Kamis, 10 September 2015

KUBURAN PENGHULU 7 PENDEKAR JAYAKARTA /PITUAN PITULUNG (PITUNG) AS-SYAHID RADIN MUHAMMAD ALI BIN AS-SYAHID RADIN NURUL SYAMSIRIN

Radin Muhammad Ali bin Radin Syamsirin Nitikusuma, adalah kepala Kepala Pendekar Pituan Pitulung yang terkenal dengan istilah Pitung.

Ia begitu gigih dan keras melawan kezholiman Tuan Tanah dan kekejaman Pemerintah Gemeente Batavia. Pemerintah Gemeente Batavia sendiri telah menggelapkan atau mengkaburkan kisah Pendekar Pitung sebagai perampok yang sakti. Jika mayatnya tidak dipotong-potong dan dikuburkan secara terpisah, makam Radin Muhammad Ali akan hidup kembali. Sampai sekarang banyak yang meyakini bahwa Radin Muhammad Ali bisa hidup kalau mayatnya yang terpisah disatukan, sebuah cerita yang sangat tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan fakta sejarah yang ada, karena para Pendekar Pituan Pitulung itu syahid seperti para Mujahidin Jayakarta yang lainnya.

Radin Muhammad Ali Nitikusuma gugur sebelum ada pemerintahan Gemeente Batavia (1903). Dan ia dalam hidupnya tidak pernah tertangkap oleh Kepala Polisi yang bernama Scout Heyna. Semua anggota Pitung tidak ada satupun yang tertangkap hidup-hidup, mereka gugur setelah melakukan perlawanan, seperti syahidnya Radin Muhammad Ali Nitikusuma dan Radin Muhammad Roji’ih Nitikusuma.

Radin Muhammad Ali Nitikusuma dikuburkan di Pemakaman “Orang Rantai” di Kampung Bandengan Hilir/Utara Jakarta Barat. Beberapa orang pernah menapak tilasi makam tokoh pejuang Jayakarta ini seperti Bang Yu Mertakusuma dan ayahnya.  Adapun makam Muhammad Roji’ih berada di daerah Kemandoran VII Jakarta Barat dan Alhamdulillah saya sudah berziarah kemakam Bang Ji'ih ini.

Akhirnya di Zaman Indonesia Merdeka. Areal pemakaman 7 Pendekar Jayakarta/ Pitung itu sudah dijadikan bangunan pabrik oleh bangsa China, pengusaha pabrik Mie.

Adapun film Pitung yang sudah dipertontonkan selama ini itu adalah hasil propaganda Tuan Tanah dan telah terjadi pemutar balikkan fakta.

Sumber :

Gunawan bin Semaun bin KH Ahmad Syar’I Mertakusuma,Catatan Perjalanan Hidup, Jakarta : Al Fatawi, 18 Juli 1977
Al-Allamah KH Ahmad Syar'i Mertakusuma, Al-Fatawi (Silsilatul Syar'i), Jayakarta-Palembang : Al-Fatawi, 1910

GELAR DATUK/DATO DALAM KHAZANAH SEJARAH JAYAKARTA

Bagi sebagian masyarakat Jakarta, untuk menghormati seorang tokoh biasanya pada nama tokoh tersebut selalu disematkan dengan sebuah gelar yang menandakan apa yang disandingkannya  tersebut sesuai dengan karakter dirinya.

Dahulu terutama pada awal-awal abad 20 jika ingin menyebut seorang ulama yang ilmunya dalam, di Jakarta selalu disematkan dengan  gelar GURU. 


Sampai tahun 60an gelar ini masih bertahan di sebagian masyarakat Jakarta. Sayangnya pada tahun 70an hingga sekarang, gelar GURU tergantikan dengan gelar KH (Kyai Haji). Padahal dengan pemakaian gelar GURU itu, Jakarta akan memiliki ciri khas gelar tersendiri dalam bidang keagamaan, dan ini adalah bagian kearifan loKal. Coba kita tengok di Sunda dimana ada Gelar Ajengan, di Aceh, Melayu Riau, Medan ada gelar Tengku, di Jawa ada gelar Kyai, di Lombokada Tuan Guru, di Sumatra Barat ada Buya, di Madura ada Bendara, di Sukawesi ada Tofanrita, di Kalimantan Selatan ada GURU (mirip dengan Jakarta) dan masih banyak lagi gelar-gelar keagamaan lokal yang ada di bumi Nusantara ini.


Diantara mereka yang pernah mendapatkan gelar di Jakarta  misalnya Guru Mansur, Guru Romli, Guru Mughni, Guru Majid, Guru Abdullah, Guru Mahmud, Guru Marzuki, Guru Amin, Guru Riun, Guru Junaidi, Guru Cit,  Guru Alif, Guru Ending,  dan masih banyak lagi ulama-ulama Jakarta yang memakai gelar seperti ini. Tentu gelar ini bukanlah gelar sembarangan mengingat mereka yang saya sebut ini pada masanya dikenal sebagai ulama yang karismatik dan dalam ilmunya. Gelar Guru memang menandakan kalausi pemilik ilmu diakui secara budaya berdasarkan keilmuannya. Namun demikian bergesernya gelar Guru menjadi Kyai Haji memang bukan merupakan kesalahan, karena setiap kebudayaan pasti akan mengalami perkembangan. Dulu mungkin masyarakat akrab dengan panggilan Guru namun seiring berjalan waktu, title Kyai Haji itu kemudian mengambil alih kedudukan spiritual ulama-ulama Jakarta, misalnya KH Abdullah Syafi’I, KH Thohir Rohili, KH Noer Ali, KH Zayadi Muhajir, KH Nahrowi Abdussalam, KH Syafi’I Hadzami, KH Abdurrozaq Khaidir, KH Fathullah Harun, KH Sasi, KH Zaenuddin MZ, dan masih banyak lagi.


Di samping gelar GURU di Jakarta ternyata ada satu gelar yang menarik untuk dikaji, yaitu gelar DATUK/atau DATO. Pada setiap budaya di Nusantara ini, terutama Melayu, Gelar Datuk/Datu/Dato memang memiliki makna yang berbeda pada setiap daerah seperti misalnya :


1.  Ayah atau kakek

2.  Yang Dituakan

3.  Yang dipertuan


Dalam konteks sejarah Jakarta, tentu menjadi sebuah kajian yang menarik ketika gelar tersebut muncul.


Dalam konteks sejarah keluarga besar Walisongo sendiri nama Datuk kita dapat lihat pada gelar Syekh Datuk Kahfi yang ada di Cirebon, memang beliau ini ayahnya banyak bertempat tinggal di Malaka.


Berdasarkan penelitian dan wawancara saya dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan atau mereka yang mengetahui gelar ini. 


Ternyata gelar DATUK atau DATO ini diperuntukkan bagi ulama-ulama yang hidup pada era abad ke 17 – 19 Masehi. Pada wawancara saya dengan Abuya KH Rusdi Saleh (kakeknya adalah ulama besar Betawi Kampung Melayu yang pernah 11 tahun di Mekkah) di kediaman beliau Kampung Melayu Jakarta Selatan pada tahun 2013 lalu, beliau menegaskan kepada saya bahwa semua Ketua Masjid Al Atiq Kampung Melayu sejak tahun 1700san sampai akhir abad ke 19 Masehi adalah ulama-ulama yang mumpuni ilmunya. Ketua Masjid tidak boleh dijabat oleh yang bukan ulama. Dan gelar ketua masjid Al-Atiq adalah rata-rata adalah DATUK/DATO. Pengurus Masjid pertama bernama DATUK ABDUL MAJID yang merupakan ulama besar pada masanya, terutama pada kawasan Mester cornelis.


