “adu maenan” dan “tuker-tukeran ilmu”. Menurut beliau aspal baru sampai Cililitan saja, setelah itu masuk Condet masih jalan setapak yang betul sangat alami. Condet menurut beliau sangat jauh keadaanya dengan Pasar Senen Jakarta Pusat yang sudah dipenuhi dengan kehidupan kota. Menurut beberapa orangtua yang ada di Condet, Condet itu memang daerah yang sangat bersahaja dan sarat akan nilai-nilai pertaniannya. Dan mereka itu sangat ramah terhadap pengunjung luar, setiap rumah bahkan selalu didepan terasnya disediakan gentong air untuk para musafir yang kelelahan. Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain cukup berjauhan, namun nilai-nilai silaturahimnya tetap kuat, apalagi saat itu keberadaan ulama sangat menonjol seperti misalnya pada sosok karismatik yaitu Habib Muhsin bin Muhammad Al-Attas (tokoh yang pertama mendirikan Masjid Al-Hawi yang berada di Ujung Cililitan Jakarta Timur) pada awal-awal tahun 20an. Tidaklah mengherankan bila pada tahun 50 sd 70an banyak kalangan Habaib dan arab lainnya yang berasal dari Tenabang, Pekojan,  Kwitang, Karet, banyak  memilih pindah ke Condet karena memang lingkungannya yang menyenangkan dan Islami.

Kecintaaan akan Condet bahkan bertambah saat saya mendengar kisah kepahlawanan salah seorang Mujahid Condet yang bernama Entong Gendut. Nah berawal dari kehadiran saya di Lebaran Betawi 2015 inilah saya tertarik ingin mengangkat kembali Sejarah Entong Gendut tersebut. Kenapa saya tertarik mengangkat kisah perjuangan Entong Gendut ini ? karena  pada saat pameran foto tokoh-tokoh Condet klasik hingga pada masa sekarang kemarin, saya belum menemukan sosok Entong Gendut berada pada jajaran tokoh-tokoh tersebut. Sedangkan saat saya berkunjung di Museum Muhammad Husni Thamrin di Kenari Jakarta Pusat, nama Entong Gendut masuk sebagai Pahlawan Jakarta lengkap dengan lukisannya yang berkarakter tegas. Nama Entong Gentong bahkan di Museum ini disejajarkan dengan Muhammad Husni Thamrin, Ismail Marzuki, Letkol Imam Syafi’i, Benyamin S dan beberapa tokoh Betawi lainnya.

Siapa sebenarnya nama Entong Gendut ini ?

Berdasarkan beberapa literatur yang saya baca, Entong Gendut ini digambarkan sebagai sosok yang pemberani dalam melawan kezaliman dan kesewenang-wenangan Tuan Tanah yang didukung oleh Penjajah Belanda.  Dinamakan Gendut karena perawakannya agak gemuk. Panggilan Entong sendiri merupakan panggilan akrab kepada yang muda pada masa itu. Di beberapa wilayah seperti Pondok Gede dan Bekasi, panggilan Entong ini bahkan masih sering saya dapati. Bahkan salah seorang orangtua sahabat saya, kalau ketemu saya selalu memanggil saya Entong...

Keberadaan atau kisah Entong Gendut ini dapat saya katakan sangat minim referensinya dalam sejarah Jakarta, namun bagi orangtua di Condet yang usianya diatas 70 tahun, nama yang satu ini sangatlah melekat dihati mereka. Entong Gendut sendiri kisahnya sudah masuk dalam Forklore (cerita rakyat). Itu artinya keberadaan beliau sudah diakui masyarakat Jakarta baik secara fakta maupun legenda, jadi sangatlah mengherankan jika ada warga Jakarta, apalagi mereka yang senang akan sejarah tidak mengenal sosok Entong Gendut ini.

Entong Gendut memang sosok yang misterius dan cukup menarik untuk dilacak sejarahnya. Beberapa tahun lalu untuk melacak jejak dirinya, saya pernah mendengar jika beliau ini punya keturunan yang tinggal di sekitar Gang Pangeran di samping SMA Global Islamic School. Memang jika saya melihat Gang Pangeran ini masih ada beberapa peninggalan rumah betawi Tua, yang satu berada di samping mushola yang satu dipinggir jalan Gang Pangeran. Insya Allah ke depannya saya akan mencoba mencari jejak keturunan Entong Gendut ini.

Dalam perjalanan hidupnya Entong Gendut adalah sosok pembela rakyat Condet yang telah lama ditindas secara semena-mena oleh Tuan Tanah dan antek-anteknya. Tuan Tanah dari bangsa asing ini serta penjajah Belanda banyak berbuat zalim dengan cara membuat pajak tanah dan pajak tanaman dengan nilai uang yang sangat  tinggi, bahkan mereka tidak segan-segan merampas secara sefihak tanah-tanah pertanian rakyat.  Tanah Condet pada masa lalu memang sangat makmur dan menjanjikan bagi para pemiliknya, apalagi daerah ini merupakan dataran tinggi yang aman dari wilayah banjir serta jauh dari pengawasan pemerintahan Penjajah Belanda yang berada dipusat kota seperti daerah Jakarta Pusat yang sekarang ini.

