Kamis, 15 Oktober 2026

π—žπ—˜π—₯𝗔𝗠𝗔𝗧 π—›π—”π—•π—œπ—• π—žπ—›π—¨π—₯𝗔𝗙𝗔𝗧 ? 𝗦𝗧𝗔𝗑𝗗𝗔π—₯ π—šπ—”π—‘π——π—” π—žπ—”π—¨π—  𝗑𝗔π—ͺπ—”π—¦π—›π—œπ—• ?

Isu nasab nampaknya sampai hari ini belum selesai. Setelah muktamar NU isu nasab malah terus panas, apalagi Rais Aam dan Ketua PBNU cenderung dekat dengan Habib.
Caci maki dan sumpah serapah meluncur deras khususnya ditujukan kepada Rais Aam KH Miftahur Akhyar, entah apa yang ada di otak mereka sampai hati menghina ulama sepuh ini.
Yang juga tidak kaleh anehnya, kemenangan beliau dianggap sebagai kemenangan habib. Padahal saat muktamar keberadaan para habib bisa dihitung dengan jari, dan keberadaan mereka tidak menentukan secara significant terpilihnya Rais Aam dan ketua PBNU.
Intinya selama itu berkaitan dengan habib maka harus "dihancurkan", tidak perduli dia siapa dan dari organisasi manapun, selama masih simpati sama habib, "yo wis tak hancuri".
Salah satu isu nasab untuk menghancurkan kredibilitas habib dari Bani Alawi, adalah peristiwa terjadinya "KAROMAH" atau dalam bahasa sehari-hari kita disebut "KERAMAT". Dan anehnya fihak yang sering melakukan persekusi itu ada yang membawa nama Wali Songo yang sejarah hidup mereka banyak diwarnai peristiwa peristiwa keramat yang bahkan menjadi cerita rakyat ! (Standar Ganda ??? ).
Yang miris dan tidak habis fikir penolakan terhadap Habib Bani Alawi banyak dilontarkan orang² atau oknum² yang katanya ngaku Aswaja, ngaku NU, ngaku² cinta WALI SONGO, senang tahlil dan ziarah..ini aneh tsumma anehhh ! Kalau yang tidak percaya dari fihak ateis, kafir atau organisasi Islam lain yang sejak dulu memang tidak sepakat dengan peristiwa keramat, itu mungkin bisa difahami. Tapi ini.... ??? Aneh !
Peristiwa KAROMAH atau KERAMAT menurut Syekh Yusuf An-Nabhani peristiwa yang tidak masuk logika yang terjadi pada diri wali atau orang-orang Soleh. Keramat jelas bukan Mujizat karena Mujizat hanya untuk Nabi.
Siapa yang bisa mendapat anugrah seperti itu ?
Ya itu tadi, para Wali dan orang-orang soleh. Mereka bisa berasal dari kalangan Habib (Yang Soleh dan alim) dan Kyai-Kyai yang zuhud.
Sayangnya tema tentang "KERAMAT" seringkali dijadikan menjadi menu utama dalam berceramah oleh beberapa habib di majelis majelis yang mereka datangi atau mereka asuh, akan lebih baik kedepannya diperbanyak ngaji akhlak, ngaji fiqih, ngaji tafsir, hadist atau ilmu ilmu lain daripada terus menerus cerita karomah para wali, bukan gak boleh tapi harus dibatasi, karena kisah² seperti itu biasanya dituturkan secara terbatas dan untuk iktibar saja. Karena biasanya kalau menceritakan keramatnya Wali tidak semua fihak "nyambung" ya karena memang di luar nalar, apalagi mereka yang mengagungkan rasionalitas belaka.
Cerita-cerita "irassional" dari para habib, terutama habib² sepuh yang alim karismatik dan berpengaruh oleh para habib yang muda² dalam menceritakan para leluhurnya akhirnya tanpa disadari justru menjadi bumerang, apalagi ini dunia medsos yang penuh kebebasan. Cerita keramatnya Bani Alawi akhirnya menjadi olok-olok di medsos, seolah keramatnya Habib Bani Alawi hanya mereka saja yang mengalaminya. Saya yakin jika para wali itu masih hidup, kisah kisah mereka pasti maunya dikeep saja ketimbang dibeberkan secara terbuka.