Untuk memperkuat jika gelar DATUK atau DATO ini bukan gelar sembarangan, pada tahun 2013 saya juga mengadakan wawancara dengan beberapa sesepuh yang tinggal di daerah Condet Jakarta Timur dimana disitu terdapat  makam ulama yang bernama DATUK IBRAHIM. Datuk Ibrahim ini ternyata keturunan Maulana Malik Ibrahim yang menyebarkan Islam di Condet dan sekitarnya. Beliau adalah ulama dan waliyullah yang kapasitas keilmuwannya sangat tinggi. Beberapa sesepuh seperti Haji Musa juga menegaskan jika gelar Datuk adalah gelar untuk ulama Jakarta pada masa lalu, dan mereka yang bergelar DATUK atau DATO ini bukanlah ulama sembarangan.


Masih belum puas saya juga berusaha mencari nama DATUK/DATO BiIRU yang ada di Rawa Bunga Jatinegara Jakarta Timur dan mempunyai hubungan dengan masyarakat Condet, ternyata beliau inipun seorang ulama yang Waliyullah, dinamakan BIRU karena beliau selalu memakai pakaian dan Jubah Biru.


Berdekatan dengan Condet yang berlokasi di Kelurahan Kramat Jati Jakarta Timur ada juga salah satu makam penyebar agama Islam yang bernama DATUK TONGGARA yang berasal dari Sulawesi. Besar kemungkinan beliau ini salah satu ulama dan pasukan perangnya Syekh Yusuf Makasar yang pernah singgah di Jayakarta untuk membantu perlawanan Sultan Banten dalam  menghadapi Penjajah.


Bergeser saya kearah Kayu Putih Utara Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur saya juga menemukan makam seorang ulama Jakarta tempo dulu yang bernama DATUK QIDAM, beliau adalah pendiri pertama Pesantren Kayu Putih ,beliau merupakan kakek dari Syekh Abdul Ghoni atau Wan Gani yang merupakan mufti betawi pertama sebelum Sayyid Usman bin Yahya. Datuk Qidam disamping seorang Mujahidin Jayakarta dia juga merupakan ulama yang Waliyullah. Gelar Datuk disandangnya karena pengakuan ulama dan masyarakat pada masa itu.


Yang juga tidak kalah menarik adalah keberadaan seorang Ulama di daerah lubang buaya pondok gede  yang bernama DATUK BANJIR yang nama aslinya Pangeran Syarif bin Syekh Abdurrahman. Beliau dikenal sebagai ulama yang mempunyai banyak karomah dan pejuang pembela rakyat yang ditindas oleh penjajah. Menurut sebuah riwayat Datuk Banjir adalah orang yang membangun masjid Maulana Hasanudin di dekat PMI jalan MT Haryono, masjid yang sering disebut kubah hijau yang tiangnya tidak memakai tiang soko guru seperti masjid lainnya, kebetulan saya sudah berapa kali sholat dimasjid ini, dan menurut dari keluarga Kong Riun yang ada Tegal Parang Jakarta Selatan, memang masjid tersebut dibangun oleh Dzurriyah keturunan Maulana Hasanuddin Banten yang ada di Jayakarta.


Dan masih banyak lagi nama-nama Datuk yang belum saya datangi seperti DATUK GEONG, DATUK SIRRIN yang makamnya di samping SMA GLOBAL ISLAMIC SCHOOL CONDET atau juga KYAI LUKMANUL HAKIM yang bergelar DATUK di Kramat Kampung Pulo yang kini terancam digusur.  Dari beberapa riwayat dan konteks Sejarah Jayakarta jelaslah bahwa seorang DATUK/DATO itu adalah ulama yang karismatik dan dalam ilmunya. Rata-rata mereka juga banyak yang merupakan pejuang dan Mujahidin Jayakarta. Seorang yang bergelar DATUK atau DATO merupakan ulama yang mampu menjadi contoh bagi masyarakat baik perkataan maupun tingkah lakunya, karismanyapun biasanya cukup bisa dirasakan oleh masyarakat. Gelar DATUK atau DATO itu setara dengan ulama Jakarta yang karismatik pada masa awal abad 20 seperti para GURU yang sudah saya sebutkan terdahulu dan juga para Habaib seperti Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur, Habib Salim Jindan, Habib Zain Alaidrus Krukut, Habib Muhsin bin Muhammad Al-Attas, Habib Kuncung, Habib Umar Bin Hud Al-Attas. Sayyidil Walid Alhabib Abdurrahman Assegaf Bukit Duri, dll.


Sumber :


Wawancara dengan Abuya KH Rusdi Saleh Kampung Melayu tahun 2013

Wawancara dengan para sesepuh Condet di Masjid Assa’dah tahun 2013

Wawancara dengan salah satu Dzurriyah Kong Riun di Tegal Parang tahun 2014

Penelitian sejarah makam penyebar Islam Jakarta secara mandiri, sejak tahun 1993 sampai dengan sekarang.


PERNIKAHAN CUCU RADEN FATTAH (SULTAN DEMAK) DAN CUCU RAJA PAJAJARAN (PRABU SURAWISESA) MENGGUGURKAN MITOS PERANG BUBAT

Salah satu misteri sejarah yang sampai kini masih menjadi perdebatan adalah tentang kisah perang bubat antara Pajajaran dengan Majapahit. Bagi sebagian besar masyarakat Sunda yang mengetahui cerita yang satu ini, kisah perang bubat adalah luka kelam dalam sejarah mereka, bagi sebagian masyarakat Jawa juga merupakan kisah yang seharusnya tidak perlu terjadi dan membuat nama mereka sedikit tercemar. Sebagian orang Sunda mengatakan bahwa peristiwa perang bubat itu bukanlah perang tapi pembantaian,karena bagaimana mungkin disebut perang, karena Raja Pajajaran datang ke Majapahit justru untuk besanan dengan Majapahit tapi gara-gara arogansi Gajah Mada semua jadi berantakan. Bagi sebagian masyarakat Jawa tidak sepatutnya seorang Gajah Mada memperlakukan rombongan Pajajaran yang dipimpin Maharaja Linggabuana sampai harus terjadi pemaksaan, yang mengakibatkan gugurnya semua rombongan Pajajaran termasuk calon istri Hayam Wuruk yang bernama Dyah Pitaloka. Sehingga akibat kejadian ini Hayam Wuruk menjadi terpukul dan akibatnya kemudian Gajah Mada pun disingkirkan dari kekuasaan, dan Hayam Wuruk akhirnya mencoba menjalin kembali hubungan dengan pewaris Kerajaan Pajajaran…begitu ceritanya….

Kisah yang begitu mengharu biru ini sampai sekarang masih terus dipercaya oleh masyarakat Sunda dan Jawa, harus diakui sampai sekarang cerita ini masih sangat membekas terutama pada masyarakat Sunda. Begitu membekasnya kisah ini sampai sekarang sangat sulit mencari nama-nama yang berbau Majapahit di beberapa jalan ataupun bangunan-bangunan penting, tengok saja kalau anda ke Bandung, pasti akan sulit mencari jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, Raden Wijaya, Brawijaya, Empu Prapanca, dll. Sedangkan di Jakarta yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Pajajaran justru nama-nama tersebut akan banyak kita temui. Cerita perang bubat seolah tidak terlepas dari Harta, Tahta, Wanita sehingga membuat orang lupa dan nestapa. Seolah sejarah kita ini identik dengan  tiga hal tersebut, kalau tidak harta kekayaan, ya perempuan, kalau tidak perempuan ya masalah kekuasaan. Dan ini selalu ada pada beberapa cerita lokal ataupun nusantara yang kebanyakan justru diterjemahkan oleh ilmuwan penjajah belanda. Dan itu juga kami sinyalir terjadi juga pada kisah perang bubat ini.

Akibat dari adanya ini semua kami sedikit banyak bertanya...

Benarkah kisah Perang Bubat ini ?

Kenapa kisah ini baru dimunculkan pada awal abad 20 ?

