Kamis, 15 Oktober 2026

Manaqib Haji Yusuf Ishak, Guru Ngaji Saya Sejak Kecil Hingga Dewasa


Al Ustad Haji Yusuf bin H. Ishak saya sudah lama ingin menemui beliau ingin bermuzakarah. Saya akhirnya bertemu beliau dan berbincang-bincang beliau banyak memberikan wejangan dan nasehat-nasehat yg berharga yg tidak akan saya lupakan. Di samping itu saya menanyakan perihal kepada siapa beliau berguru dan belajar agama.

Yang mula-mula ialah beliau belajar kepada bapaknya sendiri yaitu Al Ustad Ishak kemudian beliau kepada bapaknya belajar baca kitab nahu, sharaf, tauhid, fiqih, tajwid dll, beliau 1 bangku dengan ustad Junaidi, beliau umur 8 thn sudah hafal Jurmiah.

1. Haji Ishak bapak haji Yusuf belajar kepada : 

2. K.H Mahmud (Menteng Sukabumi)

3. Muallim Tabaroni Paseban

4. Mualim Marzuki Plumpang

5. Mualim Abdul Hamid Utan Kayu

Kemudian pak Haji masuk Madrasah Muawwanah Ikhwan pimpinan Muallim Abdullah Muhrim yaitu menantu K.H Mahmud. Yg cukup terkenal beliau juga pernah belajar di Muallim Abdullah Muhrim dirumahnya yaitu tentang Sukabumi dengan para ustad-ustad. Asbabnya ialah dulu beliau disuruh baca kitab setelah baca beliau dilihat seluruh jamaah dan kemudian beliau ditanya siapa gurunya, akhirnya beliau disuruh datang kerumahnya dan beliau kemudian belajar, beliau sangat dicintai.

Kemudian beliau belajar di daerah Klender yaitu belajar Qiroah Sabaah oleh Ustad K.H. Abdul Rasyid Abdul Qiram bersama K.H. Tubagus Mansur Ma'mun, guru K.H. Abdul Rasyid waktu K.H (saya lupa) mungkin K.H. Suyuti atau Sholeh dari Banten.

Kemudian melanjutkan ke Paseban yaitu Ustad Memed Soleh juga dari Banten.

Beliau juga pernah ke Pesantren Darul Hadist Malang yaitu pada acara khaul, beliau datang dan mencatat namanya, tahu-tahu beliau tidak lama dipanggil sendiri saja oleh Alm Al-Habib Prof. DR. Abdullah Bilfaqih padahal banyak yg sudah menunggu orang2 (Sangat banyak). Beliau datang dan mencium paha beliau dan beliau disuruh baca kitab. Dan beliau diajak berkeliling beliau kemudian di baiat menjadi seorang murid thariqah Alawiah, selama 10 hari beliau tidak boleh pulang, beliau selalu diajak kesana kemari, terutama acara maulid. Yaitu Pasuruan dil habib Abdullah sangat cinta kepada beliau.

Pak haji juga cerita habib Abdullah ketika sedang naik mobil ditengah jalan mogok, beliau lihat isi bensin ternyata habis, beliau bilang"Tunggu sebentar saya mau ke kampung, beliau bawa dirigen, tidak lama beliau datang tapi dengan isi air, beliau tuang saja ke tempat tanki, sopir bingung akhirnya beliau bilang jalan ternyata mobil itu jalan (maha suci Allah). Pernah juga waktu beliau bacakan air dibotol, tiba tiba isi air bergerak-gerak. Pernah juga orang ingin memberikan uang 5000 di masjid padahal dia tidak punya ongkos pulang, dia hanya modal pasrah, ketika dikasihi itu uang Habib Abdullah bilang, "jangan ini untuk uang pulang" Ambil itu dibelakang untuk pulangmu, sambil menunjuk ke khodimnya dan memberikan 5000, orang itu setelah cium tangan kemudian dia menangis, pak Haji tanya kenapa, ternyata kemudian orang itu menjelaskan sambil terharu dan terisak isak beliau belajar juga sampai sekarang bersama K.H. Damanhuri Paseban yaitu menantu Muallim tabaroni yaitu kakek dari K.H Kamal Maulana beliau juga belajar Al Hikmah bersama K.H. Saki Banten beliau juga sangat dicintai oleh K.H. Saki, bahkan diakhir umur K.H. Saki memberikan foto dirinya, dan buah kelapa dan 3 bulan berikutnya beliau berpulang ke rahmatullah beliau juga belajar dengan ustad Nursalim yg cukup terkenal, beliau juga pernah disuruh Habib Umar Al attas, untuk membuka madrasah beliau juga belajar pada bapaknya dari kecil sampai menikah. Beliau juga pernah dipuji oleh seorang gurubesar yaitu lulusan dari mekah 10 thn mesir 16 thn dikatakan bahwa beliau kalau di mesir sudah sarjana."

Beliau ketika masuk madrasah langsung kelas 3 karena beliau sudah lancar dan bisa, beliau berkata bahwa beliau pernah difitnah bahwa beliau melarang bacaan sholowat di suatu musholla.

Beliau orangnya lembut tidak kasar dan pemaaf dan tidak mau menonjolkan, beliau mukanya bercahaya, tenang dan sejuk bila dipandang kitab-kitab beliau sangat banyak. beliau sangat gemar membaca-baca kitab.

Saya belajar dengan beliau dari umur 6 thn sampai 14 thn kemudian berhenti dan mulai lebih baru kelas 1 SMA semester kembali lagi dengan beliau selama 2 ½ tahun ngaji dengan beliau yaitu sendiri saja jam 7. sd 9.

Beliau sangat mahir dlm nahwu, sharaf.

Beliau juga belajar dengan mertua beliau

Beliau sebenarnya cukup alim sekali tetapi beliau tidak mau dibilang alim, kini dia sering berwirid dan tarekat alawiah (tepat jam 3.10)

Pak Haji waktu masuk Ibtidaiyah madrasah Muawwanul Ikhwan langsung kelas 3 karena sudah sangat pandai

Jadi seluruh guru beliau adalah : 

1.  Ayahnya Sendiri,  H. Ishak

2. K.H Abdul Rasyid Abdul qiram klender

3. ustad Memet Saleh Paseban

4. Muallim Abdullah Mukrom menteng suko

5. .H Saki Banten

6. ALHABIB Abdullah bilfaqih

7. Al Ustad Damanhuri Paseban beliau belajar juga di Habib Abdurrahman Assegaf

8. Ustad Nur Salim

๐—ž๐—˜๐—จ๐—ง๐—”๐— ๐—”๐—”๐—ก ๐—ข๐—ฅ๐—”๐—ก๐—š-๐—ข๐—ฅ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฌ๐—”๐— ๐—”๐—ก

  ๐—ฌ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—บ๐˜‚ ?

