Dunia medsos kini sedang heboh besar saat video ceramah seorang habib yang bernama Habib Alwi Assegaf menyebar cepat tak terkendali, dimana isinya dianggap sangat tidak layak dan tidak etis untuk ukuran seorang dai atau penceramah.
Saya sendiri sudah mendengar dan melihat isinya walaupun itu belum seutuhnya, misalnya full 1 jam lebih, apakah setelahnya ada keterangan lebih lanjut, saya masih terus berusaha mencari info yang obyektif agar penilaiannya lebih hati-hati dan jernih.
Entah dalam konteks seperti apa Habib Alwi bisa berceramah seperti itu, yang jelas akibat isi ceramahnya, fihak MUI akhirnya bereaksi, apakah saat itu Habib Alwi sedang satire atau memang kebablasan, hanya beliau yang tahu.
Gaya ceramah Habib Alwi Assegaf memang selama ini dikenal ceplas-ceplos, kadang lucu, kadang keras, kadang memang ada yang mengarah ke kontroversi. Habib Alwi setahu saya memang "agak lain" karakternya dari kakak kakak dan adeknya. Kok saya bisa tahu ? Nanti saya jelaskan dibawah...semua saudaranya metode dakwahnya cenderung soft dan saya pernah merasakan ilmu beliau beliau khususnya Habib Ali Assegaf, kepada beliau saya pernah ngaji beberapa tahun di mushola haji muhi jalan talang jakarta pusat. Kepada habib umar saya juga sering ngaji bahkan pernah ikut kerjabakti saat beliau sedang membangun pondok, kepada Ustadz Abubakar bahkan lebih intensif karena beliau mengajar di madrasah.
Sudah tentu dengan viralnya video Habib Alwi semakin menambah daftar panjang habib² yang dianggap "nyeleneh" ajarannya oleh beberapa fihak terutama yang selama ini getol menghantam nasab Bani Alawi. Viralnya video Habib Alwi seperti menambah amunisi untuk menghancurkan kredibilitas nasab keluarga besar Habib. Tuduhan khurafat, halu, dongeng, dawir, mesum, sesat, dll, boleh jadi akan semakin sporadis dilakukan oleh Gerakan Anti Habib (GAH).
Berceramah di era gen z, alpha dan beta seperti sekarang ini memang kita harus hati-hati, boleh jadi kalimat yang diucapkan biasa ditempat sendiri tapi belum tentu biasa di tempat lain. Kalau dulu ceramah ceplas ceplos dan canda tawa menjadi menu utama sampai berada "ditepi jurang" dengan gaya dialek kampung sehari hari seperti dalam kehidupan masyarakat Betawi atau daerah lain bukan merupakan masalah, tapi sekarang ini "peta perasaan" berubah total. Ustadz Tile contohnya, beliau sampai sering nyindir...."ya..ya viral lagi deh gue..." Dunia medsos adalah "jaksa" sekaligus "hakim" yang paling terdepan, salah sedikit kelar dah reputasi ente. Dulu ger geran dalam ceramah itu lumrah, hal ini dilakukan agar jamaah tidak menjadi jenuh dan ngantuk, tapi sekarang.....? Harus waspada dan hati-hati.
Habib pada dasarnya adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, sehingga bila mereka salah atau menyimpang maka wajib hukumnya bagi kita untuk mengingatkannya siapapun dia. Namun tentu untuk mengingatkan mereka mereka yang dianggap tomas (tokoh masyarakat) yang melakukan kesalahan atau blunder dalam berpidato atau berceramah, layaknya dilakukan oleh mereka² yang juga mempunyai kapabilitas keilmuwan yang kuat. Memang siapapun bebas untuk mengkritik ataupun membetulkan bila ada yang dianggap menyimpang termasuk Habib Alwi. Bila kesalahannya melalui ceramah bisa diingatkan lewat ceramah juga. Bila lewat tulisan maka diingatkan lewat tulisan. Intinya yang salah tetaplah salah, yang benar tetaplah benar dan ini berlaku bagi siapa saja.