Kenapa dari Walisongo sampai muculnya kisah tersebut sama sekali tidak tercatat ?

Kisah Perang Bubat kalau kita mau mengkaji lebih dalam lagi, ternyata cerita tersebut terdapat pada naskah Serat Pararaton dan naskah Kidung Sunda (Sundayana) yang berbentuk Syair, dan katanya naskah tersebut ditemukan di Bali ! Nah kalau kita mau kritis sedikit, kedua naskah ini ternyata yang menerjemahkan adalah J.L.A. BRANDES ! ia adalah seorang filolog (ahli bahasa kuno), kolektor barang kuno, dan leksikografer (ahli penyusun kamus bahasa langka) berkebangsaan Belanda. Brandes merupakan ilmuwan dari Penjajah kolonial Belanda yang ditugaskan untuk menterjemahkan naskah-naskah Jawa kedalam bahasa Belanda. Dan tujuan dari penerjemahan itu sudah jelas untuk membengkokan sejarah bangsa ini, karena Belanda tahu bahwa dengan merusak sejarah dan budaya bangsa ini maka mereka akan lebih mudah menguasai Indonesia. Tidak heran jika Bung Karno selalu meneriakan semboyan JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Sekalipun isi naskah pararaton dan kidung sunda ada perbedaan, namun ujung dari peristiwa dibubat sama, yaituTragis !

Sampai saat ini bila kita pertanyakan, dimana naskah asli dari Pararaton dan Kidung Sunda itu ? tidak pernah ada jawaban yang jelas dan siapa juga penulis terakhirnya tidak ada yang bisa mengetahuinya, yang ada hanya bentuk terjemahannya saja dari J.L.A. Brandes  yang kemudian diterjemahkan oleh C.C.Berg pada tahun 1927 – 1928. Padahal kunci untuk menentukan keabsahan sebuah tulisan sejarah itu harus dilihat dari naskah aslinya, setelah ketemu naskah aslinya maka penulisnyapun perlu kita teliti ulang siapa dia, apakah dia mempunyai mata rantai penulisan (dalam islam disebut sanad), bagaimana kemampuan menulis sejarahnya, bagaimana pemahanan dia terhadap garis keturunan-keturunan Nusantara. Nah pada kasus Pararaton dan Kidung Sunda (Sundayana) yang ini justru kita hanya mendapati cerita terjemahan Brandes yang sekali lagi saya tegaskan bahwa dia adalah ilmuwan yang bekerja dan dibiayai oleh pemerintah kolonial Belanda,yang tujuannya sudah jelas untuk menjalankan politik devide et impera.

Perlu anda ketahui pada saat penerbitan naskah terjemahan PARARATON DAN KIDUNG SUNDA , itu masanya hampir bersamaan dengan masa-masa akan diadakannya SUMPAH PEMUDA, artinya ada kecendrungan usaha untuk memecah belah usaha para pemuda Nusantara untuk bersatu, dan  salah satu kekuatan utama atau pelopor gerakan sumpah pemuda saat itu adalah masyarakat SUNDA dan JAWA, sehingga untuk membendung gerakan ini muncullah terjemahan Pararaton dan Kidung Sunda yang disebarkan oleh Belanda dan kemudian banyak dibaca oleh sebagian besar masyarakat Sunda dan Jawa pada saat itu. Gerakan Belanda ini juga sepertinya satu paket untuk serba memajapahitkan atau menghinduisasikan sejarah Nusantara secara umum, sehingga akhirnya sejarah Islam menjadi tersingkir, padahal sejarah Islam cukup menentukan kelangsungan bangsa ini.

Munculnya naskah-naskah yang kontroversial seperti Pararaton atau Kidung Sunda memang bertujuan untuk merubah alur sejarah bangsa ini, agar mereka buta dan apatis terhadap sejarah bangsa ini. Naskah-naskah ini sepertinya satu paket dengan naskah-naskah kontroversial lain seperti Babad Tanah Jawi, Sabda Palon, Darmagandul yang muncul setelah usainya perang melawan Pangeran Diponegoro, sejak kekalahan Pangeran Diponegoro, Penjajah Belanda gencar meracuni alam pemikiran masyarakat melalui karya-karya sastra berselubung politik kolonial. Melalui karya sastra yang menyesatkan itulah belanda berusaha meruntuhkan jati diri bangsa ini, Sebab jika menghadapi mereka dengan perang dan kekerasan Belanda tidak pernah berhasil 100 % untuk menundukan perlawanan para pejuang bangsa.

Bagi kami kisah perang bubat ini adalah skandal sejarah yang sengaja diciptakan para penjajah, kenapa demikian ? karena ternyata fakta kalau Sunda dan Jawa bermusuhan itu adalah sama sekali sulit dipertanggung jawabkan baik sejarah ilmiah maupun secara sejarah !. Tidak ada satupun prasasti yang menunjukkan adanya peristiwa ini, padahal peristiwa peristiwa ini sangat penting bagi dua kerajaan besar di Nusantara. Keberadaan naskah itu hanya terdapat pada  Pararaton dan KidungSunda (Sundayana) yang diterjemahkan oleh J.L.A. BRANDES yang sampai sekarang naskah yang asli dan telah diterjemahkannya itu antah berantah keberadaannya. Kita perlu tahu bahwa sebelum diterjemahkan oleh Brandes tidak pernah terdengar adanya kisah perang bubat ini, masa Walisongo hingga masa awal abad 20 sama sekali tidak terdengar kisah ini. Padahal Walisongo terutama periode angkatan pertamanya pada periode antara tahun 1350 – 1403 sudah masuk ke pulau Jawa dan dari sini ternyata tidak pernah terdengar ada dalam riwayat mereka tentang kisah ini, padahal mereka itu banyak yang merupakan ahli sejarah. Seperti Sayyid Fadhol Ali Murtadho bin  Maulana Ibrahim Zaenuddin As-Samarqondy yang hidup pada masa Majapahit. Tidak mungkin orang sekelas beliau tidak meriwayatkan kisah yang satu ini. Sayyid Fadhol Ali Murtadho adalah pemegang mata rantai ilmu nasab dan sejarah Walisongo, sehingga akan sangat aneh kalau dalam riwayat yang beliau miliki tidak terdapat cerita perang bubat ini.

Pada sisi lain, kisah perang bubat ini juga bisa runtuh jika melihat kiprah dan hubungan Kesultanan Demak dengan hubungan Kerajaan Pajajaran. Dan seperti yang kita ketahui bahwa Kesultanan Demak sangat berhubungan kuat dengan Majapahit terutama dalam perjalanan sejarah panjangnya.Kalaupun terjadi peristiwa diambil alihnya Sunda Kelapa yang merupakan wilayah Pajajaran oleh Kesultanan Demak pada tahun 1527 M itu justru menjadi kunci pembuka tabir bagaimana sebenarnya hubungan antara Pajajaran dan Kesultanan Demak yang mewakiki Jawa.

Diambil alihnya Sunda Kelapa oleh Kesultanan Demak tahun 1527 itu justru merupakan babak baru tentang hubungan antara Pajajaran dengan Kesultanan Demak. Pajajaran yang mewakili Sunda, Demak mewakili Jawa. Pola hubungan itu adalah ketika terjadinya pernikahan antara ARIA PENANGSANG/ARIA JIPANG yang merupakan cucu RADEN FATTAH DARI KESULTANAN DEMAK dengan RATU AYU JATI BALABAR yang merupakan cucu PRABU SURAWISESA RAJA PAJAJARAN.