Sebuah negara yang kini banyak dibicarakan, khususnya dalam isu-isu nasab yang mutakhir. Sayangnya image yang muncul cukup miring. Kalau anda mengamati ketika Anis Baswedan maju sebagai Calon Presiden, isu Yaman ini terus menerus digulirkan sebagai bentuk kampanye hitam oleh mereka-mereka yang senang akan tema SARA. Setelah isu ini mereda, tiba-tiba kata Yaman bermunculan kembali dalam bentuk yang lebih variatif, kadang satire namun tidak jarang juga yang sarkas. Bahkan sekelas Presiden Prabowo pernah melontarkan kalimat, “Pergi Sana ke Yaman……” Seolah Yaman adalah negara tempat pembuangan.
Isu Yaman terus meluncur secara masif demi untuk meruntuhkan kredibiltas nasab Bani Alawi. Gambaran Yaman sebagai negara yang miskin, kacau, dan kisruh dikaitkan dengan identitas para Habaib di negeri ini. Beberapa akun yang saya dapati bahkan dengan entengnya menulis : “Kembalikan Para Kabib ke Yaman…..”, “Sana bela negeri kalian yang sedang kacau”, “Negerinya lagi kacau kok malah jualan disini….”, “dasar negara miskin”, "Idung Unta" , "Habib itu rasis sejak dari sananya", "Arab Yaman Kere" , "Negara kalian sendiri saja hancur dan miskin, tidak usah sok mengatur atau merasa paling mulia di negara orang lain." atau "Yaman itu negara gagal, makanya warganya kabur dan cari makan di Indonesia.", "Dulu leluhur kalian datang ke sini naik kapal dalam kondisi kelaparan dan ditampung oleh pribumi, sekarang malah mau menguasai tanah Jawa.", "Dasar Orang gurun", "Pemberi makan unta", “Budaya kami di nusantara jauh lebih beradab dari pada negara kalian”, "Lembaga nasab di Yaman itu bisa disuap", "Yaman itu sarang pemalsu sejarah demi menyembunyikan identitas asli mereka.", "Jangan biarkan budaya Yaman menjajah budaya Nusantara, mereka mau meng-Yaman-kan tanah Jawa yang damai ini dengan konflik mereka." Walisongo itu asli Jawa/Cina, klaim bahwa mereka dari Yaman adalah konspirasi imigran untuk menguasai sejarah kita.", "Kalau tidak suka aturan di sini, silakan angkat kaki dan pulang ke Yaman, biar kalian tahu rasanya hidup di sana." atau "Pemerintah harus mendeportasi semua keturunan Yaman agar Indonesia bersih dari konflik nasab.", "orang-orang Yaman datang ke Nusantara hanya untuk merampok identitas pahlawan lokal dan memalsukan silsilah demi dominasi sosial.", "ideologi padang pasir yang merusak kearifan lokal”, "Kalau tidak suka aturan di sini, silakan angkat kaki dan dideportasi massal kembali ke Yaman", "mereka kelompok eksklusif yang hanya mementingkan golongannya sendiri dan menganggap bangsa lain lebih rendah." Dll. Dengan kata lain, menyebut kata Yaman berarti sebuah negeri yang buruk seburuknya..
Kalimat-kalimat yang bermunculan diatas buat saya justru menjadi pemacu untuk mengetahui lebih dalam, apa benar gambaran seperti yang dikemukakan oleh para pembatal nasab Bani Alawi tersebut ? Sebegitu burukkah negara Yaman ? Jujur kalau boleh bercerita pengalaman saya bertemu dengan orang-orang Yaman saat menunaikan haji di tahun 2016, saya mendapatkan kesan positif yang mendalam, bahkan ketika saya menyebut diri dari Indonesia, mereka seperti bertemu dengan saudara sendiri.
Bagi saya, ketika mempelajari diaspora keturunan Imam Jakfar As-Shodiq melalui Imam Ali Al-Uraidhi, menjadi sebuah pertanyaan besar kenapa Imam Ahmad Al-Muhajir memilih Yaman khususnya Hadramaut menjadi tempat akhir menetap sekaligus sebagai basis dakwah beliau dan keturunannya sampai hari ini. Tentunya sebagai ahlul bait yang kedudukannya berilmu, beliau tidak akan sembarangan memilih tempat untuk menetap. Ketimbang memilih Hadramaut Yaman yang gersang dan kering kerontang, beliau bisa saja memilih Makkah dan Madinah atau negeri Islam lain yang lebih makmur, apalagi beliau juga mempunyai harta yang cukup. Tapi dalam sejarahnya Imam Ahmad Al-Muhajir memilih negeri Hadramaut di Yaman sebagai tempat akhir sampai wafatnya. Dan kelak nanti negeri Hadramaut Yaman menjadi termashur karena disana terdapat peradaban Islam yang banyak memunculkan tokoh-tokoh dari Bani Alawi.
Secara geografis dan derdasarkan letak wilayah, Republik Yaman merupakan sebuah Negara di Jazirah Arab yakni di Asia Barat Daya bagian dari Timur Tengah. Republik Yaman berbatasan dengan laut Arab di sebelah Selatan, teluk Aden dan laut merah di sebelah barat, Oman di sebalah timur dan Arab Saudi di sebelah utara. Menurut penelusuran sejarah diketahui bahwa orang-orang keturunan Arab di Indonesia berasal dari Negara Yaman. Penduduk Yaman diperkirakan berjumlah 23 juta jiwa dengan luas wilayah 530.000 km2, serta wilayah yang terdiri dari 200 pulau. Yaman adalah satu-satunya Negara yang berbentuk republic di jazirah Arab.
Berdasarkan beberapa sumber diketahui bahwa, Islam masuk ke Yaman bermula pada tahun 630 M. Nabi Muhammad SAW mengutus Ali bin Abi Thalib RA saudara sepupu sekaligus menantunya ke Sana'a dan sekitarnya untuk menyampaikan syiar Islam. Republik Yaman Pada waktu itu, merupakan wilayah yang paling maju di Semenanjung Arabia. Adapun yang tercatat sebagai kabilah yang pertama menerima Islam waktu itu adalah Bani Hamdan.
Negara yang memiliki beberapa pulau terpisah ini memiliki kekayaan sejarah peradaban kuno sejak ribuan tahun lalu.Dalam catatan sejarah, Yaman menjadi bagian pusat perdagangan antara India, Cina, Afrika, dan Mediterania.
Sejak awal, Yaman berada di garis depan pasukan Islam yang berkembang dan dipercayakan sejumlah tugas penting.
Selama partisipasi mereka dalam tentara Islam, Yaman mentransfer banyak pengetahuan.
