Di Tahun 1930 sd 1940an kota Jakarta pernah banyak terdapat orang-orang Yahudi, mereka datang ke Jakarta atau Batavia pada masa itu karena kebanyakan dikejar-kejar rezim Nazi.
Salah satu wilayah yang dianggap kondusif adalah Indonesia untuk berdiaspora. Tidak mengherankan jika di beberapa daerah seperti Surabaya, Bandung, Manado, Jakarta banyak didapati orang-orang Yahudi dengan berbagai profesi. Mereka ada yang berasal dari Jerman, Belanda, Polandia, Rusia, Rumania, Portugal, Spanyol yang memang banyak terdapat orang-orang Yahudi. Sering disebut sebagai Yahudi Eropa atau Yahudi Ashkenazi. Bahasa yang digunakan biasa Ibrani. Lambang Bintang David juga sering menghiasi dalam hidup mereka, seperti yang ada di loge loge dan makam-makam orang Yahudi. Kalau mereka ibadah biasanya pada hari Sabtu di daerah sekitaran Pasar Baroe Jakarta Pusat.
Jakarta atau Batavia pada masa itu merupakan pusat kekuasaan penjajah kolonial Belanda dan menjadi "Sorga" bagi orang-orang Yahudi, terutama di wilayah Gambir dan sekitarnya.
Dahulu jika orang orang Yahudi berkumpul dalam jumlah besar mereka akan datang ke loge atau gedung besar untuk pertemuan khusus seperti Loge Bintang Timur (sekarang jadi gedung Kimia Farma dekat sekolah Boedoet), loge afdhut stat yang kini jadi gedung Bapenas Menteng, Loge Plantsoen Menteng. Mereka yang bergabung pada Freemansory, menjadikan gedung² itu untuk koordinasi. Di Loge loge itu akan ditemui simbol simbol yang sering dipakai gerakan Freemansory dan Theosofi...
Pertanyaannya, kok bisa orang orang Yahudi banyak terdapat di Batavia ?
Ternyata bila dilacak sejarahnya antara Belanda dan Yahudi itu seperti 11 - 12. Dahulu Amtersdam sering disebut sebagai Yerusalem baru karena begitu banyaknya orang-orang Yahudi disana, bahkan berdirinya VOC juga terdapat andil saham saudagar Yahudi. Saat VOC tiba di Batavia, bahkan terdapat orang orang Yahudi yang kaya raya yang memiliki banyak harta kekayaan. Bahkan pendiri kota Batavia yaitu Jan Pieterzoon Coen (Cohen) diindikasikan kuat seorang Yahudi, yang lebih menarik Snouck Hurgronye dalam beberapa jurnal yang saya baca ayahnya adalah seorang Yahudi yang telah menjadi pemeluk Kristen Protestan...jadi kalau ada orang orang Yahudi di Batavia bukanlah hal yang aneh karena mereka memang sudah ada ratusan tahun yang lalu.
Dahulu gedung² itu disebut orang orang Betawi sebagai "Gedung Setan", atau "Rumah Setan"
Yang unik, orang-orang Yahudi Ashkenazi ini akrab dengan orang orang Arab. Tentunya Arab yang dimaksud adalah Arab Hadramaut. Karena komunitas Arab yang terbanyak di Batavia adalah Arab Hadramaut lebih khusus para Habib. Kantong kantong pemukiman mereka ada di wilayah Pekojan, Krukut, Tanah Abang, Kwitang, Menteng, dll.
Menurut Jurnalis dan Sejarawan Jakarta yaitu Alwi Shihab yang berasal dari Kwitang dalam bukunya yang berjudul "Queen Of The East", Yahudi yang ada di Weltervreden (monas dan sekitarnya) banyak yang fasih berbicara Arab, sehingga orang orang Yahudi ini sering disangka orang Arab. Mereka bahkan sering berkata bahwa Arab dan Yahudi itu bersaudara, yang satu keturunan Ismail yang satu Ishak.
Sayangnya pasca kedatangan Jepang, mereka banyak yang diburu sehingga akhirnya mereka melakukan diaspora kembali ke berbagai negara, bahkan ada perkiraan mereka juga ada yang ke Israel. Tinggalah sisa sisa sedikit keturunan Yahudi yang tinggal itupun hanya sedikit dan sulit dilacak kecuali di Surabaya dan Manado.
Diaspora orang Yahudi pada akhirnya semakin sulit terdeteksi setelah dibubarkannya organisasi Freemasonry tahun 1961 oleh Bung Karno. Sentimen Yahudi juga menambah bangsa yang satu ini menjadi "aneh" dalam sejarah Indonesia, padahal kedatangan orang orang Yahudi sudah dimulai sejak tahun 1290 Masehi.
Peninggalan Yahudi yang saat ini bisa ditemukan adalah bangunan bangunan diatas serta makam makam Yahudi di TPU Menteng Pulo Jakarta Selatan dan TPU Petamburan Jakarta Pusat.