Minggu, 22 Maret 2015

BENARKAH WALISONGO TIDAK PUNYA KETURUNAN? (Menjawab Kerisauan Keluarga Besar Azmatkhan Al Husaini)

TULISAN INI PERNAH KAMI BUAT DI BLOG KAMI YANG TERDAHULU......

Tulisan ini kami munculkan untuk menjawab kerisauan para keturunan Walisongo yang selama ini mungkin ada beberapa yang mendapatkan perlakuan yang tidak etis terhadap keberadaan mereka yang merupakan keturunan Walisongo atau Keturunan dari keluarga besar Azmatkhan Al Husaini...

Inilah tulisan kami yang dua tahun lalu pernah kami tulis.......
Judul ini lagi-lagi harus kami angkat, karena sampai sekarang masih banyak pendapat yang mengatakan kalau walisongo tidak punya keturunan, dan pendapat itu masih sangat marak, khususnya mereka-mereka yang beranggapan jika Alawiyyin itu hanya berasal dari masa-masa abad ke 18 /sd 20.
Pendapat ini sering sekali kami dapati, dan anehnya seringsekali disebar luaskan oleh mereka-mereka yang kurang pemahamannya akan sejarah dan nasab Walisongo. Padahal Walisongo adalah merupakan Alawiyyin tulen yang menjadi pelopor gerakan Dakwah dalam bentuk Majelis (Organisasi) di Nusantara ini. Jelas jika sebuah Majelis atau Organisasi itu muncul, itu menandakan jika gerakan Dakwah ini dilakukan dengan cara yang telah terukur dan sistematis. Artinya masa Walisongo penyebaran Islamnya sudah dilakukan dengan cara-cara profesional dan tentu semua itu meniru dari caranya Rasulullah Shollahu ‘Alaihi Wassallam.

Adanya pendapat kalau Walisongo itu tidak punya keturunan, merupakan sebuah hal yang lucu dan aneh serta tidak sesuai dengan fakta dilapangan yang ada, karena bagaimana bisa, dari sekian ribu keluarga besar walisongo, dikatakan tidak satupun memiliki keturunan. Wah bagaimana pula status nasab-nasab para ulama besar yang ada di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku yang nasabnya banyak yang bersambung dengan Walisongo atau Azmatkhan itu? Padahal berdasarkan catatan nasab yang sudah dihimpun oleh keluarga besar Keturunan Sunan Kudus, keturunan dari Walisongo itu jumlahnya puluhan ribu, itu saja yang baru didata, belum lagi ribuan keturunan lain yang masih bertebaran di seantero Nusantara yang belum melaporkan nasabnya.

Alasan-alasan yang sering diangkat oleh beberapa orang tersebut bahwa pencatatan nasab walisongo tidak ada, karena walisongo tidak mewariskan pencatatan nasab, apalagi dengan jarak yang sudah 600 tahun  sampai dengan pada masa yang sekarang. Pendapat ini bahkan sering mereka perkuat dengan mengatakan bahwa dibeberapa lembaga nasab di negeri ini tidak ada catatan nasab dari keturunan Walisongo.

Benarkah demikian? Tidak adanya catatan nasab di beberapa lembaga nasab tersebut bukan berarti nasab keturunan walisongo itu tidak ada. Bukankah lembaga nasab yang ada di negeri ini baru terbentuk tahun 1928? Sedangkan pencatatan nasab walisongo sudah dimulai sejak masa Sayyid Abdul Malik Azmatkhan (tahun 1200an) kemudian juga mencapai puncaknya pada masa Sunan Kudus Azmatkhan (tahun 1400an). Dan perlu kita ketahui bahwa pencatatan nasab keluarga besar Walisongo lebih banyak dilakukan oleh keluarga masing-masing. Lagipula untuk bisa meneruskan sebuah pencatatan nasab dalam sebuah kitab nasab, itu jelas masing-masing fihak harus memiliki sanad ilmu nasab. Lembaga nasab yang tidak ada data nasab walisongo, itu bisa saja terjadi, karena mereka memang tidak punya sanad ilmu nasab yang sampai kepada keluarga besar Walisongo. Jadi wajar saja. Jadi sebenarnya hal seperti ini kita maklumi saja. Lagipula hubungan antara keturunan Walisongo dan lembaga tersebut juga tidak ada masalah. Semua baik-baik saja kok..

Dan memang dalam hal pencatatan nasab, itu jelas harus dilakukan oleh orang yang memiliki sanad. Pencatatan yang saya maksudkan ini bukan sekedar pencatatan, namun orang yang melakukan pencatatan itu  juga harus merupakan seorang ulama yang menekuni bidang ilmu nasab. Kalau hanya sekedar mencatat semua orang juga bisa. Kalau hanya belajar secara otodidak semua orang juga bisa, namun untuk masalah SANAD, jelas itu harus diperoleh dari orang-orang yang mempunyai sanad ilmu nasab. Nilai sanad itu sama seperti sebuah kunci. Sebuah Gudang tidak akan bisa dibuka jika tidak ada kuncinya. Nilai sanad dalam sebuah ilmu jelas sangat mutlak dibutuhkan. Beberapa ulama pada masa lalu sampai harus berkorban kesana kemari hanya ingin memperoleh sanad dari beberapa ulama. Walisongo itu semuanya mempunyai sanad dalam berbagai ilmu, apalagi pencatatan dalam bidang ilmu nasab. Jadi kalau dikatakan walisongo tidak mempunyai keturunan itu aneh dan mengada-ada, padahal setiap keturunan Walisongo mempunyai catatan nasab dimasing-masing keluarga.

Coba anda bayangkan, Walisongo adalah orang-orang yang terdiri dari kaum terpelajar dan ilmuwan, apakah mungkin mereka tidak meninggalkan generasi-generasi yang menjaga ilmu pengetahuan termasuk pencatatan-pencatatan dalam bidang ilmu nasab. Apakah tidak aneh, generasi cerdas meninggalkan keturunan generasi bodoh? Apakah mungkin Walisongo yang keluarga dan leluhurnya sangat menjaga nasab, tidak mewariskan hal ini kepada anak cucunya? Tidak mungkin! Dan saya juga tidak mengada-ngada, buktinya..... kalau anda mau meneliti nasab-nasab ulama besar di Nusantara ini banyak dari mereka yang ternyata nasabnya bersambung dengan Walisongo dan Azmatkhan. Kyai-kyai yang mempunyai pondok pesantren besar, baik itu di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Banten, banyak nasabnya kembali kepada Azmatkhan atau Walisongo. Tokoh-tokoh ulama besar Nusantara dan juga tokoh-tokoh bangsa di negara kita ini hampir kesemuanya adalah Azmatkhan. Bahkan para pemimpin bangsa yang saat ini banyak yang memiliki keterkaitan nasab dengan Walisongo dan juga Azmatkhan. Kesultanan-kesultanan yang ada di Nusantara ini bahkan banyak yang dari keturunan Azmatkhan, seperti Kesultanan Demak, Banten, Cirebon, Ternate, Palembang, Deli, Wajo, Lampung, dll. Beberapa Sultan yang keturunan Azmatkhan bahkan mempunyai putra dan putri sampai 50 orang!!!.

Walisongo adalah terdiri dari ulama-ulama yang menjaga dengan rapi catatan-catatan nasab. Dan perlu diketahui bahwa jumlah keturunan Walisongo itu puluhan ribu. 9 Wali yang populer itu saja, masing-masing anak mereka keturunannya sudah ribuan dan itu tercatat dalam kitab Al Mausuuah LI Ansaabi Al-Imam Al-Husani. Satu Walisongo saja anaknya ada yang berjumlah 21 orang. Coba anda bayangkan satu walisongo ada anaknya yang berjumlah 21 orang, dan 1 dari 21 orang ini keturunannya ribuan, Belum lagi Walisongo lain yang anaknya juga ada yang berjumlah 15 orang, ada yang 11 orang, ada yang 26 orang, ada yang 17 orang, belum lagi Wali-wali yang tidak masuk jajaran Walisongo yang merupakan keturunan Azmatkhan.

Ketika saya mempelajari satu orang keturunan dari satu Walisongo saja, kadang saya terkejut, karena jumlah keturunan mereka itu cukup fantastis..dan itu jelas dari jalur nasab, artinya garis keturunan langsung. Ini baru satu contoh kecil saja, belum lagi keturunan-keturunan dari datuknya Walisongo misalnya ketika dimulai dari Sayyid Abdullah Amir Khan, Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin, Sayyid Husein Jamaludin Jumadhil Kubro, wah bisa pecah otak ini bila melihat runutan keturunan mereka yang menyebar keberbagai belahan dunia. Jadi kalau dibilang Walisongo tidak punya keturunan, itu sangat tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Kesimpulannya bagi orang yang sering mengatakan kalau Walisongo tidak punya keturunan, itu menandakan jika ia tidak pernah mempelajari sejarah walisongo dan menandakan jika dia itu tidak pernah meneliti nasab-nasab yang merupakan keturunan Walisongo. Padahal kalau mereka mau meneliti dan mau mempelajari nasab keturunan walisongo, saya jamin tidak akan pernah selesai mendata keturunan Walisongo karena begitu banyaknya keturunan mereka di bumi Nusantara ini.

Semoga fihak yang selama ini mendeskriditkan keluarga besar keturunan Walisongo dan Azmatkhan diberikan hidayah oleh Allah SWT...
Lebih baik kita doakan mereka agar dibuka hatinya.... Amin

Wallahu A’lam Bishhowab...

BENARKAH RASULULLAH SAW MANUSIA BIASA? (Jawaban untuk mereka yang sering mengatakan bahwa beliau sama dengan manusia yang lain)

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.........

Bismillahirrahmanirrahim.......