Status keturunan Nabi Muhammad SAW yang dilekatkan pada habib justru harus membuat kita lebih "waras" dalam menyikapi mereka tanpa kehilangan etika dan adab. Jika ada yang menyimpang dari mereka, luruskan, jika ada yang baik ikuti...sesimpel itu...
Selanjutnya, siapa sih sebenarnya Habib Alwi Assegaf ini ?
Habib Alwi adalah anak Habib Karismatik Jakarta yang bernama Sayyidil Walid Alhabib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf. Pendiri Madrasah Tsaqofah Islamiah Bukit Duri Puteran Jakarta Selatan yang banyak menghasilkan Ustad Ustadz Kondang di Betawi. Di Jakarta Nama Al Walid sangatlah mentereng dan dihormati ulama Betawi seperti Muallim KH Syafii Hadzami. AL WALID Abdurahman Assegaf saat wafat dan akan dimakamkan ke empang bogor, itu jalan tol dibuka demi membuka akses rombongan jamaah yang jumlahnya puluhan ribu massa.
Ayah Habib Alwi yaitu Habib Abdurrahman Assegaf dikenal sangat alim dan penulis kitab dan juga seorang ahli sholawat. Semua habib di Jakarta dan Indonesia pada tahun 90an pasti mengenal beliau karena beliau memang dituakan di Jakarta selain ada nama Habib Umar Cipayung, Hb Abdullah Syami, Hb Muhammad Kwitang. Salah satu ciri khas beliau adalah kopiah yang tidak pernah lepas dan kacamata yang tebal karena kuatnya beliau dalam membaca. Kalau ada muridnya yang lepas kopiah saat ngaji pasti akan ditegur...makanya tidak usah heran alumni tsaqofah Islamiah rata-rata pasti pakai peci putih..
Habib Alwi mempunyai kakak yang semuanya alim besar seperti Habib Muhammad Ceger Pondok Gede, Habib Ali Tebet majelis al afaf, Habib Umar Lapangan Ros Majelis Al Kifahi Atsaqofi, serta adik yang bernama Habib Abubakar. Semua mempunyai jamaah yang jumlahnya puluhan ribu massa. Jadi kebayang kalau ayah mereka yaitu Walid Abdutrahman mengadakan maulid baik itu dulu di Parung Banteng Bogor, maupun yang sekarang di Al-Busyro, yang namanya petasan pasti dibunyikan....meriah dan banyak didatangi ulama ulama besar.
Habib Alwi setahu saya punya majelis bernama Zadul Muslim (ZM) dengan moto "Be Here or Be Blind Forever". Habib Alwi juga dikenal pengamal zikir "Bismilahirrahmanirrahim" dan beliau juga penganut ajaran Imam Syaroni.
Kok saya bisa tahu ?
Ya Insya Allah tahu karena saya pernah menimba ilmu di Madrasah Tsaqofah Islamiah dari tahun 1990 s/d 1994. Bahkan saya berkali-kali tiap pagi bertemu Sayyidul Walid Alhabib Abdurahman Assegaf karena seringnya saya nyapu kelas karena kebetulan saya tipikal santri yang senang bersih. Alhamdulillah berkali kali didoakan dan diusap usap kepala dan selalu dianjurkan bersholawat.
Selama interaksi saya dengan para keluarga Sayyidil Walid Alhabib Abdurrahman Assegaf di era 90an, memang Habib Alwi atau kami menyebutnya Ustadz Alwi rada "unik", tapi biarpun begitu Ustadz Alwi ini dikenal sangat takzim terhadap ayahnya dan juga kakak-kakaknya. 2 kakak beliau saat ini sudah sepuh, sedangkan Habib Ali Assegaf dari majelis Al Afaf sudah wafat.