Peristiwa Keramat atau yang sering disebut Khawariqul Adat (di luar kebiasaan) pada sejarahnya sering menimbulkan pro dan kontra, misalnya kalau anda membaca manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jilani pasti akan menemui cerita cerita ganjil. Bagi pengikutnya itu bukan hal yang aneh tapi bagi penentang keras ajaran sufi itu jelas Khurafat. Anda tau khurafat ? Itu artinya peristiwa keramat yang terjadi adalah DONGENG, HALU, CERITA FIKTIF yang tidak ada dasarnya secara agama, SESAT MENYESATKAN (titik tidak pakai koma).
Menurut Samsul Munir Amin yang menulis buku "KAROMAH PARA KYAI" yang diterbitkan di Jogyakarta, tahun 2008 cet pertama oleh Pustaka Pesantren, karomah memang identik dengan hal-hal yang tidak masuk nalar. Akan tetapi, ia adalah nyata dan haqq, seperti halnya mukjizat para nabi. Bedanya, jika mukjizat disertai dengan pengakuan kenabian (nubuwwah), pada karomah hal itu tidak ada. Karomah adalah anugerah dari Allah kepada para hamba yang dicintai-Nya. Ia adalah buah dari mujahadah dalam memerangi hawa nafsu serta keistiqamahan seseorang dalam beribadah kepada Allah Swt (Syamsul Munir Amin, hlm. 2).
Peristiwa khawΓ’riqul Γ’dat yang dianugerahkan kepada para wali, sekalipun tidak sama, memang identik dengan peristiwa ajaib yang terjadi pada para dukun dan paranormal. Namun yang ironis, cerita yang berkaitan dengan karomah para wali, ulama, atau para kiai itu kerap dianggap kontroversial, sementara cerita yang setipe, yang terjadi pada orang-orang biasa justru tidak dianggap kontroversial. Lihat saja, misalnya, kasus peristiwa supranatural yang dialami orang-orang biasa yang dikumpulkan oleh Dr. Louisa E. Rhine, seorang ilmuwan Foundation for Research on the Nature of Man (FRNM), North Carolina, Amerika Serikat, yang mencurahkan perhatiannya pada peristiwa-peristiwa supranatural. Dia mengumpulkan puluhan kasus yang diklasifikasikan dan dianalisisnya sesuai dengan metode keilmuan, kemudian menuliskannya dalam sebuah buku.⁴
Memang benar bahwa cerita peristiwa supranatural para wali, para ulama, atau para kiai itu tampaknya seperti tidak masuk akal. Akan tetapi, itu hanya bagi orang yang belum mempelajari parapsychology.
Peristiwa khawΓ’riqul Γ’dat mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1. Tidak tunduk pada dimensi ruang dan waktu. Tidak tunduk pada dimensi ruang artinya, jauh dekat sama saja. Tidak tunduk pada dimensi waktu artinya, masa lampau, sekarang, dan yang akan datang adalah satu adanya.
2. Tidak tunduk pada hukum kebendaan, artinya, tidak tunduk pada hukum-hukum fisika, biologi, ekonomi, sosiologi, antropologi dan lain-lain.
3. Tidak tunduk pada hukum sebab-akibat sebagaimana yang terjadi pada alam benda dan peristiwa normal sehari-hari. (Samsul, hlm.9).
Peristiwa keramatnya Habib Bani Alawi akan banyak kita temukan, anda bisa baca kitabnya Syekh Yusuf An-Nabhani, bahkan jika anda ke Jakarta, cerita-cerita keramatnya Habib Husein Alaydrus Luar Batang, Habib Kuncung Kalibata, Habib Umar Al Attas Cipayung, Habib Ali Kwitang, Habib Abdurrahman Al Habsyi Cikini, Habib Abdurrahman Assegaf Bukit Duri, Habib Muhsin bin Muhammad Al Attas Condet, itu sangat mashur ceritanya di kalangan masyarakat Betawi.
Bagaimana para kyai ?
Banyak sekali !
Dibawah ini contohnya, silahkan dibaca dengan tenang dan jangan kaget atau buru-buru bilang KHURAFAT atau BID'AH DOLALAH...Baca dulu yang tenang dan jernih karena ini ditulis berdasarkan investigasi dan penelitian dari seorang peneliti serius...
Mari kita baca...