Perlawanan para pemuda dan pejuang Jakarta terhadap para Tuan Tanah dan Penjajah pada masa lalu memang kebanyakan berawal dari masalah pertanahan. Sejak dahulu masalah tanah selalu menjadi gejolak antara si kaya dan si miskin, antara rakyat dan penguasa. Tanah-tanah rakyat inilah yang akhirnya selalu menjadi penyebab timbulnya perjuangan. Tanah yang harusnya menjadi milik pribumi, justru telah dirampas dan dimiliki oleh Tuan Tanah dari Bangsa Asing. Ironisnya Tuan Tanah dari Bangsa Asing ini banyak juga dibantu oleh para penghianat yang rela mengorbankan darah saudaranya sendiri demi kepuasan harta dunia. Rakyat seperti bukan hidup di negerinya sendiri. Mereka seperti tamu di negerinya sendiri, bangsa asinglah yang justru menjadi Raja. Rakyat betul-betul menderita dan itu juga dialami oleh Entong Gendut. Sekalipun rakyat dicekam ketakutan oleh tindak tanduk Tuan Tanah dan Penjajah Belanda,  namun hampir semua rakyat Condet sangat mendukung dan simpati terhadap perjuangan Entong Gendut ini,  walau mereka hanya bisa mendukung melalui doa. Rakyat memang tidak bisa membantu langsung perjuangan Entong Gendut itu karena mereka selalu  dicekam ketakutan karena telah terus menerus mendapatkan ancaman intel-intel dan pasukan Belanda yang terus mencari keberadaan Entong Gendut dan kawan-kawannya.

Perlawanan Entong Gendut sendiri muncul setelah redupnya perlawanan Pendekar Pitung, dimana satu persatu anggotanya Syahid dan gugur ditangan penjajah Belanda.

Dalam beberapa riwayat, dan ditulis yang kami ketahui beberapa tahun lalu, Perlawanan Entong Gendut ini tidak lama karena keburu “gugur” oleh Penjajah Belanda. Nah pada sisi inilah saya ingin  menjelaskan sejarahnya lebih dalam lagi. Pada beberapa versi yang pernah kami ketahui, Entong Gendut ditulis gugur pada tahun 1916 Masehi setelah tertembak ditepi sungai Ciliwung. Versi kedua Entong Gendut “naas” karena menyalahi pantangan ilmunya yang tidak boleh menyeberangi sungai, sehingga ia akhirnya tertembak dan tewas. Versi ketiga Entong Gendut Gendut terjebak di tepian sungai Ciliwung dan ditembaki oleh pasukan Belanda, namun beliau dikatakan kebal dan tahan peluru, namun akhirnya menyerah karena kalah jumlah, kemudian dia memberi tahu kelemahan ilmu yang dimilikinya. Versi keempat beliau tertembak dan tewas kemudian mayatnya dibawa ke Cililitan namun kemudian ternyata hilang, kemudian tidak lama kemudian terdengar bahwa beliau “hidup” dan muncul di Purwakarta Jawa Barat.

Dari sekian versi tersebut, semua rata-rata menyatakan bahwa Entong Gendut gugur, walaupun ada beberita cerita yang dipengaruhi unsur mistik, dan cerita seperti ini memang biasa disebarkan fihak fihak penjajah kepada rakyat untuk menggambarkan bahwa “sesakti-saktinya” jagonya pribumi, tetap saja ia kalah oleh Penjajah ! Padahal kematian Entong Gendut jauh dari prasangka dari penjajah ini.

Namun berdasarkan keterangan kitab Al-Fatawi dan keterangan KH Ahmas Syar’i Mertakusuma. Entong Gendut ini seperti yang digambarkan diatas. Entong Gendut memang gugur namun caranya tidaklah seperti yang diatas.

Entong Gendut dalam catatan KH Ahmad Syar’i Mertakusuma ternyata adalah merupakan bagian dari strategi perjuangan dari Mujahidin Jayakarta. Entong Gendut ini ternyata masuk dalam jaringan Gerakan Perjuangan KI DALANG yang berpusat di Desa Teluk Naga Kampung Melayu Tangerang, sedangkan Majelisnya berada di Kampung Bambu Larangan Cengkareng, Masjid Kumpi Haji Kuntara Nitikusuma (kini nama Masjid Kuntara berganti menjadi Masjid Safinatul Husna). Pada waktu itu wilayah Tangeran Kampung Naga masuk menjadi wilayah Jayakarta. Dan di wilayah Tangerang dan Cengkareng inilah banyak terdapat Mujahidin Jayakarta.

Gerakan KI DALANG adalah gerakan Perjuangan Mujahidin Jayakarta, setelah redupnya perlawanan 7 Kesatria Jayakarta, Pendekar Pituan Pitulung (Pitulung). Tumbangnya gerakan Pitung di tahun 1905 Masehi setelah gugurnya Penghulu mereka yaitu Radin Muhammad Ali Nitikusuma, setelah itu semua Mujahidin Jayakarta melakukan konsolidasi dibawah tanah hingga kemudian akhirnya pada tahun 1914 muncul Gerakan Perjuangan Ki Dalang.
Gerakan Ki Dalang adalah gerakan perlawanan terhadap kezaliman Tuan Tanah dari bangsa asing ataupun bangsa sendiri yang didukung Penjajah Belanda. KI Dalang ini memang banyak yang terdiri dari Dalang, namun dalam praktek perdalangannya mereka menyebarkan ajaran jihad fisabilillah terhadap pada Tuan Tanah dan Penjajah Belanda. Kata-kata “kafir” sering dikumandangkan untuk membedakan antara Tuan Tanah, penjajah dan rakyat Jayakarta.

Gerakan Ki Dalang dimulai tahun 1914 dan berakhir pada tahun 1926.

Dalam perjuangan KI Dalang ini Entong Gendut mendapatkan tugas  di bagian Timur Jayakarta, termasuk Desa Condet, sedangkan bagian Selatan yang mendapatkan tugas adalah Entong Geger dari Jati Padang Pasar Minggu. Peta pergerakan Entong Gendut adalah dimulai dari Kampung Condet sampai wilayah Tanjung Barat. Setiap beberapa bulan mereka melakukan konsolidasi dan mematangkan strategi dengan para pejuang Jayakarta lainnya.

