Kamis, 03 September 2020

SIAPA YANG MEMBUNUH AL HASAN BIN ALI RA ? CUCU NABI YANG TELAH MENGGENAPKAN MASA KHILAFAH NUBUWWAH/KHILAFAH RASYIDAH

 (Seri Sejarah Keluarga Nabi)

Oleh : Iwan Mahmoed Al Fattah

Pertanyaan ini sebenarnya sudah lama mengiang-ngiang dialam pikiran saya. Dalam sejarah keluarga Nabi SAW sosok Sayyidina Hasan Ra sangatlah penting untuk dibahas keberadaannya mengingat ditangannya umat Islam telah berhasil bersatu kembali setelah sebelumnya telah terjadi konflik antara kubu Khalifah Ali Ra bin Abi Thalib dengan kubu Muawiyah bin Abi Sufyan yang telah menelan banyak korban. Al Hasan Ra juga merupakan sosok yang mampu dan cerdas dalam membaca kondisi zaman, dia tahu hanya dengan keputusan “mementingkan dan mempersatukan ummat” Islam akan berjaya, siapapun nanti yang jadi pemimpinnya dia tidaklah berkeberatan, sehingga Al Hasan tidaklah terlalu merasa rugi jika jabatan yang dia sandang sebagai “Khalifah transisi” diberikan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Hanya 6 bulan Al Hasan Ra memegang tampuk pemerintahan setelah kematian ayahnya untuk kemudian kekuasaan itu diserahkan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan disertai dengan beberapa syarat tertentu. Sejak penyerahan itu maka Muawiyah bin Abi Sufyan resmi menjadi Amirul Mukminin sekaligus orang pertama yang mendirikan Dinasti Umayyah, karena sejak pemerintahannya semua Amirul Mukminin yang diangkat berasal dari keturunannya.
Seiring pengunduran diri Al Hasan Ra sebagai khalifah yang ditandai dengan pembaiatannya terhadap Muawiyah, maka berakhir sudah masa khilafah nubuwwah (kepemimpinan nabawi) atau yang dikenal dengan khilafah rasyidah (kepemimpinan yang mendapat petunjuk), yang berlangsung selama 30 tahun sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah SAW.
Pemerintahan Al Hasan Ra meski terbilang singkat, masa kekhalifahannya ini dikategorikan sebagai khilafah rasyidah. Karena kurun waktu kekhalifahan itu menggenapkan masa kekhalifahan sebelumnya hingga menjadi 30 tahun, persis seperti yang disampaikan Nabi SAW. Kekhalifahan sebelumnya yaitu Khalifah Abu Bakar Ra berlangsung 2 tahun 3 bulan, Khalifah Umar Ra 11, 5 tahun, Khalifah Usman bin Affan Ra 12 tahun, Khalifah Ali Ra 4 tahun 9 bulan dan kekhalifahan Al Hasan Ra berlangsung selama 6 bulan. Setelah itu pemerintahan pun berganti menjadi system kerajaan sebagaimana Hadist Nabi SAW yang berbunyi, “kekhalifahan di tengah umatku berlangsung selama tiga puluh tahun, setelah itu muncullah sistem kerajaan” . Dengan demikian Al Hasan Ra telah membuktikan perkataan yang pernah diucapkan kakeknya.
Kasus terbunuhnya Sayyidina Hasan Ra dengan cara diracun dengan kadar yang sangat mematikan adalah merupakan lembaran hitam dalam sejarah ummat Islam, sehingga patut kiranya jika peristiwa tersebut menjadi pembelajaran bagi kita semua. Begitu kuatnya racun yang masuk ke dalam tubuhnya, seorang tabib yang pernah mengobatinya berkata bahwa racun yang ada di tubuh Al Hasan telah menghancurkan fungsi ususnya. Sebelumnya itu saya sendiri pernah menulis bahwa sosok yang dianggap berpotensi kuat sebagai pelaku utama terbunuhnya Al Hasan Ra adalah Muawiyah bin Abi Sufyan (semoga Allah SWT mengampuni saya atas penulisan tersebut). Namun setelah saya membaca kembali beberapa sumber nampaknya hal itu perlu kiranya dikritisi kembali, mengingat posisi Muawiyah bin Abi Sufyan sampai wafatnya Al Hasan tetap menjalin hubungan yang baik.
Selama ini ada beberapa pandangan sejarah tentang kematian Al Hasan Ra yang diantaranya adalah :