Sekalipun dikenal dengan ceramahnya yang ceplas-ceplos bahkan langsung kepada fihak yang dituju yang kadang diselingi penuh canda dan tawa dengan gaya Betawi kampung yang kadang bikin kuping "ngeri ngeri sedap" , sosok ini ternyata juga seorang penulis kitab, beberapa bukunya bahkan dulu kami gunakan untuk pelajaran Nahwu dan Sharaf dan sampai saat ini ada 3 buku karya beliau yang saya miliki seperti pada gambar dibawah. Beliau juga murid KH Raden Abdullah bin Nuh dan fasih berbahasa Arab dan Inggris. Beliau banyak mempunyai guru yang dari berbagai kalangan dan dikenal sangat takzim apakah gurunya dari kalangan biasa atau habaib. Beberapa ceramahnya malah saya pernah dengar ada yang bernuansa sufistik seperti halnya ayahnya. Coba saja cari dan dengarkan. Beliau juga di tahun 90an pernah memberikan pengajian di Matraman Dalam jam jam malam sekitar jam 10 - 11 (kalau tidak salah itu malam minggu). Waktu itu saya mikir, wah baru tumben nih ngaji malam-malam mana pake toa lagi, tapi mungkin Hb Alwi ingin mengingatkan, daripada ente berisik malem mingguan mending ngaji sama ane deh...apalagi masa masa itu Matraman Dalam memang dikenal wilayah "bronk" karena seringnya tawuran.
Habib Alwi memang tipikal Ustadz yang memang lain daripada yang lain. Saya masih ingat ada seorang murid yang kita tahu sering gak nyambung kalau lagi belajar, sama habib Alwi justru sering "dikerjain", karena disamping sering gak mudeng sama hafalan nahwu dan sharaf tapi gayanya udah kayak mualiim aja..
tapi istimewanya murid ini kalau baca sholawat enak banget....
tapi di kemudian hari, saya kaget banget, murid yang dulu sering diroasting Hb Alwi itu justru jadi tomas (tokoh masyarakat) di kampung saya...
Saat ini dari info yang saya peroleh Hbb Alwi atau Ustadz Alwi mengelola warisan ayah beliau yaitu Majelis Al Busyro di Citayam Depok Jawa Barat yang setiap tahunnya bila mengadakan haul bisa mengumpulkan massa puluhan ribu... dulu sewaktu beliau mau mendirikan bangunan majelis Zadul Muslim disamping Madrasah Tsaqofah Islamiah, saya dan beberapa murid madrasah ikut membantu dan itu kami lakukan dengan suka rela, kalau ada pertanyaan siapa yang mau sugul buat majelis dari ustadz² kelas, maka saya dan beberapa santri langsung bergerak membantu biarpun ngaduk atau angkut batu bata. Dan kalau udah selesai Ustadz Alwi paling sering ngasih kopi dan gorengan serta makan siang...intinya beliau peduli sama santri madrasah Tsaqofah.
Ada satu hal yang paling sering saya dengar baik dari Pak Umar (khadim setia Al Walid) dan juga santri santri senior, menurut mereka, Al Walid Abdurrahman Assegaf pernah ngomong, "Hati-hati sama Alwi, dia beda...", saat itu yang saya ketahui Hb Alwi mulutnya memang gak pernah berhenti berzikir "Bismillahirrohmanirrohim", saat ceramah sajq kalimat Bismillah selalu keluar. Entah apa maksud Al Walid Abdurrahman tentang ucapan tersebut.
Lantas bila demikian bagaimana kita menyikapi viralnya video beliau ? Silahkan saja bila anda ingin mengingatkan dan mengkritisi, itu hak anda sebagai jamaah medsos nusantara. Kita boleh tidak sepakat dengan gaya ceramah seseorang apalagi jika didalamnya terdapat materi isi yang sangat tidak pantas diungkapkan, yang terpenting jadikan diri kita ini alat kontrol yang jernih dan seimbang...
Saya percaya pasti sudah ada ulama yang mengingatkan dan saya juga yakin Ustadz Muhammad Assegaf dan Ustadz Umar Assegaf dan adik beliau Ustadz Abubakar Assegaf pasti sudah mengingatkan beliau untuk lebih berhati-hati.
Sebagai murid yang pernah menimba ilmu di madrasah Tsaqofah Islamiah saya hanya bisa berdoa semoga dengan viralnya video Ustadz Alwi ini bisa menjadi hikmah dan pelajaran baik untuk beliau sendiri maupun kita semua untuk lebih berhati hati ke depannya.