Perjuangan Entong Gendut ini cukup membuat repot Penjajah Belanda dan membuat ketakutan para Tuan Tanah di kawasan Condet dan Tanjung Barat, apalagi Entong Gendut ini tidak segan-segan memberikan “hukuman” keras kepada mereka yang berfihak kepada Penjajah dan Tuan Tanah, berapa kali ia bersama dengan teman-temannya berhasil memberi pelajaran telak kepada pasukan belanda, Tuan Tanah dan antek-anteknya.

Semangat perjuangan Entong Gendut adalah Jihad Fi Sabilillah, sehingga apabila dia mendengar atau melihat langsung kemungkaran, maka Entong Gendut akan segera bertindak. Semangat Islamnya sangat luar biasa sekali.  

Perjuangan Entong Gendut sendiri harus berakhir pada tahun 1920 Masehi. Pada tahun inilah Entong Gendut tertangkap Belanda. Bersama dengan tokoh KI Dalang lainnya dia tertangkap tangan. Mereka yang tertangkap adalah :

  1. Radin Abdul Karim bin Daim Nitikusuma
  2. Entong Geger dari Jati Padang
  3. Entong Gendut dari Condet
  4. KH Ahmad Syar’i Mertakusuma
Empat orang ini dibawa hidup-hidup ke Penjara  Jambi Sumatra. Entong Gendut dan Entong Geger akhirnya syahid dan gugur di dalam Penjara Jambi. Radin Abdul Karim dipindahkan di penjara Tanjung Pinang, dan pada tahun 1932 Masehi beliau wafat di rumah sakit Pangkal Pinang Sungai Liat Sumatra. Sedangkan KH Ahmad Syar’i berkat pertolongan Allah berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di Bandung, kemudian beliau tertangkap di Karawang dan segera dijatuhi hukuman mati berupa gantung oleh Pemerintah Penjajah Belanda, namun beliau berhasil lolos kembali dan hijrah ke Medan Sumatra Utara, setelah itu tidak lama kemudian beliau kembali ke Jakarta untuk mengadakan pemberontakan besar-besaran Ki Dalang, lalu setelah Pemberontakan KI Dalang meledak pada tahun 1924, KH Ahmad Syar’i pada tahun 1926 memutuskan hijrah ke Palembang karena suasana Jakarta yang sudah tidak kondusif bagi dirinya, semua gerak geriknya sudah mulai tercium Belanda, beliau akhirnya hijrah ke Palembang sambil membawa semua dokumen-dokumen penting perjuangan Mujahidin Jayakarta diantaranya kitab Al-Fatawi yang menceritakan tentang sosok Entong Gendut tersebut.

Demikianlah sekelumit sejarah Entong Gendut yang ternyata merupakan salah satu Mujahidin Jayakarta dan merupakan satu rekan perjuangan dari Al-Allamah KH Ahmad Syar’i Mertakusuma yang merupakan penulis kitab Al-Fatawi, semoga kisah Entong Gendut ini menjadi inspirasi bagi kita semua dan saya berharap kedepannya, nama Entong Gendut ini bisa diperhatikan untuk diabadikan atau dijadikan nama sebuah jalan atau tempat di sekitar Condet, karena beliau ini adalah seorang pejuang dan mujahidin yang telah berani membela kehormatan rakyat Jakarta dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Mudah-mudahan tokoh masyarakat, ulama dan pemerintah setempat bisa memperhatikan nama pejuang yang satu ini.....

Wallahu A’lam bisshowab...

Sumber :
Wangsa Aria Jipang, Gunawan Semaun Mertakusuma, Jakarta : Agapres, 1986
Al-Fatawi (Silsilatul Syar’i), KH Ahmad Syar’i Mertakusuma, Jakarta – Palembang : Majelis Adat Jayakarta Al-Fatawi, 1910.
Cerita Rakyat Jakarta DKI Jakarta, Bambang Suwondo, Jakarta : Depdikbud, 1980.
Catatan Perjalanan Hidup, Gunawan Semaun Mertakusuma, Jakarta : Al-Fatawi, 1981

KUBURAN PENGHULU 7 PENDEKAR JAYAKARTA /PITUAN PITULUNG (PITUNG) AS-SYAHID RADIN MUHAMMAD ALI BIN AS-SYAHID RADIN NURUL SYAMSIRIN

Radin Muhammad Ali bin Radin Syamsirin Nitikusuma, adalah kepala Kepala Pendekar Pituan Pitulung yang terkenal dengan istilah Pitung.

Ia begitu gigih dan keras melawan kezholiman Tuan Tanah dan kekejaman Pemerintah Gemeente Batavia. Pemerintah Gemeente Batavia sendiri telah menggelapkan atau mengkaburkan kisah Pendekar Pitung sebagai perampok yang sakti. Jika mayatnya tidak dipotong-potong dan dikuburkan secara terpisah, makam Radin Muhammad Ali akan hidup kembali. Sampai sekarang banyak yang meyakini bahwa Radin Muhammad Ali bisa hidup kalau mayatnya yang terpisah disatukan, sebuah cerita yang sangat tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan fakta sejarah yang ada, karena para Pendekar Pituan Pitulung itu syahid seperti para Mujahidin Jayakarta yang lainnya.

Radin Muhammad Ali Nitikusuma gugur sebelum ada pemerintahan Gemeente Batavia (1903). Dan ia dalam hidupnya tidak pernah tertangkap oleh Kepala Polisi yang bernama Scout Heyna. Semua anggota Pitung tidak ada satupun yang tertangkap hidup-hidup, mereka gugur setelah melakukan perlawanan, seperti syahidnya Radin Muhammad Ali Nitikusuma dan Radin Muhammad Roji’ih Nitikusuma.

