Salah satu tuduhan yang gencar guna menghancurkan kredibilitas nasab Bani Alawi dengan menuduh bahwa 2 Gembong besar PKI adalah berasal dari Bani Alawi. Tuduhan itu sampai saat ini masih terus disebarkan baik itu berupa meme, Podcast dan tayangan-tayangan di medsos. Mereka yang menuduh itu sangat percaya diri dan yakin 11.000 Trilyun % bahwa kedua tokoh komunis yang penuh dengan kontroversial kehidupannya itu adalah Bani Alawi, titik dan tidak pakai koma.
Dulu mereka teriak-teriak, awas gerakan Baalawisasi ! Tapi sekarang nyatanya, tokoh-tokoh “jahat” dalam sejarah bangsa ini yang tidak ada kaitannya dengan Bani Alawi, malah didengung-dengungkan sebagai Bani Alawi.
Sebenarnya isu bahwa DN Aidit dan Musso sudah lama saya dengar, dan saya fikir tidak perlulah saya ikut menanggapi karena sudah banyak yang menjawabnya, lagipula dari fakta sejarah yang ada, kedua tokoh komunis tersebut jelas-jelas pribumi asli Indonesia. Tapi lama-kelamaan kok saya lihat isu ini malah semakin liar, bahkan ada orang yang katanya “ahli nasab yang berpakaian ala ulama” dengan entengnya di sebuah podcast mengatakan bahwa DN Aidit dan Musso adalah Baalawi, jelas ini adalah ASBUN dilontarkan tanpa riset dan terkesan tendesius. Ini tentu berbahaya bagi generasi muda yang tidak tahu menahu akan sejarah bangsa.
Seperti yang kita fahami, Musso adalah tokoh utama pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, sedangkan DN Aidit dianggap bertanggungjawab atas terjadinya pemberontakan G 30 S PKI yang menyebabkan 6 Jenderal dan 1 Perwira Pertama ajudan Jenderal Nasution yang tewas mengenaskan.
Pertanyaannya, tanda apa, atau ciri yang seperti apa jika sosok Ahmad alias Amat alias Ganda alias Alamputra alias DN Aidit alias Djakfar Nawawi dan Munawar Musso Mardiansah alias Paul Musso alias Musada adalah dikatakan dari Bani Alawi ?
Nama Aidit menurut para pembatal nasab Bani Alawi jelas menunjukkan kalau tokoh nomor satu PKI di era tahun 60an itu adalah klan Al-Aidid yang merupakan rumpun keluarga Bani Alawi. Selain DN Aidit, nama Musso juga ikut diseret, karena didepan namanya terdapat nama Munawar yang menurut mereka adalah Bani Alawi. Al-Aidit dan Al-Munawar memang merupakan cabang pecahan keluarga dari Bani Alawi. Secara kebetulan mereka banyak ditemukan di Kota Palembang yang banyak terdapat Klan Bani Alawi terutama sejak abad 18 Masehi.
Namun, mengkaitkan nama DN Aidit dan Munawar Musso sebagai bagian dari Bani Alawi adalah sesuatu yang ahistoris dan asumsi liar.
Oleh karena itu mari kita coba pelajari siapa sesungguhnya kedua gembong komunis tersebut yang tentunya berdasarkan sumber-sumber sejarah yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan ketimbang hanya merupakan sebuah spekulasi hampa.
Pertama nama aslinya DN Aidit adalah Ahmad, ayahnya bernama Abdullah Aidit seorang mantri kehutanan , kakeknya bernama Haji Ismail pengusaha ikan yang cukup berhasil, sedangkan Ibunya bernama Mailan anak seorang Tuan Tanah (Tim Liputan DN Aidit, halaman 4).
Menurut Murad Aidit, DN Aidit adalah sosok yang tidak peduli benar dengan keluarga, dengan kata lain DN Aidit tidak terlalu peduli dengan “akar” keluarganya (Tim Liputan DN Aidit, halaman 5).
Secara lengkapnya silsilah singkat DN Aidit adalah : Ahmad atau Dipa Nusantara Aidit bin Abdullah Aidit bin Haji Ismail dan ibunya bernama Mailan binti Kiagus Abdurrahman. DN Aidit lahir di Belitung tanggal 30 Juli 1923,( Tim Liputan DN Aidit, halaman 8-9).
