Sosok ini sedang ramai dibicarakan di dunia medsos, nama aslinya Yolhan Wijaya sedang nama lainnya Syaikh Muhammad Zuhri. Saya sendiri sebenarnya sudah lama mengamati tentang sosok yang satu ini, sama seperti dulu ketika saya membaca Profil Iyus Sugirman alias "Abuya" Gufron Al Bantani.
Akunnya bernama Fatwa Kehidupan. Pengikutnya cukup banyak, 131.000 follower. Muridnya juga banyak dan dia punya padepokan. Murid-murid dan pengikut setianya memanggilnya ABAH.....Setiap akun Fatwa Kehidupan membuat status nasehat atau menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam banyak hal, murid-muridnya akan muncul sambil menjawab, 'Hadir Abah", "Nderek Abah", "I Love You Abah", dll. Banyaknya pengikut dan murid-murid dari Bapak Yolhan Wijaya, menandakan jika "fatwa"²nya cukup mempengaruhi alam fikir para murid dan pengikutnya yang jika saya amati banyak sekali yang militan terhadap sosok yang saya perkirakan berusia 45-46. Murid-murid dan pengikut dari sosok yang "unik" ini terdiri dari berbagai latar belakang, tidak sedikit dari mereka yang memiliki pendidikan yang tinggi dan pemahaman agama yang cukup bagus dan mereka percaya betul terhadap fatwa-fatwa dari sosok yang sepertinya pada masa mudanya sering mengadakan solo "perjalanan spritual" yang cukup panjang.
Namun dalam satu minggu ini rupanya beberapa fatwa dari Bapak Yolhan Wijaya alias Syaikh Muhammad Zuhri, mulai mendapatkan kritikan yang sangat tajam karena dianggap menyimpang dari akidah ahlussunnah wal jamaah seperti misal salah satunya ketika beliau berfatwa "Allah SWT dilekatkan atau ditempelkan dengan sifaf JISIM nya manusia" dengan penjelasan dan "tafsir" berdasarkan pemikirannya. Disisi lain ketika beberapa fatwanya "dikritisi" habis-habisan, Bapak Yolhan Wijaya sangat defensif total bahkan terkesan "counter attack" karena dia sangat meyakini betul bahwa fatwa fatwanya benar adanya karena sudah mendapatkan "arahan Allah". Murid-muridnya juga tidak kalah militannya, mereka ikut melakukan pembelaan terhadap "Abah Zuhri" karena merasa gurunya telah dizalimi.
Yang perlu kita ketahui salah satu fihak yang mengkritik keras itu juga bukan tokoh kaleng kaleng, sosok tersebut salah satu GUS jawa timur, ulama muda NU yang cukup bersinar taringnya keilmuwannya, selain itu dibelakangnya juga ada ulama² muda NU yang tangguh yang banyak berkecimpung di dunia Bahtsul Masail. Artinya mereka itu sudah diakui kompetensi keilmuwannya. Bukan kaleng-kaleng bagi mereka yang sering masuk arena Bahtsul Masail....
Bagaimana dengan fihak Bapak Yolhan Wijaya ? sampai saat ini saya lihat beliau masih terus ngotot dan masih yakin akan semua fatwa fatwanya, sehingga sepertinya polemik ini akan terus berlanjut.
Bagi saya, belajar agama memang sepatutnya harus bersanad yang jelas, sehingga apapun yang akan kita tulis atau kita katakan semua tidak keluar dari koridor sanad. Belajar agama tidak boleh otodidak, harus ada pembimbing yang jelas ilmunya apalagi kalau kita mau memperdalam tentang dunia tassawuf. Jangan mudah-mudah mengeluarkan istilah "makrifat" sebab istilah ini hanya dimiliki ulama ulama soleh seperti Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, Syekh Ibrahim Adham, Syekh Hasan Assadzili, Imam Ghozali, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, dll. Lagipula dalam sejarahnya istilah itu harus dilalui melalui Riyadoh yang berat selama bertahun-tahun.
Ilmu tetap harus mempunyai rujukan yang jelas, tidak bisa kita bicara sesuai selera atau nafsu. Literasi jelas sangat penting. Kemampuan pemahaman terhadap kitab-kitab berbahasa arab juga penting apalagi jika orang tersebut menjadi rujukan orang banyak. Ini sangat penting karena pengetahuan Islam banyak didapati pada kitab kuning atau gundul. Makanya kenapa dulu para santri bertahun tahun belajar nahwu, sharaf, balagoh, dll, itu karena ilmu² tersebut menjadi pintu gerbang untuk menyelami samudra ilmu.
Apakah jika tidak mengerti kitab kuning atau tidak bisa baca, kita tidak boleh untuk melakukan kajian agama ? Ya boleh boleh saja, namun tetap harus berhati hati dan kalau tidak tahu tanya sama yang ahlinya. Bagaimana jika memberi fatwa ? Tentunya untuk memberikan fatwa harus dari fihak² yang berkompeten dan diakui semua fihak, misalnya NU, MD, MUI agar nanti fatwa fatwanya bisa diterima secara umum. Kecuali itu ulama² kaliber dunia seperti Syekh Nawawi Banten, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki, Syekh Ali Jum'ah, Syekh Qaradhawi, Syekh Ramadhan Buti, Habib Umar bin Hafidz, dll.
Bagaimana dengan "jalan pintas" ilmu laduni yang selama diklaim beberapa fihak sebagai latar belakang kemampuan (kealima seseorang ?
Ya tetap harus berproses, lagi pula model model seperti itu super langka dan termasuk golongan orang² pilihan yang amaliah dan akidahnya tidak menyimpang secara syar'i. Jadi jangan jadikan alasan ilmu laduni sebagai sebuah latar belakang bila dikemudian ternyata ada pernyataan atau sikap sikap yang menyimpang, siapapun itu.....lagipula jangan mudah² bilang laduni kalau ternyata ajarannya keluar dari jumhur ulama.
Terakhir...
Di era medsos sekarang ini, dimana semua bisa bebas berpendapat, maka carilah ulama yang sumber keilmuwannya sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW agar kita terjaga dari adanya penyimpangan..