Radin Muhammad Ali Nitikusuma dikuburkan di Pemakaman “Orang Rantai” di Kampung Bandengan Hilir/Utara Jakarta Barat. Beberapa orang pernah menapak tilasi makam tokoh pejuang Jayakarta ini seperti Bang Yu Mertakusuma dan ayahnya.  Adapun makam Muhammad Roji’ih berada di daerah Kemandoran VII Jakarta Barat dan Alhamdulillah saya sudah berziarah kemakam Bang Ji'ih ini.

Akhirnya di Zaman Indonesia Merdeka. Areal pemakaman 7 Pendekar Jayakarta/ Pitung itu sudah dijadikan bangunan pabrik oleh bangsa China, pengusaha pabrik Mie.

Adapun film Pitung yang sudah dipertontonkan selama ini itu adalah hasil propaganda Tuan Tanah dan telah terjadi pemutar balikkan fakta.

Sumber :

Gunawan bin Semaun bin KH Ahmad Syar’I Mertakusuma,Catatan Perjalanan Hidup, Jakarta : Al Fatawi, 18 Juli 1977
Al-Allamah KH Ahmad Syar'i Mertakusuma, Al-Fatawi (Silsilatul Syar'i), Jayakarta-Palembang : Al-Fatawi, 1910

GELAR DATUK/DATO DALAM KHAZANAH SEJARAH JAYAKARTA

Bagi sebagian masyarakat Jakarta, untuk menghormati seorang tokoh biasanya pada nama tokoh tersebut selalu disematkan dengan sebuah gelar yang menandakan apa yang disandingkannya  tersebut sesuai dengan karakter dirinya.

Dahulu terutama pada awal-awal abad 20 jika ingin menyebut seorang ulama yang ilmunya dalam, di Jakarta selalu disematkan dengan  gelar GURU. 


Sampai tahun 60an gelar ini masih bertahan di sebagian masyarakat Jakarta. Sayangnya pada tahun 70an hingga sekarang, gelar GURU tergantikan dengan gelar KH (Kyai Haji). Padahal dengan pemakaian gelar GURU itu, Jakarta akan memiliki ciri khas gelar tersendiri dalam bidang keagamaan, dan ini adalah bagian kearifan loKal. Coba kita tengok di Sunda dimana ada Gelar Ajengan, di Aceh, Melayu Riau, Medan ada gelar Tengku, di Jawa ada gelar Kyai, di Lombokada Tuan Guru, di Sumatra Barat ada Buya, di Madura ada Bendara, di Sukawesi ada Tofanrita, di Kalimantan Selatan ada GURU (mirip dengan Jakarta) dan masih banyak lagi gelar-gelar keagamaan lokal yang ada di bumi Nusantara ini.


Diantara mereka yang pernah mendapatkan gelar di Jakarta  misalnya Guru Mansur, Guru Romli, Guru Mughni, Guru Majid, Guru Abdullah, Guru Mahmud, Guru Marzuki, Guru Amin, Guru Riun, Guru Junaidi, Guru Cit,  Guru Alif, Guru Ending,  dan masih banyak lagi ulama-ulama Jakarta yang memakai gelar seperti ini. Tentu gelar ini bukanlah gelar sembarangan mengingat mereka yang saya sebut ini pada masanya dikenal sebagai ulama yang karismatik dan dalam ilmunya. Gelar Guru memang menandakan kalausi pemilik ilmu diakui secara budaya berdasarkan keilmuannya. Namun demikian bergesernya gelar Guru menjadi Kyai Haji memang bukan merupakan kesalahan, karena setiap kebudayaan pasti akan mengalami perkembangan. Dulu mungkin masyarakat akrab dengan panggilan Guru namun seiring berjalan waktu, title Kyai Haji itu kemudian mengambil alih kedudukan spiritual ulama-ulama Jakarta, misalnya KH Abdullah Syafi’I, KH Thohir Rohili, KH Noer Ali, KH Zayadi Muhajir, KH Nahrowi Abdussalam, KH Syafi’I Hadzami, KH Abdurrozaq Khaidir, KH Fathullah Harun, KH Sasi, KH Zaenuddin MZ, dan masih banyak lagi.


Di samping gelar GURU di Jakarta ternyata ada satu gelar yang menarik untuk dikaji, yaitu gelar DATUK/atau DATO. Pada setiap budaya di Nusantara ini, terutama Melayu, Gelar Datuk/Datu/Dato memang memiliki makna yang berbeda pada setiap daerah seperti misalnya :


1.  Ayah atau kakek

2.  Yang Dituakan

3.  Yang dipertuan


Dalam konteks sejarah Jakarta, tentu menjadi sebuah kajian yang menarik ketika gelar tersebut muncul.


Dalam konteks sejarah keluarga besar Walisongo sendiri nama Datuk kita dapat lihat pada gelar Syekh Datuk Kahfi yang ada di Cirebon, memang beliau ini ayahnya banyak bertempat tinggal di Malaka.


Berdasarkan penelitian dan wawancara saya dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan atau mereka yang mengetahui gelar ini. 


Ternyata gelar DATUK atau DATO ini diperuntukkan bagi ulama-ulama yang hidup pada era abad ke 17 – 19 Masehi. Pada wawancara saya dengan Abuya KH Rusdi Saleh (kakeknya adalah ulama besar Betawi Kampung Melayu yang pernah 11 tahun di Mekkah) di kediaman beliau Kampung Melayu Jakarta Selatan pada tahun 2013 lalu, beliau menegaskan kepada saya bahwa semua Ketua Masjid Al Atiq Kampung Melayu sejak tahun 1700san sampai akhir abad ke 19 Masehi adalah ulama-ulama yang mumpuni ilmunya. Ketua Masjid tidak boleh dijabat oleh yang bukan ulama. Dan gelar ketua masjid Al-Atiq adalah rata-rata adalah DATUK/DATO. Pengurus Masjid pertama bernama DATUK ABDUL MAJID yang merupakan ulama besar pada masanya, terutama pada kawasan Mester cornelis.