Abdullah Aidit mempunyai 8 anak laki-laki, dari pernikahannya dengan Mailan, ia mempunyai anak bernama Ahmad (DN Aidit), Basri, Ibrahim (wafat saat kecil), dan Murad. Abdullah kemudian menikah lagi dengan Marisah dan mempunyai anak Sobron dan Asahan. Keenam anaknya itu menyandang nama belakang “AIDIT”. “NAMUN BUKAN MARGA” kata Ibarruri Aidit, putri sulung DN Aidit. Dua anak lainnya, Rosiah dan Muhammad Thalib adalah bawaan Marisah dari suami terdahulunya. Keluarga Abdullah Aidit dahulunya dikenal sangat religius, bahkan Ahmad (DN Aidit) adalah tukang adzan di kampungnya (Tim Liputan DN Aidit KPG, halaman 10—11).
Di balik karir politiknya yang cemerlang, DN Aidit seperti mencoba mengibas bayang-yang keluarga dan masa lalunya di Belitung. Pada masa karir politiknya itulah, Aidit memutuskan mengganti namanya menjadi DIPA NUSANTARA AIDIT atau DN Aidit. Menurut adik-adiknya, penggantian nama itu adalah bentuk perhitungan politik Aidit. “Dia mulai membaca resiko”, kata Murad. Sejak namanya berubah memang tidak banyak orang tahu asal-usul Aidit. Dia sering disebut berdarah Minangkabau, dan DN di depan namanya adalah singkatan “DJAKFAR NAWAWI” (Tim Liputan DN Aidit, halaman 24).
Buku yang membahas Biografi DN Aidit ini sangat tergolong lengkap, sayangnya pada buku yang bagus ini saya tidak menemukan keterkaitan antara Bani Alawi dengan DN Aidit. Hanya satu data yang saya temukan mengenai keterkaitan nama Aidit, yaitu di tahun 1965 banyak orang mengira bahwa saat Abdullah Aidit menjadi angggota DPR adalah anggota perwakilan Masyumi, karena pada saat itu ada anggota DPR yang berasal dari Masyumi bernama Aidid (Tim Liputan DN Aidit, halaman 84).
Buku ini tidak satupun membahas tentang latar belakang keluarganya DN Aidit berdasarkan garis keturunan Bani Alawi, tidak ada satupun foto keluarga yang menunjukkan bahwa DN Aidit seorang Baalawi. DN Aidit lahir tahun 1923, ayahnya lahir tahun 1900, berarti kakeknya diperkirakan lahir tahun 1875-1880 (dengan jarak 20an tahun). Dan pada masa 1899 s/d 1928 bahkan sampai fase tahun 1960 pendataan nasab Bani Alawi itu masih terjaga, khususnya Dzuriyah Bani Alawi yang datang pada abad ke 18 sd/ ke 20 Masehi. Namun tidak ditemukan nama keluarga Abdullah Aidit atau Haji Ismail sebagai bagian dari Bani Alawi, justru kalau melacak ibunda DN Aidit yang berasal dari keluarga Kiagus itu mungkin bisa dilakukan, karena memang nama Kiagus adalah bangsawan Palembang yang bertebaran dimana-mana.
Sejarah DN Aidit seperti yang dikemukan diatas memang penuh kemisteriusan, oleh karena itu TIM TEMPO berusaha untuk membuka tabir-tabir yang selama ini tertutup.
Berdasarkan silsilah nasabnya, nama DN Aidit, atau ayahnya atau kakeknya tidak ditemukan dalam kitab “Silsilah Al-Junaid” maupun kitab “Syamsu Dzhohiroh”.
Ada sebuah informasi yang cukup menarik tentang sejarah DN Aidit berdasarkan fatwa sesepuh Alawiyin yang bermukim di Palembang yaitu As-Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dan dari sumber-sumber media cetak yang terbit sekitar tahun 1960, bahwa dinyatakan secara tegas bahwa nama DN Aidit bukanlah berasal dari Klan “Al-Aidid” (Muhammad Hasan Al-Aidid, halaman 30). Hal ini juga selaras dengan apa yang dikatakan putri sulung DN Aidit, bahwa nama Aidit yang disandang ayahnya bukan Marga.