Mereka dengan jelas dan jelas berpartisipasi dalam mendirikan kota dan membangun benteng, serta pembangunan istana dan keterampilan lainnya.
Keterlibatan Yaman dalam perjalanan peristiwa tidak berhenti selama Kekhalifahan. Kontribusi Yaman terhadap pencapaian peradaban gemilang umat muslim abad pertengahan sangat besar.banyak dari penduduk yang terjun di kancah kemiliteran kekhalifahan. Penduduk Yamanturut serta dalam ekspedisi perluasan wilayah Islam yang berakhir sukses.
Dalam kedudukannya pada sejarah Islam, Yaman ternyata mendapat tempat khusus dihati Rasulullah SAW, sehingga tidak sedikit hadist-hadist yang muncul tentang keutamaan Yaman, selain itu di Al-Quran juga terdapat hal tersebut.
Pertanyaannya sekarang, apakah mereka yang selama ini membenci negeri Yaman pernah membaca semua itu ? Ini penting diutarakan agar kita dalam menilai sesuatu itu lebih jernih dan terbuka, sehingga pada akhirnya kita bisa adil dalam menilai sesuatu.
Yaman adalah negeri yang banyak disebut Rasulullah SAW juga disinggung dalam Al-Qur'an.
Berdasarkan ayat Al-Qur’an, keutamaan Yaman terdapat dalam beberapa ayat seperti :
1. Allah subhanahu wa ta’ala telah memberkahi negeri yaman, dan berfirman bahwa negeri saba’ (sebuah negeri di yaman) adalah sebuah negeri yang baik, sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat Saba’ 15 : “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda [kekuasaan Tuhan] di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. [Kepada mereka dikatakan]: “Makanlah olehmu dari rezki yang [dianugerahkan] Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. [Negerimu] adalah negeri yang baik dan [Tuhanmu] adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (15)” (QS. Saba’ 15).
2. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas [pemberian-Nya] lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Maidah 54).
Kaum yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan di atas, sebagai kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, mereka adalah bangsa yaman, sebagaimana datang penjelasan tafsir ayat di atas dalam hadits di bawah ini.
Menurut Imam Al Qurtubi dalam tafsirnya yaitu penduduk negeri Yaman ialah kaumnya sahabat Abu Musa al Asy-‘asy’ari radhiyallahu’anhu. “Turunnya ayat tersebut; terang Imam Al Qurtubi, berkaitan dengan kabilah yang bernama al Asy-‘ari. Dalam riwayat dikatakan: sesudah ayat tersebut turun, beberapa rombongan kapal dari kabilah al Asy-‘ari dan kabilah-kabilah lainnya dari negeri Yaman, datang dari jalur laut. Mereka ialah kaum muslimin yang tertindas di negerinya ketika masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam masih hidup. Merekalah yang memiliki jasa dalam penaklukan negeri Irak (melalui perang Al Qodisiyyah) ketika masa kekhilafahan Umar radhiyallahu’anhu.”
Diriwayatkan pula oleh Imam Ath-tabrani dari sahabat jabir bin abdillah bahwasanya beliau berkata : Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam telah ditanya tentang firman Allah (“maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya“) beliau berkata : mereka adalah sekelompok kaum dari negeri yaman.
Sedangkan jika lihat berdasarkan Hadist, keutamaan Yaman sangat banyak yang diantaranya adalah :
1. Nabi Bersabda sambil memberi isyarat dengan tangan ke arah Yaman, “Ingatlah, sesungguhnya iman ada di sini (Yaman), sedangkan kekerasan dan kekakuan hati ada pada penggembala yang bersuara keras di dekat pangkal ekor unta ketika muncul sepasang tanduk syaithan pada Bani Rabฤซ‘ah dan Bani Mudhar.” (HR. Muslim no.72).
2. Dari Abลซ Hurairah dia berkata: “Rasลซlullฤh shallallฤhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah kaum yang paling lembut hatinya. Iman ada pada orang Yaman. Fiqh juga ada pada orang Yaman. Hikmah juga ada pada orang Yaman.” (Shaแธฅฤซแธฅ Muslim 73).
3. Dari Abลซ Hurairah bahwa Rasลซlullฤh shallallฤhu ‘alaihi wa sallam berkata: “Puncak kekafiran berada pada arah timur (daerah kaum majusi), dan kebanggaan dan kesombongan ada pada pemilik kuda dan unta yang menggembala, yaitu kaum Badui, sedangkan ketenangan ada pada penggembala kambing (maksudnya penduduk Yaman).” (HR. Muslim no.75).
4. Dari Abลซ Hurairah bahwa Rasลซlullฤh shallallฤhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu ada pada Yaman, kekufuran itu ada pada arah timur (maksudnya kaum Majusi), ketenangan ada pada penggembala kambing (maksudnya penduduk Yaman), dan kesombongan dan riya’ itu ada pada orang-orang yang bersuara keras; pengembala kuda dan unta (orang Badui).” (HR. Muslim no.76).
5. Jฤbir bin ‘Abdullฤh berkata: “Rasลซlullฤh shallallฤhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Keras dan keringnya hati berada pada orang Timur, sedangkan iman berada pada ahli แธคijฤz.” (HR. Muslim no.80).
6. Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu’alaihi wasallam berdoa, “Ya Allah… berkahilah kami pada negeri Syam kami. Ya Allah… berkahilah kami pada negeri Yaman kami” (HR. Bukhori dan Ahmad).
7. Suatu ketika, cerita Jubair bin Muth’im, kami bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan antara Makkah dan Madinah. Saat itu Nabi bersabda : “Hampir-hampir bangsa Yaman melebihi kalian. Mereka bak segumpal awan. Mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi.” (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Al-Baihaqi).