1. Al Hasan Ra wafat karena telah diracun oleh istrinya yang bernama Ja’dah bintu Asy’ats bin Qays Al Kindi. Sekelompok orang mengatakan bahwa hal itu dilakukan karena Ja’dah dibisiki oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dengan iming-iming tertentu, dan kebetulan ia juga memiliki beberapa madu.
2. Al Hasan Ra wafat diracun Ja’dah bintu Asy’ats bin Qays Al Kindi atas bujukan Yazid bin Muawiyah. Istri Al Hasan itu menaruh racun di hidangan makan. Yazid berjanji kepada Ja’dah bahwa Yazid akan menikahinya setelah dirinya diceraikan Al Hasan ra, sehingga Ja'dah ’un tergiur untuk melaksanakan bujukan tersebut. Selama 40 hari Ja’dah memberikan racun berturut turut hingga menyebabkan Al Hasan Ra lemah tak berdaya . Yazid melakukan itu untuk mencegah agar Al Hasan Ra tidak berpeluang lagi naik menjadi pemimpin bila Muawiyah bin Abi Sufyan wafat apalagi itu diperkuat dengan perjanjian sebelumnya antara Al Hasan Ra dan Muawiyah.
Dua point diatas sudah banyak yang mengetahui, sebagian mempercayai riwayat tersebut, namun sebagian juga meragukannya. Saya sendiri pada mulanya ikut larut dengan kedua pendapat tersebut dikarenakan sumber yang saya dapat memang seperti itu. Namun informasi sejarah kadang memberikan kejutan-kejutan yang mau tidak mau "memaksa" kita harus merubah cara pandang yang selama ini kita percayai. Dan ini juga terjadi pada sejarah Al Hasan Ra dan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Lantas bila memang demikian siapa sebenarnya pembunuh dari Sayyidina Hasan ra ini ? benarkah bahwa pembunuhan terhadap Al Hasan juga melibatkan salah satu istrinya tersebut dan melibatkan Muawiyah yang notabenenya termasuk Sahabat Nabi ?
Dari beberapa sumber yang saya pelajari ada beberapa fihak yang kiranya pantas dituduh bertanggung jawab atas kematian terhadap Al Hasan Ra, diantaranya adalah :
1. Kelompok pertama adalah, kelompok Sabaiyah, yaitu para pengikut Abdullah bin Saba disebabkan mereka mendapatkan tamparan keras dari Al Hasan Ra ketika dirinya melepaskan jabatan khalifah dan menyerahkannya kepada Muawiyah bin Abi Sufyan karena seiring perdamaian itu berhentilah pertikaian di kalangan umat Islam dan perdamaian pun tercipta.
2. Kelompok kedua adalah, Khawarij yang telah membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Motif mereka meracuni Al Hasan Ra adalah membalaskan dendam atas darah sebagian mereka yang tewas dalam perang nahrawan maupun peperangan lainnya.
Apabila diamati lebih dalam, kebencian kaum Sabaiyah terhadap Al Hasan Ra nampaknya lebih besar dibandingkan kebencian kaum khawarij, karena rekonsiliasi umat Islam yang digagas Al Hasan Ra telah menghapus semua impian mereka. Bagi mereka, Al Hasan Ra merupakan aktor utama yang telah menghancurkan rencana busuk mereka dengan bersedia melakukan perundingan dengan Muawiyah, mengalah, bahkan melepaskan jabatan khalifah demi terciptanya perdamaian. Kelompok Sabaiyah ingin melanjutkan langkah yang sudah mereka mulai sebelumnya , yaitu menyulut api perpecahan dan mengobarkan perang saudara antar sesama muslimin.
Adanya pengkhianat dalam pemerintahan Islam memang sering terjadi dan ini juga dialami Al Hasan Ra. Ketika berada di Kuffah (Irak), tanpa diduga salah satu pengikutnya menyebarkan isu bahwa salah satu Panglima Al Hasan Ra yaitu Qais telah terbunuh, seketika itu juga terjadilah kekacauan di tengah pasukan, tanpa cek dan ricek sebagian besar pasukan tersebut mulai berbuat ulah. Yang tidak habis fikir orang-orang Irak itu malah menyerbu tenda Al Hasan ra, mereka merampas barang-barangnya, menyabet serban yang dipakainya dan menarik karpet yang diduduki Al Hasan Ra. Yang lebih keterlaluan mereka jugq menikam Al hasan ra dan melukainya. Dari karakter para pengkhianat inilah semakin meyakinkan bahwa jalan perdamaian dengan Muawiyah adalah langkah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh Al Hasan Ra. Bertempur bersama orang orang yang gemar berkhianat adalah upaya yang sia sia dan tidak berguna dan Al Hasan sangat menyadari akan hal tersebut.