Jelaslah dari penjelasan diatas DN Aidit bukanlah Bani Alawi, karena tidak satupun sejarah yang diungkapkan oleh Tim Tempo berdasarkan investigasi yang mendalam menyatakan bahwa DN Aidit adalah Bani Alawi.
Sekarang mari kita lacak siapa Musso ?
Lahir dengan nama Munawar Musso pada tahun 1897, ia tumbuh di desa Jagung, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri Jawa Timur, dia mempunyai adik bernama sidik. Ayahnya bernama Mas Martorejo, pegawai kantoran pada Bank di Kecamatan Wates. Masa kecilnya Musson dikenal alim dan rajin ke Mushola Arrahman milik Ki Demang Telo ayah dari sahabat kecilnya bernama Ronodiharjo (Tim Liputan Musso, halaman 2).
Versi lain yang tidak kalah mengejutkan dan semakin menguatkan siapa sesungguhnya Musso adalah bahwa Musso ternyata putra seorang kiai besar di Pagu, Kediri. Nama ayah Musso adalah KH Hasan Muhyi atau yang bisa dipanggil Rono Wijoyo, dan nama ibu Musso adalah Nyai Juru (Muhammad Ridzky Afrianto, halaman 512). Penelusuran
Merdeka.Com bahkan menemukan fakta bahwa Musso memang merupakan keluarga besar Ponpes Kapurejo dari 12 anak KH Hasan Muhyi. Hasil wawancara
Merdeka.com dengan KH Muqtafa di Desa Mukuh, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri semakin menegaskan bahwa benar memang Musso adalah anak KH Hasan Muhyi yang keturunan Mataram pelarian pasukan Diponegoro (wawancara reporter
Merdeka.com dengan KH Muqtafa/Kyai Tafa).
Musso adalah seorang kader Organisasi Syarikat Islam yang didirikan HOS Cokroaminoto dan kemudian nanti dia menyebrang ke ajaran komunis karena pengaruh Henk Snevliet. Musso dan Alimin kelak membuat blok merah di Syarikat Islam (Tim Liputan Musso, halaman 10).
Petunjuk bahwa Musso adalah berasal dari Klan Al-Munawar sangat meragukan, karena justru ada orang yang bernama Paulus Al-Gadri yang dianggap putra Musso memakai “marga” lain (Tim Liputan Musso, halaman 109). Dia adalah lulusan Akademi Hukum Militer berpangkat Kapten. Sosok Al-Gadri sangat mirip Musso, kuat dugaan nama Al-Gadri adalah SAMARAN karena berasal dari Timur Tengah dan nama Paulus adalah nama baptisnya setelah dia sering bertemu pendeta (Tim Liputan Musso, halaman 110). Waktu menikah dia menggunakan nama Muhammad Al-Gadri Kelahiran Surabaya tahun 1926 (Tim Liputan Musso 111). Sosok Paulus ini juga sulit terlacak sebagai bagian Bani Alawi karena memang pencatatan nasab Bani Alawi itu ketat dan terukur, sehingga tidaklah sembarangan dalam melakukan verifikasi nasab.
Sosok Paulus yang menggunakan nama Al-Gadri ini juga terindikasikan sebagai samaran, karena pada kenyataannya ayah Musso menurut versi pertama bernama Mas Martorejo dan versi kedua yang nampaknya lebih kuat Musso adalah anak dari seorang Kyai. Musso jelas seorang pribumi tulen, bukan Arab.
Secara biologis dan secara sosial DN Aidit dan Musso lahir dan besar dalam kultur Islam akan tetapi ketika dewasa keduanya lebih memilih ajaran komunis sampai kematiannya, dan ini bukanlah hal yang aneh dalam sejarah Islam karena sudah banyak contohnya sejak masa Nabi Adam sampai sekarang. DN Aidit dan Musso bukanlah sosok yang awam dalam bidang agama, mereka faham itu, tapi sebagai seorang anak, pada akhirnya mereka lebih memilih jalan hidupnya sendiri dengan jalan yang berbeda seperti ayah atau keluarga besarnya sekalipun mereka berasal dari keturunan yang baik dan lingkungan yang baik. Secara biologis mereka dapat dikatakan sebagai keturunan orang-orang yang baik yang tradisi keislamannya cukup bersinar, ayah DN Aidit bila dilacak sejarahanya ternyata seorang muslim yang baik, demikian pula Musso yang ternyata anak kyai, dan ini fakta sejarah. Perubahan sikap dari yang awalnya religius menjadi komunis tidak terlepas dari pergaulan dan arah pemikiran dengan fihak luar sampai kemudian menentukan sikap hidupnya.