8. Rasulullah bersabda, “Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang, satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Hendaklah kalian memilih Syam. Karena ia adalah negeri pilihan Allah. Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya. Jika tak bisa, hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah minum (hewan kalian) dari kolam-kolam (di lembahnya). Karena Allah menjamin untukku negeri Syam serta penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban).
9. Anas bin Malik berkata, “Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepada kalian penduduk Yaman. Merekalah pelopor pertama dalam hal berjabat tangan.
10. Sahabat Anas bin Malik menceritakan, “Suatu hari, beberapa orang dari negeri Yaman datang menemui Rasululloh shallallahu’alaihi wasallam, seraya berkata, “Wahai Rasululloh, kirimkanlah untuk kami seseorang yang akan mengajari kami sunnah dan Islam.. Lalu Rasulullah menarik tangan Abu Ubaidah seraya bersabda, “Ini orangnya, dialah penjaga umat ini.”
11. Dari Abu Sa’id al Khudri radhiyallahu’anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya akan datang kaum, yang kalian akan merasa minder jika membandingkan amalan kalian dengan amalan mereka“.“Apakah mereka kaum dari kaum Quraisy ya Rasulullah?” Tanya para Sahabat. “Bukan, mereka adalah penduduk Yaman.” jawab Rasulullah.” (HR. Ibnu Abi Ashim, dishohihkan oleh Imam Muqbil Al-Wadi’i).
12. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau mengatakan, “Penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian. Mereka adalah orang yang paling lembut hatinya. Iman itu ada pada yaman, Fiqih ada pada Yaman, dan hikmah ada pada Yaman.” (HR. Imam Ahmad).
13. Telah menceritakan kepada kami [Abul Yaman]. Telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] Telah menceritakan kepada kami [Abu Zinad] dari [Al A'raj] dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang perasaan (sensitive) dan hatinya paling lembut, kefaqihan dari Yaman, hikmah ada pada orang Yaman." (Shahih Bukhari 4039).
14. Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: telah menceritakan kepada kami [Abu Awanah] dari [Al A'masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Sa'id] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlan kalian mencela sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sekiranya salah seorang dari kalian bersedekah dengan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak akan bisa menyamai sedekah mereka meski hanya satu mud atau pun setengahnya." (Sunan Abu Daud 4039).
15. Dari sahabat zaid bin tsabit : bahwasanya Nabi mengarahkan pandangannya ke arah negeri yaman, kemudian beliau berkata : Ya Allah… jadikanlah di hati mereka kelapangan dalam menerima islam [HR. Tirmidzi).
16. Diriwayatkan dari abdullah bin umar bahwasanya nabi berdo’a : Ya Allah berkahilah kami pada Yaman kami (negeri Yaman) [HR. A-Bukhari].
17. Diriwayatkan dari sahabat ‘Imron bin Husein, beliau berkata : suatu hari aku berada di samping rosulullah shalallahu alaihi wa sallam tatkala datang kepada beliau sekelompok kaum dari bani tamim, maka berkata rosulullah shalallahu alaihi wa sallam kepada mereka, “aku sampaikan kepada kalian berita gembira (seruan kepada islam dan balasannya berupa surga), mereka berkata kepada rosulullah shalallahu alaihi wa sallam : engkau telah memberi kami kabar gembira, maka berilah kepada kami sesuatu (sebagai hadiah) –maka berubahlah wajah rosulullah- kemudian datang penduduk yaman menemui rasulullah, maka berkatalah rosulullah shalallahu alaihi wa sallam kepada mereka “ wahai para penduduk yaman aku sampaikan kepada kalian berita gembira (seruan kepada islam dan balasannya berupa surga) yang mana bani tamim tidak menerima kabar gembira tersebut dariku, ahlu yaman berkata kepada rosulullah shalallahu alaihi wa sallam : kami menerima seruan engkau, kami mendatangi engkau dalam rangka mempelajari agama.” [HR. Al-Bukhari].
18. Penduduk Yaman adalah sebaik-baik penduduk bumi, Dari jubair bin muthim berkata : suatu ketika kami bersama rasulullah di suatu jalan antara makkah dan madinah, maka berkata rasulullah : hampir-hampir saja bangsa yaman melebihi kalian, seakan-akan mereka seperti gumpalan awan, mereka adalah sebaik-baik penduduk bumi. [HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Al-Baihaqi].
19. Dari sahabat ‘amr bin abasah rasulullah bersabda : sebaik-baik lelaki adalah lelaki penduduk yaman” [HR. Imam Ahmad, Al-Bukhari].
20. Dari abu sa’id al-khudri berkata : rasulullah berkata : “sesungguhnya akan datang suatu kaum yang kalian akan merasa minder jika membandingkan amalan kalian dengan amalan mereka” sahabat anas bin malik bertanya : wahai rosulullah, apakah mereka kaum dari kaum quraisy ? berkata rosulullah : “Tidak, akan tetapi mereka adalah kaum dari negeri yaman” [HR. Ibnu Abi Ashim].
21. Berkata Imam ibnu jarir ath-thabari dalam tafsirnya : “sesungguhnya Allah mendatangkan ahlu yaman pada masa kekhilafan umar bin khotob, kala itu sikap mereka terhadap ajaran agama islam merupakan yang paling baik diantara kaum-kaum yang lain yang memeluk islam [dari luar mekkah dan madinah] dan mereka pada waktu itu adalah kaum yang paling banyak memberi pertolongan kepada kaum muslimin.
22. Dari Ibnu Abbas berkata : Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata : akan keluar dari antara kota aden dan kota abyan 12.000 orang yang akan menolong agama Allah dan menolong Rasul-Nya.
Wallahu A'lam Bisshowwab...
"Kebenaran Hanya Milik Allah, kesalahan milik Al-Faqir"
• Dikutif dari berbagai sumber