Untuk memperkuat jika gelar DATUK atau DATO ini bukan gelar sembarangan, pada tahun 2013 saya juga mengadakan wawancara dengan beberapa sesepuh yang tinggal di daerah Condet Jakarta Timur dimana disitu terdapat  makam ulama yang bernama DATUK IBRAHIM. Datuk Ibrahim ini ternyata keturunan Maulana Malik Ibrahim yang menyebarkan Islam di Condet dan sekitarnya. Beliau adalah ulama dan waliyullah yang kapasitas keilmuwannya sangat tinggi. Beberapa sesepuh seperti Haji Musa juga menegaskan jika gelar Datuk adalah gelar untuk ulama Jakarta pada masa lalu, dan mereka yang bergelar DATUK atau DATO ini bukanlah ulama sembarangan.


Masih belum puas saya juga berusaha mencari nama DATUK/DATO BiIRU yang ada di Rawa Bunga Jatinegara Jakarta Timur dan mempunyai hubungan dengan masyarakat Condet, ternyata beliau inipun seorang ulama yang Waliyullah, dinamakan BIRU karena beliau selalu memakai pakaian dan Jubah Biru.


Berdekatan dengan Condet yang berlokasi di Kelurahan Kramat Jati Jakarta Timur ada juga salah satu makam penyebar agama Islam yang bernama DATUK TONGGARA yang berasal dari Sulawesi. Besar kemungkinan beliau ini salah satu ulama dan pasukan perangnya Syekh Yusuf Makasar yang pernah singgah di Jayakarta untuk membantu perlawanan Sultan Banten dalam  menghadapi Penjajah.


Bergeser saya kearah Kayu Putih Utara Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur saya juga menemukan makam seorang ulama Jakarta tempo dulu yang bernama DATUK QIDAM, beliau adalah pendiri pertama Pesantren Kayu Putih ,beliau merupakan kakek dari Syekh Abdul Ghoni atau Wan Gani yang merupakan mufti betawi pertama sebelum Sayyid Usman bin Yahya. Datuk Qidam disamping seorang Mujahidin Jayakarta dia juga merupakan ulama yang Waliyullah. Gelar Datuk disandangnya karena pengakuan ulama dan masyarakat pada masa itu.


Yang juga tidak kalah menarik adalah keberadaan seorang Ulama di daerah lubang buaya pondok gede  yang bernama DATUK BANJIR yang nama aslinya Pangeran Syarif bin Syekh Abdurrahman. Beliau dikenal sebagai ulama yang mempunyai banyak karomah dan pejuang pembela rakyat yang ditindas oleh penjajah. Menurut sebuah riwayat Datuk Banjir adalah orang yang membangun masjid Maulana Hasanudin di dekat PMI jalan MT Haryono, masjid yang sering disebut kubah hijau yang tiangnya tidak memakai tiang soko guru seperti masjid lainnya, kebetulan saya sudah berapa kali sholat dimasjid ini, dan menurut dari keluarga Kong Riun yang ada Tegal Parang Jakarta Selatan, memang masjid tersebut dibangun oleh Dzurriyah keturunan Maulana Hasanuddin Banten yang ada di Jayakarta.


Dan masih banyak lagi nama-nama Datuk yang belum saya datangi seperti DATUK GEONG, DATUK SIRRIN yang makamnya di samping SMA GLOBAL ISLAMIC SCHOOL CONDET atau juga KYAI LUKMANUL HAKIM yang bergelar DATUK di Kramat Kampung Pulo yang kini terancam digusur.  Dari beberapa riwayat dan konteks Sejarah Jayakarta jelaslah bahwa seorang DATUK/DATO itu adalah ulama yang karismatik dan dalam ilmunya. Rata-rata mereka juga banyak yang merupakan pejuang dan Mujahidin Jayakarta. Seorang yang bergelar DATUK atau DATO merupakan ulama yang mampu menjadi contoh bagi masyarakat baik perkataan maupun tingkah lakunya, karismanyapun biasanya cukup bisa dirasakan oleh masyarakat. Gelar DATUK atau DATO itu setara dengan ulama Jakarta yang karismatik pada masa awal abad 20 seperti para GURU yang sudah saya sebutkan terdahulu dan juga para Habaib seperti Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur, Habib Salim Jindan, Habib Zain Alaidrus Krukut, Habib Muhsin bin Muhammad Al-Attas, Habib Kuncung, Habib Umar Bin Hud Al-Attas. Sayyidil Walid Alhabib Abdurrahman Assegaf Bukit Duri, dll.


Sumber :


Wawancara dengan Abuya KH Rusdi Saleh Kampung Melayu tahun 2013

Wawancara dengan para sesepuh Condet di Masjid Assa’dah tahun 2013

Wawancara dengan salah satu Dzurriyah Kong Riun di Tegal Parang tahun 2014

Penelitian sejarah makam penyebar Islam Jakarta secara mandiri, sejak tahun 1993 sampai dengan sekarang.