Secara silsilah, sudah terlihat jelas bahwa keduanya bukanlah berasal dari Bani Alawi seperti selama ini yang disangka oleh para pembatal nasab Baalawi baik secara fakta dan data sejarah yang ada yang bisa dicari pada arsip-arsip sejarah yang ada. Aktifitas mereka bila dikaitkan dengan Bani Alawi juga sangat minim sekali baik itu berupa data maupun foto, padahal pada masa hidup mereka Bani Alawi keberadaannya sangat jelas terlihat. Hanya karena nama AIDIT lantas disebut sebagai keturunan Bani Alawi dari Klan “Al-Aidid”, sebuah kesimpulan yang salah kaprah bila dilihat dari bukti-bukti sejarah yang ada, dan hanya karena nama MUNAWAR tiba-tiba Musso distempelkan sebagai Habib dari Klan “Al-Munawar”. Padahal nama gelar “AL-MUNAWAR” itu selalu ditempatkan dibelakang nama pertama misalnya “Said Agil Al-Munawar”. Klan Al-Aidid dan Al-Munawar diasporanya lebih banyak di wilayah Palembang dan sampai saat ini masih ada keluarga besarnya, sehingga bisa dilacak, apakah nama DN Aidit dan MUNAWAR MUSSO itu bagian dari mereka. DN Aidit lahir dan besar di Belitung, Musso lahir dan besar di Kediri. Keberadaan keluarga Al-Aidid dan Al Munawar sekali lagi saya tegaskan lebih banyak di Palembang. Habib Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid, yang juga dikenal sebagai Wali keramat Pulang Panggang Kepulauan Seribu Jakarta bahkan sering berdakwah di wilayah Palembang. Sedangkan keluarga Al-Munawar adalah yang mendirikan Kampung Al Munawar dan merupakan salah satu keajaiban bersejarah yang berada di tepian Sungai Musi. Kampung ini berbentuk hunian etnis arab tertua yang tetap mempertahankan karakter lanskapnya sebagai organisasi tepian sungai.Sampai saat ini kampung Al-Munawar masih eksis dan bisa dilacak keberadaan keturunannya, dan silahkan cek apakah ada nama MUNAWAR MUSSO sebagai keturunan dari Klan Al-Munawar.
Oleh karena itu secara dikatakan bahwa DN Aidit adalah bukan seorang habib dari Bani Alawi, informasi DN Aidit seorang habib adalah HOAX dan ini sudah diumumkan pada situs “
https://www.komdigi.go.id/.../hoaks-petinggi-pki-dn-aidit...”, pada tanggal 27 September 2020. Sedangkan Musso juga bukan habib karena ada pengakuan dari KH Muqtafa/Kyai Tapa. Jelas ini adalah klaim-klaim yang ahistoris yang tidak memiliki dasar fakta sejarah maupun verifikasi dari lembaga pencatatan nasab yang sah.
Klaim-klaim semacam itu biasanya muncul dari disinformasi atau upaya mencocok-cocokkan nama (kemiripan ejaan seperti Aidit dengan Al-Aidid) tanpa merujuk pada dokumen silsilah atau catatan arsip sejarah yang valid. Dalam historiografi yang objektif, latar belakang keluarga dan rekam jejak tokoh-tokoh tersebut tercatat jelas melalui dokumen kolonial, arsip pergerakan nasional, serta catatan keluarga setempat di daerah asal mereka.
Memaksakan klaim bahwa kedua tokoh PKI itu sebagai Klan Bani Alawi adalah sebuah pemaksaan ilmiah yang tidak berdasar, absurd, liar dan jelas tidak relevan.
APAKAH SEORANG SAYYID BISA MENYIMPANG AKIDAHNYA ?