1. Kiai Ali Mansur Pencipta Shalawat Badar menceritakan bahwa 1 hari sebelum menciptakan Shalawat tersebut, dia bermimpi didatangi rombongan habib. Besoknya ternyata Habib Ali Kwitang datang dan tahu bahwa Kiai Ali Mansur telah menggubah syair Shalawat Badar, padahal Kiai Ali tidak pernah bercerita kepada siapapun dan Habib Ali juga baru pertama datang ke Ali ini. Untuk lebih mempopulerkan, Habib Ali mengundang para ulama termasuk Kiai Ali Mansur untuk datang ke Kwitang Jakarta. (Syamsul, hlm. 337 - 388)
2 Kiai Mufid Mas'ud pernah bercerita bahwa saat beliau sowan ke Mbah Hamid Pasuruan, Mbah Hamid berbicara kepada seorang anak kecil: "Besok jika kamu sudah besar, belajarlah di pesantren pak kiai ini (Sambil menunjuk Kiai Mufid Mas'ud). Pondok Bapak ini tempat menghafalkan Qur'an, rezekinya berdatangan dari kiri dan kanan, depan dan belakang." Padahal pada waktu itu, Kiai Mufid belum memiliki pesantren dan belum pula memiliki materi yang cukup. (Syamsul, hlm. 332 - 333)
3 Syekh Burhanuddin Ulakan: Berkat keikhlasan karena mencari tempat sirih di jamban oleh gurunya, sedang murid lainnya enggan; beliau didoakan oleh Syekh Abdur Rauf Singkil dengan doa "Janganan ini akan dicium oleh raja-raja, penghulu-penghulu, dan orang besar di Sumatra Barat. Muridmu tidak akan putus-putusnya sampai akhir zaman dan ilmumu akan memberkahi dunia ini." Sejarah membuktikan Syekh Burhanuddin Ulakan sampai sekarang masih tetap dihormati. (hlm. 306 - 307)
4. Kiai Hamid Pasuruan: Dikisahkan bahwa Kiai Hamid tidak sering didapati shalat berjamaah bersama santri di masjid pesantren, bahkan sangat jarang. Akan tetapi, diyakini oleh beberapa santri bahwa pada waktu maghrib Kiai Hamid mengerjakan Shalat Maghrib di Makkah. Suatu kali, ada salah seorang tamu yang ingin meneliti kebenaran berita tersebut. Lepas maghrib, si tamu segera menuju kediaman Kiai Hamid dan segera mengetuk pintu. "Di mana sebenarnya Kiai Hamid berada?" tanyanya dalam hati. Begitu masuk di ruang tamu, ternyata tamu tersebut disambut oleh Kiai Hamid. "Duduk sebentar, saya ambilkan air minum," ucap Kyai Hamid. Dan kagetlah si tamu ketika Kyai Hamid datang kembali membawa segelas air minum dan beberapa tangkai kurma yang masih segar. Seakan buah kurma itu baru saja dipetik. Si tamu yakin Pasuruan dan sekitarnya tidak terdapat pohon kurma. (hal. 297-298)
5 Kyai Abbas Buntet Cirebon: Di masa penjajahan ditakuti Belanda karena kedigdayaannya. Beliau mampu menciptakan pasir dan kerikil menjadi senjata ampuh yang bisa memporak-porandakan pihak musuh. Bahkan Kyai Abbas juga bisa melawan tank-tank dan senjata musuh dengan tudingan jarinya. (hal. 292)
6. Kyai Subki Parakan: Dikenal sebagai kyai yang mampu mengisi dan menyepuh bambu runcing dengan doa. Sehingga menjadi senjata yang sangat ampuh.