PERNIKAHAN CUCU RADEN FATTAH (SULTAN DEMAK) DAN CUCU RAJA PAJAJARAN (PRABU SURAWISESA) MENGGUGURKAN MITOS PERANG BUBAT

Salah satu misteri sejarah yang sampai kini masih menjadi perdebatan adalah tentang kisah perang bubat antara Pajajaran dengan Majapahit. Bagi sebagian besar masyarakat Sunda yang mengetahui cerita yang satu ini, kisah perang bubat adalah luka kelam dalam sejarah mereka, bagi sebagian masyarakat Jawa juga merupakan kisah yang seharusnya tidak perlu terjadi dan membuat nama mereka sedikit tercemar. Sebagian orang Sunda mengatakan bahwa peristiwa perang bubat itu bukanlah perang tapi pembantaian,karena bagaimana mungkin disebut perang, karena Raja Pajajaran datang ke Majapahit justru untuk besanan dengan Majapahit tapi gara-gara arogansi Gajah Mada semua jadi berantakan. Bagi sebagian masyarakat Jawa tidak sepatutnya seorang Gajah Mada memperlakukan rombongan Pajajaran yang dipimpin Maharaja Linggabuana sampai harus terjadi pemaksaan, yang mengakibatkan gugurnya semua rombongan Pajajaran termasuk calon istri Hayam Wuruk yang bernama Dyah Pitaloka. Sehingga akibat kejadian ini Hayam Wuruk menjadi terpukul dan akibatnya kemudian Gajah Mada pun disingkirkan dari kekuasaan, dan Hayam Wuruk akhirnya mencoba menjalin kembali hubungan dengan pewaris Kerajaan Pajajaran…begitu ceritanya….

Kisah yang begitu mengharu biru ini sampai sekarang masih terus dipercaya oleh masyarakat Sunda dan Jawa, harus diakui sampai sekarang cerita ini masih sangat membekas terutama pada masyarakat Sunda. Begitu membekasnya kisah ini sampai sekarang sangat sulit mencari nama-nama yang berbau Majapahit di beberapa jalan ataupun bangunan-bangunan penting, tengok saja kalau anda ke Bandung, pasti akan sulit mencari jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, Raden Wijaya, Brawijaya, Empu Prapanca, dll. Sedangkan di Jakarta yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Pajajaran justru nama-nama tersebut akan banyak kita temui. Cerita perang bubat seolah tidak terlepas dari Harta, Tahta, Wanita sehingga membuat orang lupa dan nestapa. Seolah sejarah kita ini identik dengan  tiga hal tersebut, kalau tidak harta kekayaan, ya perempuan, kalau tidak perempuan ya masalah kekuasaan. Dan ini selalu ada pada beberapa cerita lokal ataupun nusantara yang kebanyakan justru diterjemahkan oleh ilmuwan penjajah belanda. Dan itu juga kami sinyalir terjadi juga pada kisah perang bubat ini.

Akibat dari adanya ini semua kami sedikit banyak bertanya...

Benarkah kisah Perang Bubat ini ?

Kenapa kisah ini baru dimunculkan pada awal abad 20 ?

Kenapa dari Walisongo sampai muculnya kisah tersebut sama sekali tidak tercatat ?

Kisah Perang Bubat kalau kita mau mengkaji lebih dalam lagi, ternyata cerita tersebut terdapat pada naskah Serat Pararaton dan naskah Kidung Sunda (Sundayana) yang berbentuk Syair, dan katanya naskah tersebut ditemukan di Bali ! Nah kalau kita mau kritis sedikit, kedua naskah ini ternyata yang menerjemahkan adalah J.L.A. BRANDES ! ia adalah seorang filolog (ahli bahasa kuno), kolektor barang kuno, dan leksikografer (ahli penyusun kamus bahasa langka) berkebangsaan Belanda. Brandes merupakan ilmuwan dari Penjajah kolonial Belanda yang ditugaskan untuk menterjemahkan naskah-naskah Jawa kedalam bahasa Belanda. Dan tujuan dari penerjemahan itu sudah jelas untuk membengkokan sejarah bangsa ini, karena Belanda tahu bahwa dengan merusak sejarah dan budaya bangsa ini maka mereka akan lebih mudah menguasai Indonesia. Tidak heran jika Bung Karno selalu meneriakan semboyan JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Sekalipun isi naskah pararaton dan kidung sunda ada perbedaan, namun ujung dari peristiwa dibubat sama, yaituTragis !

Sampai saat ini bila kita pertanyakan, dimana naskah asli dari Pararaton dan Kidung Sunda itu ? tidak pernah ada jawaban yang jelas dan siapa juga penulis terakhirnya tidak ada yang bisa mengetahuinya, yang ada hanya bentuk terjemahannya saja dari J.L.A. Brandes  yang kemudian diterjemahkan oleh C.C.Berg pada tahun 1927 – 1928. Padahal kunci untuk menentukan keabsahan sebuah tulisan sejarah itu harus dilihat dari naskah aslinya, setelah ketemu naskah aslinya maka penulisnyapun perlu kita teliti ulang siapa dia, apakah dia mempunyai mata rantai penulisan (dalam islam disebut sanad), bagaimana kemampuan menulis sejarahnya, bagaimana pemahanan dia terhadap garis keturunan-keturunan Nusantara. Nah pada kasus Pararaton dan Kidung Sunda (Sundayana) yang ini justru kita hanya mendapati cerita terjemahan Brandes yang sekali lagi saya tegaskan bahwa dia adalah ilmuwan yang bekerja dan dibiayai oleh pemerintah kolonial Belanda,yang tujuannya sudah jelas untuk menjalankan politik devide et impera.

Perlu anda ketahui pada saat penerbitan naskah terjemahan PARARATON DAN KIDUNG SUNDA , itu masanya hampir bersamaan dengan masa-masa akan diadakannya SUMPAH PEMUDA, artinya ada kecendrungan usaha untuk memecah belah usaha para pemuda Nusantara untuk bersatu, dan  salah satu kekuatan utama atau pelopor gerakan sumpah pemuda saat itu adalah masyarakat SUNDA dan JAWA, sehingga untuk membendung gerakan ini muncullah terjemahan Pararaton dan Kidung Sunda yang disebarkan oleh Belanda dan kemudian banyak dibaca oleh sebagian besar masyarakat Sunda dan Jawa pada saat itu. Gerakan Belanda ini juga sepertinya satu paket untuk serba memajapahitkan atau menghinduisasikan sejarah Nusantara secara umum, sehingga akhirnya sejarah Islam menjadi tersingkir, padahal sejarah Islam cukup menentukan kelangsungan bangsa ini.