Apakah memang ada Sayyid yang menjadi seorang komunis ? Ada ! contoh adalah Sayyid Fachrul Baraqbah (Sekretaris CDB PKI Kalimantan Timur) yang pernah berpidato kongres PKI dan kemudian diterbitkan oleh Bintang Merah Nomor Special Jilid II, Dokumen-Dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959. Yayasan Pembaruan, Jakarta 1960.
Harus diakui memang Sayyid yang satu ini mempunyai sejarah yang “agak lain” berkaitan dengan fakta sejarah umum yang ada, dimana Bani Alawi banyak yang berkecimpung pada dunia sosial kemasyarakatan dan keagamaan, tapi apakah dengan komunisnya Sayyid Fahrul Baragbah, Klan Baraqbah yang ada di Kalimantan semua komunis dan menerima konsekuensi komunisnya Fahrul? Tentunya tidak, karena setiap perbuatan, yang bertanggung jawab adalah pribadi masing-masing, bukan klan atau marga. Sama seperti misalnya ada keturunan Nabi Muhammad SAW yang jelek akhlaknya atau keyakinannya menyimpang, atau munculnya oknum-oknum habib melakukan pendawiran, lantas habib-habib yang ulama, sufi, ilmuwan, tokoh masyarakat, tokoh Inspiratif, penyebar agama harus jelek dan hancur semua namanya ? tentu tidak…
Seorang habib yang “reputasinya buruk” menandakan bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW itu justru menegaskan bahwa mereka tidak maksum, justru adanya hal tersebut menjadi tugas habib habib yang lain atau ulama lain menata mereka agar mengikuti jejak para leluhurnya, bukan justru malah dihancurkan nasabnya hanya karena perbuatan buruk mereka. Layaknya memang seorang keturunan Nabi Muhammad SAW menjadi panutan dan contoh untuk umat, tapi juga harus diingat Keturunan Nabi Muhammad SAW jumlahnya jutaan, dan itu menyebar di berbagai negara, sehingga siapa yang bisa menjamin kehidupan mereka sesuai dengan ajaran leluhurnya, apalagi kalau mereka berada di negara-negara yang memang tidak perduli dengan keberadaan Keturunan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana dengan mereka yang lingkungan sarat keagamaan banyak tapi justru muncul penyimpangan ? ya sekali lagi itu adalah gambaran bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak maksum atau terbebas dari dosa, apalagi jika diantara mereka tidak dibekali dengan dasar-dasar ilmu agama yang baik oleh orangtuanya.
Berbicara tentang Sayyid Fahrul Baragbah adalah sebuah fenomena yang menurut saya agak unik dan “agak lain”. Sayyid Fahrul Baragbah yang merupakan sosok keturunan Arab dan pernah menjadi pejabat teras Partai Komunis Indonesia (PKI) di tingkat provinsi, di masa Demokrasi Terpimpin, Sayyid Fahrul Baraqbah adalah gambaran komunis tulen yang menurut saya, pada dasarnya keluarga besarnya pasti banyak juga yang tidak sepakat, terutama pada klan Baragbah Kalimantan. Namun jika kita melihat latar belakang perjuangannya sepertinya itu menjadi suatu benang merah kenapa dia menjadi seorang komunis.
Menurut Burhan Magenda tentang hal ini "Saya kira kemungkinan karena latar belakangnya, dia (Fachrul Barqbah) itu dulu pejuang waktu revolusi, dan kemudian bersikap anti kesultanan di Kaltim," kata Burhan Magenda, berdasarkan penelitiannya pada 1978-1979 untuk disertasi doktornya di Universitas Cornell, Ithaca, New York. Burhan Magenda kemudian menuliskan hasil penelitiannya itu di majalah Antropologi Indonesia, volume 29, nomor dua, 2005, dengan judul Dinamika Peranan Politik Keturunan Arab di Tingkat Lokal. Menurut Burhan, dia berhasil menemui keluarga Baraqbah di Kalimantan Timur, untuk kepentingan penelitiannya itu.