7. Kyai Noer Ali Bekasi: Tidak mempan saat dibombardir oleh senjata Belanda.
8. Kyai Minan Sleman Yogyakarta: Dikenal kyai sakti. Keampuhannya konon dapat menghentikan tank-tank Belanda yang sedang berjalan dengan isyarat telapak tangan yang disodorkannya dari jarak jauh. Salah satu wiridnya adalah Asma Tauqif. (hal. 291-292)
9. Kyai Masyhari Lempuyangan Yogyakarta: Dikisahkan Kyai Masyhari dapat membuat melempem sebuah bom, hingga bom tersebut tidak meledak. Kisah lainnya bahwa tongkat Kyai Masyhari dapat digunakan untuk membuat garis di tanah yang tidak dapat dilewati oleh pasukan Belanda. Sehingga mereka tidak bisa masuk ke pesantren yang berfungsi sebagai tempat perlindungan para pejuang kemerdekaan. (hal. 291)
10. Kyai Umar Sumber Beringin Jember: Pondok pesantrennya pernah didatangi 4 buah truk pasukan KNIL yang mau menggempur pesantrennya yang menjadi markas pasukan gerilya itu. Namun yang terjadi, 4 truk itu hanya berputar-putar di sekitar pesantren kehilangan jejak. Diperoleh keterangan, saat itu Kyai Umar beserta santrinya melakukan mujahadah dan wirid guna menangkal kedatangan KNIL. (hal. 290)
11. Kyai Krian Buntet: Ketika pulang haji, kapal yang ditumpanginya diterjang badai besar di Pulau Sailan, Sri Lanka. Kyai Krian terombang-ambing, tubuhnya lemas, matanya nanar, dan secara aneh datang ikan hiu untuk menolongnya. Kyai Krian menaiki punggung ikan hiu. Sampai tiba di Cirebon. Sampai sekarang keturunan Kyai Krian berpantang memakan daging ikan hiu karena nenek moyangnya pernah ditolong oleh ikan hiu itu. (109-110)
12. Kyai Hasyim Asy'ari sering melempar tongkat tanpa melihatnya. Sambil membaca kitab, beliau lemparkan ke arah santri secara acak, dan anehnya tongkat itu terbang ke arah santri yang belum melaksanakan sholat. (105)
13. Kyai Kholil Bangkalan: Pada saat Halaqah Ulama Makkah berkumpul di Masjidil Haram untuk memutuskan hukum kepiting dan rajungan, mereka berdebat panjang karena alat pembeda masalah hanya ada di kitab-kitab. Selain itu, jika dilihat secara sepintas, kepiting dan rajungan tidaklah berbeda. Di saat debat itu, Kyai Kholil mengemukakan pendapatnya. Beliau mengatakan, "Sulitnya mencari kepastian hukum karena para hadirin belum pernah melihat keduanya."Dan secara tak terduga, Kyai Kholil berkata, "Para hadirin yang terhormat, wujud kepiting itu seperti ini..." lanjut Kyai Kholil seraya menunjukkan kepiting yang masih kena air di tangan kanannya. "Dan wujud rajungan seperti ini..." kata Kyai seraya tangan kirinya memegang rajungan yang masih basah, seakan baru diambil dari laut. Hal ini menyebabkan kehebohan. (hlm. 101-102)
14. Kyai Romli bin Kyai Tamim (Pondok Pesantren Peterongan Jombang)
Dikenal sebagai kyai yang jarang tidur. Diceritakan, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari pernah membuat semacam sayembara: "Siapa saja santri Tebuireng yang dapat memergoki Kyai Romli dalam keadaan tidur, yang bersangkutan akan diberi hadiah." Setelah diselidiki para santri selama berbulan-bulan, sungguh mengherankan, para santri tidak pernah mendapati Kyai Romli tidur di saat semua santri terlelap. (Halaman 287-288)
15. Kyai Hasyim Latif Mustasyar PBNU Surabaya (Perak) pernah dikepung Belanda ketika dia sedang berjalan sendiri di lereng gunung. Dia kemudian diberondong dengan sten gun. Beberapa peluru mengenai wajah dan tubuhnya, akan tetapi sama sekali tidak luka dan tidak mempan. (Halaman 284)
16. KH. Aqil Siradj. Dikisahkan menjelang wafatnya, keluarganya dikejutkan dengan kehendak beliau yang memaksa pulang ke rumah padahal masih dirawat di RS dan kondisinya sakit keras. Namun anehnya, beliau pulang diam-diam pada hari Senin dan tetap bersikeras untuk di rumah. Diceritakan pada hari Ahad itu, dia sudah ditemui oleh Malaikat Izrail, sang malaikat pencabut nyawa.
"Engkau Aqil?"
"Ya, saya Aqil."
Setelah bertanya demikian, malaikat itu menghilang. Itulah sebabnya dia bersikeras untuk segera pulang dari RS. Jika ajal sudah di ambang pintu, buat apa berada di RS? Memasuki hari Rabu sehabis shalat Ashar, beliau wafat. (Halaman 282-283).