Jika melihat pernikahan ini, jelas Perang Bubat adalah mitos, sebab jika itu benar sudah tentu fihak keluarga besar Pajajaran akan menolak keras keluarganya dinikahi oleh bangsawan Jawa, apalagi ini bangsawan yang dianggap memiliki hubungan yang kuat dengan Majapahit. Namun kenyataannya SINGA MENGGALA sebagai ayah dari RATU AYU JATI BALABAR mengizinkan putrinya menikah dengan CUCU RADEN FATTAH tersebut. Demikian pula PRABU SURAWISESA, sekalipun dia berbeda pandangan secara politik dengan Kesultanan Demak, toh pernikahan antara cucunya dengan cucu Raden Fattah berlangsung dengan baik. Ini sekaligus juga memberikan petunjuk kalau Pajajaran itu sebenarnya sudah dimasuki proses Islamisasi. Kami perlu mengangkat fakta yang satu ini, karena pada masa itu kekuatan Pajajaran dan Demak adalah kekuatan yang paling menonjol dan mewakili masing-masing etnis. Sehingga adanya perang bubat itu jika ditinjau dari pernikahan penting antara Klan Pajajaran dan Demak, ceritanya sangat tidak beralasan untuk dipercaya. Dan perlu kita ketahui pada masa itu untuk menyatukan dua kekuatan yang berbeda kutub biasanyaya jalur pernikahan merupakan strategi jitu bagi kedua fihak, istilahnya adalah win win solution…

Kalau seandainya perang bubat saat itu membekas kuat pada diri Kerajaan Pajajaran pasti apa-apa yang berbau Jawa akan ditolak dengan keras. Secara logika mana mungkin di negara sendiri, Pajajaran mau tunduk habis apalagi menyerahkan salah satu putrinya kepada keturunan Jawa yang katanya pernah berbuat zalim terhadap leluhur mereka, padahal katanya di bubat saja mereka mati-matian sampai titik darah penghabisan, tentu trauma sejarah akan sangat membekas pada diri mereka, mengingat kejadian perang bubat jaraknya lebih dekat dengan masanya Kerajaan Pajajaran pada masa itu,  pada  kenyataannya ketika Fattahillah yang mewakili Demak/Jawa memasuki Sunda Kelapa yang merupakan wilayah Pajajaran, keberadaannya justru diterima dengan baik oleh penguasa Sunda Kelapa yang suaminya adalah anak dari Prabu Surawisesa (tidak benar terjadi perang antara Sunda Kelapa dan pasukan Fattahillah !). Bahkan setelah itu terjadi pernikahan antara Klan Sunda dan Klan Jawa melalui Aria Jipang Jayakarta dan Ratu Ayu Jati Balabar. Dari pernikahan ini kelak akan banyak lahir mujahidin-mujahidin Jayakarta.

Hubungan Sunda dan Jawa juga semakin akrab,ketika banyak keturunan Raden Fattah yang  mewakili Jawa hijrah ke negeri Sunda, bahkan  keluarga beliau banyak yang menjalin hubungan dengan bangsawan Sunda yang banyak keturunan Pajajaran.  Di daerah Sukapura Tasikmalaya, bahkan keluarga Demak/Jawa sangat dekat di hati mereka, di daerah garut yang merupakan daerah penyimpan sejarah penting banyak keturunan Raden Fattah yang sudahmenyatu dengan ulama ulama keturunan pajajaran, di Bandung sendiri kalau kita mau jeli dan meneliti ulang silsilah para bupati bupati tempo dulu, itu banyak yang mempunyai hubungan silsilah dengan Demak/Jawa, bahkan Ajengan-ajengan yang ada di Cimahi banyak yang merupakan keturunan Aria Jipang Jayakarta. Di Cianjur bahkah banyak keturunan Aria Jipang Jayakarta yang banyak menurunkan para Ajengan, bahkan kami mendengar ada satu kampung keturunan Sultan Trenggono. Pada penelitian saudara kami yang ada di Sukapura, bahkan beliau menemukan fakta daerah Sumedang juga banyak keturunan Raden Fattah, padahal sumedang terkenal kuat akan sejarah Pajajarannya. Belum lagi kalau kita bicara Banten dan Cirebon dimana kedua kesultanan ini telah menjalin hubungan kekerabatan denganKesultanan Demak. Di beberapa daerah Bogor bahkan banyak sekali keturunan jawa yang diwakili oleh dinasti Pangeran Diponegoro dan bahkan keturunan mereka banyak yang menjadi ulama serta pemimpin di negeri hujan ini. Belum lagi Jayakarta yang jelas-jelas menegaskan bagaimana pola hubungannya dengan Pajajaran.

Kisah perang bubat bagi kami perlu ditinjau ulang kembali kebenaranya, karena pada kenyataannya antara Suku Sunda dan Jawa itu bersaudara, dan itu telah dibuktikan dengan adanya pernikahan cucu RADEN FATTAH dan cucu PRABU SURAWISESA. Sejak dulu banyak mujahidin Sunda dan Jawa itu bersatu dalam melawan penjajahan, hanya saja banyak dari mereka itu yangtidak tercatat sejarahnya. Para pejuang perang 10 November 1945 dulu bahkan banyak orang-orang Sunda yang terjun membantu saudaranya di Surabaya, Mbah Hasyim Asy’ary bahkan sangat berharap dengan kedatangan Kyai-kyai dari Buntet Cirebon.Perlawanan beberapa pejuang di Jawa juga banyak dibantu oleh pejuang-pejuang dari Sunda, bahkan hingga kini ulama-ulama Sunda dan Jawa sudah seperti saudara kandung, kyai-kyai Jawa banyak belajar kepada Ajengan di Sunda, Ajengan-ajengan di Sunda dulu bahkan juga banyak yang belajar di Jawa.

Kesimpulannya bagi kami, kisah perang bubat adalah cara dan usaha politiknya Belanda yang bertujuan untuk Devide Et Impera terutama menjelang akan diadakannya Sumpah Pemuda yang justru diadakan di bumi Jayakarta, yang dalam akar sejarahnya, para pemimpinnya terdahulu adalah merupakan gabungan keturunan Jawa dan Sunda. Belanda melakukannya dengan penyebaran karya sastra berbau politik yang memang sebagian masyarakat kita itu senang akan cerita, tembang syair dari masa lalu, dari celah inilah penjajah berusaha menghancurkan pemikiran bangsa Indonesia akan sejarahnya. Dan salah satu pengaruhnya yang hingga kini masih adalah sinisme antar suku akibat adanya cerita bubat ini. Sinisme kedua suku itu tidak perlu terjadi lagi kalau kita faham dari mana asal usul kisah perang bubat itu. Kita jangan jadi korban dari “trauma sejarah’ yang dibuat-buat oleh penjajah belanda, kalau yang lebih “kuno” dalam peristiwa sejarah  seperti pernikahan Aria Jipang Jayakarta dan Ratu Ayu Balabar saja tidak terjadi trauma, mengapa yang modern sekarang ini malah lebih trauma ?

SUMBER :

Achadiati S, Soeroso M.P Sejarah Peradaban Manusia: Zaman Majapahit’. Jakarta: PT Gita Karya. , 1988.
Mertakusuma, Guwanan, Wangsa Aria Jipang,Jakarta : Agapress, 1986.
Mertakusuma, Kitab Al-Fatawi (silsilah Syar'i) KH Ahmad Syar’i,Jayakarta-Palembang: Al-fatawi, 1910.

Selasa, 04 Agustus 2015

MELURUSKAN NASABNYA MBAH KH HASYIM ASY'ARY AZMATKHAN AL-HUSAINI, (Benarkah beliau Dzurriyah Sunan Giri ?)

Muktamar NU masih berlangsung dengan semarak, dan sepertinya proses kedepannya semakin menggembirakan apalagi setelah "turun gunungnya" kyai-kyai karismatik NU dalam menyelesaikan "dinamika" yang terjadi kemarin.

Mencermati muktamar NU ini, rupanya ada satu hal yang mengusik hati kami, terutama tentang ditampilkannya nasab Mbah KH Hasyim Asy'ary bersama dengan Mbah KH Muhammad Dahlan yang merupakan pendiri ormas NU dan Muhammadiyah.