"Memang jarang ada keturunan Arab menjadi anggota PKI. Ini memang kasus yang khusus. Semacam anomali, karena biasanya keturunan Arab itu masuk partai Islam," katanya. "Dan untuk kasus di Kaltim ini, sepertinya ini terkait kepribadian tokoh ini, yaitu Fachrul Baraqbah," jelasnya. Dalam tulisannya, Fachrul disebut tidak menggunakan gelar kebangsawanannya. Setelah peristiwa G30S 1965, menurut Burhan Magenda, Fachrul Baraqbah ditahan oleh militer. "Saya kira dia aman (dari pembantaian), selamat. Sebab di luar Jawa tidak banyak pembunuhan," katanya. Sayid Fahrul Baraqbah adalah Gerilyawan Pro Republik, Pesindo Hingga Anggota MPRS dan Pimpinan PKI Kalimantan Timur. Dibebaskan Tahun 1984 Walau Sebelumnya Divonis Hukuman Mati.
Bagaimana pula dengan Sofyan Baraqbah ? Dia pun seorang Sayyid !
Dalam catatan Petrik Matanasi, selama hidupnya, Sofyan tak asing dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), juga Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) kemudian. Namanya juga tercantum dalam Dokumen-dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959. Menurut catatan Tempo, Sofyan meninggal di usia 48 tahun.
Dia lahir di Banjarmasin. Ajaran komunis dikenalnya di Medan, di mana dia juga bertemu istrinya, Nani Sumarni, di kota itu. Di Medan, Sofyan sudah menjadi Ketua Serikat Buruh Kiri Sarbupri/SOBSI Medan pada 1950. Dia kembali ke Banjarmasin pada 1954, menjadi tokoh PKI dan anggota parlemen di sana.
Di tahun 1959, Sofyan pindah lagi ke Pontianak. Di sana dia menjadi anggota Comite Daerah Besar Kalimantan Barat. Dia juga anggota Front Nasional. Sebagai insan partai komunis terpandang, Sofyan ikut menjadi dosen di sekolah partai yang terletak di Gang Nurdin, Pontianak.
Setelah G30S gagal dan lanskap politik Indonesia terhadap konfrontasi malaysia berubah, banyak sukarelawan Dwikora yang tergabung dalam PGRS enggan berhenti berkonfrontasi. Mereka pun disikat ABRI. Dengan mantan PGRS itu, Sofyan bersekutu. Menurut catatan A.M. Hendropriyono yang ikut serta penumpasan PGRS, "PKI gaya baru" pimpinan Sofyan dengan sisa PGRS melahirkan kekuatan yang disebut Barisan Rakyat (Bara) yang beroperasi sejak 1966 hingga 1974. Dalam pasukan PGRS itu terdapat trio Lim Fo Kui, Bong Kie Chock, dan Bong Hon yang bergerilya di hutan belukar perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan,
Namun sekali lagi, apakah dengan terlibatnya Sayyid Fahrul dan Sayyid Sofyan Baragbah, Klan Baragbah atau Bani Alawi harus menerima semuanya ?, tentu tidak dong, karena perbuatan kedua Sayyid ini jelas atas dasar pribadi dan pilihan politik masing-masing. Lagipula Klan Baragbah dan Bani Alawi juga banyak yang berjasa bahkan penentang keras keberadaan PKI pada masanya. Perbuatan seorang jelas yang menanggung dirinya sendiri, bukan orang lain. Seorang Ikrimah tidak menanggung dosa bapaknya yang bernama Abu Jahal, 2 anak Abu Lahab yang masuk Islam tidak menanggung dosa dari bapaknya.
Gelar keagamaan atau garis keturunan (nasab) tidak otomatis menentukan orientasi politik seseorang. Pilihan politik merupakan keputusan sadar individu yang dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan, pendidikan, dan pengalaman hidup, bukan sekadar warisan silsilah keluarga. Jadi bukanlah hal yang aneh jika seorang anak kyai atau anak habib mempunyai orientasi politik yang bersimpangan dengan ajaran yang luhur dari para leluhurnya.
Jika kita menengok sejarah yang ada, pada masa pergerakan nasional hingga awal kemerdekaan, ideologi kiri (marxisme/komunisme) sering dipandang oleh sebagian kalangan terutama para pemuda sebagai salah satu jalan paling radikal dan konsisten untuk melawan imperialisme serta kolonialisme Belanda, sehingga tidak heran orang-orang kritis pada masa itu diawasi secara ketat. Sebagian pemuda dari berbagai latar belakang termasuk keturunan Arab yang lahir dan besar di Nusantara banyak yang tertarik pada narasi pembebasan kelas, anti-feodalisme, dan keadilan sosial yang diusung oleh kelompok kiri.