๐——๐—ก ๐—”๐—œ๐——๐—œ๐—ง ๐——๐—”๐—ก ๐— ๐—จ๐—ฆ๐—ฆ๐—ข ๐——๐—”๐—ฅ๐—œ ๐—•๐—”๐—ก๐—œ ๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ช๐—œ ? ๐—”๐—ฃ๐—”๐—ž๐—”๐—› ๐—ฆ๐—˜๐—ข๐—ฅ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฆ๐—”๐—ฌ๐—ฌ๐—œ๐—— ๐—ง๐—˜๐—ฅ๐—•๐—˜๐—•๐—”๐—ฆ ๐——๐—”๐—ฅ๐—œ ๐—”๐—ž๐—œ๐——๐—”๐—› ๐— ๐—˜๐—ก๐—ฌ๐—œ๐— ๐—ฃ๐—”๐—ก๐—š ?

Salah satu tuduhan yang gencar guna menghancurkan kredibilitas nasab Bani Alawi dengan menuduh bahwa 2 Gembong besar PKI adalah berasal dari Bani Alawi. Tuduhan itu sampai saat ini masih terus disebarkan baik itu berupa meme, Podcast dan tayangan-tayangan di medsos. Mereka yang menuduh itu sangat percaya diri dan yakin 11.000 Trilyun % bahwa kedua tokoh komunis yang penuh dengan kontroversial kehidupannya itu adalah Bani Alawi, titik dan tidak pakai koma.
Dulu mereka teriak-teriak, awas gerakan Baalawisasi ! Tapi sekarang nyatanya, tokoh-tokoh “jahat” dalam sejarah bangsa ini yang tidak ada kaitannya dengan Bani Alawi, malah didengung-dengungkan sebagai Bani Alawi.
Sebenarnya isu bahwa DN Aidit dan Musso sudah lama saya dengar, dan saya fikir tidak perlulah saya ikut menanggapi karena sudah banyak yang menjawabnya, lagipula dari fakta sejarah yang ada, kedua tokoh komunis tersebut jelas-jelas pribumi asli Indonesia. Tapi lama-kelamaan kok saya lihat isu ini malah semakin liar, bahkan ada orang yang katanya “ahli nasab yang berpakaian ala ulama” dengan entengnya di sebuah podcast mengatakan bahwa DN Aidit dan Musso adalah Baalawi, jelas ini adalah ASBUN dilontarkan tanpa riset dan terkesan tendesius. Ini tentu berbahaya bagi generasi muda yang tidak tahu menahu akan sejarah bangsa.
Seperti yang kita fahami, Musso adalah tokoh utama pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, sedangkan DN Aidit dianggap bertanggungjawab atas terjadinya pemberontakan G 30 S PKI yang menyebabkan 6 Jenderal dan 1 Perwira Pertama ajudan Jenderal Nasution yang tewas mengenaskan.
Pertanyaannya, tanda apa, atau ciri yang seperti apa jika sosok Ahmad alias Amat alias Ganda alias Alamputra alias DN Aidit alias Djakfar Nawawi dan Munawar Musso Mardiansah alias Paul Musso alias Musada adalah dikatakan dari Bani Alawi ?
Nama Aidit menurut para pembatal nasab Bani Alawi jelas menunjukkan kalau tokoh nomor satu PKI di era tahun 60an itu adalah klan Al-Aidid yang merupakan rumpun keluarga Bani Alawi. Selain DN Aidit, nama Musso juga ikut diseret, karena didepan namanya terdapat nama Munawar yang menurut mereka adalah Bani Alawi. Al-Aidit dan Al-Munawar memang merupakan cabang pecahan keluarga dari Bani Alawi. Secara kebetulan mereka banyak ditemukan di Kota Palembang yang banyak terdapat Klan Bani Alawi terutama sejak abad 18 Masehi.
Namun, mengkaitkan nama DN Aidit dan Munawar Musso sebagai bagian dari Bani Alawi adalah sesuatu yang ahistoris dan asumsi liar.
Oleh karena itu mari kita coba pelajari siapa sesungguhnya kedua gembong komunis tersebut yang tentunya berdasarkan sumber-sumber sejarah yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan ketimbang hanya merupakan sebuah spekulasi hampa.
SEJARAH SINGKAT DN AIDIT
Pertama nama aslinya DN Aidit adalah Ahmad, ayahnya bernama Abdullah Aidit seorang mantri kehutanan , kakeknya bernama Haji Ismail pengusaha ikan yang cukup berhasil, sedangkan Ibunya bernama Mailan anak seorang Tuan Tanah (Tim Liputan DN Aidit, halaman 4).
Menurut Murad Aidit, DN Aidit adalah sosok yang tidak peduli benar dengan keluarga, dengan kata lain DN Aidit tidak terlalu peduli dengan “akar” keluarganya (Tim Liputan DN Aidit, halaman 5).
Secara lengkapnya silsilah singkat DN Aidit adalah : Ahmad atau Dipa Nusantara Aidit bin Abdullah Aidit bin Haji Ismail dan ibunya bernama Mailan binti Kiagus Abdurrahman. DN Aidit lahir di Belitung tanggal 30 Juli 1923,( Tim Liputan DN Aidit, halaman 8-9).
Abdullah Aidit mempunyai 8 anak laki-laki, dari pernikahannya dengan Mailan, ia mempunyai anak bernama Ahmad (DN Aidit), Basri, Ibrahim (wafat saat kecil), dan Murad. Abdullah kemudian menikah lagi dengan Marisah dan mempunyai anak Sobron dan Asahan. Keenam anaknya itu menyandang nama belakang “AIDIT”. “NAMUN BUKAN MARGA” kata Ibarruri Aidit, putri sulung DN Aidit. Dua anak lainnya, Rosiah dan Muhammad Thalib adalah bawaan Marisah dari suami terdahulunya. Keluarga Abdullah Aidit dahulunya dikenal sangat religius, bahkan Ahmad (DN Aidit) adalah tukang adzan di kampungnya (Tim Liputan DN Aidit KPG, halaman 10—11).
Di balik karir politiknya yang cemerlang, DN Aidit seperti mencoba mengibas bayang-yang keluarga dan masa lalunya di Belitung. Pada masa karir politiknya itulah, Aidit memutuskan mengganti namanya menjadi DIPA NUSANTARA AIDIT atau DN Aidit. Menurut adik-adiknya, penggantian nama itu adalah bentuk perhitungan politik Aidit. “Dia mulai membaca resiko”, kata Murad. Sejak namanya berubah memang tidak banyak orang tahu asal-usul Aidit. Dia sering disebut berdarah Minangkabau, dan DN di depan namanya adalah singkatan “DJAKFAR NAWAWI” (Tim Liputan DN Aidit, halaman 24).
Buku yang membahas Biografi DN Aidit ini sangat tergolong lengkap, sayangnya pada buku yang bagus ini saya tidak menemukan keterkaitan antara Bani Alawi dengan DN Aidit. Hanya satu data yang saya temukan mengenai keterkaitan nama Aidit, yaitu di tahun 1965 banyak orang mengira bahwa saat Abdullah Aidit menjadi angggota DPR adalah anggota perwakilan Masyumi, karena pada saat itu ada anggota DPR yang berasal dari Masyumi bernama Aidid (Tim Liputan DN Aidit, halaman 84).
Buku ini tidak satupun membahas tentang latar belakang keluarganya DN Aidit berdasarkan garis keturunan Bani Alawi, tidak ada satupun foto keluarga yang menunjukkan bahwa DN Aidit seorang Baalawi. DN Aidit lahir tahun 1923, ayahnya lahir tahun 1900, berarti kakeknya diperkirakan lahir tahun 1875-1880 (dengan jarak 20an tahun). Dan pada masa 1899 s/d 1928 bahkan sampai fase tahun 1960 pendataan nasab Bani Alawi itu masih terjaga, khususnya Dzuriyah Bani Alawi yang datang pada abad ke 18 sd/ ke 20 Masehi. Namun tidak ditemukan nama keluarga Abdullah Aidit atau Haji Ismail sebagai bagian dari Bani Alawi, justru kalau melacak ibunda DN Aidit yang berasal dari keluarga Kiagus itu mungkin bisa dilakukan, karena memang nama Kiagus adalah bangsawan Palembang yang bertebaran dimana-mana.