Tadinya kami berfikir mungkin saja ini sebuah uphoria sesaat karena adanya muktamar, namun karena kami melihat bahwa ini adalah urusannya dengan nasab tokoh besar umat Islam Nusantara dimana untuk masalah yang satu ini cukup "sensitif" bagi beberapa kalangan (terutama yang berkecimpung dalam dunia ilmu nasab), maka sepertinya kami akhirnya ingin juga ikut berkomentar terhadap hal yang satu ini, apalagi setahu kami kedua-duanya memang bernasabkan kepada keluarga besar Walisongo. Yang juga membuat kami tertarik dan jadi pengen menimpali,  karena disitu banyak kami temukan generasi-generasi yang "hilang" atau tidak tertulis, sehingga terkesan terlalu pendek generasinya (terutama nasab Mbah KH Hasyim Asy'ari). Bagi yang berkecimpung dalam ilmu nasab, tentu akan bertanya-tanya tentang "pendeknya" nasab Mbah Hasyim Asy'ari itu dan repotnya banyak juga yang percaya dengan nasab beliau dengan versi yang "pendek" tersebut.

Mengenai nasab keduanya, pada intinya beliau-beliau ini memang Sayyid (atau Habib/Keturunan Rasulullah SAW), hanya saja kadang dalam penulisan nasab, beberapa orang sering "salah kamar" dalam penyusunan atau penisbatan nama mereka. Contoh misalnya, nasab KH Ahmad Dahlan, dalam versi Film Sang Pencerah, beliau ditulis dan disebutkan keturunan langsung Maulana Malik Ibrahim Azmatkhan, sesuatu yang sangat mengejutkan kami, padahal jelas-jelas di keluarga besar KH Ahmad Dahlan, nasab beliau yang tertera adalah berasal dari Sunan Giri Azmatkhan. Memang antara Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri itu satu nasab, namun untuk KH Ahmad Dahlan nasab langsungnya jelas dari Sunan Giri bin Maulana Ishak bin Maulana Ibrahim Zaenuddin Al-Akbar As-Samarkondy bin Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin Al Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. Sedangkan Maulana Malik Ibrahim bin Sultan Barokat Zaenal Alam bin Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. Untuk masalah KH Ahmad Dahlan sepertinya memang sudah mashyur berasal dari Sunan Giri. Jelas Maulana Malik Ibrahim hitungannya adalah kakek bagi Sunan Giri karena Maulana Ibrahim Zaenuddin Al-Akbar As-Samarkondi dan Sultan Barokat Zaenal Alam adalah adik kakak. Memang terkadang antara Maulana Ibrahim Zaenuddin Al Akbar As-Samarkondi dan Maulana Malik Ibrahim sering disamakan pada satu orang (karena sama-sama pakai nama Maulana dan Ibrahim), padahal mereka adalah sosok yang berbeda, yang satu makamnya di Tuban yang satu di gresik..

Bagaimana dengan Mbah Hasyim Asy'ari ? nah ini yang menurut kami sangat menarik.

Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah blog tertentu, kami pernah melihat perdebatan yang cukup panas antara yang mempercayai kalau Gus Dur adalah Sayyid dan juga  yang kontra terhadap nasab beliau. Masalahnya yang kami lihat pada waktu itu, banyak yang kontra terhadap nasab Gus Dur karena dilatar belakangi sikap beliau yang sering dianggap "kontroversial" dalam kaca mata beberapa orang. Padahal kalau kita bicara nasab, ya kita harus jujur dan tegas, apakah dia Sayyid atau tidak, atau apakah dia sudah menjadi pribumi karena akulturasi, ya tetap harus dijelaskan, jika memang data nasabnya tercatat, terpelihara dan bersanad, mereka tetap merupakan Dzurriyahnya Rasulullah SAW.

Dalam beberapa sumber yang kami ketahui, dipercaya bahwa leluhurnya Mbah Hasyim ini adalah berasal dari Klan Basyaiban, padahal setelah kami teliti dalam catatan Sayyid Bahruddin Azmatkhan, beliau berasal dari Klan Azmatkhan, terutama leluhurnya yang bernama Jaka Tingkir. Jaka Tingkir jelas bukan bernasabkan kepada basyaiban, namun beberapa keturunannya memang banyak yang menikah dengan keluarga basyaiban. Dalam ilmu nasab dinamakan tautan nasab. Artinya basyaiban adalah kekerabatan. Hal ini wajar mengingat basyaiban adalah salah satu fam yang tua yang masuk ke Nusantara setelah terlebih dahulu masuknya Azmatkhan yang diwakili oleh keluarga walisongo mulai dari Sayyid Huseim Jamaluddin sampai kepada masa berdirinya Majelis Dakwah Walisongo. Perlu diketahui bahwa keluarga besar Basyaiban itu baru datang pada abad ke 16 sedangkan keluarga Jaka Tingkir sendiri sudah berada di jawa sejak abad ke 13. 

Jelaslah jika dinisbatkan langsung kepada fam Basyaiban tidak tepat, namun kalau kekerabatan nasab memang ada. Leluhur Basyaiban sendiri yang pertama kali datang ke Jawa adalah Sayyid Abdurrahman Tajudin (Sunan Pangkunegoro) bin umar bin  Abdullah bin Abdurrahman bin umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Basyaiban. Sayyid Abdurrahman Tajudin ini kemudian mendapatkan istri dari cucunya Suinan Gunung Jati (ada juga yang menulis anak Sunan Gunung Jati yang bernama Ratu Khadijah). Sedangkan Jaka Tingkir mendapatkan istri anak Sultan Trenggono bin Raden Fattah. Dari generasi saja  mereka sudah berbeda, dari tahun sudah berbeda, dari istri sudah berbeda. Jaka Tingkir lebih banyak di Jawa Tengah dan Timur (Kesultanan Pajang) sedangan Sayyid Abdurrahman Tajudin lebih banyak di Cirebon karena telah menjadi bagian keluarga besar Sunan Gunung Jati Azmatkhan...

Jaka Tingkir dalam riwayat mashyur bukanlah anak dari Sunan Giri. Siapapun sejarawan akan mengetahui bahwa ayah dari Jaka Tingkir ini  adalah Ki Ageng Pengging yang merupakan tokoh sufi besar pada masanya. Dalam catatan Sayyid Bahruddin Azmatkhan anak-anak Sunan Giri pun tidak ada yang bernama Jaka Tingkir. Jadi jelas Jaka Tingkir nasabnya bukan ke Sunan Giri. Kalaupun nanti dihubungkan dengan Sunan Giri, itu mungkin tautan pernikahan dengan keturunan Sunan Giri yang selanjutnya. Pada intinya Jaka Tingkir memang seorang Sayyid tulen atau Alawiyyin Sejati. Beliau bernama asli Sayyid Abdurrahman Azmatkhan. Leluhur utamanya adalah Sayyid Sayyid Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin Al Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath. Kami sengaja tidak menampilkan dulu nasab Jaka Tingkir bin Ki Ageng Pengging sampai kepada Sayyid Husein Jamaluddin karena menunggu dulu izin dari guru kami yang memegang sanad nasab beliau ini. Namun untuk memastikan nasab Jaka Tingkir ini, sangat jelas dan tegas, kami katakan bahwa Jaka Tingkir adalah keturunan Rasulullah SAW dari jalur Sayyid Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin Al Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan, artinya Jaka Tingkir adalah seorang Keturunan Al Imam Al Muhajir Al Basri Al Husaini. Dari Nasabnya Jaka Tingkir kelak akan lahir ulama-ulama besar seperti KH Sahal Mahfud, KH Hasyim Asy'ari, Syekh Mutamakkin dan ratusan ulama besar lainnya yang banyak berada di Jawa ini.