Keturunan Arab di Indonesia tidak hidup dalam sebuah blok yang monolitik. Sekalipun pernah berdiri PAI (Partai Arab Indonesia) namun seiring dengan berjalannya waktu, generasi dari kelompok keturunan Arab terutama kaum pergerakan lama kelamaan melebur ke dalam berbagai lapisan masyarakat lokal dan spektrum politik yang lebih luas bahkan ini diakui oleh Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh besar bangsa. Sebagian besar memang bergabung dengan partai-partai Islam atau nasionalis, namun ada pula yang terseret ke dalam arus gerakan sosialis atau komunis yang saat itu menjadi salah satu kekuatan politik utama di Indonesia seperti Sayyid Sofyan Baragbah dan Sayyid Fahrul Baragbah, yang konseskuensinya telah mereka terima dalam kehidupan mereka nanti.
Keputusan seorang Sayyid menjadi komunis adalah pilihan hidup sama seperti misalnya Haji Muhammad Misbach (Ulama/Tokoh Sarekat Islam Merah) yang dikenal sebagai seorang ulama dan tokoh Sarekat Islam asal Kauman, Surakarta, yang dengan tegas memadukan pandangan keagamaan Islam dengan gagasan komunisme revolusioner untuk melawan kolonialisme Belanda, atau seperti Semaun dan Darsono di dalam tubuh organisasi Sarekat Islam yang melakukan menyoroti infiltrasi dan faksi kiri. Secara historis, gerakan komunis memang sering memposisikan diri sebagai pembela hak-hak buruh, petani, dan kelompok tertindas yang terpinggirkan oleh penguasa atau sistem ekonomi yang tidak adil, hal inilah yang membuat kaum muda pada masa lalu tertarik tidak terkecuali orang-orang Arab. Sayangnya komunisme ini menganggap agama sebagai alat manipulasi kelas penguasa dan penghambat kemajuan revolusi sosial. Karl Mark sebagai bapak pencetus komunis mengatakan bahwa agama adalah "Candu masyarakat". Marx menyebut agama sebagai opium karena dianggap memberikan hiburan semu bagi rakyat yang tertindas. Marx juga menyebut agama sebagai Penghambat revolusi. Agama dinilai membuat buruh pasrah pada nasib buruk di dunia demi imbalan di surga. Agama juga dianggap melanggengkan status quo. Komunisme melihat institusi agama sering bersekutu dengan penguasa kapitalis untuk menjaga kekuasaan. Meskipun teori awal Marx lebih bersifat analisis sosiologis sesuai dengan konteks pada masa itu, pemikiran ini menjadi sangat agresif ketika diadopsi oleh para pemimpin politik komunis seperti Vladimir Lenin di Uni Soviet atau Mao Zedong di Cina, dimana para tokoh-tokoh PKI di Indonesia menjadikan komunis Uni Soviet dan China kiblat pergerakan. Sehingga pada akhirnya Komunis dan Agama harus saling berhadapan dan merupakan “rival abadi” dalam sejarah bangsa ini.
Muhammad Hasan Al-Aidid, Petunjuk Monogram Silsilah Berikut Biografi dan Arti Gelar Masing-Masing Leluhur Alawiyin (Surabaya : Penerbt Amal Saleh, Cet 1, 1999).
Muhammad Ridzky Afrianto, dkk Musso’s Role in the PKI Rebellion in Madiun in 1948, HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Volume 12 (2) 2024.
Tim LIputan Khusus DN Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara (Jakarta: KPG, Cet 3, 2015).
Tim Liputan Musso, Musso Si Merah di Simpang Republik (Jakarta: KPG, Cet 1. 2011).
Wawancara Reporter
Merdeka.Com (Imam Mubarok Dengan Kyai Tafa), dan diterbitkan di
Merdeka.com Tanggal ) 4 Februari 2013.
Heyder Affan, 29 Oktober 2015, Ideologi politik keturunan Arab: Islamis, sosialis hingga komunis,