Sejarah DN Aidit seperti yang dikemukan diatas memang penuh kemisteriusan, oleh karena itu TIM TEMPO berusaha untuk membuka tabir-tabir yang selama ini tertutup.
Berdasarkan silsilah nasabnya, nama DN Aidit, atau ayahnya atau kakeknya tidak ditemukan dalam kitab “Silsilah Al-Junaid” maupun kitab “Syamsu Dzhohiroh”.
Ada sebuah informasi yang cukup menarik tentang sejarah DN Aidit berdasarkan fatwa sesepuh Alawiyin yang bermukim di Palembang yaitu As-Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dan dari sumber-sumber media cetak yang terbit sekitar tahun 1960, bahwa dinyatakan secara tegas bahwa nama DN Aidit bukanlah berasal dari Klan “Al-Aidid” (Muhammad Hasan Al-Aidid, halaman 30). Hal ini juga selaras dengan apa yang dikatakan putri sulung DN Aidit, bahwa nama Aidit yang disandang ayahnya bukan Marga.
Jelaslah dari penjelasan diatas DN Aidit bukanlah Bani Alawi, karena tidak satupun sejarah yang diungkapkan oleh Tim Tempo berdasarkan investigasi yang mendalam menyatakan bahwa DN Aidit adalah Bani Alawi.
Sekarang mari kita lacak siapa Musso ?
SEJARAH SINGKAT MUSSO
Lahir dengan nama Munawar Musso pada tahun 1897, ia tumbuh di desa Jagung, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri Jawa Timur, dia mempunyai adik bernama sidik. Ayahnya bernama Mas Martorejo, pegawai kantoran pada Bank di Kecamatan Wates. Masa kecilnya Musson dikenal alim dan rajin ke Mushola Arrahman milik Ki Demang Telo ayah dari sahabat kecilnya bernama Ronodiharjo (Tim Liputan Musso, halaman 2).
Versi lain yang tidak kalah mengejutkan dan semakin menguatkan siapa sesungguhnya Musso adalah bahwa Musso ternyata putra seorang kiai besar di Pagu, Kediri. Nama ayah Musso adalah KH Hasan Muhyi atau yang bisa dipanggil Rono Wijoyo, dan nama ibu Musso adalah Nyai Juru (Muhammad Ridzky Afrianto, halaman 512). Penelusuran Merdeka.Com bahkan menemukan fakta bahwa Musso memang merupakan keluarga besar Ponpes Kapurejo dari 12 anak KH Hasan Muhyi. Hasil wawancara Merdeka.com dengan KH Muqtafa di Desa Mukuh, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri semakin menegaskan bahwa benar memang Musso adalah anak KH Hasan Muhyi yang keturunan Mataram pelarian pasukan Diponegoro (wawancara reporter Merdeka.com dengan KH Muqtafa/Kyai Tafa).
Musso adalah seorang kader Organisasi Syarikat Islam yang didirikan HOS Cokroaminoto dan kemudian nanti dia menyebrang ke ajaran komunis karena pengaruh Henk Snevliet. Musso dan Alimin kelak membuat blok merah di Syarikat Islam (Tim Liputan Musso, halaman 10).
Petunjuk bahwa Musso adalah berasal dari Klan Al-Munawar sangat meragukan, karena justru ada orang yang bernama Paulus Al-Gadri yang dianggap putra Musso memakai “marga” lain (Tim Liputan Musso, halaman 109). Dia adalah lulusan Akademi Hukum Militer berpangkat Kapten. Sosok Al-Gadri sangat mirip Musso, kuat dugaan nama Al-Gadri adalah SAMARAN karena berasal dari Timur Tengah dan nama Paulus adalah nama baptisnya setelah dia sering bertemu pendeta (Tim Liputan Musso, halaman 110). Waktu menikah dia menggunakan nama Muhammad Al-Gadri Kelahiran Surabaya tahun 1926 (Tim Liputan Musso 111). Sosok Paulus ini juga sulit terlacak sebagai bagian Bani Alawi karena memang pencatatan nasab Bani Alawi itu ketat dan terukur, sehingga tidaklah sembarangan dalam melakukan verifikasi nasab.
Sosok Paulus yang menggunakan nama Al-Gadri ini juga terindikasikan sebagai samaran, karena pada kenyataannya ayah Musso menurut versi pertama bernama Mas Martorejo dan versi kedua yang nampaknya lebih kuat Musso adalah anak dari seorang Kyai. Musso jelas seorang pribumi tulen, bukan Arab.
ANALISIS
Secara biologis dan secara sosial DN Aidit dan Musso lahir dan besar dalam kultur Islam akan tetapi ketika dewasa keduanya lebih memilih ajaran komunis sampai kematiannya, dan ini bukanlah hal yang aneh dalam sejarah Islam karena sudah banyak contohnya sejak masa Nabi Adam sampai sekarang. DN Aidit dan Musso bukanlah sosok yang awam dalam bidang agama, mereka faham itu, tapi sebagai seorang anak, pada akhirnya mereka lebih memilih jalan hidupnya sendiri dengan jalan yang berbeda seperti ayah atau keluarga besarnya sekalipun mereka berasal dari keturunan yang baik dan lingkungan yang baik. Secara biologis mereka dapat dikatakan sebagai keturunan orang-orang yang baik yang tradisi keislamannya cukup bersinar, ayah DN Aidit bila dilacak sejarahanya ternyata seorang muslim yang baik, demikian pula Musso yang ternyata anak kyai, dan ini fakta sejarah. Perubahan sikap dari yang awalnya religius menjadi komunis tidak terlepas dari pergaulan dan arah pemikiran dengan fihak luar sampai kemudian menentukan sikap hidupnya.
Secara silsilah, sudah terlihat jelas bahwa keduanya bukanlah berasal dari Bani Alawi seperti selama ini yang disangka oleh para pembatal nasab Baalawi baik secara fakta dan data sejarah yang ada yang bisa dicari pada arsip-arsip sejarah yang ada. Aktifitas mereka bila dikaitkan dengan Bani Alawi juga sangat minim sekali baik itu berupa data maupun foto, padahal pada masa hidup mereka Bani Alawi keberadaannya sangat jelas terlihat. Hanya karena nama AIDIT lantas disebut sebagai keturunan Bani Alawi dari Klan “Al-Aidid”, sebuah kesimpulan yang salah kaprah bila dilihat dari bukti-bukti sejarah yang ada, dan hanya karena nama MUNAWAR tiba-tiba Musso distempelkan sebagai Habib dari Klan “Al-Munawar”. Padahal nama gelar “AL-MUNAWAR” itu selalu ditempatkan dibelakang nama pertama misalnya “Said Agil Al-Munawar”. Klan Al-Aidid dan Al-Munawar diasporanya lebih banyak di wilayah Palembang dan sampai saat ini masih ada keluarga besarnya, sehingga bisa dilacak, apakah nama DN Aidit dan MUNAWAR MUSSO itu bagian dari mereka. DN Aidit lahir dan besar di Belitung, Musso lahir dan besar di Kediri. Keberadaan keluarga Al-Aidid dan Al Munawar sekali lagi saya tegaskan lebih banyak di Palembang. Habib Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid, yang juga dikenal sebagai Wali keramat Pulang Panggang Kepulauan Seribu Jakarta bahkan sering berdakwah di wilayah Palembang. Sedangkan keluarga Al-Munawar adalah yang mendirikan Kampung Al Munawar dan merupakan salah satu keajaiban bersejarah yang berada di tepian Sungai Musi. Kampung ini berbentuk hunian etnis arab tertua yang tetap mempertahankan karakter lanskapnya sebagai organisasi tepian sungai.Sampai saat ini kampung Al-Munawar masih eksis dan bisa dilacak keberadaan keturunannya, dan silahkan cek apakah ada nama MUNAWAR MUSSO sebagai keturunan dari Klan Al-Munawar.