Alhamdulillah...Segala puja dan puji marilah senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT yang mana hingga detik ini kita masih diberikan oleh-Nya berbagai macam nikmat, baik itu nikmat Iman, nikmat Islam dan juga nikmat sehat wal afiat sehingga pada saat ini kita masih mampu beraktifitas didalam kehidupan  sehari-hari. Semoga dengan adanya nikmat-nikmat ini akan selalu membuat kehidupan kita menjadi berkah, amin... Sholawat dan salam marilah senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Kecintaan kita, Manusia Yang Agung, Penutup Para Nabi & Rasul, Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW beserta para keluarganya, para Sahabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman, dan semoga kita semua akan senantiasa mendapatkan syafaat dari beliau dihari kiamat nanti. Amin Ya Robbal Alamin......

Saudara-saudariku yang berbahagia yang berada dalam ruang lingkup dunia maya..

Rasanya tidak pernah habis-habisnya ketika berbicara tentang sejarah yang berkaitan dengan Rasulullah SAW, baik mulai dari beliau sampai kepada keturunannya. Untuk kesempatan kali ini izinkanlah kami menulis tema tentang keutamaan Rasulullah SAW. Kenapa kami menulis tema tentang beliau ini? Padahal sejarah tentang beliau sudah ribuan kitab yang menulisnya. Itu karena kecintaan kami kepada beliau yang tidak ada batas baik dari ruang dan waktu. Bagi Rasulullah SAW sumber ilmu pengetahuan yang tidak akan pernah habis-habisnya.

Untuk tema kali ini kami akan menuliskan tema yang kami anggap sangat penting, kami mengangkat tema ini karena berapa kali kami sering menemukan tulisan, perkataan atau ucapan dari beberapa orang yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah “manusia biasa”. Terus terang ketika mendengar ucapan atau tulisan yang menyebut bahwa Rasulullah SAW adalah “manusia biasa”, kami jadi bertanya-tanya, apanya yang biasa pada beliau?, padahal sudah jelas beliau adalah seorang Nabi Yang Agung diantara sekian banyak Nabi dan Rasul.

Kami  sendiri mengetahui jika ucapan itu muncul dari orang-orang tertentu yang tidak ingin umat Nabi Muhammad SAW ini mengkultuskan beliau secara berlebihan, baiklah kalau memang seperti itu kekhawatiran mereka, walaupun sebenarnya mereka yang sering memuji Rasulullah SAW rasanya tidak sampai ketaraf menyamakan Rasulullah SAW dengan Allah seperti sebagian  Kaum Nabi Isa yang telah menTUhankan dirinya. Kekhawatiran akan adanya kultus yang berlebihan mungkin masih bisa difahami,  namun kalau dikatakan Rasulullah SAW adalah manusia biasa, sudah tentu perkataan atau ucapan seperti ini perlu dikaji lebih dalam lagi, benarkah demikian adanya? Oleh karena itu untuk menjawab hal seperti ini kami akan mencoba menguraikan siapa sesungguhnya Rasulullah SAW ini? Benarkah beliau manusia biasa? Kalau kita sering menyebut Einstein dengan teori relativitasnya sebagai manusia luar biasa, Thomas A. Edison penemu lampu sebagai manusia genius luar biasa, Bill Gates penemu Microsoft sebagai manusia hebat, Mark Zuckerberg anak muda hebat yang menemukan Facebook, Larry Pages Penemu Google sebagai sosok jenius dan berjasa, Mike Lazaridi penemu Black Berry sebagai manusia cerdas,  atau Lionel Messi yang sering disebut manusia ajaib dalam sepak bola, atau ketika kita menyebut seorang ulama dan Kyai dengan sebutan Al Mukarom, atau ketika menyebut seorang yang Alim dan Arif dengan sebutan Al Allamah atau Al Arif Billah, atau ketika menyebut bapak RT, RW atau Lurah dengan sebutan “Yang Terhormat dan kami muliakan” atau dalam sambutan kepada seorang Presiden  kita menyebutnya dengan dengan kalimat “Paduka Yang Mulia” mengapa justru kepada Rasulullah SAW kita tidak menyebut lebih daripada mereka, padahal beliau adalah Nabi yang paling dicintai Allah SWT. Kalau ada yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak mau dipuji, kita harus melihat konteksnya, lagipula secara logika mana mungkin beliau menyuruh umatnya memuji-muji, sudah tentu kitalah yang harus memuji tanpa harus disuruh-suruh, itu etika yang benar. Oleh karena itu kami merasa miris adanya fenomena seperti ini...... Ada apa ini ?

Salah satu tanda-tanda kelebihan dan kemuliaan  seorang Nabi Muhammad SAW adalah namanya yang telah ada di berbagai kitab suci dari beberapa agama yang ada seperti Agama Persia (Zoroaster), Hindu, Budha dan juga Nasrani. Menurut Vidyarti & Uli (2006 : 4) dalam agama Zoroaster, pada Zend Avesta yaitu Kitab Suci “Nabi Zarthustra”  terdapat banyak sekali ramalan-ramalan yang sangat jelas tentang Al Qur’an, Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya. Jelas ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW jelas bukan manusia biasa, karena ramalan tentang beliau sudah ada diagama pada salah satu kerajaan besar dunia pada masa lalu ini. Tidak ada manusia biasa yang namanya sudah disebut-sebut sebelum dia lahir selain orang tersebut bukan manusia biasa. Vidyarti & Ulli (2006 : 27) juga menambahkan bahwa salah seorang Pendeta Besar dalam Agama Hindu yang bernama Maharisi Vasya dimana Pendeta ini adalah yang menyusun Kitab Veda mengatakan bahwa  Nama Nabi Muhammad SAW  dan para sahabat-sahabatnya jelas disebut dikitab tersebut, beliau dikatakan dari Arab, dia suci dari dosa, raja India akan menunjukkan rasa hormat yang mendalam pada dia, dia akan membinasakan kejahatan dan mengusir penyembah berhala, dia adalah kebanggaan umat manusia. Apakah penjelasan ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW manusia biasa?. Vidyarti & Ulli (2006 : 80 - 93) juga menambahkan, dalam agama Budha ada sosok yang paling ditunggu-tunggu yang disebut Budha Matreya,  beberapa kaum Brahmana bahwa Sang Budha Gautama adalah Avatar ke 9, bahkan Shancakaracharya yang merupakan pembaharu Budhisme dianggap sebagai Budha Matreya, ada juga yang menganggap kalau Budha Matreya adalah Yesus, namun menurut Vidyarti dan Ulli ini yang dimaksud dengan Budha Matreya adalah Rasulullah SAW berdasarkan dari penafsiran kata dari sumber  Pendeta-pendeta China, Tibet, Burma, Srilangka. Di Kitab Injil sendiri nama Nabi Muhammad sudah banyak dibahas oleh pakar-pakar Kristologi cerdas seperti Syekh Ahmad Deedat, Dr. Zakir Naik, Ustadz Yusuf Estes, dll. Jadi apanya yang biasa? adakah nama-nama kita ada pada kitab-kitab tersebut?

Salah satu manusia yang paling berat ujiannya di muka bumi adalah Rasulullah SAW. Dalam catatan  Hanafi Al Mahlawi (2002 : 197 – 214). Ujian pertama dari Rasulullah SAW adalah ketika beliau sudah menjadi Yatim dalam kandungan Ibundanya. Beliau adalah  orang yang pertama diuji dalam keyatiman namun beliau tetap bersabar. Ujian kedua  adalah ketika istri beliau Sayyidah Khadijah Al Kubro wafat, padahal Sayyidah Khadijah dalam kondisi susah dan senang setia menemani Rasulullah SAW, sedangkan saat itu tekanan quraish sangat kuat. Ujian ketiga adalah dengan wafatnya putra-putra beliau sehingga akhirnya beliau dianggap putus keturunan karena tidak punya anak laki-laki, padahal dalam tradisi bangsa arab saat itu, jika tidak punya anak laki-laki dianggap tidak terhormat, namun semuanya dihadapi dengan tegar dan tabah, apakah ini menunjukkan beliau manusia biasa? adakah yang sanggup menahan beban ujian seperti itu ditengah masyarakat Jahiliah yang ada? jelas beliau bukan manusia biasa!

Pada tulisan Abu Hafash Al Anshary (2001) ada beberapa hal yang dikhususkan pada diri Rasulullah SAW, baik itu kewajiban, larangan, keringanan atau keutamaan.

Dalam hal kewajiban, Allah mengetahui bahwa Rasulullah SAW adalah orang paling SEMPURNA dalam melaksanakan kewajiban apapun dan beliau adalah orang yang paling bersabar daripada yang lain.

Dalam hal Larangan dan pengharaman, Rasulullah SAW juga diharamkan menerima zakat, Rasulullah SAW tidak makam bawang putih, bawang merah, bawang bakung serta makanan-makanan yang memiliki aroma tidak sedap diantara sayur-sayuran, beliau juga tidak makan sambil bersandar, Nabi diharamkan membuat syair dan tidak menulis. Larangan lain adalah Haram bagi Rasulullah SAW mencopot baju perang sebelum berjumpa dan berperang dengan musuh, haram hukumnya  bagi Nabi menunjukkan  pandangan kepada kenikmatan hidup yang diberikan kepada orang lain, haram Nabi melakukan Khainatul A’yun (tindakan pengkhianatan, atau menyembunyikan sesuatu yang berbeda dengan yang nampak. Dalam hal pengharaman, Rasulullah SAW diharamkan mEmpertahankan wanita yang tidak suka dinikahinya serta benci kepadanya, menikahi wanita ahli kitab.

Dalam hal mubah Rasulullah SAW, beliau diperbolehkan puasa wishal, beliau punya hak untuk memilih harta rampasan perang yang akan diambilnya sebelum dibagikan,  Rasulullah SAW memiliki wewenang  yang luas terhadap seperlima bagian Fay’ dan ghanimah dan empat perlima fay’ secara sendirian,  diperbolehkan memasuki kota Makkah tanpa mengenakan Kain Ihram, melakukan pembunuhan di dalam wilayah tanah Haram, harta beliau tidak diwariskan,  diperkenankan kepada Nabi memutuskan hukum berdasarkan ilmunya,  boleh memutuskan hukum untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya, boleh menerima kesaksian orang yang bersaksi untuk dirinya, boleh melakukan pembelaan atas dirinya, diperkenankan kepada beluau untuk mengambil makanan dan minuman dari pemilik yang membutuhkannya bila beliau juga membutuhkannya,  diharuskan kepada umatnya untuk mencintainya dengan setinggi tinggi tingkat kecintaan, Rasulullah Saw tidak batal wudhu walaupun tidur, diperbolehkan masuk mesjid dalam keadaan junub, dibolehkan kepada Rasulullah SAW mengutuk apapun tanpa sebab yang membuatnya melakukan itu, karena kutukan beliau merupakan rahmat, dibolehkan bagi beliau membunuh setelah mengeluarkan jaminan keamanan.