Munculnya naskah-naskah yang kontroversial seperti Pararaton atau Kidung Sunda memang bertujuan untuk merubah alur sejarah bangsa ini, agar mereka buta dan apatis terhadap sejarah bangsa ini. Naskah-naskah ini sepertinya satu paket dengan naskah-naskah kontroversial lain seperti Babad Tanah Jawi, Sabda Palon, Darmagandul yang muncul setelah usainya perang melawan Pangeran Diponegoro, sejak kekalahan Pangeran Diponegoro, Penjajah Belanda gencar meracuni alam pemikiran masyarakat melalui karya-karya sastra berselubung politik kolonial. Melalui karya sastra yang menyesatkan itulah belanda berusaha meruntuhkan jati diri bangsa ini, Sebab jika menghadapi mereka dengan perang dan kekerasan Belanda tidak pernah berhasil 100 % untuk menundukan perlawanan para pejuang bangsa.

Bagi kami kisah perang bubat ini adalah skandal sejarah yang sengaja diciptakan para penjajah, kenapa demikian ? karena ternyata fakta kalau Sunda dan Jawa bermusuhan itu adalah sama sekali sulit dipertanggung jawabkan baik sejarah ilmiah maupun secara sejarah !. Tidak ada satupun prasasti yang menunjukkan adanya peristiwa ini, padahal peristiwa peristiwa ini sangat penting bagi dua kerajaan besar di Nusantara. Keberadaan naskah itu hanya terdapat pada  Pararaton dan KidungSunda (Sundayana) yang diterjemahkan oleh J.L.A. BRANDES yang sampai sekarang naskah yang asli dan telah diterjemahkannya itu antah berantah keberadaannya. Kita perlu tahu bahwa sebelum diterjemahkan oleh Brandes tidak pernah terdengar adanya kisah perang bubat ini, masa Walisongo hingga masa awal abad 20 sama sekali tidak terdengar kisah ini. Padahal Walisongo terutama periode angkatan pertamanya pada periode antara tahun 1350 – 1403 sudah masuk ke pulau Jawa dan dari sini ternyata tidak pernah terdengar ada dalam riwayat mereka tentang kisah ini, padahal mereka itu banyak yang merupakan ahli sejarah. Seperti Sayyid Fadhol Ali Murtadho bin  Maulana Ibrahim Zaenuddin As-Samarqondy yang hidup pada masa Majapahit. Tidak mungkin orang sekelas beliau tidak meriwayatkan kisah yang satu ini. Sayyid Fadhol Ali Murtadho adalah pemegang mata rantai ilmu nasab dan sejarah Walisongo, sehingga akan sangat aneh kalau dalam riwayat yang beliau miliki tidak terdapat cerita perang bubat ini.

Pada sisi lain, kisah perang bubat ini juga bisa runtuh jika melihat kiprah dan hubungan Kesultanan Demak dengan hubungan Kerajaan Pajajaran. Dan seperti yang kita ketahui bahwa Kesultanan Demak sangat berhubungan kuat dengan Majapahit terutama dalam perjalanan sejarah panjangnya.Kalaupun terjadi peristiwa diambil alihnya Sunda Kelapa yang merupakan wilayah Pajajaran oleh Kesultanan Demak pada tahun 1527 M itu justru menjadi kunci pembuka tabir bagaimana sebenarnya hubungan antara Pajajaran dan Kesultanan Demak yang mewakiki Jawa.

Diambil alihnya Sunda Kelapa oleh Kesultanan Demak tahun 1527 itu justru merupakan babak baru tentang hubungan antara Pajajaran dengan Kesultanan Demak. Pajajaran yang mewakili Sunda, Demak mewakili Jawa. Pola hubungan itu adalah ketika terjadinya pernikahan antara ARIA PENANGSANG/ARIA JIPANG yang merupakan cucu RADEN FATTAH DARI KESULTANAN DEMAK dengan RATU AYU JATI BALABAR yang merupakan cucu PRABU SURAWISESA RAJA PAJAJARAN.

Jika melihat pernikahan ini, jelas Perang Bubat adalah mitos, sebab jika itu benar sudah tentu fihak keluarga besar Pajajaran akan menolak keras keluarganya dinikahi oleh bangsawan Jawa, apalagi ini bangsawan yang dianggap memiliki hubungan yang kuat dengan Majapahit. Namun kenyataannya SINGA MENGGALA sebagai ayah dari RATU AYU JATI BALABAR mengizinkan putrinya menikah dengan CUCU RADEN FATTAH tersebut. Demikian pula PRABU SURAWISESA, sekalipun dia berbeda pandangan secara politik dengan Kesultanan Demak, toh pernikahan antara cucunya dengan cucu Raden Fattah berlangsung dengan baik. Ini sekaligus juga memberikan petunjuk kalau Pajajaran itu sebenarnya sudah dimasuki proses Islamisasi. Kami perlu mengangkat fakta yang satu ini, karena pada masa itu kekuatan Pajajaran dan Demak adalah kekuatan yang paling menonjol dan mewakili masing-masing etnis. Sehingga adanya perang bubat itu jika ditinjau dari pernikahan penting antara Klan Pajajaran dan Demak, ceritanya sangat tidak beralasan untuk dipercaya. Dan perlu kita ketahui pada masa itu untuk menyatukan dua kekuatan yang berbeda kutub biasanyaya jalur pernikahan merupakan strategi jitu bagi kedua fihak, istilahnya adalah win win solution…