Oleh karena itu secara dikatakan bahwa DN Aidit adalah bukan seorang habib dari Bani Alawi, informasi DN Aidit seorang habib adalah HOAX dan ini sudah diumumkan pada situs “https://www.komdigi.go.id/.../hoaks-petinggi-pki-dn-aidit...”, pada tanggal 27 September 2020. Sedangkan Musso juga bukan habib karena ada pengakuan dari KH Muqtafa/Kyai Tapa. Jelas ini adalah klaim-klaim yang ahistoris yang tidak memiliki dasar fakta sejarah maupun verifikasi dari lembaga pencatatan nasab yang sah.
Klaim-klaim semacam itu biasanya muncul dari disinformasi atau upaya mencocok-cocokkan nama (kemiripan ejaan seperti Aidit dengan Al-Aidid) tanpa merujuk pada dokumen silsilah atau catatan arsip sejarah yang valid. Dalam historiografi yang objektif, latar belakang keluarga dan rekam jejak tokoh-tokoh tersebut tercatat jelas melalui dokumen kolonial, arsip pergerakan nasional, serta catatan keluarga setempat di daerah asal mereka.
Memaksakan klaim bahwa kedua tokoh PKI itu sebagai Klan Bani Alawi adalah sebuah pemaksaan ilmiah yang tidak berdasar, absurd, liar dan jelas tidak relevan.
APAKAH SEORANG SAYYID BISA MENYIMPANG AKIDAHNYA ?
Apakah memang ada Sayyid yang menjadi seorang komunis ? Ada ! contoh adalah Sayyid Fachrul Baraqbah (Sekretaris CDB PKI Kalimantan Timur) yang pernah berpidato kongres PKI dan kemudian diterbitkan oleh Bintang Merah Nomor Special Jilid II, Dokumen-Dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959. Yayasan Pembaruan, Jakarta 1960.
Harus diakui memang Sayyid yang satu ini mempunyai sejarah yang “agak lain” berkaitan dengan fakta sejarah umum yang ada, dimana Bani Alawi banyak yang berkecimpung pada dunia sosial kemasyarakatan dan keagamaan, tapi apakah dengan komunisnya Sayyid Fahrul Baragbah, Klan Baraqbah yang ada di Kalimantan semua komunis dan menerima konsekuensi komunisnya Fahrul? Tentunya tidak, karena setiap perbuatan, yang bertanggung jawab adalah pribadi masing-masing, bukan klan atau marga. Sama seperti misalnya ada keturunan Nabi Muhammad SAW yang jelek akhlaknya atau keyakinannya menyimpang, atau munculnya oknum-oknum habib melakukan pendawiran, lantas habib-habib yang ulama, sufi, ilmuwan, tokoh masyarakat, tokoh Inspiratif, penyebar agama harus jelek dan hancur semua namanya ? tentu tidak…
Seorang habib yang “reputasinya buruk” menandakan bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW itu justru menegaskan bahwa mereka tidak maksum, justru adanya hal tersebut menjadi tugas habib habib yang lain atau ulama lain menata mereka agar mengikuti jejak para leluhurnya, bukan justru malah dihancurkan nasabnya hanya karena perbuatan buruk mereka. Layaknya memang seorang keturunan Nabi Muhammad SAW menjadi panutan dan contoh untuk umat, tapi juga harus diingat Keturunan Nabi Muhammad SAW jumlahnya jutaan, dan itu menyebar di berbagai negara, sehingga siapa yang bisa menjamin kehidupan mereka sesuai dengan ajaran leluhurnya, apalagi kalau mereka berada di negara-negara yang memang tidak perduli dengan keberadaan Keturunan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana dengan mereka yang lingkungan sarat keagamaan banyak tapi justru muncul penyimpangan ? ya sekali lagi itu adalah gambaran bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak maksum atau terbebas dari dosa, apalagi jika diantara mereka tidak dibekali dengan dasar-dasar ilmu agama yang baik oleh orangtuanya.
Berbicara tentang Sayyid Fahrul Baragbah adalah sebuah fenomena yang menurut saya agak unik dan “agak lain”. Sayyid Fahrul Baragbah yang merupakan sosok keturunan Arab dan pernah menjadi pejabat teras Partai Komunis Indonesia (PKI) di tingkat provinsi, di masa Demokrasi Terpimpin, Sayyid Fahrul Baraqbah adalah gambaran komunis tulen yang menurut saya, pada dasarnya keluarga besarnya pasti banyak juga yang tidak sepakat, terutama pada klan Baragbah Kalimantan. Namun jika kita melihat latar belakang perjuangannya sepertinya itu menjadi suatu benang merah kenapa dia menjadi seorang komunis.
Menurut Burhan Magenda tentang hal ini "Saya kira kemungkinan karena latar belakangnya, dia (Fachrul Barqbah) itu dulu pejuang waktu revolusi, dan kemudian bersikap anti kesultanan di Kaltim," kata Burhan Magenda, berdasarkan penelitiannya pada 1978-1979 untuk disertasi doktornya di Universitas Cornell, Ithaca, New York. Burhan Magenda kemudian menuliskan hasil penelitiannya itu di majalah Antropologi Indonesia, volume 29, nomor dua, 2005, dengan judul Dinamika Peranan Politik Keturunan Arab di Tingkat Lokal. Menurut Burhan, dia berhasil menemui keluarga Baraqbah di Kalimantan Timur, untuk kepentingan penelitiannya itu.
"Memang jarang ada keturunan Arab menjadi anggota PKI. Ini memang kasus yang khusus. Semacam anomali, karena biasanya keturunan Arab itu masuk partai Islam," katanya. "Dan untuk kasus di Kaltim ini, sepertinya ini terkait kepribadian tokoh ini, yaitu Fachrul Baraqbah," jelasnya. Dalam tulisannya, Fachrul disebut tidak menggunakan gelar kebangsawanannya. Setelah peristiwa G30S 1965, menurut Burhan Magenda, Fachrul Baraqbah ditahan oleh militer. "Saya kira dia aman (dari pembantaian), selamat. Sebab di luar Jawa tidak banyak pembunuhan," katanya. Sayid Fahrul Baraqbah adalah Gerilyawan Pro Republik, Pesindo Hingga Anggota MPRS dan Pimpinan PKI Kalimantan Timur. Dibebaskan Tahun 1984 Walau Sebelumnya Divonis Hukuman Mati.
Bagaimana pula dengan Sofyan Baraqbah ? Dia pun seorang Sayyid !
Dalam catatan Petrik Matanasi, selama hidupnya, Sofyan tak asing dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), juga Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) kemudian. Namanya juga tercantum dalam Dokumen-dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959. Menurut catatan Tempo, Sofyan meninggal di usia 48 tahun.