Dalam hal pernikahan, Rasulullah SAW boleh menikahi dari empat orang istri, Rasulullah SAW mempunyai hak untuk menikahkan seorang wanita dengan seorang yang disukainya tanpa perlu ada izin dari wanita itu dan izin dari walinya juga memiliki hak untuk menikahkan wanita itu dengan diri beliau sendiri, beliau juga punya hak mengambil alih urusan kedua belah fihak tanpa perlu ada izin wanita dan serta izin walinya,  wanita yang dinikahkan Allah dengan Rasulullah SAW menjadi halal bagi beliau, dihalalkan bagi Rasulullah SAW menikahi wanita yang sedang menjalani masa iddah karena diceraikan suaminya, tidak halal bagi beliau menikahi dua wanita bersaudara, tidak halal mengawini ibu dan anak perempuannya.

Dalam hal keutamaan, seluruh istri Rasulullah SAW yang ditinggal wafat, menjadi muhrim bagi orang lain untuk selamanya, istri-istri Rasulullah SAW merupakan ibu bagi orang beriman, semua istri-istri  beliau lebih utama dari seluruh wanita, dan masih banyak keutamaan lainnya.

Apakah 4 hal diatas tersebut menunjukkan bahwa beliau manusia biasa?

Untuk menunjukkan bahwa beliau bukan manusia biasa Syekh Yusuf An-Nabhani yang telah dialih bahasakan oleh  HMH Al Hamid Al Husaini (2006) bahwa Rasululah SAW mempunyai banyak Mu’jizat, Barokat serta peristiwa Ghaib yang menandai Kenabian beliau. Dalam catatan Syekh Yusuf An-Nabhani Rasulullah SAW mempunyai 139 Mu’jizat dan Barokat yang berlangsung cukup lama dan salah satunya yang paling abadi adalah Al Qur’an. Beliau Syekh Yusuf juga mencatat keutamaan Rasulullah SAW yang diantaranya :
  1. Allah menciptakan Ruh beliau sebelum Nabi Adam AS
  2. Allah menjadikan Nabi sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW
  3. Nabi Musa jika dia hidup dimasa Nabi Muhammad SAW maka beliau jadi pengikut Rasulullah SAW
  4. Allah mendahulukan menyebut nama beliau sebelum nama Nabi yang lain.
  5. Allah menyebut nama Nabi dengan cukup dengan namanya, sedangkan Rasulullah SAW tidak disebut namanya tapi disebut dengan panggilan seperti “Wahai Nabi”, “Wahai Rasul”
  6. Allah memberitahu bahwa umat-umat terdahulu, bila berdialog dengan Nabinya, masing-masing menyebut Nabinya dengan panggilan namanya saja, sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah dengan sebutan Rasulullah SAW
  7. Beliau adalah Habibullah (orang yang dicintai Allah)
  8. Gua yang sempit menjadi melunak ketika Rasulullah SAW memasukinya.
  9. Rasulullah SAW diberikan kunci untuk memperoleh harta dunia, tapi beliau tidak mengambilnya
  10. Sebelum lahir, Rasulullah SAW berada ditiang Sulbi Nabi Adam As, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim As dan turun kepada rahim-rahim, pernikahan dan keturunan yang suci.
  11. Kedatangan Nabi Muhammad sudah banyak diketahui melalui berita-berita gaib
  12. Tidak pernah melakukan penyembahan berhala sebelum masa Kenabian.
  13. Tidak pernah mengikuti acara musyrik apapun sebelum Kenabian
  14. Sebelum masa Kenabian, beliau mengikuti apa yang dipandang benar dari ajaran Nabi Ibrahim AS
  15. Dan masih banyak lagi keutamaan Manusia Yang Agung ini
Satu saja kami tanya kepada mereka yang mengatakan Rasulullah SAW manusia biasa, bisakah mereka meniru point satu sampai 15 tersebut ? jelas bahwa fakta tersebut telah menunjukkan jika beliau bukan manusia biasa. Jadi apa yang menunjukkan kalau beliau itu manusia biasa?

Dengan adanya penjelasan diatas seperti ini sudah tentu beliau bukan “Manusia Biasa”, masak iya kita dengan mudah dan gampangnya mengatakan bahwa  beliau  adalah manusia biasa? Ini bukan pengkultusan, tapi ini adalah rasa cinta kami kepada beliau, rasanya sangat tidak pantas jika beliau disebut manusia biasa, apalagi beliau seorang Nabi dan Rasul. Apakah  pantas beliau yang merupakan panutan umat manusia  disamakan dengan manusia yang lain ?. Kita tidak perlu khawatir jika banyak umat memuji beliau, mereka para umat beliau bukanlah seperti perilaku para Fans  Artis yang histeris dan menangis "haru" sambil "mencakar-cakar" atau bertingkah tidak jelas ketika melihat idolanya datang, mereka yang sering memuji Rasulullah SAW adalah umat yang sangat mencintai beliau,  kami berani menjamin bahwa mereka yang memuji muji Rasulullah SAW tidak akan pernah mencapai taraf menyamakan Rasulullah SAW dengan Allah sebagaimana Nabi Isa AS disandingkan dengan Allah SWT. Kebanyakan mereka memuji karena rasa cintanya kepada Nabi Yang Agung ini. Para ulama dahulu begitu cintanya kepada Rasulullah SAW yang keluar adalah tangisan, saking begitu rindunya kepada Rasulullah SAW. Dan kami berani katakan, bahwa diantara sekian ulama-ulama yang pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW tidak akan sanggup menguraikan atau menceritakan mimpinya itu secara gamblang, karena mereka  sudah duluan menangis karena rasa cinta dan tidak kuatnya menghadapi keagungan dan cahaya dari Rasulullah SAW.  Jadi sebenarnya apanya yang biasa pada diri Rasulullah SAW, suda  jelas beliau adalah Manusia Luar Biasa Yang Tidak Ada Duanya  Di Muka Bumi Ini........kenapa justru dikatakan manusia biasa? Oleh karena itu bagi kita semua, pertanyaannya sekarang adalah :

MASIH MAUKAH KITA MENYEBUT BELIAU SEBAGAI MANUSIA BIASA? PANTASKAH KITA BERSIKAP SEPERTI ITU SEBAGAI UMATNYA?


Wallahu A’lam Bisshowab...

SUMBER :

Al Anshary, Abu Hafash, Kekhususan Rasulullah SAW, Jakarta : Pustaka Azzam, 2001.
An-Nabhani, Syekh Yusuf (Alih Bahasa HMH Al Hamid Al Husaini),  Peristiwa Ghaib, barakat, Mujizat KeNabian Muhammad SAW, Bandung:  Pustaka Hidayah, 2006.
Al Mahlawi, Hanadi, Bercermin Pada Ujian Para Nabi dan Rasul, Jakarta; Penerbit Mustaqim, 2002, hlm 197 – 214.
Uli, A.H Vidyarthi, U, Nabi Muhammad SAW Diakui Kitab Suci Persia, Hindu, Budha,  Bandung, Penerbit Amanah Publishing House, 2006.

MELURUSKAN TUDUHAN TERHADAP FATTAHILLAH & KESULTANAN DEMAK (JAWABAN UNTUK DRS RIDWAN SAIDI YANG TELAH MENGHINA ULAMA WALISONGO)

Tulisan ini sebenarnya pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu, namun karena pagi ini saya menyaksikan langsung SEBUAH PELECEHAN KEPADA ULAMA  pada sebuah seminar nasional yang berjudul MENELUSURI INDIKASI  PENGABURAN SEJARAH ISLAM NUSANTARA yang diadakan oleh  Mahasiswa UIN dan sebuah Yayasan, dan memang ternyata dia telah banyak mengeluarkan pernyataan yang menyudutkan, pernyataan  dari  seorang yang katanya "ahli sejarah", oleh karena itu dimalam ini saya akan mensharing lagi tulisan mengenai Klarifikasi terhadap tuduhan kepada Fattahillah dan juga keluarga Kesultanan Demak. Terus terang sejak awal saya sudah was-was, pasti "ahli sejarah" ini akan membantai habis sosok Fattahillah dan ternyata dugaan kami benar, secara keji ia menghina Fattahillah, padahal Fattahillah adalah seorang Ulama Besar, Waliyullah dan tokoh yang dihormati di Demak, Lampung, Cirebon, Lampung, Palembang, Aceh dan khususnya Jakarta. Keturunan beliau juga banyak bertebaran di Nusantara. Terus terang, Tadi pagi kami juga sempat mempermasalahkan pernyataan beliau secara langsung, namun mungkin karena  memang wataknya begitu, sehingga seolah-olah dia   menganggap dirinya "selalu benar",  maka kamipun seperti menghadapi tembok tebal, tidak ada celah untuk diskusi secara ilmiah, yang ada hanyalah debat kusir, oleh karenanya kami lebih memilih mengalah dengan meninggalkan beliau. Yang kami catat adalah bahwa apa yang beliau yakini tersebut, ternyata sumber datanya masih banyak yang kontroversi bahkan merupakan milik penjajah kolonial, pada saat seminar tadi pagi beliau mengatakan agar kita jangan terlalu berkiblat pada tulisan-tulisan kolonial, namun kenapa untuk kasus Fattahillah , Demak dan juga Walisongo dia telah bersikap tidak adil, dia pakai sumber asing hanya untuk menjatuhkan Fattahillah, kesultanan Demak dan juga Walisongo. Dia Menyebut Syekh Junaid AL Batawi asli Jakarta, padahal Syekh Junaid Al Batawi adalah keturunan asli Raden Fattah dari Kesultanan Demak, dia menyebut guru mansur, padahal guru mansur adalah keturunan Aria Jipang Jayakarta yang merupakan cucu Raden Fattah. Fattahillah, Raden Fattah dan Walisongo adalah keluarga besar. Walisongo memang berasal dari India, namun mereka telah berhasil melakukan akulturasi dengan budaya setempat, sehingga jasanya hingga kini masih bisa kita rasakan. Kalau "ahli sejarah" ini menyebut nama GUJARAT dengan nada melecehkan, itu sama saja dia seolah-olah melecehkan Walisongo, karena walisongo selama ini secara awam selalu dinisbatkan dengan daerah gujarat, padahal sebenarnya faktanya Teori Gujarat berasal dari SNOUCK HORGRONYE dan PIJNAPEL, sehingga secara tidak langsung dia telah percaya teori dari ilmuwan penjajah kafir ini. 