Kami juga ingin menegaskan, bahwa nasabnya Mbah Hasyim Asy'ari itu berada pada urutan ke 36 dari Rasulullah SAW, sedangkan Gus Dur di urutan 38. Jadi kalau selama ini ada nasab yang beredar di internet yang menyebutkan Gus Dur generasi ke 34, itu adalah generasi yang sangat pendek untuk keturunan Rasulullah khususnya pada keluarga besar Azmatkhan. Rata-rata keturunan Azmatkhan seperti Mbah Hasyim Asy'ari ini berada di generasi 36 dan Gus Dur generasi ke 38. Dan ini juga sesuai dengan perjalanan nasab keluarga besar Alawiyyin lain yang sekarang berada urutan 38 - 40 atau 40 - 42. Angka generasi tersebut adalah normal, namun kalau angka 34 jelas itu ada nama yang hilang dan tidak tercatat. Untuk kasus Mbah Hasyim Asy'ary sebenarnya secara bersanad sudah lama terdata dan tersimpan dengan baik oleh keluarga besar Sayyid Bahruddin Azmatkhan, hanya saja memang tidak dipubilkasikan, mengingat untuk urusan nasab memang harus langsung dengan keluarga besar sang ulama tersebut. Nasab jelas tidak bisa diobral, apalagi Mbah Hasyim Asy'ari memang sangat hati-hati dalam masalah nasab. Memang level Mbah Hasyim ini bukan lagi membicarakan nasab, namun bagaimanana menjadikan nasab itu sebagai uswah bagi ummat tanpa perlu harus diumumkan..

Mungkin ada yang bertanya, kenapa Sayyid Bahruddin bisa menyimpan nasabnya Mbah Hasyim Asy'ari ? ya tidak anehlah, sebab Sayyid Bahruddin satu perguruan dengan Mbah Hasyim Asy'ari karena sama-sama pernah menjadi murid Mbah Kholil Bangkalan, dan Sayyid Bahruddin sekaligus juga pernah berguru langsung kepada Mbah Hasyim Asy'ari. Sayyid Bahruddin juga satu angkatan dengan KH As'ad Syamsul Arifin (Sayyid Bahruddin lahir tahun 1899 dan wafat tahun 1992). Di kalangan Kyai Khos dulu, Sayyid Bahruddin memang dikenal baik, namun secara umum, memang beliau jarang muncul, karena memang wataknya seperti itu. Sayyid Bahruddin secara nasab satu alur dengan Mbah Kholil Bangkalan, mereka sepupuan sekalipun beda usia. Hubungan antara Sayyid Bahruddin dan Mbah hasyim sendiri cukup baik, sehingga tidaklah heran jika sanad keilmuannya mbah hasyim banyak dipegang oleh Sayyid Bahruddin ini. Jadi kalau banyak data nasab Mbah Hasyim di Sayyid Bahruddin itu adalah hal yang wajar, apalagi Sayyid Bahruddin sudan mendata semua nasab sejak tahun 1918 Masehi melanjutkan sanad Ilmu nasab dari ayahnya, sayyid abdul rozaq.

Demikianlah pelurusan nasab Mbah Hasyim Asy'ari Azmatkhan Al Husaini.....

Alfatehah untuk beliau....

Sumber :

As-Syekh As-Sayyid Al-Allamah Bahruddin Azmatkhan Al-Husaini Al Hafizh, Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, Jakarta : Madawis, 2015.
Iwan Mahmud Al Fattah, Diagram Nasab Keluarga Besar Azmatkhan Al-Husaini, Jakarta : Madawis & Ikrafa, 2014.

PANDANGAN SINIS CHRISTIAAN SNOUCK HORGRONJE TENTANG ARAB HADRAMAUT DAN ISLAM

Dalam tataran para akademisi yang berkecimpung dalam dunia sejarah pemikiran dan pergerakan politik Islam di Indonesia, nama yang satu ini mungkinsangat tidak asing. Dia adalah salah seorang “akademisi”, orientalis sekaligus politikus yang memang sejak awal telah ditugaskan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menyelidiki gerak gerak perjuangan bangsa Indonesia. Namanya diangap begitu “berjasa” dan di kalangan pemerintah kolonial, karena telah berhasil memberikan “pencerahan” dan “kemajuan” dalam mengatasi berbagai perlawanan bangsa Indonesia pada saat itu (seperti wilayah Aceh yang terkenal akan para Mujahidinya).

Nama lengkapnya sendiri adalah Christian Snouck Hurgronje, dia seorang orientalis Belanda terkenal dan merupakan ahli politik imperialis.Lahir pada 8 Februari 1857 di Oosterhout dan meninggal pada 26 Juni 1936 diLeiden. Ia merupakan anak keempat pendeta J.J. Snouck Hurgronje dan Anna Maria,putri pendeta Christiaan de Visser.

Orangtua Christian Snouck Hurgronje , Anna Maria de Visser sangat populer di kalangan pendeta sebagai puteri Pendeta ProtestanDs. Christiaan de Visser, rekan sejawat Ds. J.J. Snouck Hurgronje dengan Anna Catherina Scharp. Pada tanggal 3 Mei 1849 Ds. J.J. Snouck Hurgronje dan Anna Maria de Visser yang belum resmi menikah dikeluarkan dari Gereja Hervormd di Tholen atau Zeeland Belanda karena melakukan hubungan gelap. Padahal waktu itu Ds.J.J. Snouck Hurgronje telah menikah dan mempunyai enam orang anak. Ds. J.J.Snouck Hurgronje dan Anna Maria de Visser baru resmi menikah setelah sekitar enam tahun tragedy pengusiran di Gereja Hervormd. Yakni, setelah istri Ds. J.J.Snouck Hurgronje yang pertama meninggal dunia 31 Januari 1855 di Terheij (1986: 119) – (2002 : 7)

Christian Snouck Hurgronje dalam perjalanan pendidikannya, telah menyelesaikan pendidikan tinggi dalam bidang bahasa-bahasa Semith pada tahun 1880 Masehi dengan desertasi yang berjudul “Perayaan Makkah”. Ia yang berasal dari keluarga Pendeta Protestan Tradisional dalam hidupnya telah dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran liberal.

Ketertarikan Christian SnoukHorgronje akan bahasa Smith tentu semakin membuat kajian kali ini menarik,sebab bahasa Smith itu ternyata akar sejarahnya, disamping Arab dekat juga denganbangsa Yahudi, sehingga  semakinmenguatkan dugaan jika ia “diindikasikan” sebagai bagian keturunan Yahudi(perlu kajian selanjutnya….), apalagi guru-guru dan rekannya banyak yangberdarah yahudi,  dan jika melihatketerlibatan dia dalam menghancurkan perlawanan rakyat Aceh, patut diduga jikaia bagian dari Yahudi Zionis karena secara kebetulan gerakan Christian SnoukHorgronje itu bersamaan waktunya dengan berkembangnya gerakan teosofi(gerakan kebathinan Yahudi) yang mempunyai Loji di Aceh dan juga berfungsisebagai markasnya.

Snouck adalah sosok yang kontroversial. Pada saat di Mekkah dalam rangka tugas dan “pengabdian” kepada pemerintahnya, dia banyak melakukan banyak “terobosan". Di Makkah Snouck pernah menyatakan diri masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Gaffar pada tanggal  16 Januari 1885, di hadapan Qadi Jeddah dengan dua orang saksi. Setelah itu Snouck pindah tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat dari Pandeglang, seorang tokoh yang kebetulan tinggal sementara di Makkah. Namun, dalam surat kepada seorang teman sekaligus gurunya yang ahli islamologi Jerman Theodor Noldeke, ia menyebutkan bahwa ia hanya melakukan idhar al-islam, bersikap Islam secara lahiriah. Dalam suratnya tersebut ia juga menyebutkan bahwa semua tindakannya itu sebenarnya adalah untuk menipu orang Indonesia agar mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya (2011: 61 – 62).