Kalau seandainya perang bubat saat itu membekas kuat pada diri Kerajaan Pajajaran pasti apa-apa yang berbau Jawa akan ditolak dengan keras. Secara logika mana mungkin di negara sendiri, Pajajaran mau tunduk habis apalagi menyerahkan salah satu putrinya kepada keturunan Jawa yang katanya pernah berbuat zalim terhadap leluhur mereka, padahal katanya di bubat saja mereka mati-matian sampai titik darah penghabisan, tentu trauma sejarah akan sangat membekas pada diri mereka, mengingat kejadian perang bubat jaraknya lebih dekat dengan masanya Kerajaan Pajajaran pada masa itu,  pada  kenyataannya ketika Fattahillah yang mewakili Demak/Jawa memasuki Sunda Kelapa yang merupakan wilayah Pajajaran, keberadaannya justru diterima dengan baik oleh penguasa Sunda Kelapa yang suaminya adalah anak dari Prabu Surawisesa (tidak benar terjadi perang antara Sunda Kelapa dan pasukan Fattahillah !). Bahkan setelah itu terjadi pernikahan antara Klan Sunda dan Klan Jawa melalui Aria Jipang Jayakarta dan Ratu Ayu Jati Balabar. Dari pernikahan ini kelak akan banyak lahir mujahidin-mujahidin Jayakarta.

Hubungan Sunda dan Jawa juga semakin akrab,ketika banyak keturunan Raden Fattah yang  mewakili Jawa hijrah ke negeri Sunda, bahkan  keluarga beliau banyak yang menjalin hubungan dengan bangsawan Sunda yang banyak keturunan Pajajaran.  Di daerah Sukapura Tasikmalaya, bahkan keluarga Demak/Jawa sangat dekat di hati mereka, di daerah garut yang merupakan daerah penyimpan sejarah penting banyak keturunan Raden Fattah yang sudahmenyatu dengan ulama ulama keturunan pajajaran, di Bandung sendiri kalau kita mau jeli dan meneliti ulang silsilah para bupati bupati tempo dulu, itu banyak yang mempunyai hubungan silsilah dengan Demak/Jawa, bahkan Ajengan-ajengan yang ada di Cimahi banyak yang merupakan keturunan Aria Jipang Jayakarta. Di Cianjur bahkah banyak keturunan Aria Jipang Jayakarta yang banyak menurunkan para Ajengan, bahkan kami mendengar ada satu kampung keturunan Sultan Trenggono. Pada penelitian saudara kami yang ada di Sukapura, bahkan beliau menemukan fakta daerah Sumedang juga banyak keturunan Raden Fattah, padahal sumedang terkenal kuat akan sejarah Pajajarannya. Belum lagi kalau kita bicara Banten dan Cirebon dimana kedua kesultanan ini telah menjalin hubungan kekerabatan denganKesultanan Demak. Di beberapa daerah Bogor bahkan banyak sekali keturunan jawa yang diwakili oleh dinasti Pangeran Diponegoro dan bahkan keturunan mereka banyak yang menjadi ulama serta pemimpin di negeri hujan ini. Belum lagi Jayakarta yang jelas-jelas menegaskan bagaimana pola hubungannya dengan Pajajaran.

Kisah perang bubat bagi kami perlu ditinjau ulang kembali kebenaranya, karena pada kenyataannya antara Suku Sunda dan Jawa itu bersaudara, dan itu telah dibuktikan dengan adanya pernikahan cucu RADEN FATTAH dan cucu PRABU SURAWISESA. Sejak dulu banyak mujahidin Sunda dan Jawa itu bersatu dalam melawan penjajahan, hanya saja banyak dari mereka itu yangtidak tercatat sejarahnya. Para pejuang perang 10 November 1945 dulu bahkan banyak orang-orang Sunda yang terjun membantu saudaranya di Surabaya, Mbah Hasyim Asy’ary bahkan sangat berharap dengan kedatangan Kyai-kyai dari Buntet Cirebon.Perlawanan beberapa pejuang di Jawa juga banyak dibantu oleh pejuang-pejuang dari Sunda, bahkan hingga kini ulama-ulama Sunda dan Jawa sudah seperti saudara kandung, kyai-kyai Jawa banyak belajar kepada Ajengan di Sunda, Ajengan-ajengan di Sunda dulu bahkan juga banyak yang belajar di Jawa.

Kesimpulannya bagi kami, kisah perang bubat adalah cara dan usaha politiknya Belanda yang bertujuan untuk Devide Et Impera terutama menjelang akan diadakannya Sumpah Pemuda yang justru diadakan di bumi Jayakarta, yang dalam akar sejarahnya, para pemimpinnya terdahulu adalah merupakan gabungan keturunan Jawa dan Sunda. Belanda melakukannya dengan penyebaran karya sastra berbau politik yang memang sebagian masyarakat kita itu senang akan cerita, tembang syair dari masa lalu, dari celah inilah penjajah berusaha menghancurkan pemikiran bangsa Indonesia akan sejarahnya. Dan salah satu pengaruhnya yang hingga kini masih adalah sinisme antar suku akibat adanya cerita bubat ini. Sinisme kedua suku itu tidak perlu terjadi lagi kalau kita faham dari mana asal usul kisah perang bubat itu. Kita jangan jadi korban dari “trauma sejarah’ yang dibuat-buat oleh penjajah belanda, kalau yang lebih “kuno” dalam peristiwa sejarah  seperti pernikahan Aria Jipang Jayakarta dan Ratu Ayu Balabar saja tidak terjadi trauma, mengapa yang modern sekarang ini malah lebih trauma ?

SUMBER :

Achadiati S, Soeroso M.P Sejarah Peradaban Manusia: Zaman Majapahit’. Jakarta: PT Gita Karya. , 1988.
Mertakusuma, Guwanan, Wangsa Aria Jipang,Jakarta : Agapress, 1986.
Mertakusuma, Kitab Al-Fatawi (silsilah Syar'i) KH Ahmad Syar’i,Jayakarta-Palembang: Al-fatawi, 1910.