Dia lahir di Banjarmasin. Ajaran komunis dikenalnya di Medan, di mana dia juga bertemu istrinya, Nani Sumarni, di kota itu. Di Medan, Sofyan sudah menjadi Ketua Serikat Buruh Kiri Sarbupri/SOBSI Medan pada 1950. Dia kembali ke Banjarmasin pada 1954, menjadi tokoh PKI dan anggota parlemen di sana.
Di tahun 1959, Sofyan pindah lagi ke Pontianak. Di sana dia menjadi anggota Comite Daerah Besar Kalimantan Barat. Dia juga anggota Front Nasional. Sebagai insan partai komunis terpandang, Sofyan ikut menjadi dosen di sekolah partai yang terletak di Gang Nurdin, Pontianak.
Setelah G30S gagal dan lanskap politik Indonesia terhadap konfrontasi malaysia berubah, banyak sukarelawan Dwikora yang tergabung dalam PGRS enggan berhenti berkonfrontasi. Mereka pun disikat ABRI. Dengan mantan PGRS itu, Sofyan bersekutu. Menurut catatan A.M. Hendropriyono yang ikut serta penumpasan PGRS, "PKI gaya baru" pimpinan Sofyan dengan sisa PGRS melahirkan kekuatan yang disebut Barisan Rakyat (Bara) yang beroperasi sejak 1966 hingga 1974. Dalam pasukan PGRS itu terdapat trio Lim Fo Kui, Bong Kie Chock, dan Bong Hon yang bergerilya di hutan belukar perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan,
Namun sekali lagi, apakah dengan terlibatnya Sayyid Fahrul dan Sayyid Sofyan Baragbah, Klan Baragbah atau Bani Alawi harus menerima semuanya ?, tentu tidak dong, karena perbuatan kedua Sayyid ini jelas atas dasar pribadi dan pilihan politik masing-masing. Lagipula Klan Baragbah dan Bani Alawi juga banyak yang berjasa bahkan penentang keras keberadaan PKI pada masanya. Perbuatan seorang jelas yang menanggung dirinya sendiri, bukan orang lain. Seorang Ikrimah tidak menanggung dosa bapaknya yang bernama Abu Jahal, 2 anak Abu Lahab yang masuk Islam tidak menanggung dosa dari bapaknya.
Gelar keagamaan atau garis keturunan (nasab) tidak otomatis menentukan orientasi politik seseorang. Pilihan politik merupakan keputusan sadar individu yang dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan, pendidikan, dan pengalaman hidup, bukan sekadar warisan silsilah keluarga. Jadi bukanlah hal yang aneh jika seorang anak kyai atau anak habib mempunyai orientasi politik yang bersimpangan dengan ajaran yang luhur dari para leluhurnya.
Jika kita menengok sejarah yang ada, pada masa pergerakan nasional hingga awal kemerdekaan, ideologi kiri (marxisme/komunisme) sering dipandang oleh sebagian kalangan terutama para pemuda sebagai salah satu jalan paling radikal dan konsisten untuk melawan imperialisme serta kolonialisme Belanda, sehingga tidak heran orang-orang kritis pada masa itu diawasi secara ketat. Sebagian pemuda dari berbagai latar belakang termasuk keturunan Arab yang lahir dan besar di Nusantara banyak yang tertarik pada narasi pembebasan kelas, anti-feodalisme, dan keadilan sosial yang diusung oleh kelompok kiri.
Keturunan Arab di Indonesia tidak hidup dalam sebuah blok yang monolitik. Sekalipun pernah berdiri PAI (Partai Arab Indonesia) namun seiring dengan berjalannya waktu, generasi dari kelompok keturunan Arab terutama kaum pergerakan lama kelamaan melebur ke dalam berbagai lapisan masyarakat lokal dan spektrum politik yang lebih luas bahkan ini diakui oleh Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh besar bangsa. Sebagian besar memang bergabung dengan partai-partai Islam atau nasionalis, namun ada pula yang terseret ke dalam arus gerakan sosialis atau komunis yang saat itu menjadi salah satu kekuatan politik utama di Indonesia seperti Sayyid Sofyan Baragbah dan Sayyid Fahrul Baragbah, yang konseskuensinya telah mereka terima dalam kehidupan mereka nanti.
Keputusan seorang Sayyid menjadi komunis adalah pilihan hidup sama seperti misalnya Haji Muhammad Misbach (Ulama/Tokoh Sarekat Islam Merah) yang dikenal sebagai seorang ulama dan tokoh Sarekat Islam asal Kauman, Surakarta, yang dengan tegas memadukan pandangan keagamaan Islam dengan gagasan komunisme revolusioner untuk melawan kolonialisme Belanda, atau seperti Semaun dan Darsono di dalam tubuh organisasi Sarekat Islam yang melakukan menyoroti infiltrasi dan faksi kiri. Secara historis, gerakan komunis memang sering memposisikan diri sebagai pembela hak-hak buruh, petani, dan kelompok tertindas yang terpinggirkan oleh penguasa atau sistem ekonomi yang tidak adil, hal inilah yang membuat kaum muda pada masa lalu tertarik tidak terkecuali orang-orang Arab. Sayangnya komunisme ini menganggap agama sebagai alat manipulasi kelas penguasa dan penghambat kemajuan revolusi sosial. Karl Mark sebagai bapak pencetus komunis mengatakan bahwa agama adalah "Candu masyarakat". Marx menyebut agama sebagai opium karena dianggap memberikan hiburan semu bagi rakyat yang tertindas. Marx juga menyebut agama sebagai Penghambat revolusi. Agama dinilai membuat buruh pasrah pada nasib buruk di dunia demi imbalan di surga. Agama juga dianggap melanggengkan status quo. Komunisme melihat institusi agama sering bersekutu dengan penguasa kapitalis untuk menjaga kekuasaan. Meskipun teori awal Marx lebih bersifat analisis sosiologis sesuai dengan konteks pada masa itu, pemikiran ini menjadi sangat agresif ketika diadopsi oleh para pemimpin politik komunis seperti Vladimir Lenin di Uni Soviet atau Mao Zedong di Cina, dimana para tokoh-tokoh PKI di Indonesia menjadikan komunis Uni Soviet dan China kiblat pergerakan. Sehingga pada akhirnya Komunis dan Agama harus saling berhadapan dan merupakan “rival abadi” dalam sejarah bangsa ini.
Tammat...
Daftar Pustaka
Muhammad Hasan Al-Aidid, Petunjuk Monogram Silsilah Berikut Biografi dan Arti Gelar Masing-Masing Leluhur Alawiyin (Surabaya : Penerbt Amal Saleh, Cet 1, 1999).
Muhammad Ridzky Afrianto, dkk Musso’s Role in the PKI Rebellion in Madiun in 1948, HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Volume 12 (2) 2024.
Tim LIputan Khusus DN Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara (Jakarta: KPG, Cet 3, 2015).
Tim Liputan Musso, Musso Si Merah di Simpang Republik (Jakarta: KPG, Cet 1. 2011).
Wawancara Reporter Merdeka.Com (Imam Mubarok Dengan Kyai Tafa), dan diterbitkan di Merdeka.com Tanggal ) 4 Februari 2013.
Heyder Affan, 29 Oktober 2015, Ideologi politik keturunan Arab: Islamis, sosialis hingga komunis,
Petrik Matanasi, Terbit 24 Jan 2017, Sayid Komunis yang Diburu Tentara Baret Merah, "https://tirto.id/sayid-komunis-yang-diburu-tentara-baret..."