Sampai saat ini mungkin snouck ini masih dianggap “pahlawan” dinegerinya, namun bagi kami pribadi sosok ini justru merupakan “biang keladi” rusaknya sejarah Islam Nusantara. Beberapa pandangannya mengenai Islam jika dikaji lebih cermat lagi, banyak sekalinya isinya yang penuh dengan distorsi. Berbagai penyimpangan pemikiran tentang Arab dan Islam telah dia tuangkan dan paparkan dengan mengatasnamakan “keilmiahan”,  padahal sudah jelas dia ini merupakan seorang politikus yang bermain dua kaki. Oleh karena itu kami lebih memandangnya sebagai politikus ketimbang akademisi.

Christian Snouck Hurgronje, menurut orang Eropa dianggap sebagai seorang orientalis yang ahli dalam bahasa Arab dan Islam dari Universitas Leiden Belanda. Ia diangkat menjadi professor karena keahliannya dalam mengepalai bagian pelajaran bahasa arab dan pelajaran Islam di universitas tersebut.

Beberapa pandangan sampai saat ini sudah banyak menyebar di negeri ini,dan ironisnya pandangan “Profesor” yang satu ini masih ada juga pengikutnya, padahal jelas-jelas semua pemikirannya didasari atas kepentingan penjajah kolonial. Diantara pemikirannya misalnya :
Dalam beberapa tulisannya di buku yang berjudul De Islam in Nederlandsc-Indie yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Islam di Hindia Belanda, ia menulis yang diantaranya :

1. Di Kepulauan Hindia ada dua keadaan yang menguntungkan bagi kelanjutan penyebaran agama Islam dengan cepat. Penduduk kepulauan ini pada waktu itu sebagian besar masih berada ditingkat perkembangan ruhaniah yang meskipun secara khusus sangat berbeda-beda, namun pada hakikatnya sama rendahnya dengan bangsa Arab pada zaman Nabi Muhammad, dan yang hingga kini masih tampak pada penduduk Afrika Tengah (1983 : 11).

Sanggahan : Jelas sekalijika Snouck ini sangat memandang rendah kemampuan Islam dan kebudayaan orang Arab, Indonesia dan Afrika Tengah dianggapnya pada saat itu sangat terbelakang. Padahal kebudayaan Arab dan Islam pada saat dia mengatakan itu, peradabannya lebih tinggi dari bangsanya yang justru datang kenegeri ini hanya untuk merampok dan menjajah. Ketika bangsanya Snouck ini datang ke Nusantara, justru peradaban Islam Nusantara itu sudah jauh berkembang apalagi jika ditinjau dari sisi ruhaniah, justru Eropa pada masa itu masih terjebak dengan “kegelapannya”. Islam dan Arab bahkan jauh lebih awal sudah memberikan warna pada Nusantara ini. Pada masa Kesultanan Demak saja semua bidang kehidupan sudah sangat maju, belum lagi di Aceh yang juga merupakan pusat peradaban Islam di Sumatra, belum lagi Palembang, Ternate, Malaka, Melayu, Patani, Champa, dll. Bangsa Arab pada masa Nabi juga sebenarnya tidak sebodoh yang dia katakan, karena pada saat itujustru dunia sastra sangat berkembang pesat, karena karena kepercayaan mereka saja yang menyimpang, dan itu bukan berarti peradaban bangsa Arab itu rendah, sepertinya tuan Christian Snouck Horgronje ini harus banyak belajar tentang peradaban Arab dan Islam (atau dia pura-pura tidak tahu ?).

2.  Di sana, orang-orang kafir di daerah pedalaman seperti orang batak di Sumatra, orang dayak di Kalimantan, orang arafuru di Sulawesi di mata penguasa Kerajaan Islam didaerah pesisir tetap merupakan jenis manusia yang lebih rendah tingkatannya, dan agama Islam dengan ajarannya tentang “jihad” memberikan dalih yang tepat sekali kepada penguasa-penguasa tersebut untuk melakukan pemerasan terhadap mereka.Mereka ini dibebani pajak yang berat, dijadikan budak beliau, dan dikuasai tanpa ada usaha untuk memimpin dan mendidiknya (1983 : 11).

Sanggahan: Luar biasa tuduhan Snouck ini, dia mengatakan bahwa orang di daerah pedalaman itu seolah masih terbelakang, padahal suku-suku yang dia sebut itu mempunyai budaya dan kearifan lokal yang justru menurut kami lebih maju dari bangsanya Snouck. Seolah-olah bangsanya itu sangat memikirkan bangsa Indonesia untuk lebih maju. Para penguasa Islam dia katakan tidakmemikirkan dan tidak membimbing suku suku tersebut menuju kehidupan dan peradaban yang lebih maju. Padahal banyak fihak dari Kesultanan-Kesultanan sudah lebih dulu memasuki suku-suku pedalaman tersebut untuk membina hubungan baik, baik itu dalam bidang adat, pemerintahan, maupun dalam rangka dakwah Islamiah, pemerintahan Islam dia identikan dengan tirani dan pemerintahan yang zalim, seolah pemerintahnya yang notabenenya penjajah dan perampok lebih “memikirkan” nasib suku-suku tersebut, seolah pemerintahan bangsanya jauh lebih “beradab” dan “beretika”. Snouck dengan sinisnya menyatakan bahwa ajaran “jihad” itu tujuan utamanya untuk menindas eksistensi kehidupan suku-suku tersebut. Konsep “jihad’ dianggapnya untuk membuat aturan hidup yang“menyakitkan”. Padahal apa yang dia kemukakan itu justru menyimpang dari ajaran “jihad” itu sendiri. Jihad dianggapnya bertujuan untuk melanggengkan perbudakan (padahal Islam menentang keras perbudakan !), dia mengatakan bahwa “jihad’ juga sah untuk menentukan sebuah pajak yang berat. Olala……. sepertinya Snouck inisangat anti dengan istilah yang satu ini, padahal pengertian jihad tidak seperti dengan apa yang dia fahami.

3. Kaum pendatang bangsa Arab dari Hadramaut, yaitu daerah tandus di Arab Selatan, yang merantau ke kota-kota dagang di Hindia Timur, memberi pengaruh yang sama pula arahnya. Makin kuat pengaruh itu bekerja di suatu tempat, makin banyak pula kehidupan orang-orang Islam disitu kehilangan kesahajaannya yang menarik hati, dan sifatnya Nampak suram dan kaku, dan acapkali juga menjadi kurang toleran (1983 : 13 -14).