Saya tidak habis fikir dengan pola fikir seperti tokoh "ahli sejarah" ini, Jelas Jayakarta atau Jakarta atau Betawi berdiri atas jasa para ulama diantaranya Keluarga Besar Kesultanan Demak dibawah pimpinan Fattahilah dan Majelis Dakwah Walisongo dan itu tercatat jelas didalam kitab Al Fatawi yang disusun oleh para keturunan Asli Jayakarta, kenapa justru dia malah lebih percaya tulisan penjajah kafir ketimbang tulisan bangsanya sendiri? Yang dihadapi Fattahillah adalah Portugis yang jelas-jelas akan menjajah bangsa ini, kenapa dia malah menuduh Fattahillah dan Demak sebagai musuh orang Betawi? Ah...bacalah sebanyak-banyak sumber yang ada, bacalah sumber asli tulisan putra asli Jayakarta, jangan menyatakan diri sebagai "kebenaran mutlak" ingat kebenaran mutlak hanya milik Allah.....Ingatlah bahwa yang anda lecehkan itu adalah ulama, waliyullah dan tokoh yang berjasa dalam mengusir Penjajah yang sangat terkenal kekejamannya......

INILAH TULISAN KAMI YANG TERDAHULU...

Beberapa tahun ini saya melihat ada seorang budayawan Betawi yang cukup senior yang dalam beberapa tulisannya sering mempermasalahkan kredibilitas moral seorang Fattahillah yang dianggapnya sebagai penjahat perang ditahun 1527 Masehi saat Pelabuhan Sunda Kelapa berhasil direbut oleh Aliansi Kekuatan Demak, Cirebon, Banten dan para Mujahid mujahid Islam dari beberapa Kesultanan di Nuswantara. Biasanya tema tentang Fattahillah akan terangkat menjelang ulang tahun Jakarta pada setiap tanggal 22 Juni. Secara kritis bahkan mungkin kalau boleh saya katakan secara total ia telah mengupas tentang jati diri seorang Fattahillah dari kaca mata yang dia punya. Bagi beliau Fattahillah adalah "musuh besar" bagi orang Betawi.

Tidak tanggung-tanggung dalam beberapa tulisan yang ia buat, dengan nada sinis ia katakan bahwa Fattahillah lebih merupakan seorang pembunuh ketimbang seorang pahlawan, Fattahillah saat itu dikatakan sebagai biang keladi terbunuhnya orang-orang Betawi di Sunda Kelapa. Bahkan ada sebuah majalah di Jawa Timur yang terpengaruh pernyataannya dengan menulis bahwa “TANGGAL 22 JUNI ADALAH HARI PEMBANTAIAN BETAWI”. Bahkan dia juga pernah mencap bahwa FATTAHILLAH adalah “SOLDIER FORTUNE” dan julukan “SI PEMBAWA AMARAH”. Pernyataan kontroversialnya ini sering ia sosialisasikan kepada sebagian masyarakat Betawi. Anehnya sampai saat ini jarang saya dapati beberapa tulisan yang membantah pernyataan budayawan “nyentrik” ini.

Bagi saya sendiri ketika ada sebuah pernyataan sejarah yang kontroversial itu sah sah saja selama itu dilandasi dengan kajian-kajian yang bisa ditepertanggungjawabkan, terutama pertanggungjawaban keilmiahan data yang dimiliki serta keberadaan asal usul rujukan yang dia pegang. Bagi saya sangatlah penting dalam menilai sebuah kebenaran sejarah berdasarkan asal usul dari sebuah tulisan tersebut, baik itu dari sisi penulisnya, siapa saja yang punya kepentingan terhadap tulisan itu, apakah tulisan itu untuk kepentingan ilmu pengetahuan atau politik, apakah tulisan itu berdasarkan pandangan langsung atau melalui orang yang kesekian, serta tidak lupa faktor moralitas dan kejujuran intelektual juga wajib dijunjung tinggi.

Adanya tuduhan sejarah hitam pada Fattahillah menurut saya perlu kembali dikaji ulang, karena ini menyangkut seorang tokoh yang mendirikan kota yang menjadi Barometer bangsa ini. Tanpa ada peran beliau, Jayakarta atau Jakarta mungkin tidak seperti yang sekarang ini. Terus terang saat saya mendengar Fattahillah dituduh secara keji seperti itu, saya langsung kaget dan sempat tidak percaya, apakah ucapan itu benar benar keluar dari mulut seorang budayawan yang selama ini saya hormati? Untuk itu maka akhirnya saya berusaha mencari berbagai fakta dan data mengenai adanya tuduhan tersebut dan akhirnya memang saya ketahui bahwa tuduhan bahwa Fattahillah adalah seorang pembunuh benar adanya. Namun demikian sebagai orang yang menjunjung adanya perbedaan, maka sayapun berusaha mencari latar belakang kenapa budayawan yang sering dipanggil ENGKONG ini bisa berucap seperti itu.Sayapu berusaha mencari sumber sumber apa saja yang dijadikan rujukan oleh engkong ini sehingga secara sefihak berani mengatakan bahwa Fattahillah adalah pembunuh orang Betawi. Dari penelusuran saya ternyata ada beberapa rujukan yang dipakai engkong kita yang menurut saya perlu dipertanyakan obyektifitas dan validitasnya. Diantara referensi yang beliau pakai ini diantaranya adalah :

1. BABAD TANAH JAWI (terutama pada bukunya yang berjudul Babad Tanah Betawi). Bagi anda yang kritis dalam bidang sejarah saya jamin anda banyak mendapatkan fakta dan data-data yang aneh didalam buku yang satu ini, sudah terlalu banyak keanehan-keanehan isi dari Babad Tanah Jawi, kebanyakan lebih banyak bersifat mitos dan pembunuhan karakter terhadap Walisongo. Buku ini terlalu subyektif, spekulatif dan tidak analitik. Dalam bidang ilmu sejarah diperguruan tinggi buku jarang jadi rujukan.

2. NASKAH WANGSAKERTA yang disangkutkan kepada Pangeran Wangsakerta yang berkuasa di Cirebon dipertengahan abad ke 17. Sampai saat ini naskah Wangsakerta masih menjadi kontroversial yang sengit dalam bidang sejarah. Nina L Lubis yang merupakan pakar ilmu sejarah di Universitas Pajajaran dengan keras menolak naskah ini yang beliau anggap palsu, apalagi setelah diadakan pengecekan usia kertas naskah, ternyata naskah tersebut baru sekitar 100 tahun saja, apalagi naskah ini belum ada perbandingannya, pernyataannya Nina L Lubis ini juga bahkan diamini beberapa guru besar lainnya.

3. OUD BATAVIA yang ditulis oleh F.DE HANN. Pertanyaan kepada De Hann, apakah sampel yang dia pakai itu daerah Betawi atau Jawa Barat? Dan jangan lupa dia adalah sejarawan kolonial Belanda, tentu sudut pandangnya adalah eropa sentris yang memang saat itu sering memandang rendah kaum pribumi, apakah De Hann sudah “menguliti” habis habisan wilayah Jayakarta ? atau memang sampelnya di Jawa Barat?

4. TULISAN DE QUOTO. Dia ini adalah penulis kronik sejarah Portugis. Dalam beberapa tulisan De Quoto adalah sejarawan yang sering melecehkan dan menghina Fattahillah.

5. TULISAN D.J. BAROS. Sama seperti De Quoto dia sering menulis sosok Fattahillah dengan tulisan-tulisan yang sinis.

6. SUMA ORIENTAL oleh TOMI PIRES. Dalam pendataan sejarah orang ini patut dipertanyakan validitas datanya, karena tulisan yang dia buat kebanyakan berdasarkan apa yang dia dengar saja, dia tidak pernah bertemu dan juga dari sisi waktu juga sudah berlainan.

Dari beberapa sumber yang saya dapati, tulisan De Quoto dan D.J Baros yang paling memberikan pengaruh kepada engkong kita terhadap tuduhan kepada Fattahilah, padahal Diogo De Quoto itu lahir tahun 1542 M dan wafat tahun 1616 M. Jadi ada jarak 15 tahun dari masa Fattahillah, itupun jika dihitung dari tahun lahir, jadi pada umur berapa dia mulai menulis, kok bisa dia menulis kronologis sejarah secara “rapi” tentang Fattahillah?. Tulisan De Quoto ini bisa didapati di buku DE ASIA, dan asal anda tahun buku itu baru terbit tahun 1645!. Dua orang ini DIOGO DE QUOTO & JOAO DE BAROS adalah penulis sejarah Portugis yang sering menulis Fattahilah dengan kata-kata seperti “PENGKHIANAT”, “ORANG RENDAHAN DARI PASAI”.

Sepertinya kedua sejarawan portugis ini sangat menbenci sekali sosok Fattahillah yang telah berhasil mengusir bangsanya dari pelabuhan Sunda Kelapa. Tulisan mereka mengenai peristiwa tahun 1527 hanya secuil, sedangkan yang lain sangat detail, mungkin mereka malu menceritakan di sejarah mereka kalau bangsanya ternyata bisa dikalahkan oleh pasukannya Fattahillah, padahal saat itu mereka  mempunyai kekuatan militer terbaik didunia. Mereka mungkin malu karena saat itu Portugis sedang mengalami masa kejayaan dalam bidang militer dan juga kelautan namun bisa dikalahkan oleh Fattahillah berkat kejeniusannya dalam melakukan peperangan tersebut. Fattahillah mungkin telah belajar banyak atas kekalahan Pasai dan Malaka, jadi untuk di Sunda Kelapa sepertinya Fattahillah tidak mau kecolongan.