17. Kyai Ahmad Rifa'i Kaliswingu. Pendiri Gerakan Rifa'iyah. Sejak masih kecil, kyai telah memiliki karomah, yaitu terpancarnya cahaya dari tubuhnya. Pada suatu malam, ketika gurunya yang juga kakak iparnya, Kyai Asy'ari, secara tidak sengaja memergoki cahaya itu. (Halaman 280)
18. Kyai Yasin Pati. Mampu berbicara bahasa Belanda secara fasih, padahal tidak pernah belajar secara otodidak dan tidak pernah berkomunikasi sebelumnya dengan pihak-pihak Belanda. (Halaman 272).
19. Syekh Abdul Hamid Abulung (Banjar, Kalsel): Makamnya yang berada di pinggir sungai tidak bisa dihanyutkan air, padahal makam tersebut sering tergerus air sungai. Akan tetapi, setelah makam itu sempat turun, secara ajaib makam itu naik lagi ke tanah yang lebih tinggi sehingga tanah pun menyangga makam itu kembali. (269)
20. Kyai Raden Santri (Muntilan, Magelang):
Di suatu dusun yang sangat kering dan tandus, Kyai Raden Santri membuat sebuah sendang (mata air) dengan tongkatnya. Atas izin Allah, sendang itu pun mengeluarkan air sampai sekarang. Pada tahun 1600 M, saat beliau hendak menyeberangi sungai, ternyata sungai tersebut sedang dilanda banjir yang sangat besar. Beliau berkata, "Air, berhentilah engkau. Berhentilah, aku akan lewat." Maka, air banjir itu pun langsung berhenti. Setelah air berhenti, batu-batu sungai bermunculan, dan daerah itu kini dinamakan Desa Watucongol. (253)
21 Syekh Muhammad Al-Banjari: Mampu memperlihatkan Ka'bah dari jarak jauh, seperti yang beliau lakukan di Masjid Luar Batang. (256)
22. Mbah Lim: Pada tahun 1983, beliau pernah berkata kepada Gus Dur agar bersiap-siap menjadi pemimpin negara suatu saat nanti. (246)
23. Kyai H. Maksum Jauhari (Lirboyo):
Rambut beliau tidak mempan digunting. (241)
24. Syekh Nawawi Banten: Sampai hari ini, tanah pekarangan Syekh Nawawi masih kosong karena tidak ada yang berani menggunakannya. Jika ada yang nekat, maka akan timbul banyak kejadian aneh. (236)
25. Syekh Yusuf Makassar: Keajaiban sudah terjadi sejak beliau masih dalam kandungan, yakni keluarnya sinar dan terdengarnya suara zikir dari perut ibunya. (278)
26. Kyai As'ad Syamsul Arifin: Saat masih muda, beliau pernah menghidupkan mobil yang mogok hanya dengan mencabut keris pusakanya dan menorehkannya di atas moncong kendaraan tersebut. (218)
27. Kiai Kholil Bangkalan dan Kyai As'ad Syamsul Arifin : Sering shalat Asar di Masjidil Haram dan berulang-ulang dengan menggunakan sampan kecil dari pinggir Pantai Bangkalan. (212)
28. Mbah Ma'shum Lasem : Memberi isyarat bahwa K.H. Baidhowi (pamannya) akan wafat terlebih dahulu, 2 tahun kemudian barulah K.H. Ma'shum. Dan benar itu terjadi. (203)
29. Mbah Mangli, Desa Beliau : Punya pengajian tanpa menggunakan speaker, namun suaranya tetap terdengar. Padahal jamaahnya ribuan dan mendengarkan dari tempat yang jauh ketika beliau berceramah. (175)
30. Kyai Fuad Hasyim Buntet Cirebon : Ketika berceramah di berbagai tempat, dia bisa menggunakan bahasa setempat sama persis dengan logat dan dialek setempat. Kiai Fuad juga tidak pernah terlambat dari satu tempat ke tempat lain walaupun waktu ceramah mepet dan jaraknya jauh. Misal dari Cirebon pukul 21.30, sedangkan jadwal ceramah di Tegal pukul 22.00 dan dia hanya menggunakan kendaraan Hartop. Beliau juga tidak pernah terlambat ceramah di Jawa Timur. (160-161)
31. Kiai Subki Parakan : Menurut bekas serdadu Jepang ditindas, ketika mereka berada di markas, jika malam mereka ketakutan karena merasa dilempari granat dan bom oleh pasukan santri anak buah Kiai Subki. Padahal menurut Kyai Muhaiminan Gunardho, yang mereka lemparkan adalah batu kerikil yang sudah disepuh dan didoai oleh Kyai Subki. (136)
32. Kyai Mujib Kidul : Membuka kewalian Kyai As'ad Syamsul Arifin setelah bertemu dengan ulama Haramain. Kyai As'ad adalah Wali Qutub. (20)
33. K.H. Mahrus Ali Lirboyo : Menghentikan hujan ketika akan ada peresmian Universitas Tri Bakti yang akan diresmikan Menteri Agama. (113).