Adapun hubungan Al Hasan Ra dengan Muawiyah bin Abi Sufyan ternyata pada perkembangan selanjutnya berlangsung baik. Muawiyah sangat respek terhadap Al Hasan Ra dan juga adiknya Al Husain Ra, apabila bertemu dengan Al Hasan, Muawiyah sering menyambut dengan mengatakan, “Selamat datang, wahai cucu Rasulullah SAW”. Muawiyah juga selalu menempatkan Al Hasan Ra dan Al Husain Ra di sebelah tempat duduknya saat berkumpul dengan pemimpin klan arab. Setiap tahun Al Hasan ra rutin berkunjung menemui Muawiyah. Setiap berkunjung Muawiyah selalu memberikan uang 100 ribu dirham, tidak itu saja Muawiyah sering memberikan hadiah yang lainnya, pemberian hadiah dan uang ini tidak pernah beliau berikan kepada siapapun selain kepada Al Hasan Ra karena begitu cinta dan hormatnya Muawiyah kepada sosok Al Hasan Ra. Selama hidupnya Muawiyah tidak pernah memboikot hak-hak Al Hasan Ra dan Al Husain Ra, keduanya juga tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari Muawiyah.
Setelah kematian Al Hasan Ra hubungan tersebut dilanjutkan oleh Al Husain Ra selama 20 tahun. Muawiyah bin Abi Sufyan bahkan juga memberikan penghormatan dan penghargaan kepada Al Husain Ra. Pergesekan diantara Muawiyah dan Al Husain Ra terjadi pada masa akhir-akhir pemerintahan Muawiyah Ra, tepatnya ketika dia mengangkat Yazid sebagai Amirul Mukminin sebagai pengganti dirinya.
Terjadinya hubungan yang harmonis antara Muawiyah dan Al Hasan Ra juga Al Husain Ra telah menggugurkan tuduhan kalau Muawiyah adalah pelaku pembunuhan Al Hasan Ra. Sedangkan tuduhan terhadap Yazid bin Muawiyah juga patut dipertanyakan kembali, berapa usianya saat Al Hasan Ra terbunuh ? Keterlibatan Yazid bin Muawiyah justru lebih terlihat pada peristiwa Karbala dan dia juga wafat pada usia yang sangat muda. Yang juga perlu dipertanyakan kedudukan istri Al Hasan yang dianggap ikut terlibat. Semua istri Al Hasan biasanya orang orang terbaik dari sukunya, sehingga jika mereka membuat aib nama sukunya ikut terbawa. Al Hasan sendiri diketahui mempunyai beberapa mantan istri yang sudah diceraikan, anehnya mereka yang sudah diceraikan justru mempunyai pandangan yang baik terhadap Al Hasan Ra, jadi dengan adanya fakta tersebut patut dipertanyakan benarkah istri Al Hasan yang disebut diatas terlibat pembunuhan suaminya sendiri ?
Harmonisnya hubungan Al Hasan Ra dengan Muawiyah adalah hal yang sangat menggembirakan dan membahagiakan, bahwa betapapun diantara keduanya pernah terjadi konflik, namun karena mereka berada pada generasi terbaik, semua itu bisa diselesaikan dengan baik dan cerdas. Memang membahas tentang pertikaian diantara pada Sahabat Nabi kita perlu kehati-hatian. Diperlukan rambu-rambu untuk menulis sejarah mereka sebab :
a. Generasi sahabat merupakan generasi terbaik,
b. Membahas pertikaian di antara sahabat bukan hal yang fundamental
c. Memastikan kesahihan riwayat
d. Memberikan penafsirah terbaik terhadap riwayat sahih yang ada
e. Menyadari bahwa perselisihan itu lahir dari ijtihad
f. Semua sahabat menyesali pertikaian diantara mereka
g. Para sahabat tetap saling mencintai
h. Para sahabat tidak maksum

Wallahu A’lam...
Alfatehah untuk Sayyidina Hasan Ra dan Amirul Mukminin Muawiyah bin Abi Sufyan....

Daftar Pustaka :
Sayyid Hasan AL Husaini (Terj), Hasan & Husain The Untold Stories, Jakarta : Pustaka Imam Syafii, 2013
Syeikh Abdul Mun’im Al Hasyimi (terj), Anak Cucu Nabi, Jakarta : Al Kautsar, 2009.
Syekh Muhammad Ridha (terj), Hasan & Husain Penghulu Pemuda Surga, Jakarta : Al Kautsar, 2006