Jadi kesimpulannya menurut saya pernyataan engkong kita itu patut ditinjau ulang kembali validitasnya. Fattahillah adalah seorang Jenderal, Panglima Perang plus juga merupakan ulama, beliau adalah tokoh yang multi talent. Ayahnya adalah Mufti Kesultanan Pasai di Aceh yang bernama Maulana Mahdar Ibrahim, ia juga masih terhitung cucu samping dari Maulana Malik Ibrahim (walisongo senior). Ibunya juga merupakan keluarga Walisongo karena merupakan adik dari Sunan Giri. Silsilah Keluarga Besar Fattahillah berasal dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan Al Husaini yang merupakan leluhurnya Walisongo. Jadi keberadaan seorang Fattahilah ini sangat jelas dan terang benderang. Fattahillah adalah produk pendidikan asli keluarga besar Walisongo yang berazaskan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah. Islam yang dianut Fattahillah adalah Islam yang damai, santun dan toleran, jadi bagaimana mungkin ia dituduh sebagai pembunuh?. Fattahillah adalah merupakan bagian penting dari keluarga besar Walisongo yang dakwahnya selalu mengedepankan Akhlak dan budi pekerti. Dalam sejarah hidupnya, beliau tidak pernah melakukan pembunuhan karena beliau juga seorang ulama, tuduhan bahwa beliau seorang pembunuh jelas sangat menyakiti para keturunannya yang kini banyak bertebaran di beberapa daerah termasuk Jakarta. Perlu juga diketahui bahwa keturunan keturunan Fattahillah itu banyak yang jadi ulama dan juga pejuang dalam membela kehormatan bangsa dari penjajahan, dan ini tercatat dibeberapa catatan keturunan beliau dan juga catatan catatan para ulama keturunan Walisongo. Fattahillah jelas bukan pembunuh, dia adalah bunga bangsa bagi negara ini dan orang yang sangat berjasa dalam mendirikan kota Jakarta, dia bukan pembunuh...semoga mereka yang menuduh beliau sebagai pembunuh orang betawi diberikan cahaya kebenaran dari ALLAH SWT.......Amin.....

Wallahu A’lam Bisshowab...

Sumber :

Kitab Wangsa Aria Jipang di Jayakarta (Alih dari Kitab Al Fatawi, As-Sayyid Ratu Bagus D Gunawan Mertakusuma, Penerbit Agapress, Jakarta 1986.
Ensiklopedia Nasab Al Husaini, Al Allamah As-Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh, Penerbit Majelis Dakwah Walisongo, Volume 24, Edisi tahun 2014.
Diagram Keluarga Besar Walisongo, Iwan Mahmud Al Fattah & As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan , Penerbit Majelis Dakwah Walisongo Jakarta, 2014.
Fattahillah Sang Mujahid Agung Pendiri Kota Jakarta, Iwan Mahmud Al Fattah & As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Penerbit Majelis Dakwah Walisongo Jakarta, 2014.

MURID-MURID HOS TJOKROAMINOTO (ULAMA BESAR, BAPAK BANGSA, FIGUR MULTI TALENT) YANG “BERSINAR”

Salah satu tokoh besar Bangsa Indonesia yang sampai saat ini menurut kami jarang ada “tandingannya” adalah HOS Tjokroaminoto. Berbicara tentang HOS Tjokroaminoto seolah kita sedang bicara tentang “Pabrik” penghasil para pemimpin bangsa. Dari didikannya telah banyak lahir para tokoh-tokoh pemimpin dengan berbagai aliran pemikiran, dari yang mulai nasionalis, komunis, sosialis, religius, dan cabang pemikiran lain baik itu pemikiran “kiri” ataupun “kanan” seperti yang kami ungkapkan tadi. Disamping dalam bidang pemikiran, HOS COKROAMINOTO ini juga menularkan ilmunya dalam bidang sejarah dan juga beliau juga telah menanamkan ajaran-ajaran “perlawanan” yang kemudian hari ajaran tersebut mampu menciptakan manusia tangguh.

Salah satu kata mutiara yang terkenal dari HOS  adalah : Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Ini menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan.

Beberapa muridnya yang selama ini kita kenal dalam penulisan sejarah misalnya :

Soekarno : Beliau adalah salah satu murid yang paling disayang HOS. Selama menjadi “santri” HOS, Soekarno paling sering “ngintil” kemanapun HOS pergi. Soekarno bahkan orang yang sangat “santri” dihadapan Tjokroaminoto, selama Tjokroaminoto mengajar atau bertemu dengan koleganya diberbagai tempat, Soekarno selalu duduk didepan kaki HOS, karena rasa hormatnya kepada HOS. Soekarno sendiri sangat fanatik pada sosok HOS ini, Dalam pidatonya tanggal 1 Maret 1966 pada acara pembukaan Kongres Gerakan Wanita Partai Syarikat Islam Indonesia (Gerwapsi) di Istora Senayan, Soekarno sempat mengatakan : I try to live up, I try to live up to the teaching of Tjokroaminoto”  yang dalam penjelasanya adalah :  “saya mencoba, mengikuti, bukan saja Tjokroaminoto, tetapi segala ajaran Tjokroaminoto, aku coba, aku ikhtiarkan, aku usahakan, aku laksanakan, oleh karena aku kagum kepada guruku yang bernama Haji Oemar Said Tjokroaminoto[1]. Di akhir hidupnya Soekarno yang nasionalis ini mengalami kisah yang cukup tragis, beliau “dikurung” oleh sebuah rezim yang tidak menginginkan nama besarnya muncul pada masa itu. Disamping sebagai seorang Presiden Soekarno juga dikenal banyak menghasilkan banyak tulisan, seperti buku Di Bawah Bendera Revolusi, beliau juga banyak menerima gelar Doktor Honoris Causa. 

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo :  Beliau salah satu “santri” yang juga cukup dekat, menurut Suwelo Hadiwijoyo[2] pada waktu dirumah HOS, Kartosuwiryo mempelajari banyak ilmu agama, Kartosuwiryo bahkan pernah menjadi sekretaris pribadi HOS. HOS sendiri pada waktu itu terkenal sebagai  figur yang memiliki pengetahuan ilmu agama yang sangat luas. Pada waktu itu Kartosuwiryo sempat menjadi sosok pemuda yang Islam minded, yaitu sosok pemuda yang hanya berfikir dan bersikap menggunakan sudut pandang Islam. Ditangan HOS Kartowiryo menjadi seorang kader Syarikat Islam yang tangguh dan selalu diandalkan. Di kemudian karto menjadi seorang “pemberontak” terhadap pemerintahan Orde Lama yang dipimpin oleh “saudaranya” sendiri. Hidup beliau berakhir tragis setelah dieksekusi oleh Militer. Sampai sekarang kami sendiri masih tidak yakin jika Bung Karnolah memberikan “perintah” tembak mati untuk Kartosuwiryo ini, mengingat kedekatan hubungan mereka pada masa sama-sama menjadi santri HOS. Secara politik memang idiologi mereka berbeda, namun secara hubungan pribadi tetap saja hubungan mereka baik itu karena pembinaan kader yang telah berhasil ditanamkan HOS kepada mereka. 

Semaun, Musso, Alimin :  tadinya mereka adalah murid-murid HOS yang cukup dekat, namun kemudian setelah beberapa tahun justru mereka telah mengadakan “perlawanan” terhadap gurunya tersebut. Jika Semaun lebih banyak berkecimpung di luar negeri terutama di Uni Soviet pasca pemberontakan PKI ditahun 1926/1927, maka Musso dan Alimin masih lebih banyak melakukan melakukan kegiatan di negeri sendiri. Semaun, Alimin dan Moesso tentu saja juga merupakan “murid” dari HOS Tjokrominoto karena sewaktu di Surabaya mereka pernah mondok di rumah HOS Tjokroaminoto dan belajar banyak darinya. Mereka bertiga Semaun, Musso, Alimin walaupun pernah menjadi “santri” ternyata dikemudian hari telah mengadakan “perlawanan” terhadap gurunya sendiri karena merasa gurunya sudah tidak bisa memahami kondisi perjuangan pada masa itu sesuai dengan pemahaman mereka. Bahkan menurut Safrizal Rambe[3] Peran mereka paling besar dalam konflik antara PKI dengan SI pimpinan Tjokroaminoto adalah dalam pergolakan masyarakat Banten. Mereka berhasil memprovokasi masyarakat Banten dan terutama SI Banten untuk mengganti kedudukan Tjokroaminoto pada tahun 1923. Hal ini dianggap sebagai dampak dari ketidakmampuan SI dalam mengakomodir tantangan radikalisme masyarakat Banten pada waktu itu. Radikalisme masyarakat Banten yang berujung pada pemberontakan itu dengan lihai berhasil ditunggangi oleh PKI. Selain itu, Alimin dan Moesso juga pernah mengusulkan untuk mengubah nama SI menjadi Sarekat Hindia. Namun hebatnya HOS menghadapi mereka sangat tenang dan tidak reaksioner, dengan penuh hati-hati HOS mungkin karena merasa, bahwa betapapun sikap mereka pada dirinya, HOS masih tidak lupa bahwa mereka itu adalah murid-muridnya juga yang mungkin dianggapnya “nakal” dalam hal pemikiran dan Perjuangan. Setelah pasca pemberontakan 1926/1927 Alimin Musso melarikan ke Singapura, Musso yang sempat menetap di Moscow datang lagi ditahun 1948 dan kembali mengadakan gerakannya, namun berhasil ditumpas. 

KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma : Hal yang sangat mengejutkan kami adalah, ternyata diantara sekian banyak muridnya, ada satu murid beliau yang kelak nanti mampu menggelorakan semangat perlawanan di Jayakarta atau Jakarta atau Betawi. Siapakah muridnya itu? Tidak lain dan tidak bukan beliau adalah KH RATU BAGUS AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA (penyusun kitab Sejarah dan Silsilah Jayakarta). HOS  sendiri yang kami ketahui banyak melakukan berbagai perjalanan keberbagai daerah di Nusantara dan juga luar negeri,  perjalanan itu ada yang tertulis adapula yang tidak tertulis, namun beberapa informasi itu disimpan oleh beberapa muridnya. Kami sendiri sempat kaget ketika membaca kembali biografi KH RATU BAGUS AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA ini, karena jelas-jelas dalam biografi yang ditulis oleh satu cucunya yang bernama Babe Gunawan Mertakusuma juga merupakan ahli sejarah Jayakarta/Jakarta, bahwa salah satu guru dari KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i adalah HOS Tjokroaminoto. Jelas ini menjawab berbagai pertanyaan kami  selama ini, siapa sajakah dibalik perlawanan KH RATU BAGUS AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA inI, ternyata dia adalah HOS Tjokroaminoto[4]. KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma adalah sosok yang misterius dalam sejarah Jayakarta (atau sengaja dimisteriuskan fihak penjajah dan antek-anteknya ?). KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma adalah Pelopor Gerakan Pituang Pitulung/Pitung (Gerakan 7 Pendekar Penolong Rakyat), bersama 7 Pendekar Pitung beliau bersama-sama menggelorakan perlawanan terhadap penjajah Belanda, KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i juga merupakantokoh kunci “pemberontakan” Ki Dalang Tahun 1924 di Tangerang (lengkap tercatat di Kitab Al Fatawi), beliau juga merupakan penasehat MH Thamrin, beliau juga salah satu buruan penjajah paling dicari sejak tahun 1924 sampai pada masa pasca kemerdekaan, beliau juga salah satu tokoh yang paling pedas mengkritik sumpah pemuda 1928 di negeri Betawi (tercatat dalam sejarah yang ditulis cucunya), beliau juga penulis sejarah dan silsilah yang produktif, beliau memang seorang yang rajin menulis dan seorang kutu buku. Tentu Strategi perlawanan yang dilakukan KH Ahmad Syar’i Mertakusuma karena adanya ajaran HOS, dan tentu KH Ahmad Syar’i Mertakusuma belajar langsung kepada HOS dengan mendatangi beliau, apalagi KH Ahmad Syar’i ini adalah seorang “pengembara” yang hidupnya selalu berpindah-pindah karena selalu dicari-cari belanda. Beliau adalah sosok yang paling membenci pribumi yang telah bekerjasama dengan penjajah. KH Ahmad Syar’i Mertakusuma akhirnya wafat di tahun 1959 di Palembang Sumatra Selatan dan dimakamkan di Puncak Sekuning. Beliau wafat posisi “kesendirian” dalam kondisi memegang teguh prinsip perjuangan. Sekalipun hidupnya selalu “diintip” penjajah namun nilai-nilai perjuangan terus beliau tanam kepada semua anak cucunya.

Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq Azmatkhan [5] : Yang juga tidak kalah mengejutkan, Sayyid Bahruddin yang dikenal sebagai ulama ahli nasab keturunan Walisongo yang lahir tahun 1899 Masehi dan berasal dari Banyuwangi Jawa Timur  juga merupakan satu dari sekian banyak murid dari HOS yang cukup “bersinar” namun tidak terlalu dikenal dalam “sejarah formal”. Beliau memang sengaja dipersiapkan HOS untuk tidak banyak bicara namun tugas beliau adalah menyimpan dan menulis berbagai macam data pemikiran HOS. Beliau bahkan banyak mencatat ajaran dan beberapa pemikiran dari HOS, bahkan Sayyid Bahruddin banyak memegang Sanad keilmuan yang dimiliki oleh HOS ini. HOS Tjokroaminoto memang selama ini lebih banyak dikenal sebagai politikus ulung, padahal sebenarnya beliau ini adalah juga seorang ulama yang multi dimensi, ini terbukti ketika Kartosuwiryo datang, beliau khusus belajar ilmu agama kepada HOS. HOS pada masa itu memang dikenal banyak memiliki kemampuan agama yang cukup luas. Salah satu bidang ilmu  yang diwariskan oleh HOS kepada Sayyid Bahruddin adalah Ilmu Sejarah dan Ilmu Nasab (disamping juga ada beberapa sanad keilmuwan lain).  Jika melihat kemampuan Sayyid Bahruddin dalam meneliti sejarah, meneliti nasab, menjaga penulisan sejarah dan menjaga pemeliharaan nasab khususnya Walisongo secara sistematis dan terbatas, jelas beliau Sayyid Bahruddin telah berhasil menjalankan tugas yang diemban dari gurunya itu. Jelas HOS telah mempersiapkan murid-muridnya secara cerdas. HOS tentu melihat jika bakat Sayyid Bahruddin ini lebih cocok pada bidang penulisan dan penyimpanan data, karena diantara semua  muridnya, Sayyid Bahruddin memang lebih condong pada dunia keilmuwan ketimbang terjun langsung pada  dunia politik, sekalipun Sayyid Bahruddin faham tentang dunia politik, namun beliau lebih dipercaya untuk lebih banyak menyimpan sebagian besar data-data yang dimiliki HOS, disamping itu HOS juga menginginkan ada satu orang muridnya yang kiranya bisa menjaga kerahasiaan data yang dimilikinya tersebut, sehingga sangat wajar jika Sayyid Bahruddin ini juga masuk sebagai  salah satu diantara sekian  murid yang dipercaya oleh HOS. Sampai akhir hayatnya Sayyid Bahruddin banyak menyimpan data-data yang disampaikan oleh HOS dan juga beberapa ulama besar lainnya. Beliau hidup dan  wafat dalam kondisi sederhana dan cenderung lebih banyak menyembunyikan diri (mastur). Sayyid Bahruddin sendiri banyak mewariskan berbagai tulisan-tulisan yang cukup penting dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang kini disimpan oleh keluarganya di Banyuwangi Jawa Timur.

HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) : Salah satu murid terbungsu dari HOS adalah Hamka. Beliau adalah tokoh besar Islam pada bangsa ini, beliau selain ulama juga sastrawan. Ulama yang satu terkenal tegas dan konsekwen dalam memegang prinsip keagamaan, pada saat menjadi Ketua MUI beliau dengan tegas menolak intervensi pemerintah Orde Baru mengenai keputusan MUI mengenai salah satu Fatwa, bahkan ketika menyikapi Revolusi Iran, beliau juga menyikapinya dengan tegas pada beberapa aspek. Mengenai hubungannya dengan HOS, beliau pernah menuliskannya dengan perkataan :“Saya tidak dapat melupakan almarhum HOS Tjokroaminoto yang telah menunjukkan pandangan Islam dari segi ilmu pengetahuan barat, ketika beliau mengajarkan kepada saya tentang “Islam & Sosialisme” ketika saya datang ke Yogya tahun 1924[6]  Dalam bidang keilmuan dan penulisan Hamka  telah banyak menulis buku-buku dari berbagai bidang. Mulai dari pendidikan, tasawuf, filsafat, tafsir, akhlak, sejarah roman dan lainnya. Diantara judul-judul bukunya yang banyak tersebut antara lain adalah : Tasawuf Modern, Filsafat Hidup, Lembaga hidup, Tafsir Al Azhar, Lembaga Budi, Ayahku, Sejarah Umat Islam, Revolusi Agama, Revolusi Pemikiran, Studi Islam, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Dibawah Lindungan Ka’bah dan Pandangan Hidup Muslim.

Mungkin yang jadi pertanyaan sekarang adalah, mengapa mereka ini bisa berkumpul bersama dalam satu wadah perjuangan, idiologi dan cita-cita? Terutama mereka yang telah mau melanjutkan ajaran-ajaran  dan nasehat dari HOS Tjokroaminoto ini?

Tidak lain dan tidak bukan karena didalam diri mereka, ada kesamaan nasab yang saling berhubungan. Secara tidak mereka ketahui, nasab telah mendekatkan mereka pada sebuah hubungan yang “unik”. Siapa sangka ternyata mereka itu satu garis keturunan, padahal mereka berasal dari wilayah yang jauh. Namun itulah keunikan dunia ilmu nasab, banyak hal-hal yang kadang sulit ditebak.

Dalam catatan Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq Azmatkhan [7] mengenai siapa saja leluhur dari mereka adalah sebagai berikut :

HOS Tjokroaminoto, leluhurnya adalah Ki Ageng Hasan Besari, seorang ulama besar yang merupakan ulama pendukung setia Pangeran Diponegoro. Ki Ageng Hasan Besari yang merupakan leluhur HOS adalah keturunan dari Panembahan Wirasmara bin Sunan Prawoto bin Sultan Trenggono bin Raden Fattah. Raden Fattah adalah Pendiri Kesultanan Demak, kekhilafahan Islam Pertama di Pulau Jawa. Ki Ageng Hasan Besari sendiri adalah ulama karismatik dan sosok yang sangat dihormati Pangeran Diponegoro.

Soekarno, yang juga merupakan murid terdekat dari HOS,  leluhurnya juga merupakan keturunan Raden Fattah yang juga merupakan leluhurnya HOS. Kebanyakan leluhurnya Soekarno ini banyak yang merupakan pemimpin dalam bidang pemerintahan.

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, yang belajar intensif kepada HOS terutama bidang agama, ternyata juga keturunan Raden Fattah. Leluhur Kartosuwiryo adalah Aria Penangsang atau Aria Jipang bin Pangeran Sekar Seda Lepen bin Raden Fattah. Darah Islamnya yang kental berasal dari para leluhurnya itu, Aria Penangsang adalah seorang Penganut Islam yang tegas dan konsekwen dan juga merupakan seorang mursyid. Pangeran Sekar Seda  Lepen atau Sayyid Ali adalah salah satu santri angkatan pertama yang terbaik dari Sunan Kudus. Leluhur dari Kartosuwiryo ini banyak yang merupakan pejuang dan juga ulama.

KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, leluhurnya adalah Aria Penangsang atau Aria Jipang bin Pangeran Sekar Seda Lepen bin Raden Fattah. Beberapa anak Aria Penangsang yang di Jayakarta banyak menurunkan banyak pejuang Jakarta seperti Raden Ateng Kertadria (Pahlawan Perang pecah Kulit), Aria Wiratanudatar (Bupati Cianjur yang telah hijrah dari Jayakarta), Syekh Junaid Al Batawi, Guru Mansur, Syekh Abdul Ghani Kayu Putih, Anggota Pitung dan juga KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma sendiri. Leluhur-leluhur Kyai Ratu Bagus Ahmad Syar’i ini banyak yang menjadi ulama plus menjadi pencatat sejarah dan silsilah tokoh-tokoh Jayakarta/Jakarta.

Sayyid Bahruddin , leluhurnya berasal dari Sunan Kudus, sedangkan  pertautan nasabnya juga ada yang berasal dari Raden Fattah, karena salah satu leluhurnya yang bernama Sayyid Amir Hasan bin Sunan Kudus telah menikah dengan anak raden Fattah yang bernama Dewi Ratih binti Raden Fattah. Beberapa keturunan Sunan Kudus yang satu nasab dengan Sayyid Bahruddin adalah Mbah Kholil Bangkalan Madura yang merupakan pakunya ulama Jawa pada masa itu.  Sayyid Bahruddin juga merupakan murid dari Mbah  Khollil Bangkalan ini.  Banyak leluhur Sayyid Bahruddin ini yang merupakan ulama-ulama besar pada masa lalu.

Hamka, leluhurnya adalah Sultan Minangkabau yang merupakan keturunan dari Sunan Giri bin Maulana Ishak Azmatkhan. Sultan Minangkabau Hijriah dari Jawa menuju Minangkabau untuk melakukan penyiaran agama Islam. Keturunan beliau di Minangkabau banyak yang menjadi ulama-ulama besar termasuk leluhurnya HAMKA.

SUMBER

[1] Raharjo, Iman Toto K, & Suko Sudarso, Bung Karno, Islam, Pancasila, NKRI, Jakarta : Penerbit KNRI (Komunitas Nasionali Religius Indonesia, 2006, hlm 543.

[2] Hadiwijoyo, Suwelo, Kahar Muzakar & Kartosuwiryo - Pahlawan atau Pemberontak, Jogyakarta: Penerbit Palapa, 2013, hlm 124-125,

[3] Rambe, Safrizal, Syarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905 – 1942, Jakarta: Penerbit Yayasan Kebangkitan Islam Cindekia, 208, hlm 107.

[4] Mertakusuma, Ratu Bagus Gunawan, Catatan-Catatan Perjalanan Hidup Saya & Intisari Kitab Al Fatawi, Jakarta: Penerbit Al Fatawi, 1983, hlm 4.

[5] Al Fattah, Iwan Mahmud & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Sayyid Bahruddin, Mutiara Dari Banyuwangi, Jakarta : Penerbit Madawis, 2015.

[6] Hamka, Falsafah Hidup, Jakarta : Penerbit Ummida, 1981, hlm 1.

[7] Azmatkhan, Sayyid Bahruddin bin Sayyid Abdurrozaq, Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, Jakarta: Penerbit Madawis, Edisi II, Vol 24, 2014.

MELURUSKAN NASAB MAULANA MALIK ISRAIL/ALI NURUL ALAM DI GUNUNG SANTRI CILEGON BANTEN, PELOPOR BERDIRINYA MAJELIS DAKWAH WALISONGO ANGKATAN PERTAMA BERSAMA SULTAN MUHAMMAD I TURKI USMANI

Maulana Malik Israil, sebuah nama yang mungkin asing bagi sebagian sejarawan yang menekuni Sejarah Islam di Pulau Jawa. Namun bagi mereka yang mencintai sejarah Walisongo, tentu nama yang satu ini sangatlah tidak asing bagi mereka. Mereka yang sering mempelajari sejarah Walisongo, tentu tidak akan kaget dengan nama yang satu ini, kalau masih merasa asing, berarti mereka perlu lagi memperdalam siapa siapa saja sebenarnya anggota Walisongo dari Angkatan pertama sampai angkatan ke sebelas. Bagi saya sendiri, sosok yang satu ini adalah tokoh yang menentukan sukses tidaknya dakwah keluarga besar Walisongo, terutama pada periode pertama berdirinya Majelis Dakwah Walisongo. Kenapa saya berani mengatakan demikian? karena melalui jasa beliaulah akhirnya Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki Usmani berinisiatif mendirikan Majelis Dakwah Walisongo pada tahun 1404 Masehi. Saat terbentuknya Majelis Dakwah Walisongo, Maulana Malik Israil memang sering berkunjung ke Turki yang saat itu sedang menuju kejayaan sebagai sebuah imperium Islam di Eropa.. Walaupun dalam sejarah beliau sering dianggap berasal dari Turki, sesungguhnya aslinya beliau berasal dari Patani. Turki hanyalah merupakan medan dakwah dan merupakan salah satu negara yang spesial bagi beliau dalam bidang diplomasi. Beliau sendiri merupakan pelopor berdirinya Kesultanan kesultanan Islam yang ada di daerah Patani (Thailand) dan juga Champa (Vietnam) disamping juga tokoh tokoh lain seperti Sayyid Ibrahim Zaenuddin Al Akbar As-Samarakondi, As-Sayyid Sultan Sulaiman Al Bagdadi Azmatkhan, dll..

Lantas Siapakah sebenarnya beliau ini?

Dalam susunan nasab keluarga besar Azmatkhan yang ada di Asia Tenggara, khususnya keturunan Sayyid Husein Jamaluddin Jumadil Kubro, Maulana Malik Israil adalah anak yang ke 13. Nama asli beliau sendiri adalah Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan, sedangkan nama lainnya adalah Sultan Qonbul, Sultan Patani Darussalam, Arya Gajah Mada, Minak Brajo Nato. Jika melihat nama-nama lain yang beliau sandang menunjukkan bahwa beliau ini bukan tokoh sembarangan, apalagi hubungan beliau dengan Sultan Muhammad 1 dari Kesultanan Turki Usmani sangat akrab. Tidak heran pada waktu penugasan dakwah ke wilayah Asia Tenggara ini, yang menjadi tokoh penghubung antar keluarga besar Azmatkhan yang bertebaran diberbagai negara adalah beliau ini. Memang diantara sekian nama yang beredar, dua nama yang populer adalah Maulana Malik Israil dan Ali Nurul Alam, terutama diwilayah Kelantan, Champa, Patani, Banten, Cirebon dan Demak. Bagi mereka yang merupakan keturunan beliau terutama dari daerah daerah yang telah saya sebutkan tadi, tentu nama Maulana Malik ISrail atau Sayyid Ali Nurul Alam sangat melekat kuat dihati mereka.

Maulana Malik Israil sendiri bagi saya adalah sosok yang fenomenal, kenapa demikian, karena gelar yang beliau sandang ini cukup menunjukkan bahwa beliau ini mempunyai pengaruh yang dahsyat terhadap beberapa bangsa, Sebagai seorang Pejabat diplomat tangguh gelar MAULANA MALIK ISRAIL jelas menandakan bahwa beliau ini mempunyai pengaruh yang kuat bagi bangsa Israil atau Yahudi yang saat itu banyak bertebaran di Eropa termasuk di Turki, Palestina dan beberapa tempat lag. Pada Masa Lalu yang namanya gelar yang disandang seorang tokoh itu tidaklah sembarangan, apalagi dengan tokoh sekelas beliau ini.Maulana (yang merupakan gelar seorang pemimpin dan juga sinonim dari Sayyid) serta Malik (Raja) dan Israil (Bangsa Yahudi) tentu bukan asal disematkan begitu saja kepada beliau ini. Kedekatannya dengan Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki tentu sangat mendukung adanya gelar beliau itu. Tidak heran dengan adanya gelar beliau ini beberapa sejarawan kadang sering terkecoh, dikiranya bahwa Maulana Malik Israil atau Sayyid Ali Nurul Alam berasal dari keturunan ISRAIL atau YAHUDI. Padahal nama Maulana Malik Israil itu hanyalah sebagian gelar dari Sayyid Ali Nurul Alam.

Ketika Majelis Dakwah Walisongo dibentuk tahun 1404 oleh Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki Usmani, 9 Anggota Majelis Dakwah Walisongo segera bergerak ke wilayah Asia Tenggara, khususnya pulau Jawa, termasuk Maulana Malik Israil ini, beliau bersama Maulana Ali Akbar yang juga merupakan kakaknya bergerak ke arah barat Pulau Jawa (Sunda). Bersama Maulana Ali Akbar (kakaknya yang ketiga) yang kebetulan menguasai bidang pengobatan/kedokteran,Maulana Malik Israil dan Maulana Ali Akbar bahu membahu dalam dakwah Islamiah. 9 anggota angkatan pertama Majelis Dakwah Walisongo ini keberadaannya sangat jelas tercatat dalam sebuah surat yang tersimpan dimusium Istambul Turki, termasuk juga dimana keberadaan makam makam mereka. Bahkan pada beberapa catatan yang dilakukan oleh keluarga Besar Walisongo, makam-makam Walisongo angkatan pertama itu jelas tertulis, seperti yang pernah ditulis oleh KH Muhammad Dahlan dalam buku Khaul Sunan Ampel ditahun 1979, bahkan beberapa keturunan Maulana Malik Israil sering melakukan perayaan khaul beliau di Cilegon, artinya keberadaan makam Maulana Malik Israil sudah lama diketahui.