Sanggahan : Jelaslah pernyataan “Tuan” Christian Snouck Hurgronje tidak sesuai dengan fakta sejarah yang ada. Karena kedatangan bangsa Arab dari Hadramaut justru banyak memberikan dampak yang positif dalam kebudayaan dan kehidupan sosial Nusantara dan itu sudah dimulai sejak kedatangan Walisongo yang merupakan keturunan dari Arab Hadramaut. Justru kedatangan bangsanya ChristianSnouck Hurgronjekenegeri ini membawa banyak melapetaka bagi rakyat Nusantara. Arab Hadramaut yang dia maksud memang lebih banyak ditujukan kepada para Sayyid dari keluarga Alawiyyin. Padahal keluarga besar Alawiyyin itu datang ke negeri ini tujuan utamanya untuk berdakwah dan memberikan kemajuan peradaban pada wilayah yang mereka tempati. Tidak percaya ? lihatlah beberapa kesultanan-kesultanan Nusantara, disitu banyak keturunan Alawiyyin yang jadi pemimpinnya, lihatlah ulama-ulama yang menyebarkan Islam secara damai di berbagai wilayah Nusantara, disitu banyak orang Arab Hadramaut baik yang sudah berbaur maupun yang baru akan melakukan proses akulturasi. Para ulama dan Kyai-kyai besar di Pulau Jawa, Madura, Sumatra, Kalimantan bahkan leluhurnya banyak yang berasal dari Arab Hadramaut keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath. Kehidupan Arab Hadramaut baik yang Sayyid dan non Sayyid sejak masa Walisongo sampai kepada masanya Snouck justru lebih banyak diterima oleh bangsa ini, mereka terjun dan berbaur dengan masyarakat tanpa sungkan-sungkan, ketimbang bangsanya Snouck yang lebih banyak bersikap elitis dan borjuis. Arab Hadramaut, apalagi mereka yang berkecimpung dalam bidang dakwah, perdagangan bahkan banyak yang menjadi proyek percontohan dalam berperilaku budi pekerti di tengah masyarakat. Dalam hal toleransi Arab Hadramaut itu sangat toleran terhadap hal-hal kebangsaan, lihatlah walisongo dan juga para habaib yang hidup pada abad ke 19 bahkan hingga sampai saat ini, kalaupun sekarang ini ada habaib yang dipandang kurang baik, itu hanyalah oknum dan sebagian kecil saja. Yang jelas Arab Hadramaut sudah memberikan warna penting dalam kehidupan bangsa ini.

4. Setelah pulang ke tanah air, sebagai orang-orang yang telah mengalami pembaharuan jiwa mereka (orang-orang yang baru pulang haji) menjadi orang-orang yang fanatic.Sesungguhnya pengaruh haji itu atas kehidupan ruhani kebanyakan haji, kalaupun ada, kecil sekali (1983 : 28).

Sanggahan : Sepertinya Christian Snouck Hurgronje ingin membolik balik fakta  yang sesungguhnya tentang haji ini, karena justru orang yang pulang dari haji justru sisi ruhaniahnya akan lebih meningkat, secara aplikasi, sikap dan pemikirannya seorang muslim dan muslimat itu akan jauh lebih baik dibandingkan sebelum dia naik haji, haji adalah ibadah yang sangat bernilai tinggi dan diidam-idamkan kaum muslim dan muslimat, jadi darimana dia mengambil ukuran kalau haji pengaruhnya kecil bagi orang Islam ? Kalau haji tidak penting, untuk apa Snouck menjadi mata-mata di Mekkah bahkan sampai harus pura-pura masuk Islam dan disunat lalu menetap Mekkah dan menjadi intelnya Belanda ? Kalau dia mengatakan orang-orang yang haji jadi lebih fanatic dalam beragama, justru memang itu tujuan mereka berhaji (semakin fanatic menjalankan ajarannya). Sepertinya memang fihak Snouck dan “majikannya” sangat kuatir kepada masyarakat yang pulang haji, karena memang banyak dari jamaah haji setelah pulang, mereka jadi lebih berani dan frontal terhadap penjajah, hal ini sangat wajar, karena begitu mereka berada di Mekkah dan madinah, mereka banyak bertemu ulama-ulama besar yang berasal dari Indonesia yang memberikan mereka motivasi untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah belanda. Ulama-ulama Indonesia seperti Syekh Nawawi Banten, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi dll memang sepanjang hayat mereka terus menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada jamaah haji yang berasal dari Indonesia, sehingga di samping berhaji, para jamaah datang membawa oleh-oleh dari Mekkah dengan pemikiran yang berlawanan dengan penjajah. Inilah yang menyebabkan Snouck dan tuannya memandang sinis terhadap ritual haji, karena ternyata telah membahayakan pemerintahan mereka.

5. Marilah kita kembali kepada masalah pengajaran. Dapat dimengerti bahwa dalam pendidikan di sekolah. Al-Qur’an sedikit sekali mengandung unsur-unsur pembina kehidupan. Anak-anak sedikit banyak dibiasakan pada ketertiban dan belajar ucapan-ucapan bahasa Arab dan mengenal huruf Arab sertacara-cara menjalankan ibadah.

Sanggahan : Al-Qur’an dia katakan sedikit sekali mengandung unsur-unsur pembinaan kehidupan ? aneh, apa dia sudah mempelajari keseluruhan isi Al-Qur’an, sehingga berani mengatakan seperti ini, terlihat sekali betapa dangkalnya pemahaman tuan Snouck ini terhadap Al-Qur’an, padahal dia anggap sebagai orang yang ahli bahasa Arab dan Islam.  Al-Qur’an itu kalau dia mau berfikir justru diperuntukkan untuk semua manusia, artinya non Islampun kalau mau mempelajari lebih dalam Al-Qur’an dipersilahkan, ini karena sifatnya yang universal dan itu sudah banyak bukti, bagaimana banyak para ahli ilmu pengetahuan non islam yang telah membuktikan tentang kebenaran Islam. Sudah jelas Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi manusia, artinya jika itu merupakan sebuah pedoman bagi manusia, apakah mungkin di dalamnya minim dengan adanya ajaran atau pembinaan kehidupan terhadap manusia ? Tuan Snouck sepertinya memang sangat benci sekali dengan kitab suci Agama Islam ini.

6. Bahwa hal ini sedang mengalami perubahan dapatlah dianggap sebagai suatu keadaan yang menggembirakan. Sebab meskipun pengajaran di pesantren kita hormati sebahi pernyataan iman yang sungguh-sungguh, pengajaran itu sama sekali berdasarkan tanggapan tentang alam manusia zaman pertengahan dan sekali-kali tidak mempunyai tujuan untuk mempermudah asosiasi yang begitu diharapkan antara kehidupan pribumi dengan peradaban zaman kita (1984 : 257 – 260).

Sanggahan :  Pengajaran Islam di pesantren dia katakan hanya berpatokan pada abad pertengahan saja dan tidak mempunyai tujuan serta hanya mempersulit kehidupan pada zamannya Christian Snouck Hurgronje. Ini jelas tuduhanyang tidak berdasar, Islam masuk ke Indonesia mempunyai tujuan yang pasti. Dan di Nusantara, Islam itu bukanlah dimulai pada abad pertengahan, justru Islam sudah masuk jauh lebih awal daripada yang dikira oleh para sejarawan eropa termasuk “Tuan” Christian Snouck Hurgronje. “Tuan”Christian Snouck Hurgronje mengira jika Islam Nusantara itu baru dimulai pada abad pertengahan (abad 15dan 16) padahal Islam sudah pada masa Sahabat Nabi sudah masuk ke negeri ini, dan bukti-bukti arkeologisnya dapat kita temukan pada beberapa tempat. “Tuan” Christian Snouck Hurgronje seolah ingin menegaskan bahwa peradaban bangsanya jauh lebih “beradab” dengan peradaban Islam yang telah dibawa oleh para ulama kita seperti Walisongo dan Alawiyyin yang banyak dianut para pribumi Nusantara. Pribumi tegasnya dia ingin katakan terbelakang, sedangkan  bangsanya itu lebih “berperadaban”.

Sumber :

Aqib Suminto, PolitikI slam Hindia Belanda, Het Kantoor voor Inlandsche Zaken, Jakarta: LP3ES,1986, hlm. 119. Lihat pula Lathiful Khuluq, Strategi Belanda Melumpuhkan Islam; Biografi C. Snouck Hurgronje, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Budi Ichwayudi, Hipokritisme Tokoh Orientalis Christiaan Snouck Hurgronje,dalam Religio: Jurnal Studi Agama-agama, Volume 01, Nomor 01, Maret 2011.
Mr. Hamid Al-Qadri, Christiaan Snouck Hurgronje ,Politik Belanda Terhadap Islam Dan Keturunan Arab, Jakarta : Penerbit Sinar Harapan, 1981.
Prof. Christiaan Snouck Horgronje, Islam di Hindia Belanda (terj.) S. Gunawan, Jakarta : Bharatara Karya Aksara, 1983.