34. KH Bisri Mustofa : Suatu hari Gus Mus kedatangan tamu dari Cirebon yang menyampaikan pesan KH Bisri kepadanya. Orang itu menyampaikan pesan agar Gus Mus mengoreksi surat Al-Fath karena di situ ada sedikit kesalahan dalam karya tafsir Al-Ibris. Anehnya, KH Bisri telah meninggal 40 hari yang lalu, padahal tamu itu baru bertemu 2 hari sebelum ketemu Gus Mus. Setelah dicek di Penerbit Menara Kudus, ternyata memang ada satu kesalahan kecil dalam ayat ke-18. (hal. 43)
35. Gus Dur : Menurut Marsillam Simanjuntak, pernah berkata bahwa Gus Dur tidak bisa lagi di Fordem, karena didatangi Mbah Hasyim bahwa bulan Oktober ini dia akan jadi presiden. Padahal saat itu nama Gus Dur belum muncul secara signifikan. (hal. 37)
36. Mbah Muntaha Al-Hafiz (Wonosobo): Menurut Ustadz Fahmi, beliau pernah diberi gula 1 kg dan beras 10 kg oleh Mbah Muntaha. Anehnya, selama 1 bulan tidak habis-habis. Menurut Ustadz Fahmi, biasanya mereka menghabiskan 30 kg beras dan 3 kg gula untuk sekeluarga (5 orang). Ketika ditanya, Mbah Muntaha menjawab "Hadza min barakatil Qur'an" tanpa ekspresi. (27)
37.Mbah Moen ini sering masuk ke makam Nabi di malam hari, padahal jelas-jelas makam itu sering dikunci. (22)
38. Syekh Nawawi Banten : Pernah berdebat dengan Sayyid Usman bin Yahya untuk menentukan posisi kiblat Masjid Pekojan. Menurut Syekh Nawawi kiblat masjid agak ke kiri dari letak Kakbah, jadi perlu digeser ke kanan. Tapi Sayyid Usman tetap yakin jika kiblat itu sudah benar. Saat itulah Syekh Nawawi menarik tangan Sayyid Usman untuk berdiri lebih dekat. "Lihatlah di sana," kata Syekh Nawawi seraya menunjukkan jarinya ke arah kiblat yang dimaksud. Sayyid Osman berdiri termangu. Benar arah kiblat itu kurang tepat.
Syekh Nawawi berkata disamping Sayyid Usman dan berkata "Itulah Ka'bah. Jelas tampak dari tempat kita berdiri ini. Jelas kelihatan, bukan? Sedangkan Masjid ini agak ke kiri dari letak Ka'bah itu." (17)
39. Saya tambahkan, mata air Pangeran Kuningan bin Sunan Gunung Jati di Gedung Telkom Jakarta sampai saat ini masih mengalir deras walaupun Jakarta dilanda musim kemarau. Sudah hampir 480 tahunan.
40. Mata air di makam Habib Abdurahman Cikini sampai sekarang masih mengalir dan dulu muncul pada musim kemarau.
41. Saya belum mengeluarkan semuamya yang ada di Jakarta, banyak sekali cerita keramat, makanya di Jakarta banyak kampung disebut KAMPUNG KERAMAT karena dikampung itu biasanya ada makam Wali yang berasal dari Pribumi...
Tambahan : Untuk Bapak Iyus Sugirman Gufron Al-Bantani Al Gondrongi atau Bapak Asep Setiawan Setu, hanya pengikutnya yang bisa jawab siapa mereka....
BAGAIMANA ? APAKAH KISAH KERAMAT PARA KYAI TERSEBUT KHURAFAT ?
Wallahu A'lam Bisshowab....