Hanya saja sayangnya ketika saya mengunjungi dan berziarah ke makam beliau di Gunung Santi Cilegon Banten, saya mendapati sesuatu yang janggal, karena sangat jelas tertera dimakam tersebut,, jika Maulana Malik Israil berayahkan Sayyid Abu Hasan Assadzili. Begitu Membaca nama ayah dari Maulana Malik Israil ini saya sugguh kaget, dan puncak kekagetan saya adalah saat saya melihat banyak orang menginjak nginjak makam ulama yang juga penguasa ini!!!. Saya langsung istigfar sebanyak banyaknya, melihat salah satu leluhur saya ini makamnya diinjak injak, terus terang saat itu saya sangat kesal, prihatin dan kecewa, kok makam orang sehebat beliau ini dibegitukan? Kenapa mereka yang berada diarea makam (pengurus makam) meratakan tanah makam beliau? sehingga akhirnya banyak yang tidak tahu, jika tanah yang mereka injak injak itu adalah tanah makam Maulana Malik Israil dan juga Tanah makam Maulana Ali Akbar!!!.

Saya sebenarnya juga tahu bahwa makam yang terkenal di Gunung Santri itu adalah makam Waliyullah yang bernama Syekh Sholeh bin Abdurrahman yang wafat tahun 1550. Justru melalui nama Syekh Sholeh bin Syekh Abdurrahman ini saya jadi tahu jika makam Maulana Malik Israil ini ada di Gunung Santri, dan itu sudah lama diketahui sejak ratusan tahun yang lalu. Syekh Sholeh memang merupakan penasehat Sultan Hasanuddin Banten dan juga murid yang juga sangat setia terhadap Sunan Gunung Jati, beliapun sama hebatnya dengan kedua tokoh tersebut, namun jika dibandingkan siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih dahulu datang ke Gunung Santri, sudah tentu nama Maulana Malik Israil dan Maulana Ali Akbar sudah lebih dahulu ada, kenapa justru makam mereka yang dinomor duakan, ironis juga saya melihat hal ini. Bagi saya makam yang lebih tua itu harus pula diperhatikan, apalagi Syekh Sholeh justru sebenarnya adalah cucu dari Maulana Ali Akbar, artinya Syekh Sholeh juga merupakan cucu samping dari Maulana Malik Israil.

Cerita yang juga tidak kalah menarik, kenapa Sultan Hasanuddin, Sunan Gunung Jati, sampai syekh Sholeh sangat begitu kerasan di Gunung Santri ini, ya karena memang kakek mereka ada disana! bahkan sangat masuk logika sekali jika makam keluarga besar Maulana Malik Israil itu ada di Champa, Kelantan, Patani dan khususnya daerah Sunda, Demak, Lampung dan Palembang, karena jika dilihat secara geografis dan demografi keberadaan tempat tempat tersebut bisa saling berhubungan. Tidak heran dengan adanya Makam Maulana Malik Israil ini di Cilegon telah menjawab teka teki kenapa Syekh Sholeh ingin menetap ditempat ini, dan juga menjawab kenapa Sultan Hasanuddin juga senang ditempat ini, juga menjawab kenapa Makam Abdullah Umdatuddin ada di Lampung, karena Lampung dan Cilegon itu sangat dekat. Satu hal yang juga tidak kalah menarik, saya baru sadar jika adanya makam beliau diatas bukit itu, justru akhirnya bisa menjaga keberadaan gunung itu dari penjarahan lingkungan, disaat bukit bukit lain sedang dirusak lingkungannya, justru bukit santri ini justru tetap terjaga. Saya sendiri bisa memahami kenapa Maulana Malik Israil dan Maulana Ali Akbar memilih gunung santri sebagai pusat dakwah mereka, itu karena tempat ini memang sejuk pemandangannya, bahkan dari atas bukit santri pemandangan laut sangat terlihat indah, suasana daerah Gunung Santripun memang benar benar damai, bahkan beberapa riwayat mengatakan jika Gunung santri ini merupakan tempat berkumpulnya para Walisongo Angkatan pertama.tempat ini memang ideal untuk membuat pemukiman dan pondok pesantren, tentu pada masa itu lingkungan disekitar tempat beliau masih asri, sedangkan saat sekarang kiri kanan Gunung santri banyak bukit yang sudah mulai dihancurkan untuk kepentingan duniawi dan juga disekitar gunung santi sudah banyak pabrik pabrik besar. Namun tetap saja jika kita berziarah ketempat ini kita akan mendapatkan suasana tenang dan damai, apalagi saat kami sholat di masjid Kampung Beji, mesjid tertua di Gunung Santri.

Selesai ziarah, seperti biasa akhirnya saya berusaha mencari orang orang yang mengerti tentang sejarah Maulana Malik Israil dan juga Maulana Ali Akbar. Terus terang geregetan juga saya melihat makam Maulana Malik Israil dan Maulana Ali Akbar dibuat rata tanahnya, sehingga yang tertinggal cuma nisannya saja, akibatnya? ya makam tersebut diinjak injak para jamaah yang tidak tahu, yang namanya peziarah kan tipenya bermacam-macam, kebetulan sekali saya melihat saat itu tipe mereka kurang begitu faham jika tanah yang mereka injak injak itu adalah tanah makam para Wali dan juga penguasa Islam pada masa lalu.

Saya dan beberapa anggota Madawis akhirnya menemukan orang yang faham dengan sejarah gunung santri yang bernama pak Agus, Pak Agus ini memang sejak kami datang sudah memperhatikan tingkah laku kami yang berbeda, ya kami dari madawis dan ikrafa lebih dekat dengan Makam Maulana Malik Israil dan juga terus terusan melihat tingkah laku para peziarah, saya sendiri selalu mengambil gambar makam beliau. Pak agus mempekenalkan dirinya, dan ternyata beliau ini juga pecinta sejarah Walisongo, bahkan beliau punya silsilah keluarga yang berujung kepada Panembahan Senopati, dapat dikatakan bahwa beliau ini adalah orang yang faham dalam bidang sejarah di Gunung Santri, padahal beliau ini aslinya dari Gombong Jawa Tengah.

Pembicaraan kami dengan Pak Agus, cukup hangat, dan saya juga sempat "protes" tentang makam Maulana Malik Israil yang telah diratakan dengan ubin itu. dan beliau ternyata memahami keluh kesah saya dan madawis. Namun beliau juga meminta pengertian kami dalam memahami pola pikir masyarakat setempat yang tidak semua bisa memahami sejarah dan nasab para penyebar Islam khususnya pada tokoh Maulana Malik Israil dan Maulana Ali Akbar itu. Saya juga mempertanyakan, kenapa nasab Maulana Malik Israil dinisbatkan kepada Abu Hasan Assadzili? padahal Abu Hasan Assadzili itu bukan ayah Maulana Malik Israil, Saya katakan bahwa Abu Hasan Assadzili nasabnya Ke Al Hasani, dan beliau itu beda tahun, bahkan beda hampir 100 tahun, Abu Hasan Assadzili itu wafat pada tahun 1258, beliau ini justru hidup sezaman dengan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan (Canggah dari Maulana Malik Israil). Canggah itu adalah generasi atas yang ke 5 dari Maulana Malik Israil, artinya Sayyid Abu Hasan Assadzili sezaman dengan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan yang merupakan kakek dari kakeknya Maulana Malik Israil. Sayyid Abu Hasan Assadzili itu bukan sanad nasab Maulana Malik Israil, tapi itu beliau adalah merupakan Sanad Thoriqoh yang dimiliki oleh Maulana Malik Israil, kebetulan memang Maulana Malik Israil ini adalah Penganut Thoriqoh Assadziliyah yang memang banyak dianut oleh para sultan sultan dan juga beberapa anggota Walisongo.Pak Agus juga mengakui bahwa nasab yang ada dinisan milik Maulana Malik Israil salah, Sayyid Abu Hasan sendiri adalah tokoh besar dalam dunia Thoriqoh, beliau adalah Grand Syaikh dalam Thoriqoh Assadziliyah.Kebetulan Maulana Malik Israil memegang Sanad Thoriqoh yang berasal dari beliau itu.

Adapun Nasab yang benar dari Maulana Malik Israil adalah :

Maulana Malik Israil/Ali Nurul Alam bin Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik Azmatkhan Al Husaini.

Kesalahan Fatal dalam nasab ini tentu harus segera direvisi, saya sendiri sudah menyampaikan hal itu kepada pak agus agar bisa bisa menyampaikan masukan itu kepada fihak yang terkait. Bagaimana mungkin Sanad Thariqoh bisa berpindah menjadi sanad nasab??? benar benar sebuah kesalahan nasab yang fatal. Mudah mudahan fihak yang berkompeten di Gunung santri bisa merevisi nasab yang salah itu. Karena jika tidak direvisi dikhawatirkan akan banyak fihak keliru dalam menulis nasab Maulana Malik Israil ini, kalau sudah keliru menulis nasabnya bagaimana mau menulis sejarah beliau secara utuh??

Selepas diskusi dengan Pak Agus, kami meneruskan perjalanan ke Mesjid Kampung Beji, mesjid bersejarah yang pernah dibangun oleh Maulana Malik Israil dan Maulana Ali Akbar. Sayangnya masjid ini kini dirombak total dengan alasan sudah tua dan keropos, hilang sudah bukti sejarah didesa ini. Kampung Beji sendiri merupakan basis perlawanan para pejuang Cilegon yang dipimpin oleh KH WASYID pada tahun 1888 Masehi. Perlawanan tahun 1888 telah menggegerkan Kaum Penjajah Kafir yang berpusat di Batavia (jakarta) sehingga akhirnya para pemberontak tersebut diburu secara habis habisan sampai akhirnya KH Wasyid yang merupakan pimpinan pembrontakan tersebut mati syahhid. Itulah sekelumit cerita Kampung beji yang legendaris itu.

Yang jelas dalam perjalanan Tim Madawis dan Tim Ikrafa ini, banyak hal yang kami peroleh terutama data data mengenai informasi sejarah Gunung Santri Cilegon Banten.Keberadaan Makam Maulana Malik Israil dan Maulana Ali Akbar yang ada di Gunung Santri telah menjawab sekaligus membenarkan jika catatan para ulama keturunan Walisongo itu benar adanya.

Wallahu A'lam Bisshowab

Sumber ;

1. Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, As-Sayyid Al Allamah Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh, Penerbit Majelis Dakwah Walisongo, Vol 24, Jilid II tahun 2014.
2. Gunung Santri Obyek Wisata Religius, Drs Cholid Badri, Penerbit Pemda Desa Bojonegara, Februari 2001.